0
26 shares

Kontemplasi “Hari Kartini’

TELOR DIANTARA DUA WANITA :
Citra Kepribadian Wanita dalam Adiparwa Mahabharatta

Raden Ajeng Kartini, wanita ningrat Jawa abad IX

Menelisik sosok R.A. Kartini, tercitrakan Perempuan Jawa kalangan bangsawan di penghujung abad XIX. Citra dirinya adalah citra wanita pada masanya. Sesungguhnya, masing-masing lapis jaman hadirkan citra perempuannya sendiri-sendiri.

Untuk masa Hindu-Buddha misalnya, citra wanita Jawa Kuna antara lain tergambar di dalam diri dua tokoh perempuan yang dikisahkan oleh Adiparwa (parwa perdana dari Wiracarita Mahabharatta), yakni Dewi Winara dan Dewi Kadru. Terhadap citra dirinya, telisik bisa dilakukan terhadap bagaimana keduanya mengelola telor (tlu) yang tengah ‘dierami’, yang mereka harapkan bakal tetaskan keturunan baginya. Memang, bagi wanita, telor adalah hal yang amat penting. Kepadanya lah keturunan darinya dibergantungkan, sehingga pengelolaan terhadap telor dilaksanakan dengan seksama, karena menjadi penentu bagi keberlanjutan generasinya.

 

A. Proses dan Makna Penetasan Telor oleh Kadru dan Winata
1. Sinopsis Kisah Penetasan Telor diantara Dua Orang Wanita

Ganjil kedengarannya. Bagimana bisa dua perempuan mengerami dan menetasi telor. Ya, itulah yang justrus menjadi ‘unikum’ Adiparwa dalam menggambarkan proses kelahiran binatang jenis reptil dan unggas dengan perantaraan manusia. Kenapa tidak mengandung dan lantas melahirkan jabang bayi?, sebab keduanya mandul, tak memungkinkan untuk bisa mengandung. Oleh karena itu, terdorong oleh keinginan kuat untuk mendapatkan momongan (keturunan), maka keduanya menghadap suami, yani Bhagawan Kasyapa yang telah berusia tua, untuk diberinya keturunan.

Menghadapi keinginan dan permohonan kedua istrinya yang mandul dan usia dirinya yang telah menua itu, solusinya adalah dengan memberinya telor untuk dierami dan ditetaskan agar mereka kelak memiliki keturunan. Maka, kepadanya ditanyakan berapa butir telor yang dikehandakinya. Bagi Winata, tidak perlu telor dalam jumlah sangat banyak. Meskipun sedikit, yang utama adalah kualitasnya. Oleh karena itu, hanya meminta tiga butir telor. Lain halnya dengan Kadru, baginya keunggulan terletak pada jumlah yang banyak, sehingga dia meminta seratus butir telor. Berapa pun butir telor yang dimintainya, Kasyapa meluluskannya, sembari berpesan ‘telor-telor itu bakal menetas pada watunya (titi wancine netes), yakni hari ke-21’, sebagimana lazim usia tetas telor.

Hari demi hari dilewati oleh Winata dan Kadru dalam pengeraman, disertai dengan angan kuat bahwa mereka bakal memiliki anak keturunan dari telor-telornya yang menetas kelak. Didorong oleh keinginan yang demikan kuat untuk segera mempunyai keturunan, pada hari ke-7, Winata mengambil sebuah dari tiga telornya untuk dipecah. Lantaran belum tiba waktu tetas, maka dari dalamnya hanya mengeluarkan ‘kilatan cahaya (thathit)’. Yang ada di dalam telor tersebut barulah ruh, belum terbentuk badan wadagnya. Pada hari ke-2 x 7 (hari ke-14), telor kedua pun diambil, dan kemudian dipecahinya. Kali ini, dari dalam telor itu memang telah terbentuk badan wadag. Namun, lantaran belum matang usia, maka wadag yang terbentuk barulah separoh tubuh bagian atas. Jabang bayi yang ‘menetas prematur’ lantaran ketidak sabaran ibunya itu pun marah, bahkan meruahkan kutukkan (sapata) kepada Winata. “semoga kelak bunda diperbudak oleh orang lain’. Menyesallah Winata, namun telor telah terlanjur pecah dan tak mungkin untuk diutuhkan kembali. Menyikapi dua kegagalan terdahulu, maka terhadap telor ketiganya ditunggui tiba hari ke-3 x 7 (hari ke-21). Benarlah kata Bhagawan Kasyapa, tanpa dipecah pun, apabila telah tiba watu untuk menetas, telor bakal pecah dengan sendirinya dan dari dalamnya keluar jabang bayi yang sempurna. Dari dalam telor yang ke-3 ini lahirlah jabang bayi dalam wujud antrophomorfis, yakni manusia setengah burung, yang diberinya nama ‘Garudeya’.

