PECINAN BESAR DAN PECINAN KECIL

DINAMIKA PECINAN BESAR DAN PECINAN KECIL :

SENTRA PEREKONOMIAN AWAL KOTA MALANG

Oleh: M. Dwi Cahyono

Pecinan adalah fenomena jamak pada kota-kota di Indonesia, bahkan di berbagai negara di dunia sekalipun. Namun, yang unik pada Kota Malang adalah adanya dua sub-area Pecinan, yang dinamai: (1) Pecinan Besar, dan (2) Pecinan Kecil. Keduanya terletak berdekatan. Yang kedua berkembang lebih kemudian, sebagai perluasan (enlarge) atau pemekaran dari yang pertama. Perluasan sub-area Pecinan Besar ke arah barat yang melahirkan sub-area Pecinan Kecil disertai dengan revitalisasi jalan dengan arah timur-barat, sehingga hadirlah jalan poros baru yang memotong jalan poros utara-selatan di Pecinan Besar. Pada salah satu pojok perempatan besar ini, tepatnya di sudut selatan-timur, pada tahun 1939 didirikan tempat peribadatan warga Tionghoa, yang dinamai ‘Klenteng Ing An Kiong’, sehingga jalan poros dari perempatan ke arah Stasiun Kota Lama disebut ‘Klentengstraat’. Pertumbuhan dan perkembangan Pecinan Basar dan Pecinan Kecil tak terpisahkan dengan dinamika ekonomi dan pemerintahan Kaboepaten (Regent) dan Kotapraja (Gemeente) Malang, yang turut menjadi picu bagi derap dinamika pusat kota (down town) Malang lintas waktu.

Dalam rangka IMLEK tahun 2017, tulisan tentang ‘Pecinan Besar dan Pecinan Kecil’ di pusat Kota Malang ini sengaja diturunkan untuk memberi tambahan pengetahuan guna mengenal areal tinggal warga Tionghoa pada periode awal dan perkembangannya pada waktu-waktu kemudian. Dengan mengenalnya, diharapkan lahir pemahaman terhadap sosio-budaya Tionghoa. Selanjutnya, dengan memiliki pemahaman terhadapnya, diharapkan tumbuh kepedulian, sehingga nuansa kehidupan yang bertoleransi dalam bingkai keragaman dapat tercipta dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya. Semoga memberi faedah bagi para sahabat peminat telaah sosio-budaya ketika akhir-akhir ini distoleransi digulirkan oleh orang-orang yang berkomitmen pada kebhinekaan demi keuntungan pribadi atau kelompok. Senyampang hari raya IMLEK, marilah momentum ini dijadikan wahana untuk lebih mengenal, memahami selanjutnya menjalin hubungan saling pengertian terhadap komponen-komponen sosial dan pemangku budaya yang beragam di Kota Malang.

A. Klaster Pecinan dalam Kerangka ‘Segregasi Sosial’ Masa Kolonial

02Sebutan ‘Pecinan’ terbentuk dari kata dasar ‘Cina’ dengan penambahan awalan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, yang menunjuk pada areal tinggal warga Tionghoa (Cina) di suatu tempat. Istilah asing untuk menyebutnya adalah ‘Chinase Camp’. Pecinan adalah salah sebuah klaster sosial pada pusat kota di suatu daerah selain klaster sosial lain juga dengan latar belakang etnis seperti ‘Kampung Arab’ untuk warga etnik perantau asal Timur Tengah, ‘Pekojan’ untuk orang-orang Koja yang berasal dari India Selatan, dsb. Pada Masa Kolonial di era Hindia-Belanda, areal tinggal tertentu bagi warga etnik yang sama sengaja untuk diciptakan dalam kerangka ‘segregasi sosial’. Untuk itu, warga etnik kategori ‘Timur Asing’ dimukimkan di areal tertentu, yang disparasikan dengan warga etnik asing lain maupun warga etnik pribumi. Oleh sebab itu klaster bagi etnik asing ini menjadi areal permukian yang ‘inklusif’, yang di dalamnya tumbuh pernak-pernik sosio-budaya yang sesuai dengan khasanah sosio-budaya dari tempat asalnya, sehingga karakternya sebagai etnik asing mudah dikenal dengan sekilas pandang.

