Connect with us

BUDAYA

LAUK ARKHAIS PEPES-BOTOK : TRANSFORMASI DARI SESAJIAN RITUS DAN RAJAMANGSA MENJADI KULINER KERAKYATAN

Avatar

Published

on

Edisi Ramadhan 3
‘Lauk Favorit Buka Puasa’

LAUK ARKHAIS PEPES-BOTOK : TRANSFORMASI DARI SESAJIAN RITUS DAN RAJAMANGSA MENJADI KULINER KERAKYATAN

Oleh: M. Dwi Cahyono

Diantara penganan-penganan yang dijajakan oleh para ‘Pedagang Kagetan Menjelang Buka Puasa’ adalah apa yang dinamai ‘pepes dan botok’. Penganan ini adalah salah satu diantara beragam lauk (kawuh) yang diminati oleh para pelaku puasa Ramadhan di Jawa, sehingga dapat dhafami apabila banyak pedagang menjajakannya. Selain pepes dan bothok ada jenis penganan lainnya yang terkait dan dalam beberapa hal memiliki kesamaan – atau malahan dipandang sebagai bersinoonim arti, seperti gembrot dan brengkes. Penganan-penganan tersebut adalah beberapa diantara tidak sedikit kuliner kuno yang mampu bertahan lintas masa hingga kini. Dalam perjalanan sejarah panjangnya, pepes dan botok perlihatkan kebertahanannya dan sebaliknya mengalami perubahan, baik berubah mengenai: (a) bahan baku, (b) cara atau teknik memasak, (c) kemasan, maupun (d) peruntukkan dan penggunanya. Kendati tulisan ini hanya pendek belaka, namun diharapkan dinamika kuliner khas Nusantara ini tergambarkan, setidaknya secara garis besar, sehingga memberikan kefaedahan bagi khalayak yang membutuhkan informasi tentangnya.

A. Jejak Sejarah Istilah dan Pengertiannya
1. Penganan Pepes

Sebagai istilah, kata ‘pepes’ dijumpai dalam sejumlah susastra Jawa Kuna dan Tengahan. Sebutan ini juga hadir sebagai kosa kata Bahasa Indonesia, yang secara harafiah berarti: lauk yang dibuat dari ikan (oncom dsb.) yang dirempahi dan dibungkus dengan daun pisang, kemudian dipanggang atau dikukus (KBBI, 2002: 852). Sebutan lainnya adalah ‘pais’ atau ‘palai’. Dalam Bahasa Jawa Kuna kata dasarnya ‘pes’ – Bahasa Sundanya ‘pais’. Viarian kata jadiannya adalah ‘pespesan (lauk yang dibungkus duan lalu dimasak dengan dipangang — terutama ikan), pesan, atau pepesan’. Cara memasak yang demkian dinamai ‘pines’ (Zoetmulder, 1995: 815). Istilah tersebut dijumpai dalam Kakawin Bhomakawya (56.6) serta dalam prasasti Bali kumpulan P.V. van Stein Callenfels (1926: 40f. IIa.6) dan pasasti Prasasti Bali I-II kumpulan Goris (1954: 83f. III.11 dan 88f. Via.4).

Pada kutipan teks Bhomakawya (56.6) “pespesan satalad-tatad pusuh-pusuh’, kuliner pespesan (pepesan) disebut bersama dengan penganan lain, yaitu: satalad-talad (makanan yang ditempatkan di dalam beberapa bungkusan, talad: sebangsa bungkusan untuk makanan), dan pusuh-pusuh (hati, mungkin bagian dalam atau ‘jeroan’ binatang yang telah dimasak) (Zoetmulder, 1995: 981, 1184). Hal memberikan petunjuk mengenai adanya beberapa macam makanan yang ditempatkan di dalam bungkusan daun (pines) ketika dimasak. Istilahi yang digunakan untuk menyebutya dalam susastra ini adalah ‘pespesan’ – dalam prasasti-prasasti Bali Kuna diistilahi ‘pepesan’, seperti istilah yang digunakan sekarang.

Dewa Ayu Ekayani menulis artikel dalam ‘Humanis’ Vol. 13 No. 3 Desember 2015 tentang jenis bahan makanan dan minuman yang diberitakan dalam prasasti Bali Kuna abad IX-XI Masehi, yang antara lain menyatakan pepesan (pepes ikan) sebagai ‘kelengkapan persajian’ upacara keagamaan. Prasasti Trunyan AI (813 Saka = 891 Masehi) lembar IIb baris 1-2 memberitakan kewajiban untuk mempersembahkan aneka makanan pada upacara di bulan Magha, yang berupa ikan simbur 5 ekor, pepes ikan (pepesan) sejumlah 20 bungkus (pesan), dan ikan nyalinan 2 gunja kepada pracaksu. Diberitakan pula mengenai sesajian yang berupa ikan simbur 2 ekor dan pepes ikan 10 bungkus. Informasi mengenai pepes ikan (pepesan) juga diperoleh dalam Bali Kuna lainnya, yaitu Prasasti Bebetin AI (833 Saka = 911 Masehi) lembar Ib baris 3-4, yang menyatakan persembahan upacara berupa 30 bungkus gerih (ikan asin), yang dimasak menjadi pepes ikan (pines). Selain itu, pepes ikan diberitakan di dalam Bali Kuna yang dikeluarkan oleh Anak Wungsu, yang memerintah tahun 1049-1077 Masehi (Callenfels, VBG 66, III: 1-20).

Paparan data diatas memberi gambaran bahwa pepes adalah makanan yang berbahan baku ikan, dimasak dalam bungkus daun dalam ukuran kecil. Oleh karena itu, dapat difahami bila dalam suatu kelengkapan sesajian dihadirkan 10, 20, hingga 30 bungkus pepes ikan. Salah satu jenis ikan yang dipepes adalah ikan asain (gerih). Sayang sekali, tidak diperoleh keterangan lebih lanjut mengenai daun apa yang digunakan sebagai pembungkus. Namun bila membadingkannya dengan pepes ikan pada masa sekarang, besar kemungkinan daun pisang lah yang dijadikan sebagai pembungkusnya dalam bentuk ‘lintingan’. Demikian pula, tidak didapatkan informasi mengenai bimbu-bumbunya. Berdasarkan penyebutannya di dalam sumber data tekstual (prasasti dan susastra), diketahui bahwa pepes dikenal di Bali ataupun di Jawa semenjak amat lama, setidaknya sejak abad IX hingga masa Majapahit – terbukti oleh pemberitaannya dalam Kakawin Bhomakawya, bahkan berlanjut hingga sekarang. Adapun pemanfaatnnya, menurut keterangan di dalam Prasasti Bali Kuno, dimana pepes ikan dijadikan unsur pelengkap sesajian dalam ritus keagamaan, atau merupakan makanan sakral. Namun, ada kemugkinan juga dimanfaatkan sebagai lauk di dalam makanan profan, khususnya makanan para raja (rajamangsa).

Dalam Wilkipedia Indonesia sebutan ‘pepes’ atau ‘pais’ diberi penjelasan sebagai : suatu cara khas dari Jawa Barat untuk mengolah bahan makanan (biasanya ikan) dengan bantuan lembaran daun pisang untuk membungkus ikan beserta bumbunya. Cara membuatnya adalah bumbu dan rempah dihaluskan dan ditambah daun kemangi, tomat, dan cabai dibalur/dibalut bersama ikan mas yang sudah dibersihkan. Kemudian dibungkus dengan daun pisang dan disemat dengan dua buah bambu kecil (tusuk bambu atau lidi) di setiap ujungnya. Bungkusan ini dibakar (dipepes) di atas api atau bara api dari arang sampai mengering. Sebenarnya, pepes tak hanya ada di Jawa Barat, melainkan dijumpai pula di sejumlah tempat seperti Jawa (Tengah dan Timur), Bali, Banjar, Minangkau, dsb. Ikan yang dipepes tak sebatas pada ikan mas, melainkan beragam ikan seperti ikan kembung, nila, mujair, tomgkol atau pindang tongkol, seluang, lele, patin, teri, udang, dsb. Kebanyakkan adalah ikan air tawar dan sejumlah ikan laut. Diutamakan yang memiliki tekstur daging yang cenderung kering setelah dimasak, tidak lembek seperti gurameh. Selain itu diusahakan untuk menggunakan ikan yang masih segar atau yang baru ditangkap.

