UNIKUM DAN URGENSI ‘ARCA BUDDHA GUNDUL’ MAHAKSOBHYA KOLEKSI MUSEUM PU PURWA (II)

Bagian II (Habis)
Edisi “International Museum Day”

UNIKUM DAN URGENSI ‘ARCA BUDDHA GUNDUL’ MAHAKSOBHYA KOLEKSI MUSEUM PU PURWA

 

B. Deskripsi dan Identifikasi Ikonografi
1. Arca ‘Buddha Gundul’ Koleksi Museum Pu Purwa
1.1. Unikum Arca Mahaksobhya Koleksi Museum Pu Purwa

Demi mendengar perkataan ‘arca Buddha Gundul’, maka asosiasi orang tertuju kepada sebuah arca dari batu andesit utuh (monolith) berukuran amat besar (T sekitar 3,5 m), yang oleh khalayak dinamai ‘Joko Dolog” di Taman Simpang (Taman Apsari), seberang selatan-barat Gedung Grahadi Surabaya. Asosiasi demikan dapat difahami karena dua hal. Pertama, arca Mahaksobhya di Taman Simpang digambarkan berkepala gundul. Menurut keterangan inskripsi pendek (sort inscription) berbahasa Sanskreta sebayak 19 bait yang ditulis oleh Nada secara melingkar pada asana (singgasana arca), patung ini adalah pentabisan Kretanegara sebagai ‘Jina’ (Buddha Agung) bergelar ‘Jnanasiwabajra’. Sebagai Jina, personifikasinya sebagai Dhyani Buddha Aksobhya, yang melambangkan: (a) ‘Dharmmakaya’, dan (b) sekaligus lambang Siwa-Buddha. Pentabisannya diselenggarakan di Wurare tahun Saka 1211 (21 Nopember 1269 Masehi). Kedua, sejauh ini kurang informasi periha arca Buddha gundul lainnya – selain Arca Joko Dolog, sehingga disangka arca Joko Dolog adalah satu-satuya arca Buddha gundul Masa Hindu-Buddha.

Kiranya spesifikasinya itu berkenaan dengan ‘tataran’ pantheon Buddhis menurutdoktrin Mahayana Buddhisme, yang secara urut tatar adalah : (a) Manusi Buddha, (b) Dhyani Boddhisattwa, dan (c) Dhyani Buddha. Dalam ikonografi, semakin ke tataran akhir Buddha dipersonifikasikan kian bersahaja dan tidak raya dalam busana maupun aksesoris. Kebersahajaan atau ketidakrayaannya tersebut merupakan perwujudan dari kemampuan untuk ‘melepaskan diri dari ikatan duniawi, sebagai prasyarat untuk mencapai moksa’. Busana, aksesoris, bahkan organ tubuh tertentu seperti rambut dan kuku secara simbolik dimaknai sebagai ‘unsur duniawi’ yang menjadi penghalang untuk mencapai moksa, sehingga perlu ditanggalkan. Oleh kerena itu, dapat difahami bila arca Dhani Buddha, yang mempersonifikasi Sang Buddha yang telah mencapai moksa dan menempati nirwana dipahatkan dengan (a) busana minimalis, berupa jubah yang tidak menutupi seluruh tubuh, (b) kepala tanpa makhota, dengan rambut keriting dibiarkan terbuka, atau bahkan sama sekali tidak berambut (gundul), (c) tanpa mengenakan aksesoris, (d) beraut wajah teduh, mata setengah terpejam dan mulut terkatup, serta sikap tangan (mudra) maupun kaki menunjukkan tengah menjalankan yoga.

Oleh karena dewata yang dipersonfikasikan pada Arca Joko Dolog maupun arca ‘Buddha Gundul’ koleksi Museum Pu Purwa bukan hanya Aksobha, namum lebih dari itu adalah Mahaksobhya (maha + Aksobhya), maka sengaja kepalanya digambarkan ‘tanpa sehelai rambut’ alias gundul (plonthos). Secara harafiah, kata ‘maha’ berarti : besar, sebaik-baiknya, mulia (Zoetmulder, 1995: 627), sehingga perkataan ‘Mahaksobhya’ menjunjuk kepada Dhyani Buddha Aksobhya yang besar atau mulia. Dalam kaitan dengan pencapaian moksa, pada tataran ini moksa (kelepaan) berhasil dicapai dengan sebaik-baiknya (sempurna). Dengan tiadanya helai rambut di kepala, maka tidak lagi terkenai oleh ikatan duniawi. Gundul dalam penggambaran ini dimaksudkan untuk ‘menyangatkan’, sesuai dengan hakikat arti pada sebutan ‘maha’.

