NDEDER BUDOYO KAWULO MUDO

Sebulan mendatang, tepatnya Selasa 2 Mei 2017, Indonesia memperingati dan merayakan ‘Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS)”. Salah satu Hari Besar Nasional dan sekaligus agenda tahunan, yang diisi dengan beragam kegiatan bermakna.

Salah satu bidang kegiatan yang kiranya perlu pula dibermaknakan dalam kegiatan itu pada bulan mendatang adalah ‘bidang budaya (budoyo)’, dengan khalayak sasaran khusus, yakni generasi muda (kawulo mudo). Ikhtiar budaya yang demikian itu bisa ibaratkan dengan ‘penyemaian (ndeder)’ di dalam tradisi agararis, yang merupakan suatu etape awal (yang pertama dan utama) diantara serangkaian kegiatan (proses) bercocok-tanam.

Marilah, senyampang ada momentum baik dan tepat (HARDIKNAS) tersebut, bersama kita memformulasikan kegiatan bermakna dengan tema “Ndeder Budoyo Kawulo Mudo, Mencintakan Budaya Sedari Dini” lewat beragam bentuk kegiatan yang relevan.

 

A. Tradisi ‘Ndeder’ dalam Budaya Agraris

Tanaman tidak menjadi besar-kokoh-berguna dengan serta merta. Ada proses panjang (bertahap dan berkelanjutan serta terencana) yang musti dilakukan untuk menumbuhkan dan mengembangkannya.

Dalam ‘tradisi bercocok tanam (agraris, pertanian)’, ada tiga tahap utama terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman pertanian itu, yakni: (1) penanaman (tandur), (2) penyiangan (nyiang), dan (3) pemanenan (panen).

Tandur dengan demikian merupakan tahap awal di dalam proses itu. Namun, sesungguhnya, ada dua kegiatan pada tahap pendahuluan (pra-tandur) yang musti dilakukan, yaitu: (a) mengolah tanah (molah lemah), dan (b) menyemai (ndeder). Pentahapan tersebut menggambarkan bahwa agar tanaman yang dibudayakan itu tidak ‘asal hidup, atau asal tumbuh’, maka perlu ada upaya konstruktif yang perlu ditangani dengan seksama, diantaranya adalah ndeder.

Dalam model ‘pertanian tradisonal yang manual”, molah lemah merupakan aktifitas kompleks, yang melibatkan serangkaian pekerjaan dengan menggunakan beragam perangkat kerja, yang antara lain meliputi: (a) ngganco, yakni membongkar tanah yang mengeras dengan menggunakan perangkat ganco (beliung) – khususnya untuk jenis tanah keras-kerontang di musim kemarau; (b) macul (mencangkul), yakni memecah menjadi butiran yang lebih kecil gumpalan-gumpalan tanah (bongkalan lemah) yang telah diganco; (c) ngluku, yakni membajak (nga-luku) dengan menggunakan alat bajak tanah (luku, bahasa Madura ‘nenggala’) yang ditarik satu atau sepasang binatang (kerbau, sapi, atau binatang lain), agar butiran-butiran tanah kian mengecil, (d) nggaru, lebih memperkecil butiran tanah sekaligus meratakan di bentang lahan dengan menggunakan perangkat garu, baik yang ditarik binatang atau dikerjakan secara manual oleh manusia; serta (e) ngelepi (menggenangi), yani menggenangi tanah yang telah diolah pada suatu petak lahan bertanggul kelililing (tamwak, tambak) dengan air irigasi dari saluran air permukaan (weluran, galengan).

Serangkaian kegiatan bertahap itu dimaksud untuk menggemburkan (ngggemburke) dan melembekan (ngliatke) tanah, agar kelak apabila tunas ditanam (ditandur) akar-akar lemahnya dapat membiak ke arah samping (horisontal, menjalar) atau ke arah bawah (vertikal, menunjang) dengan lebih leluasa, lantaran tanahnya telah digemburkan dan diliatkan. Jika tidak, maka tunas yang ditanam tersebut bisa mati atau tidak normal pertumbuhannya – apabila mati dan karenanya perlu disulami, maka tak mudah melakukan di sela tanaman yang sedang bersemi dan pertumbuhannya menjadi tidak kompak.

Demikianlah, tanah yang menjadi modal utama bagi para petani – bayangkan bila petani ‘kehilangan tanah pertanian’, tentu cotho – musti disiapkan dengan sesempurna-sempurnanya bagi calon tanaman yang akan dibudidayakan pada lahannya. Oleh karena itu, pengetahuan tentang tanah mutlak dimiliki oleh para petani, termasuk ketrampilan untuk mengolah tanah. Pekerjaan tentu lebih simple dan hemat waktu bila dikerjakan dengan mekanisasi menggunakan traktor atau sejenisnya. Justru, pada contoh kasus pada pertanian intensifikasi itu, kita memperoleh keteladanan mengenai ‘bagaimana keruntutan, kesabaran dan keuletan yang musti dipunyai oleh petani’.