Selain ikan, terdapat bahan lain seperti tahu, ayam, telor atau baung telor ayam maupun telor asin, waleran (jeroan). Bumbu masaknya amat beragam tergantung bahan yang dipepes, antara lain bawang putih, kemiri, kunyit, bawang merah, merica, ketumbar, lengkuas, jahe, lengkuas, cabe rawit, cabai merah, micin, daun kemangi, daun jeruk purut, daun sereh, tomat merah atau tomat sayur, asam Jawa, air perasan jeruk nipis, miyak goreng, garam, belimbing uluh ataupun manga muda. Ada dua cara memasak pepes, yaitu dikukus atau dipanggang – bukan digoreng, sehingga membuat kandungan gizinya tidak hilang lantaran proses pemasakan serta tidak terkena minyak dalam proses pemasakan sehingga tidak terdapat lemak jenuh yang dapat membahayakan tubuh. Memasak pepes dengan mengukus atau memanggang dapat mendapatkan aroma yang lebih wangi. Kandungan gizi ikan yang berupa protein bermanfaat bagi pertumbuhan. Cita rasa pepes ada rasa gurih dan pedas. Cocok bagi keluarga Indonesia yang menyukai kuliner berbahan dasar sambal..

Apabila ditilik dari bahan yang dimasak, cara memasak mauun bumbunya, ada keserupaan antara pepes, brengkes dan utak-utak. Brengkes atau varian sebutnnya ‘brengkesan’ adalah suatu kuliner berbahan dasar utama aneka ikan berbumbu, dibungkus daun pisang dalam bentuk lintingan, lalu dimaksak dengan dikukus atau dibakar. Brengkes adalah sebuatan dalam Bahasa Palembang untuk pepes. Biasanya, ikan yang dibrengkes adalah ikan patin, namun di Palembang diganti dengan ikan mas. Pada berbagai suku di Sumatera Selatan, bumbu brengkes ikan memadukan bumbu Melayu, Tionghoa, Jawa, dan India, sehingga memiliki rasa yang ramai; pedas sekaligus manis, asam, dan gurih.

Di Jawa juga terdapat sebuatan serupa, yaitu ‘brengkesan’, untuk kuliner yang kurang lebih sama. Brengkesan pindang, orang Jawa pastilah familiar dengan hidangan ini. Brengkes terdapat pula di Bali. Hanya saja, tidak dikukus atau dipanggang, melainkan digoreng, serupa dengan cara memasak gegorengan. Brengkes di Bali memakai bumbu yang lebih banyak, yang biasanya genap, yaitu bawang putih, bawang merah, kencur, kemiri, ketumbar, cabai, merica, jinten, jahe, bangle, terasi, jeruk limau, dan garam. Bahan bakunya pun lebih beragam, termasuk juga yang bukan ikan. Misalnya, terdapat brengkes sapi, brengkes babi, brengkes lele, ataupun brengkes lindung (belut). Yang lebih menyerupai pepes, di Bali adalah apa yang dinamai ‘tum’ – amat mungkin berasal dari kata ‘stoom’ dalam Bahasa Belanda, yang berarti ‘membungkus’.

Brengkes menyerupai apa yang oleh orang Jawa Osing disebut “pelasan”, yang di Aceh dikatakan ‘peyeh’, di tatar Sunda diistilahi ‘peis’, di ranah Minang dinamai ‘palai’, dan di Tapanuli ‘pale’ sebutannya. Serupa dengan itu adalah ‘woku’ di Manadao – khususnya ‘woku daun’, yang dimasak dalam bungkus daun pisang, yang menyerupai pepes, brengkes ataupun pais. Kebanyakan woku dipakai untuk memasak seafood: ikan, telur ikan, udang, cumi, kepiting. Dalam banyak hal, kuliner otak-otak perlihakan keserupaan dengan pepes dan brengkes, baik bahan, keberadaannya di dalam lintingang daun pisang maupun cara memasaknya. Kebanyakan otak-otak dibungkus dengan daun pisang, yang disematkan lidi di kedua ujungnya. Selain dimasak dengan cara dikukus, lalu dibakar, ada juga otak-otak yang digoreng, lantas dibubuhi bumbu kacang yang lezat atau dimakan dengan kuah asam pedas. Penganan ini populer di kawasan Selat Malaka dan Selat Karimata, seperti di Kepulauan Riau, Singapura (dinamai ‘otah’), dan Malaysia. Selian` tersebar luas di berbagai kota di Sumatera, Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi, utamanya di daerah pesisiran.

Otak-otak dibuat dari cumi-cumi atau ikan tengiri yang diambil dagingnya, lantas dihaluskan dan dibumbui serta diadoni dengan tepung sagu. Daging ikan itu dimasukkan lagi ke dalam kulit ikan, kemudian direbus atau dipanggang dalam balutan daun pisang. Makanan ini bisa dimakan sendiri, atau dengan cocolan samabal atau saus asam pedas. Terkadang dijadikan lauk untuk makan nasi. Ada pendapat muasalnya dari Kepulauan Riau. Istilah ‘otak’ berarti: otak. Dinamai demikian, karena hidangan ini menyerupai otak. Berwarna abu-abu keputihan, lembut dan hampir licin. Namun, yang mempunyai warna keputihan adalah otak-otak di ndonesia, sedangkan di Malaysia dan Singapura warnanya oranye kemerahan atau coklat, yang diperoleh dari warna campuran cabai, kunyit dan bubuk kari.

2. Penganan Botok

Berbeda dengan pepes yang diberitakan dalam sejumlah sumber data tekstual berbahasa Bali Kuna dan Jawa Tengahan, perihal makanan botok tidak didapati baik di dalam sumber data tekstual Jawa Kuna maupun Jawa Tengahan. Sebernarmya, istilah ‘botok’ terdapat dalam kitab Dewaruci (1.23). Namun, bukan dalam konteks kalimat mengenai makanan, melainkan menunjuk kepada: sebangsa tumbuhan (Zoetmulder, 1995:131). Penulis belum tahu pasti tanaman macam mana yang dinamai ‘botok’ itu. Selain itu tidak diperoleh kejelasan dalam sumber data tekstual kuno apakah ketika itu tanaman botok telah dijadikan sebagai bahan pembatan penganan. Apabila telah digunakan, maka bisa difahami penganan ini dinamai dengan ‘botok’ lantaran bahan bakunya adalah unsur tanaman botok – kemungkinam unsur daunnya. Namun yang terang kini terdapat kosa kata ‘’botok, baik di dalam daerah (misalnya ‘bothok’ dalam Bahasa Jawa Baru) maupun dalam Bahasa Indonesia, yang menunjuk kepada lauk tradisional berupa ikan dan sebagainya yang dicampur parutan kelapa muda yang dibumbui kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dikukus (KBBI, 2002:164). Adapun cara membungkusnya tidak dalam bentuk ‘lintingan’ seperti pada pepes, brengkes, otak-otak atau sejenisnya, melainkan dalam bentuk ‘geneman.

