PSIKO-HISTORIS KPRIBADIAN KEN ANGROK

 

PSIKO-HISTORIS KPRIBADIAN KEN ANGROK :
Studi Kasus Adat Pengasuhan Anak Masa Lampau

Oleh:
M. Dwi Cahyono (Univ. Negeri Malang)

A. P e n g a n t a r

Pelaku sejarah yang hendak ditelisik adalah Ken Angrok. Seorang tokoh sejarah Jawa, yang perjalanan hidupnya oleh Pararaton dikisahkan dengan ‘unik’, yang antara lain ditandai oleh beberapa kali mengalami alih pengasuhan di luar didikan orang tuanya. Angrok tumbuh berkembang di luar lingkungan keluarga batih. Bahkan, bisa dibilang didewasakan di jalanan, sebagai anak jalanan Silih berganti pengasuhan, sejak balita hingga dewasa di luar keluarga, berdampak pada kepribadiannya, yakni menjadi pribadi dengan kepribadian terbelah .

Studi ini dilakukan dengan mengkolaborasikan dua bidang ilmu, yaitu sejarah dan psi-kologi, atau dapat disebut ‘studi psiko-historis’. Oleh karena Sejarah mengkaji tentang peristiwa masa lalu yang mencakup banyak aspek kehidupan, maka tak terelakkan memerlukan ilmu bantu, baik ilmu bantu yang berkenaan dengan sumber-sumber data yang didayagunakan maupun aspek khusus yang dikajinya. Telaah ini fokus kepada aspek kepribadian seseorang, sebagai produk dari proses pendidikannya. Oleh karena itu Psikologi relavan dijadikan ilmu bantu pada tahap analisa data. Konsep dan teori psikologi, khususnya psikologi kepribadian, dipandang sebagai perangkat analisis yang tepatguna untuk itu..

Semoga diperoleh contoh teladan dalam kasus khusus pada sejarah pendidikan Ken Angrok. Baik untuk ditiru atau sebaliknya untuk dihindari bagi penyelenggaraan pendidikan di masa kini. Lebih khusus lagi kajian ini menyuguhkan suatu kisah sukses anak jalanan yang ‘dipaksa’ melewati liku perjalanan hidup yang tak gampang, bahkan tragis, untuk menggapai cita. Hal itu penting untuk diketengahkan, mengingat bahwa subyek didik tanpa terkecuali adalah anak-anak yang kurang beruntung, yang terpaksa menjalani hidupnya sebagai anak jalanan, yang dari tahun ke tahun jumlahnya makin meningkat dan tantangan yang dihadapi semakin sulit. Ke depan para peserta seminar dapat melakukan kajian serupa terhadap tokoh-tokoh sejarah lain, karena secara metodologis tidak terlampau sulit. Dengan demikian maka jejak pendidikan masa lalu bisa diungkapkan, dan selanjutnya dimanfaatkan guna mengemas model pendidikan yang tepat guna dengan sosio-budaya sendiri.

B. Pararaton, Sumber Data Balada Sejarah Angrok

Fenomena anak jalanan (anjal), khususnya mengenai proses pendidikannya, diperoleh contoh kasusnya pada diri Ken Angrok. Pararaton memaparkan dengan rinci etape perjalan-an hidupnya, sejak dari kelahiran hingga kemangkatannya. Dari keseluruhan isinya, hampir separonya mengkisahkan secara ‘cair’ perjanalan hidup Angrok. Oleh karena itu bisa dibilang separo awal darinya sebagian besar menceritakan ‘balada ken Angrok’, ditambah kisah para raja Singhasari penggantinnya secara lebih ringkas. Separoh lainnya, yang memaparkan seca-ra kronikal dalam bentuk informasi ringkas-padat (kort en bundeg) tentang sederet peristiwa menurut urutan tahun kejadian pada masa Majapahit sejak pemerintahan Wijaya hingga tahun Saka 1403 (1481 M).

Menilik gaya penyajian yang berlainan itu, bisa jadi susastra ini adalah bundel berisi dua susastra berbeda, yang masing-masing memiliki judul sendiri. Susastra per-tama yang banyak mengkisahkan perjalanan hidup Angrok mempunyai judul ‘katuturanira ken Angrok (tutur mengenai ken Angrok)’ , sedangkan susastra kedua yang berwujud kronik kejadian yang berlangsung pada masa pemerintahan para raja (ratu) di Majapahit itulah yang sesungguhnya berjudul ‘Pararaton’ .
Walaupun Pararaton hadir dalam bentuk susastra, yang tentu tidak terbebas dari kisah rekaan dan baru disurat ± 250 tahun pasca kehidupan Angrok , namun sejauh telah didapat-kan ia merupakan sumber data terlengkap tentang Angrok. Pararaton sungguh roman sejarah ken Angrok. Sumber data lainnya, seperti kakawin Nagarakretagama (1365 M.) dan prasasti Mula-Malurung (1255 M.), hanya menginformasikan sekilas perihal dirinya .

Setidaknya, di dalam Pararaton tersirat gambaran sosio-kultural Jawa abad XVI M, manakala susatra ini di-tulis – sebagai literalisasi terhadap tutur (tradisi lisan) mengenai balada Angrok. Jadi, sumber yang digunakan untuk penulisannya adalah tutur, tepatnya tutur sejarah masa Singhasari. Se-bagimana sifat tutur pada umumnya, terdapat bias dari peristiwa yang sesungguhnya (fakta). Bagian yang berupa bias fakta masa lalu itulah yang merupakan ‘kisah rekaan’, yang kehadir-annya memang diperlukan guna menguatkan aspek dramatik susastra. Peristiwa-peristiwa di dalam Pararaton tidak selalu dikisahkan secara lugas, namun acap berbalut mitos dan simbol, dan karenanya diperlukan pemahaman dengan menggunakan ‘pendekatan religis dan analisis simbolik’. Dengan cara ini, bagian yang berupa kisah rekaan itu menjadi bermakna sebagai sumber data sejarah .

