“DUA WAJAH” PRAU TAMBANGAN DALAM SEJARAH JAWA: ANTARA TRAGEDI DAN MANFAAT

A. Nahas Pangkal Hari Tambangan Serbo

Hari masih terbilang pagi (sekitar pukul tujuh), manakala para ‘pelaju’ tengah menuju ke daerah seberang untuk menjalankan aktifitasnya. Ya ….., ‘ke daerah seberang’, karena daerah padamana aktifitasnya hendak dijalankan memang berada di seberang sungai – tepatnya di seberang sungai besar (bengawan), yakni Kali Surabaya atau Kali Mas (lebar : 30 meter) – bisa juga dinamai ‘Kali Kancana’ menurut sebutan yang lebih arkhais di dalam Prasasti Gedangan (Kancana atau Bungur Lor) bertarikh 950 Masehi. Menurut keterangan Prasasti Kamalagyan (959 Saka = 1037 Masehi), kali ini adalah salah sebuah dari tiga percabangan Bangawan Brantas terhitung dari alirannya di Waringinsapta.

Sebagaimana biasa, perjalanan menuju ke tempat seberang ditempuhi dengan mengendarai perahu penyebarang (prau tambangan). Namun pagi itu, Kamis tanggal 13 April 2017, adalah ‘saat nahas’ bagi 10 orang penumpang dan dua orang operator penyeberang (tukang tambang). Lataran bentang kawat sling antar seberang sungai yang menjadi ‘tautan penguat’ bagi perahu agar tidak terbawa hanyut mengalami putus tali akibat memuat beban terlalu berat, maka posisi perahu mengalami kemiringan dan kemudian terguling. Seluruh muatannya (12 orang, 7 buah sepeda motor) melorot tenggelam ke dalam sungai, yang padahal tinggal berjarak 7-8 meter dari dermaga sungai di Desa Sumberame. Celakanya, kala itu Kali Mas tengah beraliran deras dan berair sangat keruh di musim penghujan.

Pada pangkal hari itu, panambangan kuno yang diberitakan dalam Prasasti Canggu (7 Juli 1358), yakni Serba (sekarang ‘Dusun Serbo’), yang menghubungkan Dusun Serbo RT 05 RW 03 Desa Bogem Pinggir di Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo dengan Sumberame di Kecamatan Wringin Anom Kabupaten Gresik digegerkan oleh ‘tragedi prau tambang’. Tragedi demikian sebenarnya bukan kali pertama terjadi di Kali Mas dan sungai-sungai lainnya, yang di titik-titik tertentunya dilengkapi dengan prau tambang guna menghubungkan antar seberang. Beberapa tahun lalu, tragedi serupa terjadi di Tambangan Karah, yang antara lain menewaskan sejumlah pelajar.

Tragedi di Tambangan Serbo kali ini hanya menyisakan enam orang selamat, selebihnya (7 orang, yaitu 6 orang penumpang dan seorang yang berupaya menolong korban) meninggal, menenggelamkan 7 sepeda motor serta barang bawaan. Sebuah tragedi yang tidak cukup untuk sekedar disikapi dengan ‘memang sudah nasibnya’, namun jauh lebih bijak daripada itu perlu dijadikan bahan telaah mendalam untuk mengevaluasi jaminan keselamatan dan merevitalisasi prau tambangan, yang di satu sisi berpotensi timbulkan ‘tragedi’ apabila dibiarkan sebagaimana kondisinya sekarang dan sebaliknya pada sisi lain memberi ‘kemanfaatan’ bagi publik.

Aparat bahu membahu mengupayakan evakuasi korban tenggelam

Walaupun tragedi demi tragedi prau tambangan berulang terjadi, namun tidak menyurutkan para pengguna untuk memanfaatkannya, sebab apabila penyeberangannya dilakukan dengan melewati jembatan penyeberang terdekat musti menempuh jarak yang jauh lebih panjang dan tentu lebih memakan waktu. Perjalanannya melintas dengan memanfaatan prau tambangan dengan demikian lebih efisien jarak, waktu dan tidak berbiaya besar, meski mereka tahu bahwa ini adalah perjalanan ‘yang beresiko’. Sementara pada sisi lain, pemeritah setempat tak mampu menyediakan sejumlah banyak jembatan penyeberang sungai besar yang penghubung antar daerah yang wilayahnya diiris oleh aliran sungai, karena tentu membutuhkan biaya yang amat besar.

