Connect with us

BUDAYA

KENDURI APEM DALAM TRADISI BUDAYA AKULTURATIF JAWA “MEGENGAN” JELANG PUASA RAMADHAN

Avatar

Published

on

Edisi Ramadhan 1

KENDURI APEM DALAM TRADISI BUDAYA AKULTURATIF JAWA “MEGENGAN” JELANG PUASA RAMADHAN

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Tradisi Megengan dalam Budaya Islam Jawa

Puasa (saum) yang dijalankan sebulan penuh setiap bulan Ramadhan – varian sebutannya adalah Ramazan, Ramadhan atau Ramathan, yakni bulan kesembilan menurut kalender Islam — boleh dibilang sebagai ‘momentum religis’ di dalam rutual Islam, yakni salah sebuah dantara lima Rukun Islam. Sebagai momentum, maka terdapat ‘penyiapan khusus’ yang dilakukan sebelum memasuki bulan Ramadhan. Umat muslim di berbagai negara mempunyai tradisinya masing-masing jelang memasuki ibadah bulan Ramadhan. Pria muslim di India menghias matanya dengan menggunakan kohl (semacam celak mata). Masyarakat muslim di Cina mempunyai tradisi unik yang dinamakan ‘Muqam’, yakni tari-tarian dan nyanyian yang dilaksanakan oleh muslim Kashgar. Umat muslim di Mauritana pada pesisir Atlantik di Barat Laut Afrika memlki tradisi meminum minuman khas, yakni teh hijau, sambil berkunjung ke setiap rumah dengan tujuan untuk menghidupkan ukhuwah Islamiyah. Di Arab Saudi ada tradisi membunyikan meriam Ramadhan di Mekah pada malam hari sebelum memasuki bulan puasa. Mesir memiliki tradisi penyambutan bulan suci Ramadhan yang dilakukan sejak Dinasti Fattimiyah dengan memasang ‘lampu tradisional Fanus’.

Tradisi jelang memasuki bulan suci Ramadhan juga terdapat di Indonesia. Malahan, memperlihatkan keragaman di daerah-daerah etnik. Pada warga etnik Jawa misalnya, tradisi yang dilakukan antara lain: (a) ziarah kubur (nyadran – berasal dari kata ‘sradha-an’), (b) megengan, (c) bermaafan, (d) pensucian diri dengan ritus mandi, (e) takbir keliling, (f) tabuh bedug bertalu (tidur), (g) dahulu membunyikan mercon (meriam) bumbung, (h) pawai obor, dsb. Megengan adalah sebuah diantara ragam bentuk tradisi jelang Ramadhan di Jawa. Sebutan lain untuknya adalah ‘Ruwahan’, dan ada pula yang menyebut atau mengkaitkan dengan ‘Punggahan’.

Megengan adalah kata jadian di dalam Bahasa Jawa. Terbentuk dari kata dasar (lingga) ‘megeng’ dan akhiran ‘an’. Kata ‘megeng’ tak didapati dalam kosa kata Jawa Kuna dan Tengahan, sehingga bisa jadi baru muncul pada Bahasa Jawa Baru. Menurut Prof. Dr. Nur Syam, secara lughawi kata ‘megengan’ berarti menahan. Misalnya ungkapan ‘megeng nafas’ menunjuk pada menahan nafas. Serupa dengan itu, ‘megeng hawa nafsu’ berarti menahan hawa nafsu. Dalam konteks puasa, yang dimaksudkan dengan ‘menahan’ adalah menahan hawa nafsu selama bulan puasa. Secara simbolik, megengan menjadi penanda jelang memasuki bulan puasa, guna jalani kewajiban menahan hawa nafsu, baik terkait dengan makan, minum, seksual dan nafsu-nafsu lain.

Megengan adalah salah sebuah tradisi indigenous Jawa, sebagai persiapan khusus untuk memasuki bulan Ramadhan yang amat disucikan dalam Islam, dengan melaksanakan selamatan ala kadarnya. Malahan, ada yang mengadakan selamatan besar untuk dibagi-bagikan pada sanak famili, tetangga atau dikirim ke mushola/masjid untuk dikendurikan bersama. Tradisi ini biasa juga disebut ‘mapak’, dalam arti menyambut kedatangan bulan yang penuh rahmat dan ampunan. Sebutan lain atau tepatnya yang terkait dengannya adalah ‘tradisi ruwahan’. Dikatakan ‘ruwahan’, sebab tradisi ini dilakukan di pertengahan ke arah akhir bulan Ruwah (bulan Sya’ban menurut tahun Hijriyyah). Bulan Ruwah adalah bulan ketujuh, penghubung bulan Rajab dan Ramadhan. Bagi para penganut tradisi Jawa, bulan Ruwah adalah ‘bulan penghormatan terhadap arwah leluhur’. Oleh karena itu, selamatan Ruwahan yang diselenggarakan sepuluh hari sebelum Ramadhan dimaksudkan sebagai pengengan, penghormatan dan pemanjatan doa bagi awah leluhur (ancestors worship).

Menilik jeda waktunya, yaitu beberapa hari sebelum pelaksanaan Megengan, tradisi Ruwahan tak sama persis dengan Megengan. Namun, juga tak terpisahkan dengan tradisi Megengan. Mengingat bahwa Nisfu Sya’ban, yang biasa dilakukan di malam ke-15 bulan Sya’ban, adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT dan sekaligus penyucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Biasanya, isi hantaran tradisi Megengan di Jawa tidak meninggalkan tiga sajian makanan, yakni ketan, kolak dan apem. Dahulu pernah terdapat ‘mudik Ruwahan’ dan ‘pasar kaget bulan Ruwah’, lantaran pelaksaan tradisi Ruwahan hanya berselang satu minggu dengan bulan puasa (Ramadhan). Selain terkait dengan Ruwahan, tradisi Megengan berkait dengan ‘Punggahan’, yaitu ritus pasca Megengan untuk menaikkan (istilah ‘unggah; berarti: naik) melalui doa dan syukur bahwa ‘mulai naik’ atau jelang memasuki bulan suci Ramadhan. Implementasi Megengan merujuk pada hikmah ‘penyiapan mental sebelum menempuh puasa di bulan Ramadhan’, dimana ketika itu kita diajarkan untuk saling bersodaqoh.

Varian istilah ‘Punggahan’ adalah yang dalam Bahasa Sunda dinamai ‘munggahan’, yaitu tradisi yan dilakukan seminggu atau dua minggu sebelum bulan puasa dengan berkumpul bersama orang-orang terkasih untuk saling meminta maaf untuk persiapkan diri menuju bulan puasa yang suci. Serupa istilah namun beda kegiatan, di Banyumas terdapat tradisi ‘perlon unggahan’. Dilakukan seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan, dengan ziarah kubur ke makam Bonokeling tanpa alas kaki sambil menjinjing nasi ambeng makanan khas Banyumas, dan diakhiri dengan makan bersama-sama untuk menjaga tali silaturahmi.

Lambat laun tradisi Megengan ditinggalkan, utamanya di perkotaan. Hal ini berlainan dengan di lingkungan pedesaan yang masih kental tradisi, dimana Megengan rutin dijalan setiap tahun sehari atau beberapa hari jelang Ramadhan. Bahkan kendati seseorang atau satu keluarga tak sepenuhnya jalankan ibadah puasa, namun Mengengan tetap dijalankan sesuai kosepsi budaya keagamaan yang diyakininya. Islam Jawa memang memiliki banyak tradisi khas dalam implementasi Islam. Dalam hal ini, tradisi Megengan merupakan salah satu tradisi khas, yang tak dimiliki oleh Islam di tempat lain. Megengan dilakukan dengan perayaan meriah. Antusias menyambut tibanya bulan Ramadhan yang penuh barokah. Suasana demikian ini dalam Bahasa Jawa diistilahi dengan ‘prepekan’, yang berlangsung dua kali: (a) jelang memasuki Ramadhan, (b) jelang memasuki Hari Raya Idul Fitri.

