Connect with us

BUDAYA

AKAR TRADISI JARANAN (Bagian I)

Avatar

Published

on

Episode “Sejarah Seni Pertujukan”

Studi Kasus Jaranan Sentherewe Tulungagung

 

A. P e n g a n t a r

Tulungagung adalah salah sebuah daerah di wilayah budaya (culture area) sub-etnik Mataraman yang memiliki khasanah seni-budaya yang kaya dan beragam. Salah satu diantaranya adalah kesenian kuda lumping (jaran kepang), atau disebut lebih singkat dengan ‘jaranan’.

Terdapat sejumlah varian jaranan di daerah Tulungagung, antara lain Jaranan Pegon, Jaranan Sentherewe, Jaranan Jowo, Jaranan Dor dan Jaranan Butho.

Varian demikian sebenarnya tak hanya terdapat di Tulungagung, namun didapati pula di daerah-daerah lain di kawasan budaya Mataraman. Jaranan pegon dan sentherewe merupakan varian yang jumlah sanggar dan frekuensi pementasnnya di Tulungagung lebih banyak apabila dibanding dengan varian-varian lainnya. Hal ini menjadi petunjuk bahwa keduanya familer, diminati dan memiliki akar dalam sosio-budaya setempat.

Terkait itu, tulisan ini menelaah mengenai ‘Akar tra-disi Jaranan Sentherewe’, dengan contoh kasus jaranan sentherewe di Tulungagung. Untuk keperluan itu, jaranan sentherewe ditelaah dengan menggunakan ‘perspektif historis (historical perspectives)’, yakni dikaji pertumbuhan dan perkembangan dalam lintas masa, dengan harapan kesinambungan dan sebaliknya perbahannya dari masa ke masa dan persebarannya dalam ruang wilayah bisa diungkapkan guna mendapatkan gambaran mengenai sejauh mana varian jaranan ini mentradisi di dalam kehidupan sosial dan budaya di daerah Tulungangung.

Jaranan adalah tarian yang dimainkan menirukan gerak pengepungan oleh sekelompok orang prajurit berkuda. Yang mereka kepung adalah binatang buas, yaitu babi hutan (celengan), harimau (macanan atau kucingan), dan ular besar (barongan)

B. Arti Istilah dan Karakter Koreografis Jaranan Sentherewe
1. Tinjauan Umum Sebutan dan Gerak Tari Jaranan

Ada beragam istilah yang bersinonim arti dengan ‘jaranan’, antara lain ‘jaranan kepang, kuda lumping, jatilan, dan sang hyang jaran’. Dari sebutan-sebutan itu, penekanan diberikan kepada ‘jaran’ atau ‘kuda’ sebagai gerak tokoh peran yang distilasi menjadi gerak tari.

Sebenarnya, dalam peristilahan ini ada dua tokoh peran pada tarian ini, yaitu: (1) kuda/jaran, dan (2) pengendara/penunggang kuda, yang keduanya ditarikan oleh seorang penari. Tarian ini bukan merupakan tarian tunggal (solo), melainkan berupa tarian berkelompok, yang dilakukan oleh beberapa orang penari dengan gerak tari yang kompak dan seragam.

Secara toponomis, kata ‘jaran’ atau ‘ajaran’ adalah istilah yang berasal dari bahasa Jawa Kuna yang menunjuk kepada: kuda (‘binatang terlatih’). Dalam tarian ini, gerak kuda yang distilisasikan bukan gerak liar dari ‘kuda liar’, melainkan gerak terkendali dari ‘kuda terlatih’. Istilah ini menunjuk arti yang sama dengan ‘kuda’, atau secara khusus pada kata jadian ‘akuda’, dalam arti: mengendarai kuda, ada diatas punggung kuda, menunggang kuda, prajurit berkuda, kavaleri (tentara berkuda) (Zoetmulder, 1995:526).

Istilah ‘akuda’ telah disebut di dalam Kakawin Ramayana (19.67), Arjunawiwaha (23.9), Hariwangsa (23.6), Baratayuddha (1.6) dan Smaradahana (33.3). Hal ini mem-beri petunjuk bahwa pasukan berkuda telah dikenal di Jawa setidaknya sejak abad IX Masehi.

 

Hal yang perlu diperhatikan adalah sebutan di Bali, yaitu ‘sang hyang jaran’ atau hanya disebut dengan ‘sang hyang’, yang memberi putunjuk bahwa tarian ini termasuk dalam kategori ‘tarian sakral (ritual dance)’. Sifat sakral dari tarian jaranan juga terdapat di Jawa, yang masih kuat aroma mistisnya, sebagaimana terbukti oleh pembacaan mantra-mantra di awal pertunjukan, pemberian sesajian (sajen) dan pada puncak pementasan acap disertai dengan adegan trance (ndadi) oleh sebagaian pemainnya. Sebutan ‘jatilan’ secara khusus digunakan di Jawa Tengah, yang juga menunjuk kepada kuda lumping, yaitu kesenian khas Jawa Tengah berupa tarian yang penarinya menaiki lumping dengan diiringi ga-melan (KBBI, 2002:462).

Selain itu, ada tarian penunggang kuda juga menjadi komponen dalam seni pertunjukan reyog, yang ditarikan oleh para ‘gemblak’, sebagai kemasan lain dari tarian ini. Namun demikian, tidak benar jika dikatankan bahwa semua tari jaranan merupakan bagian dari pagelaran tari reyog, sebab tidak sedikit tari jaranan yang ‘tampil lepas’ dari reyog dan hadir sebagai tarian tersendiri. Oleh karena ide dasar atau sumber penciptaan dari tarian ini adalah defile ‘prajurit berkuda (kavaleri)’, maka dapat dikategorikan sebagai ‘tari keprajuritan (militery dance)’ di Nusantara.

Jika tari reyog dodog (reyog kendang) menunjuk kepada tari pemusik perang (warmusic dance), maka tarian ini lebih menunjuk pada ‘kavalery dance’, yang keduanya masuk dalam kategori ‘militery dance’. Sebagai tari keprajuritan, maka gerak tarinya bernuansa gagahan, keagresifan, kekompakkan (keserempakan), dinamis dan ritimis menirukan gerak kuda dan pengendaranya di meda laga. Nuansa gerak tariannya yang demikian juga termaktub dalam arti kata ‘jathil’ – dari sebutan ‘jathilan’, yaitu gerak reflek melonjak, sebagai tanda memperoleh kebahagian.

Menurut Th. G. Th. Pigeaud tari kuda (kuda lumping, jaran kepang) adalah suatu pertunjukan rakyat yang dalam penampilannya mengepit anyaman dari bambu yang dibentuk seperti kuda dengan gerak tari meniru gerak kuda (1991:347). Kata ‘kuda’ atau ‘jaranan’ dirangkai dengan kata ‘kepang’ dan ‘lumping’. Kata ‘kepang’ (baca ‘képang’ atau ‘kêpang’) dalam sebutan ini acap diarahkan pada arti: anyaman bambu sebagai bahan pembuatan properti dan sekaligus tokoh peran yang ditarikan, yaitu kuda/jaran. Padahal, tidak semuanya dibuat dari anyaman bambu, melainkan ada pula dari kulit yang ditatah seperti pada jaranan pégon. Oleh karena itu, perlu ditelisik kemungkinan arti lainnya.

Aspek kreatif acap dijadikan ‘brand image’ pada nama paguyuban jaranan, semisal nama ‘Seni Jaranan Dangdut Kreasi’.

Dalam bahasa Jawa Kuna dikenal kata ‘kêpang’, yang bersinonim arti dengan ‘kêpung’, yang menun-juk pada: mengepung (Zoetmuder, 1995: 491). Dalam arti ini, tarian yang dimainkan adalah gerak pengepungan oleh sekelompok orang prajurit berkuda. Yang mereka kepung adalah binatang buas, yaitu babi hutan (celengan), harimau (macanan atau kucingan), dan ular besar (barongan). Arti istilah ini mengingatkan kepada tradisi rampokan, misal pada ‘rampokan macan’, yaitu pengepungan seekor macan (harimau) oleh keselompok prajurit.

Adapun kata ‘lumping’ adalah bahasa Melayu, yang menunjuk arti pada: kulit (sapi, kerbau, dsb.) yang keras, berlulang (KBBI, 2002:688). Sebutan ‘lumping’ ini memperkuat penjelasan di atas bahwa anyaman bambu bukanlah satu-satunya bahan yang digunakan untuk membuat properti yang berbentuk jaran/kuda tersebut.

Paparan diatas memberi gambaran bahwa tari kuda lumping arau disebut juga dengan ‘jaran kepang atau jathilan’ adalah trarian tradisional Jawa, khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah (di-sebut ‘jathilan’).

Meski berasal dari Jawa, namun areal persebarannya meluas hingga ke luar teritori Jawa, yaitu pada ‘kantong-kantong komunitas Jawa perantau’ di Sumatra Utara, Lampung, Polmas (Sulsel), Kalimantan, bahkan terdapat juga secara generatif di Malaysia, Suriname, dsb.

