VISUALISASI DOKUMENTATIF PERBURUAN WARGA PEDESAAN PADA RELIEF CANDI SUROWONO MASA MAJAPAHIT

Singkapan Pencaharian Rakyat Masa Lampau

VISUALISASI DOKUMENTATIF PERBURUAN WARGA PEDESAAN PADA RELIEF CANDI SUROWONO MASA MAJAPAHIT

Oleh : M. Dwi Cahyono

 

A. Kandungan Informasi Pencaharian pada Relief Candi dan Arca

Meskipun candi merupakan bangunan suci, yakni tempat peribadatan, namun bukan berarti bahwa keseluruhan detail tampilannya berkenaan dengan aspek religis. Tak tertutup kemungkinan adanya aspek-aspek lain yang bersifat profan, yang informasi tentangnya dapat diperoleh dari detail candi, seperti relief cerita dan arca.

Aspek non-religis itu antara lain meliputi aspek ekonomik, ekologis, teknologis (peralatan hidup), seni pertunjukan, dsb.

Pada tulisan ini perhatian akan lebih diarahkan pada aspek ekonomik, dengan tanpa meninggalkan gambaran ekologis yang menjadi konteks fisis-alamiahnya.

Sejauh ini telaah mengenai aspek perekonomian dalam sumber data yang berupa relief candi dan arca belumlah sebanyak yang telah dilakukan terhadap aspek religisnya. Oleh karenanya dipandang perlu untuk memberikan pencermatan terhadap relief dan arca pada candi-candi Masa Majapahit, karena daripadanya dimungkinkan dapat diperoleh gambaran perekonomian pedesaan Masa Majapahit, khsusnya pada sekitar lokasi candi tertelaah, yang sebagian besar adalah ekonomi agraris, peternakkan, kerajinan, dan perburuan terbatas.

Candi tertelaah pada tulisan ini hanya dibatasi pada Candi Surowono, salah sebuah candi dari masa Majapahit.

Sebetulnya gambaran mengenai perekonomian pedesaan Masa Majapahit juga didapati dalam tubuh Candi Perwara di Situs Tegowangi, kaki Candi Rimbi, panil-panil relief lepas koleksi Museum Trowulan dan Museum Nasional asal Candi Minakjinggo, arca Garuda pada halaman III Candi Sukuh, relief pada candi Penataran dan Candi Penampihan.

Dalam sejumlah hal, informasi yang diperoleh dari relief Candi Surowono akan diperbandingkan dengan yang didapat pada candi-candi lain. Untuk lebih jelasnya, informasi yang diperoleh daripadanya dilengkapkan dengan data yang berasal dari sumber data tekstual (pasasti dan susastra).

Mengingat bahwa obyek kajian hanya sebuah candi, maka informasi perekonomian pedesaan yang tergambar padanya tentu terbatas, belum menggambarkan kompleksitas perekonomian pedesaan Masa Majapahit. Oleh sebab itu, pada kesempatan lain perlu dilaksanakan riset histroris-arkeologis dengan cakupan data yang lebih menyeluruh, terdiri atas beragam jenis sumber data (artefaktual, tekstual, ekofaktual), satuan pengamatan yang lebih detail, mengungkap fakta secara lebih akurat, maupun dengan telaah yang lebih mendalam. Kendati pada tulisan ini telaah difokuskan terhadap aspek ekonomi, namun aspek ekologi juga memperoleh perhatian, mengingat merupakan konteks fisis-alamiah padamana perekonomian pedesaaan tumbuh dan berkembang.

B. Ungkapan Data Pencaharian pada Relief Candi Surowono

Informasi mengenai ekonomi pedesaan dari Candi Surowono dijumpai pada panil-panil relief yang ditempatkan pada batur candi (soubasement). Antara lain menggambarkan adegan : (a) memancing katak dan ikan, (b) menyumpit burung, (c) penangkapan babi hutan. (d) penangkapan ayam hutan, dan (e) penangkapan ular. Jika benar demikian, enam panil terteliti itu menggambarkan perburuan terbatas, yang dilakukan oleh oleh warga desa di tepian hutan terhadap ragam binatang hutan, baik yang hidup di muka tanah atau di perairan sekitar hutan. Suatu jenis pencaharian yang kemungkinan dilakukan oleh warga thani Surabhana pada Masa Majapahit.