B. Ragam Pendapat Arti Istilah dan Muasal Apem

Sejauh ini terdapat dua pendapat tentang daerah asal pengaruh penganan yang dinamai ‘apem’ di Nusantara. Pertama, mengasalkan kata ‘apem’ dengan istilah di dalam Bahasa Arab ‘afuan, afwan, affan atau afuwwun’, yang berarti maaf atau ampunan. Dalam konteks ini, apem dipandang sebagai simbol permohonan ampun atas berbagai kesalahan. Orang Jawa menyederhanakan kata Arab ini dengan ‘apem’. Tujuan penggunaaannya adalah agar masyarakat terdorong untuk selalu memohon ampun kepada Sang Pencipta. Lambat laun kebiasaan ‘membagi-bagi’ kue apem berlanjut kepada acara-acara selamatan menjelang Ramadhan.

Penganan berbahan dasar tepung beras ini menjadi kue yang wajib dihidangkan pada acara Megengan, dengan harapan warga pemegang tradisi ini menarik pelajaran dari kue Apem, yakni simbol permemohonan ampun kepada Sang Khalik atas perbuatan dosanya selama setahun lalu. Sebelum kue Apem dibagi-bagikan selepas sholat jama’ah Maghrib ataupun Isya’, para jama’ah lantunkan kalimat-kalimat tayyibah – dalam hal ini adalah tahlil dan istighosah, dengan harapan supaya dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan merasa tenang dan berlapang dada, sebab Allah memaafkan segala dosa yang telah mereka perbuat.

Benarkah penganan apem berasal dari Arab? Sebagai istilah untuk kuliner, ternyata di Arab tidak ada penganan yang disebut dengan nama serupa dengan sebutan ‘apem’. Kalaupun ada penganan sejenis apem, namun sebutannya adalah ‘khamir’, yakni kue khas Keluarga Arab yang enak bila disantap untuk sarapan atau camilan sore hari. Khamir dibawa ke Indonesia dengan rasa standar, Namun, seiring dengani berjalannya waktu, kue rumahan ini mengalami evolusi, sehingga sudah ada banyak rasa. Khamir berbentuk bundar, pipih, berwarna coklat, hampir menyerupai kue apem atau serabi, namun sedikit lebih besar dan bantet. Ukuran bervariasi, yang terbesar hingga sebesar lingkaran piring makan. Yang terkecil seukuran lingkaran mangkok. Ukuran itu tergantung pada pemesannya. Cara pembuatannya tidaklah menyerupai kebanyakan pembuatan apem di Indonesia. Selain itu, khamir tidak disajikan sebagai makanan khusus pada ritus jelang puasa Ramadhan. Oleh karena itu, penghubungannya dengan pengamanan apem dalam tradisi Megengan hanyalah ‘otak-atik-gatuk (tak-tik-tuk)’ pada segi istiah.

Berbeda dengan pendapat kedua, yang mengasalkan apem dari India, dengan nama ‘appam’. Suatu nama yang amat dekat dengan sebuatan penganan di Indonesia, yaitu ‘apem’. Appam adalah suatu penganan tradisional tepung beras atau sejenis panekuk yang dibuat dengan adonan nasi fermentasi yang didiamkan selama semalam, dengan mencampurkan telur, santan, gula dan tape serta sedikit garam, kemudian dibakar atau dikukus. Selain dicampur dengan santan, terdapat juga appam yang mempergunakan susu sapi sebagai pengganti santan. Bentuk dan rasa appam praktis sama dengan yang ada di Indonesia atau di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Bentuknya serupa serabi, tapi lebih tebal. Appem biasa disantap dengan kari ayam atau ikan, atau saus bumbu pedas yang mirip dengan sambal, dan paling sering dimakan untuk sarapan atau makan malam. Cara pembuatannya juga banyak memperlihatkan persamaannya dengan di Indonesia.

Appam bermula dari India Selatan, yakni dari daerah Kerala dan Tamil Nadu. Penganan ini telah dikenal semenjak abad pertama Masehi di daerah Tamil, sebagaimana diberitakan dalam literatur Tamil Sangam. Appam adalah makanan yang umum di Kerala, Tamil Nadu dan Sri Lanka, yang dianggap sebagai makanan pokok dan sinonim budaya dengan nasranis dari Kerala. Ahli sejarah makanan KT Achaya menyatakan bahwa appam disebut dalam ‘Perumpanuru Tamil’, yang sudah mapan di negara-negara Tamil kuno (sebagian besar India Selatan sekarang). Dengan demikian, appam pertama kali muncul di ujung selatan India.

 

Sebutannya di daerah Tamil adalah ‘aappam’, di Malayalam dinamai ‘appam’, di Tulu disebut ‘aapa’, dan di Srilangka mumpunyai nama ‘appa’. Sedangkan di Oriya sebutannya ‘chitau pitha’, di Kodava diistilahi ‘paddu atau gulle eriyappa’, dan Burma disebut ‘tunda’. Terdapat banyak varian dari appam, seperti plain appam (vella appam) pada Keralla Selatan-Tengah, palappam, kallappam, gerbong telur, honey hoppers, diyappam, idiyappam paaya, achappam, kuzhalappam, meyyappam, unni appam, appakaram, pesaha appam, vattayappam dan kandarappam. Sebutannya di Indonesia adalah ‘apem’, yang menunjuk kepada penganan tradisional dari tepung beras dan santan berbentuk seperti mangkok /piring kecil dan tipis yang sangat populer diseluruh Indonesia dan Asia Tenggara.

Banyak sekali variasi atau dressing kue apem, Bahkan, tiap daerah memiliki ciri khas tersendiri. Beberapa daerah menggunakan kinca (saus), yang biasanya terbuat dari gula Jawa dan tepung. Beberapa variasinya menggunakan tambahan durian. Apem juga bisa disantap begitu saja, atau menggunakan dressing kelapa parut dan gula pasir. Di daerah Cirebon, apem biasa dimakan dengan gorengan tempe (oncom), dibuat berlapis seperti burger. Gorengan tempe atau oncom diletakkan di tengah, diapit dengan dua lembar apem, yang disantap dengan cabe rawit segar. Variasi lainnya adalah apem khas betawi yang manis rasa dan memiliki bagian tepi yang renyah (crispy).

C. Muasal Apem dalam Konteks Difusi Budaya Islam

Paparan diatas menegaskan bahwa apem berasal dari India, khususnya India Selatan. Oleh karena istilah ‘apem, appam dan serabi’ tidak didapati dalam kosa kata Jawa Juna ataupun Tengahan, ada kemungkinan appam baru memasuki Nusantara sekitar Masa Perkembangan Islam, yakni seiring penyebaran (difusi) budaya Islam ke Nusantara yang dibawa oleh para migran India-Muslim, yang dalam lidah Jawa dinamai ‘Wong Keling’ – ada sejumlah ‘kampung (kampong, gampong) Kling’ di Indonesia. Hal ini juga terdukung oleh adanya pengaruh kuat Islam dari negeri Persia-India pada periode awal Islamisasi Jawa pada Masa Kewalian hingga dua atau tiga abad berikutnya. Pengaruh budaya India ke Nusantara yang sebelumnya berlatar agama Hindu-Buddha, lambat-laun berganti dengan pengaruh Islam, sejalan dengan perkembangan Islam di India sejak masa Kasutanan Dehli (1206-1526) dan Mughal (1526-1857), atau bahkan hingga dua abad sebelumnya – sebagaimana terbukti dalam nisan Fatimah Binti Maimun di situs Leran berbahan marmar asal Cambay (India pantai barat di sekitar Teluk Gujarat, yang mengahap ke Laut Persia) dengan tarikh meninggal 12 Rabiulawal 475 Hijriyah (1082 Masehi). Boleh jadi, Appam masuk ke Nusantara dibawa pedagang India-Muslim asal Gujrat atau khususnya asal India Selatan.

