Connect with us

BUDAYA

ANCIENT JAVANESE SYLOPHONE (SALUKAT) RELIEF CANDI GAMBAR WETAN DAN PENATARAN

Avatar

Published

on

Edisi Sejarah Seni Pertunjukan

ANCIENT JAVANESE SYLOPHONE (SALUKAT) RELIEF CANDI GAMBAR WETAN DAN PENATARAN

Oleh: M..Dwi Cahyono

A. Deskripsi Relief

Temuan baru hasil eksvasi Tahap I – IV (tahun 2013 – 2016) di areal situs Candi Gambar Wetan pada lereng selatan Gunung Kampud (Kelud) memberi banyak informasi baru. Salah satu informasinya berkenaan dengan paleo-musicology, khususnya waditra (music instrument) jenis ‘sylophone’, yaitu suatu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari sesuatu yang dipukul. Informasi itu didapat dari : (1) sebuah diantara suatu ‘set relief’ yang terdiri atas tiga panil relief pada batu berwarna keputihan dan berukuran relatif kecil, tepatnya pada panil bagian tengah di areal Candi Gambar Wetan, (2) dua panil relief lepas di Candi Gambar Wetan, yang menggambarkan tokoh laki-laki dan wanita memainkan sylophone, serta dapat ditambahkan (c) dua buah panil relief di Pendapa Teras II kompleks Candi Penataran.

1. Satu Set Relief Terdiri Atas Tiga Panil

Panil pertama menggambarkan seorang pria mengenakan mahkota berbentuk supit urang. Perawakkannya kekar, berkumis, dan berbusana minimalis, yang mengingatkan kita pada tokoh ksatria sebagaimana gambaran lazim untuk para ksatria keluarga Pandawa. Panil ketiga menggambarkan seorang laki-laki dalam posisi duduk, memandang ke arah depan, dengan ekspresi wajah sunggingkan senyuman, seolah melihat suatu tontonan. Raut wajah dan tata rambutnya mirip dengan tokoh Punokawan pada relief-relief masa Majapahit. Panil relief bagian tengah (kedua) menggambarkan tentang seorang pria mengenakan jathamakuta (rambut panjang disanggul besar dan diperkuat dengan lilitan helai-helai kain, semacam sorban), dalam posisi duduk bersila sambil memainkan waditra jenis sylophone.

Sylophone yang dimainkan terdiri.atas 14 lempeng (wilahan). Ukuran wilahan kian mengecil ke arah kiri, sebaliknya semakin memanjang ke arah kanan. Oleh karena dipahatkan tampak atas, maka pelandas wilahannya tidak tertampakkan dengan jelas. Tongkat pukul wilahan (stick) yang dipegang oleh masing masing tangan sebanyak dua buah (doble stick), yang mengingatkan kita pada waitra kolintang. Kedua tongkat pemukul itu dipegang dengan jari~jari tangan, yang membentuk serupa huruf “V”.

Di muka pemain musik tersebut digambarkan seorang perempuan mengenakan dodot dan sampur dalam posisi berdiri. Apabila menilik (a) gerak kedua kaki dan tangannya, maupun (b) konteksinya dengan permainan musik di hadapannya, maka bisa diidentifikasikan sebagai tengah menari. Posisi kedua kaki bersilang. Kaki kiri digerakkan ke arah kanan, dengan ujung tapak kaki dihentakkan ringan ke tanah (gejug). Kaki kanan digerakkan ke arah kiri di muka kaki kiri, dengan tapak kaki menapak tanah (ndlamak). Tubuhnya direndahkan atau dipandakkan (mendak), dengan tekukkan pada lutut. Tangan kanan seperti baru mengibaskan sampur ke arah samping-bawah (nyeblak sampur). Kepala ditolehkan ke kanan. Terkesan bahwa wanita itu tengah menari, sebagai penari tunggal. Tariannya diiringi dengan waditra jenis sylophone, sebagai waditra tunggal pengiring tari.

2. Dua Panil Relief Lepas Menggambarkan Pemain Sylophone

Sebuah panil menggambarkan seorang pria bertelanjang dada, mengenakan jathamakuta, dalam posisi duduk bersila di atas alas datar sambil memainkan waditra jenis sylophone. Jumlah wilahannya 12 buah, yang tampak berukuran sama besar. Cara memainkannya serupa dengan relief terpapar di atas, yaitu dengan menggunakan tongkat pukul ganda (doble stick) pada masing-masing tangan, yang dipegang dengan jari-jari tangan membentuk seperti huruf “V’. Oleh karena dipahat tampak atas, maka pelandas wilahannya tak tertampakkan dengan jelas.

Sebuah relief lainnya menggambarkan seorang perempuan dengan rambut digerai sepanjang punggung. Mengenakan dodot hingga sebatas mata kaki, dalam posisi duduk di atas bangku rendah (dingklik). Kaki kanan diluruskan ke bawah hingga menapak tanah, sedangkan kaki kirinya dilipat dan ditumpangkan di atas paha kanan. Sebagaimana panail relief pada alinea atas, perempuan ini juga tengah memainkan waditra jenis sylophone, yang terdiri atas 11 wilahan. Ukuran masing-masing wilahan tampak sama besar. Cara memainkannya juga menggunakan doble stick, yang dipegang dengan jari-jari tangan membentuk serupa huruf ‘V’. Pelandas wilahannya juga tidak tertampakkan.

B. Identifikasi Waditra

Pada ketiga panil relief tertelaah, waditra yang dimainkan jenis sylophone, yang terdiri atas wilahan-wilahan dalam jumlah berbeda, yaitu 14, 12, dan 11 wilahan. Pada panil bagian tengah dari set relief yang terdiri atas tiga buah panil di Candi Gambar Wetan (butir A.1) tergambar bahwa ukuran dari 14 wilahan itu semakin memanjang ke arah kanan, sehingga menampakkan adanya kelompok wilahan panjang (panunggul) di bagian kanan, dan kelompok wilahan yang lebih pendek di bagian kiri. Sedangkan pada kedua panil relief lepas di Candi Gambar Wetan (butir A.2), ukuran masing-masing wilahan — baik yang berjumlah 12 ataupun 11 wilahan — terlihat sama panjang. Pesamaan dari ketiga relief tersebut terletak pada cara memainkan sylophone, yaitu menggunakan doble stick untuk masing-masing tangan, yang dipegag dengan jari-jari tangan membentuk serupa huruf ‘V’.

