0
7 shares

Telisik Temuan Arkeologis
Suatu Tinjuan Awal

ANCIENT WATER PARK KASWANGGA :
Jejak Teknologi Keairan Arkhais Situs Ngawonggo
(Bagian I)

 

A. Viralitas Berita Media Sosial Temuan Arkeologis Situs Ngawonggo

Sejak empat hari lalu (Senin, 24 April 2017), di media sosial Face Book (FB) tersiar berita mengenai penemuan arkeologi yang disinyalir sebagai ‘patirthan’ di Jl. Nanasan Desa Ngawonggo Kecamatan Tajinan Kabupaten Malang.

Sebenarnya, tinggalan purbakala yang berada di bantaran Sungai Mantenan ini bukan baru kali pertama ditemukan warga. Bagi masyarakat Ngawonggo, utamanya yang berusia setengah baya ke atas, mereka masih memiliki memori mengenai adanya pacuran dan kolam berbatu di tepi sungai ini.

Selang empat dasawarsa berikutnya, utamanya sejak rumah-rumah tinggal warga telah memiliki sumur, kolam air (patirthan) yang hingga tahun 1970-an masih dimanfaatkan untuk mandi dan ambil air bersih (ngangsu) itu lambat laun ditinggalkan, dan karenanya menguaplah dari memorinya.

Setelah permukaan tanah di atasnya tererosi dan mengisi kolam serta menutupi parit pemasok air dan pancuran airnya, nyaris tak ada lagi yang berminat untuk memanfaatkannya. Pada akhirya, bentang area sepanjang 150-an meter yang berpeninggalan arkeologis pada lembah sisi selatan Sungai Mantenan itu ditumbuhi semak-belukar, pohon pisang bahkan tanaman keras serta dibauti lumut tebal. Oleh karena itu, penemuan pada beberapa hari lalu tersebut seakan menjadi temuan baru. Pada pihak lain, sebagian warga yang telah berusia tua yang dulu penah melihat dan memanfaatkannya, peristiwa ini mengingatkan kembali keberadaannya pada beberapa dasawarsa lalu.

Berita yang diunggah ke media sosial dan kemudian dibagi (share)-kan, baik oleh perorangan maupun komunitas peduli-pecinta sejarah di Malangraya itu mampu mengundang perhatian dan menjadi bahan perbincangan publik.

Apalagi setelah sehari dan dua berikutnya (tanggal 25 sore dan 26 pagi April 2017) sejumlah media cetak dan on line memberitakannya, berita penemuan arkeologis itu kian merebak.

Pada tanggal 27 April 2017, Kabid Seni-Budaya Disbupar Kabupaten Malang dan staff, Kepala BPCB Jawa Timur dan staf maupun insan pers dari berbagai media cetak, visual dan on line — termasuk juga saya (Dwi Cahyono) – sigap untuk segara turun lapangan (situs).

Bersamaan itu, aparat Desa Ngawoggo serta Muspika Kecamatan Tajinan menyertai turun situs, berbaur diantara kunjungan warga desa setempat dan beberapa desa tetangga, yang dari pagi hingga sore mengalir datang lantaran ingin tahu mengenai tinggalan purbakala yang oleh sebagian besar dari mereka baru diketahuinya itu.

Fenomena ini memberi gambaran bahwa ternyatalah tinggalan sejarah-arkeologi masih cukup diminati khalayak lintas usia dan lintas latar belakang. Kembali diperoleh bukti bahwa media sosial (medsos) terbukti memiliki pengaruh kuat kepada publik, temasuk mampu menggerakkan ketertarikan warga masyarakat untuk mendatangi tinggalan arkeologis yang baru diketemukan atau diketemukan kembali. Berita temuan di Situs Ngawonggo, yang mulanya menjadi berita di FB mengalami pemviralan, dan selanjutnya menjadi pengisi berita pada media komunikasi lain (cetak, on line, visual/TV, dsb.).

Deretan sisa arca yang masih bisa dikenali di lokasi petirthan
Denah sederhana situs Ngawonggo Tajinan Malang

 

B. Tata Kelola Air pada Komunitas Keagamaan di Kahyangan Kaswangga

Demi mendengar nama ‘Ngawonggo’, para peminat pertujunjukan wayang mengasosiakan dengan negeri yang diperintah oleh Basukarno (Adipati Karno), sehingga muncul pendapat bahwa toponimi desa dimana tinggalan arkeologis tersebut diketemukan bisa jadi meminjam nama negeri dalam cerita wayang. Apalagi, tetangga desa ini memiliki nama ‘Purboyo’, yang juga merupakan nama negeri dalam kisah pewayangan, yakni negeri yang diperintah oleh Gatotkaca.

Kali Manten yang tepat berada di bawah situs
Arung yang berada di atas situs, bersamaan dengan kali Manten mengapit situs Ngawonggo

Namun sesungguhnya, nama ‘Ngowonggo’ merupakan alih penyebutan dari nama kuno (archaic name) yang telah disebut pada Prasasti Kanuruhan B (Wurandungan) bertarikh 944 Masehi, yaitu ‘Kaswangga’.

Prasasti tembaga (tamraprasasti) yang ditulis atas perintah Pu Sindok (Sri Isana) itu menyebut lima (panca) kahyangan dalam Watak Kanuruhan menurut penjuru mata angin, yaitu: (1) Awaban. (2) Kaswangga, (3) Pagawan, (4) Kagotran, dan (5) Panghulun.

