DRAINASE ARKHAIS

ASET POTENSIAL ARKEO-HIDROLOGIS KOTA MALANG :
UNGKAPAN DATA SEJARAH MASA KOLONIAL TENTANG INSTALASI PENGENDALI AIR DI BAWAH TANAH

A. Air, Berkah dan Bencana

02Salah satu unsur fisis-alamiah yang penting bagi mahluk hidup – tak terkecuali bagi manusia – adalah air. Terhadap manusia, air memberi banyak berkah. Namun sebaliknya, tidak jarang air menumpahkan ‘air bah’ yang menjelma menjadi bencana, yang menyusahkan bahkan menghancurkan kehidupan manusia. Banjir, terlebih lagi luapan air berarus deras yang dinamai ‘banjir bandang’, adalah jenis petaka yang riil menimpai tidak sedikit areal permukiman manusia. Bagi negara-negara yang mempunyai iklim muson, dengan iklim penghujan dan iklim kemarau di dalamnya, banjir acapkali menjadi bencana tahunan di puncak musim penghujan . Ada tempat-tempat tertentu bahkan menjadi ‘langganan banjir’ tahunan, yang bisa jadi dalam kurun waktu amat lama tak kuasa dientaskan dirinya kebencanaan ini. Sebutan ‘kampung banjir’ atau ‘daerah/kota banjir’ maupun toponimi seperti ‘Ngancar, Balong atau Balongan, Ngembak atau Ngembakan, Ledok, dsb’ memberi pencitraan geografis yang demikian.

Konon banjir cenderung menimpa areal yang berada di lembah-lembah sungai, pada dataran rendah, di areal yang topografinya tak rata – dimana terdapat ‘areal tanah mengantong’. Toponimi desa/kampung ‘Gasek’ atau ‘Gesik’ – misalnya ‘Gesikan’ – menyiratkan informasi fisiografis mengenai bentang tanah yang permukaanya relatif tinggi, sehingga terbebas dari genangan air yang melanda areal di sekitar yang berdataran rendah. Uniknya, berita-berita aktual pada beberapa dasawarsa terakhir justru mengabarkan tentang bencana banjir, yang justru melanda daerah-daerah yang masuk dalam kategori ‘dataran tinggi’. Baik banjir yang terjadi akibat luapan air di aliran sungai (DAS), jebolnya tanggul sungai; curah hujan kelewat tinggi ditambah sumbatan-sumbatan pada saluran air, permukiman padat yang tidak diimbangi dengan rasio drainase memadai menjadi musabab bagi terjadi banjir di areal perkotaan pada dataran tinggi, seperti antara lain terjadi di Kota Bandung beberapa waktu lalu. Daerah yang semula tak pernah kebanjiran, lantaran musabab tersebut, tertimpa bencana banjir. Demikian pula, pada beberapa bulan lalu, sejumlah tempat di Kota Malang tergenang banjir temporal yang cukup dalam akibat hujan amat deras dan lama.

Kata kunci untuk dapat melepaskan diri dari kebencanaan itu adalah dengan ‘pengendalian air’ atau ‘manajeman air’. Untuk itulah, semenjak amat lama manusia dengan piranti budayanya menciptakan instalasi-instalasi hidrologis . Situs-situs perkotaan kono, seperti kota-kota peradaban tertua pada DAS Indus (Mohenjodaro, Harpappa, Chanhudaro, dsb) misalnya, melengkapi areal perkotaannya dengan instalasi hidrologis yang berupa jaringan saluran air, water reservoar, kanal, atau bentuk instalasi air lainnya. Pusat-pusat peradaban kuno lainnya, utamanya pada ‘masyarakat keairan (hydrolic society)’ yang bermukim di daerah aliran sungai, juga melengkapi dirinya dengan instalasi pengendalian air. Upaya demikian berlanjut lintas masa, dan kian menguat pada masa kini serta mendatang.

