GUNUNG BUDHEG


GUNUNG BUDHEG, SIRATAN FAKTA HISTORIS DAN PESAN EDUKATIF DI BALIK LEGENDA LOKAL (Bagian I)

01

Oleh: M. Dw Cahyono

A. Latar Toponimim ‘Gunung Budheg’

  1. Legenda di Balik Nama Tempat

Demikian mendengar penyebutan ‘Gunung Budheg’, asosiasi pendengar bakal ke arah tuna rungu atau tuli. Kata ‘budheg’ atau varian penyebutannya ‘dubleg’ dalam Bahasa Jawa Baru menunjuk kepada: kurang atau tidak berfungsinya indra pendengar, yang di dalam Bahasa Indonesia diistilahi dengan ‘tuli’, dan dalam istilah yang lebih halus adalah ‘tuna rungu’. Dalam artian ini mucul pertanyaan: bagaimana bisa suatu gunung/bukit dinamai ‘budheg’? Bukankah semua gunung tanpa telinga? Gunung dengan fisis-material batu dan tanah tentunya tidak peka suara, dan karenanya musti budheg.

02

Unik memang namanya, salah sebuah bukit di penghujung barat perbukitan Walikukun, yakni suatu percabangan dari Pegunungan Kapur (Kendeng) Selatan di sub-area selatan Kabupaten Tulungagung, diberi sebutan ‘Gunung Budheg’ oleh warga sekitarnya. Sebutan lain terhadapnya adalah ‘Gunung Cikrak’. Justru lantaran keunikan pada namanya itu, menjadikannya menarik perhatian publik. Setidaknya menarik perhatian orang untuk menanyakan tentang ‘apa yang melatari sehingga unsur toponimisnya ‘budheg?’ Adapun perihal unsur toponimis ‘cikrak’, dengan relatif gampang banyak orang mengasosiasikan atau menserupakan bentuknya dengan bentuk anyaman bambu sebagai wadah kotoran sehabis disapu, yang dalam kosa kata Jawa Baru disebut ‘cikrak’. Oleh karena, tepatnya pada bagian puncak dari bukit itu terdapat bentukan alamiah yang sekilas menyerupai bentuk cikrak dalam posisi menelungkup. Hal itu berbeda dengan latar penamaan ‘budheg’, yang tidak mudah bagi sembarang orang untuk dapat menjelaskan latar penamaannya.

Latar penamaan ‘budheg’ sama sekali tidak terkait dengan bentuk topografis dari bukitnya. Melainkan dengan legenda yang melatarbelakanginya. Memang, tak jarang suatu tempat diberi nama tertentu sesuai dengan legenda atau mite yang melatarinya, seperti nama ‘Gunung Tangkuban Perahu, Situ Bagendit, Tuk Bimo Lukar, Alas Lalijiwo, Batu Menangis, Pantai ‘berbatu’ Malin Kundang, dsb.’. Bukit purba di Kecamatan Boyolangu itu dinamai ‘Gunung Budheg’ karena dilatari oleh ‘Legenda Joko Budheg’.

03

Ada bagian tertentu dari bukit ini yang secara spesifik acapkali direlasikan dengan tokoh ‘Joko Budheg’ dalam legenda yang memasyarakat di daerah Tulungagung. Bagian itu adalah sebongkah batu amat besar – berasal dari rompalan batuan reksi vulkanik dari tebing di bagian atasnya, yang sekilas pandang bentuknya menyerupai seseorang dalam posisi duduk bersila menghadap ke arah utara-barat. Berdekatan dengannya terdapat pohon besar yang dedaunannya hampir menaunginya. Seolah menggambarkan seseorang tengah bertapa (matapa) di alam terbuka (open space) di bawah naungan pohon. Legenda lokal menarasikannya sebagai badan wadag Joko Budheg yang telah menjadi batu lantaran dikutuk oleh ibunya sendiri lantaran perilakunya yang dilematik, yaitu ‘topo mbudheg (bertapa dengan mentulikan diri)’.

Bongkah batu besar yang unik bentuknya dan dapat dilihat cukup jelas dari kejauhan ini menjadi semacam ‘landmark’ bagi bukit itu, sehingga sesuai dengan legenda yang melatarinya dinamai dengan ‘Gunung Budheg’. Legenda ini dalam sejumlah hal menyerupai ‘Legenda Malin Kundang’ di Ranah Minang, yang inti pesannya adalah pilihan dilematik antara berbhakti pada orang tua – dalam hal ini adalah ibu – ataukah kepada janji atau tendensi kepada kekasih. Pilihan bhakti kepada kekasih dan sebaliknya tak berbhakti kepada ibunya diposisikan sebagai sikap dan tindakan ‘salah besar’ atau ‘durhaka’ kepada orang tua. Lantaran salah pilihnya itu dan kekuatan tuah (kutuk, sapatha) dari ibu menurut keyakinan lokal pada jamannya, maka pendurhaka, yang dalam legenda itu adalah Joko Budheg dan Malin Kundang’, dikutuknya menjadi batu. Dengan keserupaan itu, Lagenda Joko Budeg dan Malin Kundang tersebut bisa dibilang sebagai segenre folklore yang berkenaan dengan suatu bentuk fisis-alamiah dan penemaan suatu tempat.

