PRASAWYA TIRTHA PAWITRA

PRATIPA (PRASAWYA TIRTHA PAWITRA) :
TIRTHAYATRA MENGITARI ARDI SUCI PENANGUNGAN

Oleh: Patembayan Citralekha dan Ecoton

A. Prosesi Melingkar Ber-Tirthayatra

Bergerak sendirian atau bersama melingkari sesuatu yang diyakini sebagai penting dan bahkan suci merupakan pola ritus yang dijumpai pada banyak religi. Prosesi melingkar (circle procetion) dengan demikian menjadi ‘pola ritus’ yang nyaris universal. Dalam ukuran amat besar, sesuatu yang menjadi titik sentrum (axis) dari prosesi melingkar itu bisa berupa gunung suci (holy mountain). Prosesi yang dilakukan data berupa bergerak melingkarinya searah dengan jarum jam (pradhaksina) atau sebaliknya berlawanan dengan arah jarum jam (prasawya).

Dalam prosesi tersebut diziarahi tempat-tempat yang penting atau bahkan suci, semisal sumber-sumber air (tuk) suci beserta kolam buatan yang sudah barang tentu juga disakralkan yang berupa patirthan. Untuk konteks demikian, perjalanan suci (yatra) ke beberapa sumber/kolam air suci (tirtha) dapat dinamai ‘tirthayatra’. Dalam sumber tekstual Jawa Kuna, tirthayatra secara eksplisit diberitakan dalam sebongkah batu prasasti (linggoprasasti) Ranu Gumbolo, yang mengkabarkan tentang perjalan suci Pu Kameswara ke suatu ranu (telaga vulkanik) pada lereng gunung suci Semeru (Mahameru), yakni Ranu Gumbolo, yang airnya disakralkan kala itu.

Sebagaimana halnya dengan Gunung Semeru, Gunung Penanggungan – nama arkhais (kuno)nya “Ardi Pawitra’, sebagaimana pertama kali disebut dalam Prasasti Cunggrang (929 Masehi) – dalam kurun waktu amat panjang (sejak Jaman Prasejarah hingga Masa Hindu-Buddha, bahkan hingga kini) diyakini pula sebagai ‘gunung suci’. Oleh karena itu, dapat difahami bila sekitar puncak, lereng hingga lembah sekitarnya didapati ratusan ragam bentuk tinggalan budaya sakral, seperti candi, punden berundak, patirthan, patapan (goa pertapaan) maupun eks kadatwan (kedaton). Adalah W.F. Sutterheim yang berdasarkan keserupaan bentuk topografis antara Gunung Penanggungan dan Gunung Meru (Himalaya), yakni sebuah puncak utama dikitari oleh empat buah puncak bukit di penjuru mata angin yang berada di bawahnya, dengan cermat berteori bahwasanya Penanggungan (Pawitra) adalah replika dari Meru, dan dengan demikian adalah sebuah ‘gunung suci’.

Gunung Penanggungan yang letaknya lebih dekat dengan kadatwan Majapahit seolah merupakan ‘gunung sucinya Kerajaan Majapahit,’ sementara Gunung Semeru yang lokasinya lebih dekat dengan kadatwan Singhasari seakan sebagai ‘gunung sucinya Kerajaan Singhasari’. Gunung Mahameru, Pawitra dan gunung-gunung lain di wilayah luas Jawa Timur seperti Katong (nama arkhais dari ‘Gunung Lawu’), Wilis, Kampud (nama arkhais dari ‘Gunung Kelud’), Kawi, Arjuna (kini ‘Gunung Arjuno’), Kumukus (nama arkhais dari ‘Gunung Welirang’), Hyang (nama arkhais dari ‘Gunung Argoporo’) dan sebagainya adalah gunung-gunung suci dalam keyakinan lama yang banyak diberitakan dalam susastra kuno Tantu Panggelaran yang disurat pada masa akhir Majapahit.