Acapkali tradisi budaya Islam Nusantara yang ‘kreatif-akulturatif’ dipendapati sebagai buah cipta dari Walisanga, khususnya oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Tentu pendapat itu baru sebatas dugaan, berdasarkan pemikiran bahwa kreasi-kreasi tentang Islam Jawa kebanyakan datang dari pemikiran Sunan Kalijaga. Apabila benar bahwa tradisi Megengan berawal dari atau semasa Sunan Kalijogo, berarti tradisi ini konon djadikan sebagai ‘wahana siar Islam’, seperti halnya pada tradisi Sekaten. Megengan mensiasati lewat ‘pembelokan’ atau tepatnya pemberian ‘nafas Islami’ terhadap tradisi Ruwahan yang ada lebih awal, antara lain dengan mengubah ‘sesajian (sajen)’ menjadi ‘shodaqoh makanan’ – khususnya penganan apem, yang menjelang tibanya puasa Ramadhan dipertukarkan, dibagikan atau kenduri bersama.

 

Apem dalam tradisi Megengan dengan demikian adalah bukti sejarah mengenai awal Islamisasi di Nusantara, khususnya di daerah pedalam, yang kala itu masih memiliki tradisi pra-Islam terbilang kuat, seperti slametan, sadranan, pensucian diri dengan media air (diksa air), pantang makan dan minum untuk kurun waktu tertentu (tapa), dsb. Sebagai penganan, mulanya apem hanya dijadikan sebagai salah satu kelengkapan di dalam kenduri, namun kemudian mengalami spesifikasi menjadi ‘slametan apem’ pada tradisi Megengan. Model siar Islam di India yang akulturatif terhadap anasir budaya pra-Islam setempat dipandang sebagai ‘model siar Islam yang tepat-guna’ di Jawa kala itu, baik pada Masa Keemasan ataupun Akhir Majapahit.

Megengan merupakan salah sebuah tradisi budaya Islam di Jawa. Sebagai tradisi, Megengan telah berlangsung ‘lintas generasi’, dengan wujud relatif tetap untuk daerah bersangkutan. Namun, di Jawa tradisi ini tak selalu sama di setiap daerah. Masing-masing daerah bahkan memiliki keunikan tersendiri, meskipun secara umum diwujudkan dalam ‘upacara selamatan’ khas Jawa, dimana tiap-tiap kepala keluarga mengundang tetangga untuk berkenduri (slametan atau kenduren) sembari menikmati pasugatan (sajian) makanan yang telah disiapkan dan dengan mekanisme doa dipimpin oleh seorang imam terdipilih. Penganan yang menjadi ciri khas atau simbol tradisi ini adalah apem. Tradisi Megengan dijadikan sebagai ‘ajang silaturrahim’, dengan membagikan kue apem sebagai simbol permintaan maaf antar sesama Muslim jelang memasuki Bulan Suci Ramadhan. Cukuplah alasan untuk menyatakan bahwa tradisi Megengan adalah produk ‘akulturasi antara budaya lokal Jawa dan budaya Islam’, yang intinya mengingatkan bahwa sebentar lagi bakal memasuki Bulan Suci Ramadhan sebagai ‘Bulan Berpuasa’.

D. Ragam Tradisi Jelang Ramadhan

Tradisi jelang Ramadan merupakan fenomena jamak di Nusantara, bukan hanya terdapat di Jawa. Pada masyarakat muslim di Karang Asem (Bali) misalnya, tradisi menjelang Ramadhan dinamai ‘Magibung’, yatu makan bersama diselingi dengan obrolan ringan. Kemeriahan jelang Ramadhhan tergambar pada ‘padusan’, yang kian lama kian banyak dilakukan di berbagai tempat, yaitu suatu cara yang dipercaya bisa ‘menyucikan diri’ dengan mandi atau berendam di laut atau pada sumber air yang dianggap keramat.

Di Riau ada menjelang Ramadhan dihelat pesta rakyat dengan beramai-ramai memenuhi tepian sungai guna melihat perlombaan dayung yang disebut dengan ‘Jalur Pacu’ dan diakhiri dengan ‘tradisi Balimau Kasai’, yaitu bersuci diri jelang matahari terbenam hingga malam. Sementara, orang Betawi melakukan kegiatan ‘nyorog’, yakni tradisi pada tiap memasuki Ramadhan dengan ‘membagikan bingkisan’ kepada anggota keluarga atau tetangga dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Biasanya dilakukan orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua sembari meminta restu bagi kelancaran ibadah puasanya selama satu bulan mendatang.

Warga muslim di Minangkabau melakukan ‘malamang’. Sesuai pola “matriarkhat” di ranah Minang, tradisi ini dilakukan oleh kaum ibu-ibu, terkait dengan ajaran dari Syech Burhanuddin dalam bentuk memasak lemang, yakni makanan khas dari adonan beras ketan putih dan santan yang dimasukkan ke dalam bambu. Selain itu di Minangkabau dilaksanakan tradisi “Balimau’, yakni mandi dengan jeruk nipis untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.

Kemeriahan jelang memasuki Ramadhan juga tergambar dalam tradisi ‘Dugderan’ di masyarakat Semarang, yang telah dilakukan sejak tahun 1881. Perhelatan rakyat ini diisi dengan tari-tarian, karnaval, tabuh bedug, utamanya mengarak ‘Warak Ngendong’ yang menjadi simbol acara. Pada ujung barat Indonesaia, yaitu Aceh, diselenggarakan tradisi ‘Meugang’ – mempunyai kemiripan sebutan dengan ‘megeng-an’ di Jawa namun dengan kegiatan yang berbeda, yaitu tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama orang terkasih dan yatim piatu, mirip dengan Idul Adha dimana masyrakat beramai-ramai menyembelih kurban berupa kambing atau sapi. Di Kudus tradisi jelang Ramadhan diisi dengan ‘Dandangan’, sudah ada sejak 400an tahun lalu (era Sunan Kudus), dalam bentuk pasar malam yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga.

Adapun di Banyumas terdapat tradisi ‘Perlo Unggahan’, bentuk ziarah kubur seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan. Pelaku upacara diharuskan lepas alas kaki sambil menjinjing nasi ambeng (makanan khas Banyumas), dan diakhiri dengan makan bersama-sama untuk menjaga tali silaturahmi. Serupa itu, di Palembang dilakukan ‘Ziarah Kubro’, yaitu ziarah ke makam para leluhur dan ulama. Adapun di Makasar diselenggarakan tradisi ‘Suro’ baca’ di kalangan suku Bugis pada akhir bulan Sya’ban atau H-7 sd H-1 Ramadhan dengan makan bersama sekaligus silahturrahmi. Biasanya diisi dengan doa bersama dan diakhiri dengan ziarah ke makam para leluhur. Bentuk pensucian diri di Surabaya adalah dengan memakan kue apem, dan tak kalah pentingnya adalah melakukan ‘nyadran’, yakni ziarah kubur jelang bulan puasa Ramadhan, yang diisi membersihkan makan, tabur bunga, bahkan kenduri di makam leluhur.

