Connect with us

BUDAYA

MERAWAT BUMI MERAWAT KEHIDUPAN

Avatar

Published

on

Permenungan ‘HARI BUMI’

MERAWAT BUMI MERAWAT KEHIDUPAN :
Interelasi Manusia dan ‘Ibu’ Bhumi dalam Budaya Jawa Lama

Pariwara ekologis pada salah satu Stasiun TV Swasta Nasional menggambarkan bumi yang tengah sakit dan karenanya berada dalam perawatan. Sementara, ilustrasi instrument musiknya, yang jika disertai dengan syair lagu, maka memuat kalimat syair awal berbunyi ‘Kulihat IBU PERTIWI, sedang bersusah hati, air matanya berlinang ……”. Benarkah kini bumi kita tengah sakit, apakah kita abai dalam merawatnya? Alpa merawat bumi, sama halnya dengan mengabaikan perawatan terhadap kehidupan kita sendiri. Atas dasar pertimbangan tersebut, tulisan ini sengaja mengangkat judul “MERAWAT BUMI MERAWAT KEHIDUPAN”.

Dalam hubungan itu, telaah dilakukan dengan memetik dan mengkompilasikan pesan-pesan bijak yang ditimbai dari khasanah kebudayaan Jawa masa lalu. Semoga memberi teladan bijak kepada kita dalam membangun relasi harmonis antara manusia dengan ‘ibu’ bumi – tempat kita menyabung hidup dulu, kini hingga mendatang.

Ilustrasi bumi yang panas karena terbakar

A. Cakupan Arti Istilah ‘Bumi (Pertiwi)’

Dalam Bahasa Indonesia ada beberapa kosa kata yang bersinonim arti, antara lain ‘bumi, pertiwi, dunia dan jagat’. Keempatnya juga dikenal dalam Bahasa Jawa, baik pada Bahasa Jawa Baru dan sebagian dalam Bahasa Jawa Tengahan ataupun Jawa Kuna.

Istilah ‘bumi’ secara harafiah berarti 1. Planet tempat manusia hidup; dunia; jagad; 2. Planet ketiga dari matahari; 3. Permukaan dunia; tanah (KBBI, 1995:175). Istilah ini merupakan serapan dari Bahasa Sanskreta, yaitu ‘bhumi’, yang secara harafiah berarti: bumi, dunia, tanah, daratan, negeri, dasar, alas (Zoetmulder, 1995:142).

Dalam agama Hindu, Bhumi dikonsepsikan sebagai dewata, baik dalam aspek Bhumidewa (‘Dewa Bhumi’ Brahman) maupun Bhumidewi (Dewi Bhumi). Putra pasangan Dewa dan Dewi Bhumi ini adalah Bhoma, yang karenanya dinamai dengan ‘Bhumija, Bhimiputra, atau Bhumyatmaja’. Pada agama Hindu terdapat suatu ritus pensucian (purifikasi), yang secara khusus ditujukan pada bumi, dengan sebutan ‘bhumisoca atau bhumisuddha’.

Selain itu, kata ‘bhumi’ direlasikan dengan bidang pemerintahan. seperti tampak pada perkataan ‘bhuminatha, bhumipala, bhumipalaka’ yang berarti raja serta ‘bhuminathadhipa’ yang berarti maharaja. Perkataan ‘bhumimandala’ digunakan untuk menyebut ‘lingkaran bumi’ atau seluruh bumi, ‘bhumibhaga’ untuk bagian dunia, dan ‘bumitala’ untuk muka bumi atau tanah (Zoetmulder, 1995:141).

Istilah ‘bumi’ disinomimartikan dengan ‘pertiwi’, yang secara harafiah berarti: 1. Bumi; 2. Dewi yang menguasai bumi; 3. Tanah tumpah darah; ibu pertiwi (KBBI, 2002:864).

Istilah serapan dari Bahasa Sansekreta ini memiliki varian penulisan/penyebutan ‘prthiwi, prthwi, atau pritiwi‘. Secara harafiah ‘prthiwi’ menunjuk kepada ‘suatu yang besar atau luas’, bumi, dunia, tanah (Zoetmulder, 1995:863). Dalam sistem kedewataan (pantheon) Vedhaisme yang politheistik, Prativi merupakan nama seorang Dewi, atau disebut juga dengan ‘Dewi Bhumi’. Sementara itu, Kakawin Ramayana mengkisahkan Dewi Sita (istri Rama) adalah putri dari Pratiwidewi. Dalam bagian akhir kakawin ini, manakala Sita menjalani ‘uji kesetiaan’ dengan terjun ke dalam api unggun (pancaka), terjadi suatu kemukzizatan, dimana Sita jatuh tepat di pangkuan Prativi, yang tiada lain adalah bundanya sendiri. Oleh karena itu bisa difahami bila terdapat perkataan ‘pangkuan atau haribaan Ibu Pertiwi’. Sebagai ibu, ketika anak-anaknya sedang dalam kesedihan, ‘pangkuan teduhnya’ dibuka lebar bagi putra/i-nya. Kalimat ‘menangislah di pangkuan ibumu ….…’ adalah gambaran tepat mengenai itu. Demikian pula, dalam pertempuran di medan laga, kusuma bangsa yang gugur dilukiskan sebagai bunga tabur, yang menaburi muka bumi dan diistilahi dengan ‘berpulang ke pangkuan ibu pertiwi’, seakan seorang anak yang beranjak tidur dengan pulasnya di pangkuan nyaman ibundanya.

Patung Atlas dalam mitologi Yunani yang menyangga bumi

Dunia adalah istilah lain yang acapkali disinonimkan dengan bumi maupun pertiwi. Dalam Bahasa Indonesia, dunia diartikan sebagai: 1. Bumi dengan segala sesuatu yang terdapat di atasnya; planet tempat kita hidup; 2. Alam kehidupan; 3. Semua manusia yang ada dimuka bumi; 4. Lingkungan atau lapangan kehidupan; 5. (segala) yang bersifat kebendaan; yang tidak kekal; 6. Peringkat antar bangsa (seluruh jagad atau segenap manusia) (KBBI, 2002:280). Istilah yang merupakan serapan dari Bahasa Arab, yaitu ’Dunya’, istilah ini sering diberi konteks ‘alam’, sehingga terdapat sebutan ‘alam dunia (‘alam ndonyo’, dalam istilah Jawa Baru). Sebagai salah sebuah alam, secara binnary dioposisikan dengan ‘alam akhirat (‘alam akherot’ dalam Bahasa Jawa Baru). Hal demikian juga terdapat di dalam kitab suci Alqur’an, yang antara lain memuat kalimat ‘fitdunya wal aqirat (duna dan ahirat)’ dan ‘fitdunya khasanah waa fill akhirati khasanah’.

Alam dunia acap konsepsikan sebagai sebuah alam, padamana manusia hidup dengan sifat yang sementara (maya). Oleh karena itu, hal-hal yang bersifat duniawi sering dikatakan dengan ‘dunia maya’. Terlampau berorientasi pada kepentingan duniawi diistilahi dengan ‘kedonyan’, dan dinilai kurang baik, karena menjebakkan diri pada kemayaan balaka. Harta yang bersifat duniawi dengan karenanya disebut ‘donyobrono’. Sedangkan alam akherat adalah alam pasca kematian, yang lebih abadi sifatnya, sehingga ada sebutan ‘alam kelanggengan’. Alam akhirat atau alam arwah acapkali diposisikan di bagian bawah dari muka bumi, sementara alam kedewataan/keIllahian diposisikan di bagian atas dari muka bumi.

Ada pula kata ‘jagat’ dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia, yang menunjuk pada bumi, dunia, alam. Kata ini bisa dikombinasikan dengan kata ‘buana’ menjadi ‘jagat-buana’, yang berarti dunia semesta (KBBI, 2002:449).