Angrok tidak hanya dikisahkan secara mitis sebagai ‘putra’ dari tiga istadewata (dewa utama) dalam Agama Hindu (Trimurti) , namun juga diprofilkan secara humanis sebagai ma-nusia biasa, dengan kelebihan dan kekurangannya. Yang terkadang berperilaku kurang baik (asubhakarma), namun tak jarang pula berperilaku baik (subhakarma). Sifat dan perila-kunya yang demikian itu diberikan alasan oleh Paparaton melalui paparan mengenai proses pendidikannya, yang beberapa kali mengalami ‘alih pengasuhan’. Tidak seluruh pengasuhnya adalah pribadi-pribadi dengan latar belakang baik. Dampak psikologisnya, Angrok terbentuk menjadi pribadi dengan ‘kepribadian terbelah (split personality), sebagai produk dari proses pendidikan yang dijalaninya – seiring pertumbuhan dan perkembangan kejiwanya di jalanan sebagai anak jalanan. Menilik penuturan Pararaton yang demikian, susastra ini tepat dijadi-kan sumber data sejarah guna mengungkap pendidikan informal anak jalanan pada masa lalu.

C. Serangkaian Alih-Asuh dalam Pendidikan Ken Angrok

Tragis telah menimpa Angrok begitu dilahirkan. Ni Ndok yang merasa malu lantaran melahirkan anak diluar hubungan dengan suami resminya, yaitu Gajapara dari Desa Camara, terpaksa bertindak keji dengan membuang orok hasil perkawinan rokhaniahnya dengan Bhat-tara Brahma ke pabajangan (kuburan bayi). Beruntunglah pencuri (wong amaling) bernama Lembong menemukannya secara tidak sengaja, ketika kesasar ke kuburan Desa Pangkur pada malam hari. Tangisan dan pancaran sinar (prabha) dari arah pabajangan menarik perhatian Lembong untuk menelisiknya. Ternyata. orok Angrok itulah muasalnya. Lembong memba-wanya pulang, dan menjadikan sebagai anak angkat. Terjemahan kutipan teks dari Pararaton yang mengkisahkan perihal hal itu adalah sebagai berikut.

Selanjutnya ada seorang pencuri bernama Lembong tersesat di kuburan anak-anak itu. Melihat benda bernyala, didatangi oleh Lembong, mendengar anak menangis. Setelah didekati oleh Lembong, nyatalah yang menyala itu adalah anak yang menangis tadi. Diambil dan dibawa pulang, diaku anak oleh Lembong. Ken Endok mendengar bahwa Lembong memungut seorang anak, teman Lembong lah yang memberitahukan itu, de-ngan menyebut-sebut anak yang didapatinya di kuburan anak-anak, yang tampak ber-nyala pada waktu malam hari. Lalu ken Endok datang kepadanya. Sunguh-sungguhlah itu anaknya sendiri. Kata ken Endok ‘Kakak Lembong, kiraanya tuan tidak tahu ten-tang anak yang tuan dapat itu. Itu anak saya kakak. Jika kakak ingin tahu riwayatnya, demikianlah: ‘Dewa Brahma bertemu dengan saya. Janganlah tuan tidak memuliakan anak itu, karena dapat diumpamakan, anak itu beribu dua berayah satu, demikian per-samaannya’. Lembong beserta keluarga semakin cinta dan senang. Lambat laun anak itu akhirnya menjadi besar, dibawa pergi mencuri oleh Lembong. Setelah mencapai usia sebaya dengan anak gembala, ken Angrok bertempat tinggal di Pangkur. Habis-lah harta benda ken Endok dan harta benda Lembong. Habis dibuat taruhan oleh ken Angrok (Mardiwarsito, 1965: 48-49).

Inilah alih asuh perdana yang dialami balita Angrok, dari ibu kandungnya ke keluar-ga pencuri. Kepribadian dasar (basic personality) terbentuk manakala seseorang berusia anak anak . Keribadian dasar Angrok dengan demikian terbentuk di lingkungan keluarga pencuri Lembong. Kendati Ken Endok mengetahui penemu banyi yang ia buang, namun pengasuh-annya diserahkan pada Lembong di Desa Camara, lantaran telah menjadikannya anak angkat. Semenjak remaja kecil Angrok telah dilibatkan oleh Lembong dalam pencurian. Kenakalan menghinggapi Angrok pada usia amat muda, yaitu terlibat dalam perjudian. Harta benda ayah angkat dan ibu kandungnya habis dibuat taruhan olehnya. Kenakalannya tak berhenti hingga disitu. Ketika Anrok menjadi penggembala sepasang kerbau milik yang diperatuan di Lebak, binatang ternak yang digembalkannya hilang – tak ada keterangan dalam Pararaton, apakah hilang lantaran dicuri atau dijual olehnya. Padahalah, sepasang kerbau itu dihargai sebanyak delapan ribu oleh pemiliknya. Atas kejadian itu, Angrok dimarahi oleh ken Endok maupun Lembong.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, ken Endok dan Lembong menjalani hidup sebagai budak tanggungan kepada yang dipertuan di Lebak, asalkan Angrok tidak pergi daripadanya. Namun, tak dihiraukan olehnya. Angrok meninggalkan keduanya . Mula-mula mencari perlindungan di Kapundungan. Namun tiada yang menaruh belas kasihan kepadanya. Pada tahap ini, Angrok menjalini hidup menggelandang di jalanan – bisa jadi acapkali berada di arena judi di Karuman, hingga nantinya bertemu dan dijadikan anak angkat oleh penjudi Bango Samparan dari Karuman (kini Dusun Karuman Desa Tlogomas). Seperti kata pepa-tah ‘lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya’, alih asuh selanjutnya berlangsung dari keluarga pencuri (wong amaling) ke keluarga penjudi (bobotoh). Sesuai suara dari langit (angrengö ujar saking akasa), yang didengar ketika berziarah ke tempat keramat Rabut Jalu (kemungkinan kini Gunung Wukir di Batu), Bango Samparan bersua dengan anak dengan ciri-ciri seperti diisyaratkan oleh Hyang. Anak inilah yang menu-rut suara gaib itu bakal membantu lunasi hutangnya atas kekalahannya berjudi dengan bandar judi (malandang) di Karuman. Terjemahan kutipan teks dari Pararaton sebagai berikut.