Sama pentingnya dengan itu adalah menyemai biji-bijian (padi, jagung, dsb.) pada sebagian kecil di antara petak sawah – yang dinamai ‘petak dederan’ – selama kurang lebih satu bulan lamanya. Sebenarnya, tanpa penyemaian, biji-bijan (wiji dadi) bisa saja langsung ke dalam tanah yang telah dilobangi (digejik dengan perangkat gejik/tugal). Namun, dengan menyemaikan terlebih dahulu, maka resiko biji tak tumbuh dapat dihindari dan dengan demikian telah ‘mencuri waktu (nyolong wektu)’ sebulan lebih awal bagi proses pertumbuhan dan pendewasaannya.

Keseksamaan menjadi prasyarat untuk diperoleh ‘tanduran bakalan (tanaman muda)’ yang berkualitas baik, agar ‘dengan tunas yang baik’ kelak dihasilkan ‘tanaman dewasa yang baik pula’. Ndeder dengan demikian merupakan kegiatan pra-tandur yang amat penting dan paling awal dilakukan dalam prosesi bercocok tanam, sebab kuantitas maupun kualitas hasil pertaniannya antara lain amat bergantung pada tahap ini.

 

B. Inspirasi Tradisi Bertani dalam Pembudayaan Manusia

Pengetahuan dan ketrampilan agraris sebagaimana dipaparkan diatas ‘mendarah-daging’ pada diri petani, atau membudaya secara generatif dalam diri masyarakat agraris. Oleh karena itu, pertanian tidak sekedar disikapi dan dipahami sebagai pencaharian hidup (sistem perekonomian), terlebih lagi bila direduksi secara kebablasan hanya sebagai ‘sistem produksi tanaman pangan’, namun jauh lebih luas daripada itu adalah suatu ‘sistem sosio-budaya’ bagi pemangkunya, sehingga wajarlah bila warga agraris menjadikan budaya agrarisnya sebagai ‘model berkehidupan’ yang diterapkannya ke dalam bidang-bidang kehidupan lainnya, termasuk dalam rangka menumbuh-kembangkan manusia sebagai warga masyarakat dan warga budaya yang baik menurut konsepsinya.

Anak-anak belajar sejarah sejak dini
Anak-anak belajar sejarah sejak dini

Manusia diibaratkan seperti ‘tanaman budidaya’, yang karenanya perlu dibudidayakan secara bertahap, berkelanjutan dan terencana untuk pertumbuhan dan perkembangannya agar berkualitas dan memberi kedayagunaan.

Sebagaimana halnya tanaman, tahap pertama dan utama yang perlu untuk dibudidayakan terhadap manusia adalah ‘menyemaikan (ndeder), khususnya dilakukan terhadap manusia pada usia dini (anak-anak hingga remaja). Perihal ini tepat diistilahi dengan ‘ndeder kawulo mudo (menyemai generasi muda)’ lewat ikhtiar yang tepat-guna.

Ndeder bisa diarahkan kepada beragam bidang kehidupan. Salah sebuah diantaranya, yang terbilang penting, adalah dalam bidang budaya, yang dalam konteks ini tepat dikalimati dengan ‘Ndeder Budoyo Kawulo Mudo”, yakni menyemai generasi muda pada usia dini untuk kepentingan pembudayaan.

Hal itu perlu menjadi fokus perhatian bersama, terlebih lagi dalam menghadapi ‘kesalahkaprahan, yang menempatkan pembudayaan (inkulturasi) bisa dilakukan belakangan’, setelah seseorang masuk pada usia dewasa. Justru, usia muda merupakan momentum yang tepat untuk memfondasikan budaya sebagai ‘basic personality’ dalam diri seseorang. Apabila lewat waktu itu, yang bersangkutan cenderung berada dalam kondisi ‘mbekekuk (sukar dibentuk)’.

Menyadari itu, telah semenjak lama Manusia Nusantara ditradisikan ke dalam pembudayaan dan sosialisasi semenjak usia dini, sehingga muncul sebutan ‘andeder atau ndeder (ngader, mengkader) bocah anom’. Seseorang berusia muda yang tengah menjalani proses pembelajaran tersebut, ibarat tanaman, bisa dinamai ‘dederan’. Proses ndeder demikian bisa dilakukan dalam lingkup mikro, yakni dalam lingkungan keluarga batih (nuclear family), atau lewat institusi pendidikan formal pada tingkat PAUD, TK, SD hingga SMP. Salah sebuah fokus madedar adalah dalam ‘bidang budaya’, yang sejauh ini kurang mendapat proritas, baik oleh keluarga maupun pemerintah.