Tempat-tempat padamana sumber air (tuk) berada kebanyakan berada di lereng atau lembah gunung atau bukit (rabut). Hutan yang lebat tumbuh di lereng hingga lembah gunung/bukit (wana-giri) adalah ‘asal penyebab keberadaan’ sumber-sumber air, yang sekaligus menjadi pangkal dari sungai-sungai yang menjalar panjang di dataran rendah yang luas (ngare). Lantaran muasalnya dari gunung yang suci, maka sumber air dan sungai-sungai yang merupakan ‘kepanjangan’-nya itupun disakralkan. Air yang berada di dalamnya bukan dipandang sebagai ‘air biasa (profane)’ melainkan ‘air suci (holy water)’, yang diberinya sebutan khusus dengan ‘tirtha’. Demikianlah, sejumlah patirthan yang berada di lereng dan lembah dari gunung suci Pawitra (Penanggungan) konon dan kini masih dikonsepsikan sebagai ‘tirtha’, begitu pula kolam buatan yang mewadahinya dinamai dengan ‘partirhan’, yang dalam konteks ini adalah ‘patirthan ri Pawitra’.

Perjalan suci (yatra) dengan mengitari gunung suci Pawitra untuk menziarahi sejumlah patirthan yang berada di lereng maupun lembahnya oleh karenanya bisa diistilahi dengan ‘tirthayatra ri Pawitra’. Jika prosesi ber-tirthayatra terhadapnya itu diselenggarakan dengan perjalanan panjang melingkari dengan arah berlawanan arah jarum jam (prasawya), maka tepat bila disebut sebagai ‘Prasawya Tirtha Pawitra (diakronimi dengan ‘Pra-Ti-Pa’)’. Perjalanan demikian konon pernah laksanakan oleh Maharaja Hayam Wuruk dan rombongan, yakni dengan menziarahi Candi Jajawa atau Jawa-Jawa (kini ‘Candi Jawi’) lantas dteruskan ke karsyan Pawitra yang lokasinya dekat partirhan Belahan (Sumber Tetek) — sebagaimana diberitakan dalam Kakawin Nagarakretagama. PRATIPA itulah hendak yang dijadikan sebagai tajuk bagi perhelatan budaya yang bakal dihelat dalam rangka ‘kontemplasi Hari Air’ pada sekitar tanggal 20 Maret 2017 mendatang.

B. Prasawya Tirtha Pawitra (PRATIPA)

PRATIPA yang bakal dihelat bukan diposisikan sebagai ‘ritus’, namun lebih merupakan ‘heritage trail (perjalanan pusaka)’, yakni kegiatan budaya untuk mengunjungi jejak-jejak budaya kelampauan yang berupa sejumlah patirthan di lereng dan lembah Gunung Penanggungan (Pawitra). Diancangkan untuk dikunjung empat buah patirthan utama, yaitu:

(1) parit keliling Candi Jawi dan eks parirthan di sebelah selatan-baratnya,

(2) partirhan Belahan dan situs karsyan Pawitra di dekatnya serta Prasasti Cunggaran (929 Masehi) yang terkait dengannya,

(3) situs Jedong beserta reruntuhan patirthan di depan gapura padhuraksa serta muasal air daripadanya serta Candi Ksetra, dan

(4) patirthan Jolotundo.

02

03

04

cunggrang

Heritage trail yang dilaksanakan sehari (one day trip) ini diinisiasi oleh PATEMBAYAN CITRALEKHA dan ECOTON, dan besar pengharapan bakal diikutsertai oleh lintas komunitas peduli budaya di daerah Malang, Sidoarjo, Surabaya maupun daerah-daerah di sekitarnya seperti Pasuruan, Mojokerto, dsb. Sengaja dipilih waktu hari Minggu, tanggal 20 Maret 2017, karena bertepatan dangan jelang (H-3) dari “Hari Air’ yang pada tahun ini (2017) jatuh pada hari Rabu, tanggal 23 Maret 2017. Kegiatan telusur jejak peradaban keairan masa silam ini karenanya merupakan ‘aktifitas budaya kotemplatif dalam rangka Hari Air’.