Belum diperoleh kejelasan mengapa tari ini dinamai ‘jathilan atau jatiran’ di Jawa Tengah? Kabupaten Kendal, Semarang, Magelang, Pekalongan, Batang, Tegal, Pemalang, Wonosobo dan Temanggung merupa-kan daerah-daerah di Jawa Tengah yang kaya akan tarian jahilan – dengan ciri khas kedaerahannya masing-masing. Akhir-akhir ini nama ‘jaran/kuda kepang’ dan ‘kuda lunping’ lebih familier daripada nama awalnya ‘jathilan atau jatiran’. Bahkan kedua nama itu telah menjadi sebutan bagi tarian ini secara nsional maupun internasional. Sebutan lain bagi jenis tarian ini di wilayah Bali adalah ‘sang hyang Jaran’. Belum diperoleh kejelasan apakah tarian sang hyang jaran atau sang hyang di Bali merupakan hasil difusi dari tarian jaranan di Jawa ataukah merupakan ‘paralelisme’ seni-budaya di Nusantara.

Kendati sebutannya ‘tari jaranan’, namun sesungguhnya hadir pula dalam rangkaian pertunjukan ini tokoh-tokoh peran lainnya, yang teribat di dalam ‘ tarian perang (rampokan)’ melawan para ksatria berkuda, yaitu: (1) celengan, (2) kucingan atau macanan, dan (3) barongan – kucingan dan barongan acap disebut sebagai ‘jepaplokan’. Masing-masing tokoh peran itu menampilkan ragam gerak tari sesuai karakter tokoh peran yang ditarikannya. Ragam gerak tari jaranan pada pokoknya tarian ini menampilkan sekelompok prajurit berkuda. Kuda-kudaan (jaranan) yang digunakan sebagai properti tari sekaligus tokoh peran dibuat dari bahan kulit sapi (lumping) yang telah dikeringkan (disamak), atau dapat juga dibuat dari anyaman kulit bambu (képang) dengan diberi motif hias yang direka seperti kuda lengkap dengan rambut tiruan.

Gerak penari jaranan adalah ragam gerak tari yang menggunakan properti kuda-kudaan (jaranan) sesuai dengan varian seni jaranan yang ditarikan. Di dalam keragaman tari itu melekat kesan tari (kekuatan/kualitas tari, pola ritmis, dan rasa joged), yang dapat dipertajam dengan kemampuan penari melalui kemampuan gerak, kemampuan musikal maupun penghayatan.

Dua penari jaranan sedang beraksi

Penekanan tari jaranan diarahkan untuk menghidupkan gerak-gerik jaranan agar propreti ini tidak sekedar barang yang dibawa (dipegang) oleh penari.
Gerak tari jepaplokan umumnya dilakukan secara improfisasi, dengan maksud menghidupkan properti tari yang berupa kepala ular (barongan) atau kucingan (macanan) dengan gerak-gerak imaji-natif berpola.

Sebenarnya, motif gerak tarian jaranan bisa dimanfaatkan untuk jepaplokan, terutama pada solah kaki – termasuk dalam pengembangan ini adalah pola perang (rampokan) antara jaranan dengan jepaplokan. Oleh karena properti kucingan (macanan) dikenakan dengan cara digigit, maka ragam gerak penari untuk menghidupkan properti tari bisa dilakukan dengan gerak tangan yang lebih leluasa guna memperkaya penampilan bila dibanding dengan tarian barongan – dimana kedua tangan penari harus memegang properti tari. Yang perlu mendapat perhatian pada penampilan tari macanan (kucingan) adalah mengembangkan pola maupun motif ragam gerak tari melalui pendekatan imajintif sesuai dengan karakter propertinya (macanan/kucingan).

Ragam gerak tari bisa memanfaatkan motif jurus harimau atau jurus kucing pada seni pencak silat degan pengubahan pola ritmis maupun tempo gerak-nya sesuai dengan musikal pengiringnya. Ragam gerak itu dalam sejumlah hal berbeda dengan tarian ular naga (barongan), dimana kedua tangan penari harus memegang properti tari. Kendatipun demikian, gerak tari simbolis yang dimainkan musti memberikan kesan imajinatif gerak ular naga.

Ragam gerak ini bisa memanfaatkan motif jurus naga atau jurus ular pada seni pencak silat, namun dengan pola ritmis dan tempo yang disesuaikan dengan ritme dan tempo musikal pengiringnya. Serupa itu, ragam gerak tari celengan, yang umummya sebatas dilakukan secara improfisasi, meski ada upaya untuk mengembangkan solah celeng dengan ‘kesan wirengan’ tanpa menggunakan properti celeng. Ada alternatif yang bisa dilakukan untuk pengembangan soal celeng, yaitu dengan memperhatikan kesan tentang celeng (babi hutan) sehingga imajinasi mengenai celeng melekat pada motif gerak tari yang dipola. Ragam tarian tersebut diatas acap dibalut dengan unsur magis, trance (kesurupan atau ndadi) dan kekebalan. Bahkan di Bali – jika menilik predikat ‘sang hyang’ yang diberikan dalam konteks sebutan ‘sang hyang jaran’, menunjukkan bahwa tarian ini masuk dalam kategori tarian sakral.

Tarian jaranan dalam beragam variannya mengambaran paduan antara stilisasi gerak bagi: (1) tokoh peran manusia (penunggang kuda dan pengiring ksatria – penthul-tembem), (2) tokoh peran binatang (kuda, babi hutan/celengen, ular naga/barongan, harimau/macanan/kucingan). Tarian yang menstilisasi garak binatang adalah jenis tarian purba di Nusantara, sebagaimana tergambar pada tari hudoq di lingkungan etnik Dayak, kebo-keboan di sub-etnik Osing, dsb.

Pada tarian jaranan, tokoh peran binatang tersebut perlibat peperangan dengan tokoh peran ksatria (pasukan berkuda), yang tengah berdevile melintasi hutan yang dihuni binatang-bintang buas. Tarian keprajuritan yang ditokohi oleh prajurit berkuda itu merupakan jenis tarian yang tentunya lebih muda, yaitu ketika Nusantara mengenal sistem kemonakhian (kerajaan atau kasultanan), dinama terdapat satuan ketentaraan berkendaraan kuda (akuda).

Kendatipun aspek keluwesan dan keterbuaan terhadap pengaruh luar ada dalam diri jaranan sentherewe, namun upaya pengembangan tersebut hendaknya tetap mengindahkan pendekatan konsep yang tepat

Yang terang, satuan ketentaraan berkuda baru ada di nusantara setelah kuda didatangkan kemari oleh migran Cina – kuda bukan binatang endemik nusantara, sebagaimana terbukti pada ragam hias nekara yang ditemukan di NTT, yang menggambaran pasukan berkuda, dari Masa Perundagian di Jaman Prasejarah.

Namun demikian, bukannya berarti bahwa kesatuan tentara berkuda telah hadir pada masa itu. Boleh jadi baru dikenal pada Masa Hindu-Buddha, dengan mengambil contoh ksatria berkuda, yang merupakan pasukan andalan Bangsa Aria di India.

Adanya istilah ‘akuda’ dalam se-jumlah susastra dan prasasti (OJO 68.21) pada masa Hindu-Budda (periksa hal. 2) dan relief di Candi Borobudur dan Prambanan yang menggambarkan tentang pasukan berkuda memberi petunjuk bahwa pada abad IX Masehi dalam kakaisaran di Jawa telah dikenal adanya prajurit berkuda. Bahkan, pada pada masa pemerintahan Kadiri (abad XII-XIII M), ketika terjadi reformasi dalam tubuh kemiliteran, pasukan berkuda menjadi satuan ketentaraan tersendiri. Beberapa nama yang dikisahkan dalam Ceri-ta Panji, seperti ‘Panji Kudanarawangkasa, Panji Kudawenangpati, dsb.’ memberi pentunjuk bahwa unsur nama ‘kuda’ dari penyandang nama itu merupakan pimpinan dari satuan ketentaraan berkuda (kavaleri).

Meski belum dapat diperoleh tarikh pasti bilamana tarian jaranan muncul di Jawa, namun berdasarkan petunjuk itu, sangat boleh jadi tarian ini baru muncul pada pasca Kadiri, mengingat bahwa seting cerita (story seting) dari seni pertunjukan kuda lumping adalah kisah kesejarahan Masa Kadiri, yang dalam sejumlah hal sejalan dengan Cerita Panji.

Bagi masyarakat Jawa Timur sebelah barat atau kawasan sub-etnik Mataraman seperti daerah Blitar, Kediri, Trenggalek, Tulungagumg, Ponorogo, dan Pacitan tari jaran kepang lebih terpengaruh oleh; (a) kisah wadyabala (bala tentara) Prabu Kelana Sewandana dari Kedhiri melawan Singo Barong raja dari Kraton Bandarangin, serta (b) kisah para ra-ja wilayah adipati pembangkang yang ada di Ponorogo terhadap Prabu Kertabhumi dari masa akhir Majapahit.

 

Kisah pertama jelas berlatar Cerita Panji. Sebagai susastra tekstual, visual maupun susastra pertunjukan, Cerita Panji baru hadir pada Masa Keemasan Majapahit (medio abad XIV M.). Bisa jadi, tarian kuda lumping adalah salah satu ragam bentuk ekspresi atau transformasi dari Cerita Panji, yang secara khusus mengkisahkan tentang perjalanan pasukan berkuda (kavaleri) yang dikomandani oleh Panji, dalam hal ini Panji Kelana Sewandana – sebutan lain untuk Panji Kudanarawangsa atau Panji Kudawenengpati, yang tengah berdevile melintasi hutan.

