Connect with us

JAMAN KUNO

URGENSI GARAM DALAM PRASASTI BILULUK DAN FLUKTUASI GARAM NUSANTARA LINTAS MASA

Avatar

Published

on

Merawat Potensi Alam Daerah

URGENSI GARAM DALAM PRASASTI BILULUK DAN FLUKTUASI GARAM NUSANTARA LINTAS MASA

 

A. Kilas Balik Garam Produksi Jawa dan Khususnya Lamongan
1. Kilas Sejarah Garam Masa Kolonial

Kehambaran acapkali diibaratkan sebagai ‘sayur kurang garam’. Hal ini menegaskan akan urgensi garam di dalam dunia kuliner. Sesungguhnya, garam bukan hanya bermanfaat bagi kuliner, melainkan juga untuk kefaedahan-kefaedahan lain. Mengingat bahwa dimanapun dan kapanpun garam senantiasa dibutuhkan, maka pada masa lalu, Pemerintah Kolonial Belanda menempatkan garam sebagai salah satu diantara “sembilan bahan kebutuhan pokok”. Demikian pula, berdasarkan arti strategis dari garam tersebut, maka penguasa ‘Kolonial Sisipan” Inggris, Th. S. Raffles (1811-1816), tepatnya 15 Oktober 1913, mengeluarkan peraturan menghapusakan sistem ‘penyerahan wajib (contingenten)’ serta sistem ‘penyewaan produksi dan perdagangan garam yang dilakukan oleh para pachter (pemborong)’. Sebagai gantinya, Raffles tempatkan industri garam sebagai ‘perusahaan negara’, dengan menerapkan sistem free labor (vrje arbeid)’. Urusan perdagangan dan distribusi garam dikelola oleh perusahaan negara. Aturan ini memberikan gambaran mengenai kebijakan ekonominya, yang salah sebuah diantaranya adalah mengadakan monopoli garam dan minuman keras. Pada tahap ini, sebenarnya produksi garam telah mulai masuk ke dalam ketegori upaya pengindustrian modern, meski praktik ini tidak berlangsung lama, karena segera digantikan setelah kedatangan kembali Belanda.

Pemerintah Kolonial Belanda cenderung mengeluarkan kebijakan, yang ingin menguatkan posisi pemerintah dalam industri. Pada tahun 1818 misalnya, dilaksanakan kontrol terhadap produksi dan perdagangan garam di daerah-daerah, yang dikuasakan kepada para residen. Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil, lataran banyak kepentingan pejabat lokal yang turut menyebabkan pemasukan pemerintah dari sektor garam menjadi berkurang. Kedatipun upaya yang dilaksanakan oleh Pemerintah Hinda-Balanda ini cenderang memonopolisasi garam, akan tetapi dalam praktiknya tidak terdapat kebulatan mengenai monopoli garam. Ironinya, paktik itu tak berjalan dengan sama memuaskan di semua tempat. Masa kelebihan dan sebaliknya kekuragan garam terjadi silih ganti. Pada sisi lain, pejabat-pejabat korup mengahalangi tujuan dari itu. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya pembatasan produksi garam, yang mengakibatkan stok garam di gudang-gudang garam pemerintah berlebih. Akibatnya. terjadilah krisis garam di Hindia-Belanda pada tahun 1851-1861.

Menyikapi krisis garam tersebut, Pemerintah Hindia-Belanda terpaksa menghentikan produksi bahkan menutup ladang-ladang garam di beberapa daerah, sehingga produsen-produsen garam yang hidupnya semata bergantung kepada produksi garam praktis kehilangan pencaharian. Banyak orang menjadi tidak kerja, malahan beberapa lainnya melakukan tindak kejahatan, atau sebagian petani penggarap garam yang masih tradisional menjalankan produksi-produksi gelap. Untuk itulah maka pada dekade 1860-an dan 1870-an muncul gagasan untuk ‘membebaskan produksi dan perdagangan garam’. Namun, gagasan ini dipertimbangkan secara serius dan akhirnya dibuang jauh-jauh sebab takut pendapatan negara menjadi berkurang. Pada sisi lain, distribusi produk tidak merata dengan alasan kesenjangan harga. Menghadapi carut-marut perindustrian garam itu, untuk mengakhiri berbagai ketidak pastian dan praktik yang bermacam-macam, maka pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan peraturan yang telah disebut di atas.

Pada akhirnya, Pemerintah Hindia-Belanda memberlakukan ‘Sistem Monopoli Garam (Bepalingen tot Verzekering van het Zoutmonopolie)’, yang diresmikan dalam Staatsblad van Nederlandsch-Indie. Dengan kebijakan ini, maka ketentuan yang dibuat Komisaris Jendral Du Boys tahun 1829 – pasca Perang Diponegoro (1825-1830) – yakni menyewakan pengelolaan garam terhadap pihak swasta (patikelir) guna menutup defisit keuangan VOC berakhir sudah. Sebenarnya, monopoli garam ini merupakan pengulangan terhadap apa yang pernah diterapkan Raffles tujuh dasawarsa terdahulu.
Lewat peraturan itu, Pemerintah Hindia-Belanda melakukan memonopoli produksi sampai perdagangan garam, dengan tujuan untuk tingkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi garam.

Peraturan itu juga menjadi tonggak awal bagi pendefinisian produksi garam sebagai suatu industri yang modern. Di kemudian hari, aturan itu secara bertutut-turut disempurnakan. Antara lain tahun 1921 dikeluarkan Staatsblad No. 454, tahun 1923 (Staatsblad No. 20), tahun 1930 (Staatsblad No. 119), dan tahun 1931 Staatsblad No. 168 dan 191. Tonggak penting lainnya bagi transformasi produksi garam menjadi industri modern adalah pada tahun 1921, ketika pemerintah Hindia-Belanda mendirikan perusahaan garam dengan nama “Jawatan Regie Garam’. Selanjutnya, pada tahun 1937 diubah menjadi ‘Jawatan Regie Garam dan Candu’. Keduanya itu merupakan cikal-bakal dari apa yang sekarang dinamai “PT. Garam Persero’.


Kendatipun maksud dari kebijakan itu untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi garam, namun tidak terelakan kebijakkan monopolisasi garam menghadapi ketiadakstabilan atau flukstuasi hasil produksii. Hal itu disebabkan beberapa factor. Misalnya, kenaikan hasil produksi garam di Bagan Siapi-api pada tahun 1904 dan1907, yang meningkat tidak cukup signifikan dari f 6.060 hanya menjadi f 15.360, sebab masih terdapat persaingan produksi. Bahkan secara nasional pada tahun 1909 dan 1910 terjadi kelangkaan garam, sehingga mendorong pihak manajemen dari peraturan monopoli garam untuk menyempurnakan diri. Antara lain, pada tahun 1912 Perusahaan Garam di Hindia- Belanda membuka firma pelayarannya sendiri. Di Kalianget, yakni salah sebuah sentra pengahasil garam, didirikan pabrik-pabil, perkantoranm perumahan pegawai berkebangsaan Eropa dan bandar baru. Dari bandar baru inilah kapal-kapal bermuatan garam berlayar ke seantero wilayah. Sematara itu, di Bagan Siapi-api, produksi garam didistribusikan melalui ‘Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM)’. Wal hasil, produksi garam dari tahun 1901 meningkat – meski pada tahun 1906 sempat menurun. Pada tahun 1930an, kerika secara global negera-negera dilanda ‘Depresi Ekonomi’, beberapa komoditi mengalami fluktuasi yang tajam, tidak terkecuali garam. Untuk menghadapi itu, pada tahun 1936 pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk memperluas lahan-lahan garam berskala besar (3000 hektar) serta dengan tambak-tambak garam yang berskala kecil.

Sebelum penerapkan kebijakan ‘monopoli garam’ pada tahun 1882, pemaknaan terhadap industri garam belum dapat didefinisikan secara jelas, lantaran proses produksi hingga penjualan garam dilaksanakan layaknya pada proses tani. Dalam kaitan itu, Kuntowijoyo (2002) menyatakan bahwa pada daerah-daerah yang secara ekologis berpotensi bila dijadikan sentra produksi garam, pekerjaan ini hanya dipoisiskan sebagai alternatif untuk pertanian. Artinya, ketika keadaan tidak menguntungkan bagi pertanian dan justru menuntungkan untuk produksi garam, maka dilakukan pekerjaan di bidang garam, atau sebaliknya. Dalam konteks ini, proses produksi tani dan produksi garam dapat disamakan, yang keduanya belum dapat dimasukkan sebagai bagian aktifitas industri dalam arti modern, sehingga kegiatan ekonomi produksi garam sebagaimana itu tidaklah salah bila diketegorikan sebagai uapaya industri garam dalam pengertian sederhana.

Produksi garam pra-tahun 1882, kendati hanya merupakan pekerjaan alternatif, namun tak dapat dipungkiri bahwa terdapat motif ekonomik, yakni cari untung. Hanya saja, masih belum mempunyai anasir industri modern, belum didukung modal besar, belum didasarkan pada asas kekeluargan maupun rancangan modern. Kala itu produksi garam masih dilakukan dengan cara tradisional, atau setidaknya terdapat bias – percampuran antara (a) usaha mengindustrikan secara modern dengan (b) praktik produksi tradisional yang masih kental dalam masyarakat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa produksi garam belum tampak jelas sebagai suatu upaya pengindustrian dalam arti modern. VOC terapkan peraturan ‘penyerahan wajib (contingenten)’ garam dari para patani penggarap dengan jumlah yang telah ditentukan. Aturan lainnya, para penggarap yang berada di bawah kekuasaan VOC dan ingin membuka tambak garam harus meminta izin dahulu. Sistem yang dikembangkan oleh VOC ini pada perkembangannya jstru melahirkan kelas sosial baru, yaitu pachter (pemborong), yang merugikan para petani penggarap garam.

Kilas sejarah mengenai aktifitas industri garam diatas membuktikan bahwa industri garam bersfiat ‘dinamik’ dari masa ke masa. Dinamikanya tek terkucuali terjadi pada masa pra-Kolonial, yaitu pada Masa Hindu-Buddha dan Pertumbuhan-Perkembangan Islam. Bagaimanakah gambaran mengenai keberadaan pergaraman pada Masa Hindu-Buddha, telaah ini akan menyingkapkannya, meski hanya sebatas pada Masa Majapahit, dengan contoh kasus khusus pada sub-area Lamongan Selatan.

 

2. Lamongan sebagai Daerah Produsen Garam Lintas Masa

Salah sebuah daerah di Hindia-Belanda yang konon menjadi produsen garan yang terbilang utama adalah Jawa Timur. Bukan hanya Kalianget pada Kabupaten Sumenep, yang telah semenjak tahun 1921 didirikan Pabrik Garam dibawah naungan ‘Jawatan Regie Garam’ – kemudian (tahun 1937) berubah menjadi ‘Jawatan Regie Garam dan Candu’, namun juga pada sepanjang Pantura (Pantai Utara) Jawa. Kawasan pesisiran Jawa Timur, yang membentang mulai dari perbatasnnya dengan Provinsi Jawa Tengah (yaitu di daerah Lasem), Tuban, Lamongan, Gresik, Kota Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan hingga Probolinggo telah sangat lama dikenal sebagai sentra produsen Garam. Sub-area utara Lamongan – yang merupakan areal pesisiran – memiliki potensi alamiah yang tepat untuk dibudidayakan bagi area produksi garam dan perikanan (baik air payau maupun laut). Kedua sektor usaha yang berbeda ini berada di sub-area yang sama ini. Meski beda jenis usahanya, namun saling melengkapi satu sama lain. Garam bagi para nelayan amatlah bermanfaat untuk pengawetan maupun pembuatan ikan asin (gereh, gerih).

