AKAR TRADISI JARANAN (Bagian I)

Episode “Sejarah Seni Pertujukan”

Studi Kasus Jaranan Sentherewe Tulungagung

 

A. P e n g a n t a r

Tulungagung adalah salah sebuah daerah di wilayah budaya (culture area) sub-etnik Mataraman yang memiliki khasanah seni-budaya yang kaya dan beragam. Salah satu diantaranya adalah kesenian kuda lumping (jaran kepang), atau disebut lebih singkat dengan ‘jaranan’.

Terdapat sejumlah varian jaranan di daerah Tulungagung, antara lain Jaranan Pegon, Jaranan Sentherewe, Jaranan Jowo, Jaranan Dor dan Jaranan Butho.

Varian demikian sebenarnya tak hanya terdapat di Tulungagung, namun didapati pula di daerah-daerah lain di kawasan budaya Mataraman. Jaranan pegon dan sentherewe merupakan varian yang jumlah sanggar dan frekuensi pementasnnya di Tulungagung lebih banyak apabila dibanding dengan varian-varian lainnya. Hal ini menjadi petunjuk bahwa keduanya familer, diminati dan memiliki akar dalam sosio-budaya setempat.

Terkait itu, tulisan ini menelaah mengenai ‘Akar tra-disi Jaranan Sentherewe’, dengan contoh kasus jaranan sentherewe di Tulungagung. Untuk keperluan itu, jaranan sentherewe ditelaah dengan menggunakan ‘perspektif historis (historical perspectives)’, yakni dikaji pertumbuhan dan perkembangan dalam lintas masa, dengan harapan kesinambungan dan sebaliknya perbahannya dari masa ke masa dan persebarannya dalam ruang wilayah bisa diungkapkan guna mendapatkan gambaran mengenai sejauh mana varian jaranan ini mentradisi di dalam kehidupan sosial dan budaya di daerah Tulungangung.

Jaranan adalah tarian yang dimainkan menirukan gerak pengepungan oleh sekelompok orang prajurit berkuda. Yang mereka kepung adalah binatang buas, yaitu babi hutan (celengan), harimau (macanan atau kucingan), dan ular besar (barongan)

B. Arti Istilah dan Karakter Koreografis Jaranan Sentherewe
1. Tinjauan Umum Sebutan dan Gerak Tari Jaranan

Ada beragam istilah yang bersinonim arti dengan ‘jaranan’, antara lain ‘jaranan kepang, kuda lumping, jatilan, dan sang hyang jaran’. Dari sebutan-sebutan itu, penekanan diberikan kepada ‘jaran’ atau ‘kuda’ sebagai gerak tokoh peran yang distilasi menjadi gerak tari.

Sebenarnya, dalam peristilahan ini ada dua tokoh peran pada tarian ini, yaitu: (1) kuda/jaran, dan (2) pengendara/penunggang kuda, yang keduanya ditarikan oleh seorang penari. Tarian ini bukan merupakan tarian tunggal (solo), melainkan berupa tarian berkelompok, yang dilakukan oleh beberapa orang penari dengan gerak tari yang kompak dan seragam.

Secara toponomis, kata ‘jaran’ atau ‘ajaran’ adalah istilah yang berasal dari bahasa Jawa Kuna yang menunjuk kepada: kuda (‘binatang terlatih’). Dalam tarian ini, gerak kuda yang distilisasikan bukan gerak liar dari ‘kuda liar’, melainkan gerak terkendali dari ‘kuda terlatih’. Istilah ini menunjuk arti yang sama dengan ‘kuda’, atau secara khusus pada kata jadian ‘akuda’, dalam arti: mengendarai kuda, ada diatas punggung kuda, menunggang kuda, prajurit berkuda, kavaleri (tentara berkuda) (Zoetmulder, 1995:526).

Istilah ‘akuda’ telah disebut di dalam Kakawin Ramayana (19.67), Arjunawiwaha (23.9), Hariwangsa (23.6), Baratayuddha (1.6) dan Smaradahana (33.3). Hal ini mem-beri petunjuk bahwa pasukan berkuda telah dikenal di Jawa setidaknya sejak abad IX Masehi.

