ANCIENT JAVANESE SYLOPHONE (SALUKAT) RELIEF CANDI GAMBAR WETAN DAN PENATARAN

Edisi Sejarah Seni Pertunjukan

ANCIENT JAVANESE SYLOPHONE (SALUKAT) RELIEF CANDI GAMBAR WETAN DAN PENATARAN

Oleh: M..Dwi Cahyono

A. Deskripsi Relief

Temuan baru hasil eksvasi Tahap I – IV (tahun 2013 – 2016) di areal situs Candi Gambar Wetan pada lereng selatan Gunung Kampud (Kelud) memberi banyak informasi baru. Salah satu informasinya berkenaan dengan paleo-musicology, khususnya waditra (music instrument) jenis ‘sylophone’, yaitu suatu alat musik yang sumber bunyinya berasal dari sesuatu yang dipukul. Informasi itu didapat dari : (1) sebuah diantara suatu ‘set relief’ yang terdiri atas tiga panil relief pada batu berwarna keputihan dan berukuran relatif kecil, tepatnya pada panil bagian tengah di areal Candi Gambar Wetan, (2) dua panil relief lepas di Candi Gambar Wetan, yang menggambarkan tokoh laki-laki dan wanita memainkan sylophone, serta dapat ditambahkan (c) dua buah panil relief di Pendapa Teras II kompleks Candi Penataran.

1. Satu Set Relief Terdiri Atas Tiga Panil

Panil pertama menggambarkan seorang pria mengenakan mahkota berbentuk supit urang. Perawakkannya kekar, berkumis, dan berbusana minimalis, yang mengingatkan kita pada tokoh ksatria sebagaimana gambaran lazim untuk para ksatria keluarga Pandawa. Panil ketiga menggambarkan seorang laki-laki dalam posisi duduk, memandang ke arah depan, dengan ekspresi wajah sunggingkan senyuman, seolah melihat suatu tontonan. Raut wajah dan tata rambutnya mirip dengan tokoh Punokawan pada relief-relief masa Majapahit. Panil relief bagian tengah (kedua) menggambarkan tentang seorang pria mengenakan jathamakuta (rambut panjang disanggul besar dan diperkuat dengan lilitan helai-helai kain, semacam sorban), dalam posisi duduk bersila sambil memainkan waditra jenis sylophone.

Sylophone yang dimainkan terdiri.atas 14 lempeng (wilahan). Ukuran wilahan kian mengecil ke arah kiri, sebaliknya semakin memanjang ke arah kanan. Oleh karena dipahatkan tampak atas, maka pelandas wilahannya tidak tertampakkan dengan jelas. Tongkat pukul wilahan (stick) yang dipegang oleh masing masing tangan sebanyak dua buah (doble stick), yang mengingatkan kita pada waitra kolintang. Kedua tongkat pemukul itu dipegang dengan jari~jari tangan, yang membentuk serupa huruf “V”.

Di muka pemain musik tersebut digambarkan seorang perempuan mengenakan dodot dan sampur dalam posisi berdiri. Apabila menilik (a) gerak kedua kaki dan tangannya, maupun (b) konteksinya dengan permainan musik di hadapannya, maka bisa diidentifikasikan sebagai tengah menari. Posisi kedua kaki bersilang. Kaki kiri digerakkan ke arah kanan, dengan ujung tapak kaki dihentakkan ringan ke tanah (gejug). Kaki kanan digerakkan ke arah kiri di muka kaki kiri, dengan tapak kaki menapak tanah (ndlamak). Tubuhnya direndahkan atau dipandakkan (mendak), dengan tekukkan pada lutut. Tangan kanan seperti baru mengibaskan sampur ke arah samping-bawah (nyeblak sampur). Kepala ditolehkan ke kanan. Terkesan bahwa wanita itu tengah menari, sebagai penari tunggal. Tariannya diiringi dengan waditra jenis sylophone, sebagai waditra tunggal pengiring tari.

2. Dua Panil Relief Lepas Menggambarkan Pemain Sylophone

Sebuah panil menggambarkan seorang pria bertelanjang dada, mengenakan jathamakuta, dalam posisi duduk bersila di atas alas datar sambil memainkan waditra jenis sylophone. Jumlah wilahannya 12 buah, yang tampak berukuran sama besar. Cara memainkannya serupa dengan relief terpapar di atas, yaitu dengan menggunakan tongkat pukul ganda (doble stick) pada masing-masing tangan, yang dipegang dengan jari-jari tangan membentuk seperti huruf “V’. Oleh karena dipahat tampak atas, maka pelandas wilahannya tak tertampakkan dengan jelas.

