ORASI GUNUNG BUDHEG

GUNUNG BUDHEG DALAM SEJARAH

01

Oleh: M. Dwi Cahyono

‘Budheg’ adalah nama gunungmu,
sebuah bukit menjulang di penghujung barat Perbukitan Walikukun.
‘Joko Budheg’ menjadi sebutan bagi tokoh peran dalam legendamu.
Kendati berunsur nama ‘budheg’, namun tidaklah budheg indra dengarmu pada jerit pilu karya leluhurmu yang disiakan, yang karena usang maka tak banyak dikenang.
Walau wujud fisikmu berupa arca batu amat besar, tetapi bukan membatu kepekaan rasa budayamu.
Gunung Budheg yang bagai cikrak menelungkup bentuknya tak sekedar petanda alam biasa, namun sekaligus petanda mengenai sepenggal sejarah peradaban di Bhumi Ngrowo.
Legenda ‘Joko Budheg’, yang meski hanya merupakan tradisi lisan,.namun tersirat fakta sejarah di balik kisah rekaannya.
Suatu fakta tentang kaum rsi yang menjadikan tapa sebagai inti aktifitas religisnya dalam memasuki usia senjanya.

Semenjak Masa Akhir Kerajaan Kadiri
areal Gunung Budheg telah djadikan mandala kadewagurwan sekaligus karsyan utama di Tlatah Jawa Masa Hindu-Buddha.
Goa Tritis pada tebing terjal di sisi utaranya adalah patapan’ bagi para rsi yang tengah perdalam tataran kerohaniannya.
Aktifitas pendidikan dan keagamaan di Gunung Budheg bahkan berlanjut hingga menjangkau Masa Majapahit.
Watu Joli pada puncaknya, yang bertarikh Saka 1300-an adalah pembukti bahwa perjalanan budayamu berlangsung lintas masa, dari Masa Kadiri sampai dengan Majapahit.

Kini, selang lebih dari setengah millennium kemudian, sejarah-budaya di Kawasan Gunung Budheg kian dilupa, ironisnya juga oleh warga sekitarnya sendiri.
Peristiwa tentang para muda yang ngangsu widya di Mandala Kadewagurwan dan para pertapa yang mencari ‘sangu tuwo’ di Karsyan Gunung Budheg nyaris sirna dalam memori warga Bhumi Ngrowo,
Yang kini masih diingat, meski hanya oleh sebagian dari generasi tua, hanyalah kisah tentang seorang lelaki muda bertapa membisu-tuli, yang lantaran lebih memberi bobot lebih pada janji setia pada kekasih ketimbang hormat bhakti terhadap Bundanya, maka dikutuklah menjadi pertapa yang tepekur membatu, dan karenanya diberi julukan ‘Joko Budheg’, begitu pula bukit tempatnya bertapa dinamai “Gunung Budheg’.
Memori historis kolektif menghilang, dan berganti dengan ingatan legendis.
Kemah Budaya “Festival Gunung Budheg I’ oleh karenanya tepat dijadikan.wahana edukasi budaya bagi publik untuk memahamkan kembali bahwa Gunung Budheg adalah saksi sejaman, manakala Bhumi Ngowo konon tampil berwibawa sebagai sentra budaya
sekaligus sentra pendidikan ~~ yang walau berada terpencil di tepian rawa purba pada lereng utara Pegunungan Kendeng Selatan.

Semoga ikhtiar pencerahan dan pemedulian budaya bagi publik ini, yang alhamdulillah disambuti serta diminati khalayak, tak sekedar seperti pepatah ‘sekali berarti setelah itu mati’, sebaliknya berkelanjutan dan kian membiak ke berbagai daerah.
Salam budaya ‘Ngrowojayati’.
Nuwun.

Bhumi Perkemahan Gunung Budheg, 25 Februari 2017.
PATEMBAYAN CITRALEKHA.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*