Sebenarnya, arca-arca Buddha dengan ‘kepala gundul’ adalah hal jamak dalam ikonografi Buddhis di Asia Timur, namun kurang lazim dalam ikonografi Buddhis di Asia Selatan dan Nusantara. Oleh karena itu, bisa juga ditafsir bahwa adanya arca Buddha Gundul pada masa Akhir Singhasari dan Majapahit menjadi petunjuk : mulai adanya pengaruh Buddha dari Cina, termasuk di dalamnya dari Tibet, pada ikonografi Buddhis di Jawa. Dikatakan sebagai ‘mulai adanya (awal) pengaruh’, sebab jumlah arca Buddha Gundul tak sebanyak arca Dhyani Buddha berambut keriting. Untuk masa yang sejaman, kondisi demikian juga terdapat di daerah-daerah lain di wilayah Asia Tenggara. Nampaknya, tradisi ‘menggunduli rambut’ di kalangan rahib Buddha (Bhiksu) berlangsung lebih awal ketimbang personifikasi dalam ikonografis Mahayana Buddhisme.

1.2. Deskripsi Ikonografi Mahaksobhya Koleksi Museum Pu Purwa

Sebagaimana telah disinggung dalam bagian terdahulu, salah satu arca Dhyani Buddha ‘berkepala gundul’ adalah patung Mahaksobhya koleksi Museum Pu Purwa. Arca berbahan buat batu andesit dengan ukuran besar dan terbilang masih utuh ini digambarkan dalam posisi duduk bersila di atas singgasana (asana), yang apabila pahatannya utuh menampilkan bunga teratai merekah (padma), dengan arah rekahan ke atas (single lotus). Hal ini masih tampak pada pahatan dari salah sebuah kelopaknya. Demikianlah, dapat diidentifikasikan bahwa singgasana arca berwujud ‘padmasana’, yakni suatu bentuk asana yang lazim didapati pada arca-arca dewata Hindu maupun Buddhis.

Diatas bantalan padma yang datar pada permukaan atasnya itulah kaki Sang Buddha duduk bersila. Sebagaimana lazim sikap sila pada yoga, kaki kanan dilipat di bagian lutut, ruas kaki bagian bawah diarahkan ke paha kaki kiri. Telapak kaki dihadapkan ke atas dan ditumpangkan paha kiri. Serupa itu, kaki kiri ditekuk di bagaian lutut, ruas kaki bagian bawah di arahkan serta ditumpangkan pada paha kanan, dengan telapak kaki dihadapkan ke atas. Posisi punggung tegak atau 90 derajat dengan sila kaki. Dada dibuka penuh, mengarah ke muka. Ruas atas tangan kiri bagian atas diarahkan ke bawah, ditekuk di bagian siku. Ruas tangan bagian bawah diarahkan ke bagian tengah persilangan kaki. Telapak tangan dibuka ke arah atas, dan ditempelkan persilangan kaki di bawah pusar. Ruas tangan atas dan bawah diluruskan ke bawah menuju ke arah lutut kanan. Tepat di atas lutut, telapak tangan dibuka menghadap ke bawah, Jari-jari tangan dilengkungkan, mengikuti lengkungan lutut menuju ke bawah, seakan hendak menyentuh tanah. Sikap tangan (mudra) demikian dalam sistem mudra dalam doktrin Buddhis dinamai ‘Bhumisparsamudra’, Secara simbolik berarti : memanggil bhumi sebagai saksi. Mitologi Buddhis menggambarkan Sang Buddha memannggil (dengan cara menyentuh) Bhumi, untuk dijadikan saksi atas keberhasilannya mengalahkan godaan (mara).