Pencermatan bukan hanya sekedar dilakukan terhadap tinggalan-tinggalan kuno tersebut, namun lebih dari itu diharapkan dapat membuka kesadaran kita sebagai manusia masa kini bahwa semenjak satu milineum yang lalu para leluhur telah beradaptasi secara bijak terhadap lingkungan sekitarnya, termasuk dalam hal pendayagunaan secara arif sumber-sumber daya air (water resourches management) untuk beragam keperluan hidupnya, baik keperluan religis, agraris maupun domistikasi air bagi kebutuhan rumah tangga. Yang menarik, di situs-situs itu dan pada kehidupan masyarakat di sekitarnya, sumber-sumber air beserta patirthan-nya itu hingga kini masih dan tetap digunakan sebagai pemasok kebutuhan air bersih dan irigasi.

Tergambarlah bahwa buah karyabudaya leluhur tersebut kontributif dalam lintas masa. Kearifan ekologis lokal-arkhais yang terkandung di dalamnya itulah yang diharap dapat ‘mengarifi’ kita dalam mendayagunakan air di masa sekarang dan mendatang. Atas dasar pertimbangan demikian, maka PRATIPA bukan sekedar plesiran biasa, melainkan dikemas sebagai ‘eko-wisata (eco-tourism)’ dan ‘edu-wisata (edu-tourism)’ yang bakal dibingkai ke dalam ‘wisata-budaya (cultural-tourism)’ khususnya ‘wisata-arkeologis (archaeological-tourism)’ menjadi semacam ‘wisata minat khusus (special interest-tourism)’ bagi khalayak yang meminatinya.

C. Undangan Terbuka bagi Publik

Tulisan ringkas dan bersahaja ini anggap saja sebagai ‘narasi awal’ dan sekaligus ‘undangan terbuka’ kepada khayak peduli, pecinta dan peminat eko-kultura untuk menyertai kegiatan budaya yang bertajuk ‘PRATIPA (Prasawya Tirtha Pawitra)’. Ketentuan teknis penyelenggaraan akan disampaikan lebih lanjut. Yang terang bahwa kegiatan ini ditawarkan bukan ‘perkerjaan dari EO Wisata’, namun lebih merupakan kegiatan bersama ‘dari kita untuk kita’. Perihal transportasi, konsumsi maupun thethek bengek biaya kecil lainnya marilah kita sangga bersama untuk para peserta itu sendiri. Sumbang saran dipersilahkan untuk kelancaran dan kebermaknaan kegiatan ini. Masih cukup waktu (sekitar sebulan ke depan) untuk mempersiapkannya dengan baik. Ke depan, kegiatan serupa bisa juga dicobaterapkan pada daerah lain, sebagaimana telah dicobaterapkan oleh Patembayan Citralekha dalam Hari Air tahun 2016 lalu bertajuk ‘Tirthayatra Sakaridaning Arjuna’.

Terimakasih atas partisipasi dan kontribusinya. Lebih bersyukur lagi apabila ada yang bersedia menjadi voluntir dan fasilitator. Terbuka pula kemungkinan bagi para pelaku seni untuk perform singkat di situs-situs terkujnungi dengan tema sajian yang relavan, yakni ‘tirtha dalam seni-budaya’ di dalam kemasan ‘heritage performing art’. Semoga bakal membuahkan makna untuk bijak-budaya, bijak-lingkungan, dan lebih khusus lagi bagi siapa pun yang arif terhadap air.
Salam budaya ‘Nusantarajayati’.

Nuwun.

Dwi Cahyono, Kantin FIS UM, 17 Februari 2017

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*