Kata ‘jagat’ merupakan terjemahan dari Bahasa Sanskreta ‘Bhuwana’, dalam arti: dunia, bumi (Zoetmulder, 1995:145), atau bisa juga menunjuk pada alamraya (cosmos), dalam Bahasa Indonesia ditulis ‘buana’ dan diartikan dengan dunia; jadat; benua. Dikenal adanya dua kategori buwana menurut ukurannya, yaitu: (1) bhuwana alit (jagat kecil, micro cosmos), dan (2) bhuwana hageng (jagat gede, macro cosmos). Bhuwana alit dikonsepsikan sebagai replika atau wujud kecil (miniatur) dari bhuwana hageng. Sehingga ada sifat-sifat pokok yang serupa dari keduanya, sehingga apa yang tengah berlangsung di jagat gede berselaras pula dengan yang terjadi pada jagat cilik atau sebaliknya.

Dalam konsepsi Hindu, pengusa jagat raya adalah Dewa Wisnu, yang dikenal dengan ‘Cakravartin’. Oleh karena itu, dapat difahami apabila banyak raja berambisi untuk berkuasa di dunia kecil (bhuwana alit) mengidentifikasi dirinya dengan Dewa Wisnu (Hari) sebagai penguasa dunia besar (bhuwana hageng).

Istilah dalam Bahasa Jawa Kuna ‘bantala’, atau ‘bantolo’ dalam Bahasa Jawa Baru, acap dikaitkan dengan kata ‘jagat’ menjadi ‘jagat-bantolo’. Istilah ‘bantala’ menunjuk pada suatu bentuk gelang lengan (Zoetmulder, 1995:104).

Yang dimaksud dengan kombinasi dua kata itu adalah lingkaran dunia atau bumi yang membulat, yang dalam perkataan lain diistilahi dengan ‘bundering bawono (bulatnya dunia)’.

Demikianlah, terdapat beragam istilah yang berkenaan dengan bumi, baik yang merupakan istilah serapan dari Bahasa Sanskreta, Bahasa Arab, maupun istilah lokal. Kendatipun bersinonim arti, namun penggunaan masing-masing istilah itu hendaknya dilakukan secara cermat dan tepat, yakni dengan mempertimbangkan konteks kalimat maupun tujuan pemakaiannya, sebab bisa menunjuk kepada maksud khusus.

 

B. Oposisi Biner Ibu Prativi – Bapa Akasa

Dalam sistem ‘kategori dua’, masing-masing kategori dipolakan berposisi satu sama lain namun sekaligus berinterelasi (oposisi biner, binnery opposition). Sejalan dengan kategori dua itu, unsur bumi (bhumi atau prativi) yang disatukategorikan dengan perempuan/wanita (ibu) dioposisikan dengan unsur angkasa (akasa) yang disatukatergorikan dengan laki-laki (bapa). Oleh karena itu muncul kalimat ‘bapa akasa-ibu prativi’.

Gambaran demikian mengingatkan kita kepada motologi Hindu, dimana Pertiwi (dalam Bahasa Sanskerta ditulis ‘pṛthvī, pṛthivī’) dikonsepsikan sebagai Dewi. Sebutan lain terhadapnya adalah “Ibu Bumi” (dalam Bahasa Indonesia terdapat sebutan “Ibu Pertiwi”). Pertiwi juga disebut ‘Dhra (dalam Bahasa Indonesia terdapat kata ‘dara’, yakni sebutan bagi wanita muda), Dharti atau Dhrthri, artinya kurang lebih “yang memegang semuanya”, Ada pula nama lain baginya, yaitu ;Bhumi, Bhudevi atau Bhuma Devi’.

Sebagai ‘pṛthivī matā ‘ atau ‘Ibu Pertiwi”, Dewi ini adalah lawan atau istri (sakti) dari Dyaus Pita atau ‘Bapak Angkasa (Dewa Langit)”, yang dalam agama proto-Indo-Eropa disebut ‘Dyeus’ atau Zeus Pater, dan di-Latin-kan menjadi ‘Jupiter. Pertiwi merupakan ibu dari Dewa Agni dan Indra. Dalam Rgveda 1.89.4b Pitar Dyaus muncul disamping Mata Prthvi. Bumi dan Langit acap disapa berpasangan, yang kemungkinan menekankan pada gagasan ‘dua paruh yang saling melengkapi satu sama lain (binnary opposition). Prthvi juga dimitekan sebagai salah seorang diantara dua istri (sakti) Bhattara Wisnu. Dalam hal ini, Prthvi adalah bentuk lain dari Laksmi. Sakti Wisnu lainnya adalah Dewi Sri (Sang Hyang Sri), yang di Nusantara secara khusus dikaitkan dengan ‘Dewi Padi’. Laksmi dan Sri karenanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Bhumi (nama lain dari Laksmi) menggambarkan bentang alam, padamana tanaman padi (yang didewatai oleh Dewi Sri) tumbuh dan berkembang.

Oposisi biner antara Bapa Akasa dan Ibu Pertiwi antara lain tampak pada teks prasasti pendek (short inscription) yang diketemukan di Malang Selatan, yaitu : (a) prasasti Supit Urang – kini masuk di areal perkebunan Gerbo, dan (b) prasasti Pasrujambe dari dekat Senduro pada lereng timur-selatan Semeru.

Prasasti Gerbo dari Masa Akhir Majapahit (abad ke-15 Masehi) memuat kalimat ‘….… Tulusanulu sa den kadi botingakasa lawan prtiwi sorga kabuhutiha (Knebel, 1902:342-343). Ada keserupaan dengan kalimat dalam prasasti pendek yang sejaman, yaitu Prasasti Pasrujambe, yang memuat teks ‘iki pangestu yang mami, guru-guru yen arabi den kadi boting ngakasa lawan prtiwi papa kabhuktihi’ (Sukarto, 1990:16-17), sebagai suatu kalimat mengenai petuah nikah.

Kedua prasasti kategori piwulang (niti, ajaran atau nasihat) ini berisi suatu perumpamaan, yang menggunakan dua unsur fisis-alamiah, yaitu angkasa (akasa, ngakasa) dan bumi (prtiwi), Kedua unsur fisis-alamiah tersebut diposisikan ‘sama berat (bot)’nya. Bahkan, lebih jelas lagi Prasasti Pasrujambe memperumpakan relasi dalam kerangka hubungan nikah (salaki rabi) antara laki-laki (ibarat ‘akasa, ngkasa’) dan perempuan (ibarat ‘prtiwi’) sebagai sama beratnya atau setara dalam berat. Dalam prasasti yang tak ditulis atas perintah dari raja melainkan oleh pertapa di gunung ini, oposisi biner tergambar pada relasi antara langit-bumi sebagai simbol hubungan pernikahan antara pria-wanita, dimana wanita/perempuan disatukategorikan dengan bumi (prtiwi)
.
Demikian pula, dalam filosofi Barat, persetubuhan (coity) antara laki-laki dan wanita digambarkan sebagai lengkung langit yang menelungkupi bumi, dimana langit adalah simbol bagi laki-laki dan bumi sebagai simbol bagi perempuan. Hal ini mengingatkan kita kepada tradisi ‘tiban atau ujung’ dalam kaitan dengan ‘ritus meminta hujan turun’, dimana turunnya hujan dari langit adalah simbol bagi air mani (sperma) pria (sekategori dengan ‘langit’) yang membasahi bumi (sekategori dengan ‘bumi’), yang menyebabkan terjadinya kesuburan (fertility), yakni prasyarat untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman.

Hubungan langit dan bumi mensimbolkan hubungan antara pria-wanita, yang oleh sejumlah agama dijadikan konsepsi religis untuk kepentingan kesuburan, baik kesuburan anak ataupun kesuburan tanaman. Serupa dengan ibu yang melahirkan anak, tanah sebagai tempat tumbuhnya tanaman secara simbolik digambarkan sebagai ‘ibu bagi aneka tumbuhan’.

Relasi bumi-langit juga tergambar pada perkataan ‘dimana bumi berpijak, di sana langit dijinjing’, yang menegaskan tentang perlunya seseorang untuk menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan adat dan keadaan tempat tinggal. Dalam perumpaan itu, bumi berada di bawah dan langit pada posisi di atas. Paparan pada alinea-alinea diatas memberi cukup gambarkan bahwa oposisi biner antara ‘pria-wanita’ – yang satu kategori dengan ‘angkasa (langit)-bumi’ – merupakan wujud kategorial dengan pola ‘kategori dua’ yang akhais (kuno). Dalam hal demikian, bumi bukan sekedar dilihat sebagai salah sebuah unsur fisis-alamiah di jagad raya, namun memasuki pula dunia konsepsional, simbolik maupun filsafat – tak terkecuali dalam bidang religi.