 

Hal yang perlu diperhatikan adalah sebutan di Bali, yaitu ‘sang hyang jaran’ atau hanya disebut dengan ‘sang hyang’, yang memberi putunjuk bahwa tarian ini termasuk dalam kategori ‘tarian sakral (ritual dance)’. Sifat sakral dari tarian jaranan juga terdapat di Jawa, yang masih kuat aroma mistisnya, sebagaimana terbukti oleh pembacaan mantra-mantra di awal pertunjukan, pemberian sesajian (sajen) dan pada puncak pementasan acap disertai dengan adegan trance (ndadi) oleh sebagaian pemainnya. Sebutan ‘jatilan’ secara khusus digunakan di Jawa Tengah, yang juga menunjuk kepada kuda lumping, yaitu kesenian khas Jawa Tengah berupa tarian yang penarinya menaiki lumping dengan diiringi ga-melan (KBBI, 2002:462).

Selain itu, ada tarian penunggang kuda juga menjadi komponen dalam seni pertunjukan reyog, yang ditarikan oleh para ‘gemblak’, sebagai kemasan lain dari tarian ini. Namun demikian, tidak benar jika dikatankan bahwa semua tari jaranan merupakan bagian dari pagelaran tari reyog, sebab tidak sedikit tari jaranan yang ‘tampil lepas’ dari reyog dan hadir sebagai tarian tersendiri. Oleh karena ide dasar atau sumber penciptaan dari tarian ini adalah defile ‘prajurit berkuda (kavaleri)’, maka dapat dikategorikan sebagai ‘tari keprajuritan (militery dance)’ di Nusantara.

Jika tari reyog dodog (reyog kendang) menunjuk kepada tari pemusik perang (warmusic dance), maka tarian ini lebih menunjuk pada ‘kavalery dance’, yang keduanya masuk dalam kategori ‘militery dance’. Sebagai tari keprajuritan, maka gerak tarinya bernuansa gagahan, keagresifan, kekompakkan (keserempakan), dinamis dan ritimis menirukan gerak kuda dan pengendaranya di meda laga. Nuansa gerak tariannya yang demikian juga termaktub dalam arti kata ‘jathil’ – dari sebutan ‘jathilan’, yaitu gerak reflek melonjak, sebagai tanda memperoleh kebahagian.

Menurut Th. G. Th. Pigeaud tari kuda (kuda lumping, jaran kepang) adalah suatu pertunjukan rakyat yang dalam penampilannya mengepit anyaman dari bambu yang dibentuk seperti kuda dengan gerak tari meniru gerak kuda (1991:347). Kata ‘kuda’ atau ‘jaranan’ dirangkai dengan kata ‘kepang’ dan ‘lumping’. Kata ‘kepang’ (baca ‘képang’ atau ‘kêpang’) dalam sebutan ini acap diarahkan pada arti: anyaman bambu sebagai bahan pembuatan properti dan sekaligus tokoh peran yang ditarikan, yaitu kuda/jaran. Padahal, tidak semuanya dibuat dari anyaman bambu, melainkan ada pula dari kulit yang ditatah seperti pada jaranan pégon. Oleh karena itu, perlu ditelisik kemungkinan arti lainnya.

Aspek kreatif acap dijadikan ‘brand image’ pada nama paguyuban jaranan, semisal nama ‘Seni Jaranan Dangdut Kreasi’.

Dalam bahasa Jawa Kuna dikenal kata ‘kêpang’, yang bersinonim arti dengan ‘kêpung’, yang menun-juk pada: mengepung (Zoetmuder, 1995: 491). Dalam arti ini, tarian yang dimainkan adalah gerak pengepungan oleh sekelompok orang prajurit berkuda. Yang mereka kepung adalah binatang buas, yaitu babi hutan (celengan), harimau (macanan atau kucingan), dan ular besar (barongan). Arti istilah ini mengingatkan kepada tradisi rampokan, misal pada ‘rampokan macan’, yaitu pengepungan seekor macan (harimau) oleh keselompok prajurit.

Adapun kata ‘lumping’ adalah bahasa Melayu, yang menunjuk arti pada: kulit (sapi, kerbau, dsb.) yang keras, berlulang (KBBI, 2002:688). Sebutan ‘lumping’ ini memperkuat penjelasan di atas bahwa anyaman bambu bukanlah satu-satunya bahan yang digunakan untuk membuat properti yang berbentuk jaran/kuda tersebut.

Paparan diatas memberi gambaran bahwa tari kuda lumping arau disebut juga dengan ‘jaran kepang atau jathilan’ adalah trarian tradisional Jawa, khususnya di Jawa Timur dan Jawa Tengah (di-sebut ‘jathilan’).

