MAKNA KURA-KURA PADA RAGAM EKSPRESI VISUAL-MITOLOGIS NUSANTARA LAMA

Bagian I (Bersambung)
Edisi ‘HARI PENYU SEDUNIA’

MAKNA KURA-KURA PADA RAGAM EKSPRESI VISUAL-MITOLOGIS NUSANTARA LAMA

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Hari Penyu Sedunia

Tak banyak binatang yang dijadikan sebagai ‘hari peringatan secara internasional’. Diantara yang tidak banyak tersebut adalah kura-kura dan penyu, yang pada setiap tanggal 23 Mei diperingati sebagai ‘Hari Kura-kura dan Penyu Sedunia’. Peringatan terhadapnya dilakukan semenjak tahun 2000, dipelopori oleh ‘American Tortoise Rescue’, untuk menarik perhatian warga dunia terhadap keberadaan kura-kura dan penyu untuk mendorong manusia agar menyelamatkan spesies yang kini terancam punah itu.

Penyu yang telah ada sejak akhir zaman Jura (145 – 208 juta tahun lalu), kini berada di bawah ancaman. Terdapat enam dari tujuh spesies penyu di seluruh dunia yang sekarang klasifikasikan sebagai ‘satwa terancam punah’. Aktivitas manusia kian mendorong penyu semakin dekat dengan kepunahan. Pada peringatan ‘Hari Penyu Sedunia’ aktivis lingkungan seluruh dunia menyerukan kampanye untuk perlindungan dan konservasi hewan laut yang lebih baik. Peringatan diselenggarakan dengan beragam cara, mulai dari gerakan sosial, pembelajaran tentang kehidupan kura-kura dan penyu, hingga pembuatan kerajinan tangan berbentuk kura-kura dan penyu.

Kondisi penyu kini benar-benar disadari dan mendapatkan perhatian serius dari masyarakat dunia, khususnya penyu laut, lantaran telah sangat kritis. Oleh karenanya, dalam Konvensi Perdagangan Internasional Flora dan Fauna (Convention of International Trade of Endangered Species) yang disingkat ‘CITES’, dinyatakan bahwa semua jenis penyu laut dimasukkan dalam daftar ‘Apendix I CITES’. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh produk – baik daging, tempurung, maupun telur penyu – untuk semua jenis penyu laut yang ada tidak boleh diperdagangkan antar negara. Indonesia sebagai negara anggota CITES membuat perlindungan [dengan Undang-Undang] terhadap penyu laut, yang meliputi lima dari enam jenis penyu laut yang ada di Indonesia.

Penyu adalah kura-kura laut, yang diketemukan di semua samudra di dunia. Kura-kura dan penyu berwujud binatang bersisik, berkaki empat, yang masuk dalam golongan reptil. Bangsa hewan ini terbilang khas, malahan mudah dikenali, berkat ‘rumah’ atau batoknya yang keras dan kaku. Nama ilmiahnya adalah ‘Testudinidae’. Dalam Bahasa Indonesia terdapat tiga kelompok hewan yang masuk pada bangsa ini, yaitu: (1) penyu laut (sea turtles), dicirikan oleh kakinya yang bisa berubah bentuk menjadi seperti dayung, leher dan kepala serta anggota badannya tidak dapat dimasukkan ke dalam tempurungnya, dan kini tinggal enam jenis dari dua family; (2) labi-labi atau bulus atau empas (freshwater turtles, amyda cartilaginea, Asiatic softshell turtle. common softshell turtle), yakni sejenis kura-kura berpunggung lunak – karena sebagian perisainya terdiri atas tulang rawan dan tempurung punggung (karapas)nya dilapisi oleh kulit tebal dan licin, merupakan anggota suku Trionychidae, (3) kura-kura (tortoises), pada umumnya karapasnya berbentuk kubah tinggi dengan kaki seperti kaki gajah untuk berjalan di darat, geraknya lambat, leher dan kepala maupun anggota badan bisa dimasukkan ke dalam tempurungnya untuk menyelamatkan diri dari ancaman bahaya.