 

C. Pesan Bijak Interelasi Manusia dengan ‘Ibu’ Bumi

Apabila bumi dimaknai dan diposisikan sebagai ‘ibu’, maka hubungan antara manusia dan bumi dikiaskan sebagai hubungan (interalasi) antara manusia dengan ibundanya. Manusia ibarat ‘anak’ yang semestinya berlaku bhakti pada ibu (bhakti ibu). Inilah yang tergambar dalam sasanti ‘bhakti pertiwi’, yang ditandai oleh kesedian untuk merawat (melestarikan) bumi, bahkan kesedian untuk melakukan pembelaan bila terjadi perusakkan terhadap bumi. Pembelaan tersebut idealnya seperti ‘perjuangan heroik’, yang berwujud perjuangan hingga titik darah penghabisan kepada ibu-pertiwi (negeri). Terkait dengan itu, terdapat perkataan simbolik ‘tanah tumpah darah’, yang mengandung arti kesedian untuk tumpahkan darahnya bagi tanah atau bumi dimana ia berpijak, tepatnya ‘tanah-air (negeri)’. Ansur ‘tanah dan air’ adalah dua diantara lima unsur fisis-alamiah pembentuk jagad raya (pancamahabhuta). Pada konteks peristiwa kebhaktian itu dilukiskan adanya kesedian untuk melakukan pembelaan total terhadap ibu pertiwi (negeri)-nya yang tengah terancam. Suatu bentuk kewajiban yang perlu dilakukan dengan dasar bhakti-nagari.

Ilustrasi anak yang merawat ibu yang tak berdaya karena sedang sakit

Seperti halnya seorang anak yang berwajiban untuk menghormati ibunnya, manusia semestinya mengekspresikan pernghormatannya kepada bumi. Tunduk atau bahkan mencium bumi adalah ekspresi ‘sujud’ manusia terhadap bumi, yang tergambar pada banyak perilaku ritual dari berbagai agama. Pada contoh teladan lain, bermaknanya tanah – utamanya tanah kelahiran – tergambarkan dalam tindakan mencium tanah di halaman rumahnya yang telah sangat lama tidak dipulanginya lantaran beraktifitas di tempat jauh, Walau meninggalkan tanah kelahiran, dan lama tak pulang, namun ‘kerinduan kepada tanah kelahiran’ adalah kandungan rasa yang tak pernah lekang dalam diri setiap orang. Fenomena ‘mudik’ tahunan adalah pula perwujudan mengenai kerinduan akan tanah kelahiran. Oleh karena itu, dapat difahami bila terdapat orang yang berpesan apabila kelak meninggal, dia ingin disemanyamkan di tanah kelahirannya, seperti seorang perantau yang rindu pulang ke haribaan ibunya.

Demikian pentingannya bumi bagi manusia, maka ketika bersaksi atau bersumpah-serapah, orang acap menjadikan bumi sebagai saksi. Dalam kaitan itu, Mahayana Buddhisme memberi gambaran lewat sikap tangan (mudra) ketika bersamadi, yakni Bhumisparsamudra, yang menggambarkan pemanggilan Bhumi oleh Sang Buddha sebagai saksi atas keberhasilanNya dalam mengatasi mara (godaan). Begitu pula, terdapat sumpah-serapah yang menggunakan ucapan ‘demi bumi (pertiwi) aku bersaksi bahwa .…”. Persaksiannya demikian ‘bukanlah main-main’, karena dipersaksikan di hadapan bumi – ibarat penyataan tulus atau ‘janji suci’ seorang anak di hadapan bundanya. Hal ini memberi gambaran bahwa bumi dipandang sebagai memiliki tuah, yang bisa menumpahkan sangsi apabila janji/sumpah yang diucapkannya tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak dipenuhinya.

Kenyataan menunjukkan bahwa tak senantiasa manusia berlaku bhakti terhadap pertiwi. Malahan tak jarang justru menjadi perusak (ambeksio) terhadap bumi. Ibarat anak yang durhaka pada bunda, maka Ibu Bhumi pun ‘murka’, dan kemudian menumpahkan bencana terhadapnya, yang antara lain berupa tanah longsor, banjir – atau sebaliknya kekeringan, pemasan global, dsb. Oleh karena itu, bencana acap dimaknai sebagai ‘murka alam’ atas perusakkan yang dilakukan oleh manusia terhadap alam (baca ‘bumi’).

Buah atau ganjaran (pala, reward) dari/bagi tindak (karma) merusak alam tidak hanya ditumpahkan tatkala hidup di dunia, namun juga pada alam kematiannya, Ketika pendurjana alam meninggal, mitologi mengenai alam arwah menggambarkan ‘siksa kubur’ yang dalam relief cerita Kunjarakarna pada teras I Candi Jajaghu, tepatnya pada adegan ‘siksa neraka’, divisualkan sebagai gambaran siksa neraka yang setimpal degan perbuatan yang telah dilakukan di dunia menurut konsepsi ‘karma-pala’. Pendosa digambarkan menyunggi lempengan tanah tebal (nyunggi lemah). Siksaan serupa tergambar dalam sustu syair lagu ‘siksa beraka, yang antara lain berbunyi ‘…… karna dihimpit bumi dan dibakar api ……..’. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pada saatnya bumi tak kuasa untuk menahan amarahnya, sehingga akhirnya menumpahkan bencana ataupun siksa kepada para durjana pada alam.

 

D. Penyadaran akan Urgensi Merawat Bumi

Keberkahan yang dianugerahkan dan sebaliknya bencana demi bencana yang dilaknatkan maupun kondisi ‘susah, bahkan sakit’ dari bumi mustinya menumbuhkan kesadaran manusia agar senantiasa merawat bumi.

Manusia bukan sekedar mengambil berkah dari alam (eksplorasi-eksploitasi dan fungsionalisasi), namun perlu menyertai dengan perawatan terhadap alam (konservasi). Merawat bumi pada hakikatnya adalah perawatan terhadap kehidupan. Oleh karena bumi menjadi penopang bagi kehidupan, maka manusia pun semestinya menjadi penopang bagi keselamatan/kelestarian bumi. Sesungguhnya, kewajiban untuk ‘menyelamatkan dan merawat bumi’ tidak hanya berada di pundak manusia, namun juga pada tangan dewata.

Dalam doktrin Waisnawa Hindu dikenal adanya ‘kurmawatara”, yaitu penjelamaan Wisnu ke dunia (awatara) sebagai Sang Mesias (Penyelamat) dalam wujud kura-kura raksasa (kurma) untuk menyelamatkan bumi ketika akan tenggelam akibat air bah yang teramat dahsyat. Serupa itu, di dalam mitologi Yunani dikenal adanya ‘Dewa Atlas’, yang digambarkan setia dalam menopang bola dunia (atlas) di pundaknya demi kestabilan dunia.

Demikianlah, kestabilan dan keteraturan di muka bumi merupakan ‘kata kunci’ bagi bumi beserta kehidupan semua mahluk hidup yang berlangsung di dalamnya. Dalam doktrin Hindu keteraturan yang demikian dinamai ‘rta’. Pada hakikatnya, semua agama juga menjunjung tinggi keteraturan dan ketertiban dunia lewat ajaran atau hukum (dharmma) dalam kitab sucinya.

Penyimpangan terhadap rta menjadi musabab terjadinya kehancuran dunia, yang dalam konsepsi Hindu dinamai ‘Pralaya’ atau yang jauh lebih dasyat daripada itu disebut ‘Mahapralaya’.

Kondisi terbaik dari kehidupan di alam dunia dilukiskan sebagai ‘jaman emas (swarnayuga), yang berlangsung bila rta ditegakkan setegak-tegaknya.

Sebaliknya, pada zaman akhir dimana kualitas kehidupan berada di titik nadir, yang diistilahi dengan ‘zaman besi (kaiyuga)’ atau disebut dengan ‘jaman kolo bendu’, kehidupan di bumi berada pada ambang kehancuran.