Dengan cara demikian, maka Pemerintah Kolonial bakal lebih mudah untuk dapat melakukan kontrol terhadap mereka dan kemungkinan terjadinya ‘bentur sosial’ dengan etnik lain bisa diminimalkan. Guna lebih mempermudah pengaturannya, diantara warga etnik bersangkutan diangkatlah seseorang sebagai koordinator utama (baca ‘pemimpin’), yang diberi pangkat kemiliteran, seperti ‘Kapiten Cina’, yang dibantu oleh para koordinator dibawahnya dengan pangkat ‘Luitenan’. Hal serupa juga diberlakukan pada klaster Kampung Arab dan Pekojan, yang arealnya lebih kecil. Namun sebaliknya, tidak diberlakukan terhadap klaster-klaster etnik perantau pribumi seperti Kampung Maduran, Kampung Kebalen (untuk perantau warga etnik Bali), Kampung Melayu, Kampung Banjar, Kampung Makasar dsb; ataupun klaster bagi warga perantau pribumi dari daerah lain seperti Kudusan, Gresikan, Ponoragan, Mantaraman, dsb.

03Keberadaan klaser-klaster yang berlatar etnisitas di perkotaan itu memberikan gambaran akan pluralitas sosio-budaya di wilayah perkotaan. Masing-masing etnik perantau cenderung mengelompok di suatu tempat, baik karena kehendak sendiri atau sengaja ditentukan oleh pemerintah setempat pada Masa Kolonial dalam kerangka segregasi sosial. Untuk keperluan pemantauan dan pengamanan internal keberadaan klaster-klaster sosial itu memang memudahkan, namun di sisi lain terjadi ‘pengkotak-kotakan’ yang tidak sejalan dengan azas ‘pembauran’ dan memungkinkan terjadinya inklusifitas dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena luas klaster sosial terbatas, maka pertumbuhan demografis di kalangan mereka tak terelakkan menyebabkan sebagian dari anggota warga enik perantau untuk tinggal di luar klaster sosialnya semula, dengan musti hidup bersama di tengah permukiman warga etnik pribumi, sehingga pembauran antar etnik pun tercipta.

Pecinan merupakan kalster yang dinamis dalam arti luas. Sebaran dan aktifitas sosial-budaya warganya dinamik dari waktu ke waktu. Kendati terjadi perubahan, namun ada yang konstan, yaitu menjadikan perdagangan sebagai basis ekonomi oleh sebagian besar warga Tionghoa perantau yang bermukim di dalamnya. Luas arealnya cenderung meluas. Begitu pula lokasi tinggalnya, yang terbukti tak hanya mau “dikurung” di suatu tempat, namun mampu menembus batas area tinggal yang ditetapkan oleh Pemerintah Hindia-Belanda via strategi “segregasi sosial”.

B. Pecinan sebagai Sentra Ekonomi Awal Kota Malang

04Dalam konsep ‘segregasi sosial’, beragam etnik yang bermukim di suatu daerah dikelompokan ke dalam ruang yang berlainan. Warga Tiong Hoa ditempatkan di suatu tempat yang dinamai “kampung Cina” atau “pe-Cina-an (Pecinan)”. Warga Arab ditempatkan di Kampung Arab. Orang India tinggal di Pekojan. Fenomena serupa juga berlaku bagi etnik lain, termasuk ragam etnik pribumi. Pecinan di Malang misalnya, bertetangga dengan hunian warga etnik Madura Pendalungan di sekitar Lonceng, etnik Bali di Kebalen, etnik Bugis di Bugisan dan perantau asal Kudus di Kudusan. Kebijakan ‘mengklasterkan’ itu konon diterapkan agar bentur sosial bisa dihindarkan, memudahkan kontrol, dan utamanya untuk melindungi keselamatan dan kepentingan warga Belanda di Tanah Jajahan.

Oleh sebab perdagangan menjadi basis ekonomi warga etnik Tionghoa perantau, maka tak pelak Pecinan tumbuh dan berkembang menjadi suatu sentra ekonomi. Seiring kecenderungan ini, tempat bertransaksi ekonomi yang disebut “pasar” hadir di Jl. Pecinan (Chineeschestraat) – dinamai pula dengan ‘Boldystraat dan Klentengstraat, atau Jl. Pertukangan, resminya kini menjadi Jl. Mangunsarkoro dan Jl. Martadinata – pada klaster Pecinan Besar di sub-area timur Kota Malang, yang sesuai dengan nama kampungnya disebut ‘Pasar Kebalen’. Pasar ini semula merupakan pasar terbesar di Kaboepaten (Regent ) Malang pra tahun 1900-an, yakni sebelum dibangun Pasar Pecinan (kini dinamai ‘Pasar Besar’) di sub-area Pecinan Kecil. Pasar Pecinan menggantikan peran Pasar Kebalen yang berada di sebelah timurnya. Pada akhirnya, Pasar Pecinan inilah menjadi ‘titik sentrum perekonomian’ bagi keseluruhan warga Pecinan di Kota Malang. Terbukti tempat usaha dagang mereka cenderung berada di sekeliling pasar. Begitu pula, warga etnik lain yang juga berpencaharian sebagai pedagang seperti etnik Arab, India, Madura Pendalungan, perantau asal Kudus, dsb. juga mengarahkan usahanya ke sekitar Pasar Pecinan.