Adegan memancing katak (mancing kodok) dan memancing ikan (mancing iwak) dipahatkan pada dua panil berbeda tempat. Adegan memancing katak dipahatkan di sisi belakang (timur), adapun adegan memancing ikan di sisi samping (utara). Pemancing katak adalah seorang pria dewasa dalam posisi duduk. Perawakan (fisiografis)-nya menyerupai ‘tokoh punokawan’, yakni bertubuh kegemukan, bertelanjang dada – kain bawah (dodod) hanya menutupi bagian bawah dari tubuh hingga sebatas lutut, rambut panjangnya diikat di bagian belakang (dikuncit), tanpa aksesori dan bertelanjang kaki. Tampilan demikian itu menggambarkan bahwa pelakunya adalah rakyat kecil, yang bermukim di pedesaan. Lokasi memancing pada tepi genangan air, yang di tepinya ditumbuhi oleh semak belukar, antar lain tambuhan yang menyerupai pandan air. Tangkai pancing (walesan) seukuran ibu jari tangan, yang dipegangi dengan menggunakan tangan kanan. Tangkai pancing berposisi melengkung di bagian ujungnya, lantaran umpan telah masuk ke dalam mulut katak yang berukuran cukup besar.

Serupa itu gambaran tentang pemancingan kodok tersebut adalah adegan memancing ikan yang dipahatkan pada batur candi sisi belakang. Pelaku pemancingan juga berperawakan kegemukan, demikian pula tampilannya menyerupai pemancing katak – bedaannya, mengenakan ikat kepala. Posisinya berdiri, dengan ekspresi girang karena telah berhasil mendapatkan ikan. Pangkal tangkai pancing (walesan) yang mengecil ke arah ujungnya dipegang menggunakan tangan kanan. Ujung pancing melengkung, dan tali pancing lurus ke bawah mengarah ke ikan yang tubuhnya terangkat di atas permukaan air. Perairan ditumbuhi oleh tanaman air yang berupa teratai, sehingga perairan padamana kegiatan ini dilakukan adalah sebuah kolam teratai pada suatu cekungan tanah bertebing batu. Pada punggung pemancing tergambar wadah ikan (kepis), yang digayutkan ke arah tubuhmya dengan menggunakan tali pada kedua legan dan punggunya.

Pencaharian lainnya yang dipahatkan pada batur Candi Surowono sisi belakang adalah perburuan terbatas, yaitu menyumpit burung (nyumpit manuk). Digambarkan seorang lelaki dewasa dengan proporsi tubuh dan penampilan meyerupai pemancing katak dalam posisi jongkok. Tangan kirinya memegang pangkal sumpit dan tangan kanannya dijulurkan guna memegang bagian tengah sumpit panjang (sepanjang tinggi tubuhnya atau sekitar 1,5 meter). Sumpit yang mengecil diameternya ke bagian ujung diarahkan ke atas. Pipi hingga bibir penyumpit mengembung, yang menggambarkan bersiap untuk menghembuskan udara kuat dari rongga mulutnya guna mendorong laju luncur anak sumpit. Binatang yang dibidik untuk disumpit tak digambarkan. Walau demikian bisa diprakiran, yaitu burung atau binatang lain yang berada di bagian atas pohon yang tegak berdiri di depannya.

Perburuan terbatas lainnya adalah pencarian dan penangkapan binatang, yang menyerupai bentuk babi hutan (celeng). Dalam relief di batur candi sisi belakang, babi hutan dipahatkan dalam ukuran kecil, semacam anak babi (genjik). Pelaku perburuan adalah dua orang laki-laki dewasa. Seorang bertubuh langsing dalam posisi jongkok, tepat di depan babi hutan. Tangan kanan mengayunkan tongkat pemukul (penthungan), dan tangan kiri membawa parang. Seorang lainnya yang bertubuh kegemukan, yang berada di belakangnya, tangan kirinya membawa tongkat berujung kolong tali jerat (jiret). Lokasi perburuan di hutan belantara. Adegan ini mengingatkan pada istilah Jawa Baru ‘njiret celeng (menjerat babi hutan)’, suatu teknik penangkapan babi hutan selain menggunakan anjing geladak (asu ajak). Tergambar bahwa babi yang dikonsumsi oleh warga bukan melulu babi peliharaan yang diternak, namun bisa juga babi liar yang hidup di dalam hutan (babi hutan).

