SURAT CINTA PANJI BUAT SANG KEKASIH VIA ‘BURUNG POS’ JARUMAN ATAT PADA RELIEF PENDAPA TERAS II PENATARAN

Asmara lama di balik relief candi
Kontribusi buat “Festival Panji’ 2017 di Kediri

SURAT CINTA PANJI BUAT SANG KEKASIH VIA ‘BURUNG POS’ JARUMAN ATAT PADA RELIEF PENDAPA TERAS II PENATARAN : Jejak Awal Perposan Nusantara

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Himpunan Visualisasi Kisah Panji

Sejauh telah ditemukan, tinggalan arsitektural masa lampau yang terbanyak memvisualisasikan ragam cerita Panji – baik kategori ‘Panji Mayor’ ataupun ‘Panji Minor’, adalah Pendapa Teras II Candi Penataran. Menilik kronogram (angka tahun) yang dipahatkan di pelipit atas Pendapa Teras II sisi belakang (timur), yang beratrikh Saka 1297 (1375 Masehi), diketahui bahwa sebuah diantara dua pendapa di halaman I kompleks Candi Penataran (Palah) ini dibangun pada Masa Keemasan Majapahit, semasa pemerintahan Maharaja Hayam Wuruk. Seluruh batang dari bangunan berteras tunggal berbahan batu andesit berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran sisi 29,05 x 9,22 meter dan tinggi 1,5 meter ini dipenuhi oleh relief-relief cerita. Bahkan, pelipit bawah dan pilaster-pilaster pojoknya diberi pahatan berbentuk naga-naga yang saling melilitkan tubuhnya – berkenaan dengan tema cerita ‘Samodramantana’, serta pahatan berbentuk raksasa bersayap pada kanan-kiri pipi tangga (balustrade) dari sepasang tangga di sisi depan (barat).

Kendatipun belum seluruh reliefnya dapat diidentifikasikan, namun apabila menilik ‘tokoh utama pria’-nya memakai penutup kepala berbentuk ‘tekes’ – lazim dikenakan oleh tokoh-tokoh Panji, maka sebagian besar dari deretan relief itu adalah kisah-kisah Panji dan kisah-kisah lain (seperti: Sri Tanjung, Bhubuksah Gagang Aking, Hantu Pohon maupun Hantu Berbau Wangi (Hanja-hanja Jnana dan Hanja-hanja Kastri). Sayang sekali, sejauh ini beragam cerita Panji itu baru kisah ‘Sang Satyawan’ saja yang bisa diidentifikasikan dengan terang. Selebihnya, belum dapat diidentifikasi induk ceritanya, meskipun deskripsi dan garis besar kisahnya bisa diceritakan dengan cukup jelas. Salah satu diantaranya adalah yang ditelaah pada tulisan ini.

Relief tertelaah berada di sisi depan (barat), mulai dari sudut barat daya hingga sebelah barat pipi tangga kanan dari tangga bagian utara. Arah pembacaan relief adalah prasawya (berlawanan arah jarum jam). Panil pertama mengkisahkan seorang wanita tengah berbaring, dengan rambut tergerai panjang, ditemani oleh para inang. Menilik posisinya, perempuan muda itu tengah sakit, tepatnya ‘sakit rindu’ lantaran lama terpisah dengan kekasihya (Panji). Dalam Bahasa Jawa Baru, sakit yang demikian dinamai ‘loro wuyung atau loro bronto (sakit rindu)’, sebagai wujud dari psikosomatis lantaran cinta yang terhalang.

Panil kedua menggambarkan seorang pria dengan penutup kepala berbentu ‘tekes’, yang oleh para ahli lazim dinyatakan sebagai topi khas dari para tokoh panji. Dengan demikian, cukuplah alasan untuk mengidentifikasikan bahwa tokoh itu adalah Panji, yang ditemani oleh seorang Punakawan dan ksatria pendamping (mungkin Kertala). Di depannya di bawah rindang pohon terdapat seekor burung dan di belakang burung itu berdiri seorangtokoh tua yang juga mengenakan jathamakuta – tatanan rambut panjang (jatha) yang disanggul besar serta diperkuat dengan lilitan helai-helai kain, sehingga sekilas serupa mahkota (makuta) berbentuk sorban. Ada kemungkinan tokoh tua itu adalah seorang guru atau rsi, padamanana Panji belajar (menjadi ajar) pada suatu mandala kadewagurwan di tempat yang terpencil pada seberang perairan luas.

