0
10 shares

Permenungan ‘HARI BUMI’

MERAWAT BUMI MERAWAT KEHIDUPAN :
Interelasi Manusia dan ‘Ibu’ Bhumi dalam Budaya Jawa Lama

Pariwara ekologis pada salah satu Stasiun TV Swasta Nasional menggambarkan bumi yang tengah sakit dan karenanya berada dalam perawatan. Sementara, ilustrasi instrument musiknya, yang jika disertai dengan syair lagu, maka memuat kalimat syair awal berbunyi ‘Kulihat IBU PERTIWI, sedang bersusah hati, air matanya berlinang ……”. Benarkah kini bumi kita tengah sakit, apakah kita abai dalam merawatnya? Alpa merawat bumi, sama halnya dengan mengabaikan perawatan terhadap kehidupan kita sendiri. Atas dasar pertimbangan tersebut, tulisan ini sengaja mengangkat judul “MERAWAT BUMI MERAWAT KEHIDUPAN”.

Dalam hubungan itu, telaah dilakukan dengan memetik dan mengkompilasikan pesan-pesan bijak yang ditimbai dari khasanah kebudayaan Jawa masa lalu. Semoga memberi teladan bijak kepada kita dalam membangun relasi harmonis antara manusia dengan ‘ibu’ bumi – tempat kita menyabung hidup dulu, kini hingga mendatang.

Ilustrasi bumi yang panas karena terbakar

A. Cakupan Arti Istilah ‘Bumi (Pertiwi)’

Dalam Bahasa Indonesia ada beberapa kosa kata yang bersinonim arti, antara lain ‘bumi, pertiwi, dunia dan jagat’. Keempatnya juga dikenal dalam Bahasa Jawa, baik pada Bahasa Jawa Baru dan sebagian dalam Bahasa Jawa Tengahan ataupun Jawa Kuna.

Istilah ‘bumi’ secara harafiah berarti 1. Planet tempat manusia hidup; dunia; jagad; 2. Planet ketiga dari matahari; 3. Permukaan dunia; tanah (KBBI, 1995:175). Istilah ini merupakan serapan dari Bahasa Sanskreta, yaitu ‘bhumi’, yang secara harafiah berarti: bumi, dunia, tanah, daratan, negeri, dasar, alas (Zoetmulder, 1995:142).

Dalam agama Hindu, Bhumi dikonsepsikan sebagai dewata, baik dalam aspek Bhumidewa (‘Dewa Bhumi’ Brahman) maupun Bhumidewi (Dewi Bhumi). Putra pasangan Dewa dan Dewi Bhumi ini adalah Bhoma, yang karenanya dinamai dengan ‘Bhumija, Bhimiputra, atau Bhumyatmaja’. Pada agama Hindu terdapat suatu ritus pensucian (purifikasi), yang secara khusus ditujukan pada bumi, dengan sebutan ‘bhumisoca atau bhumisuddha’.

Selain itu, kata ‘bhumi’ direlasikan dengan bidang pemerintahan. seperti tampak pada perkataan ‘bhuminatha, bhumipala, bhumipalaka’ yang berarti raja serta ‘bhuminathadhipa’ yang berarti maharaja. Perkataan ‘bhumimandala’ digunakan untuk menyebut ‘lingkaran bumi’ atau seluruh bumi, ‘bhumibhaga’ untuk bagian dunia, dan ‘bumitala’ untuk muka bumi atau tanah (Zoetmulder, 1995:141).

Istilah ‘bumi’ disinomimartikan dengan ‘pertiwi’, yang secara harafiah berarti: 1. Bumi; 2. Dewi yang menguasai bumi; 3. Tanah tumpah darah; ibu pertiwi (KBBI, 2002:864).