Bila Kahyangan Awaban dilokasikan di Ngabab pada bagian barat Malang, maka kahyagan Kaswangga cukup alasan bila dilokasikan di Ngawonggo pada bagian timur Malang.

Kahyangan Pangawan bisa dilokasikan di bagian utara Malang (sekitar kecamatan Pakis-Jabung), Kahyangan Kagotran di bagian tengah Malang, dan Kahyanagan Panghulun boleh jadi terletak di bagian selatan Malang. Jika benar demikian, komunitas keagamaan di Kaswangga telah ada pada medio abad X Masehi, yang konon masuk dalam wilayah Watak Kanuruhan.

Cukup alasan untuk menyatakan bahwa Ngawonggo adalah suatu permukiman keagamaan yang memiliki perjalanan sejarah panjang, setidaknya sejak Masa Isnawamsa pada Kerajaan Mataram yang berpusat di Jawa Timur. Oleh karena itu wajar jika di Desa Ngawonggo terdapat sejumlah areal yang memiliki indikator peradaban masa lampau, seperti Puthuk, yang antara lain memiliki temuan berupa bata-bata kuno, guci, lumpang batu, dan fragmen-fragmen terakota. Ketuaan usianya itu ditopang oleh letak geografisnya, yang berada di ‘jalur puba’, yang menghubungkan antara daerah Tumpang dan Turyyan (kini ‘Turen’), sehingga Kaswangga menjadi desa (thani) yang cukup strategis dan maju pada jamannya.

Arca yang tersisa sudah agak sulit diidentifikasi karena termakan usia
Saluran pembuangan air petirthan yang langsung menuju kali Manten di bawahnya, jelas sekali ini adalah ‘man made’ alias buatan tangan manusia.

Posisinya pada lembah sisi selatan Gunung Ronggo, yang juga mempunyai tingggalan arkeologis Masa Hindu-Buddha.

Nama ‘Ronggo’ berasal dari kata arkhais ‘Rangga’, istilah yang menunjuk kepada gelar birokratis, seperti tampak pada nama dan gelar Rangga Wuni, Rangga Lawe, Sri Ranggah Rajasa, dsb. Oleh sebab itu, bisa jadi pada masa lalu sekitar bukit ini pernah dijaadikan tempat kedudukan penguasa daerah dengan gelar ‘rangga’. Walaupun berada di kaki Gunung Ronggo, namun Ngawonggo dan sekitarnya mempunyai cukup pasokan air. Selain dialiri oleh Sungai Mantenan, terdapat pula sumber air yang dinamai ‘Sumber Gambreng’.

Sumberdaya air di tempat ini dikelola dengan baik, sebagaimana antara lain terbukti oleh adanya toponimi kuno ‘Dawuhan’, yang menunjuk kepada instalasi air berbentuk dam (bendungan), untuk mengatur debit air dan distribusi air guna keperluan irigasi.

Jejak dam kuno beserta saluran air buatan di permukaan tanah (weluran) hingga kini masih didapati di sebelah barat-selatan Jembatan Desa Ngawonggo, yang mengalir pada permukaan tanah yang lebih tinggi bersejajar dengan aliran air Sungai Mantenan. Selain itu terdapat dusun bernama ‘Urung-urung’, yang memberi petunjuk tentang adanya saluran air bawah tanah (arung) guna mengalirkan air dari bawah Sumber Gambreng menuju ke areal persawahan di sekitarnya.

Pahatan dekoratif dan simbolis yang masih jelas namun terletak di lereng yang curam.
Pahatan di atas bisa dilihat hanya dengan turun di lereng di bibir kali Manten seperti ini.

Temuan tinggalan kuno berupa deretan kolam air pada bantaran sisi selatan DAS Mantenan itu kian menguatkan bukti mengenai tata kelola air di tempat ini sejak paro kedua Masa Hindu-Buddha (abad X-XVI Masehi).

Nama “Mantenan’ dari sungai itu sendiri juga menyiratkan arti yang berkenaan dengan pengelolaan air. Sebutan ini berkata dasar(lingga) ‘anti (ma-anti-an)’, yang secara harafiah berarti : tunggu atau jaga.

Jika benar demikian, tersirat bahwa sungai ini konon dijaga atau dikelola oleh petugas khusus perarian. Hal ini mengingatkan kita pada nama petugas keairan di tingkat desa yang bersebutan ‘jogo tirto’. Bahkan, lebih tua dari itu ada Wali yang memiliki sebutan ‘Sunan Kalijogo’. Penjagaan terhadap ruas aliran sungai pada sebelah barat Jembatan Ngawonggo dipandang perlu, sebab bertebing terjal, berair dalam (ngedung) dan memiliki instalasi keairan yang berupa dawuhan (bendungan), weluran, arung serta sederetan patirthan.

Untuk itulah maka salah satu dewata yang dipahatkan di Patirthan I adalah Ganesya dalam fungsinya khususnya sebagai Vicneswara (penjaga keselamatan atau peniada bahaya), serta makhluk~makhluk Gana sebagai prajurit Dewa Siwa yang dipanglimai (pati) oleh Ganesya dengan sebutan “Ganapatya (Ganapati = gana + pati + a)”.

 

C. Temuan Patirthan dan Relief Tebing di Situs Ngawonggo (Bagian II)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.