UNIKUM DAN URGENSI ‘ARCA BUDDHA GUNDUL’ MAHAKSOBHYA KOLEKSI MUSEUM PU PURWA (I)

Edisi “International Museum Day”

UNIKUM DAN URGENSI ‘ARCA BUDDHA GUNDUL’ MAHAKSOBHYA KOLEKSI MUSEUM PU PURWA
(Bagian I, Bersambung)

Oleh : M. Dwi Cahyono

Kemarin, Kamis 18 Mei 2017, bertepatan dengan “Hari Museum Internasional’. Senyampang ada momentum Hari Museum, meskipun sekedar berupa tulisan, saya hendak berkontribusi terhadap museum di Malangraya, khususnya Museum Pu Purwa – suatu museum deerah di Kota Malang Tulisan dimaksud mengenai sebuah arca pahat penuh (sclupture in round) berbahan batu andesit ukuran besar (T sekitar 1,4 meter) dan terbilang masih utuh. Kini berada di halaman depan museum dan hanya disertai dengan keterangan pendek “Arca Budha Aksobhya’. Sudah barang tentu, bekal keterangan sependek itu tidak bakal membuat paham para pengunjung museum, lantaran bisa saja mereka mengajukan pertanyaan sebagai berikut: dari mana tempat muasal dan asal masanya, apa konon fungsi khusus dan kontribusinya bagi pengungapan kesejarahan Buddhisme di Malangraya. Menyadari bahwa benda koleksi museum itu adalah ‘benda mati’, yang tak mungkin bicara tentang dirinya sendiri, maka dibutuhkan narasi – baik tekstual ataupun oral – yang menjadikannya ‘dapat memperpenalkan diri”. Tulisan ini adalah sebuah ikhtiar untuk itu.

A. Tempat Muasal Arca
1. Tiga Kali Direlokasi

Benda koleksi museum adalah ‘temuan lepas’, artinya semula berada di saatu situs, yang lantaram sebab atau pertimbangan tertentu direlokasi dari empat asalnya hingga akhirnya berada di museum. Boleh jadi, dalam durasi waktu antara pemindahannya dari situs hingga berada di museum, artefak (tinggalan budaya fisis-meterial) itu mengalami lebih dari sekali memindahan. Yang demikian ini dialami pula oleh Arca ‘Buddha Gundul’ Mahaksobhya terbicaraan. Untuk kaktu lama (lebih dari setengah abad) setelah diindah dari situsnya pada Masa Kolonial, arca ini beserta sepasang Makara besar ditempatkan pada halaman depan Gedung Pakri di Jl. Salak (kini ‘Jl. Pahlawan Trip’) si sub-area barat Kota Malang. Pada akhir tahun 1990-an, ketika Gedung Pakri direnovasi, ketiga artefak yang ‘tertundung’ itu tempatkan di suatu halam pada pojok utara-timur Ijen Boulevaart di sebarang timur Museum Brawijaya (kini ‘Perpusda’ Kota Malang). Hingga setengahan dasawarsa berada di sini, sampai akhirnya direlokasi lagi ke halaman Eks SD. Mojolangu, yang pada awal tahun 2000an diancangkan untuk dijadian areal Museum Daerah Kota Malang.

Setidaknya arca ini telah mengalami tiga kali relokasi dan pada masing-masing sesi kepindahannya terjadi bersama dengan sepasang Makara itu. Seolah menjadi pasangan ‘senasib-sepenandungan’ sejak tempat awal keberadaannya. Konon adalah hal yang jamak, bahwa pemindahan Benda Cgar Budaya (BCB) tidak senantiasa disertai catatan akurat dan rinci perihal waktu, kondis, tempat asal dan fungsi khususnya. Padahal, memindahkan artefak dari situsnya sama halnya melepaskan dari konteksnya. Hal inilah yang antara lain menyebabkan mengapa tak sedikit benda koleksi museum yang tidak diketahui atau kurang jelas tempat asal dan konteks budaya maupun paleo-eologisnya semula. Nasib demikian dialami oleh arca terbicaraka, sehingga hingga sejauh ini belum ditahuii muasalnya, fungsi spesifik dan konteks lokalnya.

2. Hipotesis Muasal Situs

Tidak mudah melokasikan secara tepat situs asal dari arca terbicakan, mengingat relkasi pertama terhadapnya telah berlangsung pada Masa Kolonial. Yang mungkin dilakukan adalah melokasikan secara hipotetik. Itupun dengan mendasarkan kepada asumsi bahwa sebuah Arca ‘Buddha Gundul” Mahaksobha dan sepasang Makara itu berasal dari situs yang sama, atau setidaknya desa asal yang sama. Selain itu, tempat pelokasiannya musti memiliki ‘kesesuaian kultural’ dengan arca tertelaah, yaitu berlatar kultural Mahayana Buddhisme.