Jika benar demikian, embrio tarian ini paling cepat hadir di Jawa Majapahit, yaitu Masa Keemasan atau Akhir Majapahit, yang berarti relatif sejaman dengan embrio tari reyog dodog. Sudah barang tentu, kemasan bentuknya sebagaimana dilihat sekarang, tarian pasukan berkuda yang bentuk embrionalnya diprakirakan telah hadir pada medio-akhir abad XIV M tersebut mengalami serangkaian pembaharuan pada beberapa periode, baik penghalusan dan kompleksitas tarian maupun tata artistiknya.

Bisa jadi, tarian kuda lumping adalah salah satu ragam bentuk ekspresi atau transformasi dari Cerita Panji, yang secara khusus mengkisahkan tentang perjalanan pasukan berkuda (kavaleri) yang dikomandani oleh Panji

 

2. Tinjauan Khusus Sebutan dan Gerak Tari Jaranan Sentherewe

Suatu nama tak senantiasa berada dalam kehampaan makna. Artinya, di balik nama sesuatu ada arti, pesan ataupun karakter tertentu sebagaimama tercermin dari penamaannya. Atas dasar pemi-kiran ini, ‘sentherewe’ sebagai nama salah satu varian jaranan menjadi petanda (sign) atas karakter dari penyandang nama tersebut. Perkataan ini sangat boleh jadi merupakan bentukan dari dua kata, yaitu: (1) kata ‘senthe’ dan (2) ‘rewe’ – kata ini tidak terdapat dalam bahasa Jawa Kuna, Tengahan ataupun Baru, sehibgga diprakirakan sebagai pergeseran pelafalan dari kata ‘rawe’. Kedua kata ini menunjuk pada tanaman. Dalam ‘

Kamus Lengkap Bahasa Jawa’, senthe merupakan: arane bongso kimpul godonge gatel (Mangunsuwito, 2013:597). Yang dimaksud dengan ‘kimpul’ adalah tanaman (tetuwuhan) yang bonggolnya kecil-kecil dan enak dimakan. Namun jika tak benar dalam memasak, tanaman sejenais talas ini apabila dimakan dapat memabukkan dan getahnya bisa menimbulkan efek gatal di kulit. Serupa itu, rawe adalah sejenis tumbuhan liat, yang juga merupakan: arane tetuwuhan sing godhonge nggateli (Mangunsuwito, 2013:586). Reaksi gerak dari orang yang terkena senthe, ter-lebih bika bersamaan dengan watu itu juga terkena rawe, adalah gerakan jempalitan lantaran terkena senthe dan rawe (jumpalitan solahe kadyo kesenthe-kerawe). Tersirat di dalam ungkapan ini adalah bahwa karakter gerak tari jaranan sentherewe adalah tarian yang lincah dan dinamis, seperti tingkah laku orang yang memakan sente dan terkena daun rawe.

Menurut Nur Rokhim berdasarkan sumber yang perlu diklarifikasikan ketepatannya, jaranan di Tulungagung mulai hadir pada tahun 1950-an, dan mulai pupuler sekitar satu dasawarsa berikutnya (1960-an). Pada mulanya di daerah ini terdapat dua varian jaranan, yaitu: (1) jaranan Jowo yang ber-kembang pada tahun 1949, dan (2) jaranan pegon yang menusul kemudian. Masing-masing memiliki ciri khas, baik pada gerak tari, kostum, properti maupun waditra pengiringnya. Atara medio 1960 s.d. akhir tahun 1970-an jaranan – sebagaiamana halnya kesenaian tardisonal Jawa lainnya – mengalami masa surut. Barulah pada tahun 1980-an minat manyarakat terhadap jaranan kembali menguat seiring dengan stabilitas politik dalam negari pasca tahun 1965. Pada era inil hadir varian baru pada jaranan di Tulungagung, yaitu jaranan sentgerewe.

Barangsur-angsur sanggar jaranan sentherewe meningkat jumlahnya, frekuensi pementasan dan minat warga terhadap jaranan juga meningkat, tidak terkecuali terhadap jaranan sentherewe. Bahkan popularitasnya mampu melampai varian-varian jaranan lain-nya, sehingga secara serempak lahir paguyuban-paguyuban jaranan sentherewe di penjuruh wilayah Tulungagung. Pada daerah lain, di Kota dan Kabupaten Kediri jaranan pegon lebih banyak diminati, dan di Trenggalek populer turonggo yakso. Namun pada satu dasarwarsa terakhir, jaranan senthere-we menguat di kawasan Kediri Raya, baik di Kota dan Kabupeten Kediri, Kota dan Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung maupun Kabupaten Nganjuk. Gejala serupa juga terdapat di beberapa daerah pada wilayah propinsi Jawa Tengah, seperti di Kabupaten Klaten.

Paguyuban-paguyuban kesenian jaranan marak tumbuh di Tulungagung

Kehadiran Jaranan Sentherewe di daerah Tulungagung sejak tahun 1980, yang berarti merupakan varian baru dalam khasanah kesenian jaranan.

Kehadirannya kian memperkaya khasanah seni-budaya daerah ini. Mulanya jaranan sentherewe ditarikan oleh para seniman ludruk, sehingga dapat difahami bila geraknya diambil dari vokabuler gerak remo Jawa Timuran. Kostum dan kendanganya juga mirip tari remo. Bedanya terletak pada properti yang digunakan, yaitu jaran kepang dan pecut (cemeti).

Perkembangan selanjutnya, gerak tari jaranan sentherewe dipengaruhi oleh ragam gerak tari jaranan pegon dan jaranan Jowo. Bahkan akhirnya banyak kelompok jaranan pegon dan jaranan Jowo yang beralih kemasan menjadi jaranan sentherewe. Hal ini juga turut mewarnai bentuk kemasan jaranan sentherewe, dimana gerak tarinya merupakan perpaduan antara gerak tari remo, tari jaranan pegon, dan jaranan Jowo. Gerak tari jaranan sentherewe terlihat lebih dinamis, menyerupai gerak kuda atau pengendara kuda.

Kostum dan waditra pengiringnya pun mengalami perubahan, disesuaikan dengan perkembangan jaman dan menurut selera group kesenian bersangkutan, namun masih menunjukan karakter jaranan setherewe. Persebaran jaranan sentherewe tidak hanya di wilayah Tulungagung saja, namun kian merambah memasuki daerah Trenggalek, Kediri dan Blitar, serta da-lam skala terbatas hadir pula di daerah-daerah lain, baik di Jawa Timur ataupun Jawa Tengah.

Popularitas jaranan sentherewe didukung oleh beberapa faktor, antara lain lantaran sifatnya yang terbuka dalam menerima pengaruh anasir kesenian lain sebagai sarana pengembangan kesenian. Misalnya membuka diri bagi masuknya musik dangdut, campursari, fragmen kethoprak atau ludruk, yang sebenarnya berada di laur ranah kesenian jaranan pada era sebelumnya. Namun demikian, ber-kat kepiawian adaptif dan kehandalan melakukan mixing lintas unsur kesenian, menjadikan kemasan yang padu dari beragam unsur seni ke dalam tubuh jaranan sentherewe. Untuk itulah setiap anggota paguyuban diberi ruang untuk mengembangkan kreativitasnya demi kebaikan perjunjukan. Dengan perkataan lain, jaranan sentherewe bersifat luwes, dapat dipentaskan dimana dan kapan saja, baik di arena terbuka maupun di atas panggung, siang ataupun malam. Varian baru pada kesenian jaranan ini hadir secara inovatif, dengan kemasan sajian yang dinamis serta aktual, sehingga mampu merebut hati masyarakat untuk lebih menyukainya.

Perkembangan jaranan tidak lepas dari terbukanya kesenian ini pada pengaruh anasir-anasir kesenian lain

Aspek kemenarikan sajian mendapat porsi keutamaan, agar khalayak pemirsa terhibur oleh sajiannya, antara lain lewat sentuhan musik dangdut dalam pertunjukannya. Dalam hal ini terjadi saling isi antara pementasan jaranan dan sajian musik dangdut, yakni mementaskan jaranan sentherewe disertai dengan musik dangdut, sebaliknya mementaskan musik dangdut disertai dengan jaranan sentherewe.

Pada sisi lain, teknologi rekam (recording) dijadikan wahana untuk mendongkrak popularitasnya. Daya jangkaunya kepada khalayak kian diperluas, dimana masyarakat dapat menikmati pertunjukannya tanpa harus hadir langsung di arena pertunjukan dan dapat menontonnya kapan saja manakala menginginkan tanpat harus menunggu tibanya waktu pementasan, karena cukup lewat hasil rekaman pementasan dalam bentuk VCD yang beredar luas.

 

Adegan trance (ndadi) menjadi daya tarik tersendiri bagi khalayak penonton dan di sisi lain menjadi klangenan bagi penarinya. Pertunjukan jaranan sentherewe kurang lengkap rasanya bila tidak disertai adegan ndadi. Hal inilah yang merupakan unsur mitis dari jaranan sentherewe, yaitu manakala penari, nayaga ataupun penonton mengalami trance (ndadi), yang biasanya muncul jelang akhir tarian, ditandai oleh suara musik yang cenderung memuncak. Kepekaan masing-masing penari terhadap kondisi trance berlainan satu sama lain.

