0
10 shares

Telisik Tradisi Kecil

TRADISI “DHIDHIS (PETAN)” DI KALANGAN RAYAT KECIL: Dunia Keasyikan “Golek Tumo”

Oleh M. Dwi Cahyono

 

A. Kebiasaan Dhidhis (Petan) Melintas Masa

Nun jauh sebelum pabrik~pabrik luncurkan aneka produk “Shampo Anti Ketombe” atau bahkan “Pedithock”, fenomena “golek tumo (cari kutu)” alias “dhidhis” alias pula “petan” — bahasa Madura ‘nyellek koto’ — adalah pemandangan jamak, utamanya dalam kehidupan rakyat kecil di pedesaan maupun anak-anak kecil pada beragam lapis sosial.

Sebenarnya, dhidhis (petan) bukan hanya terdapat di dunia manusia, namun hadir pula pada dunia binatang. Gamabaran yang serupa sekali dengan petan pada dunia manusia didapati pada petan pada dunia kera. Adapun tujuannya sama, yakni membersihakan dari kutu. Hanya saja, dhidhis-nya manusia bukan sekedar dimaksudkan untuk membebaskan dari serangan kutu yang menggatalkan rambut, namun ada perolehan tambahan daripadanya, yakni mendapatkan kenikmatan tersendiri. Selain itu, interaksi sosial turut terbangun antara pelaku dhidhis (petan), yakni antara ‘sing metani (subyek pencari kutu)’ dan ‘sing dipetani (yang menjadi obyek pencarian kutu)’.

Apa nikmatnya dhidhis (petan)? Ibarat perburuan (hunting), upaya menelisik makhluk amat mungil yang bernama “tumo atau koto’, ataupun yang lebih kecil lagi ‘liso dan kor”, baik dilakukan dengan jalan menyingkap secara telaten (metani) helai demi helai rambut dengan jemari tagan atau memakai pengakat berupa serit (sisir berjurai halus dan rapat) adalah suatu keasyikan.

Terlebih apabila berhasil menemukan buruannya, dirasakan sebagai kesuksesan yang memuaskan. Nikmatnya lagi, ketika mendengar suara lirih “thes” — manakala kutu “dipithes (diplethes)” dengan kedua kuku ibu jari tangan dengan arah berlawanan arah, atau degan cara meletakkan pada lidah lantas digingit dengan gigi. Memang jorok tampaknya, namun nyatanya menghadirkan keasyikan, kenikmatan dan karenanya ingin diulanginya lagi pada kesempatan lain, Maka, menjelmalah menjadi kebiasaan. Di depn pintu, pada teras rumah, di balai bambu atau kursi keci (dingklik) bahkan cukup meski hanya nglesot (duduk beralas tanah) di bawah kerindangan pohon, atau terkadang di sela-sela aktifitas kerja sekali pun orang menciri-curi kesempatan untuk dhidhis (petan).

Mencari dan menemukan kutu (tumo) bukanlah pekerjaan mudah. Untuk itu, kepada ‘sing metani’ dibutuhkan atau dipersyaratkan untuk memiliki jiwa ketelatenan, keuletan, kesabaran, kecermatan bahkan kesigapan. Dhidhis (petan) karenanya bisa dijadikani ajang latih sekaligus uji ketelatenan, keuletan, kesabaran, kecermatan maupun kesigapan. Kata ‘petan’ dalam makna itu pun mengalami perluasan arti menjadi ‘metani diri sendiri, yakni menilisik secara cermat dan jujur kemungkinan adanya kesalahan diri. Prasyarat ‘telaten, cermat, sabar dan ulet’ banyak dipunyaii oleh kaum hawa, sehingga dapat difahami bila wanita lebih piawi dalam hal ‘metani (dhidhisi)’ ketimbang pria. Karenanya pula ‘sing metani’ ataupun ‘sing dipetani’ kebanyakan para wanita. Namun demikian, tak lantas berarti bahwa dhidis (petan) inklusif ‘dunia wanita’. Kutu tak peduli, boleh menyerang siapa saja, pria ataupun wanita, sepanjang di batok kepalanya ada rambut. Orang-orang yang berkepala botak (buthak) karenanya adalah pihak yang paling dibenci atau jengkeli oleh tumo (kutu). Cara yang termudah untuk hilangkan kutu adalah dengan mencukur habis rambut (gundul, plonthos). Demikianlah, dhidhis bukan semata ‘dunia waniata’. Ketika dahulu lelaki biasa memanjangkan rambut, kutu acap juga menyerang pria, sehingga kegiatan dhidhis (petan) pun tak terelakkan hadir di dunia laki-laki, meski tidak sebanyak pada wanita.