Istilah serapan dari Bahasa Sansekreta ini memiliki varian penulisan/penyebutan ‘prthiwi, prthwi, atau pritiwi‘. Secara harafiah ‘prthiwi’ menunjuk kepada ‘suatu yang besar atau luas’, bumi, dunia, tanah (Zoetmulder, 1995:863). Dalam sistem kedewataan (pantheon) Vedhaisme yang politheistik, Prativi merupakan nama seorang Dewi, atau disebut juga dengan ‘Dewi Bhumi’. Sementara itu, Kakawin Ramayana mengkisahkan Dewi Sita (istri Rama) adalah putri dari Pratiwidewi. Dalam bagian akhir kakawin ini, manakala Sita menjalani ‘uji kesetiaan’ dengan terjun ke dalam api unggun (pancaka), terjadi suatu kemukzizatan, dimana Sita jatuh tepat di pangkuan Prativi, yang tiada lain adalah bundanya sendiri. Oleh karena itu bisa difahami bila terdapat perkataan ‘pangkuan atau haribaan Ibu Pertiwi’. Sebagai ibu, ketika anak-anaknya sedang dalam kesedihan, ‘pangkuan teduhnya’ dibuka lebar bagi putra/i-nya. Kalimat ‘menangislah di pangkuan ibumu ….…’ adalah gambaran tepat mengenai itu. Demikian pula, dalam pertempuran di medan laga, kusuma bangsa yang gugur dilukiskan sebagai bunga tabur, yang menaburi muka bumi dan diistilahi dengan ‘berpulang ke pangkuan ibu pertiwi’, seakan seorang anak yang beranjak tidur dengan pulasnya di pangkuan nyaman ibundanya.

Patung Atlas dalam mitologi Yunani yang menyangga bumi

Dunia adalah istilah lain yang acapkali disinonimkan dengan bumi maupun pertiwi. Dalam Bahasa Indonesia, dunia diartikan sebagai: 1. Bumi dengan segala sesuatu yang terdapat di atasnya; planet tempat kita hidup; 2. Alam kehidupan; 3. Semua manusia yang ada dimuka bumi; 4. Lingkungan atau lapangan kehidupan; 5. (segala) yang bersifat kebendaan; yang tidak kekal; 6. Peringkat antar bangsa (seluruh jagad atau segenap manusia) (KBBI, 2002:280). Istilah yang merupakan serapan dari Bahasa Arab, yaitu ’Dunya’, istilah ini sering diberi konteks ‘alam’, sehingga terdapat sebutan ‘alam dunia (‘alam ndonyo’, dalam istilah Jawa Baru). Sebagai salah sebuah alam, secara binnary dioposisikan dengan ‘alam akhirat (‘alam akherot’ dalam Bahasa Jawa Baru). Hal demikian juga terdapat di dalam kitab suci Alqur’an, yang antara lain memuat kalimat ‘fitdunya wal aqirat (duna dan ahirat)’ dan ‘fitdunya khasanah waa fill akhirati khasanah’.

Alam dunia acap konsepsikan sebagai sebuah alam, padamana manusia hidup dengan sifat yang sementara (maya). Oleh karena itu, hal-hal yang bersifat duniawi sering dikatakan dengan ‘dunia maya’. Terlampau berorientasi pada kepentingan duniawi diistilahi dengan ‘kedonyan’, dan dinilai kurang baik, karena menjebakkan diri pada kemayaan balaka. Harta yang bersifat duniawi dengan karenanya disebut ‘donyobrono’. Sedangkan alam akherat adalah alam pasca kematian, yang lebih abadi sifatnya, sehingga ada sebutan ‘alam kelanggengan’. Alam akhirat atau alam arwah acapkali diposisikan di bagian bawah dari muka bumi, sementara alam kedewataan/keIllahian diposisikan di bagian atas dari muka bumi.

Ada pula kata ‘jagat’ dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia, yang menunjuk pada bumi, dunia, alam. Kata ini bisa dikombinasikan dengan kata ‘buana’ menjadi ‘jagat-buana’, yang berarti dunia semesta (KBBI, 2002:449).

Kata ‘jagat’ merupakan terjemahan dari Bahasa Sanskreta ‘Bhuwana’, dalam arti: dunia, bumi (Zoetmulder, 1995:145), atau bisa juga menunjuk pada alamraya (cosmos), dalam Bahasa Indonesia ditulis ‘buana’ dan diartikan dengan dunia; jadat; benua. Dikenal adanya dua kategori buwana menurut ukurannya, yaitu: (1) bhuwana alit (jagat kecil, micro cosmos), dan (2) bhuwana hageng (jagat gede, macro cosmos). Bhuwana alit dikonsepsikan sebagai replika atau wujud kecil (miniatur) dari bhuwana hageng. Sehingga ada sifat-sifat pokok yang serupa dari keduanya, sehingga apa yang tengah berlangsung di jagat gede berselaras pula dengan yang terjadi pada jagat cilik atau sebaliknya.