Mari selamatkan bumi

Dalam suatu tembang religis yang Islami terdapat syair lagu, yang melukiskan kondisi labil dari bumi lantaran hukum agama tidak lagi tegak pada zaman akhir, dengan syair “Jaman wis akhir, bumine goyang, akeh manungso ora sembahyang. ……’.

Tulisan yang bersahaja ini, yang ditulis dalam rangka ‘Hari Bumi’ tanggal 13 April 2-17. Kendati agak lambat (terlambat), namun diharap dapat memberi kemanfaatan bagi publik, setidaknya sebagai ‘picu spirit’ untuk ‘merawat bumi dalam kerangka marawat kehidupan”.

Dalam paparan dan telaah ini tergambar bahwa budaya Jawa Masa Lampau (Lama) terkandung khasanah pesan, teladan dan model kebijakkan terkait dengan interelasi bijak antara manusia dan ‘ibu bumi’. Perihal itu bukan hanya tepat untuk diterapkan untuk jamannya, namun dalam sejumlah hal dapat ditransformasikan bagi kehidupan masa kini dan mendatang.

 

Salam budaya ‘Nusantarajayati’.
Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, 25 April 2017

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BUDAYA

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

Avatar

Published

on

 

Edisi ‘TAKJIL KHAS RAMADHAN’ 1

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

A. Familiaritas Kolak pada Rumpun Melayu

Apabila di Dunia Arab pembuka berbuka puasa adalah kurma, maka kolak lah yang lazim serta difavoriti sebagai ‘pembuka buka pausa’ di Indonesia. Mulai dari lingkugan keluarga bersahaja hingga di restoran mahal sekalipun, kolak menjadi menu sajian terawal yang disuguhkan untuk membatalkan puasa setibanya bedug Maqrib. Oleh sebab itu dapat dimengerti bila salah sebuah kuliner yang hampir senantiasa ada diantara beragam penganan yang dijajakan pada bedak-bedak dadakan yang menjamur di sore hari manakala tiba puasa Ramadhan adalah kolak. Kuliner inilah yang seolah menjadi ‘rajanya takjil’, yang pertama dan yang utama dikonsumsi oleh banyak orang, tatkala berbuka puasa. Bahkan, tahap permulaan berbuka puasa telah serasa cukup kendati hanya dengan menyatap kolak.

Menilik demikian lamanya waktu kolak dikonsumsi, luasya daerah persebaran kulier kolak, dan banyaknya pemiat kolak – terlepas apapun statra soasial-ekonomiya, maka tak berlebihan untuk menyatakan bahwa kolak adalah kuliner yang amat mengkeluarga (familier) pada masuarakat di Indonesia. Sebenarnya, selain di Indonesia kuliner ini juga dikenal di negara-negara lain dalam region Asia Tenggara yang dihuni oleh rumpun bangsa Malayu, Kolak hadir dalam lintas masa, lintas area dan lintas sosia pula, sebab kapanpun, dimanapun dan siapapun hampir-hampir pernah mengkonsumsi kolak. Malahan, terdapat orang-orang tertetu yang mencandui kolak, baik ketika berbuka puasa ataupun pada kesempatan lain. Dengan perkataan lain, kolak adalah kuliner yang ‘merakyat’ – namun, bukan berarti bahwa kolak hanya dikosumsi rakyat kecil, karena kalangan atas pun terbukti doyan kolak.

B. Etimologi dan Tafsir Makna Istiah Unsur Kuliner Kolak

Ada sejumlah varian sebutan untuk ‘kolak’, antara lain ‘kolok, kulak, kolêk, dsb’. Sebagaimana sebutan-sebutan lain untuk kuliner yang berkeanan dengan ritual Islam, seperti ‘apem dan kupat’, sebutan ‘kolak’ juga diasalkan dari bahasa Arab. Kyai sepuh dari Pondok Pinang Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan, yakni almarhun KH Hasbullah, menyatakan bahwa kata ‘kolak’ berasal dari istilah dalam bahasa Arab ‘kul laka (makanlah, untukmu)’. Pendapat lain mengasalkannya dari kata dala, bahasa Arab ‘khala’ atau ‘kholaqo’, yang bisa diturunkan menjadi kata ‘kholiq’ atau ‘khaliq’ yang berarti pencipta, pencipta alam semesta dan menunjuk kepada Allah SWT. sebagai pencipta seluruh makhluk yang hidup di alam semesta. Selain berarti pencipta, dapat pula berarti: Tuhan yang disembah, Pengatur dan Pemelihara, Pemberi bentuk, dan Tuhan Yang Maha Perkasa. Sebutan ini dijadikan media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bukan hanya itu, unsur-unsur di dalam kolak pun difilosofikan dalam kaitan dengan ajaran Islam. Pisang jenis ‘kepok’ yang paling umum digunakan sebagai isian kolak merujuk pada ‘kapok (jera)’ dalam bahasa Jawa, yakni istilah ibarat agar manusia jera berbuat dosa dan segera bertobat kepada Allah SWT. Selain itu, isian kolak lainnya, yaitu ubi, dikenal dengan sebutan ‘telo pendem’ – masuk kategori ‘polo pendem’, memuat filosofi bahwa manusia harus mengubur kesalahannya dalam-dalam. Reka foilosofis lainnya menghubungkan dengan kematian, yaitu media pengingat bahwa suatu saat manusia pasti mati dan kemudian dikubur (dipenden) di dalam tanah. Kematian mungkin saja akan datang, semudah kita menyendok kolak ke dalam mulut. Unsur lain sebagai bahan kolak adalah santan, yang dalam bahasa Jawa disebut ‘santen’, sebagai kependekan dari ‘pangapunten (permohonan maaf), yang menjadi media pengingat agar manusia seantiasa meminta maaf atas kesalahannya.

Etimologi dan tafsir makna sebagaimana dikemukakan pada alinea diatas adalah ikhtiar baik untuk menjadikan makanan sebagai media pembelajaran budi pekerti dan penguat keyakinan keagamaan. Namun, bukan berarti bahwa muasal sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab. Entah dari istilah ‘kul laka (makanlah)’ atau ‘khala, kholaqo, kholiq, khaliq (pencipta)’. Etimologis yang demikian hanya mendasarkan pada keserupaan istilah, dan terkesan dipas-paskan. Jika dasarnya hanya keserupaan istilah, maka tak usah jauh-jauh istilah serupanya dicari dalam bahasa Arab, melainkan cukup dicari di Jawa, padamaa kolak berada. Sebutan ‘kolak’ atau variannya ‘kulak (kula’)’ mempuyai keserupaan dengan istilah dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan, yaitu ‘kula’, yang antara lain berarti: kawanan, pasukan, kumpulan, oramg banyak, jumlah, suku, keluarga, rumpun, kasta, rombongan, keluarga bangsawan atau unggul, keluarga, keturunan, asal-usul (Zoetmulder, 1005: 530).

Dalam arti kumpulan, kuliner kula+k (kulak) atau kula’ dicirikan oleh adanya sekumulan bahan makan yang diisikan ke dalam kuah kolak. Dengan perkataan lain, ke dalam kuah kolak terbuka untuk diisikan beragam bahan makan, baik berupa buah, bijian atau bahan makan lainnya. Selain menggunakan pisang dan ubi, saat ini modifikasi kolak juga telah banyak ditemui. Mulai dari gabungan penggunaan pacar Cina, tapai singkong, ketan, roti, serabi, jenang, kolang-kaling, buah labu, buah nangka, rumput laut, biji salak atau ubi yang diolah menyerupai biji salak, dsb. Adapun dalam arti keluarga, kolak adalah kuliner yang amat lama familier (mengkeluarga) pada masayarakat Nusanara, khususnya Jawa. Boleh jadi, asal kuliner kolah bukan dari Timur Tengah, melainkan dari Nusantara sendiri.