Petunjuk yang diperoleh mengenai lokasi asal darinya justru terkait dengan sepasang Makara itu. Menurut informasi lisan turun-temurun (generatif) di Desa (kini ‘Kelurahan’) Merjosari, tepatnyya di Punden Joyo Sempol (Njoyo) pernah terdapat dua buah batu besar yang dalam pandangan warga menyerupai kuda kepang dan dinamai ”watu ukel’. Benda yang berjumlah dua buah itu amat boleh jadi adalah sepasang ‘makara (gaja-mina = gajah-ikan)’, yang memang mempunyai detail berupa belalai pada bagian depan-atas. Keberadaannya di Merjosari telah diberitakan dalam Oudhkundige Veslaag (OV) tahun 1923 halaman 38, yang menyatakan adanya temuan yang berupa: arca Nandi dan dua buah (sepasang) Makara di desa ini. Jumlahnya yang sepasang dan ukurannya yang besar mengandaikan bahwa Makara itu semula merupakan bagian dari suatu candi, yang ditempatkan di ujung pipi tangga (volute). Pendapat bahwa di Merjosari pernah terdapat suatu candi dikemukakan oleh J. Oey Bloom (1985:22), yang menyatakan tidak kurang ada empat buah candi Kota Malang, yaitu: (1) Candi Badut, (2) Candi Karangbesuki, (3) Candi Merjosari, maupun (4) Candi Ketawang Gede. Bukan tidak mungkin sepasang Makara itu adalah ujung pipi tangga pada candi ini.

Pertanyaan adalah ‘dimana gerangan kini sepasang Makara dari Punden Joyo Sempol yang telah raib itu?”. Cukup alasan untuk mengidentifikasikannya dengan sepasang Makara yang lebih dari setengah abad sempat ‘dititipkan’ di halaman Gedung Pakri. Pertama, jumlahnya sepasang (dua buah), dari bahan batu andesit, serta berukuran besar. Kedua, berbentuk Makara – yang dilengkapi dengan ‘ukel’ pada bagian depan-atas. Ketiga, Gegung Pakri hanya berjarak sekitar 1,5 hingga 2 Km dari Merjoyo, dan sama-sama berada di sub-area barat Kota Malang. Apabila benar demikian, bearti sepasang Makara yang kini ditempatkan di halaman depan Museum Pu Purwa berasal dari Candi Merjosari, tepatnya dari Punden Joyo Sempol. Kembali kepada asumsi bahwa arca ‘Buddha Gundul’ Mahaksobhya dan sepasang Makara yang dahulu pernah berada di halaman Gedung Pakri dan kini ditempatkan di halaman Museum Pu Purwa ‘berasal dari situs yang sama, atau setidaknya dari desa yang sama’, maka dikemukakan hipotesis bahwa Arca ‘Buddha Gundul’ Mahaksobhya bersal dari Candi Merjosari.

3. Kemungkinan Andanya ‘Candi Buddhis’ di Merjosari

Bila benar Arca ‘Buddha Gundul’ itu berasal dari Merjosari, berarti di desa (kelurahan) ini pernah terdapat candi yang berlatar agama Mahayana Buddhisme. Apakah ada jejak Buddhisme lainnya di Merjosari?, tegas jawabnya: ‘ada’, yaitu penemuan sebuah arca Dhyani Bodhisattwa berbahan perunggu ketika penggalian fondasi untuk pembangunan Gedung Rekotorat Universitas Gajayana pada tahun 1987. Gaya ikonografisnya memperlihatkan aliran kesenian ‘Phalla’, yang di Nusantara dua kali berpengaruh, yaitu pada Era Buddhis di masa pemerintahan kerajaan Mataram (abad VIII Masehi) dan Masa Singhasari (abad XIII Masehi). Terkait dengan itu, terbesitlah prakiraan bahwa fragmen arca Dhyani Bodhisattwa dari batu andesit dalam posisi berdiri tribhaga dan bergaya seni Phalla, yang kini menjadi benda koleksi Museum Pu Purwa, konon bersal dari sub-area barat Kota Malang, entah dari Merjosari, Telogomas atau Dinoyo.

Lokasi Universitas Gajayana hanya berjarak sekitar 100 meter di selah barat Punden Candri, yang konon berupa tanah yang menggunduk (gumuk kecil) bercampur bata-bata kuno. Pada permukaan atas Punden Candri di Jl. Mertojoyo Barat, konon terdapat sejumah umpak – semenjak akhir tahun 1980-an direlokasikan ke halaman Universitas Gajayana, lantaran Punden Candri dibongkar untuk dijadikan areal bangunan rumah tinggal. Tidak jauh di sebelah timurnya, tepatnya di Jl, Mertojoyo Barat Dalam, terdapat sebuah arca Singha (ada pula yang menamai dengan ‘Singhastamba’), yang di sekitarnya juga terdapat bata-bata kuno dan fragmen-fragmen gerabah non-glasir. Pada setengah dasawarsa terakhir, situs ini juga telah ludes, dijadikan areal perumahan delapan kavling “Perum Dinoyo Residence”.