Selain binatang-binatang yang diburu tersebut (ikan, katak, burung dan babi hutan), terdapat panil relief di sisi belakang yang juga menggambarkan anak babi (genjik). Seorang pria dewasa bertubuh kekar dengan rambut digelung dalam posisi berdiri. Kedua tangannya tengah menggendong babi. Ada kemungkinan adalah babi hutan yang berhasil ditangkap. Sementara seorang laki-laki dewasa lainnya dalam posisi jongkok. Tangan kanannya membawa semacam senjata berujung lancip, yang seakan diarahkan ke babi hutan. Kurang jelas apa maksud penggambarnya. Boleh jadi gambaran adegan pembantaian binatang buruan, terkait dengan adegan menjerat babi hutan yang dipaparkan terdahulu. Namun, kedua relief ini tidak digambarkan berurutan – diantarai oleh empat panil lain.

Terdapat pula sebuah panil, yang menggambarkan seseorang tengah menangkap ular. Seseorang tengah menangkap ular dengan tangan kiri, tepat dibagian leher ular. Sedangkan tangan kirinya membawa sesuatu – kurang jelas yang digambarkan, kemungkinan adalah karung, sebagai wadah ular yang tertangkap. Uniknya pelaku kenakan penutup kepala (semacam topi) yang mengingatkan pada ‘tekes’, yang acap dikenakan oleh Panji. Seorang lainnya berada di belakangnya, dalam posisi tidur. Belum jelas, apakah tokoh peran ini digigit ular ketika berada di bawah pohon. Kemungkinan lainnya menggambarkan perburuan ular, yang merupakan kegiatan berisiko tinggi.

Binatang lain yang tampil pada panil relief lainnya adalah seekor unggas (ayam) yang ditangkap/ dipegang dengan tangan kanan seseorang, yang kakinya setengah ditekuk. Terlihat ekspresi pada wajahnya dan tangannya kegirangan. Sementara, di depannya digambarkan seorang lainnya dalam posisi jongkok tengah memegang binatang berkaki empat (kucing atau mungkin anjing), agar tidak terus menyerang dan memangsa binatang buruan itu. Proporsi tubuh, busana, dan aksesoris pelaku peran menyerupai ‘tokoh Punakawan’. Boleh jadi, adegan ini menggambarkan penangkapan ayam hutan (pitik alas), yang dilakukan dengan menggunakan binatang pembantu berupa ajing/kucing geladak (gladak).

 

C. Pencaharian Berburu pada Relief Candi Surowono dalam Perbandingan
1. Paleo-Ekologi Thani Surabhana Masa Majapahit

Gambaran tentang desa-desa kuno pada berabad abad lalu tak senantiasa dijumpai datanya secara cukup berlimpah dalam sumber-sumber data masa lampau. Kalaupun terdapat sumber data tekstual (prasasti ataupun susastra) yang menyebut tentang desa (wanua, wanwa, atau thani), namun tidak selalu disertai dengan paparan mengenai kondisinya secara cukup rinci.

Untuk dapat mengungkap kondisinya, sumber-sumber data masa lampau lainnya, yakni sumber data artefaktual, ekofaktual, tradisi lisan (oral) maupun data toponimis sekalipun – sekecil apapun informasi yang terkandung di dalamnya, memberi kontribusi ungkap yang berharga.

Surabana (kini ‘Desa Surowono’) sebagai desa arkhais yang telah terdapat dalam Masa Majapahit tidak perlu diragukan. Keberadaan tinggalan arkeologis yang berupa candi, arung (saluran air di bawah permukaan tanah), weluran (saluran air pada pemukaan tanah) untuk irigasi, patirthan, serta tinggalan arfektual lain dalam kondisi fragementaris di penjuru desa Surowono menjadi bukti tak terbantahkan akan kelampauannya.