Apabila menilik bentuk paruhnya, burung itu masuk dalam kategori ‘perrot’, yakni sejenis burung berparuh melengkung serupa burung betet besar dan berjambul, yang mengingatkan kita kepada burung kakak tua. Pada pelipit atas dari panil ini terpahat inskripsi pendek bertulis ‘jaruman atat (burung jaruman)’. Jenis burung demikian bisa jadi konon endemik di Blitar dan sekitarnya hingga Malang Selatan. Indikatornya adalah pada Kecamatan Turen di Malang Selatan terdapat sungai bernama ‘Jaruman’, yakni kali di utara Pasar Turen dan seterusnya mengalir ke barat berbelok ke arah selatan melintasi tanah membukit padamana Prasasti Turyyan (Watu Godheg) bertarikh 929 Masehi berada. Tangan Panji membawa beberapa lembar (lempir) daun tal (rontal) yang bertulis sesuatu, yang dalam konteks kisah ini diidentifikasi sebagai ‘surat cinta’.

Panil ketiga menggambarkan berung tersebut tengah terbang jauh di atas perairan luas, yang pada paruhnya digigit kuat ‘surat cinta’ yang dikirimkan oleh Panji. Jelas bahwa burung tersebut adalah adalah apa yang dikenal dengan sebutan ‘burung pos’, yakni burung-burung tertentu yang dilatih secara khusus untuk dapat mengantarkan surat dari suatu tempat ke tapat lain. Tergambar bahwa burung yang dapat dilatih demikian bukan sebatas burung dara (merpati) yang karenanya dinamai ‘merpati pos’, namun bisa juga burung jaruman itu. Pada merpati pos, surat dibawa tidak dengan cara digigit seperti pada burung jaruman, melainkan diikatkan pada kaki atau dikalungkan di leher. Perairan yang dilaluinya terbilang luas, yang diperlihatkan oleh adanya dua buah perahu macung (lesung) berpenumpang tunggal menyebarangi perairan dan adanya pahatan berupa ikan-ikan yang memiliki semacam kumis (seperti ikan lele besar). Boleh jadi, periran yang digambarkan itu adalah Bangawan Brantas – melintasi kawasan Blitar, kini memisahkan daerah Blitar dan Kediri. Sangat boleh jadi, konon Bangawan Brantas memiliki bentang aliran yang amat luas, jauh lebih lebar dari alirannya sekarang.

Panil keempat menggambarkan terbang burung telah berhasil melintasi perairan dan tiba di tempat kediaman kekasih Panji. Burung jaruman yang pada paruhnya menggingit rontal bertuliskan surat dicinta disampaikan kepada kekasih Panji, yang disertai oleh seorang Punakawan pria dalam posisi tengkurap, seakan mengajak bercanda burung jaruman. Tergambar bahwa raut wajah wanita muda itu gembira demi memperoleh hantaran surat cinta dari sang kekasih (Panji), yang tengah berada di jauh seberang. Jelas bahwa burung inilah yang digambarkan pada panil ke-2 dan ke-3. Dengan demikian, panil ke-2, 3 dan 3 melukiskan proses pengiriman surat cinta dari Panji kepada Kekasih dengan perantaraan (via) burung jaruman melintasi jarak yang jauh.

Panil kelima menggambarkan Panji bersama Kekasih tengah memainkan sepasang waditra jenis sylophone, yang konon dinamai ‘salukat (gambang kayu)’. Posisi keduanya berhadap-hadapan di bawah rindang pohon. Adegan ini boleh jadi menggambarkan tentang Panji sepulang dari tempat pembelajarannya, Mereka menumpahkan kerinduannya dengan memainkan musik kesukaan dari Panji sebagai penghantar adegan asmara berikutnya. Panji masih mengenakan busana sebagaimana digambarkan pada panil ke-2, yaitu memakai tutup kepala jathamakuta. Mereka berdua ditemani oleh Punakawan pria dan Inang wanita.

Panil keenam (terakhir) menggambarkan puncak asmara, yaitu adegan seksual. Panji digambarkan memangku kekasihnya, dengan tangan meremas mesra payudara kekasihnya. Tergambar Kekasih Panji menikmati paduan kasih, yang untuk beberapa waktu sebelumnya terpisah oleh jarak yang jauh lantaran Panji menjalani masa pembelajaran. Seakan tidak mau ketinggalan dengan tuan dan nyonyanya, Punakawan Panji dengan penuh nafsu menyergap inang Kekasih Panji. Tergambarkan tangan kanan Punakawan terjulur nakal ke arah vulva dari Inang. Tindakan vulgarnya menjadikan tangan Inang didorongkan ke muka Punakawan. Adegan seksual dari dua pansang anak manusia ini terlihat demikian seru, sehingga sepasang salukat yang sebelumnya dimainkan bersama berada dalam posisi terguling. Perilaku seksual vulgar Punakawan tersebut menyerupai yang dipahatkan pada relief cerita Arjunawiwaha di kaki sisi belakang Candi Surawana dan pada dinding Goa Pasir.