 

B. Prau Tambangan dalam Sejarah Jawa

Prau tambangan di Jawa telah meniti perjalanan sejarah panjang. Informasi tekstual tertua yang memberitakannya adalah Prasasti Telang I dan II (825 Saka = 7 Januari 904), yang ditemukan di daerah Wonogiri. Prasasti yang ditulis atas perintah Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmmodaya Mahasambhu (899-911 Masehi) ini memuat pokok isi tentang penetapan wanua (desa) Mahe, Tlang dan Paparahuan sebagai perdikan (swatantra, sima) berkenaan penyeberangan sungai.
Pembangunan kompleks penyeberagan di Paparahuan itu untuk menjalankan nazar seorang raja yang memerintah sebelumnya, yaitu Haji Dewata Sang Lumah ing Satasrengga. Yang ditunjuk sebagai pelaksana pembangunan adalah Rakai Wlar pu Sudarsana.

Tempat penyebarangan sungai dilengkapi dengan tambatan perahu, tempat penjagaan, 2 buah perahu dan dua buah perahu lainnya sebagai cadangan. Adanya tempat penjagaan memberi gambaran mengenai kesiagaan terhadap kemungkinan buruk yang bisa terjadi, misalnya kecelakaan penyeberangan. Ketiga wanua sima itu memberikan persetujuan terhadap pembangunan tempat penyeberangan dan ksediaannya untuk memberikan imbalan kepada petugas penyebarangan dari hasil pajaknya sebayak 9 masa emas tiap tahun atas jasanya setiap hari melayani orang-orang yang melewati jalan itu (penyeberangan sungai) tanpa pungutan.

Salah satu wanua sima tersebut bernama ‘Paparahuan’, yang berkata dasar ‘parahu (perahu)’. Bisa jadi tempat penyeberangan itu berada di Desa Praon, yang terletak di Sub-DAS Hulu Bengawan Solo – kini pada areal genangan Waduk Gajah Mungkur. Toponimi ‘Paparahuan’ maupun ‘Praon’ memberi petunjuk tentang telah adanya sarana penyebarangan Bangawan Solo yang memakai alat transportasi berupa perahu. Dalam prasasti ini belum didapati sebutan ‘panambangan’ bagi tempat dan sarana penghubung atar daerah seberang. Sebutan ini baru didapati di dalam prasasti-prasasti yang lebih muda, utamanya prasasti Masa Majapahit.

Kata jadian ‘panambangan’, yang berkata dasar ‘tambang (tali, kendali, tambang)’, dalam konteks ini menunjuk kepada seutas tali besar dan panjang yang direntangkan antar seberang sebagai ‘tautan penguat’ bagi jalannya perahu ketika memotong aliran sungai, sehingga terjaga dari kenungkinan terbawa hanyut. Tambang digunakan pula sebagai ‘perangkat penarik perahu’, ditarik bergantian dengan kedua tangan operator perahu penyeberang (tukang tambang). Dengan demikian, tambang adalah perangkat penting bagi sarana penyeberang sungai, sehingga bisa difahami bila kata ‘tambang’ dijadikan unsur penyebutannya.

Dalam “Kamus Bahasa Jawa Kuna, kata jadian ‘(m)anambangi’ dapat diartikan: menambangkan, kepala tambangan/perahu tambang, pengawas tambangan/perahu tambang; adapun nomina (kata benda) ‘tambangan’ menunjuk pada perahu tambang, tambangan, ongkos tambangan (Zoetmulder, 1995:1191). Istilah ini telah tercantum dalam Susastra Adiparwa (61 dan 62), kumpulan prasasti berbahasa Kawi oleh Cohen Sturat (1875, 2.4a.3), kumpulan prasasti dalam OJO 46.ro 18 dan OJO 58.vo 5 (Brandes, 1913), Prasasti Trowulan I (Canggu) 3.vo 4 maupun teks prasasti pada TBG 65. 231f.Ib.8. Demikian pula, di dalam “Kamus Bahasa Jawa Baru’, istilah ‘panambangan’ diartikan sebagai papan atau perahu untuk menambangkan. Serupa arti dengan itu, pada “Kamus Besar Ba-hasa Indonesia (KBBI)”, panambangan merupakan nomina, yang memiliki tiga kemungkinan arti, yaitu: (1) sampan (perahu, dsb.) untuk menyeberangkan orang, (2) perahu tambang, dan (3) tempat menyeberangkan orang dengan perahu tambang.