Demikianlah tulisan bersahaja ini dibuat sebagai tambahan khasanah pengetahuan kepada publik, berkenaan dengan ‘tradisi budaya Islam’ yang diselenggarakan jelang Ramadan. Selah satu tradisi itu, yang menjadi fukus telaah ini, adalah ‘Tradisi Megenggan’, dengan penganan apem sebagai oborampe kuliner yang khas. Semoga membuahkan kefaedahan. Selamat tunaikan ‘Hari Perdana Saum Ramadhan 2017’. Wassalamu’alaikum WR. WB.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, 26 Mei 2017

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BUDAYA

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

Avatar

Published

on

 

Edisi ‘TAKJIL KHAS RAMADHAN’ 1

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

A. Familiaritas Kolak pada Rumpun Melayu

Apabila di Dunia Arab pembuka berbuka puasa adalah kurma, maka kolak lah yang lazim serta difavoriti sebagai ‘pembuka buka pausa’ di Indonesia. Mulai dari lingkugan keluarga bersahaja hingga di restoran mahal sekalipun, kolak menjadi menu sajian terawal yang disuguhkan untuk membatalkan puasa setibanya bedug Maqrib. Oleh sebab itu dapat dimengerti bila salah sebuah kuliner yang hampir senantiasa ada diantara beragam penganan yang dijajakan pada bedak-bedak dadakan yang menjamur di sore hari manakala tiba puasa Ramadhan adalah kolak. Kuliner inilah yang seolah menjadi ‘rajanya takjil’, yang pertama dan yang utama dikonsumsi oleh banyak orang, tatkala berbuka puasa. Bahkan, tahap permulaan berbuka puasa telah serasa cukup kendati hanya dengan menyatap kolak.

Menilik demikian lamanya waktu kolak dikonsumsi, luasya daerah persebaran kulier kolak, dan banyaknya pemiat kolak – terlepas apapun statra soasial-ekonomiya, maka tak berlebihan untuk menyatakan bahwa kolak adalah kuliner yang amat mengkeluarga (familier) pada masuarakat di Indonesia. Sebenarnya, selain di Indonesia kuliner ini juga dikenal di negara-negara lain dalam region Asia Tenggara yang dihuni oleh rumpun bangsa Malayu, Kolak hadir dalam lintas masa, lintas area dan lintas sosia pula, sebab kapanpun, dimanapun dan siapapun hampir-hampir pernah mengkonsumsi kolak. Malahan, terdapat orang-orang tertetu yang mencandui kolak, baik ketika berbuka puasa ataupun pada kesempatan lain. Dengan perkataan lain, kolak adalah kuliner yang ‘merakyat’ – namun, bukan berarti bahwa kolak hanya dikosumsi rakyat kecil, karena kalangan atas pun terbukti doyan kolak.

B. Etimologi dan Tafsir Makna Istiah Unsur Kuliner Kolak

Ada sejumlah varian sebutan untuk ‘kolak’, antara lain ‘kolok, kulak, kolêk, dsb’. Sebagaimana sebutan-sebutan lain untuk kuliner yang berkeanan dengan ritual Islam, seperti ‘apem dan kupat’, sebutan ‘kolak’ juga diasalkan dari bahasa Arab. Kyai sepuh dari Pondok Pinang Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan, yakni almarhun KH Hasbullah, menyatakan bahwa kata ‘kolak’ berasal dari istilah dalam bahasa Arab ‘kul laka (makanlah, untukmu)’. Pendapat lain mengasalkannya dari kata dala, bahasa Arab ‘khala’ atau ‘kholaqo’, yang bisa diturunkan menjadi kata ‘kholiq’ atau ‘khaliq’ yang berarti pencipta, pencipta alam semesta dan menunjuk kepada Allah SWT. sebagai pencipta seluruh makhluk yang hidup di alam semesta. Selain berarti pencipta, dapat pula berarti: Tuhan yang disembah, Pengatur dan Pemelihara, Pemberi bentuk, dan Tuhan Yang Maha Perkasa. Sebutan ini dijadikan media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bukan hanya itu, unsur-unsur di dalam kolak pun difilosofikan dalam kaitan dengan ajaran Islam. Pisang jenis ‘kepok’ yang paling umum digunakan sebagai isian kolak merujuk pada ‘kapok (jera)’ dalam bahasa Jawa, yakni istilah ibarat agar manusia jera berbuat dosa dan segera bertobat kepada Allah SWT. Selain itu, isian kolak lainnya, yaitu ubi, dikenal dengan sebutan ‘telo pendem’ – masuk kategori ‘polo pendem’, memuat filosofi bahwa manusia harus mengubur kesalahannya dalam-dalam. Reka foilosofis lainnya menghubungkan dengan kematian, yaitu media pengingat bahwa suatu saat manusia pasti mati dan kemudian dikubur (dipenden) di dalam tanah. Kematian mungkin saja akan datang, semudah kita menyendok kolak ke dalam mulut. Unsur lain sebagai bahan kolak adalah santan, yang dalam bahasa Jawa disebut ‘santen’, sebagai kependekan dari ‘pangapunten (permohonan maaf), yang menjadi media pengingat agar manusia seantiasa meminta maaf atas kesalahannya.

Etimologi dan tafsir makna sebagaimana dikemukakan pada alinea diatas adalah ikhtiar baik untuk menjadikan makanan sebagai media pembelajaran budi pekerti dan penguat keyakinan keagamaan. Namun, bukan berarti bahwa muasal sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab. Entah dari istilah ‘kul laka (makanlah)’ atau ‘khala, kholaqo, kholiq, khaliq (pencipta)’. Etimologis yang demikian hanya mendasarkan pada keserupaan istilah, dan terkesan dipas-paskan. Jika dasarnya hanya keserupaan istilah, maka tak usah jauh-jauh istilah serupanya dicari dalam bahasa Arab, melainkan cukup dicari di Jawa, padamaa kolak berada. Sebutan ‘kolak’ atau variannya ‘kulak (kula’)’ mempuyai keserupaan dengan istilah dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan, yaitu ‘kula’, yang antara lain berarti: kawanan, pasukan, kumpulan, oramg banyak, jumlah, suku, keluarga, rumpun, kasta, rombongan, keluarga bangsawan atau unggul, keluarga, keturunan, asal-usul (Zoetmulder, 1005: 530).

Dalam arti kumpulan, kuliner kula+k (kulak) atau kula’ dicirikan oleh adanya sekumulan bahan makan yang diisikan ke dalam kuah kolak. Dengan perkataan lain, ke dalam kuah kolak terbuka untuk diisikan beragam bahan makan, baik berupa buah, bijian atau bahan makan lainnya. Selain menggunakan pisang dan ubi, saat ini modifikasi kolak juga telah banyak ditemui. Mulai dari gabungan penggunaan pacar Cina, tapai singkong, ketan, roti, serabi, jenang, kolang-kaling, buah labu, buah nangka, rumput laut, biji salak atau ubi yang diolah menyerupai biji salak, dsb. Adapun dalam arti keluarga, kolak adalah kuliner yang amat lama familier (mengkeluarga) pada masayarakat Nusanara, khususnya Jawa. Boleh jadi, asal kuliner kolah bukan dari Timur Tengah, melainkan dari Nusantara sendiri.

Dengan mengasalkan sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab, maka diambill alibi bahwa kolak berasal dari Timur Tengah. Kelatahan mengasalkan kolak dari Timur Tengah juga pernah dikemukakan William Wongso, yang menyatakan bahwa kudapan ini dimungkinkan berasal dari negara Timur Tengah. “Mereka itu suka makanan manis-manis, jadi kalau kolak kemungkinan dari sana,” ujar pakar kuliner Nusantara ini saat dihubungi harian Republika (Rabu (17 Juni 2017). Sebenarnya, apabila alasannya karena genar mengkonsumsi makanan yang rasanya manis, bukan hanya orangTimur Tengah yang suka makanan manis, namun orang Jawa – utamanya orang Semarang, Yogyakarta dan Surakarta – juga gemar rasa manis pada beragam makaan dan minumannya. Bahkan, semenjak masa Hindu-Buddha masyarakat Jawa Telah mengeal miuman yang rasanta manis seperti kilang dan cairan gula merah untuk pemanis kuah yang dinamai ‘juruh’.