B. Jejak Saluran Iar Bawah Tanah Arkhais di Kota Malang

  1. Jejak Arung pada Masa Hindu-Buddha

03

Tidak benar bila dikatakan bahwa daerah Malang baru mengenal dan menerapkan teknologi hidrologi bagi kepentingan drainase sejak Masa Kolonial. Jauh sebelum itu, pada Masa Hindu-Buddha, utamanya Masa Singhasari dan Majapahit, telah dikembangkan instalasi air di bawah tanah yang disebut dengan ‘arung’. Tukang ahli gali terowongan pada lapisan tanah padas, yang dinamai ‘unda[ha]gi pangarung’, tentu telah kedapatan di kawasan Malangraya setidaknya abad ke-13 Masehi. Arung bagi kepentingan drainase meninggalkan jejaknya pada DAS Brantas, Kali Metro, Kali Klampok, Kali Mewek, Kali Bango, dsb. Mulut arung pada tebing-tebing sungai masih bisa disaksikan di beberapa tempat hingga sekarang. Misalnya, mulut arung di sebelah utara situs Karuman pada sub-DAS Hulu Brantas, empat mulut arung pada sisi utara Brantas antara Jembatan Soekarno-Hatta hingga Samaan, mulut arung pada tebing sisi selatan Brantas di Celaket, arung yang membentang dari ‘Gang Urung-Urung’ di Ketawang Gede ke arah utara hingga tebing selatan Brantas di sekitar DITAS (Dinoyo Town Square), arung dan mulut arung pada tebing sisi selatan Kali Mewek di Polowijen, mulut arung pada tebing di sisi timur DAS Kali Lanang dekat jembatan panjang Desa Pandan Rejo Kota Batu dan banyak lagi adalah pembukti tentang itu.

Pendek kata, sejak Masa Hindu-Buddha, areal Malangraya yang permukaan tanahnya bergelombang (tidak rata) – dimana pada tempat-tempat tertentu terdapat cekungan tanah yang tergenangi air ketika musim penghujan – dilengkapi dengan instalasi drainase yang berupa arung, sehingga cukup alasan untuk menyatakan bahwa warga Malang pada masa itu adalah ‘ancient hydrolic society (masyarakat keairan kuno)’. Pemahaman akan karakter ekologisnya yang bertopografi tidak rata dan kesadaran adaptif yang ‘peka-lingkungan’ mendorongnya untuk mendayagunakan ketrampilan budaya airnya untuk membuat instalasi air bawah tanah (arung), sehingga meluasnya genangan air hujan dipercepat mematusannya dengan mengalirkan ke sungai terdekat melalui saluran air bawah tanah. Di dalam perut bumi Malang ibarat terdapat ‘jalan-jalan tikus buah peradaban’ untuk kepentingan pengendalian air. Demikianlah tergambar suatu kecanggihan budaya air pada jamannya.

Ditilik dari keberadaan pada permukaan tanah, terdapat tiga macam saluran air, yaitu: (a) saluran air pada pemukaan tanah, yang dinamai ‘weluran, galengan, selokan’; (2) saluran air di bawah permukaan tanah, yang disebut “arung, urung-urung, gorong-gorong’; dan (3) diatas permukaan tanah, diistilahi dengan ‘talang, torong’. Unsur nama ‘talang, torong ataupun urung’ acap kedapatan sebagai nama desa ataupun dusun/dukuh/kampung. Demikianlah, saluran air bawah tanah hanyalah sebuah dari ragam jenis saluran air dalam tradisi teknologi hidrologis di Bhumi Jawa. Umumnya arung digalikan secara horisontal pada lapisan tanah padas beberapa meter di bawah permukaan tanah. Lapisan tanah padas terdapat di penjuru Malang Raya, padamana arung tersebut digalikan.

Tentunya bukan pekerjaan gampang untuk membuat lobang gali yang serupa dengan ‘lobang gangsir’ ini. Undagi Pangarung memiliki kepiawaian khusus demikian, yang kemudian diwariskan kepada ‘para penggangsir’ pada masa berikutnya. Sebutan ‘Maling Curing’ atau ‘Maling Angguno’, yang memuat jalan rahasia untuk menjangkau suatu tempat sasaran pencurian dengan membuat lobang gali panjang di bawah tanah memberi gambaran tentang itu. Bahkan, hingga empat atau lima dasawarsa lalu mencuri dengan jalan ‘nggangsir’ seperti itu masih kedapatan di Jawa. Pada masa Jawa Kuna, instalasi air berada di bawah pengawasan petugas bernama ‘hulair’ atau ‘hulu air’, yang pada masa lebih kemudian dinamai ‘mantri ulu-ulu’. Untuk kepentingan inspeksi saluran air di malam hari, mulut arung di DAS Kali Lanang bahkan dilengkapi dengan lobang untuk menancapkan pangkal batang obor.