Artefak (karya budaya yang bersifat material) tidak bakal ada tanpa pembuat dan tanpa penggunanya. Candi Surowono, yang nama arkhaisnya ‘Surabhana’ atau ‘Visnubhuwanapura’ merupakan pendharmman bagi Bhre Wengker yang mangkat tahun 1388 M. Sangat boleh jadi candi ini rampung dibangun dan mulai digunakan pasca Upacara Sradha, yakni 12 tahun kematian seseorang, yang berarti pada tahun 1388 + 12 = 1400 Mesehi. Dengan demikian, pastilah candi dan masyarakat sekitar yang mengelola dan menggunakannya telah ada pada abad XV Masehi.

Untuk kepentingan pemeliharaan dan penyelenggaraan upacara di candi Surabhana, pihak kerajaan (Majapahit) mengeluarkan kebijakkan ‘membuka hutan’ di Surabana. Kakawin Nagarakretagama (pupuh 82,2) memberitakan Sri Nata Wengker membuka hutan di Surabana, Pasuruan dan Pajang. Perkataan ‘membuka hutan’ memberi kita petunjuk bahwa sebelumnya area tersebut berupa hutan. Dengan perkataan lain, terjadi perubahan peruntukan lahan, dari semula areal hutan menjadi lahan pertanian. Jika benar demikian, berarti pada medio abad XIV Mesehi Surabhana adalah suatu desa (thani) yang berada di tepian hutan belantara. Areal hutan itu kiranya berada di bagian utara Dusun Surowono atau desa lain di utaranya, padamana saluran irigasi yang berupa arung dan weluran itu diarahkan aliran airnya. Unsur nama ‘bhana’ atau ‘bana’ menunjuk pada hutan, karena konsonan ‘B’ bisa dipertukarkan dengan ‘W’ (SuraBana = SuraWana).

Walaupun merupakan desa tepian hutan, namun Thani Surabhana dipandang sebagai penting oleh pemerintah Majapahit. Hal itu terbukti dari keterangan dalam Kakawin Nagarakretagama (pupuh 62.2), yang memberitakan bahwa dalam perjalanan pulang dari kunjungan ziarah (pilgryme)-nya di Balitar dan tempat-tempat lain disekitarnya pada tahun 1361 Masehi, maharaja Hayam Wuruk beserta rombongan mengambil jalan pulang melalui Jukung, Jnanabadra, dan terus ke arah timur. Berhenti di Bajralakmi dan bermalam di Candi Surabhana. Kala itu, di Surabhana telah ada candi, yang mungkin candi selain pendharmaan bagi Bhre Wengker, yang baru rampung dibangun pada tahun 1400 Masehi semasa pemerintahan raja penggantinya, yaitu Wikramawarddhana.

Pilihan terhadapnya juga mendasarkan pada kalkulasi ekologis Thani Surabhana, yang terbilang subur dan telah memiliki sistem sosio-budaya yang teratur. Lingkungan fisis-alamiah Surabhana, yang berada pada lembah sisi barat Vulkan Kampud (Kelud) merupakan daerah subur, yang cocok bagi pencarian agraris. Selain kesuburan tanah vulkanisnya itu, daerah ini terbilang kaya air, yang kekayaan airnya masih terlihat sngat jelas hingga kini. Sumber air, sungai-sungai kecil, dan areal yang tergenangi air sepanjang musim (ngembak) kedapatan di banyak tempat pada Dusun Surowono serta desa-desa tetangganya. Oleh karena itu, dapatlah difahami bila pembudidayaan ikan air tawar pada Dusun Surowono menjadi pekerjaan alternatif dan pekerjaan tambahan bagi warga desanya – yang sebagian besar adalah petani.

 

2. Berburu sebagai Pekerjaan Sambilan Warga Thani Surabhana

Paparan diatas memberi gambaran bahwa hingga paro kedua abad XIV Masehi, Surabhana masih merupakan suatu desa yang berada di tepian hutan. Oleh karena itu, bagi warga setempat hutan di sekitar permukimannya itu bukan hanya disikapai sebagai habitat dari aneka hayati (tumbuhan dan binatang), namun sekaligus merupakan sumberdaya pangan.