C. Kegemaran Minuman-Makanan Rasa Manis

Kolak bisa dimasukkan sebagai ‘makanan’ apabila ditilik dari buah, biji-bijian atau bahan makan lain yang terdapat di dalamya. Namun dapat pula dimasukkan sebagai ‘minuman’, sebab berkuah manis, yang dibuat dari air ditambah dengan santan, garam secukupyam daun pandanm fanili, dan gula – mulaya digunakan jenis ‘gula merah’, seperti gula aren, gula kelapa (gulo klopo) atau gula siwalan (tal), namun kini gula putih lazim digunakan sebagai pengganti atau campuran gula merah. Oleh karena itu, cita rasa kolak adalah manis. Lantaran rasanya yang manis itu, maka kolak serupa dengan kurma, yakni cocok untuk makaan pembuka dalam berbuka puasa. Kelebihan kolak bila dibandingkan dengan kurma dalam hal ini ada;ah selain manis juga berkuah, sehingga rasa dahaga lataran tidak minum seharian segera dapat tertasi.

Masyarakat Nusantara, terlebih orang Jawa, banyak menyukai rasa manis. Pemanis yang berupa gula – dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan disebut ‘gendis’ – telah lama digunakan, Kolak yang berasa manis karenanya termasuk kuliner yang disukai dari masa ke masa. Masyarakat Jawa telah demikian lama mengenal dan menggemari minuman manis. Salah satu diantaranya adalah kilang, yakni minuman beragi dari tebu (Zoetmulder, 1995:500). Kilang juga digunakan untuk menyebut nira kelapa, aren ataupun tal yang direbus — bila direbus terus akan mengental, dan bisa dijadikan gula merah. Selain itu santan juga sudah terbiasa dipakai untuk memasak. Bila santan dicampurkan ke dalam kilang, maka jadilah kuah kolak. Hanya saja, pada umumnya kuah kolak dibuat dari air dicampur dengan santan dan arsiran gula merah dan kemudian direbus hingga mandidih. Kedalam kuah tersebut dimasukkan buah, biji-bijian atau bahan makan lainya, sehingga terbentuklah kolak pisang, kolak candil ketan, kolak labu, kolak ubi jalar, kolak durian, kolak kolang kaling, kolak singkong, kolak apel, kolak kacang hijau, kolak cendol. kolak serabi, kolak biji salak, kolak kelapa muda, kolak jenang (jenang kolak), kolak rumput laut, kolak bola pelangi. kolak sagu mutiara, kolak pisang ijo, kolak pisang coklat, kolak paris, kolak tapai, kolak havermunt pisang, kolak pudding, kolak roti, dan banyak lagi. Terbayang bahwa kegemaran mengkonsumsi kolak adalah kelanjutan dalam bentuk lain dari kesukaan meminum kilang.

Kilang adalah salah satu miniman yang telah lama dikenal dan digemari Masyarakat Jawa, bahkan semejak masa Hindu-Buddha. Jenis mimuman lainnya adalah twak, sidhu, cinca (kinca), brem, arak, jnu, bunga campaga, bunga pandan, bunga karaman, jatisara, air kelapa, mastawa, dsb. Dalam sumber data prasasti, kilang tekah disebut di dalam abad X Masehi, yairu prasasri Watukura (902 Masehi) dan Alasantan (939 Masehi) serta pada sejunlah sussstra Jawa Kuna dan Tengahan, seperti dalam kitab Brahmanda Purana (142, 161), Sumanasantaka (38.1), Arjunawijaya (31.10), Nagarakretagama, Partayajna (18.7), Subhadra Wiwaha (7.4), Kidung Hasyawijaya (1/37, 4.54), Kidung Malat (7.77), dan Wangbang Wideya (6.184). Menilik lamanya waktu dan banyak sumber data yang memberitakan, tergambar bahwa ninuman kilang ini banyak dimiati warga Jawa pada zamannya. Peminatnya mulai kalangan rakyat hingga para bangaswan, Kebiasaan mengonsumsi kilang berlanjut dengan beberapa perubahan menjadi kolak.

 

Ada kemungkinan, sebagai sebutan, kata ‘lolak’ baru digunakan paaa Masa Hindu-Buddha, karena sebutan ini tidak dijumpai dalam sumber data tekstual Masa Hindu-Buddha, baik prasasti ataupun susastra. Pada Masa Perkembangan Islam, awalnya kolak disajikan bulan Syaban, atau satu bulan sebelum memasuki Ramadhan. Pada bulan Syaban, umat Muslim diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud ketakwaan jelang memasuki ‘bulan yang penuh berkah’, yaitu bulan Ramadhan,. Tradisi mengkonsumsi kulner kolak itu berlanjut hingga memasuki bulan Ramadhan, utamanya sebagai kudapan (takjil) ketika buka puasa. Demikianlah, kolak adalah kuliner Nusatara yang telah meniti perjalanan sejarah pajang. Selamat menikmati hidangan kolak, semoga melagakan tenggorokan. Nuwun.

Sangkaliang, Griya Ajar CITRALEKHA, 19 Mei 2018

 

Continue Reading

BUDAYA

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Avatar

Published

on

Salamun ya Ramadhan

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Arti Istilah dan Ragam Jenis Puasa

Istilah ‘puasa’ adalah kosa kata bahasa Indonesia, yang pada bahasa Jawa disebut ‘poso’. Dalam bahasa Arab sebutannya adalah ‘shaum’, yang berarti : menahan diri dari segala sesuatu. Puasa dilaksanakan dengan atau dimaksudkan untuk menahan diri dari segala perkara, seperti makanan, minuman, berbicara, menahan nafsu dan syahwat, dsb. Sedangkan secara harafiah, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Pokok kegiatan puasa (shaum) adalah ‘menahan diri’, atau bisa disinonimkan dengan ‘pengekangan diri’. Dalam arti ‘pengekangan’ itu, pada bahasa Jawa Kuna terdapat istilah ‘pasa’, yang secara harafiah berarti : jerat, perangkap, ikatan, rantai, dan kekangan (Zoetmulder, 15:76). Istilah ini menunjuk pada benda, atau senjata ataupun tindakan.

Dalam kakawin Ramayana (24.59) terdapat perkataan ‘pasa-brata’ yang diarahkan pada tindakan durjana. Secara harafiah perkataan ‘pasabrata’ berarti: kelakuan (kewajiban) untuk menggunakan rangkaian (dalam peggunaan kekuatan kersanya). Pada arti istilah ‘pasa’ itu tak dipeoleh gambaran pengekangan diri dengan tidak makan-minum, bicara, ataupun nafsu-syahwat. Pengekangan diri untuk perihal ini secara lebih khusus dilakukan dalam bentuk ‘tapa’, yang berarti: tapa, ‘mati raga’, pengendalian indera atau nafsu, yoga. Kata ‘tapa’ acapk dikombiasi dengan kata ‘bhrata’ menjadi ‘tapa-bhrata’, dalam artiL ketaatan ibadat reliegius, tapa (Zoetmulder, 1995:1210). Dalam bahasa Jawa Baru, kegiatan demikian disinonimkan dengan ‘tirakat’.

Ada berbagai macam puasa, baik kategori wajib (fardhu). sunnah, makruh, maupun puasa haram (moharram). Ragam puasa kategori wajib adalah puasa Ramdhan, puasa Qodha (pegganti puasa wajib lantaran berhalagan), puasa Kafarat (puasa penebusan dosa besar, seperti membunuh dan melanggar sumpah), puasa Nadzar (puasa pemenuh janji, di dalam bahasa Jawa disebut ‘ngluwari ujar’). Adapun yang masuk kategori puasa sunnah adalah puasa 10 hari di bulan Syawal, puasa 10 hari pertama budan Dzulhijah, puasa Hari Arofah (tanggal 9 Dzulhijah), puasa Senin dan Kamis, maupun puasa Dawud (puasa berselang-seling waktu). Puasa makruh dikhususkan pada hari jumat dan sabtu. puasa Moharram – terutama hari Asyyro’ (tanggal 10 Muharram), puasa Sya’ban, puasa padda bulan harom (bulan yang dimuliakan), terdiri atas bulan Dzulqo;dah, Dzulhijah, Moharram. Rajab, dan sehari pasca Idul Fitri serta sepajang tahun, Selain itu, masayarakat Muslim Jawa juga mengenal poso pati-geni, poso mutih, poso ngrowot, dsb.