Waditra yang demikian juga didapati pada dua buah panil di Pendapa Teras II kompleks Candi Pentaran, yang dipahatkan di sisi depan (barat) Pendapa Teras II, tepat di sebalah kanan pipi tangga sebelah kanan. Pendapa Teras II dibangun pada era pemerintahan raja Hayam Wuruk di Masa Keemasan Majapahit (medio abad XIV Masehi), sebagaimana diketahui dari kronogram yang dipahatkan di pelipit atas sisi belakang dari Pendapa Teras II. Pada panil relief yang pertama digambarkan Panji dan kekasihnya memainkan masing-masing waditra jenis sylophone yang relatif sama bentuknya. Panji mengenakan jathamakuta dalam posisi duduk bersila sambil memainkan sylophone yang terdiri atas 16 wilahan. Kekasihnya yang duduk di hadapannya juga memainkan sylophon dengan dipandu oleh Panji. Pada panil kedua, sepasang sylophone 8tu itu dalam.kondisi terguling,lantaran kena tendang (kepancal) ulah Panji dan kekasihnya yang menumpahkan kasih rindunya

Ukuran masing-masing wilahannya tidak sama panjang. Pada sylophone yang dimainkan oleh Panji, wilahan yang terpanjang berada di bagian kiri sebanyak 3 wilahan, dan wilahan selebihnya (13 lempeng) tampak semakin panjang ke arah kanan. Pada sylophone yang dimainkan oleh kekasih Panji, wilahan terpanjang juga berada di bagian kiri, sedangkan wilahan selebihnya (13 lempeng) terbagi menjadi dua bagian, yaitu 9 buah makin panjang ke arah kanan, dan 4 wilahan sesudahnya relatif sama panjang. Pada panil kedua, yang menggambarkan waditra jenis sylophone dalam kondisi terguling, justru tampak bagian.pelandas wilahan~wilahannya.

Cara memainkan sylophone memperlihatkan adanya persamaan dalam seluruh relief tertelaah, yaitu memakai tongkat pukul ganda (doble stick) untuk masing-masing tangan, yaitu dipegang dengan jari-jari tangan membentuk serupa huruf ‘V’. Hanya saja, jarak antar stick pada doble stick untuk masing-masing relief tak sama, dengan varian: ada yang berselang 2 wilahan, 3 wilahan, dan bahkan ada yang 6 wilahan. Sukar untuk diterangkan apakah perbedaan jarak antar stick itu sungguh menggambarkan perbedaan teknis pukul wilahan berkaitan dengan titi nada ataukah kemungkinan disebabkan oleh kurang cermatnya pemahat relief dalam menggambarkan detail relief. Oleh karena, dalam teknik ‘tumpak manis’ untuk memainkan siter, gender ataupun gambang, jarak pukul/petiknya adalah satu wilahan/dawai.

Pada relief tertalaah terdapat adanya waditra sylophone dengan jumlah wilahan yang bervariasi, yaitu 11, 12, 14, dan 16 wilahan. Ukuran untuk masing-masing wilahan dan tata urutannya juga tidak sama untuk tiap panil relief tertelaah. Ada yang (a) kian panjang ke arah kanan seperti digambarkan pada panil tengah dari set terdiri atas tiga panil di Candi Gambar Wetan, (b) sama panjang seperti pada panil relief lepas di Candi Gambar Wetan, atau (c) variatif seperti pada relief di Pendapa Teras II Candi Penataran. Belum dapat djelaskan mengapa terdapat perbedaan dalam hal jumlah wilahan, ukuran masing-masing wilahan, dan tata urutan penataan terkait dengan titi nada beberapa waditra jenis sylophone yang dipahatkan tersebut. Namun, pada beberapa pahatan sylophone tertelaah, yaitu panil tengah dari set yang terdiri atas tiga buah panil di Candi Gambar Wetan dan pada panil pertama diantara dua buah panil di Pendapa Teras II Penataran diperoleh gambaran bahwa ukuran wilahan semakin panjang ke arah kanan. Hal ini berkebalikkan dengan waditra jenis sylophone dalam Gamelan Jawa berupa gender dan gambang kayu, dimana wilahan-wilahannya semakin mepanjang ke arah kiri.

Terlepas dari adanya perbedaan-perbedaan tersebut, terdapat adanya sejumlah persamaan antara sylophone yang dipahatkan pada Candi Gambar Wetan dan Pendapa Teras II Candi Penataran, yaitu : (1) sylophone terdiri atas sejumlah wilahan (11, 12, 14, dan 16 lempeng), (b) musisi pria mengenakan jathamakuta, (c) tongkat pukul berjumlah duah (doble stick) untuk masing-masing tangan, dan (c) dipegang dengan jari-jari tangan membentuk serupa huruf ‘V’. Persamaan itu dapat difahami, mengingat bahwa kedua candi itu berdekatan jaraknya (sekitar 5 km) dan relatif semasa (Masa Majapahit, abad XIV-XV Masehi), sehingga sangat boleh terdapat saling pengaruh satu sama lain. Selain itu, boleh jadi pada masa masa Majapahit waditra jenis ini cukup populer di lereng dan lembah sisi selatan Gunung Kelud.

Yang menarik untuk dicermati pada relief-relief tertelaah di Candi Gambar Wetan maupun Candi Penatara adalah para musisi pria yang memainkan waditra jenis sylopone itu mengenakan jathamakuta (semacam sorban), yakni indikator khas bagi anggota komunitas rokhaniawan. Penggambaran yang demikian pada dua panil relief di Candi Gambar Wetan bisa difahami, mengingat candi ini sekaligus menjadi mandalakadewa gurwa atau karsyan, dimana di sejumlah candi Masa Majapahit para rsi digambarkan mengenakan jathamakuta.

Keberadaan Candi Gambar Wetan sebagai tempat pembelajaran rokhani digambarkan dalam kitab ‘Bujangga Manik’ (abad XVII Masehi), dimana rokhaniawan asal tatar Sunda ini dikisahkan pernah belajar di Mandala Palah selama setahun. Candi ini pula yang diprakirakan pernah disinggahi oleh Panji Margasamara dan kekasihnya seperti dikisahkan dalam ‘Kidung Panji Margasmara’ (abad XV Masehi). Adapun pada relief Cerita Panji di Pendapa Teras II Candi Penataran, Panji yang memainkan sylophone digambarkan mengenakan jathamakutan, sebab konteks kisahnya ia baru saja melewatkan masa pembelajaran di suatu mandalakadewagurwan. Ada kesan bahwa waditra jenis ini cukup diminati di likungan mandalakadewagurwan (karsyan).

C. Jejak Tradisi dan Perubahannya

Dalam istilah Jawa Kuna/Tengahan waditra sylophone yang berbentuk demikian dapat diientifikasi dengan apa yang dinamai “Salukat”, yaitu waditra jenis perkusi seperti saron soprano ukuran kecil, yang acap disebut dengan ‘saron penerus, atau peking’ (Kust, 1968:79f). Wilahan-wilahannya terbuat dari lepengan logam kuningan atau pada masa itu amat mungkin dari bahan perunggu. Istilah arkhais ini tidak dipergunakan lagi dalam waditra Jawa pada masa sekaran., Sebaliknya cukup sering diberitakan dalam sumber data tekstual pada Masa Hindu-Buddha, seperti dalan kitab Gathotkacasraya (6.2, 10.9), Sumanasantaka (61.4), Kidung Harsyawijaya (52.5), Kidung Malat (2.15, 2.56-57, 8.136, 9.166, 9.183, 14.12, 14.25b), Wangbang Wideya (1.44) dan Wangbang Wideha A (1.40b), Wasengsari (2.112-113, 3.78, 3.81, 6.99, 9.86), Hariwangsa (19.6), Subhadrawiwaha (27.18), Sumanasantaka (24.7, 28.15) dan Abhimanyuwiwaha (6.10) (Zoetmulder, 1995: 992-993). Tergambar bahwa salukat telah ada sejak Masa Pemerintahan Kadiri (abad XIII Masehi) dan kian populer pada Masa Majapahit. Tidak sedikit susastra-susastra Panji yang memberitakan mengenai waditra salukat. Panji dikisahkan sebagai gemar memainkan, dan bahkan mahir melaras salukat. Relief pada Pendapa Teras II Candi Pentaran memberi bukti tentang itu.

