URGENSI, POTENSI, DESKRIPSI TEMUAN ARKEOLOGIS DAN PALEO-EKOLOGIS SITUS NGAWONGGO (II)

Telisik Temuan Arkeologis
Pengamatan Awal

URGENSI, POTENSI, DESKRIPSI TEMUAN ARKEOLOGIS DAN PALEO-EKOLOGIS SITUS
NGAWONGGO

(Bagian II, bersambung)

Sebagai sambungan tulisan terdahulu berjudul “Ancient Water Park Kawangga: Jejak Teknologi Keairan Arkhais Situs Ngawonggo (Bagian I)’ yang telah di unggah di FB, berikut kembali diunggah tulisan yang membicarakan mengenai: (a) urgensi temuan, (2) potensi temuan, serta (3) deskripsi temuan arkeologis dan peleo-ekologis pada Situs Ngawonggo.

Paparan diberikan berdasar pengamatan awal yang kurang seksama, belum rinci, dengan pengukuran yang belum akurat. Oleh sebab belum seluruh detail temuan tertampakkan, maka paparan berikut ada baiknya diposisikan ‘tentatif (sementara)’, dalam arti terbuka kemungkinan untuk didetailkan, diidentifikasi ulang dan diakurasikan ukurannya pada pengamatan lanjutan seiring dengan riset Arkeologi dan kerja-bakti pembersihan situs yang diselenggarakan mendatang.

Untuk sementara, paparan ini bisa digunakan untuk memperoleh gambaran secara garis besar terhadap tinggalan arkeologis dan paleo-ekologis yang baru-baru ini diketemukan di Desa Ngawonggo.

Semoga memberikan faedah.

 

A. Urgensi Historis-Arkeologis Temuan di Situs Ngawonggo

Temuan purbakala di Desa Ngawonggo terbilang penting, malahan spektakuler bagi Malang Raya. Bukan hanya karena beritanya yang viral dan gelombang pungunjung kian meruah dari hari ke hari, namun ada alasan lain untuk menyatakan demikian.

Pertama, apabila benar bahwa toponimi ‘Ngawonggo’ dapat diidentifikasikan dengan ‘Sang Hyang Kaswangga’ dalam lempeng tembaga II.a Prasasti Kanuruhan atau Wurandungan B ‘……… makadi sang hyang wurandungan i sama manghyang samahunnira bhatara hyang pangawan mwang sang hyang kaswangga dewa kapuja i sang hyang ikang tinadah rakryan apinghai rakryan halu rakryam sirikan mwang madander makadi rakryan kanuruhan ……………….(OJO, L, 1913:105).”, yang ditulis atas perintah Pu Sindok (Sri Isana) pada Rabo Wage 10 paroterang (suklapaksa) bulan Palguna tahun Saka 865 (7 Nopember 944), berarti kesejarahan daerah ini sudah disurat dalam maklumat kerajaan (prasasti) sejak medio abad X Masehi dan berlanjut hingga ke masa-masa berikutnya. Permukiman di Ngawonggo dengan demikian meniti penjalanan sejarah amat panjang, atau telah tua usia.

Kedua, temuan arkeologis berupa patirthan di tiga lokasi – selanjutnya disebut ‘Patirthan I, IIa dan IIb, serta III — maupun relief tebing terjal diantara Partirthan I dan II pada sepanjang DAS Manten dengan total panjang ± 100 meter adalah temuan yang langka di Malang raya.

Menjadi lebih spektakuler bila ditambah dengan adanya dawuhan (dam/bendungan kuno), weluran (saluran air di permukaan tanah) maupun arung (saluran air di dalam tanah) yang berada dalam satu konteks dengan temuan tersebut. Kesemuanya itu menggambarkan kompleksitas temuan arkeologis dan paleo-ekologis di suatu tempat.

Dalam beberapa dasawarsa terakhir, penemuan arkeologis dan peleo-ekologis yang kompleks semacam itu barulah kali ini diperoleh di Malang raya.

Kompleksitasnya kian bertambah bila tinggalan kuno di Puthuk, Dusun Urung-urung, Sumber Gambreng dan Sumber Gembul, Sumur Songo dan Gunung Ronggo turut diperhitungkan sebagai konteks temuan baginya.