Pencapaian kondisi trance itu dirangsang oleh: (a) gerak tari yang kian cepat, (b) aluan musik monoton yang meningkat frekuensinya dan sedikit kacau, (c) suara keras yang memancing emosi kesadaran penari, (d) daya konsentrasi penari, (e) pengaruh mantra dari juru gambuh maupun pengaruh properti dan waditra tertentu yang diberi daya gaib lewat sotren.

Kondisi trance itulah yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para penonton, lantaran mengundang debaran hati dan sekaligus aspek kelucuan pada ulah pelaku trance dalam bentuk gerakan beringas dan tidak terkendali di luar kesadarannya, bahkan disertai dengan kekebalan dan ketidaklaziman dalam berperilaku.

Pemulihan kesadaran pelaku trance dilakukan oleh juru gambuh (penimbul), yang diposisikan sebagai sesepuh dalam kelompok kesenian jaranan. Penyadaran pelaku trance dilakukan dengan usapkan sapu tangan yang diberi asap dupa dan mantra-mantra ke wajahnya atau cukup dengan menepuk bahunya. Apabila cara ini tidak berhasil, juru gambuh mengambil properti yang dipergunakan oleh penari kemudian diletakkan diatas penari dan dicambuk beberapa kali sampai penari sadar. Cara lainnya dengan menidurkan penari di atas kendang dan kemudian diberi mantra-manta serta dicambuk dengan cemeti. Berbagai cara penyadaranyang dilakukan terhadap pelaku trance tersebut tergantung tingkat kekuatan trancenya. Semakin tinggi tingkat kekuatan semakin sulit cara penyadarannya yang musti ditempuh oleh juru gambuh.

Penari Celengan sedang beraksi

Gerak tari jaranan sentherewe bersifat dinamis, geraknya padat, gagah, lincah, dan berirama. Olah gerak dan adegan yang beragam, seperti adegan ndadi, adegan barongan, adegan celengan, dan adegan jaranan sendiri menjadikan penonton tidak bosan untuk melihatnya. Penari yang kebanyakan terdiri dari para muda juga menjadi alasan bagi kesenian ini untuk diminati, tak terkeculai oleh pemi-nat seni berusia muda. Jaranan tidak lagi menjadi konsumsi geresi setengah benya keatas, namun segala usia. Oleh karena itu, tuntutan luwes dan dinamis adalah formula tepat untuk dilakukan oleh peraga dari kalangan remaja, dan pada sisi lain mempengaruhi gairah dan antusias masyarakat untuk menyaksikan pertunjukanya.

 

C. Sisialitas dan Aktualitas Jaranan Sentherewe

Sebagaimana halnya kesenian rakyat pada umumnya, jaranan sentherewe juga mengemban fungsi rekreatif, yakni sebagai media hiburan bagi masyarakat (Soedarsono, 1976:96). Untuk kepentingan itu, kemasan sajiannya mengedepankan aspek hiburan atau tontonan (performing art).

Selera masyarakat masa kini, yang kuat dipengaruhi oleh budaya pop, dijadikan bahan pertimbangan untuk mengemas pementasan jaranan sentherewe agar dapat menjadi wahana pemenuh kebutuhan dan kepuasan publik, yakni dengan menambah menu sajian kreatif dalam pertunjukannya, seperti tari kreasi baru, lawak (dagelan), dramatisasi pendek semisal adegan kethoprak atau ludruk, tembang populer dengan musik campursari, dsb.

Aspek kreatif tersebut acap dijadikan ‘brand image’ pada nama paguyuban, semisal nama ‘Seni Jaranan Dangdut Kreasi’. Bahkan, tidak jarang penari, pelawak atau pemain sajian pemerkaya itu diambil dari artis terkenal di luar paguyuban bersangkutan sebagai bintang tamu. Selain itu jaranan sentherewe menyandang fungsi sosial, yakni sebagai sarana pergaulan atau ajang silaturahmi antar warga masyarakat dan seniman untuk memperkokoh tali persaudaraan.

Jangkauan komunikasi masyarakat dan seniman diperluas dengan memanfaatkan media elek-tronik, seperti TV dan Video. Teknologi rekam (recording) dijadikan wahana untuk mendongkrak popularitasnya. Daya jangkaunya kepada khalayak kian diperluas, dimana masyarakat dapat menik-mati pertunjukannya tanpa harus hadir langsung di arena pertunjukan dan dapat menontonnya kapan saja manakala menginginkan tanpat harus menunggu tibanya waktu pementasan, karena cukup lewat hasil rekaman pementasan dalam bentuk VCD yang bererdar luas. Maraknya produk hiburan yang dikemas dalam bentuk VCD dan DVD, yang dijual luas dengan harga murah, berpengaruh besar terhadap perkembangan dan popularitas jaranan sentherewe.

Adegan yang paling ditunggu khalayak penonton tentu saat adegan ‘ndadi’ atau trance yang menimbulkan kegaduhan bahkan juga kelucuan

Demikianlah, kesenian rakyat yang semula amatiran dengan arena pementasan di halaman rumah warga dan menyatu dengan masyarakat, kini berajak menjadi dunia usaha kesenian profesional yang bergerak ke dapur rekaman serta ke panggung, gedung dan arena pertunjukan tertentu. Aspek kemenarikan sajian mendapat porsi keutamakan, agar khalayak pemirsa terhibur oleh sajiannya, antara lain lewat sentuhan musik dangdut dalam pertunjukannya. Dalam hal ini terjadi saling isi antara pementasan jaranan dan sajian musik dangdut, yakni mementaskan jaranan sentherewe disertai dengan musik dangdut, sebaliknya mementaskan musik dangdut disertai dengan jaranan sentherewe.

Kendatipun aspek keluwesan dan keterbuaan terhadap pengaruh luar ada dalam diri jaranan sentherewe, namun upaya pengembangan tersebut hendaknya tetap mengindahkan pendekatan konsep yang tepat. Prendekatan demikian lebih menguntungkan bagi perkembangan jaranan sentherewe ke depan.

Pengayaan terhadap kemasan sajiannya perlu dirangkai dalam satu format pertunjukan yang menampakkan sebuah struktur dinamika yang lebih bervariatif, namun dalam setiap perkembangan mengedepankan pendekatan nilai yang ada pada jaranan sentherewe, seperti tetap berpijak pada rasa joged senterewe.

Bila ada perwujudan baru yang tidak berpijak pada bentuk/jenis yang ada atau ada upaya mempola seni jaranan dengan cara memadukan berbagai nuansa yang menjadi nuansa baru, sebaiknya diberi identitas yang baru juga. Demikian pula, apabila ada keinginan untuk mewujudkan tari jaranan yang mengambil dari keragaman tari ngremo, mungkin juga sangat baik bila diberi nama sendiri menjadi sebuah wuijud tari jaranan yang spesifik pula, misalnya diberi nama kiprah jaranan.

PATEMBAYAN CITRALEKHA
Malang, 24 Oktober 2015

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BUDAYA

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

Avatar

Published

on

 

Edisi ‘TAKJIL KHAS RAMADHAN’ 1

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

A. Familiaritas Kolak pada Rumpun Melayu

Apabila di Dunia Arab pembuka berbuka puasa adalah kurma, maka kolak lah yang lazim serta difavoriti sebagai ‘pembuka buka pausa’ di Indonesia. Mulai dari lingkugan keluarga bersahaja hingga di restoran mahal sekalipun, kolak menjadi menu sajian terawal yang disuguhkan untuk membatalkan puasa setibanya bedug Maqrib. Oleh sebab itu dapat dimengerti bila salah sebuah kuliner yang hampir senantiasa ada diantara beragam penganan yang dijajakan pada bedak-bedak dadakan yang menjamur di sore hari manakala tiba puasa Ramadhan adalah kolak. Kuliner inilah yang seolah menjadi ‘rajanya takjil’, yang pertama dan yang utama dikonsumsi oleh banyak orang, tatkala berbuka puasa. Bahkan, tahap permulaan berbuka puasa telah serasa cukup kendati hanya dengan menyatap kolak.

Menilik demikian lamanya waktu kolak dikonsumsi, luasya daerah persebaran kulier kolak, dan banyaknya pemiat kolak – terlepas apapun statra soasial-ekonomiya, maka tak berlebihan untuk menyatakan bahwa kolak adalah kuliner yang amat mengkeluarga (familier) pada masuarakat di Indonesia. Sebenarnya, selain di Indonesia kuliner ini juga dikenal di negara-negara lain dalam region Asia Tenggara yang dihuni oleh rumpun bangsa Malayu, Kolak hadir dalam lintas masa, lintas area dan lintas sosia pula, sebab kapanpun, dimanapun dan siapapun hampir-hampir pernah mengkonsumsi kolak. Malahan, terdapat orang-orang tertetu yang mencandui kolak, baik ketika berbuka puasa ataupun pada kesempatan lain. Dengan perkataan lain, kolak adalah kuliner yang ‘merakyat’ – namun, bukan berarti bahwa kolak hanya dikosumsi rakyat kecil, karena kalangan atas pun terbukti doyan kolak.