Istilah arkhais itu telah tak digunakan lagi dalam waditra Jawa, walau terdapat sejumlah waditra dalam Gamelan Jawa yang menyerupai salukat, seperti saron, peking, gambang dan gender. Dalam ansabel musik Jawa (gamelan), waditra ini bisa diasosiasikan dengan gambang kayu. Hanya saja, dalam beberapa hal ada perbedaan diantaranya: (a) tidak ditabuh dengan memakai doble stick berpole menyerupai huruf ‘V’, dan (b) tata urutan wilahan dari besar di bagian kanan ke arah kecil di bagian kiri. Kurang tahu pasti bilamana istilah ‘salukat’ ditinggalkan. Demikian pula sejak kapan doble stick ditinggalkan dan terjadinya perubahan tata uturan wilahan dari semula kelompok wilahan kecil di bagian kanan dan wilahan lebih panjang di bagian kiri menjadi sebaliknya. Apakah dapat dikaitkan dengan reformasi signifikan dalam tubuh Gamelan Jawa pada era pemerintahan Sultan Agung?

Pada kontek cerita pada relief Cerita Panji di Pendapa Tetas II kompleks Candi Penataran, waditra jenis sylophone yang berupa salukat itu dimainkan bersama dengan salukat lain. Namun, pada pada relief di Candi Gambarwetan dimainkan sebagai waditra tunggal. Salukat dalam relief Cerita Panji pada Pendapa Teras II di Candi Penataran dan dua panil relief lepas di Candi Gambar Wetan dimainkan untuk iringi nyanyian atau mungkin hanya instrumental (tanpa nyanyian). Adapun waditra salukat pada panil bagian tengah dari set terdiri atas tiga panil relief di Candi Gambar Wetan dimainkan untuk mengiringi tarian tunggal. Demikianlah, tergambar bahwa pada Masa Hindu~Buddha waditra salukat merupakan sebuah waditra jenis sylophone yang cukup pupuler, yang memiliki beberapa kegunaan. J8ka dimainkan bersama waditra lain, menurut susastra kuno acap dipasangkan dengan salunding dan samepa

D. Penutup

Demikianlah informasi sekilas mengenai relief musik Jawa pada masa lampau. Kendati hanya sebuah.panil, namun mengingat akan langkanya data mengenai seni pertunjukkan lalu, maka relief ini amat berharga. Bersama dengan relief di Pendapa Teras II Kompleks Candi Penataran, tiga panil relief di Candi Gambar Wetan adalah sedikit dari bukti-bukti visual mengenai bentuk, cara memainkan, pemain dan fungsi waditra salukat pada Masa Hindu-Buddha. Oleh karena itu, temuan baru di Candi Gambar Watan tersebut kontributif bagi pengungkapan salukat, yang sebelumnya hanya dapat dijumpai di Pendapa Teras II Panataran.

Semoga tulisan ringkas dan bersahaja ini bisa menjadi paparan awal yang dapat menambah khasanah pengetahuan di bidang seni~budaya bagi para pembaca, khusnya para pelaku dan peminat seni pertunjukan Nusantara lama.
Salam budaya “Nusantarajayati”.
Nuwun.

 

PATEMBAYAN CITRALEKHA, 20.Juni 201766

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BUDAYA

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

Avatar

Published

on

 

Edisi ‘TAKJIL KHAS RAMADHAN’ 1

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

A. Familiaritas Kolak pada Rumpun Melayu

Apabila di Dunia Arab pembuka berbuka puasa adalah kurma, maka kolak lah yang lazim serta difavoriti sebagai ‘pembuka buka pausa’ di Indonesia. Mulai dari lingkugan keluarga bersahaja hingga di restoran mahal sekalipun, kolak menjadi menu sajian terawal yang disuguhkan untuk membatalkan puasa setibanya bedug Maqrib. Oleh sebab itu dapat dimengerti bila salah sebuah kuliner yang hampir senantiasa ada diantara beragam penganan yang dijajakan pada bedak-bedak dadakan yang menjamur di sore hari manakala tiba puasa Ramadhan adalah kolak. Kuliner inilah yang seolah menjadi ‘rajanya takjil’, yang pertama dan yang utama dikonsumsi oleh banyak orang, tatkala berbuka puasa. Bahkan, tahap permulaan berbuka puasa telah serasa cukup kendati hanya dengan menyatap kolak.

Menilik demikian lamanya waktu kolak dikonsumsi, luasya daerah persebaran kulier kolak, dan banyaknya pemiat kolak – terlepas apapun statra soasial-ekonomiya, maka tak berlebihan untuk menyatakan bahwa kolak adalah kuliner yang amat mengkeluarga (familier) pada masuarakat di Indonesia. Sebenarnya, selain di Indonesia kuliner ini juga dikenal di negara-negara lain dalam region Asia Tenggara yang dihuni oleh rumpun bangsa Malayu, Kolak hadir dalam lintas masa, lintas area dan lintas sosia pula, sebab kapanpun, dimanapun dan siapapun hampir-hampir pernah mengkonsumsi kolak. Malahan, terdapat orang-orang tertetu yang mencandui kolak, baik ketika berbuka puasa ataupun pada kesempatan lain. Dengan perkataan lain, kolak adalah kuliner yang ‘merakyat’ – namun, bukan berarti bahwa kolak hanya dikosumsi rakyat kecil, karena kalangan atas pun terbukti doyan kolak.

B. Etimologi dan Tafsir Makna Istiah Unsur Kuliner Kolak

Ada sejumlah varian sebutan untuk ‘kolak’, antara lain ‘kolok, kulak, kolêk, dsb’. Sebagaimana sebutan-sebutan lain untuk kuliner yang berkeanan dengan ritual Islam, seperti ‘apem dan kupat’, sebutan ‘kolak’ juga diasalkan dari bahasa Arab. Kyai sepuh dari Pondok Pinang Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan, yakni almarhun KH Hasbullah, menyatakan bahwa kata ‘kolak’ berasal dari istilah dalam bahasa Arab ‘kul laka (makanlah, untukmu)’. Pendapat lain mengasalkannya dari kata dala, bahasa Arab ‘khala’ atau ‘kholaqo’, yang bisa diturunkan menjadi kata ‘kholiq’ atau ‘khaliq’ yang berarti pencipta, pencipta alam semesta dan menunjuk kepada Allah SWT. sebagai pencipta seluruh makhluk yang hidup di alam semesta. Selain berarti pencipta, dapat pula berarti: Tuhan yang disembah, Pengatur dan Pemelihara, Pemberi bentuk, dan Tuhan Yang Maha Perkasa. Sebutan ini dijadikan media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bukan hanya itu, unsur-unsur di dalam kolak pun difilosofikan dalam kaitan dengan ajaran Islam. Pisang jenis ‘kepok’ yang paling umum digunakan sebagai isian kolak merujuk pada ‘kapok (jera)’ dalam bahasa Jawa, yakni istilah ibarat agar manusia jera berbuat dosa dan segera bertobat kepada Allah SWT. Selain itu, isian kolak lainnya, yaitu ubi, dikenal dengan sebutan ‘telo pendem’ – masuk kategori ‘polo pendem’, memuat filosofi bahwa manusia harus mengubur kesalahannya dalam-dalam. Reka foilosofis lainnya menghubungkan dengan kematian, yaitu media pengingat bahwa suatu saat manusia pasti mati dan kemudian dikubur (dipenden) di dalam tanah. Kematian mungkin saja akan datang, semudah kita menyendok kolak ke dalam mulut. Unsur lain sebagai bahan kolak adalah santan, yang dalam bahasa Jawa disebut ‘santen’, sebagai kependekan dari ‘pangapunten (permohonan maaf), yang menjadi media pengingat agar manusia seantiasa meminta maaf atas kesalahannya.