Dengan mengasalkan sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab, maka diambill alibi bahwa kolak berasal dari Timur Tengah. Kelatahan mengasalkan kolak dari Timur Tengah juga pernah dikemukakan William Wongso, yang menyatakan bahwa kudapan ini dimungkinkan berasal dari negara Timur Tengah. “Mereka itu suka makanan manis-manis, jadi kalau kolak kemungkinan dari sana,” ujar pakar kuliner Nusantara ini saat dihubungi harian Republika (Rabu (17 Juni 2017). Sebenarnya, apabila alasannya karena genar mengkonsumsi makanan yang rasanya manis, bukan hanya orangTimur Tengah yang suka makanan manis, namun orang Jawa – utamanya orang Semarang, Yogyakarta dan Surakarta – juga gemar rasa manis pada beragam makaan dan minumannya. Bahkan, semenjak masa Hindu-Buddha masyarakat Jawa Telah mengeal miuman yang rasanta manis seperti kilang dan cairan gula merah untuk pemanis kuah yang dinamai ‘juruh’.

C. Kegemaran Minuman-Makanan Rasa Manis

Kolak bisa dimasukkan sebagai ‘makanan’ apabila ditilik dari buah, biji-bijian atau bahan makan lain yang terdapat di dalamya. Namun dapat pula dimasukkan sebagai ‘minuman’, sebab berkuah manis, yang dibuat dari air ditambah dengan santan, garam secukupyam daun pandanm fanili, dan gula – mulaya digunakan jenis ‘gula merah’, seperti gula aren, gula kelapa (gulo klopo) atau gula siwalan (tal), namun kini gula putih lazim digunakan sebagai pengganti atau campuran gula merah. Oleh karena itu, cita rasa kolak adalah manis. Lantaran rasanya yang manis itu, maka kolak serupa dengan kurma, yakni cocok untuk makaan pembuka dalam berbuka puasa. Kelebihan kolak bila dibandingkan dengan kurma dalam hal ini ada;ah selain manis juga berkuah, sehingga rasa dahaga lataran tidak minum seharian segera dapat tertasi.

Masyarakat Nusantara, terlebih orang Jawa, banyak menyukai rasa manis. Pemanis yang berupa gula – dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan disebut ‘gendis’ – telah lama digunakan, Kolak yang berasa manis karenanya termasuk kuliner yang disukai dari masa ke masa. Masyarakat Jawa telah demikian lama mengenal dan menggemari minuman manis. Salah satu diantaranya adalah kilang, yakni minuman beragi dari tebu (Zoetmulder, 1995:500). Kilang juga digunakan untuk menyebut nira kelapa, aren ataupun tal yang direbus — bila direbus terus akan mengental, dan bisa dijadikan gula merah. Selain itu santan juga sudah terbiasa dipakai untuk memasak. Bila santan dicampurkan ke dalam kilang, maka jadilah kuah kolak. Hanya saja, pada umumnya kuah kolak dibuat dari air dicampur dengan santan dan arsiran gula merah dan kemudian direbus hingga mandidih. Kedalam kuah tersebut dimasukkan buah, biji-bijian atau bahan makan lainya, sehingga terbentuklah kolak pisang, kolak candil ketan, kolak labu, kolak ubi jalar, kolak durian, kolak kolang kaling, kolak singkong, kolak apel, kolak kacang hijau, kolak cendol. kolak serabi, kolak biji salak, kolak kelapa muda, kolak jenang (jenang kolak), kolak rumput laut, kolak bola pelangi. kolak sagu mutiara, kolak pisang ijo, kolak pisang coklat, kolak paris, kolak tapai, kolak havermunt pisang, kolak pudding, kolak roti, dan banyak lagi. Terbayang bahwa kegemaran mengkonsumsi kolak adalah kelanjutan dalam bentuk lain dari kesukaan meminum kilang.

Kilang adalah salah satu miniman yang telah lama dikenal dan digemari Masyarakat Jawa, bahkan semejak masa Hindu-Buddha. Jenis mimuman lainnya adalah twak, sidhu, cinca (kinca), brem, arak, jnu, bunga campaga, bunga pandan, bunga karaman, jatisara, air kelapa, mastawa, dsb. Dalam sumber data prasasti, kilang tekah disebut di dalam abad X Masehi, yairu prasasri Watukura (902 Masehi) dan Alasantan (939 Masehi) serta pada sejunlah sussstra Jawa Kuna dan Tengahan, seperti dalam kitab Brahmanda Purana (142, 161), Sumanasantaka (38.1), Arjunawijaya (31.10), Nagarakretagama, Partayajna (18.7), Subhadra Wiwaha (7.4), Kidung Hasyawijaya (1/37, 4.54), Kidung Malat (7.77), dan Wangbang Wideya (6.184). Menilik lamanya waktu dan banyak sumber data yang memberitakan, tergambar bahwa ninuman kilang ini banyak dimiati warga Jawa pada zamannya. Peminatnya mulai kalangan rakyat hingga para bangaswan, Kebiasaan mengonsumsi kilang berlanjut dengan beberapa perubahan menjadi kolak.

 

Ada kemungkinan, sebagai sebutan, kata ‘lolak’ baru digunakan paaa Masa Hindu-Buddha, karena sebutan ini tidak dijumpai dalam sumber data tekstual Masa Hindu-Buddha, baik prasasti ataupun susastra. Pada Masa Perkembangan Islam, awalnya kolak disajikan bulan Syaban, atau satu bulan sebelum memasuki Ramadhan. Pada bulan Syaban, umat Muslim diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud ketakwaan jelang memasuki ‘bulan yang penuh berkah’, yaitu bulan Ramadhan,. Tradisi mengkonsumsi kulner kolak itu berlanjut hingga memasuki bulan Ramadhan, utamanya sebagai kudapan (takjil) ketika buka puasa. Demikianlah, kolak adalah kuliner Nusatara yang telah meniti perjalanan sejarah pajang. Selamat menikmati hidangan kolak, semoga melagakan tenggorokan. Nuwun.

Sangkaliang, Griya Ajar CITRALEKHA, 19 Mei 2018

 

Continue Reading

BUDAYA

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Avatar

Published

on

Salamun ya Ramadhan

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Arti Istilah dan Ragam Jenis Puasa

Istilah ‘puasa’ adalah kosa kata bahasa Indonesia, yang pada bahasa Jawa disebut ‘poso’. Dalam bahasa Arab sebutannya adalah ‘shaum’, yang berarti : menahan diri dari segala sesuatu. Puasa dilaksanakan dengan atau dimaksudkan untuk menahan diri dari segala perkara, seperti makanan, minuman, berbicara, menahan nafsu dan syahwat, dsb. Sedangkan secara harafiah, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Pokok kegiatan puasa (shaum) adalah ‘menahan diri’, atau bisa disinonimkan dengan ‘pengekangan diri’. Dalam arti ‘pengekangan’ itu, pada bahasa Jawa Kuna terdapat istilah ‘pasa’, yang secara harafiah berarti : jerat, perangkap, ikatan, rantai, dan kekangan (Zoetmulder, 15:76). Istilah ini menunjuk pada benda, atau senjata ataupun tindakan.

Dalam kakawin Ramayana (24.59) terdapat perkataan ‘pasa-brata’ yang diarahkan pada tindakan durjana. Secara harafiah perkataan ‘pasabrata’ berarti: kelakuan (kewajiban) untuk menggunakan rangkaian (dalam peggunaan kekuatan kersanya). Pada arti istilah ‘pasa’ itu tak dipeoleh gambaran pengekangan diri dengan tidak makan-minum, bicara, ataupun nafsu-syahwat. Pengekangan diri untuk perihal ini secara lebih khusus dilakukan dalam bentuk ‘tapa’, yang berarti: tapa, ‘mati raga’, pengendalian indera atau nafsu, yoga. Kata ‘tapa’ acapk dikombiasi dengan kata ‘bhrata’ menjadi ‘tapa-bhrata’, dalam artiL ketaatan ibadat reliegius, tapa (Zoetmulder, 1995:1210). Dalam bahasa Jawa Baru, kegiatan demikian disinonimkan dengan ‘tirakat’.