05Pertumbuhan Pecinan Besar di sepanjang koridor ‘jalan poros tertua’ antara Buk Gludug hingga Stasiun KA Kota Lama tidak terpisahkan dengan kehadiran sistem pemerintahan yang dinamai ‘Katumenggungan Malang’ pada akhir abad XVIII s.d. permulaan abad XIX — menggantikan sistem pemerintahan Kadipaten Malang, yang berpusat di seberang timur aliran Brantas pada lembah sisi barat Gunung Malang (Gunung Buring) Sebagaimana halnya dengan pusat-pusat pemerintahan di Jawa lainnya, Katumennggungan Malang juga diperlengkapi dengan alon-alon, pasar, masjid besar (jami’) dan pendopo pemerintah daerah (Katumenggungan), yang ditata menurut konsep ‘manca pat’. Pasar yang berada di sebelah selatan Alon-alon, yang sesuai dengan lokasinya pada Kampung Kebalen dinamai ‘Pasar Kebalen’. Kala itu Pasar Kebalen adalah Pasar Katumenggungan Malang, pasar yang terbesar di malang pada jamannya. Areal sekitar pasar dan koridor jalan di Pecinan Besar dengan demikian adalah sentra perekonomian terawal di wilayah Kota Malang.

Peran sentralnya mulai surut ketika terjadi perubahan bentuk pemerintahan dari Katumenggungan Malang menjadi Kabupaten Malang, yang disertai dengan alih tempat (relokasi, penggeseran) alon-alon ke arah barat, yaitu di seberang selatan Pendopo Kabupaten Malang, yang merupakan Alon-alon Kabupeten I – lantas tahun 1822 dibangun Alon-alon Kabupaten II (Alon-alon Kotak), yang kini berada di Jl. Merdeka. Sesuai konsep ‘Manca Pat’, pada sisi selatan Alon-alon Kabupaten Malang I ditempatkan Pasar Kabupaten – karena lokasinya di sub-area Pecinan Kecil, maka disebut dengan ‘Pasar Percinan’, yang kini disebut ‘Pasar Besar’.

Pemerintah Hindia-Belanda menyikapi geliat ekonomi di Pecinan Besar, sebagai buah dari kemajuan pesat sektor perkebunan, sebagai hal yang kontributif bagi pengembangan ekonomi di Daerah Jajahan. Oleh karena itu, pada tahun 1876 dilakukan penguatan, antara lain dengan membangunan dan menempatkan rel Kereta Api (KA) sejajar dengan jalan poros utara-selatan Pecinan Besar. Jalur KA ini membelah eks Alon-alon Katumenggungan, dan berada tepat pada sisi barat Pasar Kebalen. Jaringan KA dilengkapi dengan dua stasiun: (1) Stasiun Kota Baru sebagai stasiun penumpang, dan (2) Stasiun Kota Lama sebagai stasiun kereta barang. Bisa difahami bila di sekitar Stasiun Kota Lama bertebaran gudang dan tempat industri. Terlebih lagi setelah Th. Karsten di dalam boowplan VIII (mulai berlaku tahun 1935) memposisikan Malang bagian tenggara sebagai sub-area industri bagi perusahaan besar, yang dilengkapi dengan jalur Kereta Api sebagai penunjang kegiatannya.

Jalur KA tersebut menghubungkan Malang dengan dua kota besar di Jawa Timur, yaitu Surabaya dan Pasuruan. Keberadaannya memicu distribusi hasil pertanian dari daerah produsen di Malang Barat dan Timur ke luar daerah – bahkan keluar pulau dan ke luar negeri – berlangsung lebih lancar dan intensif. Pembangunan jaringin KA ini berpengaruh signifikan bagi Malang untuk merebut posisi sebagai sentra usaha perkebunan. Tidak sedikit warga Pecinan yang merintis usaha dan memperoleh sukses dalam perdagangan hasil pertanian/perkebunan. Gudang-gudang yang berada di Pecinan Besar dahulu banyak yang difungsikan sebagai penyimpan hasil pertanian. Dapat dikatakan bahwa perdagangan hasil bumi adalah jenis usaha dagang di periode awal, yang konon banyak diusahakan oleh warga Pecinan. Berdagang hasil bumi tidak harus dijalankan dengan membuka toko khusus, namun cukup hanya dengan memanfaatkan komponen bangunan di lingkungan rumah tinggalnya.

