BUNGKER BARENG

TELISIK ‘BUNGKER’ BARENG

RUANG LINDUNG DALAM PERUT BUMI JELANG PERANG DUNIA II

01

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Perlindungan Diri dalam Kondisi Perang

Salah satu kebutuhan dasar (basic need) manusia adalah kebutuhan akan perlindungan. Terlindung pada kondisi damai, dan terlebih lagi dalam era perang, adalah kebutuhan setiap manusia. Untuk kepentingan itu dilakukan beragam upaya, termasuk dengan membangun fasilitas khusus untuk melindungi diri dari bencana perang, yang di dalam kosa kata Bahasa Jawa dinamai ‘plindungan’, atau ‘perlindungan’ dalam Bahasa Indonesia, atau ‘bungker’ dalam Bahasa Inggris. Salah sebuah ‘eks bungke’r yang secara relatif (relative dating) diasalkan dari Masa Akhir Pemerintahan Hindia-Belanda di Kota Malang – yang dalam sepekan terakhir di minggu ke-4 bulan Februari 2017 – marak dibicarakan di media cetak maupun media sosial adalah eks bungker yang terletak di penghujung selatan Ijen Boulevard, yang masuk dalam wilayah Kelurahan Bareng, tidak jauh di sebelah utara-barat Pasar Bareng.

Ada banyak pilihan lokasi dan bentuk fasilitas perlindungan diri. Untuk konteks perlindungan diri dalam kondisi perang, pilihan lokasi berlindung yang banyak dipilih adalah di bawah permukaan tanah (baca ‘perut bumi’), dengan jalan membangun ruang bawah tanah (ruba = ruang bawah), Dengan berlindung di ruang bawah tanah diharapkan yang bersangkutan tak tertangkap musuh dan terlindung dari bencana perang, termasuk dari serangan menggunakan bahan/alat penghancur berupa ‘bom’. Oleh karena itulah dapat difahami bila atas kesadaran sendiri atau mendasarkan pada instruksi pemerintah, manusia yang berada jelang atau tengah terjebak dalam perang tergerak untuk membangun tempat pelindungan diri di bawah tanah, yang lazim dinamai ‘bungker’. Instruksi pemerintah untuk membangun bungker pernah diserukan oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda sejak tahun 1939, yakni menjelang berlangsungnya Perang Dunia (PD) II, yang juga dikenal dengan sebutan ‘Perang Asia Timur Raya’, yang utamanya diawaki oleh Bala Tentara Jepang (Dai Nipon).

Posisi Negeri Belanda yang berada di pihak kontra terhadap Jepang amat memungkinkan militer Jepang untuk menyerang dan menduduki tanah Jajahannya yang berada di region Asia, yaitu Indonesia. Dengan kesadaran itu, jelang PD II Pemerintah Hinda-Belanda menginstruksi kepada warga Belanda dan Eropa lain yang kala itu tinggal di Indonesia untuk membangun instalasi perlindungan dan penyelamatan diri dari bencana perang, antara lain berupa petanda bunyi (alarm) berwujud menara berterompet – dalam istilah lokal Jawa disebut ‘suling’ atau ‘sirine’ — di dekat Kedung Luncing Jl. Muharto Kota Malang terdapat ‘Kampung Suling’, padamana terdapat menara sirine (suling) tinggalan Masa Hndia-Belanda, khususnya untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya serangan udara dengan segera mengevakuasi diri antara lain dengan berlindung di dalam ruang bawah tanah (bungker) atau tempat aman lainnya.