Etimologi dan tafsir makna sebagaimana dikemukakan pada alinea diatas adalah ikhtiar baik untuk menjadikan makanan sebagai media pembelajaran budi pekerti dan penguat keyakinan keagamaan. Namun, bukan berarti bahwa muasal sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab. Entah dari istilah ‘kul laka (makanlah)’ atau ‘khala, kholaqo, kholiq, khaliq (pencipta)’. Etimologis yang demikian hanya mendasarkan pada keserupaan istilah, dan terkesan dipas-paskan. Jika dasarnya hanya keserupaan istilah, maka tak usah jauh-jauh istilah serupanya dicari dalam bahasa Arab, melainkan cukup dicari di Jawa, padamaa kolak berada. Sebutan ‘kolak’ atau variannya ‘kulak (kula’)’ mempuyai keserupaan dengan istilah dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan, yaitu ‘kula’, yang antara lain berarti: kawanan, pasukan, kumpulan, oramg banyak, jumlah, suku, keluarga, rumpun, kasta, rombongan, keluarga bangsawan atau unggul, keluarga, keturunan, asal-usul (Zoetmulder, 1005: 530).

Dalam arti kumpulan, kuliner kula+k (kulak) atau kula’ dicirikan oleh adanya sekumulan bahan makan yang diisikan ke dalam kuah kolak. Dengan perkataan lain, ke dalam kuah kolak terbuka untuk diisikan beragam bahan makan, baik berupa buah, bijian atau bahan makan lainnya. Selain menggunakan pisang dan ubi, saat ini modifikasi kolak juga telah banyak ditemui. Mulai dari gabungan penggunaan pacar Cina, tapai singkong, ketan, roti, serabi, jenang, kolang-kaling, buah labu, buah nangka, rumput laut, biji salak atau ubi yang diolah menyerupai biji salak, dsb. Adapun dalam arti keluarga, kolak adalah kuliner yang amat lama familier (mengkeluarga) pada masayarakat Nusanara, khususnya Jawa. Boleh jadi, asal kuliner kolah bukan dari Timur Tengah, melainkan dari Nusantara sendiri.

Dengan mengasalkan sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab, maka diambill alibi bahwa kolak berasal dari Timur Tengah. Kelatahan mengasalkan kolak dari Timur Tengah juga pernah dikemukakan William Wongso, yang menyatakan bahwa kudapan ini dimungkinkan berasal dari negara Timur Tengah. “Mereka itu suka makanan manis-manis, jadi kalau kolak kemungkinan dari sana,” ujar pakar kuliner Nusantara ini saat dihubungi harian Republika (Rabu (17 Juni 2017). Sebenarnya, apabila alasannya karena genar mengkonsumsi makanan yang rasanya manis, bukan hanya orangTimur Tengah yang suka makanan manis, namun orang Jawa – utamanya orang Semarang, Yogyakarta dan Surakarta – juga gemar rasa manis pada beragam makaan dan minumannya. Bahkan, semenjak masa Hindu-Buddha masyarakat Jawa Telah mengeal miuman yang rasanta manis seperti kilang dan cairan gula merah untuk pemanis kuah yang dinamai ‘juruh’.

C. Kegemaran Minuman-Makanan Rasa Manis

Kolak bisa dimasukkan sebagai ‘makanan’ apabila ditilik dari buah, biji-bijian atau bahan makan lain yang terdapat di dalamya. Namun dapat pula dimasukkan sebagai ‘minuman’, sebab berkuah manis, yang dibuat dari air ditambah dengan santan, garam secukupyam daun pandanm fanili, dan gula – mulaya digunakan jenis ‘gula merah’, seperti gula aren, gula kelapa (gulo klopo) atau gula siwalan (tal), namun kini gula putih lazim digunakan sebagai pengganti atau campuran gula merah. Oleh karena itu, cita rasa kolak adalah manis. Lantaran rasanya yang manis itu, maka kolak serupa dengan kurma, yakni cocok untuk makaan pembuka dalam berbuka puasa. Kelebihan kolak bila dibandingkan dengan kurma dalam hal ini ada;ah selain manis juga berkuah, sehingga rasa dahaga lataran tidak minum seharian segera dapat tertasi.

Masyarakat Nusantara, terlebih orang Jawa, banyak menyukai rasa manis. Pemanis yang berupa gula – dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan disebut ‘gendis’ – telah lama digunakan, Kolak yang berasa manis karenanya termasuk kuliner yang disukai dari masa ke masa. Masyarakat Jawa telah demikian lama mengenal dan menggemari minuman manis. Salah satu diantaranya adalah kilang, yakni minuman beragi dari tebu (Zoetmulder, 1995:500). Kilang juga digunakan untuk menyebut nira kelapa, aren ataupun tal yang direbus — bila direbus terus akan mengental, dan bisa dijadikan gula merah. Selain itu santan juga sudah terbiasa dipakai untuk memasak. Bila santan dicampurkan ke dalam kilang, maka jadilah kuah kolak. Hanya saja, pada umumnya kuah kolak dibuat dari air dicampur dengan santan dan arsiran gula merah dan kemudian direbus hingga mandidih. Kedalam kuah tersebut dimasukkan buah, biji-bijian atau bahan makan lainya, sehingga terbentuklah kolak pisang, kolak candil ketan, kolak labu, kolak ubi jalar, kolak durian, kolak kolang kaling, kolak singkong, kolak apel, kolak kacang hijau, kolak cendol. kolak serabi, kolak biji salak, kolak kelapa muda, kolak jenang (jenang kolak), kolak rumput laut, kolak bola pelangi. kolak sagu mutiara, kolak pisang ijo, kolak pisang coklat, kolak paris, kolak tapai, kolak havermunt pisang, kolak pudding, kolak roti, dan banyak lagi. Terbayang bahwa kegemaran mengkonsumsi kolak adalah kelanjutan dalam bentuk lain dari kesukaan meminum kilang.