Informasi panambangan yang paling rinci diperoleh dalam Prasasti Canggu, atau dengan sebutan asing ‘Ferry Charter’ bertarikh Saka 1280 (1358 Masehi). Tak tanggung-tanggung, prasasti yang disurat atas perintah Hayam Wuruk (Rajasanagara) dibawah pengawasan perintah Sri Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwarddhani ini menyebut puluhan desa pada dua aliran sungai besar (bangawan, nadi), yakni 44 thani (desa) pada aliran Bangawan Solo dan 34 thani pada Bangawan Brantas beserta percabangan dan anak-anak sungainya yang ditetapkan sebagai ‘desa perdikan (sima thani). Jumlah desa-desa perdikan itu, utamanya pada Bangawan Brantas, akan menjadi lebih banyak lagi apabila lempeng IV berhasil diketemukan, yang tentu mencakupi daerah dari hulu hingga hilir.

Deretan desa (pradesa) di sepanjang tepi dua bangawan (naditira) itu, yang diistilahi dengan ‘naditirapradesa’, mendapat anugerah status istimewa (sima, swatantra) berkat jasanya dalam penyeberangan sungai (panambangan). Informasi ini menjadi petunjuk bahwa pemerintah Mahapahit menaruh perhatian serius terhadap sarana dan prasarana transpotasi sungai. Oleh sebab, Jawa Timur – sebagai wilayah utama Kerajaan Majapahit – dibelah oleh dua buah sungai besar dan amat panjang (519 Km aliran Bangawan Solo, dan 340 Km aliran Bangawan Brantas), sehingga hubungan antar daerah dalam rangka integrasi wilayah kekuasaan, kesatuan sosial-budaya dan relasi ekonomik perlu ditopang oleh berpuluh-puluh panambangan. Dengan demikian, transporasi di kedua bangawan itu bukan hanya menghilir-memudik atau sebaliknya, namun juga antar seberang.

Keberadaan panambangan itu bukan berarti bahwa pada Masa Hindu-Buddha belum ada jembatan penyebarang sungai. Hanya saja, jembatan bambu atau kayu yang telah ada belum memungkinkan untuk dilintaskan pada sungai yang amat lebar (bangawan dan anak bangawan), terlebih lagi pada masa lampau batang alir sungai-sungai di Jawa jauh lebih lebar daripada batang alirnya sekarang. Selain itu, telah muncul kesadaran bahwasanya penyebarangan sungai besar dengan mempergunakan perahu memuat penumpang orang dan barang ‘bukanlah tanpa resiko’. Oleh karena itu, di dalam Prasasti Canggu dicantumkan secara eksplisit (tertulis) mengenai ketentuan-ketentuan – baik bagi petugas peneyebarang maupun penumpuang — menghadapi kemungikinan terjadinya kecelakaan. Dengan demikian, tergambar ‘tindak antisiatif’ terhadap resiko buruk dalam penyebarangan sungai dengan menggunakan prau tambangan, termasuk kemungkinan klaim hukum atas kejadian tersebut.

Ketentuan hukum tersebut disuratkan pada lempeng VIII, antara lain: (a) bila seorang perempuan jatuh karam ke dalam air, walau bagaimanapun kedudukannya, diperbolehkan tukang tambang memegang tubuhnya untuk dibawanya ke seberang, dan perbuatannya ini tidak dimasukkan dalam perbuatan tak senonoh; (b) bila penyeberang belum melunasi hutangnya, maka diharuskan mereka menjaminkan tubuhnya, dan jika perbuatan tersebut mengakibatkan aniaya, maka perlakuan itu menjadi ganti penyeberangan dan perbuatan dari tukang tambang yang demikian tak dimasukkan sebagai kejahatan; (c) bila suatu ketika dalam penyeberangan barang jualan penumpang jatuh ke dalam air, maka tukang tambang tidak bertanggung jawab atas kejadian itu, ia tak berkewajiban membayar barang yang hilang. Ketentuan-ketentuan lainnya tidak diketahui, lantaran lempang IX belum diketemukan.