Sebuah relief lainnya menggambarkan seorang perempuan dengan rambut digerai sepanjang punggung. Mengenakan dodot hingga sebatas mata kaki, dalam posisi duduk di atas bangku rendah (dingklik). Kaki kanan diluruskan ke bawah hingga menapak tanah, sedangkan kaki kirinya dilipat dan ditumpangkan di atas paha kanan. Sebagaimana panail relief pada alinea atas, perempuan ini juga tengah memainkan waditra jenis sylophone, yang terdiri atas 11 wilahan. Ukuran masing-masing wilahan tampak sama besar. Cara memainkannya juga menggunakan doble stick, yang dipegang dengan jari-jari tangan membentuk serupa huruf ‘V’. Pelandas wilahannya juga tidak tertampakkan.

B. Identifikasi Waditra

Pada ketiga panil relief tertelaah, waditra yang dimainkan jenis sylophone, yang terdiri atas wilahan-wilahan dalam jumlah berbeda, yaitu 14, 12, dan 11 wilahan. Pada panil bagian tengah dari set relief yang terdiri atas tiga buah panil di Candi Gambar Wetan (butir A.1) tergambar bahwa ukuran dari 14 wilahan itu semakin memanjang ke arah kanan, sehingga menampakkan adanya kelompok wilahan panjang (panunggul) di bagian kanan, dan kelompok wilahan yang lebih pendek di bagian kiri. Sedangkan pada kedua panil relief lepas di Candi Gambar Wetan (butir A.2), ukuran masing-masing wilahan — baik yang berjumlah 12 ataupun 11 wilahan — terlihat sama panjang. Pesamaan dari ketiga relief tersebut terletak pada cara memainkan sylophone, yaitu menggunakan doble stick untuk masing-masing tangan, yang dipegag dengan jari-jari tangan membentuk serupa huruf ‘V’.

Waditra yang demikian juga didapati pada dua buah panil di Pendapa Teras II kompleks Candi Pentaran, yang dipahatkan di sisi depan (barat) Pendapa Teras II, tepat di sebalah kanan pipi tangga sebelah kanan. Pendapa Teras II dibangun pada era pemerintahan raja Hayam Wuruk di Masa Keemasan Majapahit (medio abad XIV Masehi), sebagaimana diketahui dari kronogram yang dipahatkan di pelipit atas sisi belakang dari Pendapa Teras II. Pada panil relief yang pertama digambarkan Panji dan kekasihnya memainkan masing-masing waditra jenis sylophone yang relatif sama bentuknya. Panji mengenakan jathamakuta dalam posisi duduk bersila sambil memainkan sylophone yang terdiri atas 16 wilahan. Kekasihnya yang duduk di hadapannya juga memainkan sylophon dengan dipandu oleh Panji. Pada panil kedua, sepasang sylophone 8tu itu dalam.kondisi terguling,lantaran kena tendang (kepancal) ulah Panji dan kekasihnya yang menumpahkan kasih rindunya

Ukuran masing-masing wilahannya tidak sama panjang. Pada sylophone yang dimainkan oleh Panji, wilahan yang terpanjang berada di bagian kiri sebanyak 3 wilahan, dan wilahan selebihnya (13 lempeng) tampak semakin panjang ke arah kanan. Pada sylophone yang dimainkan oleh kekasih Panji, wilahan terpanjang juga berada di bagian kiri, sedangkan wilahan selebihnya (13 lempeng) terbagi menjadi dua bagian, yaitu 9 buah makin panjang ke arah kanan, dan 4 wilahan sesudahnya relatif sama panjang. Pada panil kedua, yang menggambarkan waditra jenis sylophone dalam kondisi terguling, justru tampak bagian.pelandas wilahan~wilahannya.

Cara memainkan sylophone memperlihatkan adanya persamaan dalam seluruh relief tertelaah, yaitu memakai tongkat pukul ganda (doble stick) untuk masing-masing tangan, yaitu dipegang dengan jari-jari tangan membentuk serupa huruf ‘V’. Hanya saja, jarak antar stick pada doble stick untuk masing-masing relief tak sama, dengan varian: ada yang berselang 2 wilahan, 3 wilahan, dan bahkan ada yang 6 wilahan. Sukar untuk diterangkan apakah perbedaan jarak antar stick itu sungguh menggambarkan perbedaan teknis pukul wilahan berkaitan dengan titi nada ataukah kemungkinan disebabkan oleh kurang cermatnya pemahat relief dalam menggambarkan detail relief. Oleh karena, dalam teknik ‘tumpak manis’ untuk memainkan siter, gender ataupun gambang, jarak pukul/petiknya adalah satu wilahan/dawai.