Meski berasal dari Jawa, namun areal persebarannya meluas hingga ke luar teritori Jawa, yaitu pada ‘kantong-kantong komunitas Jawa perantau’ di Sumatra Utara, Lampung, Polmas (Sulsel), Kalimantan, bahkan terdapat juga secara generatif di Malaysia, Suriname, dsb.

Belum diperoleh kejelasan mengapa tari ini dinamai ‘jathilan atau jatiran’ di Jawa Tengah? Kabupaten Kendal, Semarang, Magelang, Pekalongan, Batang, Tegal, Pemalang, Wonosobo dan Temanggung merupa-kan daerah-daerah di Jawa Tengah yang kaya akan tarian jahilan – dengan ciri khas kedaerahannya masing-masing. Akhir-akhir ini nama ‘jaran/kuda kepang’ dan ‘kuda lunping’ lebih familier daripada nama awalnya ‘jathilan atau jatiran’. Bahkan kedua nama itu telah menjadi sebutan bagi tarian ini secara nsional maupun internasional. Sebutan lain bagi jenis tarian ini di wilayah Bali adalah ‘sang hyang Jaran’. Belum diperoleh kejelasan apakah tarian sang hyang jaran atau sang hyang di Bali merupakan hasil difusi dari tarian jaranan di Jawa ataukah merupakan ‘paralelisme’ seni-budaya di Nusantara.

Kendati sebutannya ‘tari jaranan’, namun sesungguhnya hadir pula dalam rangkaian pertunjukan ini tokoh-tokoh peran lainnya, yang teribat di dalam ‘ tarian perang (rampokan)’ melawan para ksatria berkuda, yaitu: (1) celengan, (2) kucingan atau macanan, dan (3) barongan – kucingan dan barongan acap disebut sebagai ‘jepaplokan’. Masing-masing tokoh peran itu menampilkan ragam gerak tari sesuai karakter tokoh peran yang ditarikannya. Ragam gerak tari jaranan pada pokoknya tarian ini menampilkan sekelompok prajurit berkuda. Kuda-kudaan (jaranan) yang digunakan sebagai properti tari sekaligus tokoh peran dibuat dari bahan kulit sapi (lumping) yang telah dikeringkan (disamak), atau dapat juga dibuat dari anyaman kulit bambu (képang) dengan diberi motif hias yang direka seperti kuda lengkap dengan rambut tiruan.

Gerak penari jaranan adalah ragam gerak tari yang menggunakan properti kuda-kudaan (jaranan) sesuai dengan varian seni jaranan yang ditarikan. Di dalam keragaman tari itu melekat kesan tari (kekuatan/kualitas tari, pola ritmis, dan rasa joged), yang dapat dipertajam dengan kemampuan penari melalui kemampuan gerak, kemampuan musikal maupun penghayatan.

Dua penari jaranan sedang beraksi

Penekanan tari jaranan diarahkan untuk menghidupkan gerak-gerik jaranan agar propreti ini tidak sekedar barang yang dibawa (dipegang) oleh penari.
Gerak tari jepaplokan umumnya dilakukan secara improfisasi, dengan maksud menghidupkan properti tari yang berupa kepala ular (barongan) atau kucingan (macanan) dengan gerak-gerak imaji-natif berpola.

Sebenarnya, motif gerak tarian jaranan bisa dimanfaatkan untuk jepaplokan, terutama pada solah kaki – termasuk dalam pengembangan ini adalah pola perang (rampokan) antara jaranan dengan jepaplokan. Oleh karena properti kucingan (macanan) dikenakan dengan cara digigit, maka ragam gerak penari untuk menghidupkan properti tari bisa dilakukan dengan gerak tangan yang lebih leluasa guna memperkaya penampilan bila dibanding dengan tarian barongan – dimana kedua tangan penari harus memegang properti tari. Yang perlu mendapat perhatian pada penampilan tari macanan (kucingan) adalah mengembangkan pola maupun motif ragam gerak tari melalui pendekatan imajintif sesuai dengan karakter propertinya (macanan/kucingan).

Ragam gerak tari bisa memanfaatkan motif jurus harimau atau jurus kucing pada seni pencak silat degan pengubahan pola ritmis maupun tempo gerak-nya sesuai dengan musikal pengiringnya. Ragam gerak itu dalam sejumlah hal berbeda dengan tarian ular naga (barongan), dimana kedua tangan penari harus memegang properti tari. Kendatipun demikian, gerak tari simbolis yang dimainkan musti memberikan kesan imajinatif gerak ular naga.