Oleh karena kepalanya digambarkan ‘gundul (tanpa rambut)’, maka arca ini tak dilengkapi dengan semacam ‘gelung kecil’ tepat di sentrum batok kepala (usnisa). Begitu pula, tak tergambar adanya tonjolan membulat di antara dua kening (urna). Dari tampak depan ataupun samping, jelas telihat bahwa kedua kelopak mata setengah dipejamkan, seolah kedua bola matanya diarahkan ke ujung hidung – yang pada arca ini digambarkan tidak mancung. Gambaran yang demikian lazim didapati pada raut wajah orang yang tengah menjalankan yoga. Sementara, mulutnya dalam posisi terkatup. Raut wajah bernuasa keteduhan, ketenangan dan penuh konsentrasi. Sebagaimana umumnya pada arca-arca Buddha, telinganya melebar, bahkan ujung bawah daun telinga – dengan tindikkan yang memanjang (dower) — hingga menyentuh bahu. Secara simbolik, telinga lebar bermakna: maha mendengar. Sebagai konsekuensi atas tubuhnya yang kegemukkan, maka pada sisi muka lehernya tampak tiga garis horisontal bersejajar (ulan-ulan), yang secara simbolik bermakna : kebagagian atau kesabaran.

Sebagaimana umumnya pada arca Dhyani Buddha, arca “Buddha Gundul’ Mahaksobhya kolekasi Museum Pu Purwa juga digambarkan mengenakan jubah besar dan panjang (trisiwara) yang hanya menutupi sebagian tubuhnya. Bagian tubuh yang dibiarkan terbuka, tanpa balutan busana, adalah tangan, pundak dan sebagian pinggang kanannya. Kedati hanya berupa gurisan tipis – lantaran aus, batas kain serta lipatan-lipatan (draperi) kain pada bagian-bagian tertentu masih dapat disaksikan. Seperti batas kain pada pergelangan tangan kiri dan dada kiri maupun ujung bawah kain di sekitar sila kaki. Demikian pula lipatan kain dapat disaksikan dalam bentuk lipatan vertikal pada dada kiri dan punggung maupun lipatan pada pergelangan tangan kanan, paha kanan dan di sekitar sila kaki. Aksesoris sama sekali tidak melekat pada tubuhnya.

2. Identifiskasi Arca “Buddha Gundul’ Koleksi Museum Pu Puwa

Menilik kebersahajaannya, baik busana, akseoris maupun ciri khusus (laksana)nya, seperti: telinga lebar, tiga garis horizontal pada sisi depan leher serta kepalanya yang gundul, maka arca Buddha koleksi Museum Pu Purwa dapat dikategorikan : Dhyani Buddha, yakni salah sebuah diantara tiga tataran dalam pantheon Mahayana Buddhisme – selain Manusi Buddha dan Dhyani Boddhisattwa. Dhyani Buddha adakah istilah bagi tokoh yang secara spiritual merupakan emanasi (pancaran) dari Addhibudha, dimana Addhibudha mengalirkan diri diriya 5 (lima) Buddha yang disebut ‘Dhyani Buddha’ atau dinamai juga dengan ‘Jina (Bahasa Sanskreta, berarti: Pemenang)’. Dhyani Buddha dikonsepsikan telah mencapai atau mendapat pengetahuan keagamaan, serta telah terbebas dari lingkaran karma (buah perubuatan) dan samsara (kelahiran kembali),

Setiap tataran memiliki 5 (lima) Buddha-nya. Maka pertanyaanya adalah Dhyani Buddha siapakah yang dipersonifikasi dalam bentuk arca ‘Buddha Gundul’ koleksi Museum Pu Pirwa itu?’ Untuk mengidentifikasikan, indikator utama yang perlu dicermati adalah mudranya, yang pada arca ini adalah bhumisparsamudra’. Dengan demikian, jelas bahwa Dhyani Buddha yang diarcakan tentu Aksobhya. Selanjutnya, dengan membandingkan persamaannya dengan Arca Joko Dolok, yang menurut keterangan dalam inskripsi pendek bertarkh Saka 1211 (1289 Masehi) metupakan arca pentabisan raks Kretanegara dalam wujud ‘Mahaksobhya’, maka cukup alasan untuk juga mengidentifikasikannya sebagai : Dhyani Buddha Mahaksobhya.