Ketiga, secara khusus temuan arkeologis dan paleo-ekologis di DAS Manten memberi gambaran mengenai kecanggihan hidrologis dalam hal tata kelola air di Jawa Masa Hindu-Buddha. Oleh karena itu, ketika ada warga menyatakan bahwa dawuhan dan weluran itu adalah ‘buatan Belanda’, maka timbul pertanyaan “apakah leluhur kita orang bodoh, sehingga bila ada tinggalan lama yang canggih keburu dibilang sebagai buah karya Penjajah Belanda atau Jepang?”. Padahal, temuan itu menjadi pembukti bahwasanya leluhur Nusantara memiliki pengetahuan dan ketrampilan hidrologis canggih pada jamannya, yang dibuat untuk kepentingkan irigasi dan pemasok air bagi patirthan.

Adapun air pada patirthan itu didayagunakan untuk kepentingan religis maupun pemenuhan kebutuhan akan air bersih. Para penggunanya dengan demikian adalah masyarakat keairan (hydrolic society) purba, yang bijak dalam mengelola sumber daya air bagi beragam keperluan.

 

B. Potensi dan Temuan Arkeologis serta Paleo-ekologis Situs Ngawonggo

Tinggalan arkeologis yang didapatkan kembali di DAS Manten baru sebagian dari keseluruhan. Terhadap temuan itu, yang telah dilakukan barulah sebatas pembersihan dari semak belukar dan sebagian endapan tanah yang menutupi parit dan pancuran. Oleh kerena itu, diperlukan riset Arkeologi untuk menampakkan keutuhan temuan dan kemugkinan adanya temuan-temuan lain di bentang area antara Patirthan I dan III bahkan hingga ke bagian barat Jembatan Desa Ngawonggo.

Ragam temuan yang telah didapat meliputi : (a) dawuhan, (2) weluran, (c) patirthan pada tiga lokasi, (d) relief tebing, dan (b) arung. Temuan-temuan itu hanya yang terdapat di bantaran sisi selatan Sungai Manten. Apakah di lembah sisi utara juga terdapat temuan serupa? Sejauh ini belum dilakukan telisik.

Temuan tersebut adalah karya budaya, yang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, tentulah ada jejak tertinggal di bekas areal permukiman penggunanya. Jika benar bahwa situs Ngawonggo adalah Kahyangan Kaswangga yang diberitakan oleh Pasasti Kanuruhan B (944 Masehi), maka bisa jadi tidak jauh dari lokasi temuan itu terdapat areal tinggal rokhaniawan, yang menyerupai mandala kadewagurwan atau karsyan, lengkap dengan fasilitas kegiatan keagamaannya – termasuk kemungkinan adanya goa pertapaan, yang menjadi tempat ritual pokok para rsi.

Begitu pula, jika terdapat dawuhan dan weluran, pastilah terdapat areal persawahan yang diairi dengan irigasi dari instalasi air ini. Air pemasok bagi weluruan dan patirthan selain berasal dari Sungai Manten, kemungkinan juga berasal dari Sumber Gambreng, yang dialirkan melalui saluran air bawah tanah (arung) – mengingat terdapat dusun bernama ‘Urung-urung”, dimana urung adalah sebutan baru untuk apa yang dahulu dinamai ‘arung’.

Bisa diandaikan bahwa deretan patirthan di DAS Manten digunakan oleh pemukim kuno di Kaswangga untuk kepentingan religis maupun pemenuhan akan air bersih bagi kehidupannya sehari-hari.

Paparan diatas menegaskan bahwa terbuka kemungkinan adanya potensi temuan lain pada DAS Manten maupun areal sekitarnya. Oleh sebab itu, apa yang telah didapat ada baiknya diposisikan sebagai petunjuk awal mengenai kemungkinan adanya temuan-temuan lain yang lebih banyak, lebih beragam bahkan lebih luas. Oleh karena itu riset historis, arkeologis maupun paleo-ekologis perlu dilakukan, dengan harapan apa yang dihipotesiskan diatas bisa diperoleh jawabnya.

Bagi Kabupaten Malang khususnya, khasanah historis arkeologis dan paleo-ekologis itu menjadi pembukti bahwa wiayah Malang Timur, yang berada di sisi barat gunung suci Semeru, merupakan kawasan pertumbuhan dan berkembang peradaban masa lampau.

 

C. Deskripsi Temuan Arkelogis dan Paleo-Ekologis Situs Ngawonggo

3.1. Parirthan I

Sejauh telah ditemukan, Patirthan I adalah patirthan yang paling timur pada DAS Maten, yang berlokasi di sebelah barat Jembatan Desa Ngawonggo. Bagian yang telah berhasil ditampakkan baru sebatas dinding patirthan sisi selatan. Berupa dinding kolam berbahan batu vulkanik tak begitu keras, dilengkapi dengan haut relief (relief timbul, lebih dari ½ figur terpahatkan). Tidak semua reliefnya dapat diidentifikasikan, karena kini sebagian dalam kondisi aus.