Suatu pendapat menyatakan bahwa makanan khas Jawa ini pada awalnya dibuat dari ampas atau bungkil kelapa yang sudah diambil sari (santan)-nya, dibumbui dengan cabai, garam, merica dan daun salam, dibungkus di dalam daun pisang, dan kemudian dimasak dengan cara dikukus dalam uap panas agar ampas parutan kelapa yang masih bergizi ini tidak dibuang. Bothok pada saat ini dimodifikasi juga dengan bahan petai cina, tahu, teri, udang, bahkan larva tawon/lebah – dikenal dengan ‘bothok tawon’. Dedaunan yang dijadikan sebagai bahan pun kian beragam, seperti daun sambukan, kemangi, beluntas (luntas) dsb. Biji-biji lamtoro (mlandingan) serta rajangan jantung pisang (ontong) acap pula dijadikan bahan. Demikian pula tahu, tempe, jeroan hewan mamalia, aneka ikan air tawar dan air laut, larba tawon dsb. juga acap dijadikan bahan botok. Maka, sesuai dengan bahan campurnya, terdapat aneka sebutan terhadap botol, seperti ‘botok sambukan, botok kemengi, botok luntas, botok ontong, botok mlandingan, botok tawon, botok jeroan, botok tahu, botok tempe, botol teri, botok urang (udang), botok lele dan botok ikan-ikan lainya’.

Ada pula yang menyamakan penganan botok dengan yang dinamai ‘gembrot’. Namun, di daerah-daerah tertentu, seperti pada eks Karisidenan Kediri, penganan gembrot dibedakan dengan botok. Di daerah itu, deskripsi di atas – khususnya yang berbahan dedaunan, ontong, tahu dan tenpe atau campuran diantaranya – diistilah dengan ‘gembrot’. Sedangkan sebutan ‘botok’ untuk menyatakan penganan yang berbahan aneka ikan, udang, larva tawon, potongan daging ataupun jeroan ayam, dsb, dibumbui, diberi kuah santan kental (santen kanil), dibungkus dalam daun pisang berbentuk geneman, dan kemudian dikukus hingga tanak.

Dengan analogi itu, cukup alasan untuk menyatakan botok sebagai ‘kuliner kuno’, yang dicirikan oleh penggunaan daun pisang dalam bentuk geneman dan dimasak dengan cara dikukus. Adapun pepes, bengkes dan otak-otak atau sebutan lainnya, walaupun juga memakai daun pisang sebagai pembukus, namun dalam bentuk lintingan, dimasak dengan jalan ‘dikukus’ dengan/tanpa disertai dengan dipanggang. Botok dan gembrot acapkali menjadikan dedaunan, ontong, biji mlandingan (lamtoro), tahu dan tempe sebagai bahan dasar. Sedangkan pada pepes, brengkes, otak-otak atau istilah lainnya tidak biasa menjadikan bahan-bahan tersebut sebagai bahan dasarnya.

C. Transformasi dari Sesajian dan Rajamangsa menjadi Kuliner Kerakyatan

Pada masa lalu, khususnya ketika masa kemonarkhian (kerajaan, kasultanan), tak semua makanan boleh dikonsumsi oleh sembarang orang. Ada makanan tertertu yang diperuntukkan bagi anggota masyarakat tertentu seperti raja, bangsawan serta lapisan sosial/ekonomi tinggi. Bahkan, ada pula makanan tertentu yang dikhususkan bagi Adikodrati. Raja dalam posisinya di pucak lapisan sosial-pemerintahan mengkonsumsi makanan khusus. Orang di luar lingkaran dalam keraton (wargga/ margga i jro) tidak diperkenankan memakan (memangsa)-nya. Makanan khusus yang disediakan bagi raja beserta keluaga besarnya maupun kaum bangsawan ini yang dinamai ‘rajamangsa (raja: raja+mangsa: makanan, daging)’. Pepes yang adalah makanan berbahan dasar ikan air tawar (iwak loh), ikan laut – termasuk ikan asin (gerih) dan hati (jeroan binatang) adalah penganan yang konon masuk dalam kategori ‘rajamangsa’. Kekhususannya dalam hal peruntukan pepes, tergambar pada prasasti Bali Kuna pepes merupakan panganan sebagai kelengkapan persajian yag dipersembahkan kepada Pracaksu dalam upacara keagamaan.

Dalam perkembangan, tidak sedikit makanan yang semula diperuntukkan kepada orang, makhluk dan tujuan khusus, kemudian ‘dibuka untuk umum’, dalam arti bisa dikonsumsi oleh siapapun dan dalam peristiwa apapun. Yang demikian ini tak terkecuali pepes dan botok, yang akhirnya menjadi makanan umum. Malahan, pada jaman sekarang, pepes, botok dan/atau gembrot cuma diposisikan sebagai makanan kalangan tradisional, kaum tua, warga pedesaan dan kelas menengah ke bawah. Kini tak sedikit anak-anak dan generasi muda di perkotaan merasa pepes dan botok yang padahal makanan tradisional dan lokal dirasakan sebagai makanan yang ‘asing dan aneh’. Oleh karenanya, tidak familer dan tidak diminatinya. Posisinya justru terbalik bila dibanding dengan masa lalunya, ketika kuliner ini menduduki posisi elitis.

Di kalangan keluarga pun telah jarang dibuat, dengan alasan ribet (tak mudah membungkus dengan daun pisang), kelangkaan daun pisang di perkotaan, dan tidak mudah untuk mendapatkan ragam ikan laut dan binatang air tawar (iwak kali, iwak loh) yang masih segar, seperti kutuk, bader, wader, mujair, garingan, jendil, belut (welut), udang (urang), dsb. Terlebih kini sungai di perkotaan tidak familer lagi dengan bangsa ikan, karena telah menjadi rumah bagi sampah, limbah, dan debit airnya kecil. Begitu pula, tak mudah mendapatkan daunan tertentu seperti sambukan, kemangi, luntas, lamtoro maupun ontong sebagai bahan dasar gembrot atau botok, sebab telah menjadi tamanan yang langka di pedesaan apa lagi di perkotaan. Parutan kelapa muda, sebagai bahan campur pembuatan gembrot atau botok pun tidak tersedia setiap saat di pasaran, kecuali diperoleh dengan pemesanan khusus. Namun pada sisi lain, pepes, botok, dan brengkes kini mempunyai varian yang lebih banyak dalam hal bahan baku maupun bumbu-bumbunya jika disbandingkan dengan keberadaannya masa lalu.

Pepes dan botok yang dalam keseharian tidak mudah ditemui, uniknya, pada bulan Ramadhan bisa didapatkan dengan cukup mudah di lapak-lapak para ‘penjual dadakan jelang buka puasa’. Seakan kerinduan yang terbayarkan, tidak sedikit pelaku puasa yang meminati nntuk membelinya sebagai lauk guna berbuka puasa. Penganan ini hadir dalam bentuk yang tak jauh berbeda dengan sosoknya di masa lampu. Hanya saja, yang telah jarang di temui di banyak tempat adalah ‘pepes panggang’ dan botok berkuah santen kanil dengan ragam plihan ikan air tawar, kecuali di daerah Tulungagung yang dalam satu dasawarsa terakhir memuncuklan botok sebagai kuliner khas daerahnya.

Selamat menikmati pepes dan botok sebagai lauk berbuka puasa, senyampang di bulan ini kuliner Nusantara yang menyejarah itu mudah ditemui di pasaran. Di luar bulan Ramadhan, penganan ini menjadi langka di pasaran, kecuali dengan memasaknya sendiri. Namun, di daerah Tulungagung aneka botok ikan sungai berkuah santan yang lezat dapat dijumpai di sejumlah warung setiap hari sebagai kuliner khas daerah. Demikian pula, di areal Warung Apung pada Museum Angkut Kota Batu terdapat warung dengan menu khas ‘Sego Thiwul Iwak Bothok’ khas Tulungagung. Salam ‘bojananusantarajayati’. Moga membuahkan kefaedahan sebagai tambahan pengetahuan, pelestarian, dan pendayagunaan kuliner khas daerah yang dari waktu ke waktu kian langka. Nuwun.