B. Ragam Jenis dan Bentuk Bungker

02

Pada pinsipnya bungker merupakan suatu tempat terlindung yang berkonstruksi kokoh dan aman. Untuk mendapatkan konstruksi yang kokoh, maka bungker digali pada lapisan tanah keras, yaitu lapisan tanah padas. Bahkan konstruksinya diperkuat lagi dengan pembetonan dan pelapisan dengan dinding berpelur keras. Demikian pula, langit-langit bungker sengaja dibuat relatif pendek (2-2,5 meter). Agar aman, maka dipilih lokasi yang cukup terlindung, yang tak mudah ketahuan pihak lain. Sebagai perlindungan diri yang bersifat personal, tempat perlindungan itu bisa dibuat tersembunyi pada suatu tempat di dalam rumah atau di halaman rumah tinggal. Bagi kepentingan kolektif, bungker dibuat di tempat keberadaan sejumlah orang (sebut ‘bungker kolektif’) di luar rumah tinggal keluarga, seperti di kompleks bangunan pemerintahan, tangsi militer, sekolah, kompleks perumahan, dsb. Disamping itu, terdapat pula bungker yang diperuntukkan bagi publik tertentu, yang di Kota Malang antara lain di jumpai pada penghujung Bergenbuurt (kompleks bernama jalan gunung), Alon-Alon Kothak, Stasiun Kota Baru, dsb.

Perihal teknik pembuatan dan bentuknya bisa beragam. Bungker personal (baca ‘bungker keluarga’) dan bungker kolektif umumnya dibangun dengan membuat sumuran dengan menggali secara vertikal ke dalam tanah serta dilengkapi dengan tangga untuk turun dan naik, lantas diperluas secara horisontal guna menghasilkan ruangan di bawah tanah sesuai luasan yang dibutuhkan. Pada era ‘G30 S PKI tahun 1965’ dan ‘Come Back PKI tahun 1967’, ruang bawah (diakronimkan dengan ‘ruba’) yang demikian cukup banyak ditemukan meski telah disembunyikan sedemikian rupa mulut atasnya. Yang paling akhir (tahun 2016) dijumpai ruba buatan kaki tangan Dimas Kanjeng di Probolinggo, yang sengaja dibuat tersembunyi untuk menyembunyikan uang dan barang-barang berharga. Ruba semacam ini juga banyak kedapatan di Vietnam, yang acap dipendapati sebagai menginspirasi pembuatan ruba di Indonesia pada tahun 1967.

Selain bungker dibuat dengan teknik menggali sumuran secara vertikal pada permukaan tanah yang rata lantas diperluas dengan teknik gali secara horisontal untuk menghasillan ruang bawah, ada pula bungker yang dibuat dengan teknik gali secara horisontal. Bungker jenis ini dibuat pada tebing tanah yang terjal atau pada lerengan tebing sungai. Lobang gali dibuat pada lapisan tanah yang relatif keras, yaitu pada lapisan tanah padas, yang berada di bawah lapisan tanah lempung (alluvial) . Oleh karena itu, umumnya mulut bungker jenis ini berada beberapa meter di bawah permukaan tanah sekitarnya.

Teknik gali tanah secara horisontal sesungguhnya telah dimampui oleh masyarakat Nusantara sejak Masa Hindu-Buddha terkait dengan pembuatan saluran air bawah tanah (arung), yang dikerjakan tukang ahli yang dinamai ‘undagi pangarung’. Tradisi teknologis gali horisontal pada masa yang lebih kemudian dikenal dengan sebutan ‘nggangsir – berasal dari kata ‘gangsir’, yakni serangga yang ‘rumah tinggalnya’ dibuat dengan menggali tanah secara melorong. Beberapa dasawarsa lalu, teknik ini pernah dimanfaatkan oleh pencuri (maling). Bahkan ada sebutan khusus terhadapnya, yaitu ‘maling curing’ atau ‘maling angguno’. Goa Jepang pun juga banyak menggunakan teknik gali horisontal yang demikian.

03Sebenarnya, tanpa harus membeton pun dinding dan langit-langit ruang bawah tersebut konstruksinya telah cukup kuat, karena digalikan atau dikorokkan pada lapis tanah padas. Namun, pada bungker yang dibuat pada Masa Hindia-Belanda, tidak sedikit bungker yang dinding, lantai maupun atapnya diperkuat dengan memberikan lapisan benton dan dinding bata berplester (berpelur) keras. Hal semacam ini tidak atau jarang ditemukan pada Goa Jepang ataupun pada arung dari Masa Hindu-Buddha. Oleh karena itu, indikator beton dan dinding berpelur dapat dijadikan sebagai petanda khas (karakteristik) dari bungker dan saluran air bawah tanah dari Masa Hindia-Belanda, yang termasuk dalam kelompok ‘Arsitektur Indis (Indische Architecture)’.