Yang dapat diidentifikasikan berupa: (a) figur wanita dalam posisi bersimpuh menghadap ke barat, dimana pada kanan-kiri kepalanya terdapat ragam hias pinggir awan dalam posisi vertikal; (b) figur bermuka demonis, tangan kanan menyilang dada dan membawa sesuatu (gada?), yang mengingatkan kepada dwarapala; (c) figur Ganesya yang telah aus, belalai mengarah ke kiri bawah dan sikap duduknya seperti cara duduk bayi (foot baby) – diprakirakan berjumlah dua, mengapit figur dwarapala; (d) figur Gana yang juga aus, dengan indikator kuat berupa kedua tangannya diarahkan ke atas menyangga cerat (pancuran air); serta (e) figur seorang tokoh yang telah aus, dalam posisi duduk bersila menghadap lurus ke muka (enface). Kecuali figur wanita tersebut, bidang pahat (panil) padamana masing-masing figur dipahatan, seakan menjadi penyangga bagi lima cerat yang satu sama lain direlasikan dengan parit kecil yang dipahatkan di permukaan batu vulkanik diding patirthan sisi selatan — sebagain telah berhasil ditampakkan.

Ada kemungkinan pasokan air utama ke dalam kolam berasal dari weluran yang berada di atasnya, melalui paritan yang dipahatkan pada pemukaan batu vulkanik. Selain itu ada dua parit lain, sebagai pemasok air ke dalam kolam, yang dipahatkan di sekitar pojok kanan-kiri dinding kolam sisi selatan – serupa dengan yang terdapat di Patirthan III. Saluran buang dari kolam neuju ke Sungai Manten yang berada di bawahnya ditempatkan di pajok barat dan tengah dinding kolam sisi utara. Sayang sekali, bak air (lobang kolam)nya kini tertutup endapan tanah, yang kemudian ditumbuhi semak belukar. Apabila endapan tanah itu diambil dan dipersihkan, besar kemungkinan bakal tampak lantai kolam yang dicekungkan ke dalam hamparan batu vulkanik, sebagimana jelas tergambar di Patirthan II. Gambaran kasar ukuran sisi-sisi kolam adalah: P = 6,5 – 7 meter dan L = 3-3,5 meter. Dinding kolam di sisi selatan ± 2,25-2,5 meter. Dinding dan lantai kolam dpahatkan pada batu vulkanik, sehingga air kolam tidak terserap ke dalam dan samping tanah.

2. Patirthan II

Berbeda dengan Parirthan I dan III yang merupakan kolam tunggal, Patirthan II terdiri atas dua bak air, dan karenanya bisa dinamai ‘Patirthan IIa dan IIb’. Baik air (lobang kolam). Kini lobang kolamnya juga terisi endapan tanah. Bagian yang tampak barulah sebagian dinding kolam di sisi selatan, yang meperlihatkan ketinggian dari muka tanah endapan 1,5 meter, P tota ± 12 meter (P kolam IIa = ± 7 meter, P kolam IIb = ± 5 meter). Antara lobang kolam IIa dan IIb terdepat tanggul penyekat dengan arah selatan-utara (L = ± 50 cm). Pada bagian atas di dinding kolam sisi selatan terdapat pahatan berupa dua buah bangun persegi dengan posisi miring, yang pada bagian dalamnya terdapat garis-garis konsentris dan bersejajar dengan bentuk bangun perseginya.

Ragam hias ini mengingatkan pada pola hias ‘sylable AUM’ dalam ukuran jauh lebih besar pada dinding Candi Ksetra di kawasan situs Jedong dari masa keemasan Majapahit, dan syllable AUM pada kaki Candi Sawentar maupun di kaki reruntuhan Gapara I Kompleks Candi Penataran yang juga berasal dari Masa Majapahit. Kedua ragam hias syllable AUM itu mengapit pahatan berbentuk garis-garis lengkung – boleh jadi merupakan kronogram bertarikh Saka, yang jika benar demikian, perlu diidentifikasi dengan seksama. Patirthan II berada di sebelah barat Patirthan I, dengan jarak ± 15 meter.