Kabupaten Lamongan merupakan salah satu diantara 20 (dua puluh) besar produsen garam rakyat di seluruh Indonesia – selain Kabupaten Gresik, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Tuban, Jeneponto, Pangkajene, Brebes, Jepara, (Kota) Surabaya, Pamekasan, Demak, Bima, Rembang, Sumenep, Indramayu, Pati, Sampang dan Cirebon. Pada tahun 2015 Kabupaten Lamongan mampu memproduksi garam sebanyak 38,8 ribu ton, lebih tinggi dari dua derah tetangganya (Tuban : 29,4 ribu ton, dan Gresik : 16,5 ribu ton). Namun, lebih rendah daripada Kota Surabaya (86,2 ribu ton). Produksi garam di Lamongan menuduki urutan ke-15 diantara 20 sentra produksi garam Indonesia, dengan produksi tertinggi diraih oleh Cirebon sebesar : 435,4 ribu ton (2016 © Databoks, Katadata Indonesia).

 

B. Informasi Garam dalam Prasasti Biluluk
1. Arti Istilah dan Ragam Jenis Garam
1.1. Ragam Peristilahan

Kosa kata ‘garam’ dalam Bahasa Indonesia, secara harafiah antara lain menunjuk kepada: senyawa kristalin (NaCl) yang merupaka klorida dan sodium, dapat larut dalam air, dana sin rasa (KBBI, 2002:335). Salah satu keguanaan garam berkenaan dengan makanan. Terkait itu, terdapat kata gabung antara unsur kata ‘garam’ dan kata lain, seperti “garam-dapur (garam untuk campuran bumbu masak)’ dan ‘garam-meja (garam yang digunakan atau disediakan pada meja makan)’. Bila ditinjau dari bentuknya, terdapat: (a) garam pasir dan (b) garam berbongkah-bongkah yang dicetak berbentuk balok (garam bata). Istilah ini juga dikenal dalam Bahasa Jawa, bahkan semenjak dalam Bahasa Jawa Kuna dan Tengahan, juga dengan sebutan ‘garam’ atau ‘garem’ (Zoetmulder, 1995: 278, 276).

Istilah “garen” telah disebut dalam prasasti tembaga (tamraprasa dari raja Balitung, bersama dengan padak (garam dari tempat pembuatan garam/pegaraman ~ yang dinamai “garam padak”), minyak (lenga)dan.gula, yang dibawa dengan cara dipikul (pinikul) (Naersen, BKI 95, 1937; 441~461). Dengan demikian, istilah.ini telah digunakan sejak medio.abad X Masehi. Hal ini diperkuat oleh adanya kata jadian “agarem (bergaram, digarami) dalam.Kakawin Ramayana (25.40), yang diterjemah Sundari Pnrgbahasa Sanskreta ke dalam Bahasa Jawa Kuna juga pada abad IX Masehi. Kata jadian lain kedapatan dalam Kitab Bomakawya (81.35), terkait dengan adanya pemanfaatan garam untuk pembuatan telor (hantiga, antiga) asin, sebagaimana tergambar dalam perkataan “ikantigagarem ~ tetdiri atas: ika~antiga~garem”.

Sumber data tekstual lain yang menyebutkan adalah prasasti.Sarwadhamma (Penampihan II) bertarikh Saka 1191 (1269.Masehi), betkenaan dengan pajak terhadap garam (pagagarem) (Brandes, OJO 79, 1913). Selain kata “garam, garem dan padak”, ada istilah lain yang juga menunjuk padanya, yaitu “uyah”. Istilah Jawa Kuna/Tengahan yang juga dikenal dalam.Bahasa Jaw Baru ini ini kedapatan dalam Kidung Tantri Kadiri (4.178) dari Masa Majapahit, dalam kaitan dengan makanan (panganan), sebagaimana tergambar dalam perkataan “pinangannya tan pahuyah (makanannya kurang/tanpa garam)”.

1.2. Jenis Garam Bleng

Dalam sejumlah hal bleng berlainan dengan borak. Biasanya, asam borat murni (boraks) dibuat oleh industri farmasi. Boraks berbentuk serbuk kristal putih, tidak berbau, larut dalam air, tidak larut dalam alkohol, PH: 9,5. Senyawa dalam borak mampu memperbaiki tekstur makanan, sehingga menghasilkan rupa yang baik dan bila digoreng akan mengembang, empuk, teksturnya bagus dan renyah. Dalam dunia industry, boraks digunakan sebagai bahan solder dan pembersih, pengawet kayu, antiseptik kayu dan pengontrol kecoa. Berbeda dengan bleng, yang dibuat secara tradisional dari ladang garam atau dari kawah lumpur. Misalnya, bleng yang produksi oleh warga di sekitar Bledug (kawah lumpur, mud vulcano) Kuwu pada Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Propinsi Jawa Tenggah.

Bledug Kuwu adalah letupan gas pada endapan lempung, yang terkumpul secara berkala. Gas yang terdapat pada letupan Bledug Kuwu merupakan gas metan biogenik (biogenic methane gas), yang merupakan hasil proses diagenesis dan biasa terjadi pada kedalaman 0 hingga 4 km. Terbentuk dari sisa jasad mahluk hidup dan aktifitas jasad renik anaerob pada kondisi temperatur tinggi (± 100 – 125°C) dan tekanan dari beban sedimen diatasnya. Air formasi yang ikut terbawa keluar saat terjadi letupan gas mempunyai kadar garam (salinitas) yang tinggi dan sangat potensial untuk diolah menjadi garam dapur. Kelebihan garam dapur volcano ini adalah sudah mengandung yodium dengan kadar yang lebih tinggi dibanding garam dapur hasil olahan dari air laut, sehingga relatif bisa langsung dipergunakan tanpa harus melalui proses penambahan yodium lagi kedalam garam. Oleh penduduk setempat lumpur ini dimanfaatkan mineralnya untuk pembuatan konsentrat garam secara tradisioal, yang dinamai ‘bleng’. Caranya adalah dengan menampung air dari bledug ke dalam glagah (batang bambu dibelah dua), kemudian dikeringkan.

Bleng merupakan sejenis boraks, berupa larutan garam fosfat berbentuk kristal, berwarna kekuning-kuningan, banyak mengandung unsur boron serta beberapa mineral lain. Sebagai garam mineral, dalam bleng terkandungan asam borat sebanyak 0,4 % persen dengan berat jenis 1,0012 kg/l (Purnomo, 2007). Sinonimnya adalah natrium biborat, natrium piroborat, natrium tetraborat. Penggunaan bleng untuk makanan dengan: (a) dicampur langsung dalam adonan setelah dilarutkan dalam air; atau (b) diendapkan terlebih dahulu, kemudian cairannya dicampurkan dalam adonan (Anonymous, 2005). Sebenarnya, bleng telah diproduksi di Indonesia semenjak, yaitu sejak tahun 1700 atau bahkan boleh jadi lebih tua lagi. Terdapat sebutan lain untuk bleng, seperti ‘cetitet, ketek, pijer’ atau ada pula yang menyatakan sebagai ‘obat gendar, obat puli atau obat lontong’.

Sebagai suatu jenis boraks, penggunaan bleng pada makanan turut dibatasi. Hal ini secara rinci diatur dan dibatasi oleh UU Kesehatan dan Keselamatan Nasional, mengingat bahwa boraks tidak aman dikonsumsi pada makanan apabila dalam dosis berlebihan. Akan tetapi, penggunaan boraks dalam dosis berlebihan sebagai komponen di dalam makanan ironisnya meluas di seluruh dunia. Memang, dampaknya tak serta-merta muncul setelah mengonsumsi makanan mengandung bleng, melainkan bersifat komulatif (sedikit demi sedikit), sehingga mengumpul di dalam tubuh. Mengkonsumsi makanan berboraks dalam jumlah berlebihan bisa menyebabkan gangguan otak, hati dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, bahkan koma hingga kematian. Batas aman/legal penggunaan boraks dalam makanan adalah 20 gram per 25 kg bahan.

Lantaran berbahaya bagi kesehatan, maka ada saran untuk mengganti penggunaan borak atau bleng dengan air merang dan STPP (Sodium Tri-polyphosphate). Dengan konsentrasi yang sama, bahan-bahan itu diketahui sebagai tidak akan memengaruhi tanggapan organoleptik (kesan fisik dan rasa) dari kerupuk beras. STPP mampu untuk: (a) menambah citarasa, (b) memperbaiki tekstur, (c) mencegah terjadinya rancidity (bau tengik), serta (d) meningkatkan kualitas produk akhir dengan mengikat zat nutrisi yang terlarut dalam larutan garam seperti protein, vitamin dan mineral (Shand, et al., 1993). Perihal ini sejalan dengan pernyataan Thomas (1997) bahwa STPP dapat menyerap, mengikat ataupun menahan air, meningkatkan Water Holding Capacity (WHC) dan keempukan. Menurut FDA (Food and Drug Administration), pemakaian alkali fosfat adalah 0,5 persen pada produk. Apabila penggunaannya melebihi dosis 0,5 %, maka bisa menurunkan penampilan produk, yaitu terlampau kenyal seperti karet dan terasa pahit. Penggunaan STPP 0,5 % pada krupuk puli dan 0,2 5% dalam bakso, dapat membuat krupuk puli dan bakso menjadi aman, sehingga tak was-was lagi untuk mengkonsumsinya.

2. Suratan Data tentang Garam pada Prasasti Biluluk
2.l. Lokasi Penemuan

Sejauh ditemukan, telah berhasil didapatkan sebanyak empat set prasasti tembaga (tamra-prasasti) Biluluk, yang karenanya lazim dinamai “Prasasti Biluluk I, II. III dan IV’. Penemuan empat set prasasti di tempat yang sama, dari masa yang sejaman dan memuat informasi yang relatif sama, adalah suatu fenomena yang perlu untuk dicermati latarnya. Prasasti Biluluk dikeluarkan antara tahun 1288-1317 Saka (1366-1397 Maehi), yakni pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389 Masehi) dan Wikramawarddhana (1389-1429 Masehi). Keseluruhannya diketemukan di Kecamatan Bluluk Kabupaten Lamongan.

Kini ‘Bluluk’ menjadi nama satu diantara tujuh dusun di Desa Bluluk, nama desa diantara sembilan desa di Kecamatan Bluluk (54,68 km² atau 5.467,71 Ha), dan sekaligus nama salah satu diantara 27 kecamatan di Kabupaten Lamongan – tepatnya terletak di sub-area selatan Lamongan. Wilayah ini diapait oleh aliran dua bangawan, yaitu Bangawan Brantas dan Bangawan Solo, yang berada lembah sisi utara Pegunungan Kapur (Kendeng) Tengah. Lokasinya relatif di pedalaman, berjarak orbitasi 45 Km dari ibu kota Kabupaten Lamongan. Berada pada ketinggian ± 63 m DPL, terletak di titik Koordinat 6°51′6″ LS dan 112°33′12″ BT. Kacamatan Bluluk berbatasan dengan Kecamatan Modo (Kabupaten Lamongan) di sebelah utaranya, Kecamatan Ngimbang (Kabupaten Lamongan) di sebelah timur, Kecamatan Sukorame (Kabupaten Lamongan) di sebelah selatan dan dengan Kecamatan Kedungadem (Kabupaten Bojonegoro) di sebelah barat.