03aBungker bukanlah ruang terbuka, sebaliknya merupakan ruang tertutup, yang diharapkan keberadaan darinya tidak gampang dilihat. Oleh karena itu, lorong keluar-masuknya dibuat tidak begitu lebar dan tinggi. Tak jarang untuk memasuki lorong itu orang musti membungkukkan badan. Sedangkan ruang dalamnya dibuat tidak amat tinggi, namun cukup untuk dapat berdiri tegak untuk ukuran tinggi orang Eropa. Oleh karena merupakan ruang tertutup dan berada di dalam tanah untuk ditinggali secara semi-permanen, maka kecukupan udara (oksigen), penerangan maupun suhu di dalam ruang musti mendapat perhatian. Kecukupan udara dipenuhi dengan mengalirkan udara ke dalam ruang bawah lewat lorong masuk/keluar. Dalam kaitan itu, minimal dibutuhkan dua lorong yang mempunyai akses dengan ruang bawah, sehingga dapat berlangsung sirkulasi udara, yaitu akses bagi udara masuk ruang – udara mengisi ruang bawah tanah. Jika ruang bawah itu disekat-sekat dengan dinding menjadi beberapa sub-ruang, maka dibutuhkan koneksi antara ruang bagi pengaliran udara melalui pintu atau cendela. Terbatasnya oksigen di dalam ruang bawah tanah yang relatif tertutup mempersyaratkan untuk tidak terlampau banyak orang yang tinggal di dalamnya.

Kebutuhan pencahayaan di dalam ruang bawah dipenuhi dengan sinar yang masuk via lorong masuk/ keluar. Namun demikian, acapkali cahaya tersebut tidak cukup untuk menerangi seluruh penjuru ruang dalam. Oleh karena itu penerangan ruang dibantu dengan pencahayaan lampu, baik lampu minyak atau lampu listrik. Sedangkan untuk penghangatan ruang bawah tanah – yang cenderung dingin, antara lain dilakukan dengan pembakaran kayu atau bahan bakar lain. Hanya saja, dalam kaitan dengan aktifitas bakar tersebut, yang juga penting untuk dicarikan jalan keluarnya adalah pengaliran asap ke atas atau ke alam terbuka. Selain asap yang berasal dari kegiatan bakar, asap juga bisa berasal dari aktifitas memasak. Oleh karenanya, tidak jarang bungker diperlengkapi dengan cerobong asap.

04Komponen penting lain dari bungker adalah pintu dan cendela. Fungsinya bukan hanya untuk pengaliran udara, akses keluar/masuk dan konteksi antar sub-ruang, namun sekaligus sebagai perangkat pengaman. Lorong masuk dibuat pendek dan kecil, sehingga memaksa orang yang hendak memasuki musti dengan posisi membungkuk, sehingga menghambat gerak. Selain itu untuk kepentingan pengaman diri penghuni ruang bawah tanah, pintu dilengkapi dengan daun pintu dari kayu keras atau besi, yang pada waktu-waktu tertentu sengaja ditutup. Bahkan, terdapat dua atau lebih pintu yang dilengkapi dengan daun pintu dalam posisi berderet dalam jarak pendek, dengan maksud untuk menghambat gerakkan lawan bila mereka berhasil menemukan dan kemudian memasuki bungker.

C. Deskripsi Bungker Bareng

05Dinamai ‘Bungker Bareng’ karena tempat keberadaannya di Kelurahan Bareng, tepatnya di penghujung gang buntu sebelah selatan-barat Gerbang Ijen Nirwana, sekitar Perempatan Bareng atau penghujung Ijen Boulevard’. Lokasinya tepat di sisi timur pengkolan (titik belok) sungai kecil (baca ‘Kali Bareng” yang curam). Pada permukaan tanah atas di dekat bungker terdapat ‘pedanyangan’, yakni sebuah makam yang oleh warga sekitar diyakini sebagai makam Mbah Karjani, yang dikonsepsikan secara oral sebagai ‘sing mbabad’ atau ‘sing mbedah krawang’ Kampung Bareng. Oleh karena itu, areal pedanyangan yang berada di bantaran sungai ini oleh warga sekitar konon dianggap ‘wingit (angker)’. Biasanya tempat demikian memiliki vegetasi yang cukup rimbun. Nah, siapa sangka di sekitar dan dibawah pedanyangan terdapat bungker, yakni tempat perlindungan bagi orang-orang Eropa. Kondisi ekologisnya yang demikian layak dipertimbangkan untuk memilihnya sebagai lokasi bungker dengan beberapa pertimbangan: (a) cukup terlindung lantaran tidak banyak didatangi publik lantaran wingit dan berada di bantaran sungai, (b) terdapat sungai curam yang tebing miring dengan bagian bawah berlapis tanah padas keras, serta (c) berada di penghujung selatan kawasan permukiman elit warga Eropa yang dinamai ‘Bergenbuurt’ sebagai pihak jelang PD II yang membutuhkan tempat evakuasi aman apabila terjadi peperangan.