  1. Kilas Kisah dalam Legenda ‘Joko Budheg’

04

Dalam legenda ‘Joko Budheg’ dikisahkan bahwa seorang pemuda (tidak disebutkan siapa nama dirinya), yakni putra tunggal dari seorang janda (mbok rondo) yang tinggal di lembah sisi utara Gunung Cikrak. Joko menaruh hati berat kepada wanita lajang (roro) cantik, yang dalam kisah ini dinamai ‘Roro Kembang Sore’. Bunga daerah itu, yang sebelumnya telah menjalin kasih asmara dengan tokoh cerita bernama ‘Lembu Peteng’, yakni putra selir dari Raja Majapahit lewat jenis perkawinan gandharwawiwaha, ditaksir oleh banyak pria di Bhumi Ngrowo (nama arkhais dari Tulungagung)’. Selain Joko Budheg, tokoh sekaliber Adipati Kalang pun gandrung kapirangan (naksir berat) terhadapnya. Wanita cantik yang cerdik dan sakti (sekti mondroguno) putri dari Adhipati mBethak ini berupaya untuk lepas dari taksiran berat keduanya.

Terhadap Joko Budheg yang lugu itu, dilancarkan jurus cerdiknya dengan membuat ‘prasyarat’ bagi pinangan kasih Joko Budheg terhadapnya, yakni meminta agar Joko bertapa ‘mbudeg (bisu-tuli)’ dengan arah hadap utara-barat, yakni ke tempat persemayamannya di puncak Gunung mBolo. Prasyarat diterima tanpa reserve, tanpa menyadari resiko yang bakal terjadi atas tindakkan mbudeg-nya tersebut. Konsekuensi logis atas pembisutuliannya itu, siapapun yang memanggilnya, meski ia dengar, maka Joko pantang menyahut (menjawab)nya.

Tanpa berpamitan dan menjelaskan kepada ibunya tentang apa dan mengapa ia topo mbudheg, Joko meninggalkan rumah, lantas mengambil tempat bertapa pada lereng sisi utara-barat Gunung Cikrak untuk melakoni prasyarat Roro Kembangsore. Di bawah naungan pohon di tempat ini, dengan jelas Joko dapat menyaksikan dari kejauhan puncak Gunung mBolo — tempat kekasihnya bersemayam setelah sakit asmara lantaran kekasihnya (Lembu Peteng) tewas menjebur ke Kali Ngrowo di tempat yang kini diberi nama ‘Lembu Peteng’ untuk menghindari penangkapan dari Adipati Kalang. Berapa lama Joko harus topo mbudeg tak diberi batas waktu oleh Roro Kembang Sore, yang sebenarnya kurang berkenan pada dirinya. Setelah beberapa lama meninggalkan rumah tanpa pamit, ibunya (Mbok Rondo) yang merasa bingung mencari Joko ke berbagai tempat tanpa seorangpun tahu dimana keberadaannya.

Pencarian yang dilakukan oleh wanita uzur itu pada akhirnya diarahkan ke Gunung Cikrak. Dengan tertatih didaki lereng sisi utara dan kemudian berbelok ke arah barat. Tanpa dinyana, di balik rerimbunan ilalang yang meninggi, sayup dilihatnya seorang pria muda tengah duduk tepekur, yang setelah didekati ternyata adalah putra tunggal terkasih yang dicari-carinya. Demi mengetahui yang dicari-cari telah diketemukan, sontak berkali-kali Mbok Rondo memanggil nama anaknya. Aneh, mulai dari teriakkan panggilan dari kejauhan hingga relatif dekat dengannya, Joko sama sekali tidak menyahut panggilanya. Bahkan, hingga jarak yang terdekat sekalipun, berulang kali panggilannya tak disahuti, mbegegeg membisu. Sampai pada akhirnya tak terelakkan muncul kejengkelan hati dari Mbok Rondo terhadap putra terkasihnya itu. Tanpa disadari lantaran kekesalannya itu, meluncur perkataan yang mengandung tuah ‘budheg koyo watu (tuli seperti batu)’.

Perkataan itu bagaikan ‘magi kata’, menjadi kutuk (sapatha) dasyat dari seorang ibu terhadap anak yang tanpo dugo (tak mengindahkan tata karma) terhadap orang tua, sehingga berubah wujudlah badan wadhag Joko menjadi sebongkah batu besar yang bentuknya menyerupai orang tengah bertapa. ‘Nasi sudah menjadi bubur’, demikian kata pepatah. Meski Mbok Rondo menyesali perkataan yang menyebabkan anak terkasihnya berubah wujud menjadi batu, namun sabdo tan kabatalake (perkataan tak dapat dibatalkan). Selamanya badan wadhag dari Joko yang topo mbudeg tetap menjadi batu. Legenda lama itu hidup subur di Bhumi Ngrowo hingga lintas masa, dan dijadikan dasar penamaan terhadap gunung padamana Joko ‘pertapa mbudheg’ yang berubah menjadi batu itu berada, yaitu ‘Gunung Budheg’. Nama ini bahkan kini lebih populer dari sebutan lainya, yaitu ‘Gunung Cikrak’.

