0
11 shares

Selasa, 28 Maret 2017, saudara-saudara kita Umat Hindu merayakakan ‘Hari Raya Nyepi’, yang merupakan ritus tahunan jelang memasuki Tahun Baru Saka, dengan melakukan ‘catur bratha penyepian (amati geni, amati lelungan, amati lelungan, amati karya)’.

Kata ‘nyepi’ yang berkata dasar (lingga) ‘sepi’ dan imbuhan menjadi sejumah varian kata-kata jadian yang bermakna melukiskan tentang adanya konsepsi tertentu dibaliknya. Suatu ‘konsepsi orisinal luhur’ yang berakar pada sosio-budaya khalayak pengkonsepsinya.

nyepi
Hari Raya Nyepi umat Hindu yang tahun ini jatuh pada tanggal 28 Maret

Konsepsi yang demikian sesungguhnya bukan hanya dihayati oleh para penganut agama Hindu, melainkan dihayati dan dilaksanakan pula oleh umat agama-agama lain sesuai dengan pemahaman dan keyakinannya. Tulisan ini hendak membicarakan tentang ‘konsep sepi’ yang ada atau yang konon pernah ada di kalangan masyarakat Nusantara walaupun hanya dengan beberapa contoh terapan. Semoga dapat memberi kefaedahan.

 

A. Ramai-Sepi sebagai ‘Binnary Oposition’ dalam Kategorisasi

Salah satu jenis kategorisasi yang banyak digunakan adalah ‘kategori dua’, dimana antara satu kategori dengan kategori lainnya memiliki sifat berlawanan (beroposisi) namun demikian saling melengkapi. Oleh karena berlawanan di satu sisi dan saling melengkapi pada sisi lain, maka kategori atas dua tersebut acapkali disebut ‘oposisi biner (binnary oposition)’.

Kategori dua misalnya adalah pria-wanita, siang-malam, atas-bawah, tua-muda dan masih banyak lagi – termasuk didalamnya adalah kategori dua sebagai ‘ramai-sepi’. Sebagai kategorisasi, ada indikator kuat yang dijadikan dasar dalam pengelompokan. Pada contoh kategorisasi di atas, indikator seks/jenis kelamin (pria-wanita), paro waktu dalam sehari (siang-malam), posisi (atas-bawah), usia (tua-muda) adalah indikator-ndikator kuat yang mendasari pengkategorisasi-annya.

Dalam kategori dua ‘ramai-sepi’ yang dijadikan indikator adalah suasana yang terjadi lantaran keterlibatan berbagai orang/pihak, aktifitas yang dilaksanakan, keberadaan dalam suatu kondisi ataupun pada suatu bagian waktu. Adanya banyak pihak yang turut-serta terlibat menjadikan suasana menjadi ramai. Banyak melakukan aktifitas, utamanya aktifitas yang menimbulkan keriuhan, menjadi musabab suasana ramai.

sholat tahajud tengah malam

Keberadaan pada tempat-tempat kerumunan dan di suatu bagian waktu padamana banyak orang tengah terjaga dan memungkinkan untuk menyelenggarakan beragam kegiatan merupakan faktor penyebab terjadinya suasana ramai.

Kebalikan daripada itu, mengkondisikan terjadinya ‘suasana sepi’. Mudahnya, suasana sepi bisa peroleh atau dilakukan dengan meninggalkan ‘dunia ramai’, atau setidaknya meminimalkan faktor penyebab keramaian, termasuk meniadakan keberfungsian panca indra (indra penglihat, pendengar, pembau, peraba, perasa) dan sebaliknya menguatkan berfung-sinya indra keenam, yakni indra atma, batin atau hati-nurani.

Walaupun ramai dan sepi merupakan dua hal yang berlainan, bahkan berlawanan, namun keduanya saling melengkapi. Orang tak memulu membutuhkan suasana ramai, namun ada kalanya memerlukan suasana sepi. Keramaian yang berlangsung terus-menerus kadang bisa menimbulkan kejenuhan bahkan kemuakan. Demikian pula sebaliknya, berada pada suasana sepi yang berkepanjangan dapat menjadikan orang dihinggapi oleh perasaan (psikis) ‘kesepian, kesendirian, atau kehampaan’. Ramai ataupun sepi nyata-nyata dibutuhkan dalam berkehidupan manusia, sehingga dapat difahami bila ‘konsep sepi ‘dipandang sebagai konsep yang penting oleh khalayak.