Kendati telah sejak pada paro kedua Jaman Prasejarah terjadi perubahan pola pencaharian, yakni dari ‘food gathering (mengumpul makanan) menjadi food producing (memproduksi makanan)’, namun berburu dan meramu produk tanaman hutan tidak lantas ditinggalkan sama sekali. Dalam sekala yang terbatas, perburuan masih terus dilakukan sebagai pekerjaan sampingan.

Salah satu binatang air yang telah semenjak Masa Berburu dan Mengumpul Makanan pada Jaman Prasejarah didomistikasi adalah ikan. Pada Masa Hindu-Buddha ikan tidak hanya dicari di perairan bebas, namun ada pula yang telah dibudidayakan di empang (tamwak), kolam ikan, bahkan dalam suatu bendungan (dawuhan). Terkait pembiakkan ikan di bendungan, Prasasti Wulig (935 Masehi) misalnya menginformasikan tentang pembudidayaan ikan di dawuhan (bendungan) Desa Wulig, Padi-padi, Pangiketan dan Pikatan. Namun demikian, pemancingan pada alam bebas seperti di laut, sungai, telaga atau genangan air dilakan pula.

Relief memancing ikan dengan jelas digambarkan dalam panil di batur Candi Surowono. Memancing ikan atau binatang air lainnya juga tergambar di candi-candi lain, misalnya pada relief cerita Tantri, yang memuat pesan ‘mburu uceng kelangan delek’, yakni: angan untuk memperoleh buruan yang lebih besar (dalam hal ini: kijang) – walaupun belum tentu bisa didapat, namun tangkapan yang jelas telah diperolehnya (dalam hal ini: ikan atau badawang) justru dilepaskannya. Gambaran tentang hasil pencarian ikan juga didapati pada relief Mahakarmawibhangga di teras I Candi Borobudur.

Sebagaimana hanya sekarang, bukan hanya ikan yang dipancing dan dikonsumsi warga, melainkan juga katak – besar kemungkinan adalah jenis katak hijau (kodok ijo, bullfrog), yang hingga kini masih dicari dan didomistikasi sebagian warga non-muslim, dinamai ‘swikee (sui-ke, suatu slang untuk menyebut katak sebagai ‘ayam air’) di dalam bahasa Tiong Hoa dialek Hokkien. Katak hijau peroleh dengan cara dipancing atau dapat juga disuluh dengan cara ditombak (dipayal), yang kini biasanya dilakukan pada malam hari menggunakan penerang ‘lampu karbit’. Daerah yang popular dengan swikeenya adalah Purwodadi, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang maupun Surabaya. Kini katak hijau tidak hanya diburu di alam bebas, namun di beberapa daerah telah dibudayakan.

Selain kijang dan rusa, binatang hutan yang paling banyak diburu adalah babi hutan, yang dikategorikan sebagai binatang perusak tanaman budidaya. Berburu babi hutan terbilang tua dalam sejarah. Rock painting (lukisan dinding dan langit-langit Gua Prasejarah) di situs Leng-Leang (Kabupetan Maros) dan Belae (Kabupaten Pangkajene Kepulauan) menyuguhkan fakta mengenai itu. Kendati babi telah diternakkan, namun perburuan babi di hutan terus dilakukan. Ada sejumlah cara berburu babi hutan, antara lain dengan dipanah, ditembak, dijebak dengan lobang gali, diburu dengan anjing geladak, atau bisa juga dengan dijerat — seperti dipahatkan pada relief di batur Candi Surowono. Adegan ini mengingatkan kita kepada apa yang dalam istilah Jawa Baru dinamai ‘njiret celeng (menjerat babi hutan)’. Babi hutan yang diburun pada relief ini berukuran kecil, semacam anak babi (genjik). Begitu pula, di panil relief yang menggambarkan seorang tengah menggendong babi. Tema ‘perburuan babi hutan’ juga tampil sebagai salah sebuah adegan kunci (key scane) pada relief cerita Ajunawiwaha, yang diburu dengan cara dipanah sebagaimana dipahatkan di kaki candi Surowono, Candi Jajaghu dan Candi Kedaton.