PATEMBAYAN CITRALEKHA, 3 Juni 2017.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BUDAYA

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

Avatar

Published

on

 

Edisi ‘TAKJIL KHAS RAMADHAN’ 1

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

A. Familiaritas Kolak pada Rumpun Melayu

Apabila di Dunia Arab pembuka berbuka puasa adalah kurma, maka kolak lah yang lazim serta difavoriti sebagai ‘pembuka buka pausa’ di Indonesia. Mulai dari lingkugan keluarga bersahaja hingga di restoran mahal sekalipun, kolak menjadi menu sajian terawal yang disuguhkan untuk membatalkan puasa setibanya bedug Maqrib. Oleh sebab itu dapat dimengerti bila salah sebuah kuliner yang hampir senantiasa ada diantara beragam penganan yang dijajakan pada bedak-bedak dadakan yang menjamur di sore hari manakala tiba puasa Ramadhan adalah kolak. Kuliner inilah yang seolah menjadi ‘rajanya takjil’, yang pertama dan yang utama dikonsumsi oleh banyak orang, tatkala berbuka puasa. Bahkan, tahap permulaan berbuka puasa telah serasa cukup kendati hanya dengan menyatap kolak.

Menilik demikian lamanya waktu kolak dikonsumsi, luasya daerah persebaran kulier kolak, dan banyaknya pemiat kolak – terlepas apapun statra soasial-ekonomiya, maka tak berlebihan untuk menyatakan bahwa kolak adalah kuliner yang amat mengkeluarga (familier) pada masuarakat di Indonesia. Sebenarnya, selain di Indonesia kuliner ini juga dikenal di negara-negara lain dalam region Asia Tenggara yang dihuni oleh rumpun bangsa Malayu, Kolak hadir dalam lintas masa, lintas area dan lintas sosia pula, sebab kapanpun, dimanapun dan siapapun hampir-hampir pernah mengkonsumsi kolak. Malahan, terdapat orang-orang tertetu yang mencandui kolak, baik ketika berbuka puasa ataupun pada kesempatan lain. Dengan perkataan lain, kolak adalah kuliner yang ‘merakyat’ – namun, bukan berarti bahwa kolak hanya dikosumsi rakyat kecil, karena kalangan atas pun terbukti doyan kolak.

B. Etimologi dan Tafsir Makna Istiah Unsur Kuliner Kolak

Ada sejumlah varian sebutan untuk ‘kolak’, antara lain ‘kolok, kulak, kolêk, dsb’. Sebagaimana sebutan-sebutan lain untuk kuliner yang berkeanan dengan ritual Islam, seperti ‘apem dan kupat’, sebutan ‘kolak’ juga diasalkan dari bahasa Arab. Kyai sepuh dari Pondok Pinang Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan, yakni almarhun KH Hasbullah, menyatakan bahwa kata ‘kolak’ berasal dari istilah dalam bahasa Arab ‘kul laka (makanlah, untukmu)’. Pendapat lain mengasalkannya dari kata dala, bahasa Arab ‘khala’ atau ‘kholaqo’, yang bisa diturunkan menjadi kata ‘kholiq’ atau ‘khaliq’ yang berarti pencipta, pencipta alam semesta dan menunjuk kepada Allah SWT. sebagai pencipta seluruh makhluk yang hidup di alam semesta. Selain berarti pencipta, dapat pula berarti: Tuhan yang disembah, Pengatur dan Pemelihara, Pemberi bentuk, dan Tuhan Yang Maha Perkasa. Sebutan ini dijadikan media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bukan hanya itu, unsur-unsur di dalam kolak pun difilosofikan dalam kaitan dengan ajaran Islam. Pisang jenis ‘kepok’ yang paling umum digunakan sebagai isian kolak merujuk pada ‘kapok (jera)’ dalam bahasa Jawa, yakni istilah ibarat agar manusia jera berbuat dosa dan segera bertobat kepada Allah SWT. Selain itu, isian kolak lainnya, yaitu ubi, dikenal dengan sebutan ‘telo pendem’ – masuk kategori ‘polo pendem’, memuat filosofi bahwa manusia harus mengubur kesalahannya dalam-dalam. Reka foilosofis lainnya menghubungkan dengan kematian, yaitu media pengingat bahwa suatu saat manusia pasti mati dan kemudian dikubur (dipenden) di dalam tanah. Kematian mungkin saja akan datang, semudah kita menyendok kolak ke dalam mulut. Unsur lain sebagai bahan kolak adalah santan, yang dalam bahasa Jawa disebut ‘santen’, sebagai kependekan dari ‘pangapunten (permohonan maaf), yang menjadi media pengingat agar manusia seantiasa meminta maaf atas kesalahannya.

Etimologi dan tafsir makna sebagaimana dikemukakan pada alinea diatas adalah ikhtiar baik untuk menjadikan makanan sebagai media pembelajaran budi pekerti dan penguat keyakinan keagamaan. Namun, bukan berarti bahwa muasal sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab. Entah dari istilah ‘kul laka (makanlah)’ atau ‘khala, kholaqo, kholiq, khaliq (pencipta)’. Etimologis yang demikian hanya mendasarkan pada keserupaan istilah, dan terkesan dipas-paskan. Jika dasarnya hanya keserupaan istilah, maka tak usah jauh-jauh istilah serupanya dicari dalam bahasa Arab, melainkan cukup dicari di Jawa, padamaa kolak berada. Sebutan ‘kolak’ atau variannya ‘kulak (kula’)’ mempuyai keserupaan dengan istilah dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan, yaitu ‘kula’, yang antara lain berarti: kawanan, pasukan, kumpulan, oramg banyak, jumlah, suku, keluarga, rumpun, kasta, rombongan, keluarga bangsawan atau unggul, keluarga, keturunan, asal-usul (Zoetmulder, 1005: 530).

Dalam arti kumpulan, kuliner kula+k (kulak) atau kula’ dicirikan oleh adanya sekumulan bahan makan yang diisikan ke dalam kuah kolak. Dengan perkataan lain, ke dalam kuah kolak terbuka untuk diisikan beragam bahan makan, baik berupa buah, bijian atau bahan makan lainnya. Selain menggunakan pisang dan ubi, saat ini modifikasi kolak juga telah banyak ditemui. Mulai dari gabungan penggunaan pacar Cina, tapai singkong, ketan, roti, serabi, jenang, kolang-kaling, buah labu, buah nangka, rumput laut, biji salak atau ubi yang diolah menyerupai biji salak, dsb. Adapun dalam arti keluarga, kolak adalah kuliner yang amat lama familier (mengkeluarga) pada masayarakat Nusanara, khususnya Jawa. Boleh jadi, asal kuliner kolah bukan dari Timur Tengah, melainkan dari Nusantara sendiri.

Dengan mengasalkan sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab, maka diambill alibi bahwa kolak berasal dari Timur Tengah. Kelatahan mengasalkan kolak dari Timur Tengah juga pernah dikemukakan William Wongso, yang menyatakan bahwa kudapan ini dimungkinkan berasal dari negara Timur Tengah. “Mereka itu suka makanan manis-manis, jadi kalau kolak kemungkinan dari sana,” ujar pakar kuliner Nusantara ini saat dihubungi harian Republika (Rabu (17 Juni 2017). Sebenarnya, apabila alasannya karena genar mengkonsumsi makanan yang rasanya manis, bukan hanya orangTimur Tengah yang suka makanan manis, namun orang Jawa – utamanya orang Semarang, Yogyakarta dan Surakarta – juga gemar rasa manis pada beragam makaan dan minumannya. Bahkan, semenjak masa Hindu-Buddha masyarakat Jawa Telah mengeal miuman yang rasanta manis seperti kilang dan cairan gula merah untuk pemanis kuah yang dinamai ‘juruh’.