Kecanggihan teknologi transportasi air tersebut berlanjut hingga pasca Hindu-Buddha, bahkan di beberapa tempat di pedalaman dan pesisiran Jawa masih didapati adanya prau tambangan hingga kini, dengan teknik yang tidak terlampau berbeda dengan keberadaannya di masa lampau. Hal ini menjadi petunjuk bahwa kontribusi fungsi prau tambangan melintas masa. Jumlah jembatan yang ada belumlah cukup untuk ‘menyingkirkan’ keberadaan berpuluh bahkan beratus prau tambangan yang kini masih ada. Kalaupun kini terdapat perahu yang ukurannya lebih besar, dibuat dari bahan logam – sebagai pengganti kayu dan papan serta tenaga dorongnya dibantu dengan mesin sehingga mampu untuk menyebarangkan beberapa mobil dalam sekali jalan, namun prisip kerjanya relatif sama. Tambang, yang dahulu menjadi perangkat penting dalam prau tambangan, kini banyak yang digantikan dengan kawat sling, yang dikalkulasi lebih kokoh, namun tanpa disertai penggantian penyebutan menjadi ‘prau sling’. Kendati sekuat apapun kawat sling dalam menahan beban perahu dan derasnya aliran sungai serta mendapat gesekan berulang kali dengan besi kolong – tersambang rantai pengikat perahu, maka lambat laun mengalami ‘putus tali’, yang mengakibatkan terjadinya ‘tragedi prau tambangan’ sebagaimana baru-baru ini terjadi di Tambangan Serbo.

 

C. Tambangan Serbo, Jejak Tertinggal Panambangan Masa Majapahit

Salah satu wanua sima panambangan yang disebut dalam Prasasti Canggu, terpatnya di lempeng V baris ke-3, adalah Serba, yang disebut berturut dengan wanua~wanua sima panambangan lain di dekatnya:
“ i serba, i waringin pitu, i lagada, i pamotan,
i tulangan, i panumbangan, i jruk, I trung,
i kambangan śrī, i tda, i gsang, i …..’.
Sangat mungkin sima thani Sarba berada di Kabupaten Sidoarjo, tepatnya di Kecamatan Balungbendo, mengingat bahwa Waringinpitu kini masih dikenal, menjadi Desa ‘Bakalan Wringinpitu’, yang juga di wilayah Kecamatan Balungbendo. Pamotan bisa dilokasikan di Pamotan Kecamatan Porong. Tulangan masih bernama ‘Tulangan’ Kecamatan Tulangan. Panumbangan kini bernama ‘Penambangan’ di Kecamatan Balungbendo. Jeruk menjadi Jeruk Legi di Kecamatan Balungbendo. Trung kini menjadi ‘Terung Wetan dan Kulon’ di Kecamatan Krian. Kambangsri kini menjadi Desa Bangsri di Kecamatan Sukodono.

Bila benar pelokasian diatas, tergambar bahwa desa-desa sima panambangan itu berada di wilayah Kecamatan Balungbendo, Tulangan, Krian, Sukodono, Porong, dan seterusnya hingga ke wilayah Surabaya. Dalam wilayah Kecamatan Balungbendo, tepatnya di Desa Bogem Pinggir, dijumpai dusun bernama ‘Serbo’, padamana terdapat suatu tambangan yang menghubungkan Serbo dan Desa Sumberame di Kecamatan Wringin Anom Kabupaten Gresik. Dengan demikian, cukuplah alasan untuk melokasikan sima thani panambangan Serba itu dengannya. Berarti tambangan Serbo merupakan jejak kelampuan yang masih tertinggal mengenai tempat penyeberangan sungai Masa Keemasan Majapahit. Salah satu indikator desa panambangan kuno adalah adanya pasar, karena panambangan sekaligus merupakan bandar (pelabuhan sungai), yang konon menjadi ‘sentra perekonomian lokal’, lantaran merupakan tempat yang cukup ramai.

Pasar ternyata juga kedapatan dekat dengan Tambangan Serbo, yang sangat boleh jadi merupakan pasar kuno yang masih eksis hingga sekarang, yang oleh warga sekitar disebut ‘Pasar Surungan’. Lokasi pasar terbilang dekat dengan Perempatan Bakalan. Salah satu pecabangan jalan ini, yakni yang arah barat, menuju ke lokasi Pasar Surungan dan seterusnya menuju ke Tambangan Serbo. Toponimi ‘Bakalan’, yang terbentuk dari ‘bakal-an’, menjadi petunjuk bahwa tentunya tempat ini adalah ‘perintis (bakal)’. Atau dengan perkataan lain, merupakan desa tua. Petanda ketuaannya juga tergambar oleh adanya bangunan-bangunan kuno, antara lain sejumlah rumah-toko dari warga etnik Tiong-Hoa yang bergaya seni bangun Indis di sekitar Perempatan Bakalan. Jelaslah bahwa Tambangan Serbo, Pasar Surungan dan sejumlah bangungan tua bergaya Indis pada Perempat Bakalan memiliki potensi untuk dimasukkan ke dalam Cagar Budaya (CB).