Garudeya, perwujudan manusia setengah burung

Berbeda dengan Winata, Kadru yang mengerami 100 butir telor dengan sabar menunggu tibanya waktu bagi telor-telonya untuk menetas dengan sendirinya. Benar, tepat di hari ke-21, satu per satu telornya menetas, melahirkan seratus ekor ular dengan badan wadag yang sempurna lantaran telah matang usia di dalam kandungan telor. Wal hasil, Winata hanya memiliki seorang keturunan (anak tunggal atau ontang-anting) yang lahir lengkap (pepak) – dalam keyakinan masyarakat Jawa, anak antang-anting perlu untuk ‘diruwat’. Sedangkan Kadru memiliki seratus orang anak, yang semua terlahir dengan sempurna. Demikianlah, takdir telah menggariskan keturunan bagi keduanya.

 

2. Psikologi Kepribadian di Balik Kisah Penetasan Telor

Winata dan Kadru adalah dua perempuan dari seorang suami, yang dalam Bahasa Jawa dinamai ‘maru (madu)’. Adalah hal yang jamak, antar maru terjadi kompetisi. Seorang istri ingin melebih istri lainnya. Kompetisi demikian dalam kisah itu, tidak terkecuali tergambarkan pada keturunan darinya, yakni mempunyai keturunan yang lebih unggul dari keturunan istri lainnya. Bagi Winata, keunggulan itu diposisikan pada mutu, yakni sanak keturunan yang berkualitas. Meskipun tidak banyak, namun berkualitas, sehingga ia hanya meminta tiga butir telor pada suaminya. Lain hal dengan Kadru, banyak anak adalah barometer keunggulan, karena baginya kuantitas merupakan jaminan atas kekuatan diri, sehingga ia meminta seratus butir telor kepada Kasyapa, yang adalah suami dari keduanya.

Kompetisi juga tergambar pada keinginan untuk memiliki anak lebih awal dari yang lain. Winata yang berkeinginan memiliki anak lebih cepat daripada Kadru, tergoda untuk memecah telor pada hari ke-7 dan ke-14, yang ternyata tak membuahkan keturunan yang sempurna. Inilah yang oleh orang Jawa sekarang disebut ‘nggege mongso’, yakni mensegerakan (ngage-age = nggege) tiba waktu meski belum saatnya, dan yang demikian tak membuahkan kesempurnaan. Berbeda pada telornya yang ke-3, yang menetas sendiri pada batas waktu penetasan (hari ke-21), yang terbukti melahirkan jabang bayi berbentuk manusia setengah burung yang sempurna. Pada kasus telor ke-2, yang dipecahinya pada hari ke-14, memang di dalam telor tersebut telah terkandung ‘ruh’ dan terbentuk ‘badan wadag’, namun wadag itu belum sempurna, lantaran belum matang dalam usia. Bahkan, pada kasus telor pertama, yang dipecahinya pada hari ke-7, yang terdapat di dalam telor baru ‘ruh’ belaka. Demikianlah, dalam kurun waktu 21 hari, di dalam wiji dadi (telor) berangsur-angsur tercipta ruh yang menghidupi badan wadag makhuk hidup. Dalam hal ketelatenan, Kadru digambarkan lebih sabar atau tidak keburu nafsu apabila dibandingkan dengan Winata, dimana ia mampu menahan diri menunggu tiba waktu bagi telor-telornya menetas dengan sendirinya pada hari ke-21, dan terbukti melahirkan ular-ular dengan kombinasi ruh-wadag yang sempurna.