Kendati berada di daerah kapur, namun bentang tanah di Kecamatan Bluluk yang berunsur Aluvial, Gromosol dan Mediteron memungkinkan untuk dibududayakan sebagai lahan pertanian, dimana terdapat sawah seluas 2374,00 Ha dan tegalan seluas 823,00 Ha. Areal sekitar pesawahan, telagalan dan pekarangan (319,19 Ha) merupakan hutan negara seluas 1898,00 Ha. Kemungkinan untuk budidaya tanaman pangan tersebut ditopang oleh adanya sumber-sumber atr dan singai kecil, meskipun air tanah berada di kedalaman 0-20 dibawah muka tanah. Pemukaan tanah (toografi)nya tidak rata. Tanah datar berada bagian selatan seluas 40 % , dan tanah miring di bagian utara seluas 60 %. Sebagainama umum di Indonesia, Kecamatan Bluluk juga beriklim tropis. Musim kemarau lazimnya jatuh di bulan April sampai Nopember dan musim hujan pada bulan Desember sampai Maret dengan suhu 32 °C.

Mengingat bahwa ‘Bluluk’ menjadi nama, mulai dari nama dusun, desa hingga kecamatan, tentulah merupakan nama tua (archaic name). Dengan kata lain, awal perkembangan wilayahnya bermula dari Dusun Bluluk itu. Ada 7 (tujuh) dusun yang berada di Desa Blukuk, yaitu (1) Bluluk, (2) Duwel, (3) Mangkuli, (4) Suren, (5) Polaman, (6) Kauman, (7) Manjar Anyar. Pemilihan untuk bermukim awal di Dusun Bluluk antara lain mempertimbangkan tanahnya yang rata (flat), terdapat cukup air dan relatif subur. Dari Dusun Bluluk, kemudian terjadi pemekaran wilayah permukiman menjadi sejumlah dusun pada penjuru mata aingin, Nama kuno untuknya berdasarkan sumber data prasasti tentulah ‘Biluluk’ – terjadi pelesapan vokal ‘i’, yakni dari ‘Biluluk’ menjadi ‘Bluluk’. Ada kemungkinan, pada masa lalu wilayah Biluluk meliputi sembilan desa, yang kini berada di dalam wilayah Kecamatan Bluluk.

2.2. Perihal Garam dan Pokok Informasi Lain Prasasti Biluluk

Informasi mengenai garam hanya didapati di dalam Prasasti Biluluk I, yakni satu diantara empat set Prasasti Biluluk yang ditemukan di Desa Beluluk (Biluluk, kini menjadi ‘Desa Bluluk’). Prasasti Biluluk I-IV pertamakali dipublikasikan dalam Oudhkundige Verslaag (OV) tahun 1917 halaman 177. Selanjutnya, di dalam OV tahun 1918 halaman 1745-177 lampiran R dan OV tahun 1919 halaman 62-65 lampiran G. Transliterasi dikerjakan oleh P.V. van Stein Callenfels dari huruf Jawa Tengahan ke dalam aksara Latin. Muhammad Yamin dalam ‘Tatanegara Majapahit”, Parwa II (1962: 149-158) memuat transliterasi yang dibuat oleh Callenfeks itu disertai dengan ‘percobaan terjemahan’.

Prasasti Biluluk I hanya sebuah lepeng, yang disuratkan di dua sisi (bhimuka) dari lempeng prasastiini. Memuat empat baris kalimat pada sisi depan (recto) dan enam baris pada sisi belakang (verso). Informasi mengenai garam berada pada sisi recto. Sayang prasasti tarikh Saka 1288 (1366 Masehi), namun tidak menyebut nama raja yang memerintahkan untuk menyuratkan. Namun, bila memperhatikan Prasasti Biluluk II (11312 Saka = 1391 Masehi), yang menyebut gelar ‘Paduka Bhattara Sri Parameswara’ yang moksa (sira sang mokta) di Wisnubhawana, maka pemberlakuan prasasti Bililuk II dimaksudkan guna pemperteguh perintah (andikanira talampakanita) yang telah sebelumnya diundangkan oleh Bhattara Sri Paremeswara.

Perihal tokoh Bhattara Parameswara diberitakan Prasasti Mula-Malurung (1255 Masehi), yang menyatakan bahwa sepeninggalnya tahta digantikan oleh Narrarya Guning Bhaya. Selain itu, nama ‘Bhre Parameswara’ atau ‘Bhattara Sri Parameswara’ juga disebut dalam kitab gancaran Pararatton, sebagai nama gelar (abhisekanama) dari Raden Kudamreta. Nama panjangnya adalah ‘Paduka Bhattara Matahun Sri Bhattara Wijayarasanama Wikramottunggadewa’. Apabila benar demkian, maka ia adalah ‘Bhre Matahun’, yang juga adalah ‘Bhre Wengeker’, yang mangkat pada tahun Saka 1310 (1388 Masehi) didharmakan di Wisnubhuwana “Bhattara Sri Paramaswara sang mokta ring Wisnubhuwanna’ – nama ‘Wisnubhwanapura adalah nama lain dari Candi Surabhana (Surowono). Nampaknya, alternasi terakhir inilah yang lebih mendekati tokoh yang mengeluarkan perintah untuk warga Biluluk dalam Prasasti Biluluk II. Ada kemungkinan, Prasasti Biluluk I yang tidak mencantumkan nama penguasa yang memerintahkan penyuratan prasasti itu adalah Bhattara Parameswara, yakni Bhre Matahun yang sekaligus adalah Bhre Wengker, yang tiada lain adalah Bhre Wengker Wijayarajasa – suami Bhre Daha Raadewi Maharajasa, bibi dari Hayam Wuruk.

Perihal ‘Bililuk’ dalam sisi recto Prasasti Biluluk I tidak esplisit dinyatakan sebagai ‘desa (thani)’, hanya disebut ‘prang-orang di Biluluk (si samasanak ing Biluluk)’. Selain Biluluk, pada sisi verso disebut daerah lain, yaitu ‘Tanggulunan’. Ada yang perlu dicermati dalam baris ke-1 sisi verso, yang menyebutkan kata jadian ‘adapur’ di Majapahit, baik terkait dengan Biluluk maupun Tanggulunan (OV 1918). Secara harafiah, kata ‘dapur’ antara menunjuk arti: kesatuan masyarakat pedesaan (Zoetmuler, 1995:196). Kata ‘dapur’ juga dididaati di dalam Prasasi Pabanyolan (Gubuk Klakah) dari masa Akhir Mahapahit, berkenaan dengan Dapur Pajaran sebagai tempat pertapaan (patapan) atau semacam mandalakadewagurwan di lembah Tengger-Semeru (kini ‘Desa Pajaran’, Kecamatam Pocokusumo).

Apakah ketika itu Biluluk dan Tanggulunan juga suatu desa yang sekaligus adalah patapan atau semacam mandalakadewagurwan? Terkait pertanyaan itu, baris awal sisi recto memberitakan tentang ‘pemujaan yang dilakukan setahun sekali (tatkala pajane pisan satahun)’ selama sepekan (sapeken) di Biluluk. Dengan demikian, tentulah di Biluluk terdapat tempat pemujaan (bangunan suci), yang sayang kini jejaknya belum ditemukan. Ketika berlangsung pemujaan itu, warga Desa Biluluk diberi kewenangan (rehane wnang) untuk menimba air asin (acibukana banyu asin). Kata jadian ‘acibukana’ memberi petunjuk bahwa air asin itu berada di permukaan tanah – bukan dalam tanah sehingga untuk mengambilnya cukup secara manual dengan ‘mencibuk’ menggunakan cibuk (semacam gayung). Kewenangan itu juga diberikan kepada seluruh warga desa lain di sekitarnya (para dapur ing pinggir samadaya), yang pada kurun waktu sepekan tersebut (ketika berlangsung pemujaan) datang ke Biluluk. Hal demikian telah berlangsung sejak jaman dulu (hing kunakuna), sehingga terus diberi kesematan untuk dilakukan, bahkan dijamin lewat putusan hukum (charter) yang berupa prasasti.

Pertanyaannya adalah ‘untuk apakah air asin yang ditimbai oleh banyak orang tersebut?’. Jawab terhadap pertanyaan itu disieatkan oleh kalimat pada baris ke-4 sisi recto, yang menyebut adanya ‘cukai (pajak) garam’ dengan istilah ‘pegagarame’, yakni sejumlah : 7 kupang (ku) setiap bulan (nangken wulan). Perihal ‘pajak terhadap garam (pagarem)’ juga diberitakan dalam prasasti tembaga yang dikeluarkan oleh Wisnuwarddhana di dalam Prasasti Sarwaddharmma (Penampihan II) bertarikh (1191 Saka = 1269 Masehi)’ untuk kegiatan ekonomik padadar (pembuatan lain, atau bisa juga kerajinan emas), pamedihan (pajak iuran dalam bentuk pakaian) dan pagarem (Brandes, OJO 79, 1913). Sangat mungkin, air aisin yang ditimbai tersebut dipergunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan garam.

Informasi tentang ‘banyu asin’ di Biluluk tersebut menggelitik pertanyaan “apakah konon terdapat air asin’ di Biluluk dan sekitar, yang dapat digunakan untuk membuat garam jenis garam bleng ataupun garam dapur?”. Hingga sekarang, warga sekitar masih memiliki memori mengenai ‘banyu asin’ di lembah Bukit Goci di wilayah Bluluk. Air air asin yang tersisa sekarang, ada kemungknan pada masa lalu adalah suatu ‘bledug purba’, yang kini telah mati. Selain di Bluluk, air asin semacam ini terdapat juga di daerah Sambeng dan di dekat bukit Lantung. Apabila benar demikian berarti ‘bledug (mud vulcano)’ yang mengeluarkan air berasa asin, yang ikut terbawa keluar saat terjadi letupan gas mempunyai kadar garam (salinitas) yang tinggi dan sangat potensial untuk diolah menjadi garam dapur. Air asin ini yang dalam prasasti Biluluk I ditimbai (cibukana) oleh warga desa Biluluk dam desa-desa lain di sekitarnya selama sepekan manakala berlangsung pemujaan pada suatu bangunan suci di Biluluk. Pengambilan air asin oleh warga desa di luar Biluluk pada kurun waktu sepekan itu tidak dianggap sebagai ‘mencuri’ dan karenanya tidak dikenai denda. Pembuatan garam dari air asin di pedalaman sub-area Lamongan Selatan masih berlangsung hingga sekitar tahun 1990-an, yang dilakukan oleh warga Desa Wonokoyo dan sekitarnya.

Tampaknya, air asin di Biluluk untuk bahan baku pembuatan garam menjadi hak inklusif dari warga desa Biluluk, yang dijadikan salah satu mata pencaharianya selain pekerjaan bertani, bedagang (hadagang), membuat arak (hamahat), menyembelih binatang (hajagal), membuat atau mencuci pakaian/kain (hamalanten), mewarnai kain (hamedel), hamuter (menjajakan barang?), berburu hewan dengan panah (hanglaksa), dan membuat kapur (hangapu). Dalam pembidayaam tanaman, prasasti Buliluk II memberitakan aneka tanaman budidaya, sperti merica (sahang), cabe, kumukus, kapulaga. Terkait dengan pertanian, Prasasti Biluluk IV memberitakan tentang budidaya padi lewat perkataan ‘penjaga lumbung padi, besar dan kecil’.