B. Etimologi dan Tafsir Makna Istiah Unsur Kuliner Kolak

Ada sejumlah varian sebutan untuk ‘kolak’, antara lain ‘kolok, kulak, kolêk, dsb’. Sebagaimana sebutan-sebutan lain untuk kuliner yang berkeanan dengan ritual Islam, seperti ‘apem dan kupat’, sebutan ‘kolak’ juga diasalkan dari bahasa Arab. Kyai sepuh dari Pondok Pinang Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan, yakni almarhun KH Hasbullah, menyatakan bahwa kata ‘kolak’ berasal dari istilah dalam bahasa Arab ‘kul laka (makanlah, untukmu)’. Pendapat lain mengasalkannya dari kata dala, bahasa Arab ‘khala’ atau ‘kholaqo’, yang bisa diturunkan menjadi kata ‘kholiq’ atau ‘khaliq’ yang berarti pencipta, pencipta alam semesta dan menunjuk kepada Allah SWT. sebagai pencipta seluruh makhluk yang hidup di alam semesta. Selain berarti pencipta, dapat pula berarti: Tuhan yang disembah, Pengatur dan Pemelihara, Pemberi bentuk, dan Tuhan Yang Maha Perkasa. Sebutan ini dijadikan media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bukan hanya itu, unsur-unsur di dalam kolak pun difilosofikan dalam kaitan dengan ajaran Islam. Pisang jenis ‘kepok’ yang paling umum digunakan sebagai isian kolak merujuk pada ‘kapok (jera)’ dalam bahasa Jawa, yakni istilah ibarat agar manusia jera berbuat dosa dan segera bertobat kepada Allah SWT. Selain itu, isian kolak lainnya, yaitu ubi, dikenal dengan sebutan ‘telo pendem’ – masuk kategori ‘polo pendem’, memuat filosofi bahwa manusia harus mengubur kesalahannya dalam-dalam. Reka foilosofis lainnya menghubungkan dengan kematian, yaitu media pengingat bahwa suatu saat manusia pasti mati dan kemudian dikubur (dipenden) di dalam tanah. Kematian mungkin saja akan datang, semudah kita menyendok kolak ke dalam mulut. Unsur lain sebagai bahan kolak adalah santan, yang dalam bahasa Jawa disebut ‘santen’, sebagai kependekan dari ‘pangapunten (permohonan maaf), yang menjadi media pengingat agar manusia seantiasa meminta maaf atas kesalahannya.

Etimologi dan tafsir makna sebagaimana dikemukakan pada alinea diatas adalah ikhtiar baik untuk menjadikan makanan sebagai media pembelajaran budi pekerti dan penguat keyakinan keagamaan. Namun, bukan berarti bahwa muasal sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab. Entah dari istilah ‘kul laka (makanlah)’ atau ‘khala, kholaqo, kholiq, khaliq (pencipta)’. Etimologis yang demikian hanya mendasarkan pada keserupaan istilah, dan terkesan dipas-paskan. Jika dasarnya hanya keserupaan istilah, maka tak usah jauh-jauh istilah serupanya dicari dalam bahasa Arab, melainkan cukup dicari di Jawa, padamaa kolak berada. Sebutan ‘kolak’ atau variannya ‘kulak (kula’)’ mempuyai keserupaan dengan istilah dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan, yaitu ‘kula’, yang antara lain berarti: kawanan, pasukan, kumpulan, oramg banyak, jumlah, suku, keluarga, rumpun, kasta, rombongan, keluarga bangsawan atau unggul, keluarga, keturunan, asal-usul (Zoetmulder, 1005: 530).

Dalam arti kumpulan, kuliner kula+k (kulak) atau kula’ dicirikan oleh adanya sekumulan bahan makan yang diisikan ke dalam kuah kolak. Dengan perkataan lain, ke dalam kuah kolak terbuka untuk diisikan beragam bahan makan, baik berupa buah, bijian atau bahan makan lainnya. Selain menggunakan pisang dan ubi, saat ini modifikasi kolak juga telah banyak ditemui. Mulai dari gabungan penggunaan pacar Cina, tapai singkong, ketan, roti, serabi, jenang, kolang-kaling, buah labu, buah nangka, rumput laut, biji salak atau ubi yang diolah menyerupai biji salak, dsb. Adapun dalam arti keluarga, kolak adalah kuliner yang amat lama familier (mengkeluarga) pada masayarakat Nusanara, khususnya Jawa. Boleh jadi, asal kuliner kolah bukan dari Timur Tengah, melainkan dari Nusantara sendiri.

Dengan mengasalkan sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab, maka diambill alibi bahwa kolak berasal dari Timur Tengah. Kelatahan mengasalkan kolak dari Timur Tengah juga pernah dikemukakan William Wongso, yang menyatakan bahwa kudapan ini dimungkinkan berasal dari negara Timur Tengah. “Mereka itu suka makanan manis-manis, jadi kalau kolak kemungkinan dari sana,” ujar pakar kuliner Nusantara ini saat dihubungi harian Republika (Rabu (17 Juni 2017). Sebenarnya, apabila alasannya karena genar mengkonsumsi makanan yang rasanya manis, bukan hanya orangTimur Tengah yang suka makanan manis, namun orang Jawa – utamanya orang Semarang, Yogyakarta dan Surakarta – juga gemar rasa manis pada beragam makaan dan minumannya. Bahkan, semenjak masa Hindu-Buddha masyarakat Jawa Telah mengeal miuman yang rasanta manis seperti kilang dan cairan gula merah untuk pemanis kuah yang dinamai ‘juruh’.

C. Kegemaran Minuman-Makanan Rasa Manis

Kolak bisa dimasukkan sebagai ‘makanan’ apabila ditilik dari buah, biji-bijian atau bahan makan lain yang terdapat di dalamya. Namun dapat pula dimasukkan sebagai ‘minuman’, sebab berkuah manis, yang dibuat dari air ditambah dengan santan, garam secukupyam daun pandanm fanili, dan gula – mulaya digunakan jenis ‘gula merah’, seperti gula aren, gula kelapa (gulo klopo) atau gula siwalan (tal), namun kini gula putih lazim digunakan sebagai pengganti atau campuran gula merah. Oleh karena itu, cita rasa kolak adalah manis. Lantaran rasanya yang manis itu, maka kolak serupa dengan kurma, yakni cocok untuk makaan pembuka dalam berbuka puasa. Kelebihan kolak bila dibandingkan dengan kurma dalam hal ini ada;ah selain manis juga berkuah, sehingga rasa dahaga lataran tidak minum seharian segera dapat tertasi.

Masyarakat Nusantara, terlebih orang Jawa, banyak menyukai rasa manis. Pemanis yang berupa gula – dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan disebut ‘gendis’ – telah lama digunakan, Kolak yang berasa manis karenanya termasuk kuliner yang disukai dari masa ke masa. Masyarakat Jawa telah demikian lama mengenal dan menggemari minuman manis. Salah satu diantaranya adalah kilang, yakni minuman beragi dari tebu (Zoetmulder, 1995:500). Kilang juga digunakan untuk menyebut nira kelapa, aren ataupun tal yang direbus — bila direbus terus akan mengental, dan bisa dijadikan gula merah. Selain itu santan juga sudah terbiasa dipakai untuk memasak. Bila santan dicampurkan ke dalam kilang, maka jadilah kuah kolak. Hanya saja, pada umumnya kuah kolak dibuat dari air dicampur dengan santan dan arsiran gula merah dan kemudian direbus hingga mandidih. Kedalam kuah tersebut dimasukkan buah, biji-bijian atau bahan makan lainya, sehingga terbentuklah kolak pisang, kolak candil ketan, kolak labu, kolak ubi jalar, kolak durian, kolak kolang kaling, kolak singkong, kolak apel, kolak kacang hijau, kolak cendol. kolak serabi, kolak biji salak, kolak kelapa muda, kolak jenang (jenang kolak), kolak rumput laut, kolak bola pelangi. kolak sagu mutiara, kolak pisang ijo, kolak pisang coklat, kolak paris, kolak tapai, kolak havermunt pisang, kolak pudding, kolak roti, dan banyak lagi. Terbayang bahwa kegemaran mengkonsumsi kolak adalah kelanjutan dalam bentuk lain dari kesukaan meminum kilang.

Kilang adalah salah satu miniman yang telah lama dikenal dan digemari Masyarakat Jawa, bahkan semejak masa Hindu-Buddha. Jenis mimuman lainnya adalah twak, sidhu, cinca (kinca), brem, arak, jnu, bunga campaga, bunga pandan, bunga karaman, jatisara, air kelapa, mastawa, dsb. Dalam sumber data prasasti, kilang tekah disebut di dalam abad X Masehi, yairu prasasri Watukura (902 Masehi) dan Alasantan (939 Masehi) serta pada sejunlah sussstra Jawa Kuna dan Tengahan, seperti dalam kitab Brahmanda Purana (142, 161), Sumanasantaka (38.1), Arjunawijaya (31.10), Nagarakretagama, Partayajna (18.7), Subhadra Wiwaha (7.4), Kidung Hasyawijaya (1/37, 4.54), Kidung Malat (7.77), dan Wangbang Wideya (6.184). Menilik lamanya waktu dan banyak sumber data yang memberitakan, tergambar bahwa ninuman kilang ini banyak dimiati warga Jawa pada zamannya. Peminatnya mulai kalangan rakyat hingga para bangaswan, Kebiasaan mengonsumsi kilang berlanjut dengan beberapa perubahan menjadi kolak.