C. Kegemaran Minuman-Makanan Rasa Manis

Kolak bisa dimasukkan sebagai ‘makanan’ apabila ditilik dari buah, biji-bijian atau bahan makan lain yang terdapat di dalamya. Namun dapat pula dimasukkan sebagai ‘minuman’, sebab berkuah manis, yang dibuat dari air ditambah dengan santan, garam secukupyam daun pandanm fanili, dan gula – mulaya digunakan jenis ‘gula merah’, seperti gula aren, gula kelapa (gulo klopo) atau gula siwalan (tal), namun kini gula putih lazim digunakan sebagai pengganti atau campuran gula merah. Oleh karena itu, cita rasa kolak adalah manis. Lantaran rasanya yang manis itu, maka kolak serupa dengan kurma, yakni cocok untuk makaan pembuka dalam berbuka puasa. Kelebihan kolak bila dibandingkan dengan kurma dalam hal ini ada;ah selain manis juga berkuah, sehingga rasa dahaga lataran tidak minum seharian segera dapat tertasi.

Masyarakat Nusantara, terlebih orang Jawa, banyak menyukai rasa manis. Pemanis yang berupa gula – dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan disebut ‘gendis’ – telah lama digunakan, Kolak yang berasa manis karenanya termasuk kuliner yang disukai dari masa ke masa. Masyarakat Jawa telah demikian lama mengenal dan menggemari minuman manis. Salah satu diantaranya adalah kilang, yakni minuman beragi dari tebu (Zoetmulder, 1995:500). Kilang juga digunakan untuk menyebut nira kelapa, aren ataupun tal yang direbus — bila direbus terus akan mengental, dan bisa dijadikan gula merah. Selain itu santan juga sudah terbiasa dipakai untuk memasak. Bila santan dicampurkan ke dalam kilang, maka jadilah kuah kolak. Hanya saja, pada umumnya kuah kolak dibuat dari air dicampur dengan santan dan arsiran gula merah dan kemudian direbus hingga mandidih. Kedalam kuah tersebut dimasukkan buah, biji-bijian atau bahan makan lainya, sehingga terbentuklah kolak pisang, kolak candil ketan, kolak labu, kolak ubi jalar, kolak durian, kolak kolang kaling, kolak singkong, kolak apel, kolak kacang hijau, kolak cendol. kolak serabi, kolak biji salak, kolak kelapa muda, kolak jenang (jenang kolak), kolak rumput laut, kolak bola pelangi. kolak sagu mutiara, kolak pisang ijo, kolak pisang coklat, kolak paris, kolak tapai, kolak havermunt pisang, kolak pudding, kolak roti, dan banyak lagi. Terbayang bahwa kegemaran mengkonsumsi kolak adalah kelanjutan dalam bentuk lain dari kesukaan meminum kilang.

Kilang adalah salah satu miniman yang telah lama dikenal dan digemari Masyarakat Jawa, bahkan semejak masa Hindu-Buddha. Jenis mimuman lainnya adalah twak, sidhu, cinca (kinca), brem, arak, jnu, bunga campaga, bunga pandan, bunga karaman, jatisara, air kelapa, mastawa, dsb. Dalam sumber data prasasti, kilang tekah disebut di dalam abad X Masehi, yairu prasasri Watukura (902 Masehi) dan Alasantan (939 Masehi) serta pada sejunlah sussstra Jawa Kuna dan Tengahan, seperti dalam kitab Brahmanda Purana (142, 161), Sumanasantaka (38.1), Arjunawijaya (31.10), Nagarakretagama, Partayajna (18.7), Subhadra Wiwaha (7.4), Kidung Hasyawijaya (1/37, 4.54), Kidung Malat (7.77), dan Wangbang Wideya (6.184). Menilik lamanya waktu dan banyak sumber data yang memberitakan, tergambar bahwa ninuman kilang ini banyak dimiati warga Jawa pada zamannya. Peminatnya mulai kalangan rakyat hingga para bangaswan, Kebiasaan mengonsumsi kilang berlanjut dengan beberapa perubahan menjadi kolak.

 

Ada kemungkinan, sebagai sebutan, kata ‘lolak’ baru digunakan paaa Masa Hindu-Buddha, karena sebutan ini tidak dijumpai dalam sumber data tekstual Masa Hindu-Buddha, baik prasasti ataupun susastra. Pada Masa Perkembangan Islam, awalnya kolak disajikan bulan Syaban, atau satu bulan sebelum memasuki Ramadhan. Pada bulan Syaban, umat Muslim diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud ketakwaan jelang memasuki ‘bulan yang penuh berkah’, yaitu bulan Ramadhan,. Tradisi mengkonsumsi kulner kolak itu berlanjut hingga memasuki bulan Ramadhan, utamanya sebagai kudapan (takjil) ketika buka puasa. Demikianlah, kolak adalah kuliner Nusatara yang telah meniti perjalanan sejarah pajang. Selamat menikmati hidangan kolak, semoga melagakan tenggorokan. Nuwun.

Sangkaliang, Griya Ajar CITRALEKHA, 19 Mei 2018

 

Continue Reading

BUDAYA

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Avatar

Published

on

Salamun ya Ramadhan

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Arti Istilah dan Ragam Jenis Puasa

Istilah ‘puasa’ adalah kosa kata bahasa Indonesia, yang pada bahasa Jawa disebut ‘poso’. Dalam bahasa Arab sebutannya adalah ‘shaum’, yang berarti : menahan diri dari segala sesuatu. Puasa dilaksanakan dengan atau dimaksudkan untuk menahan diri dari segala perkara, seperti makanan, minuman, berbicara, menahan nafsu dan syahwat, dsb. Sedangkan secara harafiah, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Pokok kegiatan puasa (shaum) adalah ‘menahan diri’, atau bisa disinonimkan dengan ‘pengekangan diri’. Dalam arti ‘pengekangan’ itu, pada bahasa Jawa Kuna terdapat istilah ‘pasa’, yang secara harafiah berarti : jerat, perangkap, ikatan, rantai, dan kekangan (Zoetmulder, 15:76). Istilah ini menunjuk pada benda, atau senjata ataupun tindakan.

Dalam kakawin Ramayana (24.59) terdapat perkataan ‘pasa-brata’ yang diarahkan pada tindakan durjana. Secara harafiah perkataan ‘pasabrata’ berarti: kelakuan (kewajiban) untuk menggunakan rangkaian (dalam peggunaan kekuatan kersanya). Pada arti istilah ‘pasa’ itu tak dipeoleh gambaran pengekangan diri dengan tidak makan-minum, bicara, ataupun nafsu-syahwat. Pengekangan diri untuk perihal ini secara lebih khusus dilakukan dalam bentuk ‘tapa’, yang berarti: tapa, ‘mati raga’, pengendalian indera atau nafsu, yoga. Kata ‘tapa’ acapk dikombiasi dengan kata ‘bhrata’ menjadi ‘tapa-bhrata’, dalam artiL ketaatan ibadat reliegius, tapa (Zoetmulder, 1995:1210). Dalam bahasa Jawa Baru, kegiatan demikian disinonimkan dengan ‘tirakat’.

Ada berbagai macam puasa, baik kategori wajib (fardhu). sunnah, makruh, maupun puasa haram (moharram). Ragam puasa kategori wajib adalah puasa Ramdhan, puasa Qodha (pegganti puasa wajib lantaran berhalagan), puasa Kafarat (puasa penebusan dosa besar, seperti membunuh dan melanggar sumpah), puasa Nadzar (puasa pemenuh janji, di dalam bahasa Jawa disebut ‘ngluwari ujar’). Adapun yang masuk kategori puasa sunnah adalah puasa 10 hari di bulan Syawal, puasa 10 hari pertama budan Dzulhijah, puasa Hari Arofah (tanggal 9 Dzulhijah), puasa Senin dan Kamis, maupun puasa Dawud (puasa berselang-seling waktu). Puasa makruh dikhususkan pada hari jumat dan sabtu. puasa Moharram – terutama hari Asyyro’ (tanggal 10 Muharram), puasa Sya’ban, puasa padda bulan harom (bulan yang dimuliakan), terdiri atas bulan Dzulqo;dah, Dzulhijah, Moharram. Rajab, dan sehari pasca Idul Fitri serta sepajang tahun, Selain itu, masayarakat Muslim Jawa juga mengenal poso pati-geni, poso mutih, poso ngrowot, dsb.