Kilang adalah salah satu miniman yang telah lama dikenal dan digemari Masyarakat Jawa, bahkan semejak masa Hindu-Buddha. Jenis mimuman lainnya adalah twak, sidhu, cinca (kinca), brem, arak, jnu, bunga campaga, bunga pandan, bunga karaman, jatisara, air kelapa, mastawa, dsb. Dalam sumber data prasasti, kilang tekah disebut di dalam abad X Masehi, yairu prasasri Watukura (902 Masehi) dan Alasantan (939 Masehi) serta pada sejunlah sussstra Jawa Kuna dan Tengahan, seperti dalam kitab Brahmanda Purana (142, 161), Sumanasantaka (38.1), Arjunawijaya (31.10), Nagarakretagama, Partayajna (18.7), Subhadra Wiwaha (7.4), Kidung Hasyawijaya (1/37, 4.54), Kidung Malat (7.77), dan Wangbang Wideya (6.184). Menilik lamanya waktu dan banyak sumber data yang memberitakan, tergambar bahwa ninuman kilang ini banyak dimiati warga Jawa pada zamannya. Peminatnya mulai kalangan rakyat hingga para bangaswan, Kebiasaan mengonsumsi kilang berlanjut dengan beberapa perubahan menjadi kolak.

 

Ada kemungkinan, sebagai sebutan, kata ‘lolak’ baru digunakan paaa Masa Hindu-Buddha, karena sebutan ini tidak dijumpai dalam sumber data tekstual Masa Hindu-Buddha, baik prasasti ataupun susastra. Pada Masa Perkembangan Islam, awalnya kolak disajikan bulan Syaban, atau satu bulan sebelum memasuki Ramadhan. Pada bulan Syaban, umat Muslim diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud ketakwaan jelang memasuki ‘bulan yang penuh berkah’, yaitu bulan Ramadhan,. Tradisi mengkonsumsi kulner kolak itu berlanjut hingga memasuki bulan Ramadhan, utamanya sebagai kudapan (takjil) ketika buka puasa. Demikianlah, kolak adalah kuliner Nusatara yang telah meniti perjalanan sejarah pajang. Selamat menikmati hidangan kolak, semoga melagakan tenggorokan. Nuwun.

Sangkaliang, Griya Ajar CITRALEKHA, 19 Mei 2018

 

Continue Reading

BUDAYA

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Avatar

Published

on

Salamun ya Ramadhan

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Arti Istilah dan Ragam Jenis Puasa

Istilah ‘puasa’ adalah kosa kata bahasa Indonesia, yang pada bahasa Jawa disebut ‘poso’. Dalam bahasa Arab sebutannya adalah ‘shaum’, yang berarti : menahan diri dari segala sesuatu. Puasa dilaksanakan dengan atau dimaksudkan untuk menahan diri dari segala perkara, seperti makanan, minuman, berbicara, menahan nafsu dan syahwat, dsb. Sedangkan secara harafiah, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Pokok kegiatan puasa (shaum) adalah ‘menahan diri’, atau bisa disinonimkan dengan ‘pengekangan diri’. Dalam arti ‘pengekangan’ itu, pada bahasa Jawa Kuna terdapat istilah ‘pasa’, yang secara harafiah berarti : jerat, perangkap, ikatan, rantai, dan kekangan (Zoetmulder, 15:76). Istilah ini menunjuk pada benda, atau senjata ataupun tindakan.

Dalam kakawin Ramayana (24.59) terdapat perkataan ‘pasa-brata’ yang diarahkan pada tindakan durjana. Secara harafiah perkataan ‘pasabrata’ berarti: kelakuan (kewajiban) untuk menggunakan rangkaian (dalam peggunaan kekuatan kersanya). Pada arti istilah ‘pasa’ itu tak dipeoleh gambaran pengekangan diri dengan tidak makan-minum, bicara, ataupun nafsu-syahwat. Pengekangan diri untuk perihal ini secara lebih khusus dilakukan dalam bentuk ‘tapa’, yang berarti: tapa, ‘mati raga’, pengendalian indera atau nafsu, yoga. Kata ‘tapa’ acapk dikombiasi dengan kata ‘bhrata’ menjadi ‘tapa-bhrata’, dalam artiL ketaatan ibadat reliegius, tapa (Zoetmulder, 1995:1210). Dalam bahasa Jawa Baru, kegiatan demikian disinonimkan dengan ‘tirakat’.

Ada berbagai macam puasa, baik kategori wajib (fardhu). sunnah, makruh, maupun puasa haram (moharram). Ragam puasa kategori wajib adalah puasa Ramdhan, puasa Qodha (pegganti puasa wajib lantaran berhalagan), puasa Kafarat (puasa penebusan dosa besar, seperti membunuh dan melanggar sumpah), puasa Nadzar (puasa pemenuh janji, di dalam bahasa Jawa disebut ‘ngluwari ujar’). Adapun yang masuk kategori puasa sunnah adalah puasa 10 hari di bulan Syawal, puasa 10 hari pertama budan Dzulhijah, puasa Hari Arofah (tanggal 9 Dzulhijah), puasa Senin dan Kamis, maupun puasa Dawud (puasa berselang-seling waktu). Puasa makruh dikhususkan pada hari jumat dan sabtu. puasa Moharram – terutama hari Asyyro’ (tanggal 10 Muharram), puasa Sya’ban, puasa padda bulan harom (bulan yang dimuliakan), terdiri atas bulan Dzulqo;dah, Dzulhijah, Moharram. Rajab, dan sehari pasca Idul Fitri serta sepajang tahun, Selain itu, masayarakat Muslim Jawa juga mengenal poso pati-geni, poso mutih, poso ngrowot, dsb.

Diatara beragam puasa itu, yang utama adalah puasa Ramadhan, sehingga diwajibkan ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S. Al-Baqoroh;183-184). Tulisan ini lebih banyak membicarakan tentang tradisi jelang puasa bulan Ramadhan, yang diistilahi dengan “prepegan” dan “megengan”.

B. Aktifitas Prepegan atau Megengan Jelang Bulan Suci Ramadhan

Apabila meilik waktu pelaksaaannyam yakni sebula punh di bulan Ramadhhan, yang wajib untuk dilakukan oleh semua umat Islam yang memenuhi syarat, maka puasa ini terbilang ‘puasa besar’. Oleh karena itu bukan hanya hal-hal ekstra yang musti dilakukan selama menjalakan ibadah puasa, namun ada hal ekstra pula yang dilakukan sebelum mamasuki ‘bulan suci’ Ramadhan, Prinsipnya, ketika memasuki bulan suci ini para pelaku puasa hendaknya telah dalam kondisi suci. Pembersihan tidak hanya dilakukan untuk dieinya, namun juga dilakukan terhadap reladinya dengan sesama manusia yang masih hidup maupun dengan leluhurnya yang telah tiada. Untuk itu dilakukan permohoan maaf kepada sesama manusia yang hidup, ziarah kubur (salah satu sebutan dalam bahasa Jawa mengenai itu adalah ‘sadranan’), pembersihan diri – antara lain menggunakan media air, Selain itu, ada sejumah kegiatan untuk memarakkan proses memasuki bulan Ramadhan, seperti selamatan (slametan, manganan), takbir keliling – ada pula yang menyertai dengan ‘pawai obor’, menabuh bedug bertalu-talu, dan varian kegiatan lain.