Disamping itu, Prasasti Biluluk II dan IV memberitakan pekerjaan berkenaan dengan pembuatan peralatan dari besi (wsi), termasuk membuat kuwali dari bahan besi (kawali wsi), mencari rotan (panjalin), menanam kapas (kapas), membuat pagar (parajeg), memahat atau menambang batu (pabatu), mebuat balai atau bangunan rumah/balai (pabale), membuat atap rumah (parahab), membuat pasak (pasusuk), dan membuat bendung air (parawuhan, mustinya ‘padawuhan’). Bahkan, terdapat pencaharian khusus, seperti menyabung ayam, berjudi, melacur, membuat/tukang obat, mebuat tembikar, menganyam bambu, pengukir, pembuat perhiasan, dsb.. Untuk pekerjaan-pekerjaan itu, mereka dikenai pajak. Dalam Prasasti Bililuk III (1317 Saka = 1395 Masehi) bahkan ditambahkan bahwa pajak juga dikenakan untuk pembelian latek (hatuku latek) dan bermacam-macam bea lain. Namun, oleh karena Biluluk ditetapkan sebagai desa perdikan (sima), maka pajak yang mereka banyar tidak diserahkan kepada pemerintah pusat, melainkan dikelola sendiri secara ber-swatantra. Pajak juga dikenakan untuk pembelian latek (hatuku latek) dan macam-macam bea lain.

Demikianlah, pekerjaan pembuatan garam sebenarnya hanyalah salah satu pencaharian yang diusahakan oleh warga Biluluk. Pekerjaan ini boleh jadi bukan merupakan pekerjaan utama, melainkan sebagai pekerjaaan sambilan diantara pekerjaan pokoknya. Sebagaimana dikemukakan oleh Kuntowojoyo (2002), di kalangan rakyat produksi garam rakyat hanya merupakan pekerjaan tradisional, sebagai sambilan dari pekerjaan di bidang pertanian. Kendati demikian, oleh karena garam dibutukan oleh semua orang, maka produk usaha garam menjadi penting artinya. Amat bisa jadi, produk garam di Biluluk antara lain dipasokkan bagi kebutuhan akan garam dari warga dalam (margga/wargga i jro) pada pusat pemerintahan (kadatwan Majapahit) di Wilwatikta, yang tidak terlampau jauh jaraknya dari Bilukuk.

Selain di Biluluk, ada kemungkinan pada masa yang lebih tua, garam juga di produksi di desa kuno (wanua) Garaman, terkait dengan Prasasti Garaman bertarikh Saka 975 (1053 Masehi), yang dikeluarkan oleh Rakai Halu Mapanji Garasakan dari Kerajaan Jenggala. Adanya toponimi ‘garaman’, yang berkata dasar (lingga) ‘garam’, memberikan petunjuk adanya produksi garam di sekitar lamongan pada medio abad XI Masehi. Menurut informasi, prasasti tembaga ini ditemukan oleh Moh. Dahlan, warga Dusun Mandungan, Kelurahan Widang Kecamatan Babad Kabupaten Lamongan pada tahun 1985. Namun, disekitar Widang kini tidak terdapat desa atau dusun yang memiliki nama yang dekat dengan ‘garaman’. Alih-alih, di daerah Modo yang tak terlampau jauh dari Bluluk, terdapat dusun bernama ‘Graman’, yang pada awal tahun 1980an pernah didadapati sejumlah tinggalan arkeologis di dasar suatu sendang. Pertanyaan yang menggelitik adalah ‘apakah bukan tidak mungkin bahwa prasasati tembaga (tamrapasasti) Garaman, yang mudah dipindahkan (mobile) itu adalah temuan dari Dusun Graman pada awal tahun 1980, yang kemudian terelokasi ke Widang?”. Sayang sekali, lacakan informasi kearah itu belum pernah ditelusuri.

 

C. Fluktuasi Produksi Garam Nusantara

Indonesia adalah negara mengimpor namun sekaligus pengespor garam. Data statistik dari KPP Kemenperin, Kemenperindak, dan PPS tahun 2015 menunjukkan bahwa kebutuhan garam nasional pada tahun 2011 sejumlah 3.288 ribu ton, tahun 2012 sebesar .270 ribu ton, tahun 2013 sebanyak 3.573 ribu ton, serta tahun 2014 dibutuhkan 3.611 ribu ton, baik untuk kebutuhan garam konsumsi maupun industri. Padahal, pada tahun 2011 Indonesia hanya memproduksi 1.113 ribu ton, tahun 2012 sebesar 1.803 ribu ton, tahun 2013 sejumlah 2.027 ribu ton, dan pada tahun 2014 menhasilkan 2.128 ribu ton. Oleh karena itu, dilakukan impor garam sebasar 202 ribu ton garam pada tahun 2011, sebanyak 844 ribu ton tahun 2012, sejumlah 933 ribu ton tahun 2013, dan 577 ribu ton pada tahun 2014. Namun demikian, Indonesia juga melakukan ekspor garam, yakni pada tahun 2011 sebesar 1,917 ribu ton, tahun 2012 sebanyak 2.624 ribu ton, tahun 2013 sejumlah 2.849 ribu ton, dan pada tahun 2014 sebesar 2.166 ribu ton.

Berdasarkan data tersebut, apabila dilokalisir untuk tahun 2014, tergambar bahwa produksi garam nasional tahun 2014 sebesar 2. 502.891,29 ton, dengan penyusutan 25 % = 1.887.168 ton. Pada tahun 2014 lalau, impor garam jenis garam konsumsi hanya diperuntukkan bagi garam insustri aneka pangan tertentu sebanyak 280.040 ton. Total impor garam pada tahun 2014 sebanyak 2.251.577 ton. Sejauh ini, pertumbuhan garam rata-rata per tahun sebesar 5%, Bagi negara Indonesia, yang nota bene merupakan ‘negara kepulauan (archipelago)’, import garam tentu dirasa sebagai ‘hal yang aneh’. Terlebih lagi, Indonesia adalah negara tropis, dimana penguapan air asin (air laut ataupun air asin dari bleduk) dengan terik sinar matahari pada musim kemarau memungkinkan untuk dilangsungkan secara intensif. Pada sisi lain, kebutuhan garam di Indonesia terbilang tinggi. Dalam hal kuliner, orang Indonesia dikenal sebagai ‘gemar garam’ – hal inilah yang mungkin menjadi salah satu penyebab tingginya angka penderita sakit ‘darah tinggi’.

Apabila ditelisik pada masa lampau, terdapat banyak daerah di Indonesia yang justru tampil sebagai ‘produsen garam’. Bahkan, pada Masa Hindia-Belanda, produksi garam Nusantara mampu diekspor ke negera-negara lain. Cukup alasan untuk menyatakan bahwa dalam kurun waktu amat panjang Nusantara adalah produsen garam yang mampu mengekspor garam. Atau setidaknya pada posisi dapar ‘berswasembada garam’. Bahkan, Masa Hindia-Belanda, khususnya sejak tahun 1882, ketika kebijakan monopoli garam dan modernisasi produksi garam diterapkan, Nusantara mampu mencapai ‘Jaman Keemasan Garam’. Mengapa justru setelah negeri ini merdeka, garam menjadi barang ‘import’, sehingga menjadi ‘suatu kelucuan nasional’, yang semestinya tidak boleh terjadi. Memang, tak data dipungkiri bahwa produksi garam fluktuatif dari masa ke masa, namun dalam fluktuasinya tersebut Nusantara pernah memasuki ‘jaman keemasan garam’, atau setidak-tidaknya berada dalam ‘swasembada garam’.

Syukurlah, menurut Kepala Pusat Badan Statistik dan Informasi (Pusdatin), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Indra Safti, pada 2012 lalu produksi garam di dalam negeri telah mengalami surplus 1,5 juta ton. Dengan demikian Indonsia telah mancapai swasembada garam, khususnya untuk konsumsi di dalam negeri. Menurutnya, ekspor garam bisa saja dilakukan, namun khusus untuk garam konsumsi,”. Dua tahun belakangan peningkatan produksi garam telah terlihat. Tumbuhnya peningkatan garam konsumsi di lapangan lantaran efektifnya program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) di sejumlah daerah. Potensi produksi yang terus melesat naik juga memberikan dampak simultan bagi suplai garam untuk sektor industri di dalam negeri.

Produktivitas lahan produksi garam dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari (musim), jumlah tenaga kerja, ketinggian pasang-surut air laut, serta teknologi yang dipergunakan dalam proses produksi. Dalam mewujudkan Swasembada Garam Nasional, tahun 2011 Kementerian Kelautan dan Perikanan melaksanakan kegiatan Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) sebagai bagian dari PNPM Mandiri Kelautan dan Perikanan. Kegiatan PUGAR baru dimulai pada tahun 2011, namun sudah memberi kontribusi positif terhadap pembangunan sektor kelautan dan perikanan khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pangan melalui pemenuhan garam konsumsi di dalam negeri, yang selama ini masih dipenuhi oleh garam impor. Terbukti, semenjak tahun 2012 Indonesia sudah tidak melakukan importasi garam konsumsi. Swasembada garam konsumsi sudah tercapai. Program PUGAR bertujuan untuk meningkatkan produksi dan kualitas garam rakyat serta kesejahteraan petambak garam rakyat lewat prinsip pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan melalui prinsip bottom-up. Artinya, masyarakat petambak garam secara partisipatif berperan aktif mulai dari tahap perencanaan, pengelolaan lahan dan air laut, penyediaan sarana dan prasarana produksi, pemilihan dan pemanfaatan teknologi, sesuai dengan kondisi dan potensi setempat

 

D. P e n u t u p

Tulisan ini memberi gambaran bahwa dalam lintas masa daerah Lamongan tampil sebagai ‘produsen garam’ yang utama. Garam tidak hanya dihasilkan di sub-area pesisiran, namun konon juga diproduksi di daerah pedalaman, yakni pada sub-area Lamongan Selatan. Prasasti Biluluk I memberikan informasi faktual bahwa desa kuno Biluluk dan sekitarnya merupakan produsen garam rakyat, yang hasilnya bukan saja untuk dikonsumsi sendiri (domestikasi), namun juga dipasokkan untuk memenuhi kebutuhan warga di daerah lain, tidak terkecuali bagi ‘warga i jro’ di Kadatwan Majapahit, warga di daerah-daerah lain di Jawa lewat perdagangan garam. Produksi garam di desa kuno Biluluk dimungkinkan karena konon di daerah ini terdapat ‘bleduk purba’, yang kini telah mati, dan yang tersisa tinggal apa yang oleh warga sekitar dinamai ‘air asin’.

Pemerintah Mahapahit turut mengatur regulasi garam rakyat, antara lain dengan mengatur tata produksi garam. Sebagai pendapatan kerajaan, pemerintah kerajaan juga menarik pajak garam (pagarem). Sebagai salah satu kebutuhan pokok bagi publik, produksi garam tidak boleh dibiarkan tumbuh-berkembang semaunya, namun perlu campur tangan pemerintah untuk mengelolanya. Hal yang demikian telah dicontohkan oleh pemerintah Hindia-Belanda melalui ‘modernisasi produksi garam’ sejak tahun 1882. Kondisi ‘swasembada garam’, khususnya untuk garam konsumsi, yang telah tercapai sejak tahun 2012, semoga mampu dipertahankan, bahkan ditingkatkan agar ke depan Indonesia kembali menjadi ‘negara pengekspor garam’ uatama, sebagai bentuk pencapaian kembali terhadap ‘Jaman Keemasan Garam Nusantara’.

Semoga tulisan ini menjadi picu semangat untuk itu.
Salam budaya ‘Nusantarajayati”.
Nuwun.