Masing-masing dari lima Buddha untuk setiap tataran menempati penjuru mata anginnya sendiri-sendiri. Dalam sistem Tathagata (simbol dari lima elemen kosmis, yang masing-masing mewakili arah mata angin tertentu menurut doktrin Mahayana Buddhis), Aksobhya menempati penjuru mata angin timur. Namun, bila arca itu merupakan ‘arca tunggal’, sebagai istadewata (dewa utama) dalam pemujaan di suatu bangunan suci (candi), maka bisa saja penempatannya di bagian tengah permukaan atas kaki candi. Seperti.pada arca Manjusri di bilik utama (garbagrha) Candi Sewu, arca Dewi Tara di Candi Kalasam, arca Prajnaparamita di Candi Putri pada situs Pagentan (Singosari) dan Candi Boyolangu di Tulungagung, arca Amogaphasa di bilik utama Candi Jajaghu (Jago), dsb. Yang terang, dengan adanya arca ‘Buddha Gudul’ Mahaksobya di situs tertentu, yang menurut hipotesis muasal arca dalam telaah terdahulu (Bagian A.2) adalah di situs (istilah lokal ‘punden’) Joyo Sempol (Candri) dalam wilayah Kelurahan Merjosari, berarti konon di sub-area barat Kota Malang perah terdapat candi Buddhis dengan istadewata Mahaksobhya.

3. Asal Masa dan Fungsi Arca ‘Buddha Gundul’ Koleksi Museum Pu Purwa

Sejauh ini belum diperoleh sumber data penyerta yang dapat dipergunakan untuk menetapkan tarikh bagi arca Mahaksobhya koleksi Museum Pu Purwa. Oleh karena itu, prakiraan tarikhnya dilakukan dengan menggunakan metode komparasi, yakni membadingkan dengan arca serupa di tempat lain yang memiliki tarikh pasti (absolud dating), yaitu Arca Joko Dolog atau Mahaksobhya di Taman Simpang (Apsari) Kota Surabaya. Arca ini dibuat pada tahun 1289 Masehi, sebagai patung pentabisan maharaja Kretanegara sebagai ‘Jina’, yang dilaksanakan di ksetra Wurare menurut doktrin Tantrayana Buddhis. Atas dasar persamaman bentuknya itu – walau dengan ukuran yang lebih kecil, sangatlah mungkin arca ini juga dibuat pada Masa Akhir Singhasari (penghujung abad XIII Masehi).

Mengingat bahwa Kretanegara adalah raja agung di penjuru Nusantara, maka bukan tidak mungkin arca pentabisannya sebagai “Jina” dalam wujud Mahaksobhya ‘berkepala gundul’ terdapat di lebih dari satu bangunan suci. Pada kawasan Malang, yang nota bene adalah pusat pemeritahan kerajaan (kadatwan) dan daerah sekitar kadatwan Singhasari, masuk akal bila di terdapat arca ‘Buddha Gundul’ Mahaksobhya, yang digunakan sebagai media pemujaan tergadap Kretanegara sebagai ‘Jina’, yakni seseorang yang telah mencapai moksa kendati masih hidup (bhumityoga, jivanmukta). Arca Mahaksobhya koleksi Museum Pu Purwa itu konon difungsikan secara spesifik untuk ritus tersebut pada candi Buddhis di Merjosari , yang terletak di lembah antara Bangawan Brantas dan Kali Metro.

Demikianlah, kendati hanya sebuah arca, namun keberadaan arca Mahaksobhya koleksi Museum Pu Purwa itu memberikan kontribusi penting bagi peyingkapan Buddhisme pada Masa Keemasan Singhasari, utamanya di kawasan Malang. Jika benar muasalnya dari Merjosari — pendapat lain menyatakan lokasi asalnya dari daerah Singosari ~ tergambar bahwa di kawasan Malang jejak Mahayana Buddhisme tidak hanya kedapatan di daerah Singosari pada sub-area utara Malangraya – yang notabene adalah kadatwan Singhasari, namun didapati pula di Candi Jajaghu (Jago) pada sub-area timur Malangraya. Selain itu, jika menilik keterangan dalam Pararaton, tergambar adanya mandala Buddhis di Panawijen (lebih awal dinamai ‘Panawijyan’, dan kini ‘Polowijen’) pimpinan Pu Purwa pada sub-area tengah Malangraya. Hasil pelokasian situs asal arca Mahaksobhya koleksi Museum Pu Purwa [yang apsbila benar] di Kelurahan Merjosari, menambah satu bukti tentang adanya jejak Buddhisme di sub-area barat Kota Malang. Dengan perkataan lain, Malangraya merupakan suatu kawasan di Jawa yang pada Masa Singhasari telah menjadi ‘kantong-kantong’ para penganut Buddhis, utamanya Mahayana Buddhisme. Bila menilik ukuran arcanya, maka sesuai dengan pernyataan J. Hageman dalam ROC 1902, tentulah candi Buddhis di Merjosari berukuran besar, sehingga khalayak punggunanya pun cukup banyak.