Dalam Bahasa Inggris dibedakan lagi antara: (a) kura-kura darat (land tortoises) dengan (b) kura-kura air tawar (fresh-water tortoises, freshwater turtle, terrapins), dicirikan oleh kakinya yang berselaput untuk berenang di sungai, danau, sawah dan bisa juga berjalan di darat, tempurungnya lebih rendah dan lebih ‘streamline’, leher dan kepala maupun anggota badannya bisa dimasukkan ke dalam tempurung punggungnya, jenisnya bervariasi : antara bulus leher panjang (long-necked turtle), empas (labi-labi, soft-shelled turtle), dll. Lantaran terdapat beragam jenis kura-kura, maka muncul pertanyaan ‘apakah Kūrma, Kūrmarāja, atau Vadavānala dalam mitologi Nusantara Lama sama dengan empas, penyu laut ataukah penyu pada umumnya, atau malahan ‘penyu purba’ yang menjadi muasal dari penyu dewasa ini?

Kata ‘Kūrma’ acap diterjemah ‘tortoise (penyu darat)’. Kata ini cukup sering disebut dalam kitab-kitab Saṁhitā akhir, seperti Atharvaveda (IX.4.16), Taittirīya (II.6.3.3; V.2.8.4.5, V.7.13.13.1), Maitrāyaṇī (III.15.3), Vājasaneyi (XIV.34) dsb. Selain itu dijumpai dalam kitab-kitab Brāhmaṇa (Śatapatha I.6.2.3; VI.1.1.12; dll.). Sayang sekali kitab-kitab tersebut tak memuat karakter khusus dari binatang ini (Macdonell, I, 1982:178). Nama lain baginya adalah ‘Kaśyapa’, yang menunjuk kepada bintang yang sama (tortoise), seperti beberapa kali disebut dalam Atharvaveda (IV.20.7), Maitrāyaṇī (III.14.8), Vājasaneyi (XXIV.37) serta kitab-kitab Brāhmaṇa (Śatapatha VIII.5.1.5, Aitareya II,6, dsb.) (Macdonell, I, 1982:144).

Sumber-sumber Sanskerta lain setelah Veda adalah kitab Itihāsa dan Purāṇa. Dalam kedua jenis kitab ini diberitakan bahwa Sang Hyang Viṣṇu turun menjelma (avatāra) dengan sebutan ‘Kūrmavatāra, Kūrmarāja dan Badavàgni’, seperti tergambar pada Vālmiki Rāmāyana Bālakāṇda (45), Māhabhārata bagian Ādiparva (18), Bhāgavata Purāṇa (VIII.7); Agni Purāṇa (3) dll. (Vettam Mani, 1989: 80). Di samping itu, terdapat dalam Varamihira Bṛhat Saṁhitā (XIV) dan Varamihira Yogayātrā (IX.4), juga dengan sebuatan ‘Kūrma’ (William Monier, 1993: 300). Nama lainnya dalam bahasa Sanskerta adalah ‘Akūpāra’ (Bhāgavata, Purāṇa, dll.), dalam hubungan dengan mitos kura-kura penyangga bumi (William Monier, 1993:2).

Sebagai suatu istilah, kata ‘kurma’ dalam arti: kura-kura, penyu (Zoetmulder, 1995:543) disebut dalam Ramayana (21.132), Nitisastra (1.12), Kandawawanadahana (11.11) dan Wrehaspatitattwa (39-40/2, 46.1). Dengan disebutnya dalam Kakawin Ramayana tersebut, setidaknya istilah serapan dari Bahasa Sanskreta ini telah dikenal sejak medio abad IX Masehi, karena Ramayana diterjemah dari Bahasa Sanskreta ke Bahasa Jawa Kuna pada pemeritahan raja Balitung di kerajaan Mataram. Selain ‘kurma’, istilah ‘kura’ dalam arti: kura-kura (Zoetmulder, 1995: 541), juga terdapat dalam kakawin Ramayana (12.61) bersama dengan binatang-binatang lain seperti singa (singha), beruang (barwang) dan harimau (mong).