Ruang bungker Bareng terbilang tidak amat luas (sekitar 8 X 12 meter) dan cukup pendek (tinggi langit-langit sekitar 2,5 meter). Langit-langit bungker dibuat kokoh dengan teknik cor, dengan alas pengecoran berupa anyaman bambu (gedheg). Kapasitas huni antara oleh 30 hingga maksimal 50 orang. Padahal, warga Eropa yang bermukim di Bergenbuurt pada tahun 1930-an mencapai ribuan orang. Oleh karena itu semestinya bungker demikian tak hanya sebuah di areal Bergenbuurt. Semoga ke depan ditemukan bungker-bungker serupa di kawasan ini, baik bungker personal (keluarga), bungker kolekstif ataupun bungker publik. Eks bungker di Bareng, yang terletak dekat atau tepatnya di penghujung selatan Ijen Boulevard, dengan demikian masuk dalam kategori ‘bungker publik’ sekaligus ‘bungker sipil’ – bukan ‘bungker militer’ seperti misalya bungker di Morokrembangan Surabaya, yang sangat boleh jadi konon ada beberapa buah – kini yang berhasil dijumpai baru satu unit. Sayang sekali dalam keberadaan sekarang tak sedikit bungker yang dibuat pada Masa Hindia-Belanda di wilayah Kota Malang mengalami keraiban. Ada yang ditimbun, ditutup pintu (mulut atau jalan keluar-masuknya), atau jikalaupun masih ada kini telah tidak utuh lagi dan tak terpelihara baik.

Secara konstruksional, Bungker Bareng dapat dikatakan relatif utuh. Hanya komponen-komponel detail darinya yang telah hilang, seperti daun pintu, cerobong asap, instalasi listrik penerang ruang bawah, serta sebuah lorong pintunya – yakni pintu masuk sisi utara – yang kini tertutup oleh timbunan tanah baru dan fondasi batu untuk bangunan baru di atasnya. Dengan demikian, semula bungker ini memiliki dua lorong yang memiliki akses ke ruang bawah. Lorong sebelah utara boleh jadi merupakan lorong masuk yang sempit (lebar dan tinggi sekitar 1,5 meter), sehingga orang musti membungkuk untuk melintasinya. Adapun lorong sebelah selatan, yang lebih lebar dan tinggi (lebar sekitar 1,75 meter, tinggi sekitar 2,5 meter) adalah lorong keluar. Atau bisa jadi sebaliknya, yakni lorong selatan sebagai lorong masuk dan lorong utara merupakan lorong keluar.

06Jika benar bahwa lorong masuk berada di sebelah utara, maka penempatannya pada sekitar pengkolan sungai mempertimbangkan hembusan udara bebas ke dalam bungker dari barat ke timur – sepanjang aliran Kali Bareng. Pembuatan dua buah lorong itu bermanfaat untuk terjadinya sirkukasi udara atau oksigen (masuk-mengisi-keluar) bungker. Selain itu memudahkan proses pelarian apabila sewaktu-waktu terjadi penggrebekan terhadap bungker, dimana penghuni bungker dapat keluar lewat lorong selatan dan seterusnya bergerak menyusuri pinggir Kali Bareng. Untuk kepentingan pengamanan, maka di ujung lorong masuk dipasang dua pintu berderet dan berjarak pendek (sekitar 1,5 meter). Masing-masing pintu dilengkapi dengan daun pintu – kemungkinan pintu besi, yang dalam kondisi tertentu sengaja ditutup daun pintunya. Demikian pula, pada pangkal pintu keluar disertai dengan daun pintu besi yang kini juga telah raib – bekas baut berulir penghubung daun pintu dan kusen masih dijumpai di beberapa bagian. Suatu hal menarik pada Bungker Bareng adalah antara pintu pada penghujung lorong masuk dan pintu pada pangkal lorong keluar terdapat tiga deret pintu [dalam satu garis lurus, membentuk koridor] tanpa daun pintu, yang mempermudah penghuni bungker melarikan diri ketika terjadi penggrebekan.