 

PATEMBAYAN CITRALEKHA,
Sengkaling, 13 Mei 2017

Catatan: Makalah untuk Seminar Arrkeologi-Sejarah di Lamongan, Minggu 14 Mei 20177u

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

JAMAN KUNO

PARODI SEJARAH KURUPSI DI NUSANTARA LAMA

Avatar

Published

on

PARODI SEJARAH KURUPSI DI NUSANTARA LAMA : Koco Brenggolo Kasus Hukum pada Kisah Pencurian Ken Angrok

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Paparan Kisah Pencurian oleh Ken Angrok

Tulisan ini mengangkat beberapa kisah tentang pencurian yang dilakukan oleh atau dituduhkan kepada Ken Angrok. Walau tak semua kisahnya secara eksplisit berkenaan dengan korupsi sebagaimana modus korupsu sekarang. namun terdapat siratan-siratan pesan yang berkenaan dengan “fenomena pencurian”. Kisah-kisah itu dapat dijadikan contoh kasus, mengingat bahwa pada dasarnya korupsi adalah suatu varian dari sikap tdan perilaku “maling (pencurian)”.

Sebagai seorang manusia biasa, “fase pencuri” pernah dilalui oleh Ken Angrok, sebagai suatu “episode gelap” dalam balada (perjanan pajang kehidupannya) — tentu selain “episode terang” yang berisi kebaikan- kebaikannya. Pencurian adalah bagian dari kemanusiaan manusia, yaitu sisi gelap kehidupan manusia Dapat difahami bila Angrok terlibat dalam sejumlah tindakkan pencurian, mengingat bahwa ayah angkatnya yang pertama, yakni Lembong, adalah pencuri ulung. Hingga usia remaja kecil, Ken Angrok dibesarkan d lingkungan keluarga pencuri ini. Dikisahkan oleh Pararaton “… Lambat-laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong …. ” (Marduwarsito, 1965:48-49).

1. Contoh Kasus Pertama

Menurut pengkisahan di dalam kitab gancaran (prosa) Pararaton, ketika Angrok masih seusia “rare sapangangon (anak gembala)” , ia bekerja pada yang dipertuan (tuha) Desa Lebak sebagai
penggembala sepasang kerbau miliknya. Angrok sempat dituduh — meskipun belum terbukti akan kebenarannya — melakukan penggelapan atas kerbau yang digembalakan. Akibat tuduhan buta itu, Angrok kecil terpaksa meninggalkan rumah, sedangkan ayah angkatnya (Lembong) dan ibu kandungnya (ni Ndok) terpaksa menanggung beban baya atas hilangan ternak gembalaa itu.

2. Contoh Kasus Kedua

Kisah pencurian lain yang dilakukan Ken Angrok terbilang “unik”. Kejadiannya ketika Angrok dan tuan Tita — putra tuan Sahaja, kepala desa di Sagenggeng — menjadi murid (sisya) dari guru Jangan di Sagenggeng. Kala itu pohon jambu di halaman rumah Janggan tengah berbuah lebat dan nyaris masak total. Angrok berkeinginan kuat (bahasa Jawa Baru disebut “kemecer”) untuk mencicipi. Namun, Janggan yang disiplin ketat melarang keras mengambil sebelum jambu-jambunya masak benar. Meski kemecer, sebagai murid yangi taat kepada guru, dalam kondisi sadar Angrok menekan keinginannya sedemikian rupa unuk tak memetik barang sebuahpun.

Yang ada dalam kondisi “sadar” dan yang terjadi ketika berada “dibawah sadar’ bisa saja berbeda. Dalam kisah ini, keinginan kuat yang ditekan- tekan menyeruak pada alam bawah sadarnya. Tengah malam ketika Angrok tertidur, keluar amat bsnyak kelelawar-kelelawar (tepatnya codot) dari ubun-ubunnya, yang lantas menyerbu buah jambu milik Janggan. Setelah kenyang menyantap buah jambu, rombongan kelelawar kembali ke diri Angrok juga lewat ubun-ubunnya manakala ia masih tertidur lelap.

Pagi harinya, betapa terkejut hati Janggan demi melihat sisa jambu berserakan — biasanya codot hanya memakan bagian ujung jambu, di bagian yang telah matang dan enak, separo dibawahnya dibuang — pertanda ada pesta pora semalaman. Kejadian yang demikian belum pernah sekalipun berlangsung sebelumnya. Oleh sebab itu muncul syakwasangka bahwa pencuri jambunya adalah murid barunya, yakni Angrok. Tentu saja Angrok tak mengakui tuduhan itu, sebab semalaman ia lelap tidur. Namun Janggan tetap menjatuhkan sangsi kepadanya. Angrok dilarang untuk tidur di dalam pondok — tipe pondok kuni tanpa dinding penutup,. Oleh karena itu, Angrok tidur di atas tumpukan jerami kering untuk pembuatan atap.

Janggan baru menyadari kesalahan tuduhannya di tengah malam berikutnya. Pada tengah malam secara diam-diam guru Janggan ke luar rumah memantau jejadian guna mencari bukti bagi tuduhannya. Janggan heran tatkala melihat sesuatu yang bernyala (bercahaya terang) dari tumpukan jerami kering, yang dukiranya tengah terbakar. Rupa-rupanya, yang bernyala itu adalah sosok Angrok. Lebih heran lagi ketika saksikan kelawar berduyun- duyun keluar dari ubun-ubun Angrok menyerbu buah jambunys. Bukan sosok fisik dari Angrok yang mencuri jambu, namun “keinginannya” yang berwujud codot tatkala berada di alam bawah sadar (tidur)”. Dengan fakta ini, Janggan persilahkan Angrok pada malam berikutnya untuk tidur kembali di dalam pondok, bahkan kelak diizinkan makan jambu sepuas-puasnya ketika telah benar-benar masak.

3. Contoh Kasus Ketiga

Peristiwa pencurian lainnya yang dilakukan oleh Angrok adalah ketika ia dalam persembunyian di Desa Luki guna menghindari kejaran tentara Akuwu Tunggul Ametung. Dalam kondisi amat lapar, terpaksa Angrok mencuri dan menyantap makanan kiriman (dalam istilah kini “ransum”) yang dikirim oleh istri petani dalam tabung bambu kepada suaminya yang tengah bekerja di sawah. Tidak seperti biasa, ketika pak tani hendak menyantap makanan kiriman yang ditaruh di pondok ladang didapati habis isinya. Nampaknya, diam-diam ada yang mencuri dan memakannya. Kejadian berulang di hari-hari berikutnya. Oleh karena itu, pak tani pun melakukan pengawasan untuk bisa menangkap basah pelaku pencurian. Akhirya berhasil, Ken Angrok tertangkap basah sebagai pencurinya. Namun uniknya, pak tani tidak memberi sangsi kepada si pencuri, sebaliknya justru meminta istrinya agar hari berikutnya membawa makan dua porsi dengan maksud yang seporsi diberikan buat Angrok yang memang kelaparan dan terpaksa mencuri makanan milik orang lain.

4. Contoh Kasus Keempat

Pencurian lain dilakukan oleh Ken Angrok di Desa Pamalanten. Lantaran ketahuan, maka Angrok melarikan diri dan dikejar warga. Menyadari dirinya terpepet dan takut tertangkap karena di mukanya mengalir sungai, maka Angrok pun memanjat pohon kelapa. Warga mengetahui dan mengepungnya di bawah pohon .Angrok yang telah berada di penghujung atas pohon kelapa diultimatum untuk turun, bila tidak mau maka pohon kelapa bakal ditebang. Mendengar ada ancaman ini, maka Angrok pun ketakutan, dan memohon Dewata untuk menolongnya. Meski Dewata beri perlindungan dengan meminta warga untuk tidak menangkap Angrok yang diakui sebagai “anakNya”, namun warga tetap bersikeras untuk menebang pohon kelapa. Ken Angrok tak kurang akal, diambilnya dua pelepah daun kelapa untuk dijadikan semacam “media luncur” agar dapat menyeberangi sungai.

Sebenarnya masih ada kisah-kusah pencurian lain dalam kitab Pararaton, yang agar tak terlalu panjang, maka tidak seluruhnya dipaparkan pada tulisan ini. Misalnya, kisah “pencurian terhadap perempuan” yang dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung yang “membawa lari Ken Dedes untuk dinikahi” ketika ayahnya (pu Purwa) tengah tak ada di rumah. Lantaran pelakunya adalah “sang Akuwu”, pejabat tinggi di Tumapel, maka tindak pencurian (kawin lari) ini tidak tersentuh hukum.

B. Kasus Hukum Kisah Pencurian dalan Pararaton

Pada contoh kasus pertama, jika pun benar bahwa Angrok menggelapkan (dengan menjual secara diam-diam) sepasang kerbau milik tuha Desa …………. yang digembalakannya, pelaku kejahatan ini masih “dibawah umur”, sebab kala itu Angrok masih seusia “anak gembala”, yaitu remaja kecil. Selain itu, kurang cukup bukti untuk menetapkan bocah Angrok sebagai pelaku. Bisa jadi, lenyapnya sepasang kerbau itu dicuri orang, mengingat penggembalanya adalah anak kecil. Meski demikian, secara sepihak pemilik kerbau menuntut ganti rugi kepada orang tua Angrok, yang dalam hal ini adalah ayah angkatnya (“si pencuri” Lembong) dan ibu kandungnya (ni Ndok). Terpaksa kedua orang tuanya beri ganti rugi meski amat berat untuk ukuran ekonomi mereka. Lantaran tuduhan itu, si kecil Angrok yang ketakutan terpaksa lari dari rumah dan menggelandang hingga akhirnya ditemukan dan diambil anak angkat oleh “si penjudi (bobotoh)” Bangosamparan.

Pada contoh kasus kedua tergambar bahwa pangkal tindak kejahatan, termasuk pencurian, adalah “pikiran”. Hal ini tergambar pada kekelawar-kelelawar pencuri jambu yang keluar dari ubun-ubun Ken Angrok. Selain itu, diperoleh ilustrasi bahwa tindak pencurian bisa terjadi manakala ada “iming-iming kuat” untuk mencuri. Pohon jambu yang tengah berbuah lebat dan nyaris matang adalah suatu kondisi yang “menggiurkan” bagi Ken Angrok untuk menyantap buah-buah jambunya. Meski ada keinginan kuat, namun lantaran terdapat aturan ketat dan tegas, dimana posisi seseorang musti patuh, maka keinginan yang tak sesuai dengan aturan itu mustilah ditekan sedemikian rupa hingga tak jadi dilakukan.

Dalam kisah ini, betapa pun Ken Angrok tergiur untuk memakan jambu miilik guru Janggan, lantaran sang Guru melarang keras untuk memetiknya sebelum benar-benar masak, maka dalam “alam sadarnya” Angrok tidak berani mengambil jambu. Namun, ketika ia berada “dibawah sadar (tertidur)”, tindakkan tersebut dilakukannya. Tindak kejahatan pencurian bisa berada dalam “tarik-ulur” antara alam sadar dan alam bawah sadar seseorang. Sebagai anak muda, Angrok bisa kendalikan alam sadarnya, namun alam bawah sadarnya ternya beda sikap dan tindakan.

Pada kasus ini, mulanya Janggan melakukan “syakwasangka”, yakni penuduhan yang kurang cukup bukti terhadap Angrok yang disabgkakan sebagai pelaku pencurian jambu, bahkan dijatuhi sangsi dengan dilarang tidur di dalam pondok. Namun, sebagai orang bijak (guru), Janggan pun mencari bukti untuk tuduhannya yang ia sadari kurang cukup bukti. Setelah melakukan telisik diam-diam pada tengah malam, diketahui sendiri (diperoleh fakta) bahwa pelaku pencurian bukan sosok fisik Angrok, melainkan non-fisiknya, yakni pikirannya, keinginannya. Baginya, pikiran tak bisa dikenai sangsi. Oleh karena itu, Janggan mencabut sangsi yang telah dijatuhkan sehari sebelumnya kepada Angrok, dengan persilahkan muridnya ini kembali boleh bermalam di dalam pondok. Bahkan, ketika jambu-jambuu telah benar-benar masak, Angrok diberi kesempatan untuk memakannya sepuas-puasnya.