 

D. Evaluasi Kelayakan dan Revitalisasi Fungsi Prau Tambangan

Sebagai alat transportasi sungai yang menyejarah, yang telah digunakan lintas masa, tidak sedikit prau tambangan yang ada merupakan perahu lama, yang kini terbilang ‘beresiko (riskan)’ bagi terjadinya kecelakaan. Perahu kayu atau papan tersebut ada yang bocor atau terkena rembesan air pada beberapa bagian tubuh perahu, sehingga perlu disertai dengan ‘pengurasan’ ketika melintas sungai. Begitu pula, tambang atau kawat sling-nya tidak sedikit yang ‘telah aus’, sehingga rawan putus, utamayna ketika mengangkut beban terlampau berat dan aliran sungai yang deras di musim penghujan. Bentuk perahu, tidak terkecuali pada perahu logam (lembar seng) ukuran besar, belum melalui ‘uji keseimbangan’ dalam mengangkut bebeban berat di atasnya, sehingga dapat terbalik ketika memotong arus desas sungai. Kendati besar ukurannya, namun lantaran bahan perahu dari lembar-lembar seng, maka tidak seberat dan seimbang pada perahu yang berbahan kayu. Kondisi kerawanan yang demikian sejauh ini belum menjadi ‘keterperiksaan’ – baik oleh pemilik perahu itu sendiri atau pihak lain yang memiliki kepiawaian dalam teknologi perahu. Bila pun kondisinya tidak layak pakai, namun pihak pemilik perahu tidak memiliki cukup dana untuk bisa mengganti dengan perahu baru. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin terdapat sejumlah prau tambangan yang kini asal dioperasikan tanpa disertai ‘jaminan layak jalan’. Padahal pada sisi lain. tak sedikit warga masyarakat yang hingga sejauh ini masih menggantungkan mobilitasnya kepada prau tambangan.

Menghadapi kondisinya yang demikian, maka tiba saatnya dilakukan dua hal, yaitu: (1) evaluasi keamanan dan kelayakan jalan prau tambangan, (2) revitalisasi fungsi prau tambangan sebelum keberadaannya dapat digantikan oleh jembatan-jembatan penyeberang sungai.

Upaya pencarian korban tenggelam

Kedua upaya ini musti melibatkan lintas pihak, yakni pihak operator prau tambangan, Departemen Perhubungan, Polisi Lalu Lintas, akademisi yang berkompeten di dalam bidang Perkapalan dan Sosio-Budaya.

‘Kehadiran Negara’ jelas diperlukan, mengingat tidak mungkin hanya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak operator prau tambangan. Terlebih prau tambangan merupakan ‘alat transportasi publik’ yang beresiko tinggi karena harus melintasi sungai yang dalam dan pada waktu-waktu tertentu berarus deras. Pada sisi lain, tidak bijak untuk ‘merebut hak operator’ perahu tambangan dari operator awalnya, sebab pengopersiannya diperoleh secara turun-temurun dari garis keluarga, yang konon menjadi pihak swasta perintis usaha jasa penyeberangan.

Demikianlah, solusi bijak atas tragedi prau tambangan itu ‘TIDAK MUSTI DENGAN MENUTUP TOTAL” aset tambangan yang telah ada. Bagaimanapun juga, prau tambangan merupakan solusi murah, efisien dan berdayaguna bagi hubungan transportatif antara seberang. Terlebih lagi, keberadaannya tidak serta merta tergantikan oleh jembatan penyeberang, yang tentu membutuhkan biaya tinggi untuk pembangunannya. Apabila suatu waktu terjadi musibah atas penyeberangannya, maka musti dicari akar permasalahnya dengan melakukan evaluasi atas kelaikan jalan prau tambangan bersangkutan.

Simultan dengan itu perlu pula dilakukan peremajaan atau malahan penggantian dengan perahu baru, utamanya terhadap prau tambangan yang kini telah lewat usia (usang). Selain itu dilakukan revitalisasi atas fungsi pokoknya sebagai prasarana publik penyeberangan sungai. Bahkan, bukan tidak mungkin prau tambangan yang telah dikemas baik dapat dijadikan sebagai ‘perahu wisata’, baik wisata air maupun wisata heritage. Melenyapkan ‘tambangan tua’, utamanya yang masuk ke dalam kategori ‘heritage’, sama halnya dengan menyirnakan warisan budaya bangsa.

Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dan difaedahkan dari suatu musibah (tragedi). Salam budaya ‘Nusantarajayati’. Nuwun.

 

Oleh : M. Dwi Cahyono dan Prigi Arisandi

 

PATEMBAYAN CITRALEKHA
Sengkaling, 16 Aplil 2017

Total
1
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*