07Kebutuhan lain dalam ruang dalam bungker adalah pencahayaan, karena sinar matahari tak mungkin bisa menjangkau ruang dalam lantaran untuk menuju ke ruang dalam lorong masuk ataupun lorong keluar itu berkelok tajam (90°). Untuk itulah penerangan ruang dalam dipenuhi dengan menggunakan lampu listrik. Petanda ke arah itu berupa pipa besi – dipasang dengan teknik tanam dalam dinding bungker, yang di dalamnya terdapat sisa beberapa utas kabel listrik. Selain itu pada langit-langit bungker terdapat bekas pemasanganan pithingan bola lampu. Boleh jadi ruang dalam juga dilengkapi dengan kipas angin, karena udara dalam bungker terasa pengap dan panas di siang hari. Terdapat juga beberapa pelat besi yang dipasang di dinding bungker, yang kemungkinan untuk menempatkan kotak instalasi listrik. Sejauh ini belum bisa diketahui darimana sumber aliran daya listrik yang dialirkan ke dalam bungker.

08Perangkat lainnya yag terpasang di dalam bungker adalah lobang besar yang dipasang di dinding sisi timur-atas, yang mengarah ke timur lalu berbelok menyiku ke arah atas menembus permukaan tanah. Ada dua atau tiga kemungkinan fungsi dari lobang ini, yaitu: (a) cerobong udara, atau (b) cerobong asap, atau (c) kombinasi keduanya. Apabila merupakan cerobong asap, maka pemasangan dimaksudkan untuk mengalirkan asap dari ruang dalam bungker ke udara luar, baik asap perapian untuk menghangatkan ruang di malam hari ataupun asap dari kegiatan memasak. Boleh jadi konon terdapat pipa besi besar menyiku, yang dipasang pada mulut lobang bulat itu ke arah tungku perapian, yang sayang sekali kini telah raib – sisa baut kait antara pipa dengan dinding masih didapati hingga sekarang. Memasak adalah kegiatan yang tentunya dilangsungkan di dalam bungker, karena bisa jadi ruang bawah tanah ini dihuni hingga beberapa lama, baik siang ataupun malam. Terkait itu, salah satu atau dua buah dari bilik kecil berpintu yang juga terdapat di dalam ruang bungker ini difungsikan untuk menyimpan logistik penopang kehidupan selama dalam persembunyian.

D. Suatu Obyek Wisata Budaya Minat Khusus

09Bungker Bareng merupakan jejak budaya Indis yang penting di Kota Malang. Sejauh telah diketemukan, Bungker Bareng adalah jejak budaya akhir Masa Kolonial (Hindia-Belanda) dari sekitar tahun 1939-an (kini berisia lebih dari ¾ abad) yang berupa bungker publik. Keberadaannya terbilang relatif utuh hingga kini, sehingga bentuk, fungsi, teknik pembuatan maupun konteksnya dengan lingkungan sekitar dapat digambarkan dengan cukup jelas. Keberadaan Bungker Bareng menjadi petunjuk bahwa Bergenbuurt yang merupakan kawasan permukiman elit warga Erpa pada Masa Hindia-Belanda dilengkapi dengan ragam fasiltas publik, seperti tempat peribadatan, sekolah, taman-taman kota, instalasi drainase, tempat rekreasi, bahkan tempat evakuasi aman manakala terjadi peperangan – yaitu bungker. Namun sayang areal bungker kini berada di bawah bangunan kos-kosan tertutup rapat dari pandangan luar dan amat tidak terawat. Di dalam bungker terdapat dua lobang ‘galian liar’, yang nampaknya dipergunakan untuk kepentingan ritual ‘topo pendem’ atau untuk kepentingan lain yang misterius. Tindakkan vandalisme demikian semestinya tidak boleh terjadi pada BCB (Bangunan Cagar Budaya), dan karenanya musti dihentikan serta harus ditimbun kembali.