 

C. Sesal atas Lenyapnya Candi Buddhis di Merjosari.
1. Tergusurnya Situs oleh Pembangunan Perumahan

Lain dulu lain sekarang. Dahulu, yakni pada Masa Hindu-Buddha, Merjosari yang bisa jadi masuk wilayah wanua (thani) Wurandungan, merupakan suatu permukiman agraris yang berada dekat dengan eks kadatwan Kerajaan Kanujuruhan (akhir abad VIII hingga medio abad IX Masehi), dan kemudian menjadi pusat dari watak Kanuruhan. Dengan posisinya pada sekitar pusat pemerintahan, maka permukiman di tempat ini terbilang ramai dan berperadaban maju pada jamannya, termasuk dalam hal kehidupan religinya. Oleh karena itu, dapatlah difahami bila temuan arkeologis di Merjosari cukup banyak, baik yang berlatar agama Hindu ataupun Buddhis. Kedua penganut agama itu hidup berdampingan secara damai. Disamping bangunan suci (candi) Hindu dan utamanya Hindu-Saiwa, terdapat juga candi Buddhis khususnya Mahayana Buddhisme. Arca Mahaksobhya itu diprakirakan merupakan istadewata pada candi Buddhis yang cukup besar disini. Prakiraan lokasinya adalah pada apa yang oleh warga setempat dinamai ‘Punden Joyo Sempol”, atau ada pula yang menyebutnya dengan ‘Punden Candri’.

Tinggalan arkeologis di Punden Joyo Sempol satu per satu direlokasikan dari situsnya. Mula-mula arca Buddha Gundul Mahaksobhya, yang telah sebelum tahun 1841 (sekitar 1815-1820) direlokasi ke taman Rumah Dinas Asisten Residen Malang di sebelah selatan Alon-alon Kothak. Menyusul kemudian pada sekitar tahun 1950an, sepasang Makara besar direlokasi ke halaman depan Gedung PAAKRI, berkumpul dengan artefek se situs dengannya, yang dipindahkan lebih dulu ke taman Rumah Dinas Asisten Residen Malang kemudian direlokasi lagi ke Museum Malang di Tjeaket dan seterusnya dipindahkan ke halaman Gedung PAAKRI. Pada sekitar tahun 1980-an, beberapa umpaknya direloksi ke halaman Universitas Gajayana, karena sebagaian areal Punden Candri (Joyo Sempol) dibangun rumah tinggal. Dengan dibangunannya rumah tinggal itu, maka struktur bangunan kuno yang berada di bawah permukaan tanah tertutupi abadi oleh bangunan baru.

Yang masih tersisa di situs tinggal sebuah arca Singha (acap dinamai ‘Singha Sthamba’) berukuran cukup besar (T = 177 Cm, L = 50 Cm). Pada bagian dadanya terdapat kronogram Saka 941 (1019 Masehi), yang berarti dari Era Kerajaan Mataram. Selain itu terdapat bata-bata kuno di permukaan maupun di bawah tanah serta fragmen-fragemen gerabah non-glasir dan temuan lain yang sejauh itu belum pernah dilakukan ekskavasi arkeologis. Namun, yang tersisa inipun pada akhirnya, yaitu pada tanggal Juni 2015, tergusur juga, dengan direlikasi ke Museum.Pu Purwa.

