MEMBUMIKAN FALSAFAH DAN DASAR NEGARA ‘SAYA INDONESIA, SAYA PANCASILA’

Orasi ‘Hari Lahir Pancasila’
Graha Pancasila Kota Batu, 1 Juni 2017

MEMBUMIKAN FALSAFAH DAN DASAR NEGARA ‘SAYA INDONESIA, SAYA PANCASILA’

Oleh: M. Dwi Cahyono

Saudara seBANGSA dan seNEGARA,
hari ini, Kamis 1 JUNI 2017, Pemerintah bersama seluruh komponen bamgsa dan masyarakat Iindoneia memperingati ke-72 ‘HARI LAHIR PANCASILA’. Peringatan yang diselenggarakan serentak di seluruh wilayah Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini mendasarkan kepada Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 24 tertanggal 1 Juni 2016, yang menetapkan ‘Tanggal 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila”. Malahan, selama sepekan (1 – 5 Juni 2017) dirayakan ‘PEKAN PANCASILA’, dengan mengangkat tema ‘SAYA INDONESIA. SAYA PANCASILA’ untuk menguatkan serta memperkenalkan ulang dasar-dasar Pancasila, utamanya untuk menarik minat para generasi muda terhadap Pancasila. Peringatan dan Perayaan ‘Hari Lahir Pancasila’ ini merupakan wahana strategis untuk mengenalkan dan memahamkan dari gerasi ke generasi perihal ‘asal-usul Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara Republik Indonesia’. Maka, dengan upaya demikian, diharap kelestarian dan kelanggengan Pancasila senantiasa diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Tujuh puluh dua tahun silam, Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disingkat dengan ‘BPUPKI’ yang dipimpin oleh dr. KRT Radjiman Wedyodiningrat menyelenggarakan sidang yang pertama pada tanggal 29 Mei hingga 1 Juni 1945, dengan agenda membahas tentang ‘Dasar Negara Indonesia Merdeka’. Sidang perdana BPUPKI diselaksanakan di Gedung Chuo Sangi In di Jl. Pejambon 6 Jakarta – kini dikenal dengan ‘Gedung Pancasila’, yang sejak tahun 1925 di Masa Hindia-Belanda menjadi gedung Volksraad (semacam “Perwakilan Rakyat”). Dalam persindangan hari ke-4 (1 Juni 1945) untuk kali pertama Pancasila sebagai Dasar Negara diperkenalkan oleh Ir. Soekarno, yakni salah seorang anggota BPUPKI, di depan sidang BPUPKI. Dari banyak usulan yang mengemuka, Soekarno berhasil mensintesiskan menjadi apa yang disebutnya ‘Pancasila’. Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dulu itu diterima secara aklamasi oleh anggota Dokuritsu Junbi Cosakai, dan selanjutnya dibentuk ‘Panitia Kecil’ berjumlah sembilan orang — yang karenanya dinamai ‘Panitia Sembilan’, untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar (UUD) dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut.

Demikianlah, sejak kelahirannya (tanggal 1 Juni 1945) itu, Pancasila mengalami perkembangan hingga menghasilkan ‘Naskah Piagam Jakarta’ pada tanggal 22 Juni 1945 oleh Panitia Sembilan. Setelah melewati proses persidangan maupun lobi-lobi, pada akhirnya rumusan Pancasila hasil penggalian Bung Karno berhasil disepakati menjadi ‘rumusan final’ untuk dicantumkan di dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yang disahkan dan dinyatakan sebagai ‘Dasar Negara Indonesia merdeka’ tertanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Rumusan Pancasila sejak tanggal 1 Juni 1945 yang dipidatokan Soekarno, rumusan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 hingga rumusan final tanggal 18 Agustus 1945 adalah ‘satu kesatuan proses’ lahirnya Pancasila sebagai Dasar Negara. Sesuai fakta sejarah, Pancasila tidak terlahir dengan seketika di tahun 1945, melainkan membutuhkan proses penemuan yang lama, dengan dilandasi oleh perjuangan bangsa dan berasal dari gagasan dan kepribadian bangsa Indonesia sendiri.