Ada berbagai macam puasa, baik kategori wajib (fardhu). sunnah, makruh, maupun puasa haram (moharram). Ragam puasa kategori wajib adalah puasa Ramdhan, puasa Qodha (pegganti puasa wajib lantaran berhalagan), puasa Kafarat (puasa penebusan dosa besar, seperti membunuh dan melanggar sumpah), puasa Nadzar (puasa pemenuh janji, di dalam bahasa Jawa disebut ‘ngluwari ujar’). Adapun yang masuk kategori puasa sunnah adalah puasa 10 hari di bulan Syawal, puasa 10 hari pertama budan Dzulhijah, puasa Hari Arofah (tanggal 9 Dzulhijah), puasa Senin dan Kamis, maupun puasa Dawud (puasa berselang-seling waktu). Puasa makruh dikhususkan pada hari jumat dan sabtu. puasa Moharram – terutama hari Asyyro’ (tanggal 10 Muharram), puasa Sya’ban, puasa padda bulan harom (bulan yang dimuliakan), terdiri atas bulan Dzulqo;dah, Dzulhijah, Moharram. Rajab, dan sehari pasca Idul Fitri serta sepajang tahun, Selain itu, masayarakat Muslim Jawa juga mengenal poso pati-geni, poso mutih, poso ngrowot, dsb.

Diatara beragam puasa itu, yang utama adalah puasa Ramadhan, sehingga diwajibkan ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S. Al-Baqoroh;183-184). Tulisan ini lebih banyak membicarakan tentang tradisi jelang puasa bulan Ramadhan, yang diistilahi dengan “prepegan” dan “megengan”.

B. Aktifitas Prepegan atau Megengan Jelang Bulan Suci Ramadhan

Apabila meilik waktu pelaksaaannyam yakni sebula punh di bulan Ramadhhan, yang wajib untuk dilakukan oleh semua umat Islam yang memenuhi syarat, maka puasa ini terbilang ‘puasa besar’. Oleh karena itu bukan hanya hal-hal ekstra yang musti dilakukan selama menjalakan ibadah puasa, namun ada hal ekstra pula yang dilakukan sebelum mamasuki ‘bulan suci’ Ramadhan, Prinsipnya, ketika memasuki bulan suci ini para pelaku puasa hendaknya telah dalam kondisi suci. Pembersihan tidak hanya dilakukan untuk dieinya, namun juga dilakukan terhadap reladinya dengan sesama manusia yang masih hidup maupun dengan leluhurnya yang telah tiada. Untuk itu dilakukan permohoan maaf kepada sesama manusia yang hidup, ziarah kubur (salah satu sebutan dalam bahasa Jawa mengenai itu adalah ‘sadranan’), pembersihan diri – antara lain menggunakan media air, Selain itu, ada sejumah kegiatan untuk memarakkan proses memasuki bulan Ramadhan, seperti selamatan (slametan, manganan), takbir keliling – ada pula yang menyertai dengan ‘pawai obor’, menabuh bedug bertalu-talu, dan varian kegiatan lain.

Pendek kata, pada satu atau dua hari menjelang memasuki bulan suci Ramadhan ada suatu kondisi khusus, yang diibaratkan sebagai suatu : pergerakan bersama secara berfokus guna mendekati atau memasuki sesuatu’ — dalam hal ini, sesuatu itu adalah bulan suci Ramadhan, padamana umat Islam mendalan ibadah puasa. Kondisi demikian dalam bahasa Jawa diistilahi dengan ‘prepek’ atau akata jadianya ‘prepegan’. Akar kata ‘prepeg (pa-repeg)’ adalah ‘rep’, yakni partikel desktipsi, (dengan) medadadk. Kata ulang ‘rep-rep’ atau ‘arep-rep’, yang berarti: dengan gerakan yang cepat dan tiba-tiba, berkibar-kibar (Zoermulder, 1995:942).

Selain kata ‘prepegan’ dihubungkan dengan waktu jelang memasuki bulan Ramadhan, istilah ini lebih sering digunakan untuk menyebut kurun waktu pendek (satu atau dua hari) jelang datangnya Idul Fitri (Lebaran). Dalam hubungan itu, ada yang membedakannya ke dalam: (a) prepegan cilik (kecil) utuk menyebut waktu dan suasana pada dua hati jelang Lebaran, dan (b) prepegan gede (besar) untuk menyebut kurun waktu atau suasana pada sehari jelag Lebaran. Suasaa itu antara lain ditandai oleh suasana pasar yang ramai sesak, karena sebagian besar orang pergi untuk berbelanja ke pasar guna memenuhi segala kebutuhan pada hari Lebaran. Suasaa pasar yang tambah marak, juga berlagsug jelang Ramadhan, yang disertai dengan naiknya harga bahan pangan, meski tak semarak jelang Lebaran.

Istilah lainnya untuk menyebut kurun waktu satu atau dua hari jelas memasuki Ramadhan adalah ‘megengan’, yang berkata dasar ‘megeng (ma-geng)’ dan berakar kata ‘geng (besar)’. Ada pula yang mengartikan kata ‘megeng’ dengan: menahan (ngempet), berkaitan dengan peringatan bahwa sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan, dimana umat Islam diwajibkan menjalankan puasa, yaitu menahan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa itu. Kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, sesuai adat setempat. Umumnya waraga berbondong-bondong melakukan ziarah kubur, membersihkan makam, menaburi denga bunga dan mendoakan arwah leluhur. Suana marak ditandai dengan masak besar untuk dibagi-bagikan pada sanak famili. Pada malam harinya diadakan slametan (kenduri) untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal. Ada pula yang mengadakan selamatan bersama di masjid, langgar atau mushola.

Nabi Muhammad SAW untuk senang, bergembira, atau bersuka cita menyambut tiba bulan Ramadhan. Peristiwa ini di Jawa dinamai “megengan”, siatu tradisi turun temurun untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas berkat-nikmatya selama setahun berlalu. Tradisi ini juga dijadikan pertanda bahwa sebentar lagi datang tamu istimewa, yakni Ramadhan. Megengan merupakan bukti kerukunan warga masyarakat di dalam menjalin kerukunan dan kerjasama menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Biasanya megengan dilakukan di minggu terakhir bulan Sya’ban (Ruwah).

C. Makna Kuliner Apem dalam Selamatan Megengan

Salah satu pengaan khas yang disajikan dalam slametan megegan adalah apem. Seusai malam nisfu sya’ban, beberapa hari jelang bulan Ramadhan, umat muslim bisanya melakukan tradisi megengan dengan membagikan kue apem kepada tetangga kanan kiri rumah. Ada yang mengasalkan istilah ‘apem’ dari kata ‘afum’. yang artinya adalah meminta dan memberi maaf. Oleh karena masyarakat Jawa tidak mengenal huruf ‘F’, maka kata ‘afwun’ berubah sebutan menjadi ‘apwun’. dan kemudian menjadi ‘apwum’, lantas berubah jadi ‘apwem’, dan akhirnya disebut ‘apem’.

Bahan dasar apem adalah tepung beras, yang melambangkan kebersihan dan kesucian. Sedangkan santan merupakan sari buah kelapa sebagai akronim dari kata Jawa sagetho nyuwun pangapunten, yang bermakna permohonan maaf. Gula dan garam melambangkan perasaan hati. Apabila semua bahan-bahan itu dijadikan satu, makna simbolikya adalah kesucian dan ketulusan hati. Jadi, makan kue apem bisa diartikan memohon maaf kepada keluarga, sanak saudara dan teman. Usai memakan apem, biasanya orang-orang saling bersalaman, meminta maaf dan membaca doa.