Ada seorang penjudi permainan saji berasal dari Karuman bernama Bango Samparan. Kalah bertaruh dengan seorang bandar judi di Karuman, ditagih, tak dapat membayar uang. Bango Samparan pergi dari Karuman, berziarah ke tempat keramat Rabut Jalu. Mendengar kata dari angkasa, disuruh pulang ke Karuman lagi: ‘Kami mempunyai anak yang akan bisa menyelesaikan hutangmu, ia bernama ken Angrok’. Maka pergi-lah Bango Samparan dari Rabut Jalu, berjalan pada waktu malam, akhirnya berjumpa seorang anak. Dicocokkan oleh Bango Samparan dengan petunjuk Hyang, sungguh itu ken Angrok. Dibawanya pulang ke Karuman, diaku anak oleh Bango Samparan. Ia lalu ke tempat berjudi. Bandar judi ditemui Bango Samparan, dilawan berjudi. Kalah-bandar judi itu, kembali kekalahan Bango Samparan. Memang betul petunjuk Hyang. Bango Samparan pulang, ken Angrok dibawa pulang oleh Bango Samparan. Bango Samparan beristri dua orang bersaudara. Genuk Buntu nama istri tuanya, dan Tirtaja nama istri mudanya. Nama anak-anak dari istri muda ialah Panji Bawuk, anak tengah Panji Kuncang, adiknya Panji Kunal dan Panji Kanengkung, bungsu seorang anak perempuan bernama Cucu Puranti. Ken Angrok diambil anak oleh Genuk Buntu. La-ma ia berada di Karuman. Tak bisa sehati dengan semua para Panji itu (Mardiwarsito, 1965: 49-50).

Angrok senantiasa dibawa Bango Samparan ke arena perjudian. Diyakini bahwa ber-kat dialah Bango Samparan mendapatkan kemenangan. Angrok kian piawi dalam berjudi dan memiliki kepekaan dalam ‘gambling’. Kepekaan ini nantinya berguna ketika harus mengam-bil keputusan politik, yang dihadapkan pada dua kemungkinan, yaitu menang ataukah kalah. Sayang sekali harmoni antara dirinya [sebagai anak angkat] dan para Panji yang merupakan anak kandung Bango Samparan tidak terwujud. Bisa difahami bahwa terjadi kompetisi antara anak kandung dan anak angkat perebutkan perhatian orang tua. Yang acap terkalahkn adalah anak angkat. Kondisi demikian juga menimpai Angrok, sehingga dia meninggalkan Karuman menuju ke Kapundungan. Di tempat ini ken Angrok bertemu dengan seorang anak gembala bernama tuan Tita – putera tuan Sahaja, kepala desa Segenggeng (kini Desa Segenggeng, di Pakisaji).

Keduanya bersahabat karib, tak pernah berpisah. Angrok tinggal di kediaman tuan Sahaja, yang terbilang keluarga berada di desanya. Pada fase ini Angrok mengalami alih asuh kali ketiga, dan sekaligus memasuki masa pembelajaran yang sesungguhnya, yaitu menjalani srama Brahmacari[n] menurut konsepsi ‘catursrama’ di dalam agama Hindu dan Buddhis . Bersama teman sepergaulannya (tuan Tita), pergilah mereka ke guru Janggan di Sagenggeng. Terjemahan kutipan teks dari Pararaton mengenai ini adalah sebagai berikut “……………… mereka ingin tahu tentang bentuk huruf-huruf. Pergilah ke seorang guru di Segenggeng, amat ingin menjadi murid, minta diajar susastra. Mereka diberi pelajaran tentang bentuk huruf-huruf dan penggunaan pengetahuan tentang huruf-huruf hidup dan huruf-huruf mati, semua perubahan huruf, juga daftar tentang sengkalan, perinci-an hari-tengah bulan, bulan, tahun Saka, hari-enam, hari-lima, hari-tujuh, hari-tiga, hari-dua, hari-sembilan, nama-nama minggu. Ken Angok dan tuan Tita kedua-duanya pandai diajar pengetahuan oleh guru’ (Mardiwarsito, 1965:50).

Selama diterima diantara murid-murid (amarajaka) dari guru Janggan di Sagenggeng, disampaikan sejumlah bahan ajar, antara lain baca-tulis. Angrok dan tuan Tita belajar menge-nai bentuk-bentuk aksara (rupaning aksara), penggunaan huruf vokal dan konsonan (swara-wyanjanasastra), serta perubahan huruf (sawredining aksara). Baca-tulis adalah pengetahuan dasar, hal pertama dan utama yang musti dikuasai siswa. Dengan kemampuan dasar ini orang dapat mempelajari susastra. Tak kalah pentignya pengetahuan tentang petangan (perhitungan waktu). Diantaranya pentarihan dengan candrasangkala atau rupacandra, perhitungan waktu (titi masa) menurut tarih Saka, nama-nama hari menurut kelipatan hari-enam (sadwara), hari-lima (pancawara), hari-tujuh (saptawara), hari-tiga (triwara), hari-dua (dwiwara) dan hari-sembilan (sangawara). Selain itu dipelajari perihal wuku. Hal lain yang ditekankan untuk dipatuhi adalah kedisiplinan.

Ada contoh menarik yang dilakukan oleh guru Janggan untuk membiasakan muridnya agar taat disiplin, yakni memetik buah jambu tepat waktu, bila telah benar-benar masak. Tak ada yang diijinkan memetik, tak ada yang berani mengambilnya, bila belum masak. Janggang menekankan: ‘jika susah masak jambu itu, petiklah’. Masih terkait dengan buah jambu, guru Janggan mengajarkan pentingnya menjaga dengan baik buah yang dalam proses pematangan. Namun, terkadang muncul keinginan kuat untuk memetiknya meski belum matang. Keingan demikian bertabrakan dengan disiplin yang ditekankan oleh Janggan. Terkait itu,