Demikian pula, terdapat istilah ‘penyu’ dalam Ramayana (11.67, 15.26), Smaradahana )32.10), Sumanasantaka (10.8, 20.11) dan Kidung Sunda (1.45). Selain itu ada kata ‘badawang’ dalam arti: kura-kura (Zoetmuder, 1995: 93), sebagaimana dijumpai dalam Bhomakawya (81.42), Partayajnya (28.5), Nawarci (40) dan Korawasrama (78,132, 202). Istilah terlait lainnya adalah ‘bulus’ dalam arti: bulus, labi-labi (Zpetmulder, 1995:141), seperti terdapat dalam Nawaruci (41) bersama dengan badawang merah (jenar), bulus kuning dan empas. Istilah ‘kura, penyu, badawang, bulus, dan empas’ adalah kosa kata Bahasa Jawa Kuna hingga Tengahan, yang pada Bahasa Sanskreta hanya disebut sebagai ‘kurma’. Sebenarnya, kelima kata itu ada yang bersinonim arti, namun ada yang dalam sejumlah hal menujuk pada jenis binatang yang berbeda.

B. Mitologi Kura-kura di Nusantara Masa Hindu-Buddha
1. Mite Awatara Wisnu sebagai Kurma

Kisah dalam mitologi tidak hanya ditokohi oleh dewata dan manusia tertentu, namun tidak jarang binatang tertentu turut jadi tokoh perannya. Diantaranya adalah kura-kura, penyu atau badawang. Binatang ini tidak hanya hadir dalam mitologi Nusantara, namun juga pada negara-negara lain di Asia dan bahkan di Amerika sekalipun. Dalam mitologi Hindu yang berpengaruh luas di Nusantara Lama, Kurma (kura-kura raksasa) tampil sebagai salah satu diantara ragam jelmaan Dewa Wisnu ke dunia (awatara) untuk menyelamatkan jagad raya dari bencana dahsyat. dan karenanya dinamai ‘Kurmawatara’ – terbentuk dari dua kata: ‘kurma’ dan ‘awatara’.

Penjelmaan Wisnu sebagai kura-kura raksasa atau empas (Kurma)’ berlangsung pada Satyayuga, yang dalam Adiparwa dinamai ‘Akupa’. Berbagai kitab Purana mengkisahkan tentang penjelmaan (awatara) Wisnu yang ke-2 dengan mengambil wujud sebagai kura-kura raksasa yang mengapung di lautan susu (kserasagara atau Kûira Arnava). Pada dasar laut konon terdapat harta karun serta Tirthamreta/Tirhasanjwani (nectar) sebagai intisari kehidupan, yang dapat membuat peminumnya ‘hidup abadi’. Hal ini dilakukan untuk menemukan kembali sesuatu yang hilang pada saat banjir besar.

Para Dewa maupun Asura (Rakshasa) berlomba untuk bisa mendapatkannya. Untuk mengaduk laut yang luas itu dibutuhkan alat. Untuk itu sebuah gunung (giri) bernama ‘Mandara’ yang berada di Sangkadwipa, dengan tinggi sebelas ribu yojana, dicabut oleh Sang Anantabhoga. (Bhagavata purana 8.7). Setelah mendapat izin dari Dewa Samudera, Mandara pun dijatuhkan di Kserasagara sebagai tongkat pengaduknya. Mandara diikat dengan Naga Wasuki, diputar dalam pengadukkan. Tempurung Kurma dijadikan pelandas atau dasar pangkal gunung ini untuk menahannya agar tidak tenggelam, sekaligus penopang bagi perputaran Mandaragiri. Dewa Indra menduduki puncaknya, agar gunung Mandara tak melambung ke atas.

Setelah siap para Dewa, Rakshasa dan Asura mulai memutar Mandara dengan menjadikan Naga Wasuki sebagai tali pemutar. Para Dewa memegang ekor, sedangkan para Asura dan Rakshasa memegangi bagian kepala Naga. Mereka berjuang hebat demi mendapatkan tirtamerta/sanjiwaui. Ksera bergemuruh, gunung Mandara menyala, Naga Basuki semburkan bisa yang membuat Asura dan Rakshasa kepanasan. Kemudian Dewa Indra memanggil awan mendung untuk mengguyur para Asura dan Rakshasa. Lemak dari segala binatang yang ada di Mandara beserta minyak kayu hutannya membuat Ksera mengental. Pemutaran Gunung Mandara kian diperhebat. Setelah sekian lama, tirtamerta pun berhasil didapat, dimana Dewa Wisnu mengambil alihnya.