  1. Saluran Air Bawah Tanah pada Masa Kolonial

Sebagai bangsa dan negara yang piawai dalam mengelola air, Belanda membangun instalasi pengendali air baik di negaranya atau di negara-negara jajahannya, termasuk di Hindia-Belanda. Kota Malang sebagai daerah yang dikembangkan dengan sistematis, yakni terencana serta diterapkan secara bertahap dan berkelanjutan, dilengkapi dengan instalasi hidrologis, yang antara lain berupa saluran air bagi drainase berukuran besar, berkonstruski kokoh, berjejaring satu sama lain dan bermuara ke sungai-sungai curam terdekat, serta dlengkapi dengan bak kontrol di sejumlah tempat. Dinas Pengairan kala itu membentuk petugas khusus untuk mengelola saluran air dan sungai, yang dalam lidah Jawa dinamai ‘mantri kali’. Sejalan itu, pada tingkat desa dbentuk perangkat desa ‘jogo tirto’ atau ‘kuwuwu (kuwu)’. Tergambar bahwa perihal manajemen air mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda.

Malang sebagai daerah di dataran tinggi yang permukaan tanahnya tidak rata dan diiris-iris oleh sungai besar, sedang dan kecil yang curam membutuhkan saluran air, baik yang digalikan di permukaan atau di bawah permukaan tanah. Kawasan-kawasan terbangun di Kota Malang yang oleh planolog Thomas Karsten direncanakan dalam delapan tahap pengembangan (bouwplan) dilengkapi dengan instalasi drainase yang demikian. Oleh karena kokoh konstrusinya, saluran-saluran air bawah tanah yang kini telah berusia tiga perempat abad atau lebih masih didapati di sejumlah tempat di bawah tanah, baik dalam kondisi utuhan, fragmentaris, terurug sebagian atau seluruhnya, terpotong salurannya oleh bangunan baru, dan sebagainya. Sejumlah orang yang pernah hidup pada Masa Kolonial dan Awal Kemerdekaan RI atau keturunannya yang kini berusia setengah baya ke atas masih memiliki memori tentang keberadaannya, yang konon pernah dilihatnya atau bahkan pernah memasuki lorongnya.

04Kabar tentang saluran air bawah tanah di sisi barat Ijen Boulevard, yang bercabang ke timur di sisi utara Jl. Semeru menuju DAS Brantas di sekitar jembatan heritage Jalan Ahmad Yani banyak di tutur orang. Hal ini bukan sekedar kabar burung, karena bak control di selatan Museum Brawijaya masih didapati hingga kini, dan mulut saluran pada tebing Kali Bareng juga masih bisa disaksikan sampai sekarang. Demikian pula, bak kontrol dengan lebar sekitar 2 meter dan dengan kedalaman sekitar 5 m berkonstruksi beton yang sayang telah terurug sebagian masih didapati di muka SMK YPK Jl. Semeru, yang menurut informasi konon memiliki saluran air ke arah barat dan timur. Terbetik pula berita tentang saluran air bawah tanah berukuran besar dari Betek menuju ke Jl. Bandung, bak kontrol besar yang konon berada di depan-timur MOG dengan arah aliran menuju ke selatan. Ada pula pernyataan bahwa permukaan jalan di Jl. Bondowoso yang beberapa waktu lalu ambles merupakan bekas saluran air bawah tanah kuno yang mengarah ke timur menuju cekungan tanah yang konon dinamai ‘Taman Indrokilo’ di belakang Musuem Brawijaya sekarang. Terdapat informasi-informasi lain yang serupa pada tempat lain dalam wilayah Kota Malang, yang kebenarannya perlu disigi.

Boleh jadi, sebagian saluran drainase dari Masa Kolonial itu merupakan buah revitalisasi terhadap arung dari Masa Hindu-Buddha. Pada sisi lain, tukang ahli yang mewarisi teknik gali lobang pada lapisan tanah padas di bawah tanah dari undagi pangarung masa terdahulu menjadi pelaku penting dalam proses pembuatan drainase bawah tanah pada abad XX Masehi. Dalam hal demikian, terdapat proses transformasi teknologi hidrologis lintas masa di Malang, yang dapat dijadikan bahan pembelajaran berharga mengenai manfaat studi budaya masa lampau bagi kepentingan masa kini dan mendatang.