Binatang lain yang pada relief di batur Candi Surowono diburu, baik untuk dikonsumsi dagingnya atau untuk dipelihara, adalah ular dan ayam hutan. Pada relief ini, ular diburu hanya dengan jalan ditangkap menggunakan tangan telanjang. Adapun ayam hutan diburu dengan memakai bantuan anjing geladak. Selain bintang-binatang itu, tentu masih banyak binatang lain yang konon diburu untuk dikonsumsi – meski tidak dipahatkan di Candi Surowono. Namun demikian, berburu bukan semata untuk memperoleh bahan makan atau dikonsumsi, melainkan dilakukan untuk kepantingan lain seperti olah kanuragan (latihan perajuritan), rekreasi, hobi, pertunjukan, dsb.

Dalam Kakawin Nagarakratagama perihal perburuan untuk olah keprajuritan yang dilakukan oleh rombongan Hayam Wuruk di kawasa timur Gunung Kawi diuraikan panjang lebar pada pupuh 50 hingga 54. Oleh karenanya, dalam arti luas berburu didefinisikan sebagai praktik mengejar, menangkap atau membunuh hewan liar untuk dimakan, rekreasi, perdagangan, atau memanfaatkan hasil produknya (seperti kulit, susu, gading dan lain-lain). Dalam penggunaannya, kata ini merujuk pada pemburuan yang sah, sesuai dengan hukum. Yang bertentangan dengan hukum disebut ‘perburuan liar’. Binatang yang disebut sebagai hewan buruan biasanya berupa mamalia yang berukuran sedang atau besar, atau burung.

 

3. Pegendalian Kegiatan Berburu demi Pelestarian Aneka Hayati

Sudah kodrat dari manusia untuk menjadikan tanaman dan binatang sebagai santapannya, sebagai penyambung kelangsungan hidupnya. Sepanjang masih ada manusia, maka pemangsaan binatang oleh makhuk lain terus berlangsung. Apabila binatang yang ditangkap untuk dikonsumsi tersebut dari dalam hutan atau di alam bebas, maka terjadilah apa yang dinamakan ‘perburuan’. Oleh karena itu, hampir tidak mungkin untuk memberikan kurun waktu tertentu bagi pencaharian hidup berburu dan kemudian menjadikanya sebagai istilah dalam ‘periodisasi’. Misalnya, terdapat sebutan ‘Masa Berburu dan Mengumpul Makanan’, yang pada pengkerangkaan Prasejarah Indonesia ditempatkan di paro pertama Jaman Prasejarah. Kalaupun istilah itu digunakan, maka pengertiannya mengarah kepada ‘mata pencaharian dominan’ yang berlangsung pada kurun masa itu. Nyatanya, pada Masa Hindu-Buddha, bahkan dalam Keemesan Majapahit sekalipun pun, perburuan dalam skala terbatas masih juga berlangsung, sebagaimana antara lain tergambar dalam relief di batur Candi Surowono. Demikian pula hingga sekarang pun perburuan masih dilakukan, baik sebagai mata pencaharian di kalangan masyarakat etnik bersahaja yang tinggal di dalam/tepian huatan maupun sekedar sebagai ekspresi hobi semata, Dengan perkataan lain, berburu adalah aktifitas yang berlangsung lintas masa.

Sebagai sebutan, kata dasar ‘buru’ adalah salah sebuah kosa kata di dalam Bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan. Bahkan terus dipakai hingga perkembangan Bahasa Jawa Baru, diserap ke dalam Bahasa Indonesia. Secara harafiah, kata ‘buru’ dalam Bahasa Jawa Kuna dan Tengahan menunjuk arti: pemburu, berburu. Ada sejumlah kata jadian untuk kata dasar itu ‘aburu. aburu-buru, abuburu (berburu, pergi berburu), amuru, umuru, amumuru, amburu, binuru, kaburu (memburu), burwan (binatang buruan), aburwa-burwan, abuburwan (pergi berburu), paburu (pajak tertentu bagi pem-buru?), paburwan (tanah berburu, perburuan) (Zoetmuder, 1995:144. Berburu dapat dilaksanakan oleh perorangan atau bisa juga berkelompok, Pada suatu masyarakat dimana berburu masih menjadi mata pencaharian utama, kegiatan ini hadir pada hampir setiap atau sebagian besar warga, sehingga di kalangan pemburu tersebut ada seseorang yang dipilih dan diangkat sebagai pimpinan pemburu, yang pada Bahasa Jawa Kuna dan Tengahan disebut ‘Tuha Buru’. Bersama dengan komunitasnya disusun tata aturan berkenaan dengan perburuan di wilayahnya, yang kebanyakan diformulasikan secara tak tertulis (konvensi) atau secara tertulis (kodex hukum).