10Hal lain yang disayangkan adalah pembangunan dua rumah kos di samping atas bungker dan tepat di pinggir Kali Bareng. Menurut informasi keluarga pemilik, konon bagian belakang dari dua bangunan kos yang berukuran besar itu dibuat dengan menguruk lereng di kelokan Kali Bareng. Disamping berdampak menciutkan aliran sungai, juga menghilangkan bentuk topografi padamana bungker ini digalikan. Sebelum awal tahun 1960-an, bantaran kali tersebut mereleng ke dasar sungai sekitar 5 meter dari tanah sekitar. Belum diketahui dengan pasti bagaimana bisa pemilik tunggal empat rumah beserta halaman di bagian tengahnya dengan total luas lahan lebih dari 1000 m² ini mendapatkan dan berhasilkan mensertifikatkan serta mendirikan sejumlah bangunan di atas tanah yang nota bene berada tepat di setren Kali Bareng dan pada areal pedayangan yang diyakini oleh warga sebagai sing mbabad Kampung Bareng.

Mengingat urgensinya sebagai BCB, jejak budaya Indis ini patut dipertimbangkan untuk dijadikan obyek wisata budaya minat khusus. Para wisatawan domestik, terlebih wisatawan asing, bisa belajar sembari berekreasi serta memperoleh pengalaman tualang menelusuri ruang bungker di dalam perut bumi (baca ‘bawah tanah’). Terlebih lagi lokasi Bungker Bareng berada di penghujung selatan Ijen Boulevard, yang kini menjadi ikon sekaligus destinasi wisata budaya Kota Malang. Areal luas, mulai dari Pasar Bareng dan ruas jalan yang melebar maupun lahan di sekitarnya, memungkinkan untuk dikembangikan menjadi aral wisata penunjang dan terintegrasi dengan kawasan wisata di Bergenbuurt.

Dalam konsep pengembangan demikian, situs Bungker Bareng berada di dalam areal wisata terkembangkan tersebut. Untuk menuju ke arah itu, kini masih banyak ‘PR (Pekerjaan Rumah)’ yang musti diselesaikan, sebab BCB Bungker Bareng berada di ‘tanah milik perorangan’ dan terjepit di bawah rumah-rumah kos. Namun, bila ada niatan yang sungguh-sungguh, bukan tak mungkin arah pengembangan yang demikian dapat diwujudkan ke depan.

Sembari menunggu terselesaikannya PR tersebut, ada baiknya dilakukan penelisikan bungker-bungker yang ada di Kota Malang, yang bisa jadi ada sejumlah yang kini masih tersisa. Sebagai daerah yang pada kurun waktu panjang di Masa Kolonial menjadi daerah hunian warga Belanda dan Eropa lainnya, jelang pembangunan tempat-tempat perlindungan (bungker) kiranya banyak mengisi ruang kota. Kini, sebelum jejak budaya arsitektural masa lampau itu lumat ditelan jaman, maka upaya dokumentasi, inventarisasi dan narasi terhadapnya perlu segera dilakukan guna mendapat ‘Sepenggal Gambaran Perjalanan Sejarah Kota Malang Jelang Perang Dunia II’.

Mari berekspedisi untuk telusuri bungker-bungker yang masih tersisa di Kota Malang dan membandingkannya dengan yang terdapat di daerah-daerah lain guna mendapatkan gambaran mengenai pola, tipe, jenis dan fungsi berbagai bungker pada Masa Akhir Hindia-Belanda.

Semoga membuahkan makna.
Salam budaya ‘Malang Kota Peradaban Lintas Masa’.
Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA
Sengkaling 23-24 Februari 2017.

Terima kasih atas kebersamaannya
1. TACB Kota Malang
2. Disbudpar Kota Malang
3. Radar Malang
4. Jelajah Jejak Malang
5. Barisan Mbah Sinto

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*