Dalam ‘Kata Pengantar’ atas dibukukannya pidato tersebut, yang untuk pertama kali terbit tahun 1947, mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat menyatakan pidato Ir. Soekarno itu berisi “Lahirnya Pancasila”. Dikemukakan oleh Radjiman bahwa ”Bila kita pelajari dan selidiki sungguh-sungguh ‘Lahirnya Pancasila’ ini, akan ternyata bahwa ini adalah suatu Demokratisch Beginsel, suatu Beginsel yang menjadi Dasar Negara kita, yang menjadi Rechtsideologie Negara kita; suatu Beginsel yang telah meresap dan berurat-berakar dalam jiwa Bung Karno, dan yang telah keluar dari jiwanya secara spontan, meskipun sidang ada dibawah penilikan yang keras dari Pemerintah Balatentara Jepang’.

Para Pengamal Pancasila,
nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi ‘Konsensus Nasioanal’, dalam arti disepakati sebagai milik bersama seluruh rakyat Indonesia. Pancasila diterima sebagai ‘Etik Sosial’ di dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang berbhineka. Berdasarkan Pancasila, bangsa Indonesia ingin mewujudkan bangsa yang religius, manusiawi, demokratis, bersatu, adil dan sejahtera.

Sila Pertama dari Pancasila ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ menjiwai keempat sila lainnya. Dari sila pertama ini, tergambar bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berTUHAN. Namun, bukan dalam arti bangsa Indonesia hanya mempunyai satu konsep dalam berTUHAN. Empat nilai luhur yang terkandung di dalam keempat sila selanjutnya adalah buah budi dari bangsa Indonesia yang berketuhanan tersebut. Sila Kedua ‘Kemanusiaan yang adil dan beradap’ mengandung arti bahwa semua manusia harus diperlakukan sesuai harkat dan martabatnya, yakni sebagai makhluk ciptaan TUHAN yang sama derajat, hak, dan kewajibannya, termasuk dalam kehidupan bernegara. Begitu pula dengan Sila Ketiga ‘Persatuan Indonesia’, yang menegaskan bahwa meski bangsa Indonesia beraneka latar etnik, sosio-kultural, historis maupun ekologisnya, namun semuanya musti bersatu. Oleh karena itu, sungguh sangat disayangkan dan tak realistis bila ada seseorang atau sekelompok orang yang berfikir, bersikap dan bertindak untuk mengelompokkan kesempatan partisipasi warga negara semata berdasarkan agama tertentu. Yang menurutnya warga yang beragama tertentu hanya boleh berkiprah di wilayah tertentu saja. Padahal, di dalam sila ketiga dinyatakan bahwa Indonesia merypakan ‘Negara Persatuan’ dari banyak warga etnik yang beragam serta dalam Sila Kempat ‘Kerakyatan yang dipimpon oleh hikmat dalam permusyawatan perwakilan’ ditegaskan hakikat tentang ‘Negara Demokrasi’, yang menyelenggarakan kepemimpinan secara khidmat, menjunjung tinggi azas musyawarah serta kesadaran akan adanya sistem perwakilan. Jadi, bukan pemerintahan oleh/untuk golongan tertentu saja. Adapun Sila Kelima ‘Keadilan sosial bagi rakyat Indonesia’ mengekspresikan komitmen terhadap masyarakat yang berkeadilan.

Tema “Saya Indonesia, Saya Pancasila”, mengandung makna bahwa dimanapun orang Indonesia berada, maka nilai-nilai Pancasila semestinya menjadi pedoman hidup, yang diharapkan bisa terus diimplementasikan dengan baik dalam berbagai bidang kehidupan. Spirit Pancasila memperkukuh benteng kebangsaan dalam menyikapi dan menindaki siapapun yang berniat mengganti Pancasila serta memecah integritas bangsa-negara dengan ‘politik identitas’. Terlampau mahal biaya politik dan dampak sosio-kultural yang dibayar dengan derita atas penebaran kebencian, hasutan bersikap dan bertindak intoleransi bahkan disintegrasi, hanya demi nafsu kuasa seseorang atau sekelompok orang. Dengan Pascasila itu pulalah berita negatif, tidak sahih (hoax) dan tanpa ada kejelasan siapa bertanggung jawab, yang akhir-akhir ini beredar dengan marak lagi cepat, musti dapat difilterisasi. Hendaknya tema ‘Saya Indonesia. Saya Pamcasil’ tidak sebatas slogan. Pekan Pancasila adalah suatu kesempatan waktu yang diharapkam dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mendudukkan Pancasila sebagai norma yang hidup dan pola pikir yang humanis. Bukanlah sekedar menjadikan kalimat-kalimat di dalam kelima sila dari Pancasila sebagai ‘kalimat hafalan’ – meski juga belum tentu semua warga negara hafal Pancasila, namun lebih dari itu bakal menjelma sebagai ‘Gerakan Pengamalan Pancasila’ dalam realita hidup guna menjawab ragam tantangan masa kini dan sebagai antisipasi masa dapan. Pancasila mustilah menjadi cara hidup, yang disebarkan melalui teladan, perilaku seharip-hari, dan lebih baik bila dimulai dari diri sendiri.