 

Ada kemungkinan, sebagai sebutan, kata ‘lolak’ baru digunakan paaa Masa Hindu-Buddha, karena sebutan ini tidak dijumpai dalam sumber data tekstual Masa Hindu-Buddha, baik prasasti ataupun susastra. Pada Masa Perkembangan Islam, awalnya kolak disajikan bulan Syaban, atau satu bulan sebelum memasuki Ramadhan. Pada bulan Syaban, umat Muslim diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud ketakwaan jelang memasuki ‘bulan yang penuh berkah’, yaitu bulan Ramadhan,. Tradisi mengkonsumsi kulner kolak itu berlanjut hingga memasuki bulan Ramadhan, utamanya sebagai kudapan (takjil) ketika buka puasa. Demikianlah, kolak adalah kuliner Nusatara yang telah meniti perjalanan sejarah pajang. Selamat menikmati hidangan kolak, semoga melagakan tenggorokan. Nuwun.

Sangkaliang, Griya Ajar CITRALEKHA, 19 Mei 2018

 

Continue Reading

BUDAYA

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Avatar

Published

on

Salamun ya Ramadhan

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Arti Istilah dan Ragam Jenis Puasa

Istilah ‘puasa’ adalah kosa kata bahasa Indonesia, yang pada bahasa Jawa disebut ‘poso’. Dalam bahasa Arab sebutannya adalah ‘shaum’, yang berarti : menahan diri dari segala sesuatu. Puasa dilaksanakan dengan atau dimaksudkan untuk menahan diri dari segala perkara, seperti makanan, minuman, berbicara, menahan nafsu dan syahwat, dsb. Sedangkan secara harafiah, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Pokok kegiatan puasa (shaum) adalah ‘menahan diri’, atau bisa disinonimkan dengan ‘pengekangan diri’. Dalam arti ‘pengekangan’ itu, pada bahasa Jawa Kuna terdapat istilah ‘pasa’, yang secara harafiah berarti : jerat, perangkap, ikatan, rantai, dan kekangan (Zoetmulder, 15:76). Istilah ini menunjuk pada benda, atau senjata ataupun tindakan.

Dalam kakawin Ramayana (24.59) terdapat perkataan ‘pasa-brata’ yang diarahkan pada tindakan durjana. Secara harafiah perkataan ‘pasabrata’ berarti: kelakuan (kewajiban) untuk menggunakan rangkaian (dalam peggunaan kekuatan kersanya). Pada arti istilah ‘pasa’ itu tak dipeoleh gambaran pengekangan diri dengan tidak makan-minum, bicara, ataupun nafsu-syahwat. Pengekangan diri untuk perihal ini secara lebih khusus dilakukan dalam bentuk ‘tapa’, yang berarti: tapa, ‘mati raga’, pengendalian indera atau nafsu, yoga. Kata ‘tapa’ acapk dikombiasi dengan kata ‘bhrata’ menjadi ‘tapa-bhrata’, dalam artiL ketaatan ibadat reliegius, tapa (Zoetmulder, 1995:1210). Dalam bahasa Jawa Baru, kegiatan demikian disinonimkan dengan ‘tirakat’.

Ada berbagai macam puasa, baik kategori wajib (fardhu). sunnah, makruh, maupun puasa haram (moharram). Ragam puasa kategori wajib adalah puasa Ramdhan, puasa Qodha (pegganti puasa wajib lantaran berhalagan), puasa Kafarat (puasa penebusan dosa besar, seperti membunuh dan melanggar sumpah), puasa Nadzar (puasa pemenuh janji, di dalam bahasa Jawa disebut ‘ngluwari ujar’). Adapun yang masuk kategori puasa sunnah adalah puasa 10 hari di bulan Syawal, puasa 10 hari pertama budan Dzulhijah, puasa Hari Arofah (tanggal 9 Dzulhijah), puasa Senin dan Kamis, maupun puasa Dawud (puasa berselang-seling waktu). Puasa makruh dikhususkan pada hari jumat dan sabtu. puasa Moharram – terutama hari Asyyro’ (tanggal 10 Muharram), puasa Sya’ban, puasa padda bulan harom (bulan yang dimuliakan), terdiri atas bulan Dzulqo;dah, Dzulhijah, Moharram. Rajab, dan sehari pasca Idul Fitri serta sepajang tahun, Selain itu, masayarakat Muslim Jawa juga mengenal poso pati-geni, poso mutih, poso ngrowot, dsb.

Diatara beragam puasa itu, yang utama adalah puasa Ramadhan, sehingga diwajibkan ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S. Al-Baqoroh;183-184). Tulisan ini lebih banyak membicarakan tentang tradisi jelang puasa bulan Ramadhan, yang diistilahi dengan “prepegan” dan “megengan”.

B. Aktifitas Prepegan atau Megengan Jelang Bulan Suci Ramadhan

Apabila meilik waktu pelaksaaannyam yakni sebula punh di bulan Ramadhhan, yang wajib untuk dilakukan oleh semua umat Islam yang memenuhi syarat, maka puasa ini terbilang ‘puasa besar’. Oleh karena itu bukan hanya hal-hal ekstra yang musti dilakukan selama menjalakan ibadah puasa, namun ada hal ekstra pula yang dilakukan sebelum mamasuki ‘bulan suci’ Ramadhan, Prinsipnya, ketika memasuki bulan suci ini para pelaku puasa hendaknya telah dalam kondisi suci. Pembersihan tidak hanya dilakukan untuk dieinya, namun juga dilakukan terhadap reladinya dengan sesama manusia yang masih hidup maupun dengan leluhurnya yang telah tiada. Untuk itu dilakukan permohoan maaf kepada sesama manusia yang hidup, ziarah kubur (salah satu sebutan dalam bahasa Jawa mengenai itu adalah ‘sadranan’), pembersihan diri – antara lain menggunakan media air, Selain itu, ada sejumah kegiatan untuk memarakkan proses memasuki bulan Ramadhan, seperti selamatan (slametan, manganan), takbir keliling – ada pula yang menyertai dengan ‘pawai obor’, menabuh bedug bertalu-talu, dan varian kegiatan lain.

Pendek kata, pada satu atau dua hari menjelang memasuki bulan suci Ramadhan ada suatu kondisi khusus, yang diibaratkan sebagai suatu : pergerakan bersama secara berfokus guna mendekati atau memasuki sesuatu’ — dalam hal ini, sesuatu itu adalah bulan suci Ramadhan, padamana umat Islam mendalan ibadah puasa. Kondisi demikian dalam bahasa Jawa diistilahi dengan ‘prepek’ atau akata jadianya ‘prepegan’. Akar kata ‘prepeg (pa-repeg)’ adalah ‘rep’, yakni partikel desktipsi, (dengan) medadadk. Kata ulang ‘rep-rep’ atau ‘arep-rep’, yang berarti: dengan gerakan yang cepat dan tiba-tiba, berkibar-kibar (Zoermulder, 1995:942).

Selain kata ‘prepegan’ dihubungkan dengan waktu jelang memasuki bulan Ramadhan, istilah ini lebih sering digunakan untuk menyebut kurun waktu pendek (satu atau dua hari) jelang datangnya Idul Fitri (Lebaran). Dalam hubungan itu, ada yang membedakannya ke dalam: (a) prepegan cilik (kecil) utuk menyebut waktu dan suasana pada dua hati jelang Lebaran, dan (b) prepegan gede (besar) untuk menyebut kurun waktu atau suasana pada sehari jelag Lebaran. Suasaa itu antara lain ditandai oleh suasana pasar yang ramai sesak, karena sebagian besar orang pergi untuk berbelanja ke pasar guna memenuhi segala kebutuhan pada hari Lebaran. Suasaa pasar yang tambah marak, juga berlagsug jelang Ramadhan, yang disertai dengan naiknya harga bahan pangan, meski tak semarak jelang Lebaran.

Istilah lainnya untuk menyebut kurun waktu satu atau dua hari jelas memasuki Ramadhan adalah ‘megengan’, yang berkata dasar ‘megeng (ma-geng)’ dan berakar kata ‘geng (besar)’. Ada pula yang mengartikan kata ‘megeng’ dengan: menahan (ngempet), berkaitan dengan peringatan bahwa sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan, dimana umat Islam diwajibkan menjalankan puasa, yaitu menahan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa itu. Kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, sesuai adat setempat. Umumnya waraga berbondong-bondong melakukan ziarah kubur, membersihkan makam, menaburi denga bunga dan mendoakan arwah leluhur. Suana marak ditandai dengan masak besar untuk dibagi-bagikan pada sanak famili. Pada malam harinya diadakan slametan (kenduri) untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal. Ada pula yang mengadakan selamatan bersama di masjid, langgar atau mushola.

Nabi Muhammad SAW untuk senang, bergembira, atau bersuka cita menyambut tiba bulan Ramadhan. Peristiwa ini di Jawa dinamai “megengan”, siatu tradisi turun temurun untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas berkat-nikmatya selama setahun berlalu. Tradisi ini juga dijadikan pertanda bahwa sebentar lagi datang tamu istimewa, yakni Ramadhan. Megengan merupakan bukti kerukunan warga masyarakat di dalam menjalin kerukunan dan kerjasama menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Biasanya megengan dilakukan di minggu terakhir bulan Sya’ban (Ruwah).