Pararaton menggambaran keinginan kuat yang tak terpenuhi, sehingga beralih hadir pada kondisi bawah sadar. Gambaran itu terkisah pada diri Angrok, dengan penceritaan sebagai berikut. Ken Angrok sangat ingin melihat buah jambu itu, sangat dikenang-kenangkan buah jambu tadi. Setelah malam tiba, waktu orang tidur sedang nyenyak-nyenyaknya, ken Angrok pun tidur, kini keluarlah kelelawar dari ubun-ubun ken Angrok, berbondong-bondong tak ada putusnya, semalam-malaman makan buah jambu sang guru. …………. Kemudian guru mengambil duri rotan untuk mengurung jambu dan dijaga semalam-an. Ken Angrok tidur lagi diatas balai-balai sebelah selatan, dekat tempat daun ilalang kering, di tempat ini guru biasanya menganyam atap. Menurut penglihatan, guru meli-hat kelelawar penuh sesak berbondong-bondong keluar dari ubun-ubun ken Angrok, semuanya makan buah jambu guru…….. (Mardiwarsito, 1965:50). Secara simbolik, kelelawar yang berbondong keluar dari ubun-ubun Angrok menggambarkan keinginan kuat, yang hadir kala orang dalam kondisi bawah sadar, sewaktu tidur. Keinginan berasal dari fikiran. Oleh karenanya, kelelawar itu digambarkan keluar dari ubun-ubun.

Dasar Angrok berkepribadian terbelah. Baru saja menamatkan pembelajarannya pada guru Janggan, kembali ia terlibat kenakalan. Bahkan kali ini berwujud tindak kejahatan. Ber-sama tuan Tita, ia telah berusia dewasa awal mendirikan pondok di ladang Sanja, di sebelah timur Sagenggeng. Semula keduanya menjadi gembala, kemudian alih profesi menjadi begal. Mereka menghadang pelintas jalan. Bukan hanya merampok, namun Anrok juga melakukan perkosaan. Ada gadis cantik, anak penyadap enau, ikut pergi ke dalam hutan Kapundungan. Dia disergap dan disenggamai di hutan (asanggama ring halas) Adiyuga. Makin lama makin rusuh perbuatan Angrok. Kejahatannya diberitahukan hingga ke negara Daha. Penguasa dae-rah pendudukan, yakni akuwu Tunggul Ametung, diperintahkan untuk melenyapkannya.

Untuk menghindari penangkapan, Angrok meninggalkan Sagenggeng menuju Rabut Gorontol, lantas ke Wajang, dan selanjutnya ke Ladang Sukamanggala. Di tempat ini Angrok merampas barang (anawala) pemikat burung pitpit. Kemudian menuju ke Rabut Katu (kini Bukit Katu di Wagir). Wilayah pelariannya hingga memasuki Jun-watu (kini Dusun Junwatu Desa Junrejo di Kota Batu). Untuk waktu lama tinggallah Angrok di Lulumbang. Di tempat ini Angrok kembali melakukan perampasan barang terhadap pelintas jalan. Selanjutnya pergi ke Kapundungan dan melakukan pencurian gagal di Pamalanten. Lepas dari kepungan warga, Angrok menuju ke seberang timur sungai hingga di Nagamangsa. Menghindari kejaran war-ga, Angrok lari ke Oran. Oleh karena terus dikejar dan diburu, maka mengungsi Angrok ke Kapundungan dan seterusnya bersembunyi di hutan Patangtangan, lantas ke Ano dan hutan Terwag. Kerusuhan yang ditimbulkannya makin menjadi. Lantaran kelaparan, beberapa kali Angrok mencuri nasi yang dikirim kepala lingkungan daerah Luki untuk penggembala lembunya. Seperginya dari Luki, Angrok kembali ke Lulumbang, selanjutnya ke Banjar Kocapet. Demikianlah tualang panjang Angrok, ketika malang melintang meniti dunia kejahatan.

Bertolak belakang dengan fase sebelumnya, yang ditandai oleh perbuatan baik dalam bentuk pembelajaran (brahmacarin), pada fase ini Angrok terlibat dalam serangkaian tindak kejahatan, seperti pencurian, pembegalan dan perkosaan. Angrok menjadi bromocorah, yang membuat onar dan rusuh di Malang Raya bagian selatan, timur dan barat. Tindakannya bukan saja meresahkan, menimbulkan rasa takut dan menelan korban pihak lain, tapi juga mengan-cam keselamatannya sendiri. Pemerintah kerajaan Pangjalu (Daha) terpicu untuk menetapkan Angrok sebagai TO (Target Operasi). Tunggul Ametung sebagai pejabat Kadiri/Pangjalu pa-da daerah pendudukan di kawasan timur G. Kawi diperintahkan untuk menangkap, bahkan melenyapkannya. Beberapakali Angrok nyaris tertangkap. Seperti ketika ketahuan mencuri di Kapalandangan dan Luki. Namun keberuntungan menyertai dirinya. Pertolongan dewata, ke-cerdikan untuk lolos dari kejaran warga dalam kasus pencurian di Pamalanten , perlindungan yang dipertuan di Kapundungan dengan siasat ‘mengaku anak’ ketika nyaris ketahuan dalam pengungsiannya , serta belas kasih kepala lingkungan di Luki pada Angrok yang menderita kelaparan merupakan faktor internal dan eksternal atas keselamatannya.

Dalam waktu singkat Angrok dirumorkan sebagai begal yang garang. Pada fase ini, Angrok berlatih dan belajar menjadi penjahat tangguh. Pengalaman, kemampuan dan penga-ruhnya memposisikan dirinya sebagai pimpinan para begal (benggol). Walau acap bertindak kejam, namun uniknya ketika menjumpai kepala lingkungan (mandaleng) dari Turiantapada bernama Pu Palot yang ketakutan lantaran khawatir kemalaman ketika melintasi hutan belan-tara dan kepergok pembegal, dengan tulus ken Angrok menawarkan jasa untuk mengantarnya pulang. Tanpa terlebih dulu bertanya siapa gerangan yang tawarkan jasa baik itu, spontan Pu Palot yang ketika itu pulang dari Kebalon (kini Dusun Kebalon Desa Cemorokandang) menu-ju Turyantapada dengan membawa bahan emas seberat lima tahil pun menerima tawarannya. Setibanya di rumah barulah ditanyakan jatidiri orang yang mengantarnya pulang, dan dijawab oleh pengantar bahwa dialah ken Angrok. Atas jasa baiknya itu, maka Angrok dijadikan anak angkat. Terjemahan kutipan teks dari Pararaton perihal ini sebagai berikut.