Jelas tergambar bahwa mulai dari situs Arca Singha, Punden Candri hingga Universitas Gajayana merupakan kompleks kepurbakalaan luas. Diantaranya terdapat sebuah candi berbahan bangunan bata dan batu andesit, dengan latar agama Mahayana Buddhisme. Lokasi bangunan Candi Buddhis itu amat mungkin di Punden Candri. Bila demikian, umpak-umpak di Universitas Gajayana (yang muasalnya dari Punden Candri) boleh jadi adalah pelandas tiang, yang semula ditempatkan di atas batur (soubasament) dan kaki candi (basement) sebagai penyangga atap dan kemuncak candi. Hal ini mengingatkan kita pada Candi Buddhis Boyalangu (Gayatri, nama kuno ‘Prajnaparamitapuri’) dan Candi Budhis Sanggrahan (nama kuno ‘Kuti Sanggrahan’) dari Masa Keemasan Majapahit di sub-area selatan Tulungagung. Pada Candi Boyolangu, di titik sentrum pada permuakaan atas kaki candi ditempatkan Arca Prajnaparamita sebagai arca perwujudan Rajapadni (Gayatri – neneknda Hayam Wuruk), yakni arca tunggal dengan ukuran besar, yang diposisikan sebagai ‘dewata utama (istadewata)’ dalam pemujaan. Adapun pada Candi Sanggrahan, yang ditempatkan di permukaan atas kaki candi adalah lima buah arca Dhyani Buddha menurut sistem tatagatha.

Berdasarkan komparasi diatas, dapatlah dibayangkan bahwa arca ‘Buddha Gundul’ Majaksobhya tersebut konon ditempatkan di permukan atas kaki Candi Budhis dalam areal eks Punden Candri, yakni suatu arca tunggal berukuran besar dalam posisi sebagai ‘istadewata’ dalam ritus Mahayana Buddhisme. Bila benar asumsi bahwa sepasang Makara tersebut se situs asal dengan arca ‘Buddha Gundul’ Mahaksobya, maka konon ditempatkan di ujung pipi tangga (balustrade) candi Buddhis ini. Sedangkan arca Singha menjadi pelengkap bagi bangunan suci Budhis itu, mengingat bahwa arca dan relief singa seagai ‘penjaga pintu (dwarapala)’ acapkali kedapatan dalam kompleks candi Buddhis, seperti terdapat di Candi Borobudur, Ngawen, Jajaghu (Jago), dsb. Pada sisi lain, arca Dhyani Bodhisattwa berbahan perunggu serta berlanggam seni Phalla yang ditemukan di halaman Universitas Gajayana adalah ‘aca simpanan’ milik rahib Buddha, yang bisa jadi konon area vihara-nya berada sini. Demikian pula, fragmen arca Dhyani Bodhisattawa berbahan batu, dalam posisi berdiri tribhaga dan juga berlanggam seni Phalla koleksi Museum Pu Purwa, ada kemungkinan seasal dengannya.

Apabila benar demikian, sejumlah peninggalan Arkeologis di Museum Pu Puwa, yang selama ini belum jelas muasalnya, yaitu : (a) arca ‘Buddha Gundul’ Mahaksobhya, (b) sepasang arca Makara, (c) arca Singha (Singhastmabha), serta (d) fragmen arca Dhyani Bodhisattwa dalam posisi berdiri tribhaga dan bergaya seni Phalla sesunguhnya selokasi asal, yaitu dari suatu kompekls situs yang luas di Keluarahan Merjosari pada sub-area barat Kota Malang. Dalam Museum Pu Purwa itulah, seakan artefak-artefak yang telah lama terpisah satu satu sama lain ‘ber-reuni’, dan kini sama-sama menjadi benda koleksi museum. Di dalam peribahasa berbahasa Jawa, Museum Pu Purwa seolah berjasa ‘nglumpke balung kecer (mengumpulkan tulang tercecer)’, yaitu peninggalan-peninggalan arkeologis di wilayah Kota Malang yang sebelumnya tercerai-berai di sejumlah tempat.

B. Deskripsi dan Identifikasi Ikonografi (Sambungan Bagian II)
1. Deskripsi Arca ‘Buddha Gundul’ Koleksi Museum Pu Purwa
2. Identifiskasi Arca “Buddha Gundul’ Koleksi Museum Pu Puwa
3. Asal Masa dan Fungsi Arca ‘Buddha Gundul’ Koleksi Museum Pu Purwa

C. Sesal atas Lenyapnya Candi Buddhis di Merjosari.
1. Tergusurnya Situs oleh Pembangunan Perumahan
2. Contoh Buruk Perlindugan Situs di Kota Malang7

Total
1
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*