3. Pahatan Tebing Terjal

Ragam hias yang dipahatkan pada dinding sisi selatan Patirthan II juga dijumpai di bagian atas relief tebing terjal, dengan P = ± 12 m dan T tebing = 3,5-4 meter. Pada ruas ini, batang Sungai Manten melebar dan tebing kanan-kirinya paling dalam (T tebing dari muka air sungai ± 7 meter). Belum jelas apa yang terdapat di bagian bawah dinding terjal ini. Namun, menilik adanya ragam hias memanjang di bagian atasnya, tentu ada sesuatu yang penting pada dinding terjal ini, yang bangian bawahnya kini tertutup longsoran tanah. Relief Tebing Terjal ini berada di sebalah barat Patirthan II, dengan jarak ± 30-40 meter.

4. Patirthan III
Sejauh telah diketemukan, Patirthan III berada di paling barat dari rangkaian temuan pada DAS Manten. Ukuran kolam terlihat jelas, bahkan hampir seluruh lantai kolam tertampakkan. Bila dibanding Patirthan I dan II, patirthan ini paling kecil ukurannya (P = 6-7 m, L = 2-2,5 meter). Dinding sisi selatan paling tinggi diantara dinding sis-sisi lainnya (2-2,25 meter), padamana 12 pancuran air (cerat) dpahatkan berderatan dengan arah timur-barat. Masing-masing cerat ditempatkan di atas pilaster (L = ± 40 Cm T = ± 50 Cm), yang diberi pahatan berbentuk Gana, yakni para prajurit Siwa yang dikomandani oleh Ganesya. Jarak antar pilaster sama (± 40 Cm). Sayang sekali, dalam kondisi sekarang tinggal tiga relief Gana yang cukup jelas terlihat. Namun, tentulah dulu seluruh pilaster diberi pahatan serupa. Dengan gambaran demikian, seolah masing-masing cerat itu disangga oleh kedua tangan Gana yang mengarah ke atas – bandingkan dengan relief Gana dalam ukuran lebih besar di dinding sisi selatan Patirthan I.

5. Dawuhan. Weluran dan Arung

Dawuhan dan wuluran berada di permukaan yang posisinya lebih atas dari posisi deretan patirhan dan pahatan tebing. Arah alirannya bersejajar dengan aliran Sungai Manten, yakni dari timur ke barat. Besar kemungkinan air pengisi kolam dipasok dari weluran ini, melalui parit yang disudetkan ke tebing sisi utara weluran. Ada dua ruas aliran dari ruas panjang weluran, yaitu: (a) ruas weluran yang pihatkan dalam dan terjal (kedalam = 2,5-3 m, L = ± 90 Cm) pada topografi berbatu vulkanik, dan (b) ruas weluran yang lebih lebar dan dangkal (L = ± 2 meter, kedalaman rata-rata = 1 meter), yang tampak sebagai saluran terbuka.

Pada pangkal timur weluran ditempatkan dawuhan, dengan dinding sisi utara dan selatan dibuat dengan memahat tegak lurus batuan vulkanik (L = ± 2,5 m, kedalaman = 2,5 – 3 meter). Air pemasok ke dawuhan berasal dari Sungai Manten yang disudetke kea rah selatan. Temuan lainnya diprakirakan sebagai sebuah arung, yang berada di tebing sisi selatan weluran di sekitar lokasi relief tebing.

6. Tinggalan Ikonografis

Bebeberapa orang warga setempat menginformasikan bahwa di sebelah selatan Patirthan I pernah terdapat ‘arca ayam jago’, yang lantas dibawa seseorang. Apa yang disebut dengan ‘patung ayam’ tersebut boleh jadi adalah pancuran air (jaladwara) berbentuk makara (gaja-mina), yang sekilas bisa disalah identifikasi sebagai kepala ayam.

Salah pengidentikasian semacam ini terjadi di situs Omben Jago, yang jaladwaranya juga dinyatakan berbentuk patung kepala ayam jago, padahal sesungguhnya berbentuk Makara. Patung jaladwara dalam bentuk kuncup bunga teratai kini masih terdapat sebuah (dilapisi cat berwarna putih) dan ditempatkan di Balai Desa Ngawonggo, yang konon berasal dari DAS Manten. Jika benar demikian, sangat mungkin pada ujung cerat-cerat patirthan tersebut dipasang arca pancuran (jaladwara), baik berbentuk makara ataupun kuncup bunga teratai.

 

PETEMBAYAN CITRALEKHA, 28 April 2017

Total
8
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*