Keinginan yang telampau kuat, apabila tanpa kendali, bisa menggelincirkan orang kepada keburu nafsu atau kecerobohan, yang karenanya beresiko hadirnya ketidaksempurnaan. Keinginan yang demikian antara lain dipicu oleh persaingan (competition), kecemburuan (jeleousy), atau keinginan untuk melebihi pihak lain (superlative), yang apabila tidak bijak dalam mengelolanya justru bisa memblunderkan buah upayanya.

Pada dunia perempuan, fenomena psikologis yang demikian tak terelakkan ada dalam dirinya. Terlebih lagi pada dua atau lebih perempuan yang berada di dalam permaduan sebagaimana dicontohkan oleh Winata dan Kadru.

Pada penggalan kisah dalam Adiparwa tersebut, Winata dicitrakan sebagai perempuan yang tidak ambisius dan lebih mengedepankan aspek kualitas daripada kuantitas. Adapun Kadru, dicitrakan sebagai lebih ambisius, mengedapankan aspek kuantitas daripada kualitas. Pengedepanan aspek kuantitas atau sebaliknya kualitas mempunyai alasannya masing-masing, dan itu adalah ‘pilihan’.

Kendati pribadi Winata dicitrakan bersahaja (tidak/kurang ambisius), namun pada sisi lain kurang mempunyai kesabaran atau ketelatenan. Sebaliknya, kendati Kadru dicitrakan ambisius, namun teruji kesabaran atau ketelatenannya untuk menunggu tiba waktu penetasan telornya. Sebenarnya citra kepribadian demikian adalah fenomena psikologis yang universal – yang ada atau tidak ada di dalam diri siapun, kapanpun dan dimanapun, tak terkecuali pada Winata ataupun Kadru.

Terkandung pesan dalam kisah tersebut adalah bahwa saat mengandung bayi atau mengerami telor adalah ‘kondisi krusial’ dalam kejiwaan perempuan. Oleh karenanya membutuhkan keseksamaan, keuletan, ketelatenan, kesabaran, serta ketenangan jiwa-raga. Kesalahan dalam bertindak, beresiko besar dan panjang, sebab bakal berdampak serius kepada gerasi penerus (keturunan)nya.

Dapatlah difahami kemarahan dari anak yang terlahir dari telor ke-2 yang dipecah oleh Winata pada hari ke-14, yang karena kecerobohan ‘ibunya’ itu, menyebabkan dirinya lahir cacat abadi – digambarkan hanya bertubuh separoh di bagian atas. Oleh karena itu, dibakar oleh amarah besarnya, anak [yang setelah besar nanti menjadi sais kereta Dewa Surya] ini lancarkan kutuk (sapata, samaya) kepada ibunda sendiri (Winata), yakni ‘Winata bakal diperbudak oleh orang lain’, yang dikisahkan sebagai menjadi kenyataan.

Dalam waktu lama Winata diperbudak oleh Kadru. lantaran ‘diliciki’ hingga kalah bertaruh ketika menebak warna bulu kuda Uchaiswara yang menyembul dari dasar samudra susu (ksirarwana) dalam kisah “Samodraman-tana’ atau “Amretamantana’. Pertaruhan/perjudian di antar dua wanita itu menjerumuskan Winata ke dalam belenggu perbudakkan hingga akhirnya berhasil dibebaskan oleh putranya (Garudeya, Sang Garuda) dengan tebusan berupa Tirthamreta.

