INVESTIGASI KEPARAHAN CAGAR BUDAYA KORIDOR IJEN

UNDANG KESERTAAN
Dalam rangka “Hari Heritage Internasional”

INVESTIGASI KEPARAHAN CAGAR BUDAYA KORIDOR IJEN

Bagi warga Malang ataupun masyarakat Luar Malang, Koridor Ijen ~ mulai perempatan Bareng (Jl. Kawi) di pangkal selatan hingga perempatan (lonceng) Jl. Bandung ~ seolah menjadi “barometer” kelestarian atau sebaliknya ketidaklestarian BCB di Kota Malang.

Oleh karena itu, BCB di Koridor Ijen yang sekaligus merupakan “Ikon Utama” dari Kota Malang itu semestinya menjadi prioritas bagi pelestarian dan pemanfaatan bijaknya. Namun, kenyataan justru menunjukkan bahwa deretan rumah tinggal “tipe vila” beserta taman pembelah jalan dan trotoar lebar pengapit jalan yang diteduhi oleh deretan palem raja dan pepohonan besar lain kawasan elit “Bergenbuurt” yang di bangun pada tahap ke~5 dan 7 bouwplan delapan tahap Thomas Karsten itu “telah lama sakit”.

Alih kepemilikan dan pengubahan bentuk arsitektural, yang beberapa diantaranya disertai dengan alih fungsi, sesungguhnya berlangsung cukup lama, utamanya sejak tahun 1990-an dan kian menjadi-jadi ke masa selanjutnya hingga sekarang. Bukan hanya meninggikan pagar, mengganti genting dan tegel, menambah atau mengganti teras, namun acap disertai dengan “renovasi kebablasan” bahkan tidak sedikit yang dirobohkan kemudian diganti dengan bangunan baru yang beda bentuk, beda ukuran maupun ketinggiannya. Dengan dalih belum resmi ditetapkan sebagai BCB dan telah mengantongi IMB sebagai legalitas bagi pembangunannya, tanpa mengindahkan ketentuan di dalam UU Cagar Budaya, satu persatu BCB di Koridor Ijen dirusak keasliannya, bahkan dimusnahkan wujud lamanya.

Ibarat penyakit, BCB di Koridor Ijen mengalami “sakit parah” ~ dari sudut pandang kelestarian. Ironisnya, vandalisme terhadap jejak peradaban dari Era Akhir Hindia~Belanda itu, yang nota bene milik “Para Raksasa (orang-orang kuat secara politis, ekonomik dan posisi sosial)” itu, seolah mengalami “pembiaran”, dan malahan mendapat legalitas lewat pemberian IMB. Walhasil, derita kelestariannya kian parah. Walau petaka ini terpampang di pelupuk mata, namun sayang sejauh ini kita belum memiliki data base yang aktual, rinci dan akurat mengenai kondisi arsitekturalnya, yang dapat dijadikan indikator untuk memperingkatkan kelestarian atau sebaliknya ketidaklestariannya. Celakanya, Pemkot Malang tidak berbuat nyata untuk secara “tegas dan berani ” menghentikan tindak perusakan/penghancuran ke~heritage~kannya.

Senyampang hari ini, Rabu 18 April 2027, tiba “International Heritage Day (Hari Pusaka Internasional)”, kami ~ TACB Kota Malang beserta lintas komunitas atapun persona peduli~pecinta sejarah dan budaya ~ pada Alfa hari Minggu 23 April 2017 menyelenggarakan “Investigasi terhadap keparahan BCB di Koridor Ijen”.

Tentu, upaya yang hanya mencermati dari tampak luar terhadap tingkat kelestarian atau sebaliknya kerusakan/kepunahan keaslian arsitekturalnya ini baru “tahap perintisan”, yang belum merupakan riset akurat dan rinci, yang diawaki oleh para pakar terkait.

Kegiatan yang akan dilakukan masih setingkat dokumentasi awal dan identifikasi tentang tingkat kerusakan/kepunahan wujud lamanya. Yang utama, ingin kami hembuskan “spirit pelestarian”, yang semoga bisa membuka kejelian, kesadaran sejarah, rasa penghargaan terhadap warisan budaya bagi warga Malang, khususnya untuk membangunkan Pemkot Malang dari tidur panjangnya dalam hal keberanian untuk bertindak tegas terhadap vandalis BCB di Koridor Ijen, yang semestinya setegas dan seberani ketika menggusur paksa Pasar Tampung Dinoyo.

Kami undang para sahabat pelestari jejak luhur peradaban masa lalu, siapapun itu, untuk turut terlibat aktif dalam kegiatan ini. Mahasiswa , dosen dan alumni Ilmu Arsitektur, Planologi. Tenik Sipil, Arkeologi, Sejarah dan disiplin ilmu terkait, sangat kami harap kesertaannya.

Semoga. kegiatan ini menjadi kontribusi kita bersama tethadap pelestarian, pembermaknaan dan pemanfaatan bijak BCB di Kota Malang.. Salam.budaya “Malangjayati”. Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA.
Sengkaling, 18 April 2017.

Total
10
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*