Diatara beragam puasa itu, yang utama adalah puasa Ramadhan, sehingga diwajibkan ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S. Al-Baqoroh;183-184). Tulisan ini lebih banyak membicarakan tentang tradisi jelang puasa bulan Ramadhan, yang diistilahi dengan “prepegan” dan “megengan”.

B. Aktifitas Prepegan atau Megengan Jelang Bulan Suci Ramadhan

Apabila meilik waktu pelaksaaannyam yakni sebula punh di bulan Ramadhhan, yang wajib untuk dilakukan oleh semua umat Islam yang memenuhi syarat, maka puasa ini terbilang ‘puasa besar’. Oleh karena itu bukan hanya hal-hal ekstra yang musti dilakukan selama menjalakan ibadah puasa, namun ada hal ekstra pula yang dilakukan sebelum mamasuki ‘bulan suci’ Ramadhan, Prinsipnya, ketika memasuki bulan suci ini para pelaku puasa hendaknya telah dalam kondisi suci. Pembersihan tidak hanya dilakukan untuk dieinya, namun juga dilakukan terhadap reladinya dengan sesama manusia yang masih hidup maupun dengan leluhurnya yang telah tiada. Untuk itu dilakukan permohoan maaf kepada sesama manusia yang hidup, ziarah kubur (salah satu sebutan dalam bahasa Jawa mengenai itu adalah ‘sadranan’), pembersihan diri – antara lain menggunakan media air, Selain itu, ada sejumah kegiatan untuk memarakkan proses memasuki bulan Ramadhan, seperti selamatan (slametan, manganan), takbir keliling – ada pula yang menyertai dengan ‘pawai obor’, menabuh bedug bertalu-talu, dan varian kegiatan lain.

Pendek kata, pada satu atau dua hari menjelang memasuki bulan suci Ramadhan ada suatu kondisi khusus, yang diibaratkan sebagai suatu : pergerakan bersama secara berfokus guna mendekati atau memasuki sesuatu’ — dalam hal ini, sesuatu itu adalah bulan suci Ramadhan, padamana umat Islam mendalan ibadah puasa. Kondisi demikian dalam bahasa Jawa diistilahi dengan ‘prepek’ atau akata jadianya ‘prepegan’. Akar kata ‘prepeg (pa-repeg)’ adalah ‘rep’, yakni partikel desktipsi, (dengan) medadadk. Kata ulang ‘rep-rep’ atau ‘arep-rep’, yang berarti: dengan gerakan yang cepat dan tiba-tiba, berkibar-kibar (Zoermulder, 1995:942).

Selain kata ‘prepegan’ dihubungkan dengan waktu jelang memasuki bulan Ramadhan, istilah ini lebih sering digunakan untuk menyebut kurun waktu pendek (satu atau dua hari) jelang datangnya Idul Fitri (Lebaran). Dalam hubungan itu, ada yang membedakannya ke dalam: (a) prepegan cilik (kecil) utuk menyebut waktu dan suasana pada dua hati jelang Lebaran, dan (b) prepegan gede (besar) untuk menyebut kurun waktu atau suasana pada sehari jelag Lebaran. Suasaa itu antara lain ditandai oleh suasana pasar yang ramai sesak, karena sebagian besar orang pergi untuk berbelanja ke pasar guna memenuhi segala kebutuhan pada hari Lebaran. Suasaa pasar yang tambah marak, juga berlagsug jelang Ramadhan, yang disertai dengan naiknya harga bahan pangan, meski tak semarak jelang Lebaran.

Istilah lainnya untuk menyebut kurun waktu satu atau dua hari jelas memasuki Ramadhan adalah ‘megengan’, yang berkata dasar ‘megeng (ma-geng)’ dan berakar kata ‘geng (besar)’. Ada pula yang mengartikan kata ‘megeng’ dengan: menahan (ngempet), berkaitan dengan peringatan bahwa sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan, dimana umat Islam diwajibkan menjalankan puasa, yaitu menahan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa itu. Kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, sesuai adat setempat. Umumnya waraga berbondong-bondong melakukan ziarah kubur, membersihkan makam, menaburi denga bunga dan mendoakan arwah leluhur. Suana marak ditandai dengan masak besar untuk dibagi-bagikan pada sanak famili. Pada malam harinya diadakan slametan (kenduri) untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal. Ada pula yang mengadakan selamatan bersama di masjid, langgar atau mushola.

Nabi Muhammad SAW untuk senang, bergembira, atau bersuka cita menyambut tiba bulan Ramadhan. Peristiwa ini di Jawa dinamai “megengan”, siatu tradisi turun temurun untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas berkat-nikmatya selama setahun berlalu. Tradisi ini juga dijadikan pertanda bahwa sebentar lagi datang tamu istimewa, yakni Ramadhan. Megengan merupakan bukti kerukunan warga masyarakat di dalam menjalin kerukunan dan kerjasama menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Biasanya megengan dilakukan di minggu terakhir bulan Sya’ban (Ruwah).

C. Makna Kuliner Apem dalam Selamatan Megengan

Salah satu pengaan khas yang disajikan dalam slametan megegan adalah apem. Seusai malam nisfu sya’ban, beberapa hari jelang bulan Ramadhan, umat muslim bisanya melakukan tradisi megengan dengan membagikan kue apem kepada tetangga kanan kiri rumah. Ada yang mengasalkan istilah ‘apem’ dari kata ‘afum’. yang artinya adalah meminta dan memberi maaf. Oleh karena masyarakat Jawa tidak mengenal huruf ‘F’, maka kata ‘afwun’ berubah sebutan menjadi ‘apwun’. dan kemudian menjadi ‘apwum’, lantas berubah jadi ‘apwem’, dan akhirnya disebut ‘apem’.

Bahan dasar apem adalah tepung beras, yang melambangkan kebersihan dan kesucian. Sedangkan santan merupakan sari buah kelapa sebagai akronim dari kata Jawa sagetho nyuwun pangapunten, yang bermakna permohonan maaf. Gula dan garam melambangkan perasaan hati. Apabila semua bahan-bahan itu dijadikan satu, makna simbolikya adalah kesucian dan ketulusan hati. Jadi, makan kue apem bisa diartikan memohon maaf kepada keluarga, sanak saudara dan teman. Usai memakan apem, biasanya orang-orang saling bersalaman, meminta maaf dan membaca doa.

Tradisi megengan diwarnai dengan rasa syukur dengan membagi kue apem kepada tetangga. Rasa syukur dan nuansa kekeluargaan (keguuyuban ) terkadung kental didalamnya. Meskipun kue apem dalam megengan hanyalah sebentuk kiliner, namun substansi maknaya dalam. Suatu nilai kultural luhur, yang patut dilestarikan, dimasyarakatkan dan dipetik maknanya untuk diejowarahkan dalam kehidupan bermasyarakt. Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, semoga bisa membuahkan pirifikasi (pembersihan diri) terhadap segala ‘kekotoran’ yang mengotori diri selama satu talun berlalu. Nuwun

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 16 Mei 2018

Continue Reading

BUDAYA

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP

Avatar

Published

on

 

Khasanah Heritage Songhenep

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP : Menuju “Labang Mesem Cultural Movement”, Wahana Smiling Sucsesion

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Makna ‘Mesem” pada Gapura Labang Mesem

Mutiara kata menyatakan ‘sambutlah tamumu dengan senyuman’. Suatu ekspresi sikap ‘ramah’ yang murah namun bermakna, yang keluar dari hati bersih-tulus kepada orang lain yang berelasi dengannya. Seyuman yang dalam bahasa lokal Jawa maupun Madura disebut ‘mesem (sunggingan senyum)”, dalam hal penerimaan tamu bukan sekedar citra pantomimik pada raut muka seseorang, namun lebih daripada itu menyiratkan makna yang berkenaan dengan etika pergaulan (toto kromo), yaitu: (a) selamat datang, disambut baik, penyambutan (welcome) (b) kesediaan atau keterbukaan untuk menerima kehadiran orang lain, maupun (b) pengharapam agar niat baik untuk mengadakan pertemuan itu membuahkan hasil yang baik (kefaedahan) bagi kedua pihak, ‘Murah senyum’ acap dimaknai dengan kebaikan hati. Sebaliknya, ‘pelit senyum’ dikonotasikan dengan kesombongan, keculasan dan ketidakbersahabatan. Demikianlah, senyuman memiliki makna serta manfaat yang mendalam. Meski hanya sekejap, senyuman dapat menjadi kenangan yang bertahan lama. Senyum menciptakan kebahagiaan bagi sekitar. Senyum yang tulus adalah ibadah. Memberikan senyuman untuk semua orang akan memberi keceriaan, sebab senyuman membuka pintu kebahagiaan. Ketika seseorang tersenyum tanpa paksa (tulus), ia membuat suasana perasaan menjadi lebih riang. Orang yang berjumpa dengannya atau berada di sekitarya ikut tersenyum dan merasa jadi lebih bahagia.