Pancasila adalah Ideologi (Falsafah) dan Dasar Negara Republik Indonesia. Sebagai ideologi dasar Pancasila terdiri atas lima (panca) dan dasar (sila), atau lima aturan tingkah laku yang penting. Lima dasar itu adalah jiwa bangsa Indonesia yang turun-temurun, yang melalui perenungan jiwa secara dalam kemudian dituangkan ke dalam suatu “sistem” yang tepat. Pancasila digali dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sendiri, serta dirumuskan secara bersama-sama oleh “The Founding Fathers’. Dengan demikian, bangsa Indonesia merupakan Kausa Materialis-nya Pancasila. Nilai- nilai yang terkandung di dalam Pancasila sebagai kesatuan adalah way of life atau weltanschauung (pegangan hidup, petunjuk hidup, dsb.), yakni petunjuk arah kegiatan di segala bidang kehidupan. Seluruh tingkah laku dan perbuatan manusia Indonesia haruslah dijiwai atau merupakan pancaran dari sila-sila Pancasila. Sebagai pandangan hidup yang adalah penjelmaan falsafah hidup bangsa, dalam pelaksnaannya tidak boleh bertentangan dengan norma agama, norma kesusilaan, norman kesopanan serta norma-norma hukum yang berlaku.

Sebagai dasar negara Pancasila sering pula disebut sebagai ‘Dasar Falsafah Negara (Philosofische Grondslag)’ atau ‘Ideologi Negara (staatsidee)’. Pancasila yang sampaikan pada siding I BPUPKI Perdana (1 Juni 1945) dikandung maksud untuk dijadikan dasar bagi negara Indonesia merdeka. Adapun sila-sila Pancasila yang tercantum secara resmi dalam Preabul UUD RI menjadi sumber ketatanegaraan, mengandung unsur-unsur pokok yang kuat untuk dijadikan landasan hidup bagi seluruh bangsa dan negara. Pancasila dalam Pembukan UUD 1945 menjiwai seluruh isi peraturan dasar tersebut, yang berfungsi sebagai dasar negara sebagaimana jelas tercantum dalam alinea IV Pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu, semua peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh negara dan pemerintah Republik Indonesia haruslah pula sejiwa dan sejalan dengan Pancasila, tak boleh menyimpang dari jiwa Pancasila. Bahkan, dalam Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 ditegaskan, bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum. Pancasila sekaligus adalah Dasar Negara, dalam arti nilai-nilai Pancasila menjadi pedoman normatif bagi penyelenggaraan bernegara. Konsekuensinya adalah seluruh pelaksanaan dan penyelenggaraan pemerintah negara, termasuk peraturan perundangannya adalah cerminan dari nilai-nilai Pancasila. Penyelenggaran kehidupan bernegara oleh karennya mengacu dan memiliki tolok ukur yang tegas, yakni tak boleh menyimpang dari nilai Ketuhanan, nilai Kemanusiaan, nilai Persatuan, nilai Kerakyatan, dan nilai Keadilan.