 

C. Belajar Bijak pada Kandungan Pesan dalam Relief Candi

Cerita yang dipaparkan secara ringkas (synopsis) di atas (butir B.1) merupakan ‘penggalan kisah’ di dalam Adiparwa, yakni bagian (parwa) pertama dari susastra epos (wiracarita) Mahabharatta. Walaupun penterjemahan (translasi) Mahabharatta telah dimulai sejak masa pemerintahan Raja Dharmmawamsa Tguh (permulaan abad X Masehi), namun transformasinya – dari susastra testual ke susastra visual dalam bentuk relief candi – barulah terjadi pada Masa Keemasan hingga Akhir Majapahit (medio abad XIV hingga awal XV Masehi).

Kisah tentang ‘telor’ yang melibatkan dua perempuan, yaitu Winata dan Kadru, tersebut tertuang dalam relief cerita Garudeya dan bertalian dengan cerita Samodramantana atau Amrtamantana.

Sejauh diketahui cerita Garudeya divisualkan dalam tiga panil pada batur Candi Kidal dan belasan panil pada teras I Candi Kedaton serta relief-relief lepas pada Pendapa Teras di halaman ketiga komleks Candi Sukuh. Namun, lantaran kisah visual (relief) itu merupakan cerita arkhais dan hanya tampilkan adegan-adegan kunci (key scenes), maka tanpa melengkapi diri dengan pemahaman terhadap detail cerita pada susastra tekstualnya, maka tak tergambar citra diri Winata dan Kadru sebagaimana pada telaah di atas (butir B.2).

Barangkali tulisan ini terkesan ‘nyleneh’, karena mencitrakan Wanita Jawa Kuna hanya dari ‘kisah tentang telor’ yang dierami dan ditetaskan oleh Winata dan Kadru. Kendati demikian, walau hanya secuplik cerita, namun dengan mempergunakan pendekatan ‘Psikologi-Historis’, citra perempuan yang demikian secara garis besar dapat diperoleh gambarannya. Bahkan, pesan dan nilai keteladan yang terdung dalam cerita purba itu dalam sejumlah hal masih relevan difaedahkan untuk memilih dan dicobaterapkan dalam bersikap maupun bertindak pada masa sekarang, khususnya bagi kaum hawa. Sebagaimana halnya sosok kepribadian Kartini yang bisa dijadikan ‘cermin teladan’, sosok Winata dan Kadru pun adalah alternasi teladan dalam menjalani kehidupan nyata.

Tak soal hanya menelaah cerita lama. Tidak apa musti sekedar memicarakan kisah kecil mengenai ‘telor diantara dua wanita’. Namun toh, dari dalamnya bisa ditimbai cukup banyak pesan, nilai dan contoh teladan, sehingga ‘tidaklah bijak sepelekan’ cerita lama dan kisah-kisah kecil yang sekilas tanpa makna. Dalam hal telor, boleh dibilang telor adalah muasal hidup. Di dalam sebuah telor ada satu potensi kehidupan. Memakan sebuah telor karenanya menghilangkan satu kesempatan untuk terjadinya kehidupan. Padahal berapa biji telor kah yang telah kita makan tiap hari, selama sebulan, setahun, dan seterusnya.

Mengutip perenungan bijak Eyang Suprapto Lemah Putih : “pernah kah kita meminta maaf terhadap telor atas penghilangan kesempatan hidup darinya?. Pernahkah pula berterima kasih kepada telor atas berkah darinya atas topangan kepada kehidupan kita?”.

Semoga paparan dan telaah bersahaja ini membuahkan kefaedahan, khususon bagi perempuan di Nusantara, yang pada hari ini (Jumat, 21 April 2017) Nagera Kesatuan Republik Indonesia tengah memperingati ‘Hari Kartini’.

Telaah ‘Psikologi-Historis’ yang bertepatan dengan momentum Hari Kartini dengan menelaah kisah tentang ‘Telor diantara Dua Wanita’ ini hanyalah secuil isian guna memaknai ‘hari bersejarah’ bagi perempuan – selain ‘Hari Ibu’ setiap tanggal 22 Desember. Salam budaya ‘Wanodyajayati’. Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, 21 April 2017


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.