Dalam kaitan dengan sunyum, adalah unik bahwa nama yang diberikan untuk gapura masuk di sisi timur dari Keraton Sumenep adalah ‘Labang Mesem’. Kata ‘labang (diujar dengam logat Madura ’labeng”) dalam bahasa Jawa dinamai ‘lawang’. Keduanya menunjuk kepada pintu atau gapura dalam bahasa Indonesia. Pada kedua kata itu, yang berbeda hanyalah kosonan ‘W’ dan ‘B’-nya, dimana kedua kosonan ini acapkali ‘bertukar’, baik pada bahasa yang sama namun beda masa atau pada dua bahasa yang bertetangga seperti pada bahasa Jawa dan Madura. Labang mesem dengan demkian secara harafiah berarti: gapura tersenyum. Sudah barang tentu, penamaanya itu bukanlah tanpa pertimbangan, yaitu simbol: keramahan, sikap ramah kepada siapapu yang datamg bertamu ke Keraton Songhenep (toponimi lama untuk apa yang kini dinamai ‘Sumenep”). Siapapun yang datang bertamu mustilah dihormati, harus disikapi dengan ramah, dan diterima dengan lapang hati. Tamu ibarat ‘raja’, meskipun tempat yang didadatangi tersebut adalah tempat kediaman sang raja (disebut ‘karajyan = ka+rajya-an’), datu (dinamai ‘kadatwan = ka-datu-an’), atau ratu (dibilang “keraton = ka-ratu-an’).

Setidaknya terdapat tiga versi kisah lokal terkait dengan latar pemberian nama ‘Labang Mesem’. Pertama, dahulu pintu gerbang keraton dijaga oleh dua orang cebol – diidikatori oleh adanya dua buah ruangan berpintu rendah di kanan dan kiri gapura serta terdapat kuburan cebol kompleks makam Astatinggi. Lataran penjaganya orang cebol, maka tak heran apabila sering menghadirkan senyum pada orang yang melintasinya. Kedua, ruang terbuka yang berada di bagian atas koridoor adalah tempat raja mengawasi area di sekitar keraton, temasuk putri-putri dan para istrinya yang sedang mandi di Taman Sari (logat Madura ‘Taman Sare’). Ketika memperhatikan putri dan atau istrinya yang sedang mandi itu, raja terseyum simpul (mesam-mesem). Ketiga, pada suatu ketika Kasultaan Sumenep berhasil memukul mundur pasukan Bali. Timbul rasa dendam darinya, dan bermaksud menuntut balas. Namun tatkala pasukan Bali datang ke Sumenep, tepat di depan gerbang keraton, amarah mereka serta merta berubah, sebab warga keraton Sumenep meyambut dengan senyum ramah penuh persahabatan.

Terlepas dari versi mana yang benar, keseluruhannya menggarisbawahi perihal ‘senyum (mesem)’ terkait dengan keberadaan gapura sisi timur keraton Sumenep. Konon wujud senyuman tidak hanya tergambar pada unsur nama ‘mesem’, namun diperkuat oleh sebuah arca yang menggambar figur yanng menyunggingkan senyuman. Menurut persaksian RP. Mohammad Mangkuadiningrat, dahulu arca itu ditempatkan di sebelah timur dari pendapa keraton, dekat dengan ‘rumah lonceng’, yang terlihat lurus dari arah pandang luar gapura Labang Mesem. Namun sayang sekali, arca yang mengekspresikan senyuman itu, selaras dengan unsur nama ‘mesem’ dari gapura keraton tersebut, kini telah tiada lagi, sehingga perihal ‘seyuman’ hanya tersisakan pada unsur nama gapura. Kendati demikian, tak lantas menyurutkan keramahan warga Sumenep, yang dikenal satun dan bersahabat (friendelig).

B. Ekspresi Akulturatif Gapura Labang Mesem pada Kompleks Keraton Sumenep

Labang Mesem dibangun tahun 1781, bersamaan waktu dengan pembangunan Keraton Sumenep pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo (Pangeran Natakusuma I) oleh arsitek keturunnan Tiong Hoa bernama Lauw Piango – mengungsi ke Madura sebagai akibat Huru Hara Tionghoa di Semarang tahun 1740. Bangunan yang berwujud gapura ini adalah salah satu dintara dua gapura yang tersisa, yang semula lengkapnya berjumlah lima buah (dinamai ‘ponconiti’). Posisinya pada bagian depan keraton Sumenep menghadap ke selatan, berloksi di sebelah timur Gedong Negeri, dekat Taman Sari (dialek Madura ‘Taman Sare”). Gapura Labang Mesem dengan demikian hanya salah sebuah komponen arsirektur pada kompleks keraton Pajagalan (sebutan populernya ‘keraton Sumenep’) selain pendopo agung, gedong negeri, pengadilan keraton, paseban, taman sare, serta beberapa bangunan pribadi keluarga keraton.

Secara arsitektural Labang Mesem yang monumental masuk dalam kategori gapura padhuraksa, yaitu suatu jenis gapura (selain ‘candi bentar’), yang lazimnya ditempatkan dan difungsikan untuk memasuki ruangan yang dipandang suci atau penting. Gapura padhuraksa ini dilengkapi dengan ‘sayap’ di kanan-kirinya, sehingga bisa disebut ‘gapura bersayap’. Gapura bersayap telah terdapat semenjak Masa Hndu-Buddha dan berlanjut penggunaannya hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam. Meski beda masa dan berlainan latar religisnya, namun model arsitektur dari keduanya sama, yakni sama-sama berupa gapura bersayap. Arsitektur yang berasal dari lapis masa dengan latar religis berbeda, yaitu Masa Hidu-Buddha, tidak disikapi dengan ‘penolakan’. Suatu siakap buadaya Madura yang tidak inklusif, sebaliknya membuka diri bagi pengaruh budaya lain, seperti keterbukaannya dalam menerima tamu yang disimbolkan oleh gapura Labang Mesem. Pemangku budaya Madura terbuka terhadap budaya luar tanpa meninggalkan budayanya sendiri. Dengan perkataan lain mengadaptasi anasir budaya luar kepada budaya setempat, sehingga terbuahkan paduan budaya yang akulturatif.