Ada seorang kepala lingkungan daerah Turyantapada bernama mpu Palot. Ia seorang tukang emas yang baru berguru kepada tetua (buyut) di Kebalon, yang seakan sudah berbadan kepandaian membuat barang-barang emas dengan sesempurna-sempurnya ………. Mpu Palot pulang dari Kebalon membawa bahan emas seberat lima tahil, ber-henti di Desa Lulumbang , takut pulang sendirian ke Turyantapada, karena ada orang yang kabarkan melakukan perampasan paksa (anawala) di jalan bernama ken Angrok. Mpu Palot tak melihat orang lain, ia berjumpa dengan ken Angrok di tempatnya beris-tirahat. Kata ken Angrok pada mpu Palot: ‘Wahai akan pergi kemanakah tuanku ini’. Kata mpu menjawabnya: ‘saya sedang bepergian dari Kebalon buyung, akan pulang ke Turyantapada. Saya takut di jalan, memikir-pikir ada orang yang melakukan pe-rampasan barang di jalan bernama ken Angrok’. Tersenyumlah ken Angrok. Kata ken Angrok ‘Nah tuan, anaknda ini akan mengantarkan tuan pulang. Anaknda nanti yang akan melawan bila sampai terjadi perjumpaan dengan orang bernama ken Angrok itu. Laju sajalah tuan pulang ke Turyantapada, jangan kawatir’ (Mardiwarsito, 1965).

Mpu Palot merasa berhutang budi pada Angrok. Setiba di Turyantapada, Angrok dia-jari ilmu kepandaian membuat barang-barang emas. Lekas pandailah Angrok, tak kalah mahir dengan dirinya. Angrok diaku anak oleh mpu Palot. Itulah sebabnya, maka asrama (srama) Turyantapada dinamai ‘daerah Bapa’. Begitu pula, Angrok mengaku ayah kepada mpu Palot. Karena masih ada kekuarang pada diri mpu Palot dalam membuat barang-barang emas, maka Angrok disuruh untuk menyempurnakan kepadaiannya pada buyut di Kebalon. Pada fase ini, Angrok kembali menjalani alih asuh. Pengasuhnya adalah ayah angkatnya di Turyantapada, yang berprofesi perajin emas. Daripadanya Angrok mendapat ketrampilan dasar pembuatan kriya emas. Ajar trampil ini tidak berhenti pada diri mpu Palot, namun dibutuhkan pelatihan lanjut dengan menyempurnakannya kepada ahlinya, yaitu buyut di Kebalon.

Mula-mula warga Kebalon tidak menaruh kepercayaan kepada Angrok. Stigma ‘orang berperilaku hitam’ memicu resistensi terhadap dirinya. Angrok marah padanya, melontarkan sumpah serapah, bahkan menikam seseorang dan kemudian lari menuju buyut Kebalon untuk mencari perlindungan. Kendati demikian, para pertapa, guru-hyang hingga para punta tidak bisa menerima perbutannya. Mereka semua keluar, membawa pukul dari perunggu, bersama-sama mengejar dan memukuli Angrok untuk membunuhnya. Dalam keadaan terjepit, kembali hadir pertolongan dewa. Terdengar suara dari angkasa: ‘Jangan kamu bunuh orang itu wahai para pertapa. Anak itu adalah anakku. Masih jauh tugasnya di alam tengah ini’. Demi mende-ngar suara gaib itu, ditolonglah Angrok, bangun seperti sedia kala. Setelah menyempurnakan ketrampilannya Angrok meninggalkan Kebalon menuju ke lingkungan Bapa di Turyantapada. Sempurnalah kepandaian Angrok dalam membuat barang-barang dari emas.
Tidaklah gampang menghapus black label yang dilekatkan pada diri seseorang. Keha-diran Angrok di Tugaran (kini Dusun Tegaron Desa Lesanpuro) tidak mendapat sambutan.

Pararaton menuturkan ‘…… Buyut di Tugaran tidak menaruh belas kasihan’ Menaggapi sikap demikian, Angrok yang temperamental mengekspresikan kemarahannya. Diganggulah orang Tugaran oleh Angrok. Arca penjaga pintu gerbangnya (gopala) didukung, lalu diletakkan di lingkungan Bapa. Anak gadis buyut Tugaran disenggamai di ladang kacang. Anehnya, justru lantaran itu benih kacang Tugaran mengkilat, besar dan gurih. Mendapat penolakan disini, Angrok kembali ke lingkungan Bapa. Tak berapa lama datanglah utusan kerajaan Daha untuk memburu, menangkap dan melenyapkannya. Bagi kerajaan Daha, Angrok diposisikan peru-suh, yang dijadikan TO. Bergegas Angrok meninggalkan Turyantapada menuju G. Pustaka, lalu ke Limbehan. Kepala Desa Limbehan menaruh belas kasih dan perlindungan kepadanya..

Akhirnya Angrok mengadakan ziarah ke tempat keramat rabut Gunung Panitikan. Di tempat inilah dipertoleh petunjuk dewata untuk pergi ziarah ke rabut gunung Lejar pada hari Rebo Wage wuku Wariga, tempat-waktu ketika para dewa bermusyawarah untuk menentukan pemimpin yang mampu mengukuhkan Nusa Jawa. Tendengar suara tujuh nada dan dirasakan guntur, petir, gempa, taufan maupun hujan yang bukan pada musimnya. Tidak henti-hentinya pancaran sinar dan dentum gemuruh. Menjawab pertanyaan para dewa mengenai siapa yang pantas menjadi raja di Jawa, Dewa Siwa menyatakan: ‘Ketahuilah dewa-dewa semua, adalah anakku, seorang manusia yang lahir dari orang Pangkur, itulah yang bakal perkokoh Tanah Jawa’. Pada pantauan dalam persembuyiannya, Angrok mendengar dan melihat kesepakatan para dewa bahwa orang yang dimaksud adalah dirinya. Pada tempat ini pulalah Angrok men-dapatkan petunjuk untuk ‘mengaku ayah kepada seorang brahamana bernama Dang Hyang Lohgawe, yang baru datang dari Jambudwipa (India) dengan mengendarai tiga batang rumput kekatang ke Taloka (kini Desa Talok di Turen)’.