Ragam gerak ini bisa memanfaatkan motif jurus naga atau jurus ular pada seni pencak silat, namun dengan pola ritmis dan tempo yang disesuaikan dengan ritme dan tempo musikal pengiringnya. Serupa itu, ragam gerak tari celengan, yang umummya sebatas dilakukan secara improfisasi, meski ada upaya untuk mengembangkan solah celeng dengan ‘kesan wirengan’ tanpa menggunakan properti celeng. Ada alternatif yang bisa dilakukan untuk pengembangan soal celeng, yaitu dengan memperhatikan kesan tentang celeng (babi hutan) sehingga imajinasi mengenai celeng melekat pada motif gerak tari yang dipola. Ragam tarian tersebut diatas acap dibalut dengan unsur magis, trance (kesurupan atau ndadi) dan kekebalan. Bahkan di Bali – jika menilik predikat ‘sang hyang’ yang diberikan dalam konteks sebutan ‘sang hyang jaran’, menunjukkan bahwa tarian ini masuk dalam kategori tarian sakral.

Tarian jaranan dalam beragam variannya mengambaran paduan antara stilisasi gerak bagi: (1) tokoh peran manusia (penunggang kuda dan pengiring ksatria – penthul-tembem), (2) tokoh peran binatang (kuda, babi hutan/celengen, ular naga/barongan, harimau/macanan/kucingan). Tarian yang menstilisasi garak binatang adalah jenis tarian purba di Nusantara, sebagaimana tergambar pada tari hudoq di lingkungan etnik Dayak, kebo-keboan di sub-etnik Osing, dsb.

Pada tarian jaranan, tokoh peran binatang tersebut perlibat peperangan dengan tokoh peran ksatria (pasukan berkuda), yang tengah berdevile melintasi hutan yang dihuni binatang-bintang buas. Tarian keprajuritan yang ditokohi oleh prajurit berkuda itu merupakan jenis tarian yang tentunya lebih muda, yaitu ketika Nusantara mengenal sistem kemonakhian (kerajaan atau kasultanan), dinama terdapat satuan ketentaraan berkendaraan kuda (akuda).

Kendatipun aspek keluwesan dan keterbuaan terhadap pengaruh luar ada dalam diri jaranan sentherewe, namun upaya pengembangan tersebut hendaknya tetap mengindahkan pendekatan konsep yang tepat

Yang terang, satuan ketentaraan berkuda baru ada di nusantara setelah kuda didatangkan kemari oleh migran Cina – kuda bukan binatang endemik nusantara, sebagaimana terbukti pada ragam hias nekara yang ditemukan di NTT, yang menggambaran pasukan berkuda, dari Masa Perundagian di Jaman Prasejarah.

Namun demikian, bukannya berarti bahwa kesatuan tentara berkuda telah hadir pada masa itu. Boleh jadi baru dikenal pada Masa Hindu-Buddha, dengan mengambil contoh ksatria berkuda, yang merupakan pasukan andalan Bangsa Aria di India.

Adanya istilah ‘akuda’ dalam se-jumlah susastra dan prasasti (OJO 68.21) pada masa Hindu-Budda (periksa hal. 2) dan relief di Candi Borobudur dan Prambanan yang menggambarkan tentang pasukan berkuda memberi petunjuk bahwa pada abad IX Masehi dalam kakaisaran di Jawa telah dikenal adanya prajurit berkuda. Bahkan, pada pada masa pemerintahan Kadiri (abad XII-XIII M), ketika terjadi reformasi dalam tubuh kemiliteran, pasukan berkuda menjadi satuan ketentaraan tersendiri. Beberapa nama yang dikisahkan dalam Ceri-ta Panji, seperti ‘Panji Kudanarawangkasa, Panji Kudawenangpati, dsb.’ memberi pentunjuk bahwa unsur nama ‘kuda’ dari penyandang nama itu merupakan pimpinan dari satuan ketentaraan berkuda (kavaleri).

Meski belum dapat diperoleh tarikh pasti bilamana tarian jaranan muncul di Jawa, namun berdasarkan petunjuk itu, sangat boleh jadi tarian ini baru muncul pada pasca Kadiri, mengingat bahwa seting cerita (story seting) dari seni pertunjukan kuda lumping adalah kisah kesejarahan Masa Kadiri, yang dalam sejumlah hal sejalan dengan Cerita Panji.