B. Surat Cinta dan Burung Penghantar Surat

Hubungan kasih tak senantasa berlangsung normal. Semisal karena kedua kekasih itu berada pada jarak yang berjauhan. Dalam kondisi demikian, hubungan kasih dilakukan secara tidak langsung, yakni dengan mengirimkan pernyataan kasih, yang diwujudkan dalam bentuk ‘surat cinta’ ataupun benda lain yang menjadi simbol tali kasih. Dalam relief cerita ‘Ramayana’ yang dipahatkan pada Teras I candi induk Penataran, simbol tali kasih berwujud cicin (karah, simsim). Kera putih atau Hanoman – sebagai duta (perantara) – diutus oleh Rama untuk menyerahkan ‘cincin kasih’ kepada Dewi Sita, yang pada peristiwa sebelumnya dititipkan oleh Sita kepada Jathayu untuk diserahkan kepada Rama, lantaran Ia dilarikan oleh Rahwana ke Alengka. Selanjutnya, kera Hanoman dengan susah payah dan penuh resiko menghantarkan kembali cincin kasih itu ke tempat penyekapan Sita di Nagari Langka yang dijaga ketat oleh para raksasa bala tentara Rahwana. Sedangkan pada relief cerita Panji di Penadapa Teras II Candi Penataran, tanda cinta Panji berwujud sebagai surat cinta, dan pengantar (duta)nya adalah burung jaruman sebagai burung pos.

Relief tertelaah ini menjadi bukti bahwa pada Masa Keemasan Mahapahit (paro kedua abad XIV Masehi) burung tertentu – dalam hal ini adalah burung jaruman – telah dilatih dan didayagunakan sebagai sarana penghantar surat. Hal ini mengingarkan kita pada burung merpati, yang boleh jadi pada masa itu juga telah dimanfaatkan sebagai burung pos. Dalam ikonografi Hindu, wahana Dewi Cinta (Rati) adalah burung merpati. Sebagai Dewi Cinta, amat mungkin merpati konon digunakan sebagai penghantar surat cinta. Perihal burung sebagai penghantar surat cinta mengingatkan kita pada kisah Kenabian, dimana Nabi Sulaiman mengirimkan ‘surat pinangan cinta’Nya kepada Ratu Balqis dengan perantaraan burung ‘huthut’, yakni sejenis burung kakak tua Afrika. Yang menarik untuk disimak, kata ‘huthut’ menyerupai kata ‘atat’ dalam Bahasa Jawa Kuna/Tengahan (huthut, jika lonsonan ‘h’ lesap menjadi ‘uthut’, yang bisa jadi berunah menjadi ‘atat’).

Pada masa yang lebih muda, termasuk ketika Perang Kemerdekaan (1945-1948), merpati pos juga dimanfaatkan sebegai penghatar surat. Museum Brawijaya, yakni Museum Militer (AD) di Kota Malang, memiliki koleksi berupa merpati pos. Demikialah, ternyata dalam kurun waktu yang amat lama, sebelum maraknya pengiriman pesan melalui media telepon, telegraf. terlebih lagi internet dan telepon seluler, jasa pos telah mendunia, tidak terkecuali terdapat di Indonesia. Penghantaran surat (layang, nawolo) bukan hanya dilakukan oleh orang tertentu dengan berjalan kaki, berkuda, bersepeda, ataupun bermotor, namun dalam hal tertentu dikirim via burung terlatih, yang disebut ‘burung pos’.

Demikian pentimgnya surat sebagai media komunikasi tak langsung, sampai-sampai jalan trans di Pantura Jawa yang perdana ‘Anyer – Panarukan’ sejauh kurang lebih 1000 Km, yang dibangun atas perintah dari Gubernur Jendral Herman Willem Daendels (1808), juga dimanfaatkan sebagai prasarana pengantaran surat dengan menggunakan ‘jasa pos manusia berkuda’, sehingga jalan raya ini dinamai ‘De Grote Postweg (Jalan Raya Pos)’. Pada tiap-tiap 4,5 kilometer didirikan pos, sebagai tempat perhentian dan penghubung pengiriman surat. Memang tujuan pembangunan Jalan Raya Pos adalah untuk memperlancar komunikasi antar daerah yang dikuasai Daendels di sepanjang Pulau Jawa dan sebagai benteng pertahanan di Pantai Utara Pulau Jawa.