Dengan adanya tata aturan itu, maka berburu tidak boleh dilakukan semau-mau pemburu, sehingga ada aspek keterlindungan terhadap binatang buruan. Misalnya, larangan untuk menjala ikan pada siang hari, membunuh binatang yang tengah hamil atau sedang menyusui, tidak membunuh hewan yang tengah memadu kasih, tidak membunuh binatang yang nyaris punah, dsb. Kakawin Ramayana misalnya menggambarkan karmapala (buah perbuatan) yang diterimakan kepada Rama – terpisah dengan kekasihnya (Sita) – lantaran pemanah rusa emas yang kala dipanah tengah memadu kasih.

Demikian pula, kitab dan relief Kurnjarakarna Dharmmakatana yang berlatar Buddhis memberi gambaran tentang karmapala di naraka (neraka) bagi orang yang ketika hidupnya melakukan siksa dan pembunuhan terhadap binatang sebagai makhluk hidup. Gambaran demikian juga divisualkan dalam relief Mahakarmawibhangga pada teras I Candi Borobudur. Prasasti Wulig (935 Masehi) memuat kalimat ‘…… dan mengambil ikannya di waktu siang (SNI, II, 2010:191-192). Oleh sebab menjala ikan di saing hari dapat menyembabkan ikut terjalanya ikan-ikan kecil. Sementara dalam Prasasti Katiden I (22 April 1392 Masehi) lempeng Ia. Baris 2-5 memuat keputusan hukum bahwa berburu binatang diperkenankan, dengan kalimat:

2. …. Oleh karena diperbolehkan menimbak
(binatang) buruan
3. (dan) tidak (merupakan suatu) dosa jika
(binatang tersebut memakan tanaman
larangan yang tumbuh di seluruh bumi
Katinden. ….
4. ……. Diperboleh menombak (binatan buruan)
jika (biatang tersebut memakan tanaman
5. (yang) tumbuh. (menombak) pelbagai
macam (binatang) buruan buka (merupakan
suatu) dosa …. (Nastiti, 1990:25).

Pada dasarnya, membinasakan binatang buruan adalah hilangkan kesempatan hidup binatang buruan. Oleh karena itu, Buddhisme mengajarkan tentang ‘Ahimsa’, yakni larangan untuk menyakiti terlebih lagi membinasakan makhluk hidup – termasuk binatang. Kalaupun dilakukan pembinasaan binatang, ada baiknya diarahkan kepada binatang dibiakkan, sehingga kelangsungan spesiesnya terjaga. Sebaliknya perburuan binatang di alam bebas tak diketahui secara pasti apakah bintang itu telah menghadirkan keturunan ataukah belum. Pendek kata, perburuan musti dilakukan secara bijak, tidak berlebihan. Untuk itulah, selain tata aturan berburu, dibutuhkan juga pemimpinan para pemburu untuk mengendalikan agar perburuan tidak dilakukan sembarangan.

Pada relief diatas, utamanya pada adegan ‘penangkapan anak babi dan penangkapan ular’, tergambar adanya pemburu yang fisiografis, busana dan aksesorisnya berbeda dengan pemburu di panil-panil lainnya – yakni bertubuh kegemukan, berbusana dan beraksesoris bersahaja. Bisa jadi, tokoh peran itu adalah ‘tuha buru’ atau warga masyarakat setempat yang kedudukan sosialnya lebih tinggi daripada kedudukan sosial kebanyakan pemburu.

Demikianlah tulisan ringkas yang kurang mendalam dalam penelaahan ini. Semoga, meski sekecil apapun, tulisan ini memberi kefaedahan dan membuahkan kebijakan untuk sedapat mungkin dapat menghindarkan diri dari tindakan berburu binatan di alam bebas. Salam budaya ‘lestari sato-kewan di jagad raya’. Nuwun.

 

PATEMBAYAN CITRALEKHA, Sengkaling 10 Mei 2017.

Total
1
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*