Kurmawatara merupakan salah satu diantara ‘sepuluh penjemaaan material (dasawatara)’ utama Dewa Wisnu dalam misi menyelamatkan dunia. Dari sepuluh Awatara itu, sembilan diantaranya diyakini sudah pernah menyelamatkan dunia. Sedangkan sebuah Awatara lain yang terakhir (Kalki Awatara) masih menunggu waktu tepat – yang konon pada akhir Kali Yuga. Kisah-kisah Awatara terangkum dalam kitab ‘Purana’, tepatnya di Padma Purana. Akibat lautan diaduk sedemikian rupa, maka terjadilah gempa bumi amat dahsyat, yang nyaris menghancurkan bumi beserta isinya. Melihat kondisi yang berbahaya itu, maka Brahman menjelma turun ke bumi dengan mengambil wujud sebagai kura-kura raksasa (Kurma). Dengan kekuatan yang penuh, Kurma Avatara memikul bumi ketika mau hancur akibat para Dewa, Asura dan Rakshasa mengaduk lautan guna mendapatkan Tirta Amerta/Sanjiwani.

2. Visualisasi Kura-Kura sebagai Arca, Relief dan Komponen Candi

Salah satu binatang mitologis yang banyak hadir pada bangunan suci (baca ‘candi’) adalah kura-kura, baik hadir sebagai: (a) kura-kura dalam wujud arca penuh atau sebagai singgasana (asana) dewata maupun penyangga cerat Yoni, (b) tokoh peran dalam relief cerita, maupun (c) salah satu komponen pada suatu bangunan candi. Sebagai asana bagi dewata, terdapat sebutan ‘kuramasana (kurma-asana)’. Salah satu arca Dewa Siwa pada Museum Nasional Jakarta digambarkan dengan asana berupa kurma (kura-kura). Terkadang kura-kura hadir bersama Garuda sebagai penyangga cerat Yoni – kebanyakkan penyangga cerat berbentuk ‘Naga’, seperti terdapat pada Yoni koleksi Museum Nasional Jakarta dan Yoni di Situs Karang Gede. Pahatan kura-kura dalam konteks cerita Samudramantana kedapatan hadir pada pedestal arca yang in situ di reruntuhan gabagrha Candi Simping (Sumberjati) di Kabupaten Blitar, yang amat boleh jadi merupakan pedestal arca Hari-Hara, sebagai arca perwujudan dari Raden Wijaya – kini koleksi Museum Nasional Jakarta.

Kura-kura sebagai arca penuh (sculpture in round) banyak terdapat di situs-situs pada lereng sisi selatan-barat Gunung Lawu dari Masa Majapahit Akhir (XV-XVI Masehi), utamanya pada Candi Sukuh dan Cetho. Bahkan, nama ‘bulus’ digunakan untuk menyebut salah satu tinggalan arkeologi di daerah ini, yaitu ‘Punden Cemoro Bulus’ – lantaran terdapat patung berbentuk kura-kura (baca ‘bulus’). Pada halaman III (halaman utama) kompleks Candi Sukuh, didapati sejumlah arca kura-kura dalam ukuran besar dari batu andesit utuh (monolith) di depan candi induk. Permukaan atas (tempurung, karapas)nya yang datar dan posisinya yang tepat di muka candi induk membayangkan akan fungsinya sebagai semacam ‘altar persajian’. Patung kura-kura dalam jumlah banyak dengan beragam ukuran juga didapati di Candi Cetho. Bahkan, ada diantaranya yang dijadikan semacam ‘anak tangga’ menuju ke halaman berteras berikutnya.

Arca kura-kura yang walau dalam ukuran kecil (segenggaman tangan), namun berbahan emas 23 karat, pernah ditemukan di Long Lalang pada sub-DAS Hulu Mahakam. Benda bersejarah terkait dengan Kerajaan Kutai pasca pemerintahan Raja Mulawarman ini sekarang disimpan di Museum Mulawarman (Museum Kutai). Warga setempat melegendakannya sebagai persembahan seorang pangeran dari Kerajaan China untuk Putri Raja Kutai, yakni Aji Bidara Putih. Kura-kura dari emas ini, menurut kisah itu, merupakan bukti persuntingannya terhadap sang putri. Selain itu, arca kura-kura terdapat pada tengah kolam suci suatu pura di Bali, yang dijadikan sebagai komponen bawah untuk menancapkan Lingga. Dalam hal demikian, kura-kura secara simbolik diposisikan sebagai semacam ‘Yoni’, padamana Lingga ditancapkan atau ditegakberdirikan di atasnya.