C. Perkembangan dan Diversifikasi Usaha dagang Warga Pecinan

06Dalam perkembangannya beragam usaha dagang diusahakan oleh warga Pecinan, sesuai kebutuhan khalayak. Hal itu menjadi pemicu bagi hadirnya toko-toko, yang semula banyak didirikan di areal kediamannya, sehingga terdapat apa yang disebut “rumah-toko (ruko)”. Jejak awal ruko masih didapati di sekitar pasar lama seperti di seberang Pasar Kebalen, seberang timur dan barat Pasar Pecinan, sebelah barat Pasar Dinoyo Lama atau timur Pertigaan Dinoyo pada sisi selatan jalan. Di samping ruko, Kota Malang memiliki jejak tertua kompleks pertokoan, yang berada di penghujung timur Oro-oro Dowo bernama ‘Winkel Complex Lux’ , yang kini menjadi Toko Swalayan Avia dan deretan toko di sebelah baratnya.

Filosofi dagang ‘rumah-toko (ruko)’ adalah bahwa kegiatan dagang tidak musti dilakukan dengan meninggalkan rumah, namun bisa saja dikerjakan musti hanya berada di lingkungan rumah tinggalnya. Perkembangan rumah-toko di wilayah pusat Kota Malang meningkat pesat semasa pemerintahan Wali Kota Sugiono. Pada akhir tahun 1970-an hingga awal 1980-an (awal Pelita di masa Orde Baru) diupayakan peningkatkan debut perekonomian Kota Malang, antara lain dengan mendorong warga Pecinan mendirikan tempat usaha dagang (toko) di halaman depan atau dengan memanfaatkan bagian muka rumah tinggalnya – terkadang bersatu dengan rumah induk, sehingga menjadi semacam rumah-toko (ruko)

07Selain ruko terdapat bangunan yang tak terlampau besar di sekitar pasar, yang khusus difungsikan sebagai toko. Masyarakat awam lazim menamai dengan “toko kelontong”. Sebenarnya, unsur nama “kelontong” semula digunakan untuk menyebut pedagang Cina yang berkeliling (maindering) untuk menjajakan barang dagangannya. Sebutan dengan logat Jawa ‘Singkek Mendring’ – yang berasal dari ‘orang Tionghoa marga Kek yang berjualan secara maindering’ menjadi pembukti tentang adanya penjualan secara berkeliling tersebut. Mereka mempergunakan instrumen musik (waditra) bernama “kelontong’ sebagai petanda khusus perihal kehadirannya dalam berjualan secara mobile. Jadi, kelotong adalah usaha dagang yang semula bersifat mobile – usaha dagang berkeliling, sehingga ada sebutan ‘pedagang kelontong’ – dan kemudian berubah menjadi usaha dagang menetap di suatu tempat dengan jalan membuka toko/kios sehingga terdapat sebutan ‘toko kelontong’.

D. P e n u t u p

Sentra ekonomi yang mulanya berada di sub-area timur pusat Kota Malang, utamanya di jalan poros Boldystraat dan Klentengstraat, lalu meluas ke arah barat setelah dibangun Pasar Pecinan. Dengan perluasan ini mucul sebutan ”Pecinan Besar” untuk areal Pecinan awal dan “Pecinan Kecil” untuk Pecinan perluasan. Sebagai suatu klaster, mulanya areal Pecinan (Besar dan Kecil) diberi batas area. Seperti di kota-kota lain, batas area ditandai oleh gapura, dengan gaya arsitektur khas Cina, yang sekaligus menjadi petanda identitas. Gerbang Cina terakhir masih bisa dijumpai pada tahun 1980-an di jl. Halmahera.

Sebagai kota besar ke-2 di Jawa Timur, Malang mengalami perkembangan pesat, utamanya sejak Orde Baru. Mucul pusat-pusat keramaian baru, seperti di Blimbing, Dinoyo, Sukun, Kota Lama, poros Kayutangan-Celaket, terakhir di ruas Soekarno-Hatta. Hal itu dicermati sebagai “peluang” untuk perluas areal usaha, sehingga Pecinan tak lagi terbatas di Pecinan Besar dan Kecil sebagaimana pada Masa Kolonial, namun terdistribusikan dengan membedah “batas cluster Pecinan arkhais” buatan pemerintah Hindia-Belanda dalam kerangka segregasi sosial. Kini hadir Pecinan Baru mengisi ruas-ruas jalan utama pada penjuru Kota Malang.

Demikianlah ulasan ringkas mengenai Pecinan Besar dan Pecinan Kecil di Kota Malang beserta dinamikan dari waktu ke waktu. Semoga membuahkan makna.

Salam budaya ‘damailah negeriku, majulah peradabanku’.

Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA,
Sengkaling 29 Januari 2017

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*