Bagi masyarakat Jawa Timur sebelah barat atau kawasan sub-etnik Mataraman seperti daerah Blitar, Kediri, Trenggalek, Tulungagumg, Ponorogo, dan Pacitan tari jaran kepang lebih terpengaruh oleh; (a) kisah wadyabala (bala tentara) Prabu Kelana Sewandana dari Kedhiri melawan Singo Barong raja dari Kraton Bandarangin, serta (b) kisah para ra-ja wilayah adipati pembangkang yang ada di Ponorogo terhadap Prabu Kertabhumi dari masa akhir Majapahit.

 

Kisah pertama jelas berlatar Cerita Panji. Sebagai susastra tekstual, visual maupun susastra pertunjukan, Cerita Panji baru hadir pada Masa Keemasan Majapahit (medio abad XIV M.). Bisa jadi, tarian kuda lumping adalah salah satu ragam bentuk ekspresi atau transformasi dari Cerita Panji, yang secara khusus mengkisahkan tentang perjalanan pasukan berkuda (kavaleri) yang dikomandani oleh Panji, dalam hal ini Panji Kelana Sewandana – sebutan lain untuk Panji Kudanarawangsa atau Panji Kudawenengpati, yang tengah berdevile melintasi hutan.

Jika benar demikian, embrio tarian ini paling cepat hadir di Jawa Majapahit, yaitu Masa Keemasan atau Akhir Majapahit, yang berarti relatif sejaman dengan embrio tari reyog dodog. Sudah barang tentu, kemasan bentuknya sebagaimana dilihat sekarang, tarian pasukan berkuda yang bentuk embrionalnya diprakirakan telah hadir pada medio-akhir abad XIV M tersebut mengalami serangkaian pembaharuan pada beberapa periode, baik penghalusan dan kompleksitas tarian maupun tata artistiknya.

Bisa jadi, tarian kuda lumping adalah salah satu ragam bentuk ekspresi atau transformasi dari Cerita Panji, yang secara khusus mengkisahkan tentang perjalanan pasukan berkuda (kavaleri) yang dikomandani oleh Panji

 

2. Tinjauan Khusus Sebutan dan Gerak Tari Jaranan Sentherewe

Suatu nama tak senantiasa berada dalam kehampaan makna. Artinya, di balik nama sesuatu ada arti, pesan ataupun karakter tertentu sebagaimama tercermin dari penamaannya. Atas dasar pemi-kiran ini, ‘sentherewe’ sebagai nama salah satu varian jaranan menjadi petanda (sign) atas karakter dari penyandang nama tersebut. Perkataan ini sangat boleh jadi merupakan bentukan dari dua kata, yaitu: (1) kata ‘senthe’ dan (2) ‘rewe’ – kata ini tidak terdapat dalam bahasa Jawa Kuna, Tengahan ataupun Baru, sehibgga diprakirakan sebagai pergeseran pelafalan dari kata ‘rawe’. Kedua kata ini menunjuk pada tanaman. Dalam ‘

Kamus Lengkap Bahasa Jawa’, senthe merupakan: arane bongso kimpul godonge gatel (Mangunsuwito, 2013:597). Yang dimaksud dengan ‘kimpul’ adalah tanaman (tetuwuhan) yang bonggolnya kecil-kecil dan enak dimakan. Namun jika tak benar dalam memasak, tanaman sejenais talas ini apabila dimakan dapat memabukkan dan getahnya bisa menimbulkan efek gatal di kulit. Serupa itu, rawe adalah sejenis tumbuhan liat, yang juga merupakan: arane tetuwuhan sing godhonge nggateli (Mangunsuwito, 2013:586). Reaksi gerak dari orang yang terkena senthe, ter-lebih bika bersamaan dengan watu itu juga terkena rawe, adalah gerakan jempalitan lantaran terkena senthe dan rawe (jumpalitan solahe kadyo kesenthe-kerawe). Tersirat di dalam ungkapan ini adalah bahwa karakter gerak tari jaranan sentherewe adalah tarian yang lincah dan dinamis, seperti tingkah laku orang yang memakan sente dan terkena daun rawe.