Kedatangan Lohgawe adalah untuk mencari ken Angrok, dengan ciri fisiografis: pan-jang tangannya melampaui lutut, tangan kanan bergambarkan cakra dan yang kiri bergambar sangka. Gambaran demikian telihat oleh Lohgawe ketika bersamadi untuk memuja penjelma-an (awatara) Wisnu. Dalam samadimya diperoleh petunjuk: ‘….. hentikan kamu memuja arca Wisnu, aku telah tidak ada di sini, aku telah menjelma pada orang di Jawa , hendaknya kamu mengikuti aku, nama saya ken Angrok. Carilah aku di tempat perjudian’. Tak lama kemudian Angrok didapati pada arena judi di Taloka, dengan ciri khusus sebagaimana itu. Dipeluklah Angrok oleh Lohgawe, seraya berkata: ‘… kamu saya aku anak buyung, kutemani pada waktu kesusahan dan kuasuh kemana saja kamu pergi (…. isunaku anak sira kaki, isun rowang duk anastapa, isun wong saparanira)’.

Alih asuh yang kelak mengubah haluan hidup Angrok terjadi ketika berjumpa dengan Lohgawe. Rokhaniawan Hindu sekte Waisnawa asal Jambudwipa ini bukan hanya menjadi ayah angkatnya, namun sekaligus adalah pengasuh kemana saja Angrok pergi; guru dalam bidang kerokhanian, politik dan pemerintahan; serta mediator yang mampu menjembatani ken Angrok dan Tunggul Ametung. Sebagai rokhawinawan asing yang dihormati, Lohgawe pu-nya wibawa dan pengaruh untuk dapat memagangkan Angrok dalam birokrasi pemerintahan di Tumapel. Padahal sebelumnya, Angrok adalah ‘biang kerok kerusuhan’, yang menjadi TO kerajaan Kadiri. Pararaton menuturkan peristiwa ini sebagai berikut.

Ken Angrok pergi dari Taloka menuju ke Tumapel. Ikut pula brahama itu. Setelah ia datang di Tumapel, tibalah saat yang sangat tepat, ia sangat ingin menghamba kepada akuwu, kepala daerah di Tumapel, yang bernama Tunggul Ametung. Dijumpainya dia itu, sedang dihadap oleh hamba-hambanya. Kata Tunggul Ametung: ‘Selamatlah tuan brahmana, dimana tinggal asal tuan, saya baru kali ini melihat tuan’. Menjawab dang hyang Lohgawe: ‘Tuan sang akuwu, saya baru saja datang dari seberang, saya ini sa-ngat ingin menghamba kepada sang akuwu dan anak pungut saya ini juga ingin meng-hamba kepada sang akuwu’. Menjawablah Tunggul Ametung: ‘Nah, senanglah saya kalau tuan dang hyang dapat bertempat tinggal dengan tentram pada anaknda ini …….. (Mardiwarsito, 1965:56).

Angrok berkesempatan pelajari bidang khusus, yang belum diperoleh pada tualang terdahulu. Bekal ini kelak berguna ketika melakukan suksesi pemerintahan dan membebaskan wilayah Jenggala di timur G. Kawi dari pendudukan Panjalu/ Kadiri – yang menurut prasasti Hantang (1135 M) sejak paro pertama abad XII M. menjadi daerah pendudukan Pangjalu. Sasaran bidik pertama adalah akuwu Tunggul Ametung, pejabat Pangjalu di daerah pendudukan.

Kendati pada kali pertama posisi Angrok hanya sebagai prajurit bhayangkari, namun kesempatan ini benar-benar dimanfaatkannya dengan mencermati celah peluang untuk meniti jenjang politik. Diam-diam Angrok menghimpun kekuatan dari berbagai latar, khususnya de-ngan yang memiliki jalin hubungan dengannya dalam petualangannya terdahulu , antara lain para penjudi, perampok, pencuri, perajin, rokhaniawan serta oposan di kantong-kantong per-lawanan Jenggala. Secara internal. Angrok menanamkan pengaruh pada punggawa Tumapel, yang berpotensi untuk diajakserta menumbangkan akuwu Tunggulametung. Biaya politiknya memanglah mahal. Sejumlah nyawa melayang, seperti pandai senjata handal mpu Gandring, pejabat birokrasi Kbo Hijo, akuwu Tunggulametung, bahkan akhirnya dirinya sendiri.

D. Introspeksi Historis Pengasuhan Ken Angrok

Secara harafiah kata ‘asuh’ berarti: menjaga (merawat dan mendidik) anak kecil, atau membimbing (membantu, melatih, dsb) agar dapat berdiri sendiri. Kata jadian ‘pengasuhan’ menujuk kepada proses, cara, perbuatan mengasuh (KBBI, 2002:73). Di dalam bahasa Jawa Kuna, kata ‘wong’ juga diartikan pembantu, yang bersinonim dengan among, winong ataupun amwang (Zoetmulder, 1995:1458). Pengasuhan anak adalah suatu proses, cara atau perbuatan mengasuh anak. Dalam arti luas, pengasuhan tidak hanya terbatas kepada anak kecil, namun bisa juga kepada remaja, bahkan dewasa. Begitu pula, pengasuh tidak senantiasa orang tua kandung, namun bisa siapa saja yang secara intens bertindak nyata mengasuh seseorang atau sekelompok orang. Dalam hal tertentu, orang tua kandung bisa kurang intens, bahkan abai, mengasuh anak. Pengasuhan dialihkan pada pihak lain, sehingga muncul sebutan ‘alih asuh’, seperti pengasuhan oleh anggota keluarga batih, pembatu rumahtangga (pawongan), lembaga pengasuhan dsb. Ketika usia anak makin bertambah, sebagian pengasuhan dilaksanakan oleh lembaga pendidikan, baik pendidikan formal, non-formal ataupun informal.