C. Makna Kuliner Apem dalam Selamatan Megengan

Salah satu pengaan khas yang disajikan dalam slametan megegan adalah apem. Seusai malam nisfu sya’ban, beberapa hari jelang bulan Ramadhan, umat muslim bisanya melakukan tradisi megengan dengan membagikan kue apem kepada tetangga kanan kiri rumah. Ada yang mengasalkan istilah ‘apem’ dari kata ‘afum’. yang artinya adalah meminta dan memberi maaf. Oleh karena masyarakat Jawa tidak mengenal huruf ‘F’, maka kata ‘afwun’ berubah sebutan menjadi ‘apwun’. dan kemudian menjadi ‘apwum’, lantas berubah jadi ‘apwem’, dan akhirnya disebut ‘apem’.

Bahan dasar apem adalah tepung beras, yang melambangkan kebersihan dan kesucian. Sedangkan santan merupakan sari buah kelapa sebagai akronim dari kata Jawa sagetho nyuwun pangapunten, yang bermakna permohonan maaf. Gula dan garam melambangkan perasaan hati. Apabila semua bahan-bahan itu dijadikan satu, makna simbolikya adalah kesucian dan ketulusan hati. Jadi, makan kue apem bisa diartikan memohon maaf kepada keluarga, sanak saudara dan teman. Usai memakan apem, biasanya orang-orang saling bersalaman, meminta maaf dan membaca doa.

Tradisi megengan diwarnai dengan rasa syukur dengan membagi kue apem kepada tetangga. Rasa syukur dan nuansa kekeluargaan (keguuyuban ) terkadung kental didalamnya. Meskipun kue apem dalam megengan hanyalah sebentuk kiliner, namun substansi maknaya dalam. Suatu nilai kultural luhur, yang patut dilestarikan, dimasyarakatkan dan dipetik maknanya untuk diejowarahkan dalam kehidupan bermasyarakt. Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, semoga bisa membuahkan pirifikasi (pembersihan diri) terhadap segala ‘kekotoran’ yang mengotori diri selama satu talun berlalu. Nuwun

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 16 Mei 2018

Continue Reading

BUDAYA

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP

Avatar

Published

on

 

Khasanah Heritage Songhenep

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP : Menuju “Labang Mesem Cultural Movement”, Wahana Smiling Sucsesion

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Makna ‘Mesem” pada Gapura Labang Mesem

Mutiara kata menyatakan ‘sambutlah tamumu dengan senyuman’. Suatu ekspresi sikap ‘ramah’ yang murah namun bermakna, yang keluar dari hati bersih-tulus kepada orang lain yang berelasi dengannya. Seyuman yang dalam bahasa lokal Jawa maupun Madura disebut ‘mesem (sunggingan senyum)”, dalam hal penerimaan tamu bukan sekedar citra pantomimik pada raut muka seseorang, namun lebih daripada itu menyiratkan makna yang berkenaan dengan etika pergaulan (toto kromo), yaitu: (a) selamat datang, disambut baik, penyambutan (welcome) (b) kesediaan atau keterbukaan untuk menerima kehadiran orang lain, maupun (b) pengharapam agar niat baik untuk mengadakan pertemuan itu membuahkan hasil yang baik (kefaedahan) bagi kedua pihak, ‘Murah senyum’ acap dimaknai dengan kebaikan hati. Sebaliknya, ‘pelit senyum’ dikonotasikan dengan kesombongan, keculasan dan ketidakbersahabatan. Demikianlah, senyuman memiliki makna serta manfaat yang mendalam. Meski hanya sekejap, senyuman dapat menjadi kenangan yang bertahan lama. Senyum menciptakan kebahagiaan bagi sekitar. Senyum yang tulus adalah ibadah. Memberikan senyuman untuk semua orang akan memberi keceriaan, sebab senyuman membuka pintu kebahagiaan. Ketika seseorang tersenyum tanpa paksa (tulus), ia membuat suasana perasaan menjadi lebih riang. Orang yang berjumpa dengannya atau berada di sekitarya ikut tersenyum dan merasa jadi lebih bahagia.

Dalam kaitan dengan sunyum, adalah unik bahwa nama yang diberikan untuk gapura masuk di sisi timur dari Keraton Sumenep adalah ‘Labang Mesem’. Kata ‘labang (diujar dengam logat Madura ’labeng”) dalam bahasa Jawa dinamai ‘lawang’. Keduanya menunjuk kepada pintu atau gapura dalam bahasa Indonesia. Pada kedua kata itu, yang berbeda hanyalah kosonan ‘W’ dan ‘B’-nya, dimana kedua kosonan ini acapkali ‘bertukar’, baik pada bahasa yang sama namun beda masa atau pada dua bahasa yang bertetangga seperti pada bahasa Jawa dan Madura. Labang mesem dengan demkian secara harafiah berarti: gapura tersenyum. Sudah barang tentu, penamaanya itu bukanlah tanpa pertimbangan, yaitu simbol: keramahan, sikap ramah kepada siapapu yang datamg bertamu ke Keraton Songhenep (toponimi lama untuk apa yang kini dinamai ‘Sumenep”). Siapapun yang datang bertamu mustilah dihormati, harus disikapi dengan ramah, dan diterima dengan lapang hati. Tamu ibarat ‘raja’, meskipun tempat yang didadatangi tersebut adalah tempat kediaman sang raja (disebut ‘karajyan = ka+rajya-an’), datu (dinamai ‘kadatwan = ka-datu-an’), atau ratu (dibilang “keraton = ka-ratu-an’).

Setidaknya terdapat tiga versi kisah lokal terkait dengan latar pemberian nama ‘Labang Mesem’. Pertama, dahulu pintu gerbang keraton dijaga oleh dua orang cebol – diidikatori oleh adanya dua buah ruangan berpintu rendah di kanan dan kiri gapura serta terdapat kuburan cebol kompleks makam Astatinggi. Lataran penjaganya orang cebol, maka tak heran apabila sering menghadirkan senyum pada orang yang melintasinya. Kedua, ruang terbuka yang berada di bagian atas koridoor adalah tempat raja mengawasi area di sekitar keraton, temasuk putri-putri dan para istrinya yang sedang mandi di Taman Sari (logat Madura ‘Taman Sare’). Ketika memperhatikan putri dan atau istrinya yang sedang mandi itu, raja terseyum simpul (mesam-mesem). Ketiga, pada suatu ketika Kasultaan Sumenep berhasil memukul mundur pasukan Bali. Timbul rasa dendam darinya, dan bermaksud menuntut balas. Namun tatkala pasukan Bali datang ke Sumenep, tepat di depan gerbang keraton, amarah mereka serta merta berubah, sebab warga keraton Sumenep meyambut dengan senyum ramah penuh persahabatan.

Terlepas dari versi mana yang benar, keseluruhannya menggarisbawahi perihal ‘senyum (mesem)’ terkait dengan keberadaan gapura sisi timur keraton Sumenep. Konon wujud senyuman tidak hanya tergambar pada unsur nama ‘mesem’, namun diperkuat oleh sebuah arca yang menggambar figur yanng menyunggingkan senyuman. Menurut persaksian RP. Mohammad Mangkuadiningrat, dahulu arca itu ditempatkan di sebelah timur dari pendapa keraton, dekat dengan ‘rumah lonceng’, yang terlihat lurus dari arah pandang luar gapura Labang Mesem. Namun sayang sekali, arca yang mengekspresikan senyuman itu, selaras dengan unsur nama ‘mesem’ dari gapura keraton tersebut, kini telah tiada lagi, sehingga perihal ‘seyuman’ hanya tersisakan pada unsur nama gapura. Kendati demikian, tak lantas menyurutkan keramahan warga Sumenep, yang dikenal satun dan bersahabat (friendelig).

B. Ekspresi Akulturatif Gapura Labang Mesem pada Kompleks Keraton Sumenep

Labang Mesem dibangun tahun 1781, bersamaan waktu dengan pembangunan Keraton Sumenep pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo (Pangeran Natakusuma I) oleh arsitek keturunnan Tiong Hoa bernama Lauw Piango – mengungsi ke Madura sebagai akibat Huru Hara Tionghoa di Semarang tahun 1740. Bangunan yang berwujud gapura ini adalah salah satu dintara dua gapura yang tersisa, yang semula lengkapnya berjumlah lima buah (dinamai ‘ponconiti’). Posisinya pada bagian depan keraton Sumenep menghadap ke selatan, berloksi di sebelah timur Gedong Negeri, dekat Taman Sari (dialek Madura ‘Taman Sare”). Gapura Labang Mesem dengan demikian hanya salah sebuah komponen arsirektur pada kompleks keraton Pajagalan (sebutan populernya ‘keraton Sumenep’) selain pendopo agung, gedong negeri, pengadilan keraton, paseban, taman sare, serta beberapa bangunan pribadi keluarga keraton.