Menurut Nur Rokhim berdasarkan sumber yang perlu diklarifikasikan ketepatannya, jaranan di Tulungagung mulai hadir pada tahun 1950-an, dan mulai pupuler sekitar satu dasawarsa berikutnya (1960-an). Pada mulanya di daerah ini terdapat dua varian jaranan, yaitu: (1) jaranan Jowo yang ber-kembang pada tahun 1949, dan (2) jaranan pegon yang menusul kemudian. Masing-masing memiliki ciri khas, baik pada gerak tari, kostum, properti maupun waditra pengiringnya. Atara medio 1960 s.d. akhir tahun 1970-an jaranan – sebagaiamana halnya kesenaian tardisonal Jawa lainnya – mengalami masa surut. Barulah pada tahun 1980-an minat manyarakat terhadap jaranan kembali menguat seiring dengan stabilitas politik dalam negari pasca tahun 1965. Pada era inil hadir varian baru pada jaranan di Tulungagung, yaitu jaranan sentgerewe.

Barangsur-angsur sanggar jaranan sentherewe meningkat jumlahnya, frekuensi pementasan dan minat warga terhadap jaranan juga meningkat, tidak terkecuali terhadap jaranan sentherewe. Bahkan popularitasnya mampu melampai varian-varian jaranan lain-nya, sehingga secara serempak lahir paguyuban-paguyuban jaranan sentherewe di penjuruh wilayah Tulungagung. Pada daerah lain, di Kota dan Kabupaten Kediri jaranan pegon lebih banyak diminati, dan di Trenggalek populer turonggo yakso. Namun pada satu dasarwarsa terakhir, jaranan senthere-we menguat di kawasan Kediri Raya, baik di Kota dan Kabupeten Kediri, Kota dan Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung maupun Kabupaten Nganjuk. Gejala serupa juga terdapat di beberapa daerah pada wilayah propinsi Jawa Tengah, seperti di Kabupaten Klaten.

Paguyuban-paguyuban kesenian jaranan marak tumbuh di Tulungagung

Kehadiran Jaranan Sentherewe di daerah Tulungagung sejak tahun 1980, yang berarti merupakan varian baru dalam khasanah kesenian jaranan.

Kehadirannya kian memperkaya khasanah seni-budaya daerah ini. Mulanya jaranan sentherewe ditarikan oleh para seniman ludruk, sehingga dapat difahami bila geraknya diambil dari vokabuler gerak remo Jawa Timuran. Kostum dan kendanganya juga mirip tari remo. Bedanya terletak pada properti yang digunakan, yaitu jaran kepang dan pecut (cemeti).

Perkembangan selanjutnya, gerak tari jaranan sentherewe dipengaruhi oleh ragam gerak tari jaranan pegon dan jaranan Jowo. Bahkan akhirnya banyak kelompok jaranan pegon dan jaranan Jowo yang beralih kemasan menjadi jaranan sentherewe. Hal ini juga turut mewarnai bentuk kemasan jaranan sentherewe, dimana gerak tarinya merupakan perpaduan antara gerak tari remo, tari jaranan pegon, dan jaranan Jowo. Gerak tari jaranan sentherewe terlihat lebih dinamis, menyerupai gerak kuda atau pengendara kuda.

Kostum dan waditra pengiringnya pun mengalami perubahan, disesuaikan dengan perkembangan jaman dan menurut selera group kesenian bersangkutan, namun masih menunjukan karakter jaranan setherewe. Persebaran jaranan sentherewe tidak hanya di wilayah Tulungagung saja, namun kian merambah memasuki daerah Trenggalek, Kediri dan Blitar, serta da-lam skala terbatas hadir pula di daerah-daerah lain, baik di Jawa Timur ataupun Jawa Tengah.

Popularitas jaranan sentherewe didukung oleh beberapa faktor, antara lain lantaran sifatnya yang terbuka dalam menerima pengaruh anasir kesenian lain sebagai sarana pengembangan kesenian. Misalnya membuka diri bagi masuknya musik dangdut, campursari, fragmen kethoprak atau ludruk, yang sebenarnya berada di laur ranah kesenian jaranan pada era sebelumnya. Namun demikian, ber-kat kepiawian adaptif dan kehandalan melakukan mixing lintas unsur kesenian, menjadikan kemasan yang padu dari beragam unsur seni ke dalam tubuh jaranan sentherewe. Untuk itulah setiap anggota paguyuban diberi ruang untuk mengembangkan kreativitasnya demi kebaikan perjunjukan. Dengan perkataan lain, jaranan sentherewe bersifat luwes, dapat dipentaskan dimana dan kapan saja, baik di arena terbuka maupun di atas panggung, siang ataupun malam. Varian baru pada kesenian jaranan ini hadir secara inovatif, dengan kemasan sajian yang dinamis serta aktual, sehingga mampu merebut hati masyarakat untuk lebih menyukainya.