Dalam sosio-budaya Jawa ada berbagai pihak yang bertindak sebagai pengasuh, meski ia bukan orang tua kandung, seperti juru dyah, emban, pawongan, inang, induk semang, punokawan, kadeyan, dsb. Ada beragam bentuk dan cara pengasuhan. Selain pendidikan ber-asrama (wanasrama, mandala kadewagurwan, karsyan atau mondok), terdapat juga model pendidikan/ pembelajaran among (momong), magang (nyantrik), mengabdi (ngenger, nyuwi-to), menjalani-merasakan-memaknai (laku), dsb. Pendikan dalam arti luas meliputi asah, asih dan asuh . Masa belajar tidak terbatas pada usia muda, namun setidaknya dilakukan dalam dua diantara empat tahap kehidupan (catursrama), yaitu srama bramacarin dan wanapras-ta . Dengan perkataan lain, konsepsi ‘long life education’ sesunggunya telah berlaku dalam pendidikan tradisional di Jawa sejak lama, dan dalam sejumlah hal berlanjut hingga kini.

Dalam bentuk yang lebih ekstrim negatif, kadang orang tua melepaskan pengasuhan untuk anaknya. Pada kasus pembuangan anak, orang tua ‘putus pengasuhan’ terhadap anak kandungnya sendiri. Ken Angrok adalah salah seorang yang menjadi ‘korban kekejian’ orang tuanya. Begitu lahir, ia dibuang oleh ibu kandungnya (ken Ndok) ke pabajangan. Pengasuhan terhadap anak terbuang tergantung pada siapa yang menemukannya dalam kondisi hidup. Tak jarang ia harus menjalani hidup sebagai anak jalanan. Hidup sebagai anak jalanan tentu bukan pilihan, melainkan kondisi keterpaksaan. Peristiwa pembuangan bayi, yang pada dasawarsa terakhir marak terjadi, tidak terkecuali didapati contoh kasusnya pada diri Angrok. Beberapa kali Angrok mengalami alih asuh, bahkan menggelandang sebagai anak jalanan. Ken Angrok menperoleh materi asuh, cara pengasuhan, lingkungan pengasuhan dan maksud asuhan yang bukan saja beraneka namun terkadang bertolak belakang. Pada beberapa fase terjadi alih asuh yang salah salah asuh pada dirinya. Dampak psikologisnya, Angrok tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dengan kepribadian terbelah . Rincian ringkas alih asuh itu sebagai beriku.

Pertama, alih asuh dari ibu kandung (ken Endok) yang tinggal di Pangkur ke keluarga pencuri Lembong yang tinggal di tetangga desanya di Camara. Angrok dijadikan anak angkat oleh keluaga Lembong s.d. remaja kecil (seusia anak gembala). Walau masih remaja kecil Angrok telah dilibatkan dalam tindak pencurian, dan mulai terlibat dalam perjudian yang menguras harta benda ibu kandung maupun orang tua angkatnya. Untuk beberapa lama, ken Angrok yang meninggalkan rumah (broken home) keluarga Lembong dan menjalani hidup sebagai anak jalanan, hingga akhirnya bertemu dengan Bango Samparan pada arena judi di Karuman.

Kedua, alih asuh dari pencuri Lembong ke penjudi Bango Samparan di Karuman, tak jauh dari rumah tinggal ken Endok maupun Bango Samparan. Angrok dijadikan anak angkat oleh Bango Samparan bersama isti tuanya (Genuk Buntu). Terjadi disharmoni antara Angrok dengan anak-anak kandung Bango Samparan. Dalam usia remaja kecil, Angrok terbiasa dibawa Bango Samparan ke arena judi. Angrok meninggalkan keluarga Bango Samparan, dan kembali hidup di jalanan hing-ga akhirnya bertemu tuan Tita (putera tuan Sahaja, kepala desa Segenggeng). Sempat tinggal di kediaman tuan Sahaja sampai tiba masa pembelajaran pada Guru Janggan di Sagenggeng.

Ketiga, alih asuh dan sekaligus masa pembelajaran (srama Brahmacari) kepada guru Janggan. Bersama tuan Tita, Angrok belajar baca-tulis, susastra, pengitungan waktu dan kedisiplinan. Berlangsung dari remaja kecil hingga dewasa awal.

Keempat, pembelajaran bersama teman sepergaulan. Mula-mula Angrok dan tuan Tita menjadi gembala ternak, kemudian alih profesi yang menjurus pada tindak kejahatan. Angrok terlibat petualangan panjang sebagai bromocorah, dan melakukan pembegal-an, pencurian, perkosaan dan perjudian. Angrok menjadi TO untuk ditangkap bahkan dilenyapkan lantaran kerusuhan yang dilakukan, sehingga terpaksa berpindah-pindah tempat untuk selamatkan diri.

Kelima, dijadikan anak angkat mpu Palot di Turyantapada. Memperoleh pelatihan ke-trampilan dasar pembuatan barang-barang emas, lantas menyempurnakan keahliannya pada buyut di Kebalon.

Keenam, menjadi anak angkat dan sekaligus anak asuh dari brahmana Lohgawe. Da-rinya Angrok mendapat pendidikan rokhani, politik dan pemerintahan. Bagi Angrok, Lohgawe bukan hanya ayah angkat, namun sekaligus teman di dalam duka, pengasuh, konsultan dan mediator antara dirinya dengan Tunggul Ametung.

Ketujuh, pembelajaran di lingkungan birokrasi pemerintahan Tumapel. Angrok meng-awali karir sebagai prajurit bhayangkari. Selain bidang kemiliteran, ada pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman yang didapatkan dalam pembelajaran ini, yang belum di-perolehnya pada tualangnya terdahulu, utamanya bidang pemerintahan dan politik.

Ibarat kertas putih – sebagaimana digagas John Locke dalam teorinya ‘Tabularasa’ , pengalaman yang diperoleh Angrok dari masing-masing fase pengasuhan diatas dan persepsi alat inderanya terhadap dunia di luar dirinya berpengaruh terhadap kepribadian, perilaku sosial, etika sosial dan kecerdasannya. Setidaknya Angrok mengalami tujuh kali alih asuh, sejak balita hing-ga penobatannya menjadi raja Tumapel. Tiap etape pengasuhan melibatkan pengasuh, materi asuh, cara pengasuhan maupun produk asuhan yang berlainan. Oleh sebab itu dapat difahami bila kepribadian Angrok – sebagai buah dari proses pendidikan dalam serangkaian alih asuh itu – menjadi tidak tunggal warna (monochrome) namun ragam warna (poly-chrome). Potret kepribadian demikian adalah gambaran yang humanistik untuk seorang manusia, sehingga kita tak bisa mengatakan Angrok sebagai orang yang ‘hitam-tam’, namun bukan pula ‘putih-tih’.Hitam-putih mewarnai kepribadiannya sebagai manusia biasa, yang memiliki kelebihan dan kekuarangan, kebaikan dan keburukan.