Secara arsitektural Labang Mesem yang monumental masuk dalam kategori gapura padhuraksa, yaitu suatu jenis gapura (selain ‘candi bentar’), yang lazimnya ditempatkan dan difungsikan untuk memasuki ruangan yang dipandang suci atau penting. Gapura padhuraksa ini dilengkapi dengan ‘sayap’ di kanan-kirinya, sehingga bisa disebut ‘gapura bersayap’. Gapura bersayap telah terdapat semenjak Masa Hndu-Buddha dan berlanjut penggunaannya hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam. Meski beda masa dan berlainan latar religisnya, namun model arsitektur dari keduanya sama, yakni sama-sama berupa gapura bersayap. Arsitektur yang berasal dari lapis masa dengan latar religis berbeda, yaitu Masa Hidu-Buddha, tidak disikapi dengan ‘penolakan’. Suatu siakap buadaya Madura yang tidak inklusif, sebaliknya membuka diri bagi pengaruh budaya lain, seperti keterbukaannya dalam menerima tamu yang disimbolkan oleh gapura Labang Mesem. Pemangku budaya Madura terbuka terhadap budaya luar tanpa meninggalkan budayanya sendiri. Dengan perkataan lain mengadaptasi anasir budaya luar kepada budaya setempat, sehingga terbuahkan paduan budaya yang akulturatif.

Pada gapura Labang Mesem yang dibangun semasa pemerintahan Panembahan Sumolo ini, unsur arsitektural dari Masa Hindu-Buddha lainnya adalah atap yang berbentuk tumpang (meru), yakni atap bersusun dalam jumlah gasal (ganjil), yang pada gapura ini terdiri atas tiga susun, yang makin ke atas semakin mengecil dan diakhiri dengan kemuncak (Memolo). Atap meru juga didaati pada Masa Hindu-Buddha, baik pada bangunan profan terlebih pada banguan sakral, Model atap yang demikian juga berlanjut hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam, Bahkan, di beberapa daerah berlanjut sampai sekarang, seperti tergambar pada bangunan suci pura, masjd, dan sebagainya. Atap meru iitu menaungi ruangan berdinding terbuka yang berada di atas koridoor (lorong keluar-masuk), sehingga tampak sebagai bangunan berloteng (verdiping) yang digunakan untuk memantau segala aktifitas di dalam lingkungan keraton, termasuk kegiatan di Taman Sare. Pada kanan-kiri koridoor terdapat sepasang ruang kecil dan pendek dengan pintu yang pendek pula dibawah naungan teras, yang di dalamnya terdapat tangga kayu untuk naik-turun ke/dari loteng.

Kecuali atap banguan yang berbetuk meru dan konsep arsitektur padhuraksa bersayap, konponen-komponen arsitektur lain dari gapura ini, utamanya pada fasadenya, dengan jelas memperlihatkan unasir seni bangunan Eropa, seperti tergambarkan pada pilar ganda di kanan-kiri koridoor, pelipit, kolom lengkung pada koridoor, bangun segitiga pada bagian atas fasade sisi depan, maupun teknik arsitekturya. Paduan antara nasisr arsitektur Eropa-Jawa pada gapura ini menjadi alasan kuat untuk menyatakan bahwa Labang Mesem memiliki gaya arsitektur Indis. Budaya Indis yang berkembang di Indonesia pada Masa Kolonial, khususnya pada golongan menegah ke atas warga Hidia-Belada di Jawa abad XVIII-XIX Masehi, mengindikasikan percampuran antara budaya Belanda dan Pribumi, yang dapat diidentifikasi pada pelacakannya terhadap tujuh unsur budaya universal (Sukiman, 2000). Gaya Indis tersebut tergambar jelas pada seni-bangun (arstektur), seperti dicontohkan oleh gapura Labang Mesem yang akulturatif. Ekspresi akulturatif tampak kuat pada kompleks keraton Sumenep, yang ditadai oleh percampuaran anasir budaya Jawa, Belanda, Cina dan Madura.

C. Kekayaan Khasanah Heritage Performig Art di Sumenep

Sebagai ‘daerah bersejarah’ sekaligus ‘daerah kaya budaya’ Sumenep memiliki jejak budaya masa lampau yang kaya, beragam, unik, dan penting. Peninggalan arkeologis, utamanya dari Masa Perkembangan Islam dan Masa Koloial, terdapat di pejuru wilayah Sumenep. Hal serupa tergambar dalam seni-budayanya, tidak terkecuali pada seni-pertunjukan daerah (lokal)-nya yang mentradisi. Bila kedua sumber daya budaya yang nota bene merupakan ‘warisan budaya (heritage)’ itu dikombinasikan, maka hadir apa yang dinamai ‘heritage performing art’, yakni penyajian seni pertunjukan (performing art) yang heritage di suatu pentas yang juga merupakan heritage.

Salah sebuah diantara tidak sedikit arsitektur heritage di Kabupaten Sumenep adalah komplek keraton Pajagalan atau keraton Sumenep, termasuk di dalamya adalah gapura bersayap Labang Mesem yang artistik, unik dan simbolik sebagai sebuah komponen arsitekturnya. Gapura yang masih tegak berdiri dalam kondisi relatif utuh dan lesari di seberang utara jalan ini layak kiranya dijadikan sebagai pentas (stage) bagi pemetasan beragam bentuk seni-pertunjukan lokal Sumenep yang mentradisi. Bagian depan gapura heritage Labang Mesem menarik dan unik untuk dijadikan sebagai latar (back ground) bagi pementasan seni-budaya. Tata cahaya ataupun video maping tentu bakal menambah keelokan tampilan Labang Mesem yang monumenta; itu pada malam hari sebagai latar pemetasan.

Disamping gapura Labang Mesem, sebenarnya di penjuru daerah Sumenep masih terdapat cukup banyak bangunan heritage yang tidak kalah unik dan menariknya untuk digunakan sebagai stage atau back ground pementasan seni-pertunjukan. Dalam kaitan itu pementasan seni-pertunjukan bertajuk ‘Labang Mesem Cultural Movement” pada Minggu 13 Mei 2018 dapat dijadikan contoh terapan konsepsi ‘Heritage Performing Art” di Sumenep. Ke depan model demikian bisa adaptasi untuk dicobaterapkan kepada monument heritage lainnya di Sumenep. Heritage performing Art merupakan akhtiar kultural yang diharap dapat memberi ragam manfaat. Ibarat Mutiara kata ‘sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui’, ikhtiar ini bisa untuk: (a) mengenalkan bahkan memahamkan heritage yang ada di suatu daerah, baik arsitektur yang heritage ataupun performing art yang heritage, (b) tampilan yang artistik, unik dan menarik dari monumen heritage dapat dijadikan pentas atau latar belakang pementasan seni-pertunjukan, (c) kandungan makna atau pesan dalam monumen heritage bisa digunakan untuk mengkomunikasikan atau menguatkan isi pesan yang disampaikan oleh pementasan seni-pertunjukan atau kegiatan lain.

D. Wahana bagi ‘Smiling Sucsesion’

Suksesi pemeritahan, baik berupa Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) tingkat Kota/Kabupaten dan Provinsi maupun Pilpres (Pemilihan Presiden) tingkat nasioal adalah suksesi pemerintahan yang dilangsungkan secara periodik, yakni lima tahuan. Setiap tahun bakal berlangsung Pilkada ataupun Pilpres, sebagimana halnya Pilkada Kota/Kabupaten dan Provinsi tahun 2018 pada bulan Juni 2018 mendatang. Untuk kepentingan itu, KPU Jawa Timur sebagai penyelenggara Pemilu (Pemilihan Umum) melaksanakan ikhiar untuk mensosialisasikan perhelatan yang segera dilangsungkan, yang antara lain dilaksanakan di Sumenep. Pementasan seni-pertunjukan dipertimbangkan sebagai tepat untuk didayaguakan sebagai wahana bagi sosialisasi itu, dengan pengharapan bahwa Pilkada Kota/ Kabupaten dan Provisi mendatang berlangsung dengan tertib, aman, demokratis dan membuahkan pilihan – yakni kepala daerah – yang amnah bagi penyelenggaraan pemerintahan serta pemajuan daerah untuk lima tahun ke depan.

Sosialisasi Pilkada 2018 di Sumenep pada Minggu malam, tanggal 13 Mei 2018 diselenggarakan dengan mengambil “spirit” gapura Labang Mesem, dalam bentuk ‘Heritage Performing Art’. Sengaja gapura Labang Mesem dijadikan spirit, dengan antara lain mempertimbangkan makna kata ‘mesem (senyum, smile)’ pada unsur sebutannya. Dalam konteks Pilkada, seyumam dapat dijadikan unsur penyampaikan pesan, yakni ‘laksanakan Pilkada mu dengan senyuman’, atau menjadi semacam ‘smiling sucsesion’. Memulih dengan gemibira (baca ‘tersenyum’), tersenyum bila memperoleh kemenangan sebaliknya menerima realitas kekalahan dengam senyuman (kelapangan hati) pula. Senyuman adalah kata kunc’ untuk mengeleminir kejadian buruk, baik sebelum, selama atau pasca Pilkada. Selain itu, pilihan spirit sosialisasi yang ditimba dari makna gapura (labang = lawang = pintu) bernama Labang Mesem menyiratkan pesan bahwa Pilkada adalah ‘pinitu masuk’ bagi suksesi pemeritahan periodik. Merupakan pintu pula bagi perubahan ataupun kesinambungan dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembagunan pada lima tahun kedepan.

Dengan pemakanaan yang demikian, niscaya Pilkada bakal merupakan ritus suksesi pemeritahan yang insya Allah bermakna bagi khalayak. Semoga tulisan yang cuma bersahaja ini membuakan keraedahan. Nuwun.

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 11 Mei 2018

 

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019