Virus Bimtek Wisata-Budaya

MAKOTO FESTIVAL
(MALANG KOTA TOPENG)

01

Oleh : M. Dwi Cahyono dan Lumbung Wisata-Budaya

Malang – tidak terkecuali Kota Malang – adalah daerah yang memiliki akar seni-budaya topeng. Begitu berakar dan berkarakternya seni-budaya topeng di Malangraya, hingga muncul predikat ‘Topeng Malangan’ atau ‘Topeng Malang’. Topeng dengan demikian adalah ikon daerah diantara ikon-ikon lain yang beralasan kuat untuk ‘diikonkan’. Memang, Malang bukan satu-satunya daerah di Nusantara yang memiliki seni-budaya topeng. Namun, bagi Malangraya topeng telah memiliki perjalanan sejarah amat panjang. Tiga buah prasasti Pu Sindok (Sri Isana) yang berkenaan dengan penetapan desa-desa perdikan (sima) di lereng selatan Gunung Tengger pada paro pertama abad X Masehi telah menyebut keberadaan tapuk atau tapel (topeng) dan seni pertunjukan berproperti topeng (rakat atau raket). Sejatinya, topeng bukan sekedar hadir pada ‘wayang topeng’ atau ‘topeng dalang’ yang konsisten melakonkan cerita Panji, namun terbukti telah hadir jauh lebih awal sebelum kelahiran khasanah Cerita Panji itu sendiri (akhir Masa Singhasari atau paling tidak Masa Keemasan Majapahit pada abad XIII dan atau XIV Masehi). Selain itu, topeng juga kedapatan hadir dalam beragam bentuk seni pertunjukan lain, seperti jaranan – Penthol-Tembem, Tethek-Melek, Bancak-Doyok, dsb, reyog Ponorogoan maupun pada aksesoris beragam ekspresi cendera mata khas daerah (baca ‘Malang’).

Kendati khalayak awam tak memahami hakekat dan filosofi topeng, namun dalam hal sebutan dan bentuk, setidaknya sebagian besar warga Malangraya tahu akan topeng. Bagi khalayak di luar daerah, bahkan manca negara sekalipun, topeng acap direlasikan dengan kawasan Malang. Pendek kata, topeng adalah salah sebuah ‘mutiara seni-budaya Malang’ yang mampu menempuh perjalanan lintas masa dan memasyarakat. Eksistensinya tak lekang oleh dinamika sosio-budaya di Malang, meski kini keberadaan topeng Malang perlu lebih dikuatkan, dengan antara lain menjadikannya sebagai ‘ikon daerah’. Bukan lantaran Solo yang lantaran telah tiga tahun terakhir menggelar ‘Festival Topeng Internasional’ lantas menjadi alasan baginya untuk ‘mengklaim’ topeng sebagai Ikon Kota Solo. Lebih beralasan kiranya bagi Malang untuk menjadikan topeng sebagai ikon daerah. Oleh karenanya predikat “Kota Malang’ sebagai ‘Kota Topeng (Mask City)’ dengan alternasi akronim sebutan ‘MAKOTO’, yakni MALANG KOTA TOPENG’, bukanlah predikat daerah yang mengada-ada, melainkan telah semestinya.

Apabila Pemerintah Kota Malang ‘cerdas’ dan sungguh-sungguh berkomitmen terhadap seni-budaya lokalnya, tahun ini (2017), manakala memperingati Hari Jadinya pada 14 April 2017 kelak, adalah suatu momentum waktu yang tepat untuk mendeklarasikan predikat “MAKOTO (Malang Kota Topeng_)” – sebelum bisa jadi Kota Solo mendahului untuk mendeklarasikan buat daerahnya. Tulisan ini boleh saja diposisikan sebagai sekedar ‘isu awal’ atau gelitik, yang syukur bila bakal menjadi pemantik bagi warga dan Pemerintah Kota Malang untuk melakukan ‘eksplorasi habis’ terhadap ‘ketopengan’ Malang ke dalam beragam bentuk figuratif, beragam bahan buat (kayu, fiber, logam, bubur kertas, teracota, clumpring, coklat, kanvas, foto dan film, foam, karet mentah, kaos, kain batik, dsb.), beragam media ekspresi (seni pertunjukan, cendera mata dan aksesoris, lukisan, lampion, monumen kota, topeng ikonik khusus – misalnya topeng kepala singa bagi Suporter Arema, topeng kepala banteng sebagai varian dari banthengan, dan banyak lagi ide ‘liar’ yang kreatif), beragam maksud dan tujuan penghadirannya (rekreatif, edukatif, eknomik, ritual, identitas lokal, dsb.), maupun dalam beragam pengguna – bukan sekedar pada pelaku seni. Topeng Malang dalam arti luas, baik kategori (a) topeng tradisi maupun (b) topeng non-tradisi (kreasi), kini – kapan lagi bila bukan sekarang — telah tiba saatnya untuk dieksplorasi optimal, dimasyarakatkan buat khalayak luas, dikreasikan, dikuatkan, dibermaknakan dan digaungkan agar lebih mendunia.

MAKOTO FESTIVAL, yang diharapkan bakal dihelat Apri 2017 mendatang, semoga bakal menjadi wahana untuk itu, sebagai kelanjutan dalam bentuk lain rintasan usaha tahun lalu yang mengangkat ide kontroversial ‘tari masal Grebeg Sabrang’ di Kota Malang dan Grebeg Jowo di Kabupaten Malang. Kali ini, bukan ‘varian tari grebeg-nya; yang disajikan, melainkan topengnya – dalam arti luas. Untuk itu, tentu kontribusi dan peran aktif dari Pemerintah Kota Malang, ragam pelaku seni-budaya (perorangan dan sanggar/padepokan se-Malangraya), para peduli budaya (perorangan, komunitas maupun institusi budaya seperti ‘Museum de Topeng’ di Museum Angkut Kota Batu dan ‘Museum Panji’ di Tumpang), pelajar-mahasiswa, perusahaan swasta dengan CSR-nya maupun khalayak luas merupakan kunci sukses untuk merealisasikannya. Walau perhelatan akan dilangsungkan di Kota Malang, namun diharap menjadi ‘ajang bersama’ atau ‘panggung bersama’ bagi para pelaku seni-budaya topeng di Malangraya serta wahana interaksi bagi para pemangku topeng Nusantara dan dunia.

Kami tengah merintis jalan untuk itu.
Semoga membuahkan realita.
Salam budaya.
Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, Sengkaling 3 Februari 2017

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.