Pada contoh kasus ketiga, tindak pencurian bisa dilakukan ketika seseorang di dalam kondisi terpepet, tak ada pilihan. Tindakkan Angrok mencuri ransum milik petani dilakukan karena ia tak kuasa menahan rasa lapar sebagai orang yang dalam persembunyian dari pengejaran. Pencuri makanan tentulah orang lapar. Angrok tertangkap basah ketika tengah mencuri ransum berkat pemantauan cermat dari petani terhadap pelaku tindak kejahatan. Petani yang memahami bahwa pelaku pencurian itu adalah orang yang terpaksa karena kondisi sulit (dalam bahasa Jawa Baru ada istilah “kesrajat”), maka ia tidak menjatuhkan sangsi kepada Angrok yang menjadi pelaku pencurian terhadap makanannya. Bahkan sebaliknya, pada hari-hari berikutnya Angrok mendapat bantuan makan darinya. Dengan memenuhi kebutan mendesak dari pelaku kejahatan, maka pelaku terhindar dari tindakkan mengulangi kejahatannya.

Pada contoh kasus ke empat tergambar bahwa pada suatu waktu pelaku tindak kejahatan harus melarikan diri agar terhindar dari penangkapan. Namun, ibarat “sepanda-pandainys tupai melompat, akhirnya jatuh juga”, Angkrok pun terpepet dalam pengejaran, karena pelariannya terhalang alran sungai. Ketika terdesak demikian, kadang pelaku kejahatan melakukan tindakan naif, seperti ketika Angrok memanjat pohon kelapa, yang tindakannya ini ketahuan warga yang mengejarnya. Ketika pengejarnya mengultimatum untuk memotong pohon kelapa yang fipanjati Angrok untuk menyelamatkan diri dari pengejaran, tak terelakkan bahwa orang pemberani sekaliber Angrok pun ternyata ketakutan juga. Bahkan, Angrok memohon agar Dewata memberi perlindungan keselamatan. Hal lain yang tergambar dalam contoh kasus ini, dalam kondisi paling terpepet, masih saja ada akal pelaku kejahatan untuk dapat lolos dari penangkapan. Langkah cerdik Angrok dalam hal ini adalah segera mengambil dua pelepah daun kelapa untuk dijadikan media bantu luncur guna menyeberangi sungai untuk terhindar dari pengejaran dan penangkapan.

C. Refleksi Historis atas Tindak Korupsi

Tindak pencurian, yang antara lain berwujud “korupsi” terdapat kapanpun dan dimabapun. Dalam sejarah Nusantara, sebagian etape hidup Angrok oleh Paparaton dikisahkan sebagai ‘pencuri (maling,)”. Berdarkan studi kasus dengan menelaah beberapa penggal mudahnya, diperoleh catatan-catatan sejarah penting untuk direnungi bersama, yaitu sebagai berikut:
1. Tindak kejahatan, termasuk pencurian dalam wujud korupsi berpangkal pada “pikiran yang korup”. Oleh karena itu, pemberantasan terhadap korupsi mencukup pula pemberantasan terhadap pikiran korup, yang perlu dilakukan dengan pembinaan mebtakuta.

2. Kondisi yang menggiurkan, termasuk adanya celah (kesempatan), menyediakan peluang untuk melakukab tindak jejahatan korupsi di waktu yang perhitungkan “aman” oleh pelaku untuk ttidak ketahuan (tertangkap).

3. Tindak kejahatan pencurian, termasuk juga korupsi, bisa terjadi lantaran si pelaku dalam kondisi terpepet, terlebih bila ia merasa tidak ada pilihan lain. Dalam kasus demikian, pemberian “kecukupan” dapat menghindarkan orang dari tindak kejahatan korupsi — meski tak ada jaminan untuk itu.

4. Terhadap tindak pencurian, termasuk juga korupsi, perlu menghindarkan terhadap tuduhan buta, syakwasangja, dan keburu jatuhkan sangsi padahal sesungguhnya kurang cukup bukti. Oleh karena itu, fajta-fakta hukum perlu menjadi unsur pembukti untuk menetapkan seseorang sebagai pencuri ataupun koruptor. Demikian pula tingkat sangsi atas perbuatannya. Jika tidak, maka bisa terjadi seseorang diposisikan sebagai “salah tuduh” dan “terdera sangsi padahal dirinya bukan pelaku sesungguhnya atas suatu kejahatan”.

5. Walaupun jelas-jelas terbukti sebagai pelaku pencurian ataupun koruptor, sentiasa pelaku berupaya melarikan diri dan terhindar dari penangkapan. Jikalau terdesaj, maka terkadang dilakukan tindakan penyelamatan diri yang terkesan naif. Kalaupun sebelumnya pelaku merasa sebagai orang kuat, pemberani dan nyaris tak tersentuh hukum, namun ketika ada bukti kuat atas pelsku kejahatan dan berada dalam posisi amat terdesak, maka muncul rasa pengakuan atas ketidak berdayaannya untuk bisa lolos dari jerat hukum. Bahkan untuk itu. Ia memohon pertolongan dari pihak lain.

6. Dalam kasus tertentu atas tindak pencurian ataupun korupsi, bisa jadi ada “orang kuat” yang mampu mengkondidokan dirinya sebagai nyaris tak tersentuh oleh hukum meski terbukti jelas tindakkannya.

Demikian beberapa catatan yang disarikan dari contoh-contoh kasus hustoris di atas untuk ditransformasikan guna menelaah fenomena korupsi di masa sekarang. Semoga telaah yang mirip dengan “parodi historis” ini dapat memberi keteladanan untuk terhindar dari tindak kejahatan pencurian, termasuk varian wujudnya yang berupa tindakkan korupsi. Amin. Nuwun.

Continue Reading

JAMAN KUNO

RELIGI KEBERADAAN ARCA AGASTYA BERBAHAN CENDANA ERA PRA-CANDI BADUT

Avatar

Published

on

 

Menuju ‘BAHANA BADUT’, 8-9-2017
Bagian ke-2

CENDELA PEMBUKA KABAR EKOLOGI-RELIGI KEBERADAAN ARCA AGASTYA BERBAHAN CENDANA ERA PRA-CANDI BADUT

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Arca Agastya Berbahan Cendana

Salah sebuah sekte pada Hinduisme yang terbilang dominan pada Sejarah Nusantara Masa Hindu-Buddha (awal hingga abad XVI Masehi) adalah Hindu-Saiwa. Pada sekte ini, meski Agastya bukan dewa – melainkan seorang maharsi, yakni satu diantara tujuh rsi (saptarsi) utama pebhakta Siwa, namun arca-arcanya hampir senantiasa kedapatan pada relung/bilik sisi selatan tubuh candi Hindu-Saiwa. Agastya diposisikan semacam ‘wakil’ dari Dewa Siwa di Dunia. Sejauh telah diketemukan, kebanyakkan arca-arca Agastya dibuat dari batu kali (andesit). Bahan lain yang juga dipergunakan untuk membuatannya adalah perunggu, khususnya untuk arca berukuran kecil hingga sedang, yang karenanya ukuran dan bahannya itu maka arca Agastya dari perunggu bersifat mobile. Selain kedua bahan itu, konon kayu cendana juga dipakai sebagai bahan pembuatan arca Agastya. Bukti tentang itu tidak atau belum diperoleh bentuk artefaktual, namun didapati informasinya dalam sumber data tekstual.

Adalah Prasasti Kanjuruhan (disebut juga dengan ‘prasasti Dinoyo I’) bertarikh 21 Nopember 760, yang menyebut informasi mengenai penggantian arca Agastya dari kayu cendana yang telah rusak dengan arca serupa namun dibuat dari ‘batu hitam’ – kenungkinan menunjuk kepada batu andesit, yang berwarna abuu-abu kehitaman. Penggantian dilakukan atas perintah dari Gajayana, yakni raja ke-2 di kerajaan Kanjuruhan. Menurut prasasti Kanjuruhan, yang didalamnya memuat silsilah atau urutan tiga raja berturut-turut seketurunan, Gajayana adalah putera dari Dewasingha. Sangat boleh jadi, Dewasingha adalah penguasa pertama di Kanuruhan, yang pertama kali bersentuhan dengan pengaruh agama dan budaya India.

Arca Agastya dari cendana tersebut karenanya dibuat semasa dengan pemeritahan Dewasingha, yang ketika memasuki pemerintahan Gajayana kondisinya telah rusak dan karenanya diganti dengan arca serupa dari bahan yang lebih tahan usia, yakni batu hitam (batu andesit). Sayang sekali arca Agastya dari batu andesit yang semestiya konon ditempatkan di relung sisi selatan candi induk Badut tersebut tidak diketemukan, sehingga bagaimana bentuk dan gaya pahatannya tak diketahui. Arca Agastya dari Candi Gasek, yang terletak di dekat (sekitar 400 m di utara lokasi Candi Badut), dapat dijadikan sebagai ‘arca pembanding’ yang relatif sezaman.

Apabila benar arca Agastya dari kayu cendana tersebut berasal dari era pemerintahan Dewasingha, berarti lebih awal dari Candi Badut (baca ‘pra Era Badut’). Candi yang berlatar agama Hindu sekte Saiwa ini rampung dibangun pada era pemerintahan Gajayana, yang momentum purna bangunnya dibadikan secara literal dalam pasasti batu (linggoprasasti) Kanjuruhan (760 Masehi). Terbayang bahwa sebelum dibangun Candi Badut, di tempat yang sama pada DAS kali suci Metro, yang pada areal sekitar Candi Badut arah alirannya berbentuk meander, pernah terdapat bangunan suci (baca ‘candi’) yang secara khusus digunakan sebagai tempat pemujaan Maharsi Agastya (Agastyapuja). Candi yang bisa jadi berukuran lebih kecil dan lebih bersahaja daripada Candi Badut ini kemudian direnovasi oleh Gajayana dengan memperluas areal upacaranya; memperbesar, memperkompleks, dan memperindah arsitekturnya dengan gaya arsitektur dan ikonografi India; serta meningkatkan fungsi religisnya dari Agastyapuja menjadi Siwapuja. Dengan demikian, Candi Badut yang berasal dari era pemerintahan Gajayana itu bukanlah candi tertua di DAS Metro, sebab lebih awal darinya terdapat candi buat Agastyapuja yang berasal dari era pemerintahan Dewasingha. Meski demikian, kedua bangunan suci ini dapat dibilang sebagai candi-candi tertua – bukan hanya tertua di Malang Raya, namun lebih dari itu tertua pula di Jawa Timur.

Selain dalam Prasasti Kanjuruhan, perihal cendana juga diperoleh pemberitaannya dalam sumber data susastra Masa Hindu-Buddha. Kata ‘cendana’ di dalam Bahasa Indonesia diserap dari Bahasa Sanskreta ‘candana’, yang menunjuk kepada: cendana, pohon (berbagai jenis Santalium), kayunya yang kuning dipakai untuk pembuatan dupa dan wangi-wangian (Zoetmulder, 1995:157). Susastra yang menyebutnya antara lain Agastyaparwa (357), Wrehaspatitattwa (33, 38), Ramayana (3.23, 9.16, 21.99), Arjunawiwaha (1.13), Bharayuddha, Tantri Kamandaka (56), Korawasrama (90). Dengan disebutnya candana pada kakawin Ramayana, diperoleh petunjuk bahwa pada abad IX Masehi cendana telah dikenal di Jawa, baik sebagai tanaman ataupun poduk olahan kayunya.