Pada relief tertalaah terdapat adanya waditra sylophone dengan jumlah wilahan yang bervariasi, yaitu 11, 12, 14, dan 16 wilahan. Ukuran untuk masing-masing wilahan dan tata urutannya juga tidak sama untuk tiap panil relief tertelaah. Ada yang (a) kian panjang ke arah kanan seperti digambarkan pada panil tengah dari set terdiri atas tiga panil di Candi Gambar Wetan, (b) sama panjang seperti pada panil relief lepas di Candi Gambar Wetan, atau (c) variatif seperti pada relief di Pendapa Teras II Candi Penataran. Belum dapat djelaskan mengapa terdapat perbedaan dalam hal jumlah wilahan, ukuran masing-masing wilahan, dan tata urutan penataan terkait dengan titi nada beberapa waditra jenis sylophone yang dipahatkan tersebut. Namun, pada beberapa pahatan sylophone tertelaah, yaitu panil tengah dari set yang terdiri atas tiga buah panil di Candi Gambar Wetan dan pada panil pertama diantara dua buah panil di Pendapa Teras II Penataran diperoleh gambaran bahwa ukuran wilahan semakin panjang ke arah kanan. Hal ini berkebalikkan dengan waditra jenis sylophone dalam Gamelan Jawa berupa gender dan gambang kayu, dimana wilahan-wilahannya semakin mepanjang ke arah kiri.

Terlepas dari adanya perbedaan-perbedaan tersebut, terdapat adanya sejumlah persamaan antara sylophone yang dipahatkan pada Candi Gambar Wetan dan Pendapa Teras II Candi Penataran, yaitu : (1) sylophone terdiri atas sejumlah wilahan (11, 12, 14, dan 16 lempeng), (b) musisi pria mengenakan jathamakuta, (c) tongkat pukul berjumlah duah (doble stick) untuk masing-masing tangan, dan (c) dipegang dengan jari-jari tangan membentuk serupa huruf ‘V’. Persamaan itu dapat difahami, mengingat bahwa kedua candi itu berdekatan jaraknya (sekitar 5 km) dan relatif semasa (Masa Majapahit, abad XIV-XV Masehi), sehingga sangat boleh terdapat saling pengaruh satu sama lain. Selain itu, boleh jadi pada masa masa Majapahit waditra jenis ini cukup populer di lereng dan lembah sisi selatan Gunung Kelud.

Yang menarik untuk dicermati pada relief-relief tertelaah di Candi Gambar Wetan maupun Candi Penatara adalah para musisi pria yang memainkan waditra jenis sylopone itu mengenakan jathamakuta (semacam sorban), yakni indikator khas bagi anggota komunitas rokhaniawan. Penggambaran yang demikian pada dua panil relief di Candi Gambar Wetan bisa difahami, mengingat candi ini sekaligus menjadi mandalakadewa gurwa atau karsyan, dimana di sejumlah candi Masa Majapahit para rsi digambarkan mengenakan jathamakuta.

Keberadaan Candi Gambar Wetan sebagai tempat pembelajaran rokhani digambarkan dalam kitab ‘Bujangga Manik’ (abad XVII Masehi), dimana rokhaniawan asal tatar Sunda ini dikisahkan pernah belajar di Mandala Palah selama setahun. Candi ini pula yang diprakirakan pernah disinggahi oleh Panji Margasamara dan kekasihnya seperti dikisahkan dalam ‘Kidung Panji Margasmara’ (abad XV Masehi). Adapun pada relief Cerita Panji di Pendapa Teras II Candi Penataran, Panji yang memainkan sylophone digambarkan mengenakan jathamakutan, sebab konteks kisahnya ia baru saja melewatkan masa pembelajaran di suatu mandalakadewagurwan. Ada kesan bahwa waditra jenis ini cukup diminati di likungan mandalakadewagurwan (karsyan).