Dalam konsepsi Hindu, pengusa jagat raya adalah Dewa Wisnu, yang dikenal dengan ‘Cakravartin’. Oleh karena itu, dapat difahami apabila banyak raja berambisi untuk berkuasa di dunia kecil (bhuwana alit) mengidentifikasi dirinya dengan Dewa Wisnu (Hari) sebagai penguasa dunia besar (bhuwana hageng).

Istilah dalam Bahasa Jawa Kuna ‘bantala’, atau ‘bantolo’ dalam Bahasa Jawa Baru, acap dikaitkan dengan kata ‘jagat’ menjadi ‘jagat-bantolo’. Istilah ‘bantala’ menunjuk pada suatu bentuk gelang lengan (Zoetmulder, 1995:104).

Yang dimaksud dengan kombinasi dua kata itu adalah lingkaran dunia atau bumi yang membulat, yang dalam perkataan lain diistilahi dengan ‘bundering bawono (bulatnya dunia)’.

Demikianlah, terdapat beragam istilah yang berkenaan dengan bumi, baik yang merupakan istilah serapan dari Bahasa Sanskreta, Bahasa Arab, maupun istilah lokal. Kendatipun bersinonim arti, namun penggunaan masing-masing istilah itu hendaknya dilakukan secara cermat dan tepat, yakni dengan mempertimbangkan konteks kalimat maupun tujuan pemakaiannya, sebab bisa menunjuk kepada maksud khusus.

 

B. Oposisi Biner Ibu Prativi – Bapa Akasa

Dalam sistem ‘kategori dua’, masing-masing kategori dipolakan berposisi satu sama lain namun sekaligus berinterelasi (oposisi biner, binnery opposition). Sejalan dengan kategori dua itu, unsur bumi (bhumi atau prativi) yang disatukategorikan dengan perempuan/wanita (ibu) dioposisikan dengan unsur angkasa (akasa) yang disatukatergorikan dengan laki-laki (bapa). Oleh karena itu muncul kalimat ‘bapa akasa-ibu prativi’.

Gambaran demikian mengingatkan kita kepada motologi Hindu, dimana Pertiwi (dalam Bahasa Sanskerta ditulis ‘pṛthvī, pṛthivī’) dikonsepsikan sebagai Dewi. Sebutan lain terhadapnya adalah “Ibu Bumi” (dalam Bahasa Indonesia terdapat sebutan “Ibu Pertiwi”). Pertiwi juga disebut ‘Dhra (dalam Bahasa Indonesia terdapat kata ‘dara’, yakni sebutan bagi wanita muda), Dharti atau Dhrthri, artinya kurang lebih “yang memegang semuanya”, Ada pula nama lain baginya, yaitu ;Bhumi, Bhudevi atau Bhuma Devi’.

Sebagai ‘pṛthivī matā ‘ atau ‘Ibu Pertiwi”, Dewi ini adalah lawan atau istri (sakti) dari Dyaus Pita atau ‘Bapak Angkasa (Dewa Langit)”, yang dalam agama proto-Indo-Eropa disebut ‘Dyeus’ atau Zeus Pater, dan di-Latin-kan menjadi ‘Jupiter. Pertiwi merupakan ibu dari Dewa Agni dan Indra. Dalam Rgveda 1.89.4b Pitar Dyaus muncul disamping Mata Prthvi. Bumi dan Langit acap disapa berpasangan, yang kemungkinan menekankan pada gagasan ‘dua paruh yang saling melengkapi satu sama lain (binnary opposition). Prthvi juga dimitekan sebagai salah seorang diantara dua istri (sakti) Bhattara Wisnu. Dalam hal ini, Prthvi adalah bentuk lain dari Laksmi. Sakti Wisnu lainnya adalah Dewi Sri (Sang Hyang Sri), yang di Nusantara secara khusus dikaitkan dengan ‘Dewi Padi’. Laksmi dan Sri karenanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Bhumi (nama lain dari Laksmi) menggambarkan bentang alam, padamana tanaman padi (yang didewatai oleh Dewi Sri) tumbuh dan berkembang.

Oposisi biner antara Bapa Akasa dan Ibu Pertiwi antara lain tampak pada teks prasasti pendek (short inscription) yang diketemukan di Malang Selatan, yaitu : (a) prasasti Supit Urang – kini masuk di areal perkebunan Gerbo, dan (b) prasasti Pasrujambe dari dekat Senduro pada lereng timur-selatan Semeru.