Tradisi megengan diwarnai dengan rasa syukur dengan membagi kue apem kepada tetangga. Rasa syukur dan nuansa kekeluargaan (keguuyuban ) terkadung kental didalamnya. Meskipun kue apem dalam megengan hanyalah sebentuk kiliner, namun substansi maknaya dalam. Suatu nilai kultural luhur, yang patut dilestarikan, dimasyarakatkan dan dipetik maknanya untuk diejowarahkan dalam kehidupan bermasyarakt. Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, semoga bisa membuahkan pirifikasi (pembersihan diri) terhadap segala ‘kekotoran’ yang mengotori diri selama satu talun berlalu. Nuwun

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 16 Mei 2018

Continue Reading

BUDAYA

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP

Avatar

Published

on

 

Khasanah Heritage Songhenep

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP : Menuju “Labang Mesem Cultural Movement”, Wahana Smiling Sucsesion

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Makna ‘Mesem” pada Gapura Labang Mesem

Mutiara kata menyatakan ‘sambutlah tamumu dengan senyuman’. Suatu ekspresi sikap ‘ramah’ yang murah namun bermakna, yang keluar dari hati bersih-tulus kepada orang lain yang berelasi dengannya. Seyuman yang dalam bahasa lokal Jawa maupun Madura disebut ‘mesem (sunggingan senyum)”, dalam hal penerimaan tamu bukan sekedar citra pantomimik pada raut muka seseorang, namun lebih daripada itu menyiratkan makna yang berkenaan dengan etika pergaulan (toto kromo), yaitu: (a) selamat datang, disambut baik, penyambutan (welcome) (b) kesediaan atau keterbukaan untuk menerima kehadiran orang lain, maupun (b) pengharapam agar niat baik untuk mengadakan pertemuan itu membuahkan hasil yang baik (kefaedahan) bagi kedua pihak, ‘Murah senyum’ acap dimaknai dengan kebaikan hati. Sebaliknya, ‘pelit senyum’ dikonotasikan dengan kesombongan, keculasan dan ketidakbersahabatan. Demikianlah, senyuman memiliki makna serta manfaat yang mendalam. Meski hanya sekejap, senyuman dapat menjadi kenangan yang bertahan lama. Senyum menciptakan kebahagiaan bagi sekitar. Senyum yang tulus adalah ibadah. Memberikan senyuman untuk semua orang akan memberi keceriaan, sebab senyuman membuka pintu kebahagiaan. Ketika seseorang tersenyum tanpa paksa (tulus), ia membuat suasana perasaan menjadi lebih riang. Orang yang berjumpa dengannya atau berada di sekitarya ikut tersenyum dan merasa jadi lebih bahagia.

Dalam kaitan dengan sunyum, adalah unik bahwa nama yang diberikan untuk gapura masuk di sisi timur dari Keraton Sumenep adalah ‘Labang Mesem’. Kata ‘labang (diujar dengam logat Madura ’labeng”) dalam bahasa Jawa dinamai ‘lawang’. Keduanya menunjuk kepada pintu atau gapura dalam bahasa Indonesia. Pada kedua kata itu, yang berbeda hanyalah kosonan ‘W’ dan ‘B’-nya, dimana kedua kosonan ini acapkali ‘bertukar’, baik pada bahasa yang sama namun beda masa atau pada dua bahasa yang bertetangga seperti pada bahasa Jawa dan Madura. Labang mesem dengan demkian secara harafiah berarti: gapura tersenyum. Sudah barang tentu, penamaanya itu bukanlah tanpa pertimbangan, yaitu simbol: keramahan, sikap ramah kepada siapapu yang datamg bertamu ke Keraton Songhenep (toponimi lama untuk apa yang kini dinamai ‘Sumenep”). Siapapun yang datang bertamu mustilah dihormati, harus disikapi dengan ramah, dan diterima dengan lapang hati. Tamu ibarat ‘raja’, meskipun tempat yang didadatangi tersebut adalah tempat kediaman sang raja (disebut ‘karajyan = ka+rajya-an’), datu (dinamai ‘kadatwan = ka-datu-an’), atau ratu (dibilang “keraton = ka-ratu-an’).

Setidaknya terdapat tiga versi kisah lokal terkait dengan latar pemberian nama ‘Labang Mesem’. Pertama, dahulu pintu gerbang keraton dijaga oleh dua orang cebol – diidikatori oleh adanya dua buah ruangan berpintu rendah di kanan dan kiri gapura serta terdapat kuburan cebol kompleks makam Astatinggi. Lataran penjaganya orang cebol, maka tak heran apabila sering menghadirkan senyum pada orang yang melintasinya. Kedua, ruang terbuka yang berada di bagian atas koridoor adalah tempat raja mengawasi area di sekitar keraton, temasuk putri-putri dan para istrinya yang sedang mandi di Taman Sari (logat Madura ‘Taman Sare’). Ketika memperhatikan putri dan atau istrinya yang sedang mandi itu, raja terseyum simpul (mesam-mesem). Ketiga, pada suatu ketika Kasultaan Sumenep berhasil memukul mundur pasukan Bali. Timbul rasa dendam darinya, dan bermaksud menuntut balas. Namun tatkala pasukan Bali datang ke Sumenep, tepat di depan gerbang keraton, amarah mereka serta merta berubah, sebab warga keraton Sumenep meyambut dengan senyum ramah penuh persahabatan.

Terlepas dari versi mana yang benar, keseluruhannya menggarisbawahi perihal ‘senyum (mesem)’ terkait dengan keberadaan gapura sisi timur keraton Sumenep. Konon wujud senyuman tidak hanya tergambar pada unsur nama ‘mesem’, namun diperkuat oleh sebuah arca yang menggambar figur yanng menyunggingkan senyuman. Menurut persaksian RP. Mohammad Mangkuadiningrat, dahulu arca itu ditempatkan di sebelah timur dari pendapa keraton, dekat dengan ‘rumah lonceng’, yang terlihat lurus dari arah pandang luar gapura Labang Mesem. Namun sayang sekali, arca yang mengekspresikan senyuman itu, selaras dengan unsur nama ‘mesem’ dari gapura keraton tersebut, kini telah tiada lagi, sehingga perihal ‘seyuman’ hanya tersisakan pada unsur nama gapura. Kendati demikian, tak lantas menyurutkan keramahan warga Sumenep, yang dikenal satun dan bersahabat (friendelig).

B. Ekspresi Akulturatif Gapura Labang Mesem pada Kompleks Keraton Sumenep

Labang Mesem dibangun tahun 1781, bersamaan waktu dengan pembangunan Keraton Sumenep pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo (Pangeran Natakusuma I) oleh arsitek keturunnan Tiong Hoa bernama Lauw Piango – mengungsi ke Madura sebagai akibat Huru Hara Tionghoa di Semarang tahun 1740. Bangunan yang berwujud gapura ini adalah salah satu dintara dua gapura yang tersisa, yang semula lengkapnya berjumlah lima buah (dinamai ‘ponconiti’). Posisinya pada bagian depan keraton Sumenep menghadap ke selatan, berloksi di sebelah timur Gedong Negeri, dekat Taman Sari (dialek Madura ‘Taman Sare”). Gapura Labang Mesem dengan demikian hanya salah sebuah komponen arsirektur pada kompleks keraton Pajagalan (sebutan populernya ‘keraton Sumenep’) selain pendopo agung, gedong negeri, pengadilan keraton, paseban, taman sare, serta beberapa bangunan pribadi keluarga keraton.

Secara arsitektural Labang Mesem yang monumental masuk dalam kategori gapura padhuraksa, yaitu suatu jenis gapura (selain ‘candi bentar’), yang lazimnya ditempatkan dan difungsikan untuk memasuki ruangan yang dipandang suci atau penting. Gapura padhuraksa ini dilengkapi dengan ‘sayap’ di kanan-kirinya, sehingga bisa disebut ‘gapura bersayap’. Gapura bersayap telah terdapat semenjak Masa Hndu-Buddha dan berlanjut penggunaannya hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam. Meski beda masa dan berlainan latar religisnya, namun model arsitektur dari keduanya sama, yakni sama-sama berupa gapura bersayap. Arsitektur yang berasal dari lapis masa dengan latar religis berbeda, yaitu Masa Hidu-Buddha, tidak disikapi dengan ‘penolakan’. Suatu siakap buadaya Madura yang tidak inklusif, sebaliknya membuka diri bagi pengaruh budaya lain, seperti keterbukaannya dalam menerima tamu yang disimbolkan oleh gapura Labang Mesem. Pemangku budaya Madura terbuka terhadap budaya luar tanpa meninggalkan budayanya sendiri. Dengan perkataan lain mengadaptasi anasir budaya luar kepada budaya setempat, sehingga terbuahkan paduan budaya yang akulturatif.