Diatara beragam puasa itu, yang utama adalah puasa Ramadhan, sehingga diwajibkan ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S. Al-Baqoroh;183-184). Tulisan ini lebih banyak membicarakan tentang tradisi jelang puasa bulan Ramadhan, yang diistilahi dengan “prepegan” dan “megengan”.

B. Aktifitas Prepegan atau Megengan Jelang Bulan Suci Ramadhan

Apabila meilik waktu pelaksaaannyam yakni sebula punh di bulan Ramadhhan, yang wajib untuk dilakukan oleh semua umat Islam yang memenuhi syarat, maka puasa ini terbilang ‘puasa besar’. Oleh karena itu bukan hanya hal-hal ekstra yang musti dilakukan selama menjalakan ibadah puasa, namun ada hal ekstra pula yang dilakukan sebelum mamasuki ‘bulan suci’ Ramadhan, Prinsipnya, ketika memasuki bulan suci ini para pelaku puasa hendaknya telah dalam kondisi suci. Pembersihan tidak hanya dilakukan untuk dieinya, namun juga dilakukan terhadap reladinya dengan sesama manusia yang masih hidup maupun dengan leluhurnya yang telah tiada. Untuk itu dilakukan permohoan maaf kepada sesama manusia yang hidup, ziarah kubur (salah satu sebutan dalam bahasa Jawa mengenai itu adalah ‘sadranan’), pembersihan diri – antara lain menggunakan media air, Selain itu, ada sejumah kegiatan untuk memarakkan proses memasuki bulan Ramadhan, seperti selamatan (slametan, manganan), takbir keliling – ada pula yang menyertai dengan ‘pawai obor’, menabuh bedug bertalu-talu, dan varian kegiatan lain.

Pendek kata, pada satu atau dua hari menjelang memasuki bulan suci Ramadhan ada suatu kondisi khusus, yang diibaratkan sebagai suatu : pergerakan bersama secara berfokus guna mendekati atau memasuki sesuatu’ — dalam hal ini, sesuatu itu adalah bulan suci Ramadhan, padamana umat Islam mendalan ibadah puasa. Kondisi demikian dalam bahasa Jawa diistilahi dengan ‘prepek’ atau akata jadianya ‘prepegan’. Akar kata ‘prepeg (pa-repeg)’ adalah ‘rep’, yakni partikel desktipsi, (dengan) medadadk. Kata ulang ‘rep-rep’ atau ‘arep-rep’, yang berarti: dengan gerakan yang cepat dan tiba-tiba, berkibar-kibar (Zoermulder, 1995:942).

Selain kata ‘prepegan’ dihubungkan dengan waktu jelang memasuki bulan Ramadhan, istilah ini lebih sering digunakan untuk menyebut kurun waktu pendek (satu atau dua hari) jelang datangnya Idul Fitri (Lebaran). Dalam hubungan itu, ada yang membedakannya ke dalam: (a) prepegan cilik (kecil) utuk menyebut waktu dan suasana pada dua hati jelang Lebaran, dan (b) prepegan gede (besar) untuk menyebut kurun waktu atau suasana pada sehari jelag Lebaran. Suasaa itu antara lain ditandai oleh suasana pasar yang ramai sesak, karena sebagian besar orang pergi untuk berbelanja ke pasar guna memenuhi segala kebutuhan pada hari Lebaran. Suasaa pasar yang tambah marak, juga berlagsug jelang Ramadhan, yang disertai dengan naiknya harga bahan pangan, meski tak semarak jelang Lebaran.

Istilah lainnya untuk menyebut kurun waktu satu atau dua hari jelas memasuki Ramadhan adalah ‘megengan’, yang berkata dasar ‘megeng (ma-geng)’ dan berakar kata ‘geng (besar)’. Ada pula yang mengartikan kata ‘megeng’ dengan: menahan (ngempet), berkaitan dengan peringatan bahwa sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan, dimana umat Islam diwajibkan menjalankan puasa, yaitu menahan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa itu. Kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, sesuai adat setempat. Umumnya waraga berbondong-bondong melakukan ziarah kubur, membersihkan makam, menaburi denga bunga dan mendoakan arwah leluhur. Suana marak ditandai dengan masak besar untuk dibagi-bagikan pada sanak famili. Pada malam harinya diadakan slametan (kenduri) untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal. Ada pula yang mengadakan selamatan bersama di masjid, langgar atau mushola.

Nabi Muhammad SAW untuk senang, bergembira, atau bersuka cita menyambut tiba bulan Ramadhan. Peristiwa ini di Jawa dinamai “megengan”, siatu tradisi turun temurun untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas berkat-nikmatya selama setahun berlalu. Tradisi ini juga dijadikan pertanda bahwa sebentar lagi datang tamu istimewa, yakni Ramadhan. Megengan merupakan bukti kerukunan warga masyarakat di dalam menjalin kerukunan dan kerjasama menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Biasanya megengan dilakukan di minggu terakhir bulan Sya’ban (Ruwah).

C. Makna Kuliner Apem dalam Selamatan Megengan

Salah satu pengaan khas yang disajikan dalam slametan megegan adalah apem. Seusai malam nisfu sya’ban, beberapa hari jelang bulan Ramadhan, umat muslim bisanya melakukan tradisi megengan dengan membagikan kue apem kepada tetangga kanan kiri rumah. Ada yang mengasalkan istilah ‘apem’ dari kata ‘afum’. yang artinya adalah meminta dan memberi maaf. Oleh karena masyarakat Jawa tidak mengenal huruf ‘F’, maka kata ‘afwun’ berubah sebutan menjadi ‘apwun’. dan kemudian menjadi ‘apwum’, lantas berubah jadi ‘apwem’, dan akhirnya disebut ‘apem’.

Bahan dasar apem adalah tepung beras, yang melambangkan kebersihan dan kesucian. Sedangkan santan merupakan sari buah kelapa sebagai akronim dari kata Jawa sagetho nyuwun pangapunten, yang bermakna permohonan maaf. Gula dan garam melambangkan perasaan hati. Apabila semua bahan-bahan itu dijadikan satu, makna simbolikya adalah kesucian dan ketulusan hati. Jadi, makan kue apem bisa diartikan memohon maaf kepada keluarga, sanak saudara dan teman. Usai memakan apem, biasanya orang-orang saling bersalaman, meminta maaf dan membaca doa.

Tradisi megengan diwarnai dengan rasa syukur dengan membagi kue apem kepada tetangga. Rasa syukur dan nuansa kekeluargaan (keguuyuban ) terkadung kental didalamnya. Meskipun kue apem dalam megengan hanyalah sebentuk kiliner, namun substansi maknaya dalam. Suatu nilai kultural luhur, yang patut dilestarikan, dimasyarakatkan dan dipetik maknanya untuk diejowarahkan dalam kehidupan bermasyarakt. Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, semoga bisa membuahkan pirifikasi (pembersihan diri) terhadap segala ‘kekotoran’ yang mengotori diri selama satu talun berlalu. Nuwun

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 16 Mei 2018

Continue Reading

BUDAYA

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP

Avatar

Published

on

 

Khasanah Heritage Songhenep

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP : Menuju “Labang Mesem Cultural Movement”, Wahana Smiling Sucsesion

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Makna ‘Mesem” pada Gapura Labang Mesem

Mutiara kata menyatakan ‘sambutlah tamumu dengan senyuman’. Suatu ekspresi sikap ‘ramah’ yang murah namun bermakna, yang keluar dari hati bersih-tulus kepada orang lain yang berelasi dengannya. Seyuman yang dalam bahasa lokal Jawa maupun Madura disebut ‘mesem (sunggingan senyum)”, dalam hal penerimaan tamu bukan sekedar citra pantomimik pada raut muka seseorang, namun lebih daripada itu menyiratkan makna yang berkenaan dengan etika pergaulan (toto kromo), yaitu: (a) selamat datang, disambut baik, penyambutan (welcome) (b) kesediaan atau keterbukaan untuk menerima kehadiran orang lain, maupun (b) pengharapam agar niat baik untuk mengadakan pertemuan itu membuahkan hasil yang baik (kefaedahan) bagi kedua pihak, ‘Murah senyum’ acap dimaknai dengan kebaikan hati. Sebaliknya, ‘pelit senyum’ dikonotasikan dengan kesombongan, keculasan dan ketidakbersahabatan. Demikianlah, senyuman memiliki makna serta manfaat yang mendalam. Meski hanya sekejap, senyuman dapat menjadi kenangan yang bertahan lama. Senyum menciptakan kebahagiaan bagi sekitar. Senyum yang tulus adalah ibadah. Memberikan senyuman untuk semua orang akan memberi keceriaan, sebab senyuman membuka pintu kebahagiaan. Ketika seseorang tersenyum tanpa paksa (tulus), ia membuat suasana perasaan menjadi lebih riang. Orang yang berjumpa dengannya atau berada di sekitarya ikut tersenyum dan merasa jadi lebih bahagia.