Prasasti Gerbo dari Masa Akhir Majapahit (abad ke-15 Masehi) memuat kalimat ‘….… Tulusanulu sa den kadi botingakasa lawan prtiwi sorga kabuhutiha (Knebel, 1902:342-343). Ada keserupaan dengan kalimat dalam prasasti pendek yang sejaman, yaitu Prasasti Pasrujambe, yang memuat teks ‘iki pangestu yang mami, guru-guru yen arabi den kadi boting ngakasa lawan prtiwi papa kabhuktihi’ (Sukarto, 1990:16-17), sebagai suatu kalimat mengenai petuah nikah.

Kedua prasasti kategori piwulang (niti, ajaran atau nasihat) ini berisi suatu perumpamaan, yang menggunakan dua unsur fisis-alamiah, yaitu angkasa (akasa, ngakasa) dan bumi (prtiwi), Kedua unsur fisis-alamiah tersebut diposisikan ‘sama berat (bot)’nya. Bahkan, lebih jelas lagi Prasasti Pasrujambe memperumpakan relasi dalam kerangka hubungan nikah (salaki rabi) antara laki-laki (ibarat ‘akasa, ngkasa’) dan perempuan (ibarat ‘prtiwi’) sebagai sama beratnya atau setara dalam berat. Dalam prasasti yang tak ditulis atas perintah dari raja melainkan oleh pertapa di gunung ini, oposisi biner tergambar pada relasi antara langit-bumi sebagai simbol hubungan pernikahan antara pria-wanita, dimana wanita/perempuan disatukategorikan dengan bumi (prtiwi)
.
Demikian pula, dalam filosofi Barat, persetubuhan (coity) antara laki-laki dan wanita digambarkan sebagai lengkung langit yang menelungkupi bumi, dimana langit adalah simbol bagi laki-laki dan bumi sebagai simbol bagi perempuan. Hal ini mengingatkan kita kepada tradisi ‘tiban atau ujung’ dalam kaitan dengan ‘ritus meminta hujan turun’, dimana turunnya hujan dari langit adalah simbol bagi air mani (sperma) pria (sekategori dengan ‘langit’) yang membasahi bumi (sekategori dengan ‘bumi’), yang menyebabkan terjadinya kesuburan (fertility), yakni prasyarat untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman.

Hubungan langit dan bumi mensimbolkan hubungan antara pria-wanita, yang oleh sejumlah agama dijadikan konsepsi religis untuk kepentingan kesuburan, baik kesuburan anak ataupun kesuburan tanaman. Serupa dengan ibu yang melahirkan anak, tanah sebagai tempat tumbuhnya tanaman secara simbolik digambarkan sebagai ‘ibu bagi aneka tumbuhan’.

Relasi bumi-langit juga tergambar pada perkataan ‘dimana bumi berpijak, di sana langit dijinjing’, yang menegaskan tentang perlunya seseorang untuk menyesuaikan diri (beradaptasi) dengan adat dan keadaan tempat tinggal. Dalam perumpaan itu, bumi berada di bawah dan langit pada posisi di atas. Paparan pada alinea-alinea diatas memberi cukup gambarkan bahwa oposisi biner antara ‘pria-wanita’ – yang satu kategori dengan ‘angkasa (langit)-bumi’ – merupakan wujud kategorial dengan pola ‘kategori dua’ yang akhais (kuno). Dalam hal demikian, bumi bukan sekedar dilihat sebagai salah sebuah unsur fisis-alamiah di jagad raya, namun memasuki pula dunia konsepsional, simbolik maupun filsafat – tak terkecuali dalam bidang religi.