Tujuan pemindahannya ke Museum Pu Purwa menurut Kepala Seksi Pengaanan BPCB Jawa Timur di Trowulan, Jumiat Rusmono Adi, adalah “untuk permudah perawatan dan pengawasan Benda Purbakala” (Eko Widianto, Tempo.Co, 8 Juni 2015). Padahal sejatinya lantaran situs yang merupakan bagian tersisa dari Punden Candri (Joyo Sempol) di RT. 1 RW 10 telah ‘dicaplok’ oleh Developer untuk dijadikan 8 (delapan) kavling rumah tinggal dalam Perumahan “Dinoyo Regency’.

Tragis, tatkala dipindahkan, pembangunan sudah berlangsung, dan kala itu posisi arca Singha berada di area yang akan dijadikan sebagai teras rumah. Miris tentu, bagaimana bisa suatu punden (danyangan) — yang tentunya merupakan areal publik (ulayat) dapat diprivatisasi menjadi ‘tanah pribadi’, dan kemudian dijual kepada Developer. Jadi, tak perlu berbangga hati karena telah berhasil memindahkan arca Singha ke Museum Pu Purwa, karena kejadian itu justru menjadi petunjuk atas kegagalan institusi budaya ini dalam melindungi situs dan lembek terhadap intervensi Developer ke areal situs.

2. Contoh Buruk Perlindugan Situs di Kota Malang

Peristiwa tragis yang menimpa tinggalan sejarah-arkeologi di areal luas Punden Joyo Sempol (Candri), dengan sedikit demi sedikit menggeroti bahkan melumatkan jejak budaya masa lampau untuk dijadikan areal perumahan. Ini hanyalah sebagian ‘contoh buruk’, dimana Pemkot Malang beserta SKPD terkait dan Pemerintah Kelurahan setempat ‘gagal’ dalam melindungi situs. Padahal, beberapa tahun sebelum areal situs Singha Stambha ini dijadikan perumahan, telah disarankan untuk dilakukan uji gali (test pit) guna memastikan kemungkinan ada/tidaknya struktur bangunan kuno sekitar lokasi arca. Indikator berupa arca Singha, bata kuno, fragemen gerabah dan temuan-temuan lain sebenarnya telah cukup alasan untuk melakukan ekskavasi arkeologis. Lebih parah lagi, areal situs ini oleh pihak Kelurah Merjosari dilepaskan kepada Investor untuk dibangun perumahan, dengan sama sekali tidak mengindahkan keberadaan Cagar Budaya yang nyata-nyata ada. Bahkan, patung Singha yang dipadang ‘ngribeti (penghalang)’ pembangunan kompleks Perumahan ‘Dinoyo Regency’ akjirnya dikalahkan dan kemudian ‘ditendang’ keluar dari tempat keberadaannya disini semenjak satu millennium sebelumnya.

Jika institusi formal tidak peduli dan tak kuasa melakukan ‘perlindungan’ terhadap Cagar Budaya yang ada di suatu area, ditambah lagi dengan pandangan sebagian warga setempat yang merasa ‘tak membutuhkan lagi tinggalan budaya masa lalu’, maka ‘wassalam Cagar Budaya’. Jadilah engkau korban kepentingan kekinian. Lantas, dimanakah nurani peka ‘kepusakaan (heritage)’ Kota Malang, yang padahal kota ini masuk dalam ‘Jaringan Kota-Kota Pusaka Indonesia’?. Semoga tulisan bersahaja ini bisa menggugah kesadaran Pemkot Malang, utamanya yang berwewenang terhadap itu, yakni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, untuk ‘lebih balancing’, dengan tidak menaruh prioritas berlebihan kepada ‘Kepariwisataan’, sementara upaya eksplorasi dan koservasi (dalam arti luas) budaya hanya diposisikan “pinggiran” dan sengaja tidak dijadikan prioritas dari program-programnya. Padaha nama lembaganya menempatkan unsur nama ‘Kebudayaan’ lebih awal daripada ‘Pariwisata’. Nampaknya, keinginan untuk segera ‘menjual budaya’ sebagai komuditas pariwisata ‘lebih mengiurkan’-nya ketimbang kewajibannya untuk mengeksplorasi dan mengkonservasi seni-budaya di daerahnya.

 

PATEMBAYAN CITRALEKHA, 22 Mei 2017

Total
1
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*