Adalah suatu hal yang membanggakan bahwa Indonesia berdiri di atas fundamen yang kuat, dasar yang kokoh, yakni Pancasila. Suatu dasar kuat, yang bukan meniru suatu model yang didatangkan dari luar negeri. Dasar negara kita berakar pada sifat-sifat dan cita-cita hidup bangsa Indonesia, Pancasila adalah penjelmaan dari kepribadian bangsa Indonesia, yang hidup di tanah air kita sejak dahulu hingga sekarang. Pancasila mengandung unsur-unsur luhur, yang tifak hanya memuaskan bangsa Indonesia sebagai dasar negara, tetapi juga dapat diterima oleh bangsa-bangsa lain sebagai dasar hidupnya. Pancasila bersifat universal, yang mempengaruhi hidup dan kehidupan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia secara kekal dan abadi. Pancasila oleh kerenanya merupakan jiwa dan kepribadian Bangsa Indonesia, yaitu keseluruhan ciri-ciri khas Bangsa Indonesia yang membedakan dengan bangsa-bangsa lain sebagai cerminan garis pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia sepanjang masa.

Selaku Ideologi Nasional, Pancasila nempunyai beberapa dimensi: (a). Dimensi Idealitas, artinya mengandung harapan dan cita-cita di berbagai bidang kehidupan yang ingin dicapai masyarakat; (b) Dimensi Realitas., artinya nilai-nilai dasar yang terkandung di dalamnya bersumber dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat penganutnya, yang menjadi milik mereka bersama dan yang tak asing baginya; (c) Dimensi normalitas, artinya mengandung nilai-nilai yang bersifat mengikat masyarakatnya yang berupa norma atauran yang harus dipatuhi atau ditaati yang sifatnya positif (d) Dimensi Fleksilibelitas, artinya mengikuti atau bisa berinteraksi dengan perkembangan jaman, dapat mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi, bersifat terbuka dan demokratis.

Warga Kota Batu Pecinta Pancasila,
Tegaslah bahwa tanggal 1 Juni merupakan hari lahir Pancasila, karena pada tanggal tersebut kata Pancasila pertama kali diucapkan oleh Bung Karno, yang saat itu masih belum diangkat menjadi Presiden, melainkan salah seorang anggota BPUPKI. Berikut kutipan pidato Bung Karno dalam siding BPUPKI tanggal 1 Juni 1945:

“Dasar negara, yakni dasar untuk di atasnya didirikan Indonesia Merdeka, haruslah kokoh kuat sehingga tak mudah digoyahkan. Bahwa dasar negara itu hendaknya jiwa, pikiran-pikiran yang sedalam-dalamnya, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Dasar negara Indonesia hendaknya mencerminkan kepribadian Indonesia dengan sifat-sifat yang mutlak keindonesiaannya dan sekalian itu dapat pula mempersatukan seluruh bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, aliran, dan golongan penduduk.
Dasar negara yang saya usulkan, Lima bilangannya. Inilah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya menamakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli Bahasa, namanya ‘Pancasila’. Sila artinya asas atau dasar dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia kekal dan abadi,”

Pada rapat BPUPKI tanggal 1 Juni 1945 Soekarno mengusulkan nama Dasar Negara Indonesia, yaitu Pancasila. Sebuah nama yang menurut Soekarno diperoleh dari seorang temannya, yang ahli bahasa, namun tanpa menyebut siapakah nama temannya yang tersebut, yang kemungkinan adalah Muhammad Yamin. Soekarno mengemukakan agar dasar negara indonesia merdeka diberi nama “Pancasila’ yang artinya “lima dasar”. Bung karno menambahkan, bilamana sidang memandang perlu, lima dasar negara itu boleh diringkas lagi menjadi tiga rumusan saja dengan nama “Trisila”. Dari tiga sila itu dapat diperas lagi menjadi satu, yang disebut dengan “Ekasila”, yang diidentik “Gotong royong”. Ekasila yang berisi prinsip gotong royong itu adalah paham yang dinamis, yang menggambarkan suatu karya bersama, satu buat semua , semua buat satu, semua buat semua.

Semoga kegotongroyongan diantara sesame warga bangsa dapat diejowantahkan dalam berbagai bidang kehidupan di Negera Kesaituan Republik Indonesia kina ayaupun nanti. Selamat ‘Hari Lahir Pancasila’. Salam ‘Saya Indonesia, Saya Pancasila’. Wassalmualaikum Wr. Wb. Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, Kota Batu 1 Juni 2017

Total
1
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*