 

B. Dhidhis (Petan) di Kalangan Rakyat Kecil

Pengulangan kegiatan dhidhis (petan) bukan hanya hadir dari hari ke hari, bulan ke bulan, atau tahan ke tahun, namun terbukti hingga dari abad ke abad. Dengan demikian, dhidhis (petan) telah dan tengah melintas masa, atau bisa dibilang ‘lintas generasi’.

Memang, kini realitas dhidihis mengalami penurunan (dekadensi) dalam hal jumlah dan frekuensi pelaksanaan bila dibandingkan dengan masa-masa terdahulu, Namun, tidak pernah ditinggalkan sama sekali. Sepanjang masih ada kutu di kepala, sepanjang itu pula dhidhis (petan) bakal hadir di dalam kehidupan manusia. Sebagai suatu tradisi, dhidhis (petan) lebih terlihat hadir pada ‘tradisi kecil’, yakni tradisi tertentu yang utamanya tumbuh-berkembang di luar keraton (lingkungan bangsawan, priyayi), yakni di lingkungan rakyat kecil.

Kutu rambut (tumo) merupakan indikator mengenai kondisi kurang bersih atau bahkan kurang sehat pada organ tubuh manusia, yaitu kulit pada batok kepala. Kondisi demikian acap terjadi di kalangan rakyat kecil (jelata), lantaran keterbatasannya untuk hidup bersih atau memelihara kesehatan rambut lewat keramas secara rutin dan sehat.

Pada masa lalu, kutu tidak hanya hadir di kulit pada sela-sela rambut kepala, namun ada pula yang berada di kulit pada sela-sela rambut sekitar kemaluan (disebut ‘wawur’). Kutu juga kedapatan pada perangkat hidup seperti kasur, bantal-guling, kursi dan lain-lain (dinamai ‘tinggi’). Bahkan, dahuhu bahan makan seperti beras dan jagung juga menjadi hunian nyaman bagi kutu. Oleh karena itu, dapat difahami bila fenomena pencarian kutu lebih sering hadir di lingkungan rakyat kecil.

Banyaknya kutu pada kalangan mereka, melatari munculnya kata-kata sindiran yang dihubungkan dengan kekayaan (sugih) pada rakyat kecil, yakni ‘sugih brewu, sugih kloso, sugih tinggi, sugih tumo’.

Selain berkutu, penyakit kulit juga marak menimpai rakyat kecil, seperti kudis (gudhik), kurap, udun, kutil, dsb. Kemiskinan dan kurangnya pembiasaan hidup bersih antara lain menjadi musababnya.

Pada kasus kutu rambut, fenomena ini banyak terjadi pada kaum hawa, dan utamanya anak-anak. Wanita dan anak-anak banyak mendapat serang kutu, entah karena rambut panjang dan lebatnya kurang bersih dalam peliharaan, atau lantaran tertular oleh orang lain lewat loncatan kutu dari satu kepala ke kepala lain — hal ini mengingatkan kita kepada perkataan ‘kutu loncat’. Oleh karena itu, wanita dan anak-anak lah yang sering menjadi obyek pencarian kutu (sing dipetani) maupun yang tampil menjadi subyek pencari kutu (sing metani).

Dalam kaitan itu, ada nyanyian Jawa yang baris pertama dari liriknya berbunyi ‘Mbok simbok golek tumo, ….’, suatu gambaran kegiatan ibu (simbok) yang tengah mencari dan menemukan kutu (tumo) di sela-sela rambut kepala anak. Dalam kegiatan ini, anak duduk di hadapan atau tiduran di pangukuan ibunya yang tengah cermati kemungkinan adanya kutu di sela-sela rambutnya. Terkadang, anak sampai tertidur dibuatnya.

Ketika pencarian kutu (petan) dlakukan, acap terjadi pembicaraan antar para pelaku.

Pada petan di kalangan wanita dewasa, tema pembicaraan umumnya mengenai hal-hal ringan, yang bisa berbau gosip (omong klobot), penggunjingan terhadap orang lain (rerasan), atau bisa juga mengenai hal-hal praktis di sekitar pekerjaan atau aktifitas khas wanita. Kebenaran (akurasi) pembicaraan pada sesi ‘golek tumo (mencari kutu)’ tidaklah menjadi keutamaan. Tak soal itu kabar angin atau bahkan kabar bohong sekalipun. yang penting ‘asyik dibicarakan’. Oleh karena itu, kabar yang tak jelas muasal dan kebenannya acap diistilah dengan ‘kabare wong golek tumo’, alias ‘berita hoax’ pada media sosial era sekarang. Adapun pembicaraan pada petan yang dilakukan oleh ibu terhadap anak acap mengenai aktifitas keseharian, dongeng atau bisa juga memuat petuah ringan. Terlepas tema apa yang dbicarakan, sesi petan menjadi semacam ‘wahana interaksi sosial’ di kala senggang waktu.