Pada gapura Labang Mesem yang dibangun semasa pemerintahan Panembahan Sumolo ini, unsur arsitektural dari Masa Hindu-Buddha lainnya adalah atap yang berbentuk tumpang (meru), yakni atap bersusun dalam jumlah gasal (ganjil), yang pada gapura ini terdiri atas tiga susun, yang makin ke atas semakin mengecil dan diakhiri dengan kemuncak (Memolo). Atap meru juga didaati pada Masa Hindu-Buddha, baik pada bangunan profan terlebih pada banguan sakral, Model atap yang demikian juga berlanjut hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam, Bahkan, di beberapa daerah berlanjut sampai sekarang, seperti tergambar pada bangunan suci pura, masjd, dan sebagainya. Atap meru iitu menaungi ruangan berdinding terbuka yang berada di atas koridoor (lorong keluar-masuk), sehingga tampak sebagai bangunan berloteng (verdiping) yang digunakan untuk memantau segala aktifitas di dalam lingkungan keraton, termasuk kegiatan di Taman Sare. Pada kanan-kiri koridoor terdapat sepasang ruang kecil dan pendek dengan pintu yang pendek pula dibawah naungan teras, yang di dalamnya terdapat tangga kayu untuk naik-turun ke/dari loteng.

Kecuali atap banguan yang berbetuk meru dan konsep arsitektur padhuraksa bersayap, konponen-komponen arsitektur lain dari gapura ini, utamanya pada fasadenya, dengan jelas memperlihatkan unasir seni bangunan Eropa, seperti tergambarkan pada pilar ganda di kanan-kiri koridoor, pelipit, kolom lengkung pada koridoor, bangun segitiga pada bagian atas fasade sisi depan, maupun teknik arsitekturya. Paduan antara nasisr arsitektur Eropa-Jawa pada gapura ini menjadi alasan kuat untuk menyatakan bahwa Labang Mesem memiliki gaya arsitektur Indis. Budaya Indis yang berkembang di Indonesia pada Masa Kolonial, khususnya pada golongan menegah ke atas warga Hidia-Belada di Jawa abad XVIII-XIX Masehi, mengindikasikan percampuran antara budaya Belanda dan Pribumi, yang dapat diidentifikasi pada pelacakannya terhadap tujuh unsur budaya universal (Sukiman, 2000). Gaya Indis tersebut tergambar jelas pada seni-bangun (arstektur), seperti dicontohkan oleh gapura Labang Mesem yang akulturatif. Ekspresi akulturatif tampak kuat pada kompleks keraton Sumenep, yang ditadai oleh percampuaran anasir budaya Jawa, Belanda, Cina dan Madura.

C. Kekayaan Khasanah Heritage Performig Art di Sumenep

Sebagai ‘daerah bersejarah’ sekaligus ‘daerah kaya budaya’ Sumenep memiliki jejak budaya masa lampau yang kaya, beragam, unik, dan penting. Peninggalan arkeologis, utamanya dari Masa Perkembangan Islam dan Masa Koloial, terdapat di pejuru wilayah Sumenep. Hal serupa tergambar dalam seni-budayanya, tidak terkecuali pada seni-pertunjukan daerah (lokal)-nya yang mentradisi. Bila kedua sumber daya budaya yang nota bene merupakan ‘warisan budaya (heritage)’ itu dikombinasikan, maka hadir apa yang dinamai ‘heritage performing art’, yakni penyajian seni pertunjukan (performing art) yang heritage di suatu pentas yang juga merupakan heritage.

Salah sebuah diantara tidak sedikit arsitektur heritage di Kabupaten Sumenep adalah komplek keraton Pajagalan atau keraton Sumenep, termasuk di dalamya adalah gapura bersayap Labang Mesem yang artistik, unik dan simbolik sebagai sebuah komponen arsitekturnya. Gapura yang masih tegak berdiri dalam kondisi relatif utuh dan lesari di seberang utara jalan ini layak kiranya dijadikan sebagai pentas (stage) bagi pemetasan beragam bentuk seni-pertunjukan lokal Sumenep yang mentradisi. Bagian depan gapura heritage Labang Mesem menarik dan unik untuk dijadikan sebagai latar (back ground) bagi pementasan seni-budaya. Tata cahaya ataupun video maping tentu bakal menambah keelokan tampilan Labang Mesem yang monumenta; itu pada malam hari sebagai latar pemetasan.

Disamping gapura Labang Mesem, sebenarnya di penjuru daerah Sumenep masih terdapat cukup banyak bangunan heritage yang tidak kalah unik dan menariknya untuk digunakan sebagai stage atau back ground pementasan seni-pertunjukan. Dalam kaitan itu pementasan seni-pertunjukan bertajuk ‘Labang Mesem Cultural Movement” pada Minggu 13 Mei 2018 dapat dijadikan contoh terapan konsepsi ‘Heritage Performing Art” di Sumenep. Ke depan model demikian bisa adaptasi untuk dicobaterapkan kepada monument heritage lainnya di Sumenep. Heritage performing Art merupakan akhtiar kultural yang diharap dapat memberi ragam manfaat. Ibarat Mutiara kata ‘sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui’, ikhtiar ini bisa untuk: (a) mengenalkan bahkan memahamkan heritage yang ada di suatu daerah, baik arsitektur yang heritage ataupun performing art yang heritage, (b) tampilan yang artistik, unik dan menarik dari monumen heritage dapat dijadikan pentas atau latar belakang pementasan seni-pertunjukan, (c) kandungan makna atau pesan dalam monumen heritage bisa digunakan untuk mengkomunikasikan atau menguatkan isi pesan yang disampaikan oleh pementasan seni-pertunjukan atau kegiatan lain.

D. Wahana bagi ‘Smiling Sucsesion’

Suksesi pemeritahan, baik berupa Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) tingkat Kota/Kabupaten dan Provinsi maupun Pilpres (Pemilihan Presiden) tingkat nasioal adalah suksesi pemerintahan yang dilangsungkan secara periodik, yakni lima tahuan. Setiap tahun bakal berlangsung Pilkada ataupun Pilpres, sebagimana halnya Pilkada Kota/Kabupaten dan Provinsi tahun 2018 pada bulan Juni 2018 mendatang. Untuk kepentingan itu, KPU Jawa Timur sebagai penyelenggara Pemilu (Pemilihan Umum) melaksanakan ikhiar untuk mensosialisasikan perhelatan yang segera dilangsungkan, yang antara lain dilaksanakan di Sumenep. Pementasan seni-pertunjukan dipertimbangkan sebagai tepat untuk didayaguakan sebagai wahana bagi sosialisasi itu, dengan pengharapan bahwa Pilkada Kota/ Kabupaten dan Provisi mendatang berlangsung dengan tertib, aman, demokratis dan membuahkan pilihan – yakni kepala daerah – yang amnah bagi penyelenggaraan pemerintahan serta pemajuan daerah untuk lima tahun ke depan.

Sosialisasi Pilkada 2018 di Sumenep pada Minggu malam, tanggal 13 Mei 2018 diselenggarakan dengan mengambil “spirit” gapura Labang Mesem, dalam bentuk ‘Heritage Performing Art’. Sengaja gapura Labang Mesem dijadikan spirit, dengan antara lain mempertimbangkan makna kata ‘mesem (senyum, smile)’ pada unsur sebutannya. Dalam konteks Pilkada, seyumam dapat dijadikan unsur penyampaikan pesan, yakni ‘laksanakan Pilkada mu dengan senyuman’, atau menjadi semacam ‘smiling sucsesion’. Memulih dengan gemibira (baca ‘tersenyum’), tersenyum bila memperoleh kemenangan sebaliknya menerima realitas kekalahan dengam senyuman (kelapangan hati) pula. Senyuman adalah kata kunc’ untuk mengeleminir kejadian buruk, baik sebelum, selama atau pasca Pilkada. Selain itu, pilihan spirit sosialisasi yang ditimba dari makna gapura (labang = lawang = pintu) bernama Labang Mesem menyiratkan pesan bahwa Pilkada adalah ‘pinitu masuk’ bagi suksesi pemeritahan periodik. Merupakan pintu pula bagi perubahan ataupun kesinambungan dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembagunan pada lima tahun kedepan.

Dengan pemakanaan yang demikian, niscaya Pilkada bakal merupakan ritus suksesi pemeritahan yang insya Allah bermakna bagi khalayak. Semoga tulisan yang cuma bersahaja ini membuakan keraedahan. Nuwun.

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 11 Mei 2018

 

Continue Reading