Keterangan di dalam prasasti Kanjuruhan tersebut sangat penting dan menarik karena berapa hal. Pertama, konon di Nusantara pada Masa Hindu-Buddha pernah terdapat arca dewata yang dibuat dari kayu terpilih, yang dalam konteks ini adalah kayu cendana. Kedua, arca Agastya dari cendana yang diberitakan oleh prasasti Kanjuruhan adalah arca dewata Hindu yang amat tua, bahkan cukup alasan untuk menyatakankannya sebagai arca Hindu tertua di Jawa Timur. Tentunya, kala itu juga terdapat arca dewa-dewa lainnya yang dibuat dari bahan kayu. Namun, seiring dengan perjalanan panjang usianya, arca kayu itu mengalami kemusnahan dalam menghadapi pengaruh iklim tropis. Arca dewata dari bahan kayu dengan demikian memiliki akar sejarah panjang di Nusantara. Akar tradisinya diperkuat oleh adanya arca-arca ‘dewa lokal’ dan arca perwujudan arwah nenek moyang dari agama non Hindu-Buddha yang terbukti cukup banyak didapati pada berbagai etnik di penjuru pedalaman Indonesia.

B. Kayu Cendana Lokal Malang

Apabila berbicara tentang daerah produsen kayu cendana di Indonesia, telunjuk orang cenderung tertuju kepada Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Pulau Timor. Meskipun sekarang juga ditemukan di Pulau Jawa dan pulau-pulau lain di Nusa Tenggara. Jika merujuk keterangan dalam prasasti Kanjuruhan diatas, keberadaan arca Agastya dari kayu cendana itu dapat dijadikan sebagai petunjuk menganai kayu cendana di daerah Malang pada awal abad VIII Masehi. Boleh jadi, kayu cendana yang dijadikan bahan pembuat arca Agastya tersebut tidak didatangkan dari NTT, namun kayu cendana lokal. Kenderaannya di kawasan Malang (baca ‘Malangraya’), khususnya Malang bagian barat pada DAS Metro dan DAS Brantas maupun lembah diantaranya terdukung oleh data tiponimis maupun kebiasaan penggunaan kayu cendana lokal oleh warga masarakat di daerah itu.

Setidaknya, di daerah Batu terdapat dua tempat yang memilii toponimi berunsur nama ‘cendana’, yaitu; (1) Gunung (Bukit) Cendono, yakni satu diantara dua Gunung Sepikul (terdiri atas dua bukit bersebelahan: Gunung Wukir dan Gunung Cendono) pada sub-DAS Hulu Brantas; dan (2) Jurang Cendono, yaitu lembah dalam yang menjadi demarkasi antara Desa Pendem dan Desa Dadaprejo, yang sekaligus merupakan mata air (tuk) Kali Braholo. Pada kedua tenpat itu, sisa kayu cendana masih didapati, meski sangat jarang dan nyaris punah. Menurut informasi warga Desa Dadaprejo, misalnya Suparto (60 tahun asal Dusun Karangmloko Desa Dadaprejo), hingga tahun 1980-an ada kebiasaan membakar serpihan kulit kayu cendana di bawah keranda mayat manakala ada kematian. Konon warga di sekitar Jurang Cendono itu punya kebiasaan untuk mengeringkan serpih-serpihan kulit kayu cendana dan membakarnya sebagai pengharum ruang atau menempatkan akar-akar kayu cendana kering di dalam almari sebagai memberi aroma harum pakaian. Ada pula yang membuat minyak harum dari kayu cendana. Memang, cendana atau cendana wangi khususnya merupakan penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Kayunya biasa digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Bahkan, bila kayunya tergolong sebagai baik, bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Konon di Sri Lanka kayu ini dipergunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9.

Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat itu, cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan. Kayu cendana wangi (Santalum Album) kini amat langka dan harganya sangat mahal. Kayu yang berasal dari Mysoram (India Selatan) dianggap paling bagus kualitasnya. Di Indonesia, kayu cendana dari Pulau Timor sangat dihargai. Sebagai pengantinya, sejumlah pakar aromaterapi dan parfum mulai menggunakan kayu cendana jenggi (Santalum spicatum). Kedua jenis kayu ini berbeda konsentrasi bahan kimia yang dikandungnya, dan oleh karena itu kadar harumnya pun berbeda. Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk tujuan penyembuhan. Ditinjau dari Bahasa Belanda (sandelhout) dan Bahasa Inggris(sandalwood), kayu cendana diyakini berasal dari NTT, khususnya dari Pulau Sumba. Hal ini dapat dilihat dari julukan Pulau Sumba, yakni Sandalwood Island. Julukan ini dibawa turun temurun dari zaman penjajahan Jepang dan Belanda hingga kini.

Pohon cendana (Santalum Albul Linn) mempunyai dua jenis, yaitu: (1) kayu cendana merah, dan (2) kayu cendana putih. Mutu kayu cendana merah tak sebaik kayu cendana putih, namun kurang diminati di pasaran. Kayu cendana merah banyak tumbuh di India dan Funan, adapun cendana putih banyak tumbuh di NTT. Walau tumbuhan parasit, cendana bisa tumbuh dengan ketinggian 11-15 meter, dan termasuk pohon besar dengan diameter batang bisa mencapai 25-30 cm. Pohon cendana memiliki berbagai manfaatm baik dari segi ekonomis maupun kesehatan. Bahkan, ada yang menganggap kayu cendana memiliki tuah. Beberapa manfaat kayu cendana adalah sebagai: (a) batang kayu cendana yang kokoh dan besar dapat dipergunakan sebagai bahan baku furniture dan meubel, dengan kualitas kayu yang sangat baik; (b) bahan baku kerajinan tangan, khususnya hiasan seperti rangka keris, kipas, ukiran, tasbih (aksamala); (c) simbol prestise, lantaran kualitas kayunya tinggi, proses budidayanya sulit, sehingga harganya tinggi; (d) kulit kayu dan minyak cendana bisa dijadikan bahan obat herbal yang berkaisiat anti peradangan, mencegah disentri, dan gangguan pencernaan, serta pembersih ketika menstruasi; (e) bahan parfum dan wangi-wangian, khususnya cendana putih dengan kewangiannya yang baik, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai campuran parfum, bahan pembuatan dupa, aromaterapi, dan balsam; (f) minyak cendana dipercaya dapat mengendalikan stress dan kecemasan, lantaran mempunyai efek alamiah anti depressant; (g) perlancar buang air kecil (ekskresi), lantaran minyak cendana mampu menekan rasa sakit ketika tubuh melakukan ekskresi; (h) minyak cendana bisa digunakan sebagai antiseptik dan antimikroba, sehingga bermanfaat bagi ketahanan tubuh sehingga tubuh menjadi lebih sulit terinfeksi bakteri, mikroba, dan virus berbahaya; (i) salah satu zat pemberi efek kecantikan tubuh, khususnya untuk menghilangkan noda hitam di kulit, mencegah munculnya jerawat, mengatasi dan menghilangkan minyak pada kulit.

Dasar pertimbangan dipergunakannya kayu cendana sebagai bahan pembuat arca Agastya tersebut bukan sekedar karena harum bau kayunya, namun harum kayu cendana diyakini sebagai media yang tepat untuk membawa orang untuk lebih dekat dengan dewata. Menilik bahwa Dewasingha adalah penguasa lokal Malang yang pertama mendapat pengaruh budaya Hindu (awal abad VIII), dimana terdapat indikator adanya pengaruh India Selatan, sangat mungkin arca Agastya berbahan kayu cendana itu didatangkan dari India Selatan. Indikator pengaruh India Selatan itu antara lain tampak pada penggunaan tarikh Saka, aksara Jawa Kuna yang adalah adaptasi dari aksara Pallawa, dan adanya Agastyapuja. Bagi warga India Tengah dan Selatan, Agastya dipandang sebagai ‘the culture hero’, yang berperan besar dalam melakukan siar Hindu ke bagian tengah dan selatan India, Begitu pula bagi warga di Asia Tenggara – termasuk di kepulauan Indonesia, Agastya mendapat tempat istimewa berkat jasanya dalam mendifusikan pengaruh Hindu ke seberang Indiaraya. Peran budayanya itu dapat dibandingkan dengan Ajisaka. Oleh karena itu, dapat difahami bila pada tahap awal (masa pertumbuhan) pengaruh Hindu di Nusantara, terdapat pemujaan khusus pada Agastya (Agastyapuja), sebagaimaa antara lain disiratkan dalam Prasasti Kanjuruhan (760 Masehi).

Kala itu, bukan hanya arca kayu cendana yang didatangkan ke daerah Malangr, namun boleh jadi bibit kayu cendana juga dibawa untuk disemaikan di daerah ini. Apabila benar demikian, tanaman cendana yang konon banyak tumbuh di bagian barat Malang dan sisa-sisanya masih didapati pada dua tempat yang memiliki unsur toponimis ‘cendana’ tersebut kemungkinan asal tanamannya dari India Selatan. Di luar Malang, hingga tahun 1980-an patung-patung kayu cendana dibuat oleh para pekriya kayu di Pulau Dewata (Bali), khususnya untuk patung dewa-dewi. Di lingkungan Kristiani, patung Bunda Maria pun ada yang dibuat dari kayu cendana. Begitu pula, tak sedikit patung dewata agama Konghucu yang dibuat dari kayu cedana atau kayu harum dan berkualitas lainnya.

C. Reboisasi Khusus Pohon Cendana di Malangraya

Kawasan Malangraya, khususnya Malang Barat di daerah Batu, baik pada sub-DAS Hulu Metro dan Brantas maupun lembah diantaranya konon merupakan habitat pohon cendana. Nama ‘Jurang Cendono” dan “Bukit Cendno’ menjadi petunjuk kuat tentang itu. Demikian juga kesaksian warga Dadaprejo yang mencari kayu cendana di Jurang Cendono dan memanfaatkannya untuk sejumlah keperluan adalah kenyataan menganai keberadaan tanaman cendana di Malangraya pada beberapa dasawarsa lalu. Mengingat kelangkaannya sekarang, beragam manfaat kayu dan minyak cendana, sertaharganya yang terbilang tinggi, cukup alasan bagi daerah-daerah di Malangraya, khususnya Kota Batu untuk menggalang gerakan reboisasi khusus pembudidayaan tanaman cendana. Bukit Cendana dan Jurang Cendana bisa dipilih sebagai lokasi awal untuk pilot projek ini, yang nantinya diperluas ke tenpat-tempat lain.

Kepemilikan sejumlah daerah di Jawa akan pohon cendana menjadi alasan untuk menyatakan bahwa produk rempah-rempah bukan hanya kedapatan di Indonesia Timur, namun terdapat juga di Jawa untuk tanaman khusus seperti kayu cendana, lada, merica, cengkeh, adas-polowaras, dsb. Dengan perkataan lain, Jawa layak dimasukkan ke dalam ‘Jalur Rempah Nusantara’, baik sebagai produsen maupun sebagai pelabuhan transit. Dalam kaitan itu Malangraya memiliki kontribusi kerampahan, khususnya untuk tanaman cendana. Bagi kota Batu, cendana dapat dipertimbangkan sebagai ikon tanaman – selain apel, dan mempertimbangkan pembuatan ikon arca Ganesya – dengan model arca Genesya di Torongrejo – dari bahan kayu cendana untuk ditempatkan pada hall depan Block Office ‘Amongtani’. Bersamaan dengan itu, reboisasi khusus berupa penanaman kembali pohon cendana musti segera dimulai.