Kura-kura acap pula tampil sebagai tokoh pean dalam relief cerita yang dipahatkann pada candi. Diantara relief-relief cerita yang ditokohi oleh kura-kura adalah: (a) relief cerita Samudramantana atau Amretamantana, (b) Garudeya, dan (c) Tantri Kamandaka. Dua relief cerita yang pertama cenderung hadir pada candi-candi Masa Majapahit, yang bersumber pada wiracarta Mahabarata, tepatnya parwa ke-1 (Adiparwa). Pada cerita Samudramantana, kura-kura (Kurma, Akupa) tampil sebagai pelandas bagi Mandaragiri serta penyangga bumi agar tidak tenggelam ke dalam samodra susu yang tengah diaduk. Kurma atau Akupa adalah wujud jelmaan Dewa Wisnu (awatara) dalam bentuk kura-kura raksasa.

Dalam cerita Garudeya, kura-kura dan gajah tampil bersamaan sebagai wujud terkena kutuk dari dua suadara yang senantiasa bertengkar. Gajah adalah bentuk terkena kutuk dari Supratika, adapun kura-kura adalah bentuk terkena kutuk dari Wibhastu. Atas petunjuk ayahnya (Bhagawan Ksyapa), kedua makhluk itu dipersilahkan untuk bisa dimakan oleh Garudeya bila kelaparan dalam perjalanan untuk mencari-mendapatkan Amreta. Pada relief lepas di pedopo teras sisi kanan halaman III Candi Sukuh, yang dipahat di salah satu sisi obeliks, terdapat gambaran Garudeya terbang dengan mencengkeram kura-kura raksasa dan gajah untuk kemudian dijatuhkan dari ketinggian hingga remuk binasa, dan lantas dimangsanya. Pahatan penyangga cerat Yoni yang berbentuk garuda berdiri diatas kura-kura, kiranya juga terkait dengan cerita Garudeya ini.

Kura-kura setidaknya tampil dalam dua kisah pada susastra fabel berbingkai ‘Tantri Kamandaka’, yaitu: (a) kisah ‘kura-kura tidak taat perintah’, dan (2) kisah ‘melepaskan yang telah didapat untuk memburu yang belum tentu didapatkan’. Kisah pertama menceritakan sepasang kura-kura ditolong untuk dipindahkan dari suatu telaga ke telaga Manasara – yang berarir jernaih, kaya bahan makan dan tak kering sepanjang musim – oleh seekor bangau dengan diterbangkan. Caranya, kedua kura-kura diminta untuk menggigit masing-masing ujung sebuah tongkat. Bagian tengah tongkat digapit dengan paruh bangau.

Sebelum terbang, bangau berpesan sungguh-sungguh ‘selama penerbangan pantang berkata satu patah kata pun’. Namun, ketika dalam perjalanan terdapat sepasang serigala jantan-betina ‘Cikrangga dan Cikranggi’ melihat di kejauhan atas bangau menerbangkan sesuatu yang tak jelas. Mereka menyangka yang diterbangkan adalah ‘kutis’, yakni sarang serangga yang berupa kotoran sapi kering. Lantaran disebut sebagai ‘kutis’, sontak keduanya marah dan secara bersamaan hendak mengumpat serigala. Begitu mulut dibuka untuk memulai umpatan, maka gigitannya pada tongkat lepas. Jatuhlah keduanya, lantas dijadikan santapan lezat sepasang serigala.

Kisah kedua menceritakan tentang seorang pemburu yang telah berhasil mendapatkan kura-kura besar (badawang) dengan memancing. Dalam perjalanannya pulang memikul binatang tangkapan, berjumlah dengan seekor kijang, yang mempesona untuk diburu dan ditangkapnya. Demi keinginan mendapatkan binatang buruan yang lebih besar, kura-kura yang telah didapatkan dilepas untuk bergegas memburu kijang. Namun sial, kijang tak berhasil ditangkap, sementara kura-kura terlanjur lepas, menghilang entah kemana. Demikianlah, seperti pada pepatah berbahasa Jawa ‘mburu uceng kelangan deleg’.