Perkembangan jaranan tidak lepas dari terbukanya kesenian ini pada pengaruh anasir-anasir kesenian lain

Aspek kemenarikan sajian mendapat porsi keutamaan, agar khalayak pemirsa terhibur oleh sajiannya, antara lain lewat sentuhan musik dangdut dalam pertunjukannya. Dalam hal ini terjadi saling isi antara pementasan jaranan dan sajian musik dangdut, yakni mementaskan jaranan sentherewe disertai dengan musik dangdut, sebaliknya mementaskan musik dangdut disertai dengan jaranan sentherewe.

Pada sisi lain, teknologi rekam (recording) dijadikan wahana untuk mendongkrak popularitasnya. Daya jangkaunya kepada khalayak kian diperluas, dimana masyarakat dapat menikmati pertunjukannya tanpa harus hadir langsung di arena pertunjukan dan dapat menontonnya kapan saja manakala menginginkan tanpat harus menunggu tibanya waktu pementasan, karena cukup lewat hasil rekaman pementasan dalam bentuk VCD yang beredar luas.

 

Adegan trance (ndadi) menjadi daya tarik tersendiri bagi khalayak penonton dan di sisi lain menjadi klangenan bagi penarinya. Pertunjukan jaranan sentherewe kurang lengkap rasanya bila tidak disertai adegan ndadi. Hal inilah yang merupakan unsur mitis dari jaranan sentherewe, yaitu manakala penari, nayaga ataupun penonton mengalami trance (ndadi), yang biasanya muncul jelang akhir tarian, ditandai oleh suara musik yang cenderung memuncak. Kepekaan masing-masing penari terhadap kondisi trance berlainan satu sama lain.

Pencapaian kondisi trance itu dirangsang oleh: (a) gerak tari yang kian cepat, (b) aluan musik monoton yang meningkat frekuensinya dan sedikit kacau, (c) suara keras yang memancing emosi kesadaran penari, (d) daya konsentrasi penari, (e) pengaruh mantra dari juru gambuh maupun pengaruh properti dan waditra tertentu yang diberi daya gaib lewat sotren.

Kondisi trance itulah yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para penonton, lantaran mengundang debaran hati dan sekaligus aspek kelucuan pada ulah pelaku trance dalam bentuk gerakan beringas dan tidak terkendali di luar kesadarannya, bahkan disertai dengan kekebalan dan ketidaklaziman dalam berperilaku.

Pemulihan kesadaran pelaku trance dilakukan oleh juru gambuh (penimbul), yang diposisikan sebagai sesepuh dalam kelompok kesenian jaranan. Penyadaran pelaku trance dilakukan dengan usapkan sapu tangan yang diberi asap dupa dan mantra-mantra ke wajahnya atau cukup dengan menepuk bahunya. Apabila cara ini tidak berhasil, juru gambuh mengambil properti yang dipergunakan oleh penari kemudian diletakkan diatas penari dan dicambuk beberapa kali sampai penari sadar. Cara lainnya dengan menidurkan penari di atas kendang dan kemudian diberi mantra-manta serta dicambuk dengan cemeti. Berbagai cara penyadaranyang dilakukan terhadap pelaku trance tersebut tergantung tingkat kekuatan trancenya. Semakin tinggi tingkat kekuatan semakin sulit cara penyadarannya yang musti ditempuh oleh juru gambuh.

Penari Celengan sedang beraksi

Gerak tari jaranan sentherewe bersifat dinamis, geraknya padat, gagah, lincah, dan berirama. Olah gerak dan adegan yang beragam, seperti adegan ndadi, adegan barongan, adegan celengan, dan adegan jaranan sendiri menjadikan penonton tidak bosan untuk melihatnya. Penari yang kebanyakan terdiri dari para muda juga menjadi alasan bagi kesenian ini untuk diminati, tak terkeculai oleh pemi-nat seni berusia muda. Jaranan tidak lagi menjadi konsumsi geresi setengah benya keatas, namun segala usia. Oleh karena itu, tuntutan luwes dan dinamis adalah formula tepat untuk dilakukan oleh peraga dari kalangan remaja, dan pada sisi lain mempengaruhi gairah dan antusias masyarakat untuk menyaksikan pertunjukanya.