Demikianlah, sekilas informasi tentang keberadaan arca Agastya dari kayu cendana dapat dijaikan semacam ‘cendela pembuka berita’ mengenai reliegio-ekologis yang berkenaan dengan tanaman cendana di Malangraya dalam lintas masa. Semaga tulisan ringkas yang bersahaja ini bisa membuahkan kefaedahan. Nuwun.

Sengkaling, 6 Sepetember 2017,
PATEMBAYAN CITRALELHA

 

Continue Reading

JAMAN KUNO

PERBANDINGAN PESAN PERIBAHASA ‘MBURU UCENG KELANGAN DELEG’ DAN RELIEF PEMBURU AMBISIUS DALAM CERITA TANTRI

Avatar

Published

on

 

A. Peribahasa ‘Mburu Uceng Kelangan Deleg’

Peribahasa Jawa ‘mburu uceng kelangan deleg’ bermakna lantaran cenderung mengejar atau mengurusi hal-hal kecil (remeh), maka kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil besar. Kalimat sindiran ini berkenaan dengan sikap dan tindakan bodoh, lantaran tidak didasari kalkulasi strategis atau kurang mampu memperhitungkan urgensi. Orang demikian sulit menjadi orang besar, karena terjebak pada hal-hal sepele, remeh, tidak urgen, dan kurang strtegis. Sementara terhadap hal-hal yang sesunggunya lebih memberi peluang bagi perolehan keuntungan yang lebih besar, justru diabaikan atau ditinggalkannya.

Uceng dan deleg adalah nama-nama ikan air tawar (iwak kali). Sebutan ‘uceng’ diberikan kepada ikan kecil, seukuran jari kelingking atau lebih kecil lagi, mirip anakan belut yang kecil-memanjang dan biasanya hidup di arus deras. Oleh karena kecil dan berada di arus deras, maka tidak mudah ditangkap dengan tangan telanjang. Pada dasawarsa terakhir, ikan uceng menjadi kuliner khas di Kabupaten Blitar, khususya di daeah Wlingi dan sekitarnya, yang digoreng untuk dijadikan lauk dengan kelengkapan sajian sambal uleg dan lalapan. Kuliner khas ini menjadi pesaing bagi ikan sungai wader, yang populer pada sekitar Bendungan Selorejo di Ngantang Kabupaten Malang. Sedangkan ‘deleg’ merupakan sebutan bagi ikan sungai yang cukup besar, yang kurang gesit dalam gerak, sehingga mudah ditangkap. Dalam peribahasa tersebut, uceng digunakan sebagai perumpamaan untuk hal-hal kecil yang cenderung diurusi (ditangani)nya. Adapun deleg adalah perumpamaan untuk kesempatan atau perolehan besar justru lepas perhatian.

Bisa juga uceng-deleg diartikan dengan sumbu (unceng, uceng-uceng) dan lampu minyak kuno (deleg). Dalam arti ini, peribahasa itu bisa dimaknai dengan keinginan yang menyala-nyala (diumpamakan dengan ‘uceng’), namun tanpa disertai dengan fasilitas (diumpakan dengan ‘deleg’) yang memadai. Atau boleh juga dimaknai dengan sarana (diumpamakan dengan ‘uceng’) tanpa prasarana (diumpamakan dengan ‘deleg’). Akibatnya, tidak membuagkan fungsi nyata, sebab keduanya adalah komponen dalam sebuah sistem, yang masing-masing musti ada dan saling mengkontribusikan fungsinya.

Berkebalikkan dengan itu adalah sikap dan tindakkan yang ambisius, terlampau tergiur pada hal-hal besar yang padahal belum tentu bisa diraihnya. Sementara hal kecil yang bisa didapat atau bahkan riil telah diperolehnya dikesampingkan atau diabaikan. Hal demikian acap dihadapi seseorang dalam kehidupan nyata, utamanya ketika dihadapkan pada sesuatu yang menggiurkan minat, sehingga mengundang ambisinya untuk dapat meraihnya. Padahal, yang mempesona itu jauh dari kemungkinan untuk bisa didapat, lantaran kapasitas dirinya terbatas. Akibatnya, hal kecil yang memungkinkan atau bahkan telah diperoleh diabaikan, sementara hal besar yang diidamkan tak mungkin dicapainya, Apabila demikian, maka yang didapatkan hanya ‘cotho (merugi)’ alias tidak memperoleh apa-apa, dan akibatnya cuma bisa ‘deleg-deleg (termnung menyesal)’.

Kedua sikap dan tidakan tersebut disarakan untuk dihindari, kerasa sama-sama tidak menguntungkan. Dalam kalimat peribahasa, tak terkecuali pada paribasan Jawa, binatang acap dijadikan sebagai unsur dalam kalimat peribahasa. Seperti, kalimat ‘gajah di pelupuk mata tidak tampak, kerbau congek, buaya darat, dsb.’. Pilihan untuk menggunakan unsur binatang dalam peribahasa amat boleh jadi karena unik sehingga menggelitik untuk disingkapkan maknanya, familer karena binatang itu berada di lingkungan sekitar, dan karennya diharapkan bakal lebih meresap dalam ingatan. Walaupun binatang dijadikan unsur pembentuk kalimat peribahasa, namun makna yang terkadung di dalamnya ditujukan bagi manusia. Dengan perkataan lain, perilaku spesifik dari binatang atau perlakuan manusia terhadapnya, diharapkan dapat menjadi ‘wahana pendidikan atau petuah’ bagi manusia agar bersikap dan bertindak bijak dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan contoh teladan tersebut.

Hal itu dapat dibandingkan dengan penghadiran binatang-banatang tertentu sebagai ‘tokoh peran’ di dalam cerita binatang (fabel) di penjuru dunia, baik fabel baru maupun fabel kuno. Pada Masa Hindu-Buddha, di Nusantara terdapat fabel asal pengaruh budaya India, yang dikenal dengan cerita ‘Tanti, atau sebutan lengkapnya ‘Tantri Kamandaka’, beserta tradisi dan gubahannya pada masa yang lebih kemudian, semisal cerita ‘Ni Diah Tantri’ di Bali. Pada paparan berikut, hal yang berkebalikan dengan peribahasa itu hendak ditelisik pada salah kisah dalam cerita berbingkai Tantrikamandaka. Telah sejak abad VIII Masehi, sejumlah kisah dalam cerita Tantri visualkan dalam bentuk relief pada candi, partirthan, arca atau media visual lainnya.

B. Deskripsi Relief Pemburu Ambisius dalam Cerita Tantri

Paparan ini hanya menghadirkan dua relief yang memvisulkan kisah dalam Cerita Tantri bertema ‘Pemburu Ambisius’, yang keduanya terdapat di kompleks Candi Penataran, yaitu: (a) yang dipahat pada sisi belakang bagian bawah dari salah sebuah (diantara empat buah) patung dwarapala (penjaga pintu) di depan candi Induk Penataran, dan (b) dinding Patirthan Dalam sisi utara di halaman belakang kompleks Candi Penataran. Relief yang pertama dipahat pada Masa Keemasan Majapahit (medio abad XIV Masehi), dan relief yang kedua berasal dari Masa Akhir Majapahit (paro kedua abad XV Masehi). Penghadirnya pada artefak masa lampau itu menjadi pembukti bahwa centa binatang telah dijadikan wahana bagi Pendidikan moral atau petuah bagi perilaku social.

Relief pertama menggambarkan seseorang tengah berjalan dengan tangan kiri membawa tongkat kayu sebagai tangkai pancing (walesan) besar dalam kondisi melengkung menyangga beban berat, karena bagian untuk menggantungkan kura-kura – salah satu kaki belakang kura-kura diikat, dengan kepala ke arah bawah. Tangan kanannya menuding ke depan, ke arah seekor kijang. Kura-kura itu adalah binatang relatif kecil hasil tangkapan riil ynag didapat olehnya, sementara kijang adalah binatang lebih besar yang menggiurkannya untuk bisa ditangkapnya. Apa yang dipahat hanya key schene (kunci adegan), yang bila dipahat dalam beberapa panil, semestinya panil yang berikut mengga,barkan adegan sebagai berikut. Untuk dapat mengejar kijang itu, maka tangkai pancing yang bergantungkan kura-kura hasil tangkapan dilemparkannya. Selanjutnya kura kura terbebas dari tali dan menjebur kembali ke perairan. Sementara, kijang yang diidamkannya tak kuasa untuk didapatkan karena kalah gesit.

Paparan visual yang lebih rinci didapati pada relief kedua, yang dipahatkan ke dalam dua panil. Panil perrama menggambarkan seseorang yang tengah berjalan. Kedua tangannya memegang pangkal tongkat kayu, yang dipikulkan pada pundak kiri. Tongkat dalam kondisi melengkung, karena menahan beban berupa kura-kura hasil tangkapan yang diikatkan di ujung tongkat. Panil kedua menggambarkan sebagai berikut. Orang tersebut berlari mengejar seekor binatang berkaki empat, yang bisa jadi adalag kijang. Tangan kirinya menuding ke depan, ke arah kijang yang juga tengah berlari kencang. Tangan kanannya membawa sesuatu, yang nampaknya digunakan sebagai senjata lempar kepada kijang. Sementara, kura-kura yang telah berhasil ditingkapnya menjebur ke perairan.

C. Kandungan Pesan Moral atau Petuah Sosial

Peribahasa dan relief Cerita Tantri tersebut berasal dari masa yang berlainan. Relief Tantri berasal dari Masa Keemasan dan Akhir Pemerintahan Majapahit, sedangkan peribahasa dari masa sakarang. Begitu pula, binatang yang menjadi unsur penyusun cerita dan kalimat peribahasa berbeda. Pada relief Cerita Tantri binatang yang dihadirkan kura-kura dan kijang, sedangkan pada peribahasa itu adalah ikan uceng dan deleg. Perbedaan lainnya adalah tampilannya, yaitu dalam bentuk relief – sebagai visalisasi dari cerita fabel – dan dalam wujud kalimat peribahasa. Kendatipun keduanya memiliki perbedaan, namun pesan moral dan petuah sosialnya sama, yaitu sikap dan tindakkan yang disarankan untuk tidak dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat..

Tergambar bahwa pesan moral atau nasihat sosial terbuka kemungkinan untuk diekspresikan dengan beragam media. Bisa dengan media visual, namun dapat pula dengan peribahasa. Bisa memperumakan dengan binatang kura-kura dan kijang, dapat pula dengan ikan uceng dan deleg yang beda ukuran (besar dan kecil). Dengan menggunakan media visual, maka esensi pesan lebih mudah ditangkap jika dibandingkan dengan memakai media tekstual/lisan dalam wujud kalimat peribahasa. Kedua media ekspresi yang berlainan itu adalah wahana pemyampai pesan moral atau petuah sosial.

Yang menarik pada media visual tersebut adalah keberadaannya di kompleks bangunan suci. Yang memberi kesan bahwa pesan yang terkandung di dalamnya diposisikan sebagai ‘hal yang penting’. Demikianlah, komleks Candi Penataran sebagai bangunan suci bukan semata wahana religis untuk berhubungan Dewata, namun pernak-pernik yang terdapat di dalamnya – antara lain relief – juga mengemban fungsi sebagai wahana sosial, yaitu memuat pesan moral atau petuah sosial bagi para peziarah untuk senantiasa bijak dalam berperilaku di masuarakat. Semoga tulisan ini membuahkan kefaedahan. Salam budaya ‘Nusantarajayati’. Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, Sengkaling 22 Juni 2017

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019