Cerita Tantri telah hadir pada percandian era Sailendrawamsa di Kerajaan Mataram, sebagaimana dijumpai pada Candi Mendut dan Sojiwan. Dalam kedua candi ini, kisah mengenai ‘kura-kura tak taat perintah’ dipilih untuk dipahatkan menjadi relief candi. Begitu pula, kisah ini juga hadir pada teras I Candi Jajaghu, patirthan dalam Kompleks Candi Penataran dan teras II Candi Mirigambar dari Masa Majapahit. Lain halnya dengan kisah kedua, yang baru dijumpai pada sisi belakang arca Dwarapala di depan Candi Induk Penataran. Pada kedua kisah itu, kura-kura ditampilkan bukan sebagai bintang mitologis, melainkan sebagai tokoh peran yang berperilaku seperti manusia dalam cerita binatang (fabel) purba Tantrikamandaka.

Kura-kura sebagai tokoh peran dalam kisah Samudramantana banyak didapati di percandian Masa Majapahit, baik dalam bentuk seni-pahat maupun sebagai suatu komponen pada bangunan candi. Seni pahat demikian dengan jelas disaksikan pada patung kisah Samudramantana asal situs Sirah Kencong di Kabupaten Blitar, yang kini menjadi koleksi Museum Nasional dari Masa Majapahit. Serupa itu dijumpai pada Miniatur Candi Ampel Gading B, yang memuat kisah Samudramantana. Benda koleksi Museum Trowulan ini berasal dari Masa Majapahit Akhir. Keduanya hadir sebagai perangkat arsitektur, yang berfungsi sebagai pancuran air (jaladwara). Hal ini relevam dengan inti kisah, yang berkenaan dengan ‘Trirthamreta’.

Cerita oral dan tekstual Samudramantana tersebut ditransfoirmasikan pula secara visual ke dalam komponen bangunan candi. Gambaran demikian kedapatan pada candi induk Situs Penampihan di Tulungagung. Lapisan bawah dibuat membulat, sebagai gambaran tubuh kura-kura dan dilengkapi dengan kepala kura-kura (Akupa) di sisi depan (kini koleksi Museum Wajakensis Tulungagung). Lapisan diatasnya dibuat dalam bentuk dua naga saling melilitkan tubuh, lengkap dengan pahatan dua kepala naga – sebagai gambaran bagi Naga Wasuki dan Taksaka/Ananta, yang meliliti Gunung Mandara. Pada candi dengan model berundak ini, teras kedua [beserta tubuh candi – dalam bentuk umpak-umpak pelandas tiang sebagai penyangga atap dan kemuncak candi] yang melambangkan Gunung Mandara. Gambaran demikian pada masa yang lebih muda banyak hadir pada Padmasana dalam bangunan-bangunan suci Pura, utamanya di Bali.

Sebagai tambahan, figur kura-kura dalam ukuran amat besar kedapatan dalam relief lantai di situs Candi Cetho. Tubuh kura-kura berbentuk oval, dilengkapi dengan empat kaki pada masing-masing sudut lengkungnya serta pahatan kepala kura-kura pada sisi depan. Figur kura-kura itu digambakan seakan menumpang seekor burung raksasa yang tengah terbang. Dalam relief lantai ini, kura-kura yang merupakan simbol dunia bawah direlasikan ‘secara binary’ dengan burung sebagai lambang dunia atas. Kurang jelas maksud penggambaran ini, kendati ada pendapat yang menyatakan bahwa fungsinya terkait dengan ‘ritus minta hujan’.

Tatanan balok-baok batu membentuk figur kura-kura berukuran sedang (D = sekitar 1 meter) juga kedapatan di suatu permukaan tanah dalam Situs Goa Pasir di Tuluagung dari Masa Majapahit. Dalam situs ini, selain kura-kura juga terdapat pahatan pada sebongkah batu yang berbentuk garuda dalam posisi terbang. Dengan demikian, relasi garuda fan kura kembali kedapatan hadir di situs Goa Pasir.

Selain itu, di Candi Merak terdapat relief yang menggambarkan Naga, Nandi dan Kura-kura pada sisi penyangga cerat Yoni. Adanya pahatan naga dan kura-kura pada cerat Yoni adalah hal yang sering diumpai, namun kurang lazim untuk pahatan yang berupa lembu jantan (Nandi). BERSAMBUNG ke BAGIAN II.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, 23 Mei 2017

Total
1
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*