C. Sejarah Panjang Pos Indonesia

Dunia ‘perposan’ di Indonesia telah memempuh penjalanan panjang, Sebagaimana dipaparkan di atas, embrionya didapati sejak Masa Hindu-Buddha. Adapun pos modern muncul tahun 1602, saat VOC menguasai Nusantara. Ketika itu perhubungan pos hanya dilakukan di kota-kota tertentu di Jawa dan luar Jawa. Surat atau paket pos hanya diletakkan di Stadsherbrg (Gedung Penginapan Kota), sehingga orang harus selalu mengecek apakah terdapat surat atau paket untuknya di dalam gedung itu. Untuk meningkatkan keamanan surat dan paket pos tersebut, Gubernur Jenderal G. W. Baron Van Imhoff mendirikan kantor pos pertama di Indonesia yang terletak di Batavia (Jakarta). Pos pertama didirikan pada 26 Agustus 1746. Pada era kepemimpinan Daendels terdapat kemajuan cukup berarti dalam pelayanan pos, berupa pembuatan jalan ‘Anyer-Panarukan’, yang membantu dalam mempercepat pengantaran surat dan paket antarkota di Jawa. Dengan adanya jalan ini, maka perjalanan antara Provinsi Jawa Barat sampai Provinsi Jawa Timur, yang awalnya bisa memakan waktu puluhan hari, bisa ditempuh dalam jangka waktu kurang dari seminggu.

Arus perkembangan teknologi telepon dan telegraf yang masuk ke Indonesia pun mengubah sistem pelayanan pos di wilayah Indonesia. Pada tahun 1906, akhirnya pos di Indonesia berubah menjadi Posts Telegraafend Telefoon Dienst (Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon, yang disingkat ‘PTT’). Layanan pos yang pada mulanya berpusat di Welrevender (Gambir) berpindah ke Dinas Pekerjaan Umum (Burgerlijke Openbare Werker, disingkat ‘BOW’) di Bandung pada tahun 1923. Pada saat pendudukan Jepang di Indonesia, Jawatan PTT dikuasai oleh militer Jepang. Angkatan Muda PTT (AMPTT) mengambil alih kekuasaan Jawatan PTT tersebut, dan kemudian secara resmi berubah menjadi Jawatan PTT Republik Indonesia. Peristiwa itu terjadi pada 27 September 1945.

Pertanggalan itu diperingati sebagai ‘Hari Bakti PTT, atau Hari Bakti Parpostel’. Pos Indonesia merupakan sebuah badan usaha milik negara (BUMN), yang bergerak di bidang layanan pos. Saat ini, bentuk badan usaha Pos Indonesia merupakan perseroan terbatas dan sering disebut dengan ‘PT. Pos Indonesia’. Bentuk usaha Pos Indonesia ini berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 5 Tahun 1995 tentang pengalihan bentuk awal Pos Indonesia yang berupa perusahaan umum (perum) menjadi sebuah perusahaan (persero). Keseluruhan saham PT. Pos Indonesia dimiliki oleh negara Indonesia.

D. Penutup

Relief Cerita Panji pada Pendapa Teras II di kompleks Candi Penataran, sejauh telah ditemukan merupakan jejak tertua mengenai pengiriman surat, yang lazim disebut ‘pengeposan surat (leter posting)’. Oleh karena itu, relief ini memberi cukup bukti untuk menjadikannya sebagai “Ikon Klasik Pos Nusantara’, dimana Panji merupakan ‘Bapak Pos Nusantara’. Kisah percintaan yang menjadi tema sentral dalam berbagai Cerita Panji menjadi pula alasan untuk menafsirkan bahwa surat yang dikirim oleh Panji kepada kekasihnya itu adalah ‘surat cinta’. Dalam hal surat cinta, tergambar bahwa cinta tak terhalang oleh jarak. Kalaupun tidak memungkinkan bercinta secara tatap muka (langsung), maka ‘bisa disambung (secara tak langsung)’ melalui perantaraan surat cinta, cincin kasih, dsb, Dalam hal pengantaran surat, relief itu sekaligus membuktikan bahwa telah amat lama burung tertentu, seperti burung jaruman dan merpati, dilatih secara khusus baat pengantaran surat, yang lazim dinamai ‘burung pos’.

Semoga tulisan ringkas dan bersahaja ini dapat menambah khasanah pengetahuan pembaca pada hal khusus, yakni sejarah pos Nusantara. Relief tertelah ini menjadi contoh bahwa sesungguhnya banyak informasi yang bisa diperoleh dari relief candi, dimana relief candi merupakan salah satu ensiklopedi visual perihal budaya Nusantara lama. Oleh karenanya, dayagunakanlah relief-relief candi sebagai sumber yang tak pernah kering bagi eksplorasi pengetahuan sosial-budaya di masa lampau.

Terima kasih atas perkenannya untuk membaca tulisan ini.
Salam budaya ‘Nusantarajayati’.
Nuwun.

PETEMBATAN CITRALEKHA, Sengkaling 5 Juli 2017

Total
14
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*