 

C. Pesan Bijak Interelasi Manusia dengan ‘Ibu’ Bumi

Apabila bumi dimaknai dan diposisikan sebagai ‘ibu’, maka hubungan antara manusia dan bumi dikiaskan sebagai hubungan (interalasi) antara manusia dengan ibundanya. Manusia ibarat ‘anak’ yang semestinya berlaku bhakti pada ibu (bhakti ibu). Inilah yang tergambar dalam sasanti ‘bhakti pertiwi’, yang ditandai oleh kesedian untuk merawat (melestarikan) bumi, bahkan kesedian untuk melakukan pembelaan bila terjadi perusakkan terhadap bumi. Pembelaan tersebut idealnya seperti ‘perjuangan heroik’, yang berwujud perjuangan hingga titik darah penghabisan kepada ibu-pertiwi (negeri). Terkait dengan itu, terdapat perkataan simbolik ‘tanah tumpah darah’, yang mengandung arti kesedian untuk tumpahkan darahnya bagi tanah atau bumi dimana ia berpijak, tepatnya ‘tanah-air (negeri)’. Ansur ‘tanah dan air’ adalah dua diantara lima unsur fisis-alamiah pembentuk jagad raya (pancamahabhuta). Pada konteks peristiwa kebhaktian itu dilukiskan adanya kesedian untuk melakukan pembelaan total terhadap ibu pertiwi (negeri)-nya yang tengah terancam. Suatu bentuk kewajiban yang perlu dilakukan dengan dasar bhakti-nagari.

Ilustrasi anak yang merawat ibu yang tak berdaya karena sedang sakit

Seperti halnya seorang anak yang berwajiban untuk menghormati ibunnya, manusia semestinya mengekspresikan pernghormatannya kepada bumi. Tunduk atau bahkan mencium bumi adalah ekspresi ‘sujud’ manusia terhadap bumi, yang tergambar pada banyak perilaku ritual dari berbagai agama. Pada contoh teladan lain, bermaknanya tanah – utamanya tanah kelahiran – tergambarkan dalam tindakan mencium tanah di halaman rumahnya yang telah sangat lama tidak dipulanginya lantaran beraktifitas di tempat jauh, Walau meninggalkan tanah kelahiran, dan lama tak pulang, namun ‘kerinduan kepada tanah kelahiran’ adalah kandungan rasa yang tak pernah lekang dalam diri setiap orang. Fenomena ‘mudik’ tahunan adalah pula perwujudan mengenai kerinduan akan tanah kelahiran. Oleh karena itu, dapat difahami bila terdapat orang yang berpesan apabila kelak meninggal, dia ingin disemanyamkan di tanah kelahirannya, seperti seorang perantau yang rindu pulang ke haribaan ibunya.

Demikian pentingannya bumi bagi manusia, maka ketika bersaksi atau bersumpah-serapah, orang acap menjadikan bumi sebagai saksi. Dalam kaitan itu, Mahayana Buddhisme memberi gambaran lewat sikap tangan (mudra) ketika bersamadi, yakni Bhumisparsamudra, yang menggambarkan pemanggilan Bhumi oleh Sang Buddha sebagai saksi atas keberhasilanNya dalam mengatasi mara (godaan). Begitu pula, terdapat sumpah-serapah yang menggunakan ucapan ‘demi bumi (pertiwi) aku bersaksi bahwa .…”. Persaksiannya demikian ‘bukanlah main-main’, karena dipersaksikan di hadapan bumi – ibarat penyataan tulus atau ‘janji suci’ seorang anak di hadapan bundanya. Hal ini memberi gambaran bahwa bumi dipandang sebagai memiliki tuah, yang bisa menumpahkan sangsi apabila janji/sumpah yang diucapkannya tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak dipenuhinya.

Kenyataan menunjukkan bahwa tak senantiasa manusia berlaku bhakti terhadap pertiwi. Malahan tak jarang justru menjadi perusak (ambeksio) terhadap bumi. Ibarat anak yang durhaka pada bunda, maka Ibu Bhumi pun ‘murka’, dan kemudian menumpahkan bencana terhadapnya, yang antara lain berupa tanah longsor, banjir – atau sebaliknya kekeringan, pemasan global, dsb. Oleh karena itu, bencana acap dimaknai sebagai ‘murka alam’ atas perusakkan yang dilakukan oleh manusia terhadap alam (baca ‘bumi’).