 

C. Dhidhis (Petan) pada Relief Candi dan Susastra Lama

Tak dinyana bahwa visualisasi dhidhis (petan) kedapatan hadir pada salah sebuah pilaster di batur (teras I) Candi Surowono (nama arkhais “Surabhana” atau “Visnubhuvanapura”) di Desa Canggu Kecamatan Pare Kabupaten Kediri, yakni pendharman bagi Bhre Wengker yang mangkat pada tahun 1388 Masehi.

Dengan demikian candi ini telah rampung dibangun pada tahun 1388 + 12 (upacara sradha) = 1400 Masehi. Jika benar bahwa sebuah panil relief itu menggambarkan tentang dhidhis (petan), berarti kebiasaan tersebut paling tidak telah nyata-nyata ada pada Jaman Majapahit semasa pemerintahan raja Wikramawarddhana.

Relief dimaksud menggambakan tentang dua orang dalam posisi duduk di bawah pepohonan rindang. Apabila menilik busana dan fisiografisnya, keduanya merupakan warga pedesaan, bahkan mengingatkan kepada gambaran terhadap ‘tokoh punokawan’. Rambut salah seorang darinya tengah didhidhis (dipetani) oleh seorang lainnya dengan menggunakan semacam tongkat kecil berujung meruncing (stick) guna penyingkapkan helai~helai rambut dalam rangka mencari dan menemukan kutu rambut. Sementara tangan sebuah lainnya tengah siaga untuk bergegas menangkap si kutu bila teryata tampak di kulit batok kepala pada sela helai~helai rambut yang disingkapkannya.

Tokoh peran yang tengah dipetani tampak menikmatinya petanan yang dikenakan kepada dirinya. Ia terlihat menjulurkan lidahnya (melet) — mungkin menggambarkan rasa nikmat, atau bisa juga bersiap bila kutu telah didaaptkan bakal ditempatkan dilidahnya untuk kemudian digit dengan giginya. Sementara itu, pemburu kutu terlihat asyik~masyik dengan perburuannya.

Relief ini memiliki arti dokumentatif, yakni mendokumentasikan tentang kehidupan nyata rakyat kecil di pedesaan, padamana tradisi petan berlangsung. Batur Candi Surowono memang memuat panil-panil relief yang menggambarkan realitas kehidupan pedesaan di sekitar candi ini, tak terkecali dalam mata pencarian lokal, seperti memancing ikan, memancing katak (kodok ijo), menjerat anak babi (genjik), menyumpit burung, dsb. Pilihan gambaran petan kepada tokoh peran pria, yaitu punokawan, untuk memberikan penegasan dan sekaligus sindiran bahwa kendati petan lazim dilakukan oleh kaum hawa, namun kala itu lelaki yang juga berambut panjang dan kurang bersih dalam hal perawatan rambut tidak terelakkan juga mendapat serangan kutu rambut (tumo).

Dalam sumber data susastra masa lampau, istilah ‘petan’ dalam kaitan dengan pencaran kutu (tomo) kita dapati, meski pada dunia binatang. Misalnya, Kakawin Ramayana (25.63) memuat kalimat “…… mahisa sahaja misih mrem pinetan tumanya’. Sebutan ‘petan’ berkata dasar (lingga) ‘pet’, yang secara harafiah berarti: mencari, berusaha keras, berusaha memperoleh, berusaha merangsang (membangkitkan, dsb) (Zoetmulder, 1995:815). Terdapat kata jadian ‘kapetan (mencari, mencoba untuk mendapatan), pinetan (mencari), pinetaken (mencari)’ ataupun ‘pametan (tempat untuk mencari atau menemukan sesuatu)’. Untuk dapat menemukan kutu (tumo), selain menggunakan jari telinjuk untuk menyingkapkan helai-helai rambut, sering pula digunakan alat bantu yang berupa tokat kecil berujung runcing atau sisir halus (bahasa Jawa Baru ‘serit’, Jawa Kuna dan Tengahan ‘serut’). Kata jadian ‘sinerut’ yang menunjuk arti: menyisir dengan sisir halus.

Demikianlah tulisan yang bersahaja ini dibuat. Semoga dapat menambah khasanah pengetahuan tentang tradisi kecil, yang konon pernah memasyarakat di lingkungan kita, Atau bahkan, barangkali kita sendiri pernah menjadi pelakunya. ‘Sugeng dhidhis (petan)’, raih kenikmatan dan kemanfaatan daripadanya.

Nuwun

Wates Kediri, 6 Mei 2017
PATEMBAYAN CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.