Pendek kata, pada satu atau dua hari menjelang memasuki bulan suci Ramadhan ada suatu kondisi khusus, yang diibaratkan sebagai suatu : pergerakan bersama secara berfokus guna mendekati atau memasuki sesuatu’ — dalam hal ini, sesuatu itu adalah bulan suci Ramadhan, padamana umat Islam mendalan ibadah puasa. Kondisi demikian dalam bahasa Jawa diistilahi dengan ‘prepek’ atau akata jadianya ‘prepegan’. Akar kata ‘prepeg (pa-repeg)’ adalah ‘rep’, yakni partikel desktipsi, (dengan) medadadk. Kata ulang ‘rep-rep’ atau ‘arep-rep’, yang berarti: dengan gerakan yang cepat dan tiba-tiba, berkibar-kibar (Zoermulder, 1995:942).

Selain kata ‘prepegan’ dihubungkan dengan waktu jelang memasuki bulan Ramadhan, istilah ini lebih sering digunakan untuk menyebut kurun waktu pendek (satu atau dua hari) jelang datangnya Idul Fitri (Lebaran). Dalam hubungan itu, ada yang membedakannya ke dalam: (a) prepegan cilik (kecil) utuk menyebut waktu dan suasana pada dua hati jelang Lebaran, dan (b) prepegan gede (besar) untuk menyebut kurun waktu atau suasana pada sehari jelag Lebaran. Suasaa itu antara lain ditandai oleh suasana pasar yang ramai sesak, karena sebagian besar orang pergi untuk berbelanja ke pasar guna memenuhi segala kebutuhan pada hari Lebaran. Suasaa pasar yang tambah marak, juga berlagsug jelang Ramadhan, yang disertai dengan naiknya harga bahan pangan, meski tak semarak jelang Lebaran.

Istilah lainnya untuk menyebut kurun waktu satu atau dua hari jelas memasuki Ramadhan adalah ‘megengan’, yang berkata dasar ‘megeng (ma-geng)’ dan berakar kata ‘geng (besar)’. Ada pula yang mengartikan kata ‘megeng’ dengan: menahan (ngempet), berkaitan dengan peringatan bahwa sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan, dimana umat Islam diwajibkan menjalankan puasa, yaitu menahan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa itu. Kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, sesuai adat setempat. Umumnya waraga berbondong-bondong melakukan ziarah kubur, membersihkan makam, menaburi denga bunga dan mendoakan arwah leluhur. Suana marak ditandai dengan masak besar untuk dibagi-bagikan pada sanak famili. Pada malam harinya diadakan slametan (kenduri) untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal. Ada pula yang mengadakan selamatan bersama di masjid, langgar atau mushola.

Nabi Muhammad SAW untuk senang, bergembira, atau bersuka cita menyambut tiba bulan Ramadhan. Peristiwa ini di Jawa dinamai “megengan”, siatu tradisi turun temurun untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas berkat-nikmatya selama setahun berlalu. Tradisi ini juga dijadikan pertanda bahwa sebentar lagi datang tamu istimewa, yakni Ramadhan. Megengan merupakan bukti kerukunan warga masyarakat di dalam menjalin kerukunan dan kerjasama menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Biasanya megengan dilakukan di minggu terakhir bulan Sya’ban (Ruwah).

C. Makna Kuliner Apem dalam Selamatan Megengan

Salah satu pengaan khas yang disajikan dalam slametan megegan adalah apem. Seusai malam nisfu sya’ban, beberapa hari jelang bulan Ramadhan, umat muslim bisanya melakukan tradisi megengan dengan membagikan kue apem kepada tetangga kanan kiri rumah. Ada yang mengasalkan istilah ‘apem’ dari kata ‘afum’. yang artinya adalah meminta dan memberi maaf. Oleh karena masyarakat Jawa tidak mengenal huruf ‘F’, maka kata ‘afwun’ berubah sebutan menjadi ‘apwun’. dan kemudian menjadi ‘apwum’, lantas berubah jadi ‘apwem’, dan akhirnya disebut ‘apem’.

Bahan dasar apem adalah tepung beras, yang melambangkan kebersihan dan kesucian. Sedangkan santan merupakan sari buah kelapa sebagai akronim dari kata Jawa sagetho nyuwun pangapunten, yang bermakna permohonan maaf. Gula dan garam melambangkan perasaan hati. Apabila semua bahan-bahan itu dijadikan satu, makna simbolikya adalah kesucian dan ketulusan hati. Jadi, makan kue apem bisa diartikan memohon maaf kepada keluarga, sanak saudara dan teman. Usai memakan apem, biasanya orang-orang saling bersalaman, meminta maaf dan membaca doa.

Tradisi megengan diwarnai dengan rasa syukur dengan membagi kue apem kepada tetangga. Rasa syukur dan nuansa kekeluargaan (keguuyuban ) terkadung kental didalamnya. Meskipun kue apem dalam megengan hanyalah sebentuk kiliner, namun substansi maknaya dalam. Suatu nilai kultural luhur, yang patut dilestarikan, dimasyarakatkan dan dipetik maknanya untuk diejowarahkan dalam kehidupan bermasyarakt. Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, semoga bisa membuahkan pirifikasi (pembersihan diri) terhadap segala ‘kekotoran’ yang mengotori diri selama satu talun berlalu. Nuwun

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 16 Mei 2018

Continue Reading

BUDAYA

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP

Avatar

Published

on

 

Khasanah Heritage Songhenep

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP : Menuju “Labang Mesem Cultural Movement”, Wahana Smiling Sucsesion

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Makna ‘Mesem” pada Gapura Labang Mesem

Mutiara kata menyatakan ‘sambutlah tamumu dengan senyuman’. Suatu ekspresi sikap ‘ramah’ yang murah namun bermakna, yang keluar dari hati bersih-tulus kepada orang lain yang berelasi dengannya. Seyuman yang dalam bahasa lokal Jawa maupun Madura disebut ‘mesem (sunggingan senyum)”, dalam hal penerimaan tamu bukan sekedar citra pantomimik pada raut muka seseorang, namun lebih daripada itu menyiratkan makna yang berkenaan dengan etika pergaulan (toto kromo), yaitu: (a) selamat datang, disambut baik, penyambutan (welcome) (b) kesediaan atau keterbukaan untuk menerima kehadiran orang lain, maupun (b) pengharapam agar niat baik untuk mengadakan pertemuan itu membuahkan hasil yang baik (kefaedahan) bagi kedua pihak, ‘Murah senyum’ acap dimaknai dengan kebaikan hati. Sebaliknya, ‘pelit senyum’ dikonotasikan dengan kesombongan, keculasan dan ketidakbersahabatan. Demikianlah, senyuman memiliki makna serta manfaat yang mendalam. Meski hanya sekejap, senyuman dapat menjadi kenangan yang bertahan lama. Senyum menciptakan kebahagiaan bagi sekitar. Senyum yang tulus adalah ibadah. Memberikan senyuman untuk semua orang akan memberi keceriaan, sebab senyuman membuka pintu kebahagiaan. Ketika seseorang tersenyum tanpa paksa (tulus), ia membuat suasana perasaan menjadi lebih riang. Orang yang berjumpa dengannya atau berada di sekitarya ikut tersenyum dan merasa jadi lebih bahagia.