Ada waktunya, ada maksud dan tujuan, ada kondisi psikologis, atau terdapat pula pertimbangan tertentu dimana seseorang membutuhkan keramaian atau sebaliknya menginginkan suasana sepi. Supaya hati nurani leluasa ‘bersuara’, agar kejernihan fikir atau kesucian/kebersihan jiwa tercipta, demi indipedensi diri, untuk maksud kontemplasi (permenungan, nung), maupun guna menjalankan sesuatu secara lebih inten (sungguh-sungguh), suasana sepi dipandang tepat untuk itu. Oleh karenanya tindakkan menyepi, tempat menyepikan diri (pasepan, penapen), suasana tenang-sepi (nang, kasepen), malahan kondisi kosong-hening (gung, ning, sunya, suwung) acapkali dibutuhan sebagai prakondisi untuk maksud dan tujuan khusus itu.

Senthong/ kamar pada rumah Jawa

 

Memang, tidak dalam keseharian dan bukan terus-menerus dijalankan, melainkan ada saatnya yang demikan itu diperlukan. Titik mula atau jelang memasuki kurun waktu panjang pada episode berikutnya acapkali diawali dengan penyepian untuk kepentingan pembersihan atau pensucian. Seperti manakala hendak memasuki tahun berikutnya (baca ‘tahun baru’). Menyepi juga dipadang perlu untuk dilaksanakan manakala mau menjalani tahap hidup selanjutnya, tatkala akan melakukan sesuatu yang terbilang monumental, dsb. Pendek kata, sepi merupakan pendulum (bandul imbangan) bagi ramai.

 

B. Sejumah Contoh Terapan Konsepsi ‘Sepi’

Pada dua paro waktu dalam sehari, yaitu siang dan malam, paro waktu siang acap diposisikan sebagai ‘paro waktu karamen’, dan sebaliknya paro waktu malam hari diposisikan sebagai ‘paro waktu kasepen’. Terdapat tahapan-tahapan ‘sepi’ menurut uratan waktu, yang diawili dengan sepi bocah (mulai pukul 21), sepi wong (mulai pukul 24) dan sepi kayon (mulai pukul 02). Tergambar bahwa suasana malam hari merangkak ‘kian sepi’ ke arah tengah malam dan dini pagi.

Dimulai dari sepinya keriuhan anak (bocah), sepinya aktifitas orang dewasa (wong), hingga akhirnya suasana dimana pohon-pohan tak bergerak (mati kayon) karena angin juga seolah enggan berhembus. Suasana pada titik kulminasi sepi itu dipandang sebagai ‘waktu yang tepat’ bagi manusia untuk melakukan hubungan vertikal dengan Illahi-nya dan untuk melakukan permenungan, Namun pada waktu yang sama, menjadi saat yang tepat bagi para maling untuk beroperasi dan orang bagi yang bernait jahat untuk melontarkan tenung-teluhnya menurut keyakinan lama.

Kegiatan menyepi pada saat sepi dilakukan di suatu ruang tertentu yang juga sepi. Pada rumah tinggal orang Jawa terdapat sebuah kamar (senthong) yang berada di tengah dari tiga deret kamar. Pada tempat peribadatan, ruang untuk menyepi juga didapati.

Gua pertapaan (patapan) di tempat terpencil (jauh dari dunia ramai) merupakan fasilitas khusus pada suatu dapur, karsyan, manalakadewagurwan atau panepen pada Masa Hindu-Buddha. Begitu pula, pada sejumlah masjid kuno terpat tempat khusus untuk melakukan riyadloh, yang beberapa diantaranya ditempatkan di bawah atap masjid berbentuk tumpang (meru).

Selain itu, terdapat sholat yang dilaksanakan dalam keheningan malam (sholat lail, tahajut). Demikian juga kiranya terdapat di kompleks bangunan peribadatan dari gama lain, seperti tempat untuk melakukan retreat di kalangan Kristiani. Goa ‘Maria Lordes’ misalnya, juga menggambarkan konsepsi menyepi dengan menggunakan goa sebagai tempat menyepi (panyepen). Artinya, salah satu bentuk ritus dalam beragam agama adalah dengan menerapkan ‘kosepsi menyepi’ sebagai wanaha bagi ritualnya.

retreat
Kegiatan ritret atau retreat kaum kristiani umum dilaksanakan di tempat-tempat tertentu yang jauh dari keramaian

Dalam kehidup kekinian, sesaat bersepi juga acap didapati. Dalam prosesi upacara misalnya, ada apa yang dikenal dengan sebuatan ‘mengheningkan cipta’ bagi para arwah Pahlawan. Demikian juga, pada tengah malam jelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI terdapat tradisi yang dinamai ‘renungan suci’.