  1. Siratan Pesan Edukatif Legenda ‘Joko Budheg’

Lebih dahulu manakah terdapatnya batu yang bentuknya menyerupai orang bertapa dengan legenda ‘Joko Budheg’ yang direlasikan dengan bentuknya itu? Pada umumnya, legenda baru hadir setelah keberadaan benda fisis-alamiah berbentuk unik dan menyerupai sesuatu. Jika benar demikian, legenda seakan menarasikan dalam bentuk kisah terhadap suatu bentukan fisis-alamiah, bukan sebaliknya bahwa kisah dalam legenda yang membuat jadi bentuk fisis-alamiah tertentu.

Rompalan bongkah batu breksi-vulkanik dari tebing terjal dan kemudian berdiri tegak di lereng bawah sisi utara-barat Gunung Cikrak adalah peristiwa tektonis dari peristiwa alam biasa, bukan peristiwa legendis yang berbalut tuah. Adapun bentuknya yang menyerupai orang bertapa adalah kebetulan belaka bahwa bentuknya demikian. Lantaran ukurannya besar dan tampak dari kejauhan, Karena posisi di pemukaan lereng tegak (vertkal) dan lebih khusus lagi bentuknya menyerupai seseorang yang duduk bersila seperti posisi duduk pertapa, maka menggelitik imaji ‘kreator kisah’ – namun tak diketahui siapa kreatornya – untuk mengkisahkannya dan kisah inipun melegenda di masyarakat menjadi ‘Legenda Joko Budheg’. Bahkan akhirnya, nama ‘budheg’ pun dijadikan unsur nama dari gunung tersebut.

Pesan terkandung dalam legenda ini (massage of legend) adalah ‘pilihan bhakti yang dilematis’, yakni: (a) memilih bhakti terhadap orang tua (ibu), ataukah (b) teguh janji atau bhakti terhadap permintaan kekasih. Nampaknya, dalam tata karma Jawa, bhakti terhadap orang tua jauh lebih urgen ketimbang janji setia kepada kekasih. Dalam kehidupan, tak terelakkan bahwa seseorang terjebak pada kondisi dilematis, termasuk ‘dilema dalam memilih’. Joko yang lugu, yang patuh setia pada janji, terperangkap pada pilihan dilematis ini. Celakanya, ia salah memberi bobot pada pilihanya, yakni bhakti (patuh setia pada janji) kekasih ditempatkan mengatasi kebhaktiannya kepada ibu, yang meski dalam bentuk kecil berupa ‘tidak menyahuti panggilan ibu yang dengan susah payah mencari keberadaannya’.

Kesalahan pilihnya berhadapan dengan kekuatan gaib dari tuah, yang dalam keyakinan lama kata-kata pada tuah bisa membuahkan kenyataan, dimana Joko yang bertubuh normal sebagai manusia biasa lantas menjadi batu yang bentuknya menyerupai tubuh manusia akibat terkena tuah. Kisah yang paralel dengan itu adalah Lengenda Malin Kundang di Sumatra Barat. Tak lantas karena adanya persamaan antara dua legenda itu lantas ditafsirkan bahwa Legenda Joko Budheg merupakan pengaruh dari Legenda Malin Kundang, atau sebaliknya. Sangat boleh jadi, persamaan itu adalah paralelisme, bukan hasil difusi.

Dalam hal ini, yang utama bukanlah realitas dari kekuatan tuah, namun urgensi bhakti anak kepada ibunya. Idealnya, seorang anak musti berbhakti kepada ibu yang melahirkan, membesarkan dan menyayanginya dengan sepenuh jiwa-raga. Perilaku ideal semacam itu, misalnya dikisahkan dalam cerita “Garudeya’, dimana Sang Garuda bersedia mengorbankan jwa dan raganya untuk mendapatkan tirtha amretha sebagai prasyarat tebus terhadap ibunya (Winata) dari perbudakan Kadru. Demikian pesan edukatif yang tersirat dalam Legenda Joko Budheg, mengingat bahwa salah satu fungsi legenda adalah sebagai media pembelajaran publik, yakni ‘belajar dari cerita’.

Yang menarik untuk lebih disimak, ternyata Legenda Joko Budheg bukan sekedar cerita biasa. Bukan hanya wahana edukatif. Namun lebih daripada itu, legenda tersebut merupakan memori kolektif (collective memorial) terhadap fungsi kawasan, yakni Gunung Budheg (Gunung Cikrak), yang pada masa yang lebih tua – yakni pada Masa Hindu-Buddha – berfungsi religis sebagai tempat pertapaan (patapan) pada salah satu mandalakadewagurwan di kawasan perbukitan Walikukun. Perihal ini akan dipaparkan pada bagian berikut (periksa butir B – sambungan).
Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA.
Warung Kopi ‘Pak Oyos’ Plandaan, 5 Februari 2017

 


Like it? Share with your friends!