Dalam kaitan dengan sunyum, adalah unik bahwa nama yang diberikan untuk gapura masuk di sisi timur dari Keraton Sumenep adalah ‘Labang Mesem’. Kata ‘labang (diujar dengam logat Madura ’labeng”) dalam bahasa Jawa dinamai ‘lawang’. Keduanya menunjuk kepada pintu atau gapura dalam bahasa Indonesia. Pada kedua kata itu, yang berbeda hanyalah kosonan ‘W’ dan ‘B’-nya, dimana kedua kosonan ini acapkali ‘bertukar’, baik pada bahasa yang sama namun beda masa atau pada dua bahasa yang bertetangga seperti pada bahasa Jawa dan Madura. Labang mesem dengan demkian secara harafiah berarti: gapura tersenyum. Sudah barang tentu, penamaanya itu bukanlah tanpa pertimbangan, yaitu simbol: keramahan, sikap ramah kepada siapapu yang datamg bertamu ke Keraton Songhenep (toponimi lama untuk apa yang kini dinamai ‘Sumenep”). Siapapun yang datang bertamu mustilah dihormati, harus disikapi dengan ramah, dan diterima dengan lapang hati. Tamu ibarat ‘raja’, meskipun tempat yang didadatangi tersebut adalah tempat kediaman sang raja (disebut ‘karajyan = ka+rajya-an’), datu (dinamai ‘kadatwan = ka-datu-an’), atau ratu (dibilang “keraton = ka-ratu-an’).

Setidaknya terdapat tiga versi kisah lokal terkait dengan latar pemberian nama ‘Labang Mesem’. Pertama, dahulu pintu gerbang keraton dijaga oleh dua orang cebol – diidikatori oleh adanya dua buah ruangan berpintu rendah di kanan dan kiri gapura serta terdapat kuburan cebol kompleks makam Astatinggi. Lataran penjaganya orang cebol, maka tak heran apabila sering menghadirkan senyum pada orang yang melintasinya. Kedua, ruang terbuka yang berada di bagian atas koridoor adalah tempat raja mengawasi area di sekitar keraton, temasuk putri-putri dan para istrinya yang sedang mandi di Taman Sari (logat Madura ‘Taman Sare’). Ketika memperhatikan putri dan atau istrinya yang sedang mandi itu, raja terseyum simpul (mesam-mesem). Ketiga, pada suatu ketika Kasultaan Sumenep berhasil memukul mundur pasukan Bali. Timbul rasa dendam darinya, dan bermaksud menuntut balas. Namun tatkala pasukan Bali datang ke Sumenep, tepat di depan gerbang keraton, amarah mereka serta merta berubah, sebab warga keraton Sumenep meyambut dengan senyum ramah penuh persahabatan.

Terlepas dari versi mana yang benar, keseluruhannya menggarisbawahi perihal ‘senyum (mesem)’ terkait dengan keberadaan gapura sisi timur keraton Sumenep. Konon wujud senyuman tidak hanya tergambar pada unsur nama ‘mesem’, namun diperkuat oleh sebuah arca yang menggambar figur yanng menyunggingkan senyuman. Menurut persaksian RP. Mohammad Mangkuadiningrat, dahulu arca itu ditempatkan di sebelah timur dari pendapa keraton, dekat dengan ‘rumah lonceng’, yang terlihat lurus dari arah pandang luar gapura Labang Mesem. Namun sayang sekali, arca yang mengekspresikan senyuman itu, selaras dengan unsur nama ‘mesem’ dari gapura keraton tersebut, kini telah tiada lagi, sehingga perihal ‘seyuman’ hanya tersisakan pada unsur nama gapura. Kendati demikian, tak lantas menyurutkan keramahan warga Sumenep, yang dikenal satun dan bersahabat (friendelig).

B. Ekspresi Akulturatif Gapura Labang Mesem pada Kompleks Keraton Sumenep

Labang Mesem dibangun tahun 1781, bersamaan waktu dengan pembangunan Keraton Sumenep pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo (Pangeran Natakusuma I) oleh arsitek keturunnan Tiong Hoa bernama Lauw Piango – mengungsi ke Madura sebagai akibat Huru Hara Tionghoa di Semarang tahun 1740. Bangunan yang berwujud gapura ini adalah salah satu dintara dua gapura yang tersisa, yang semula lengkapnya berjumlah lima buah (dinamai ‘ponconiti’). Posisinya pada bagian depan keraton Sumenep menghadap ke selatan, berloksi di sebelah timur Gedong Negeri, dekat Taman Sari (dialek Madura ‘Taman Sare”). Gapura Labang Mesem dengan demikian hanya salah sebuah komponen arsirektur pada kompleks keraton Pajagalan (sebutan populernya ‘keraton Sumenep’) selain pendopo agung, gedong negeri, pengadilan keraton, paseban, taman sare, serta beberapa bangunan pribadi keluarga keraton.

Secara arsitektural Labang Mesem yang monumental masuk dalam kategori gapura padhuraksa, yaitu suatu jenis gapura (selain ‘candi bentar’), yang lazimnya ditempatkan dan difungsikan untuk memasuki ruangan yang dipandang suci atau penting. Gapura padhuraksa ini dilengkapi dengan ‘sayap’ di kanan-kirinya, sehingga bisa disebut ‘gapura bersayap’. Gapura bersayap telah terdapat semenjak Masa Hndu-Buddha dan berlanjut penggunaannya hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam. Meski beda masa dan berlainan latar religisnya, namun model arsitektur dari keduanya sama, yakni sama-sama berupa gapura bersayap. Arsitektur yang berasal dari lapis masa dengan latar religis berbeda, yaitu Masa Hidu-Buddha, tidak disikapi dengan ‘penolakan’. Suatu siakap buadaya Madura yang tidak inklusif, sebaliknya membuka diri bagi pengaruh budaya lain, seperti keterbukaannya dalam menerima tamu yang disimbolkan oleh gapura Labang Mesem. Pemangku budaya Madura terbuka terhadap budaya luar tanpa meninggalkan budayanya sendiri. Dengan perkataan lain mengadaptasi anasir budaya luar kepada budaya setempat, sehingga terbuahkan paduan budaya yang akulturatif.