C. Jejak Tradisi dan Perubahannya

Dalam istilah Jawa Kuna/Tengahan waditra sylophone yang berbentuk demikian dapat diientifikasi dengan apa yang dinamai “Salukat”, yaitu waditra jenis perkusi seperti saron soprano ukuran kecil, yang acap disebut dengan ‘saron penerus, atau peking’ (Kust, 1968:79f). Wilahan-wilahannya terbuat dari lepengan logam kuningan atau pada masa itu amat mungkin dari bahan perunggu. Istilah arkhais ini tidak dipergunakan lagi dalam waditra Jawa pada masa sekaran., Sebaliknya cukup sering diberitakan dalam sumber data tekstual pada Masa Hindu-Buddha, seperti dalan kitab Gathotkacasraya (6.2, 10.9), Sumanasantaka (61.4), Kidung Harsyawijaya (52.5), Kidung Malat (2.15, 2.56-57, 8.136, 9.166, 9.183, 14.12, 14.25b), Wangbang Wideya (1.44) dan Wangbang Wideha A (1.40b), Wasengsari (2.112-113, 3.78, 3.81, 6.99, 9.86), Hariwangsa (19.6), Subhadrawiwaha (27.18), Sumanasantaka (24.7, 28.15) dan Abhimanyuwiwaha (6.10) (Zoetmulder, 1995: 992-993). Tergambar bahwa salukat telah ada sejak Masa Pemerintahan Kadiri (abad XIII Masehi) dan kian populer pada Masa Majapahit. Tidak sedikit susastra-susastra Panji yang memberitakan mengenai waditra salukat. Panji dikisahkan sebagai gemar memainkan, dan bahkan mahir melaras salukat. Relief pada Pendapa Teras II Candi Pentaran memberi bukti tentang itu.

Istilah arkhais itu telah tak digunakan lagi dalam waditra Jawa, walau terdapat sejumlah waditra dalam Gamelan Jawa yang menyerupai salukat, seperti saron, peking, gambang dan gender. Dalam ansabel musik Jawa (gamelan), waditra ini bisa diasosiasikan dengan gambang kayu. Hanya saja, dalam beberapa hal ada perbedaan diantaranya: (a) tidak ditabuh dengan memakai doble stick berpole menyerupai huruf ‘V’, dan (b) tata urutan wilahan dari besar di bagian kanan ke arah kecil di bagian kiri. Kurang tahu pasti bilamana istilah ‘salukat’ ditinggalkan. Demikian pula sejak kapan doble stick ditinggalkan dan terjadinya perubahan tata uturan wilahan dari semula kelompok wilahan kecil di bagian kanan dan wilahan lebih panjang di bagian kiri menjadi sebaliknya. Apakah dapat dikaitkan dengan reformasi signifikan dalam tubuh Gamelan Jawa pada era pemerintahan Sultan Agung?

Pada kontek cerita pada relief Cerita Panji di Pendapa Tetas II kompleks Candi Penataran, waditra jenis sylophone yang berupa salukat itu dimainkan bersama dengan salukat lain. Namun, pada pada relief di Candi Gambarwetan dimainkan sebagai waditra tunggal. Salukat dalam relief Cerita Panji pada Pendapa Teras II di Candi Penataran dan dua panil relief lepas di Candi Gambar Wetan dimainkan untuk iringi nyanyian atau mungkin hanya instrumental (tanpa nyanyian). Adapun waditra salukat pada panil bagian tengah dari set terdiri atas tiga panil relief di Candi Gambar Wetan dimainkan untuk mengiringi tarian tunggal. Demikianlah, tergambar bahwa pada Masa Hindu~Buddha waditra salukat merupakan sebuah waditra jenis sylophone yang cukup pupuler, yang memiliki beberapa kegunaan. J8ka dimainkan bersama waditra lain, menurut susastra kuno acap dipasangkan dengan salunding dan samepa

D. Penutup

Demikianlah informasi sekilas mengenai relief musik Jawa pada masa lampau. Kendati hanya sebuah.panil, namun mengingat akan langkanya data mengenai seni pertunjukkan lalu, maka relief ini amat berharga. Bersama dengan relief di Pendapa Teras II Kompleks Candi Penataran, tiga panil relief di Candi Gambar Wetan adalah sedikit dari bukti-bukti visual mengenai bentuk, cara memainkan, pemain dan fungsi waditra salukat pada Masa Hindu-Buddha. Oleh karena itu, temuan baru di Candi Gambar Watan tersebut kontributif bagi pengungkapan salukat, yang sebelumnya hanya dapat dijumpai di Pendapa Teras II Panataran.

Semoga tulisan ringkas dan bersahaja ini bisa menjadi paparan awal yang dapat menambah khasanah pengetahuan di bidang seni~budaya bagi para pembaca, khusnya para pelaku dan peminat seni pertunjukan Nusantara lama.
Salam budaya “Nusantarajayati”.
Nuwun.

 

PATEMBAYAN CITRALEKHA, 20.Juni 201766

Total
3
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*