Pada gapura Labang Mesem yang dibangun semasa pemerintahan Panembahan Sumolo ini, unsur arsitektural dari Masa Hindu-Buddha lainnya adalah atap yang berbentuk tumpang (meru), yakni atap bersusun dalam jumlah gasal (ganjil), yang pada gapura ini terdiri atas tiga susun, yang makin ke atas semakin mengecil dan diakhiri dengan kemuncak (Memolo). Atap meru juga didaati pada Masa Hindu-Buddha, baik pada bangunan profan terlebih pada banguan sakral, Model atap yang demikian juga berlanjut hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam, Bahkan, di beberapa daerah berlanjut sampai sekarang, seperti tergambar pada bangunan suci pura, masjd, dan sebagainya. Atap meru iitu menaungi ruangan berdinding terbuka yang berada di atas koridoor (lorong keluar-masuk), sehingga tampak sebagai bangunan berloteng (verdiping) yang digunakan untuk memantau segala aktifitas di dalam lingkungan keraton, termasuk kegiatan di Taman Sare. Pada kanan-kiri koridoor terdapat sepasang ruang kecil dan pendek dengan pintu yang pendek pula dibawah naungan teras, yang di dalamnya terdapat tangga kayu untuk naik-turun ke/dari loteng.

Kecuali atap banguan yang berbetuk meru dan konsep arsitektur padhuraksa bersayap, konponen-komponen arsitektur lain dari gapura ini, utamanya pada fasadenya, dengan jelas memperlihatkan unasir seni bangunan Eropa, seperti tergambarkan pada pilar ganda di kanan-kiri koridoor, pelipit, kolom lengkung pada koridoor, bangun segitiga pada bagian atas fasade sisi depan, maupun teknik arsitekturya. Paduan antara nasisr arsitektur Eropa-Jawa pada gapura ini menjadi alasan kuat untuk menyatakan bahwa Labang Mesem memiliki gaya arsitektur Indis. Budaya Indis yang berkembang di Indonesia pada Masa Kolonial, khususnya pada golongan menegah ke atas warga Hidia-Belada di Jawa abad XVIII-XIX Masehi, mengindikasikan percampuran antara budaya Belanda dan Pribumi, yang dapat diidentifikasi pada pelacakannya terhadap tujuh unsur budaya universal (Sukiman, 2000). Gaya Indis tersebut tergambar jelas pada seni-bangun (arstektur), seperti dicontohkan oleh gapura Labang Mesem yang akulturatif. Ekspresi akulturatif tampak kuat pada kompleks keraton Sumenep, yang ditadai oleh percampuaran anasir budaya Jawa, Belanda, Cina dan Madura.

C. Kekayaan Khasanah Heritage Performig Art di Sumenep

Sebagai ‘daerah bersejarah’ sekaligus ‘daerah kaya budaya’ Sumenep memiliki jejak budaya masa lampau yang kaya, beragam, unik, dan penting. Peninggalan arkeologis, utamanya dari Masa Perkembangan Islam dan Masa Koloial, terdapat di pejuru wilayah Sumenep. Hal serupa tergambar dalam seni-budayanya, tidak terkecuali pada seni-pertunjukan daerah (lokal)-nya yang mentradisi. Bila kedua sumber daya budaya yang nota bene merupakan ‘warisan budaya (heritage)’ itu dikombinasikan, maka hadir apa yang dinamai ‘heritage performing art’, yakni penyajian seni pertunjukan (performing art) yang heritage di suatu pentas yang juga merupakan heritage.

Salah sebuah diantara tidak sedikit arsitektur heritage di Kabupaten Sumenep adalah komplek keraton Pajagalan atau keraton Sumenep, termasuk di dalamya adalah gapura bersayap Labang Mesem yang artistik, unik dan simbolik sebagai sebuah komponen arsitekturnya. Gapura yang masih tegak berdiri dalam kondisi relatif utuh dan lesari di seberang utara jalan ini layak kiranya dijadikan sebagai pentas (stage) bagi pemetasan beragam bentuk seni-pertunjukan lokal Sumenep yang mentradisi. Bagian depan gapura heritage Labang Mesem menarik dan unik untuk dijadikan sebagai latar (back ground) bagi pementasan seni-budaya. Tata cahaya ataupun video maping tentu bakal menambah keelokan tampilan Labang Mesem yang monumenta; itu pada malam hari sebagai latar pemetasan.

Disamping gapura Labang Mesem, sebenarnya di penjuru daerah Sumenep masih terdapat cukup banyak bangunan heritage yang tidak kalah unik dan menariknya untuk digunakan sebagai stage atau back ground pementasan seni-pertunjukan. Dalam kaitan itu pementasan seni-pertunjukan bertajuk ‘Labang Mesem Cultural Movement” pada Minggu 13 Mei 2018 dapat dijadikan contoh terapan konsepsi ‘Heritage Performing Art” di Sumenep. Ke depan model demikian bisa adaptasi untuk dicobaterapkan kepada monument heritage lainnya di Sumenep. Heritage performing Art merupakan akhtiar kultural yang diharap dapat memberi ragam manfaat. Ibarat Mutiara kata ‘sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui’, ikhtiar ini bisa untuk: (a) mengenalkan bahkan memahamkan heritage yang ada di suatu daerah, baik arsitektur yang heritage ataupun performing art yang heritage, (b) tampilan yang artistik, unik dan menarik dari monumen heritage dapat dijadikan pentas atau latar belakang pementasan seni-pertunjukan, (c) kandungan makna atau pesan dalam monumen heritage bisa digunakan untuk mengkomunikasikan atau menguatkan isi pesan yang disampaikan oleh pementasan seni-pertunjukan atau kegiatan lain.

D. Wahana bagi ‘Smiling Sucsesion’

Suksesi pemeritahan, baik berupa Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) tingkat Kota/Kabupaten dan Provinsi maupun Pilpres (Pemilihan Presiden) tingkat nasioal adalah suksesi pemerintahan yang dilangsungkan secara periodik, yakni lima tahuan. Setiap tahun bakal berlangsung Pilkada ataupun Pilpres, sebagimana halnya Pilkada Kota/Kabupaten dan Provinsi tahun 2018 pada bulan Juni 2018 mendatang. Untuk kepentingan itu, KPU Jawa Timur sebagai penyelenggara Pemilu (Pemilihan Umum) melaksanakan ikhiar untuk mensosialisasikan perhelatan yang segera dilangsungkan, yang antara lain dilaksanakan di Sumenep. Pementasan seni-pertunjukan dipertimbangkan sebagai tepat untuk didayaguakan sebagai wahana bagi sosialisasi itu, dengan pengharapan bahwa Pilkada Kota/ Kabupaten dan Provisi mendatang berlangsung dengan tertib, aman, demokratis dan membuahkan pilihan – yakni kepala daerah – yang amnah bagi penyelenggaraan pemerintahan serta pemajuan daerah untuk lima tahun ke depan.

Sosialisasi Pilkada 2018 di Sumenep pada Minggu malam, tanggal 13 Mei 2018 diselenggarakan dengan mengambil “spirit” gapura Labang Mesem, dalam bentuk ‘Heritage Performing Art’. Sengaja gapura Labang Mesem dijadikan spirit, dengan antara lain mempertimbangkan makna kata ‘mesem (senyum, smile)’ pada unsur sebutannya. Dalam konteks Pilkada, seyumam dapat dijadikan unsur penyampaikan pesan, yakni ‘laksanakan Pilkada mu dengan senyuman’, atau menjadi semacam ‘smiling sucsesion’. Memulih dengan gemibira (baca ‘tersenyum’), tersenyum bila memperoleh kemenangan sebaliknya menerima realitas kekalahan dengam senyuman (kelapangan hati) pula. Senyuman adalah kata kunc’ untuk mengeleminir kejadian buruk, baik sebelum, selama atau pasca Pilkada. Selain itu, pilihan spirit sosialisasi yang ditimba dari makna gapura (labang = lawang = pintu) bernama Labang Mesem menyiratkan pesan bahwa Pilkada adalah ‘pinitu masuk’ bagi suksesi pemeritahan periodik. Merupakan pintu pula bagi perubahan ataupun kesinambungan dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembagunan pada lima tahun kedepan.

Dengan pemakanaan yang demikian, niscaya Pilkada bakal merupakan ritus suksesi pemeritahan yang insya Allah bermakna bagi khalayak. Semoga tulisan yang cuma bersahaja ini membuakan keraedahan. Nuwun.

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 11 Mei 2018

 

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019