Di kalangan warga Jawa Tradisional, berjalan tengah malam dalam keheningan pada Malem Suro adalah bentuk lain tradisi menyepi yang dimaksudkan untuk kontemplasi. Jika dalam ritus Hari Raya Nyepi ada salah satu brata yang dinamai ‘amati geni’, di dalam tradisi puasa/tirakat Jawa pun terdapat apa yang dinamai ‘poso pati geni’. Contoh-contoh kasus ini memberi gambaran bahwa ‘kosepsi menyepi’ berlangsung lintas masa, diyakini serta diterapkan oleh beragam agama dan keyaninan. Menyepi adalah sisi lain dari sisi keramaian, satu diantara ‘dua sisi mata uang’ dalam kehidupan manusia sepanjang masa.

 

C. Refleksi ‘Makna Sepi’ dalam Kehidupan Bermasyarakat

Menyepi untuk maksud pembersihan (purifikasi), men-suci (fitri)-kan, pemurnian dari campuran-campuran yang mengotori (suker) kehidupan merupakan tradisi yang sesungguhnya bukan hanya melekat pada suatu warna etnik atau pada agama besar tertentu. Boleh dibilang bahwasanya konsepsi ini berlaku universal, dimanapun dan kapanpun. Sebagai suatu wahana dalam ‘pembersihan’, ritus penyepian tepat untuk dilakukan menjelang memasuki proses atau kurun waktu panjang di dalam setahun, seperti ketika malam ‘tahun baru’ – apapun nama tahun baru itu. Ketika melalukan perhelatan kampung, yang dinamai ‘bersih deso atau mayu deso’. Begitu pula, pada momentum peringatan terhadap Hari Kemerdekaan Negara dan Hari Jadi Daerah. Dalam bentuk personal pun tepat pula dilakukan, yakni tatkala memperingati hari kelahiran (ulang tahun, weton), dan momentum-momentum lain dalam kehidupan, utamanya ketika orang tengah mengalami kegundahan hati dan kekalutan pikir.

Meluangkan waktu sejenak untuk menyepi adalah bentuk kesedian manusia untuk tidak pelit dengan ‘menyisihkan sedikit waktu’-nya, yang saban hari didominasi oleh keramaian, agar bandul keseimbangan (pendulum) kehidupan tak cenderung berada di satu sisi belaka, yaitu di sisi keramaian, keriuhan atau hiruk-pikuk. Dalam filosofi Bhakti pun, konsepsi sepi tergambarkan di dalam sasanti ‘sepi ing pamrih, rame ing gawe (sepi dalam pamrih/tendensi, namun ramai dalam berkarya), bukan sebaliknya ‘ramai ing pramrih, sepi ing gawe’.

Gua merupakan tempat menyepi yang ideal

Semogalah makna yang tersirat pada ‘konsepsi menyepi’ yang berakar dalam tradisi sosio-budaya bhumiputra terpapar diatas mampu memberikan ‘penyadaran diri’ dan membuahkan kemanfaatan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbudaya. Mohon maaf bila ada kesilafan dalam tulisan bersahaja ini. Salam budaya ‘Nusantarajayati’. Nuwun.

 

PATEMBAYAN CITRALEKHA, Sengkaling 28 Maret 2017

 

Copy paste dari sedulur Bondan
Refleksi sepi dalam “Serat wedhatama” 2:3

sabên mendra saking wisma, lêlana laladan sêpi, ngingsêp sêpuhing supana, mrih pana panawèng kapti, tistis tyas mêmarsudi, mardawaning budya tulus, mêsu rèh kasudarman, nèng têpining jalanidhi, sruning brata kataman wahya dyatmika.

Terjemahan:
1. Setiap keluar dari rumah
2. Bertualang di tempat-tempat yang sepi
3. Mencari kesejatian ilmu
4. Agar lebih jelas pengangan-angan
5. mendapat petunjuk yang benar
6. kelembutan dari keiinginan yang tulus
7. untuk menuju kebaikan
8. Ditepian laut
9. Karena kerasnya usaha akhirnya mendapat anugrah yang baik


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.