Buah atau ganjaran (pala, reward) dari/bagi tindak (karma) merusak alam tidak hanya ditumpahkan tatkala hidup di dunia, namun juga pada alam kematiannya, Ketika pendurjana alam meninggal, mitologi mengenai alam arwah menggambarkan ‘siksa kubur’ yang dalam relief cerita Kunjarakarna pada teras I Candi Jajaghu, tepatnya pada adegan ‘siksa neraka’, divisualkan sebagai gambaran siksa neraka yang setimpal degan perbuatan yang telah dilakukan di dunia menurut konsepsi ‘karma-pala’. Pendosa digambarkan menyunggi lempengan tanah tebal (nyunggi lemah). Siksaan serupa tergambar dalam sustu syair lagu ‘siksa beraka, yang antara lain berbunyi ‘…… karna dihimpit bumi dan dibakar api ……..’. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pada saatnya bumi tak kuasa untuk menahan amarahnya, sehingga akhirnya menumpahkan bencana ataupun siksa kepada para durjana pada alam.

 

D. Penyadaran akan Urgensi Merawat Bumi

Keberkahan yang dianugerahkan dan sebaliknya bencana demi bencana yang dilaknatkan maupun kondisi ‘susah, bahkan sakit’ dari bumi mustinya menumbuhkan kesadaran manusia agar senantiasa merawat bumi.

Manusia bukan sekedar mengambil berkah dari alam (eksplorasi-eksploitasi dan fungsionalisasi), namun perlu menyertai dengan perawatan terhadap alam (konservasi). Merawat bumi pada hakikatnya adalah perawatan terhadap kehidupan. Oleh karena bumi menjadi penopang bagi kehidupan, maka manusia pun semestinya menjadi penopang bagi keselamatan/kelestarian bumi. Sesungguhnya, kewajiban untuk ‘menyelamatkan dan merawat bumi’ tidak hanya berada di pundak manusia, namun juga pada tangan dewata.

Dalam doktrin Waisnawa Hindu dikenal adanya ‘kurmawatara”, yaitu penjelamaan Wisnu ke dunia (awatara) sebagai Sang Mesias (Penyelamat) dalam wujud kura-kura raksasa (kurma) untuk menyelamatkan bumi ketika akan tenggelam akibat air bah yang teramat dahsyat. Serupa itu, di dalam mitologi Yunani dikenal adanya ‘Dewa Atlas’, yang digambarkan setia dalam menopang bola dunia (atlas) di pundaknya demi kestabilan dunia.

Demikianlah, kestabilan dan keteraturan di muka bumi merupakan ‘kata kunci’ bagi bumi beserta kehidupan semua mahluk hidup yang berlangsung di dalamnya. Dalam doktrin Hindu keteraturan yang demikian dinamai ‘rta’. Pada hakikatnya, semua agama juga menjunjung tinggi keteraturan dan ketertiban dunia lewat ajaran atau hukum (dharmma) dalam kitab sucinya.

Penyimpangan terhadap rta menjadi musabab terjadinya kehancuran dunia, yang dalam konsepsi Hindu dinamai ‘Pralaya’ atau yang jauh lebih dasyat daripada itu disebut ‘Mahapralaya’.

Kondisi terbaik dari kehidupan di alam dunia dilukiskan sebagai ‘jaman emas (swarnayuga), yang berlangsung bila rta ditegakkan setegak-tegaknya.

Sebaliknya, pada zaman akhir dimana kualitas kehidupan berada di titik nadir, yang diistilahi dengan ‘zaman besi (kaiyuga)’ atau disebut dengan ‘jaman kolo bendu’, kehidupan di bumi berada pada ambang kehancuran.

Mari selamatkan bumi

Dalam suatu tembang religis yang Islami terdapat syair lagu, yang melukiskan kondisi labil dari bumi lantaran hukum agama tidak lagi tegak pada zaman akhir, dengan syair “Jaman wis akhir, bumine goyang, akeh manungso ora sembahyang. ……’.

Tulisan yang bersahaja ini, yang ditulis dalam rangka ‘Hari Bumi’ tanggal 13 April 2-17. Kendati agak lambat (terlambat), namun diharap dapat memberi kemanfaatan bagi publik, setidaknya sebagai ‘picu spirit’ untuk ‘merawat bumi dalam kerangka marawat kehidupan”.

Dalam paparan dan telaah ini tergambar bahwa budaya Jawa Masa Lampau (Lama) terkandung khasanah pesan, teladan dan model kebijakkan terkait dengan interelasi bijak antara manusia dan ‘ibu bumi’. Perihal itu bukan hanya tepat untuk diterapkan untuk jamannya, namun dalam sejumlah hal dapat ditransformasikan bagi kehidupan masa kini dan mendatang.

 

Salam budaya ‘Nusantarajayati’.
Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, 25 April 2017


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.