Dalam kaitan dengan sunyum, adalah unik bahwa nama yang diberikan untuk gapura masuk di sisi timur dari Keraton Sumenep adalah ‘Labang Mesem’. Kata ‘labang (diujar dengam logat Madura ’labeng”) dalam bahasa Jawa dinamai ‘lawang’. Keduanya menunjuk kepada pintu atau gapura dalam bahasa Indonesia. Pada kedua kata itu, yang berbeda hanyalah kosonan ‘W’ dan ‘B’-nya, dimana kedua kosonan ini acapkali ‘bertukar’, baik pada bahasa yang sama namun beda masa atau pada dua bahasa yang bertetangga seperti pada bahasa Jawa dan Madura. Labang mesem dengan demkian secara harafiah berarti: gapura tersenyum. Sudah barang tentu, penamaanya itu bukanlah tanpa pertimbangan, yaitu simbol: keramahan, sikap ramah kepada siapapu yang datamg bertamu ke Keraton Songhenep (toponimi lama untuk apa yang kini dinamai ‘Sumenep”). Siapapun yang datang bertamu mustilah dihormati, harus disikapi dengan ramah, dan diterima dengan lapang hati. Tamu ibarat ‘raja’, meskipun tempat yang didadatangi tersebut adalah tempat kediaman sang raja (disebut ‘karajyan = ka+rajya-an’), datu (dinamai ‘kadatwan = ka-datu-an’), atau ratu (dibilang “keraton = ka-ratu-an’).

Setidaknya terdapat tiga versi kisah lokal terkait dengan latar pemberian nama ‘Labang Mesem’. Pertama, dahulu pintu gerbang keraton dijaga oleh dua orang cebol – diidikatori oleh adanya dua buah ruangan berpintu rendah di kanan dan kiri gapura serta terdapat kuburan cebol kompleks makam Astatinggi. Lataran penjaganya orang cebol, maka tak heran apabila sering menghadirkan senyum pada orang yang melintasinya. Kedua, ruang terbuka yang berada di bagian atas koridoor adalah tempat raja mengawasi area di sekitar keraton, temasuk putri-putri dan para istrinya yang sedang mandi di Taman Sari (logat Madura ‘Taman Sare’). Ketika memperhatikan putri dan atau istrinya yang sedang mandi itu, raja terseyum simpul (mesam-mesem). Ketiga, pada suatu ketika Kasultaan Sumenep berhasil memukul mundur pasukan Bali. Timbul rasa dendam darinya, dan bermaksud menuntut balas. Namun tatkala pasukan Bali datang ke Sumenep, tepat di depan gerbang keraton, amarah mereka serta merta berubah, sebab warga keraton Sumenep meyambut dengan senyum ramah penuh persahabatan.

Terlepas dari versi mana yang benar, keseluruhannya menggarisbawahi perihal ‘senyum (mesem)’ terkait dengan keberadaan gapura sisi timur keraton Sumenep. Konon wujud senyuman tidak hanya tergambar pada unsur nama ‘mesem’, namun diperkuat oleh sebuah arca yang menggambar figur yanng menyunggingkan senyuman. Menurut persaksian RP. Mohammad Mangkuadiningrat, dahulu arca itu ditempatkan di sebelah timur dari pendapa keraton, dekat dengan ‘rumah lonceng’, yang terlihat lurus dari arah pandang luar gapura Labang Mesem. Namun sayang sekali, arca yang mengekspresikan senyuman itu, selaras dengan unsur nama ‘mesem’ dari gapura keraton tersebut, kini telah tiada lagi, sehingga perihal ‘seyuman’ hanya tersisakan pada unsur nama gapura. Kendati demikian, tak lantas menyurutkan keramahan warga Sumenep, yang dikenal satun dan bersahabat (friendelig).

B. Ekspresi Akulturatif Gapura Labang Mesem pada Kompleks Keraton Sumenep

Labang Mesem dibangun tahun 1781, bersamaan waktu dengan pembangunan Keraton Sumenep pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo (Pangeran Natakusuma I) oleh arsitek keturunnan Tiong Hoa bernama Lauw Piango – mengungsi ke Madura sebagai akibat Huru Hara Tionghoa di Semarang tahun 1740. Bangunan yang berwujud gapura ini adalah salah satu dintara dua gapura yang tersisa, yang semula lengkapnya berjumlah lima buah (dinamai ‘ponconiti’). Posisinya pada bagian depan keraton Sumenep menghadap ke selatan, berloksi di sebelah timur Gedong Negeri, dekat Taman Sari (dialek Madura ‘Taman Sare”). Gapura Labang Mesem dengan demikian hanya salah sebuah komponen arsirektur pada kompleks keraton Pajagalan (sebutan populernya ‘keraton Sumenep’) selain pendopo agung, gedong negeri, pengadilan keraton, paseban, taman sare, serta beberapa bangunan pribadi keluarga keraton.

Secara arsitektural Labang Mesem yang monumental masuk dalam kategori gapura padhuraksa, yaitu suatu jenis gapura (selain ‘candi bentar’), yang lazimnya ditempatkan dan difungsikan untuk memasuki ruangan yang dipandang suci atau penting. Gapura padhuraksa ini dilengkapi dengan ‘sayap’ di kanan-kirinya, sehingga bisa disebut ‘gapura bersayap’. Gapura bersayap telah terdapat semenjak Masa Hndu-Buddha dan berlanjut penggunaannya hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam. Meski beda masa dan berlainan latar religisnya, namun model arsitektur dari keduanya sama, yakni sama-sama berupa gapura bersayap. Arsitektur yang berasal dari lapis masa dengan latar religis berbeda, yaitu Masa Hidu-Buddha, tidak disikapi dengan ‘penolakan’. Suatu siakap buadaya Madura yang tidak inklusif, sebaliknya membuka diri bagi pengaruh budaya lain, seperti keterbukaannya dalam menerima tamu yang disimbolkan oleh gapura Labang Mesem. Pemangku budaya Madura terbuka terhadap budaya luar tanpa meninggalkan budayanya sendiri. Dengan perkataan lain mengadaptasi anasir budaya luar kepada budaya setempat, sehingga terbuahkan paduan budaya yang akulturatif.

Pada gapura Labang Mesem yang dibangun semasa pemerintahan Panembahan Sumolo ini, unsur arsitektural dari Masa Hindu-Buddha lainnya adalah atap yang berbentuk tumpang (meru), yakni atap bersusun dalam jumlah gasal (ganjil), yang pada gapura ini terdiri atas tiga susun, yang makin ke atas semakin mengecil dan diakhiri dengan kemuncak (Memolo). Atap meru juga didaati pada Masa Hindu-Buddha, baik pada bangunan profan terlebih pada banguan sakral, Model atap yang demikian juga berlanjut hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam, Bahkan, di beberapa daerah berlanjut sampai sekarang, seperti tergambar pada bangunan suci pura, masjd, dan sebagainya. Atap meru iitu menaungi ruangan berdinding terbuka yang berada di atas koridoor (lorong keluar-masuk), sehingga tampak sebagai bangunan berloteng (verdiping) yang digunakan untuk memantau segala aktifitas di dalam lingkungan keraton, termasuk kegiatan di Taman Sare. Pada kanan-kiri koridoor terdapat sepasang ruang kecil dan pendek dengan pintu yang pendek pula dibawah naungan teras, yang di dalamnya terdapat tangga kayu untuk naik-turun ke/dari loteng.