 

C. Sisialitas dan Aktualitas Jaranan Sentherewe

Sebagaimana halnya kesenian rakyat pada umumnya, jaranan sentherewe juga mengemban fungsi rekreatif, yakni sebagai media hiburan bagi masyarakat (Soedarsono, 1976:96). Untuk kepentingan itu, kemasan sajiannya mengedepankan aspek hiburan atau tontonan (performing art).

Selera masyarakat masa kini, yang kuat dipengaruhi oleh budaya pop, dijadikan bahan pertimbangan untuk mengemas pementasan jaranan sentherewe agar dapat menjadi wahana pemenuh kebutuhan dan kepuasan publik, yakni dengan menambah menu sajian kreatif dalam pertunjukannya, seperti tari kreasi baru, lawak (dagelan), dramatisasi pendek semisal adegan kethoprak atau ludruk, tembang populer dengan musik campursari, dsb.

Aspek kreatif tersebut acap dijadikan ‘brand image’ pada nama paguyuban, semisal nama ‘Seni Jaranan Dangdut Kreasi’. Bahkan, tidak jarang penari, pelawak atau pemain sajian pemerkaya itu diambil dari artis terkenal di luar paguyuban bersangkutan sebagai bintang tamu. Selain itu jaranan sentherewe menyandang fungsi sosial, yakni sebagai sarana pergaulan atau ajang silaturahmi antar warga masyarakat dan seniman untuk memperkokoh tali persaudaraan.

Jangkauan komunikasi masyarakat dan seniman diperluas dengan memanfaatkan media elek-tronik, seperti TV dan Video. Teknologi rekam (recording) dijadikan wahana untuk mendongkrak popularitasnya. Daya jangkaunya kepada khalayak kian diperluas, dimana masyarakat dapat menik-mati pertunjukannya tanpa harus hadir langsung di arena pertunjukan dan dapat menontonnya kapan saja manakala menginginkan tanpat harus menunggu tibanya waktu pementasan, karena cukup lewat hasil rekaman pementasan dalam bentuk VCD yang bererdar luas. Maraknya produk hiburan yang dikemas dalam bentuk VCD dan DVD, yang dijual luas dengan harga murah, berpengaruh besar terhadap perkembangan dan popularitas jaranan sentherewe.

Adegan yang paling ditunggu khalayak penonton tentu saat adegan ‘ndadi’ atau trance yang menimbulkan kegaduhan bahkan juga kelucuan

Demikianlah, kesenian rakyat yang semula amatiran dengan arena pementasan di halaman rumah warga dan menyatu dengan masyarakat, kini berajak menjadi dunia usaha kesenian profesional yang bergerak ke dapur rekaman serta ke panggung, gedung dan arena pertunjukan tertentu. Aspek kemenarikan sajian mendapat porsi keutamakan, agar khalayak pemirsa terhibur oleh sajiannya, antara lain lewat sentuhan musik dangdut dalam pertunjukannya. Dalam hal ini terjadi saling isi antara pementasan jaranan dan sajian musik dangdut, yakni mementaskan jaranan sentherewe disertai dengan musik dangdut, sebaliknya mementaskan musik dangdut disertai dengan jaranan sentherewe.

Kendatipun aspek keluwesan dan keterbuaan terhadap pengaruh luar ada dalam diri jaranan sentherewe, namun upaya pengembangan tersebut hendaknya tetap mengindahkan pendekatan konsep yang tepat. Prendekatan demikian lebih menguntungkan bagi perkembangan jaranan sentherewe ke depan.

Pengayaan terhadap kemasan sajiannya perlu dirangkai dalam satu format pertunjukan yang menampakkan sebuah struktur dinamika yang lebih bervariatif, namun dalam setiap perkembangan mengedepankan pendekatan nilai yang ada pada jaranan sentherewe, seperti tetap berpijak pada rasa joged senterewe.

Bila ada perwujudan baru yang tidak berpijak pada bentuk/jenis yang ada atau ada upaya mempola seni jaranan dengan cara memadukan berbagai nuansa yang menjadi nuansa baru, sebaiknya diberi identitas yang baru juga. Demikian pula, apabila ada keinginan untuk mewujudkan tari jaranan yang mengambil dari keragaman tari ngremo, mungkin juga sangat baik bila diberi nama sendiri menjadi sebuah wuijud tari jaranan yang spesifik pula, misalnya diberi nama kiprah jaranan.

PATEMBAYAN CITRALEKHA
Malang, 24 Oktober 2015

Total
2
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*