C. Revitalisasi dan Refungsionalisasi Instalasi Drainase Arkhalis

Jejak instalasi air bawah tanah yang masih tertinggal maupun informasi-informasi lisan tersebut adalah data artefaktual, oral dan ekofaktual berharga untuk membuktikan dan memetakan jaringan drainase bawah tanah yang pernah terdapat di penjuru wilayah Kota Malang dari Masa Hindu-Buddha dan Masa Kolonial. Sebenarnya, upaya ke arah itu pernah menjadi isu santer dan dicoba perintisannya ketika masa pemerintahan Wali Kota Peni Soeparto, namun tidak jelas bagaimana jluntrung dan hasil penelusurannya, dan kemudian hilang dari pembicaraan publik.

Sejauh ini terdapat berita dan identifikasi yang ‘mengacaukan’ antara bunker dan saluran drainase besar dari masa akhir pemerintahan Hindia-Belanda (paro pertama abad XX), lantaran keduanya sama-sama berada di bawah permukaan tanah dan dibuat dengan ukuran besar serta dengan konstruksi arsitektur yang kokoh. Padahal, keduanya adalah dua instalasi yang berlainan, baik dalam detail bentuk, fungsi (peruntukan) maupun dasar pertimbangan peletakannya. Terkait itu, dibutuhkan riset yang seksama dan akurat, sehingga instalasi mana yang merupakan drainase dan manakah yang berupa bunker dapat diidentifikasi dengan lebih tepat. Dalam hal demikian, upaya rintisan tersebut dapat membuahkan hasil ke arah itu.

Terlepas dari kurang optimalnya upaya rintisan tersebut, namun dipandang perlu untuk ditindak lanjuti sekarang dengan lebih serius, yang melibatkan lintas ahli seperti arkeolog, sejarawan, hidrolog, arsitek, planolog, geolog, kartogtaf, dsb. yang SDM-nya terdapat di Malang. Apabila seluruh jaringan instalasi drainase itu belum mampu diidentikasi, dipetakan, kemudian direvitalisasi dan direfungsionalisasikan, minimal pada ruas tertentu riil ditangani, sebagai ‘modal awal’ untuk merunutnya lebih jauh. Ada dua hasil yang bisa diperoleh dari upaya demikian, yaitu: (a) Benda Cagar Budaya (BCB) dari Masa Kolonial berhasil dilestarikan, dan (b) fungsi praksisasnya sebagai instalasi drainase lama dapat dikembalikan. Biaya bagi upaya itu bisa jadi lebih murah daripada harus membuat instalasi drainase baru sebesar dan sekokoh itu pada masa sekarang, yang proses penggalian dan pembuatannya tentu menimbulkan banyak dampak sampingan.

D. Pengharapan akan Realisasi

Semoga tulisan ringkas ini menjadi picu, setidaknya dapat mengingatkan kembali urgensi upaya untuk mengidentifikasikan, memetakan jaringan, merevitalisasikan, dan selanjutnya merefungsionalisasikan instalasi drainase arkhais di Kota Malang untuk kepentingan masa kini maupun mendatang. Pemerintah Kota Malang sebagai pengampu kebijakan, semoga tergerak hati untuk menindaklanjuti upaya rintisan dari periode pemerintahan terdahulu dengan upaya yang lebih seksama, sungguh-sungguh dan diniati untuk melestarikan BCB dan mengembalikan fungsi praksisnya sebagai instalasi drainase yang vital. Alangkah elok dan berfaedahnya ‘ekspedisi bunker’ di Kota Malang yang dimotori oleh Radar Malang bakal berjilid lanjut menjadi ‘ekspedisi instalasi drainase arkhais”.

Apabila tulisan ini dinilai sebagai tak berguna untuk merevitalisasi dan merefungsionalisasikan instalasi drainase arkhais atau terlalu mengada-ada, minimal dapat djadikan bahan bacaan untuk pembelajaran aset budaya maju pada jamannya yang pernah terdapat dalam sejarah peradaban di Kota Malang.

Mugi migunani.

Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA,
Sengkaling 8 Maret 2017

 

Total
59
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*