Pada gapura Labang Mesem yang dibangun semasa pemerintahan Panembahan Sumolo ini, unsur arsitektural dari Masa Hindu-Buddha lainnya adalah atap yang berbentuk tumpang (meru), yakni atap bersusun dalam jumlah gasal (ganjil), yang pada gapura ini terdiri atas tiga susun, yang makin ke atas semakin mengecil dan diakhiri dengan kemuncak (Memolo). Atap meru juga didaati pada Masa Hindu-Buddha, baik pada bangunan profan terlebih pada banguan sakral, Model atap yang demikian juga berlanjut hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam, Bahkan, di beberapa daerah berlanjut sampai sekarang, seperti tergambar pada bangunan suci pura, masjd, dan sebagainya. Atap meru iitu menaungi ruangan berdinding terbuka yang berada di atas koridoor (lorong keluar-masuk), sehingga tampak sebagai bangunan berloteng (verdiping) yang digunakan untuk memantau segala aktifitas di dalam lingkungan keraton, termasuk kegiatan di Taman Sare. Pada kanan-kiri koridoor terdapat sepasang ruang kecil dan pendek dengan pintu yang pendek pula dibawah naungan teras, yang di dalamnya terdapat tangga kayu untuk naik-turun ke/dari loteng.

Kecuali atap banguan yang berbetuk meru dan konsep arsitektur padhuraksa bersayap, konponen-komponen arsitektur lain dari gapura ini, utamanya pada fasadenya, dengan jelas memperlihatkan unasir seni bangunan Eropa, seperti tergambarkan pada pilar ganda di kanan-kiri koridoor, pelipit, kolom lengkung pada koridoor, bangun segitiga pada bagian atas fasade sisi depan, maupun teknik arsitekturya. Paduan antara nasisr arsitektur Eropa-Jawa pada gapura ini menjadi alasan kuat untuk menyatakan bahwa Labang Mesem memiliki gaya arsitektur Indis. Budaya Indis yang berkembang di Indonesia pada Masa Kolonial, khususnya pada golongan menegah ke atas warga Hidia-Belada di Jawa abad XVIII-XIX Masehi, mengindikasikan percampuran antara budaya Belanda dan Pribumi, yang dapat diidentifikasi pada pelacakannya terhadap tujuh unsur budaya universal (Sukiman, 2000). Gaya Indis tersebut tergambar jelas pada seni-bangun (arstektur), seperti dicontohkan oleh gapura Labang Mesem yang akulturatif. Ekspresi akulturatif tampak kuat pada kompleks keraton Sumenep, yang ditadai oleh percampuaran anasir budaya Jawa, Belanda, Cina dan Madura.

C. Kekayaan Khasanah Heritage Performig Art di Sumenep

Sebagai ‘daerah bersejarah’ sekaligus ‘daerah kaya budaya’ Sumenep memiliki jejak budaya masa lampau yang kaya, beragam, unik, dan penting. Peninggalan arkeologis, utamanya dari Masa Perkembangan Islam dan Masa Koloial, terdapat di pejuru wilayah Sumenep. Hal serupa tergambar dalam seni-budayanya, tidak terkecuali pada seni-pertunjukan daerah (lokal)-nya yang mentradisi. Bila kedua sumber daya budaya yang nota bene merupakan ‘warisan budaya (heritage)’ itu dikombinasikan, maka hadir apa yang dinamai ‘heritage performing art’, yakni penyajian seni pertunjukan (performing art) yang heritage di suatu pentas yang juga merupakan heritage.

Salah sebuah diantara tidak sedikit arsitektur heritage di Kabupaten Sumenep adalah komplek keraton Pajagalan atau keraton Sumenep, termasuk di dalamya adalah gapura bersayap Labang Mesem yang artistik, unik dan simbolik sebagai sebuah komponen arsitekturnya. Gapura yang masih tegak berdiri dalam kondisi relatif utuh dan lesari di seberang utara jalan ini layak kiranya dijadikan sebagai pentas (stage) bagi pemetasan beragam bentuk seni-pertunjukan lokal Sumenep yang mentradisi. Bagian depan gapura heritage Labang Mesem menarik dan unik untuk dijadikan sebagai latar (back ground) bagi pementasan seni-budaya. Tata cahaya ataupun video maping tentu bakal menambah keelokan tampilan Labang Mesem yang monumenta; itu pada malam hari sebagai latar pemetasan.

Disamping gapura Labang Mesem, sebenarnya di penjuru daerah Sumenep masih terdapat cukup banyak bangunan heritage yang tidak kalah unik dan menariknya untuk digunakan sebagai stage atau back ground pementasan seni-pertunjukan. Dalam kaitan itu pementasan seni-pertunjukan bertajuk ‘Labang Mesem Cultural Movement” pada Minggu 13 Mei 2018 dapat dijadikan contoh terapan konsepsi ‘Heritage Performing Art” di Sumenep. Ke depan model demikian bisa adaptasi untuk dicobaterapkan kepada monument heritage lainnya di Sumenep. Heritage performing Art merupakan akhtiar kultural yang diharap dapat memberi ragam manfaat. Ibarat Mutiara kata ‘sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui’, ikhtiar ini bisa untuk: (a) mengenalkan bahkan memahamkan heritage yang ada di suatu daerah, baik arsitektur yang heritage ataupun performing art yang heritage, (b) tampilan yang artistik, unik dan menarik dari monumen heritage dapat dijadikan pentas atau latar belakang pementasan seni-pertunjukan, (c) kandungan makna atau pesan dalam monumen heritage bisa digunakan untuk mengkomunikasikan atau menguatkan isi pesan yang disampaikan oleh pementasan seni-pertunjukan atau kegiatan lain.

D. Wahana bagi ‘Smiling Sucsesion’

Suksesi pemeritahan, baik berupa Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) tingkat Kota/Kabupaten dan Provinsi maupun Pilpres (Pemilihan Presiden) tingkat nasioal adalah suksesi pemerintahan yang dilangsungkan secara periodik, yakni lima tahuan. Setiap tahun bakal berlangsung Pilkada ataupun Pilpres, sebagimana halnya Pilkada Kota/Kabupaten dan Provinsi tahun 2018 pada bulan Juni 2018 mendatang. Untuk kepentingan itu, KPU Jawa Timur sebagai penyelenggara Pemilu (Pemilihan Umum) melaksanakan ikhiar untuk mensosialisasikan perhelatan yang segera dilangsungkan, yang antara lain dilaksanakan di Sumenep. Pementasan seni-pertunjukan dipertimbangkan sebagai tepat untuk didayaguakan sebagai wahana bagi sosialisasi itu, dengan pengharapan bahwa Pilkada Kota/ Kabupaten dan Provisi mendatang berlangsung dengan tertib, aman, demokratis dan membuahkan pilihan – yakni kepala daerah – yang amnah bagi penyelenggaraan pemerintahan serta pemajuan daerah untuk lima tahun ke depan.

Sosialisasi Pilkada 2018 di Sumenep pada Minggu malam, tanggal 13 Mei 2018 diselenggarakan dengan mengambil “spirit” gapura Labang Mesem, dalam bentuk ‘Heritage Performing Art’. Sengaja gapura Labang Mesem dijadikan spirit, dengan antara lain mempertimbangkan makna kata ‘mesem (senyum, smile)’ pada unsur sebutannya. Dalam konteks Pilkada, seyumam dapat dijadikan unsur penyampaikan pesan, yakni ‘laksanakan Pilkada mu dengan senyuman’, atau menjadi semacam ‘smiling sucsesion’. Memulih dengan gemibira (baca ‘tersenyum’), tersenyum bila memperoleh kemenangan sebaliknya menerima realitas kekalahan dengam senyuman (kelapangan hati) pula. Senyuman adalah kata kunc’ untuk mengeleminir kejadian buruk, baik sebelum, selama atau pasca Pilkada. Selain itu, pilihan spirit sosialisasi yang ditimba dari makna gapura (labang = lawang = pintu) bernama Labang Mesem menyiratkan pesan bahwa Pilkada adalah ‘pinitu masuk’ bagi suksesi pemeritahan periodik. Merupakan pintu pula bagi perubahan ataupun kesinambungan dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembagunan pada lima tahun kedepan.

Dengan pemakanaan yang demikian, niscaya Pilkada bakal merupakan ritus suksesi pemeritahan yang insya Allah bermakna bagi khalayak. Semoga tulisan yang cuma bersahaja ini membuakan keraedahan. Nuwun.

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 11 Mei 2018

 

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019