Pembudayaan bagi kawula muda sejatinya adalah tanggung jawab bersama semua pihak, tak terkecuali oleh kita.

Sebagaimana halnya dengan tanaman muda yang akarnya masih lemah – sehingga membutuhkan tanah gembur dan liat bagi keleluasaan jalar atau tunjang bagi akarnya untuk bisa tumbuh, maka demikian pula dengan anak pada usia dini yang membutuhkan kemudahan tertentu untuk memahamkannya pada budaya masa lampau. Oleh karena itu, memahamkan budaya terhadap anak ‘tidaklah lebih gampang ketimbang memahamkan budaya bagi orang dewasa’. Metodik~didaktik padanya perlu disesuikan dengan tingkat berfikir anak. Demikian pula, lantaran keterbatasan menguasaan akan kosa kata, tentunya dibutuhkan ‘bahasa anak-anak’ dan ‘penjelasan bersahaja (simple), namun tetap ilmiah (scientific)’, yang karenanya tak mudah bagi yang tidak terbiasa. Hal ini merupakan tantangan bagi ‘ilmuwan akademik’, yakni memberi penjelasan secara akademis yang dapat dimengerti oleh anak-anak.

 

C. Cintakan Budaya Sedari Dini pada HARDIKNAS 2017

Jika sedulur-sedulur pemerhati-pencinta bersepakat dengan dasar pemikiran sebagaimana telah terpapar di atas, marilah kita bahu-membahu untuk memformulasikan ragam kegiatan pembudayaan terhadap generasi muda (kawulo mudo) pada momentum HARDIKNAS 2017 di bulan Mei mendatang.

Mungkin, selama ini fokus garapan lebih banyak diarahkan kepada orang dewasa, dan apabila demikian, kini tiba waktu untuk beringsut kepada generasi muda, karena mereka pun mempunyai hak yang sama untuk dibudayakan oleh orang dewasa.

Dimana, bilamana dan dalam bentuk apa aktifitas itu diselenggarakan? Silahkanlah, sesuai dengan minat dan kompetensi masing-masing penyelenggara. Entah… isi atau unsur kebudayaan beragam dan universal, sehingga siapapun tentu bisa menjalankannya.

 

Pada kesempatan itu, PATEMBAYAN CITRALEKHA berencana untuk menghelat Ajar Pusaka Budaya dalam rangka ‘HARDIKNAS 2017’, dengan menyelenggarakan kegiatan bertajuk ‘Cintakan Museum Sedari Dini’, yang secara khusus didedikasikan bagi khalayak Siswa SD, Minggu tanggal 7 Mei 2017— sepekan pasca HARDIKNAS (2 Mei 2017) — di Museum Pu Purwa Kota Malang.

museum pu purwa malang
Museum Pu Purwa Malang

Pilihan lokasi giat pada Museum Pu Purwa didasari pertimbangan bahwa perlu pengenalan terhadap aset budaya daerah sendiri, mengingat selama dua tahun terakhir (tahun 2015-2016) Museum Pu Purwa telah direvitalisasi hingga menjadi lebih layak kunjung sekaligus tepat untuk dijadikan wahana pembelajaran budaya.

Agar revitalisasi museum yang telah membuahkan hasil layak itu tidak ‘mubazir bagi publik’, khususnya bagi para siswa di Malang raya, mereka perlu diperkenalkan dan difahamkan terhadap pesan, makna, nilai maupun urgensi dari benda koleksi Museum Pu Purwa.

Gerakan ‘Cinta Museum’ perlu kiranya ditumbuhkan sedari usia dini, agar tak muncul anggapan bahwa museum sekedar ‘gudang benda-benda usang, yang tak kontributif bagi kehidupan masa kini maupun mendatang’. Walau koleksi Museum Pu Purwa tidak sangat banyak dan lintas masa, namun mempunyai keunikan, kemenarikan dan penting bagi pengungkapan kesejarahan Malang – baik Kota maupun Malang raya, utamanya untuk Masa Hindu-Buddha.

Sumonggo turut menyertai, dan syukur bila berkenan untuk menjadi ‘pebhakti’.

Demikianlah paparan persuasif yang bersahaja ini. Semoga disambuti oleh khalayak dengan turut mengisi dan memaknai HARDIKNAS 2017 dengan beragam kegiatan bentuk dan tujuan yang bermakna.
Salam budaya dengan sasanti
‘Cintai Museum, Cintakan Budaya’.
Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, FIS UM 5 April 2017

Total
55
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*