Kecuali atap banguan yang berbetuk meru dan konsep arsitektur padhuraksa bersayap, konponen-komponen arsitektur lain dari gapura ini, utamanya pada fasadenya, dengan jelas memperlihatkan unasir seni bangunan Eropa, seperti tergambarkan pada pilar ganda di kanan-kiri koridoor, pelipit, kolom lengkung pada koridoor, bangun segitiga pada bagian atas fasade sisi depan, maupun teknik arsitekturya. Paduan antara nasisr arsitektur Eropa-Jawa pada gapura ini menjadi alasan kuat untuk menyatakan bahwa Labang Mesem memiliki gaya arsitektur Indis. Budaya Indis yang berkembang di Indonesia pada Masa Kolonial, khususnya pada golongan menegah ke atas warga Hidia-Belada di Jawa abad XVIII-XIX Masehi, mengindikasikan percampuran antara budaya Belanda dan Pribumi, yang dapat diidentifikasi pada pelacakannya terhadap tujuh unsur budaya universal (Sukiman, 2000). Gaya Indis tersebut tergambar jelas pada seni-bangun (arstektur), seperti dicontohkan oleh gapura Labang Mesem yang akulturatif. Ekspresi akulturatif tampak kuat pada kompleks keraton Sumenep, yang ditadai oleh percampuaran anasir budaya Jawa, Belanda, Cina dan Madura.

C. Kekayaan Khasanah Heritage Performig Art di Sumenep

Sebagai ‘daerah bersejarah’ sekaligus ‘daerah kaya budaya’ Sumenep memiliki jejak budaya masa lampau yang kaya, beragam, unik, dan penting. Peninggalan arkeologis, utamanya dari Masa Perkembangan Islam dan Masa Koloial, terdapat di pejuru wilayah Sumenep. Hal serupa tergambar dalam seni-budayanya, tidak terkecuali pada seni-pertunjukan daerah (lokal)-nya yang mentradisi. Bila kedua sumber daya budaya yang nota bene merupakan ‘warisan budaya (heritage)’ itu dikombinasikan, maka hadir apa yang dinamai ‘heritage performing art’, yakni penyajian seni pertunjukan (performing art) yang heritage di suatu pentas yang juga merupakan heritage.

Salah sebuah diantara tidak sedikit arsitektur heritage di Kabupaten Sumenep adalah komplek keraton Pajagalan atau keraton Sumenep, termasuk di dalamya adalah gapura bersayap Labang Mesem yang artistik, unik dan simbolik sebagai sebuah komponen arsitekturnya. Gapura yang masih tegak berdiri dalam kondisi relatif utuh dan lesari di seberang utara jalan ini layak kiranya dijadikan sebagai pentas (stage) bagi pemetasan beragam bentuk seni-pertunjukan lokal Sumenep yang mentradisi. Bagian depan gapura heritage Labang Mesem menarik dan unik untuk dijadikan sebagai latar (back ground) bagi pementasan seni-budaya. Tata cahaya ataupun video maping tentu bakal menambah keelokan tampilan Labang Mesem yang monumenta; itu pada malam hari sebagai latar pemetasan.

Disamping gapura Labang Mesem, sebenarnya di penjuru daerah Sumenep masih terdapat cukup banyak bangunan heritage yang tidak kalah unik dan menariknya untuk digunakan sebagai stage atau back ground pementasan seni-pertunjukan. Dalam kaitan itu pementasan seni-pertunjukan bertajuk ‘Labang Mesem Cultural Movement” pada Minggu 13 Mei 2018 dapat dijadikan contoh terapan konsepsi ‘Heritage Performing Art” di Sumenep. Ke depan model demikian bisa adaptasi untuk dicobaterapkan kepada monument heritage lainnya di Sumenep. Heritage performing Art merupakan akhtiar kultural yang diharap dapat memberi ragam manfaat. Ibarat Mutiara kata ‘sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui’, ikhtiar ini bisa untuk: (a) mengenalkan bahkan memahamkan heritage yang ada di suatu daerah, baik arsitektur yang heritage ataupun performing art yang heritage, (b) tampilan yang artistik, unik dan menarik dari monumen heritage dapat dijadikan pentas atau latar belakang pementasan seni-pertunjukan, (c) kandungan makna atau pesan dalam monumen heritage bisa digunakan untuk mengkomunikasikan atau menguatkan isi pesan yang disampaikan oleh pementasan seni-pertunjukan atau kegiatan lain.

D. Wahana bagi ‘Smiling Sucsesion’

Suksesi pemeritahan, baik berupa Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) tingkat Kota/Kabupaten dan Provinsi maupun Pilpres (Pemilihan Presiden) tingkat nasioal adalah suksesi pemerintahan yang dilangsungkan secara periodik, yakni lima tahuan. Setiap tahun bakal berlangsung Pilkada ataupun Pilpres, sebagimana halnya Pilkada Kota/Kabupaten dan Provinsi tahun 2018 pada bulan Juni 2018 mendatang. Untuk kepentingan itu, KPU Jawa Timur sebagai penyelenggara Pemilu (Pemilihan Umum) melaksanakan ikhiar untuk mensosialisasikan perhelatan yang segera dilangsungkan, yang antara lain dilaksanakan di Sumenep. Pementasan seni-pertunjukan dipertimbangkan sebagai tepat untuk didayaguakan sebagai wahana bagi sosialisasi itu, dengan pengharapan bahwa Pilkada Kota/ Kabupaten dan Provisi mendatang berlangsung dengan tertib, aman, demokratis dan membuahkan pilihan – yakni kepala daerah – yang amnah bagi penyelenggaraan pemerintahan serta pemajuan daerah untuk lima tahun ke depan.

Sosialisasi Pilkada 2018 di Sumenep pada Minggu malam, tanggal 13 Mei 2018 diselenggarakan dengan mengambil “spirit” gapura Labang Mesem, dalam bentuk ‘Heritage Performing Art’. Sengaja gapura Labang Mesem dijadikan spirit, dengan antara lain mempertimbangkan makna kata ‘mesem (senyum, smile)’ pada unsur sebutannya. Dalam konteks Pilkada, seyumam dapat dijadikan unsur penyampaikan pesan, yakni ‘laksanakan Pilkada mu dengan senyuman’, atau menjadi semacam ‘smiling sucsesion’. Memulih dengan gemibira (baca ‘tersenyum’), tersenyum bila memperoleh kemenangan sebaliknya menerima realitas kekalahan dengam senyuman (kelapangan hati) pula. Senyuman adalah kata kunc’ untuk mengeleminir kejadian buruk, baik sebelum, selama atau pasca Pilkada. Selain itu, pilihan spirit sosialisasi yang ditimba dari makna gapura (labang = lawang = pintu) bernama Labang Mesem menyiratkan pesan bahwa Pilkada adalah ‘pinitu masuk’ bagi suksesi pemeritahan periodik. Merupakan pintu pula bagi perubahan ataupun kesinambungan dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembagunan pada lima tahun kedepan.

Dengan pemakanaan yang demikian, niscaya Pilkada bakal merupakan ritus suksesi pemeritahan yang insya Allah bermakna bagi khalayak. Semoga tulisan yang cuma bersahaja ini membuakan keraedahan. Nuwun.

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 11 Mei 2018

 

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019