Pararaton tak menggambarkan Angrok sebagai seseorang yang haus kekuasaan, yang menghalalkan apappun cara untuk mencapai cita serta tanpa tahu balas budi. Terhadap orang-orang yang ‘dijadikan korban’ seperti Pu Gandring dan Kbo Hijo maupun yang berjasa dalam perjalanan hidupnya seperti Bango Samparan dan Lohgawe, Angrok mengangkat dirinya atau sanak keturunannya sebagai punggawa di kedaton Tumapel serta anugerahkan hak istimewa dengan mengubah satus desanya dari desa biasa menjadi sima (perdikan) dan disertai dengan pembangunan tempat peribadatan. Ada kebijakan dan kebajikan di dalam dirinya. Pararaton menyatakan bahwa Angrok berjanji untuk kelak membalas budi ketika mendapat sukses, dan benar-benar memenuhi janjinya setelah sukses itu didapat, seperti pada kutipan teks berikut.

● …. katanya (Angrok): ‘Aku mengharap, semoga aku menjadi orang, aku akan mem-balas budi kepada Guru [Janggan] ….’.
● …….. Kata ken Angrok: ‘Kalau kelak saya menjadi orang, saya akan memberi perak kepada yang dipertuan di daerah Bapa ini’.
● …. ia (dang hyang Lohgawe) diangkat menjadi pendeta istana.

Adapun mereka yang menaruh belas kasihan kepada ken Angrok, dahulu sewaktu ia sedang menderita, se-mua dipanggil, diberi perlindungan serta diberi balasan atas budi jasanya. Misalnya, Bango Samparan, tidak perlu dikatakan tentang kepala desa lingkungan Turyantapada dan anak-anak pandai besi di Lululmbang yang bernama mpu Gandring. Seratus pan-dai besi di Lulumbang itu diberi hak istimewa dan dibebaskan dari kewajiban dalam lingkungan batas jejak bajak beliung cangkulnya. Adapun anak Kbo Hijo, disamakan haknya dengan anak mpu Gandring. Anak laki-laki dang hyang Lohgawe bernama Wangbang Sadang, yang terlahir dari ibu pemeluk agama Wisnu, dinikahkan dengan anak bapa Bango Samparan yang bernama Cucu Puranti. Demikianlah inti keutamaan sang Amurwabhumi.

E. P e n u t u p (Prospeksi Historis)

Kisah Angrok dalam Pararaton merupakan referensi masa lalu tentang ‘cerita sukses seorang yang tumbuh besar di jalan (baca ‘anak jalanan’)’ . Walau perjalan hidupnya sering menyerempet bahaya, bahkan terlibat sejumlah tindak kejahatan – sebagai konsekuensi logis kehidupan jalanan, namun berkat ketekunan dalam belajar, keuletan dalam berusaha, kecer-dikan dalam memecahkan persoalan, kecermatan menangkap peluang maupun kepiawiannya di dalam menjalin dan memelihara hubungan, akhirnya Angrok mampu pemposisikan dirinya sebagai mula dinasti (vamsakreta) dari Rajasavamsa di kerajaan Tumapel, dan sekaligus seorang integrator bhumi Jawa dengan me-reintegrasi-kan eks wilayah kerajaan Panjalu-Jenggala (Cahyono, 2006: 4-10). Sudah barang tentu, uluran tangan Illahi (Dewata) adalah juga faktor penentu. Dalam beberapa kali kejadian, tatkala Angrok dalam kondisi tertepet dan nyaris ke-lihalangan daya, seperti pada pengepungan di Pamalanten dan pengeroyokan di Kebalon, lagi lagi uluran ‘tangan Dewata’ menjadi penyelamatnya. Angrok disosokkan secara kontroversial dalam Pararaton. Kendati ia putera Bhahama maupun Siwa, dan sekaligus awatara Wisnu, namun perjalanan hidupnya tidaklah mulus, dibutuhkan perjuangan hidup disertai keuletan, ketekunan, kecermatan, semangat bekerja keras dan keketahanan diri.

Tentu tidak semua anak jalanan seberuntung Angrok. Proses pendidikan anak jalanan [sebagaimana dilakoni Angrok], acapkali berlangsung tanpa rencana. Tergantung pada siapa dia berjumpa orang yang berkenan menjadikannya anak angkat, setidaknya bersedia menjadi pengasuh, pendidik informal, teman sepembelajaran, dsb. Sebagai subyek belajar, ia dituntut untuk lebih aktif dan selektif dalam: (a) mendapatkan sendiri bahan ajar, bahkan pengajarnya; (b) menyerap pengetahuan, ketrampilan, kiat dan nilai-nilai. Jadi, bukan sekedar mengharap kucuran dari pihak lain, melainkan aktif mencari dan menyongsong kesempatan belajar bagi dirinya. Sebagai pendidik, semestinya guru tak hanya berkutat di lingkungan pendidikan for-mal tempatnya bekerja, namun juga mengkontribusikan fungsi dirinya bagi orang-orang yang kurang beruntung sebagaimana ‘anak jalanan’ itu, untuk dapat memperoleh pendidikan layak.

Semoga tulisan ini membuah kegunaan.
Viva Historia.

Sengkaling, 29 September 2016

DAFTAR PUSTAKA

Berg, C.C, 1951, ‘De Evolutie der Javaanse Geschiedscrijving’, MKWAL, XIV (2), hal. 5-26.

Brandes, J.L.A, 1896, ‘Pararaton of het boek der koningen van Tumapel en van Majapahit uitgegeven en toegelicht’, dalam VBG XLIX, 1896

Cahyono, M. Dwi, 2002, ‘Ken Angrok Pemersatu Bhumi Jawa’, Modul Sekolah Demokrasi. Malang: Averoes Community.

Cahyono, M. Dwi, 2013, Wanwacarita, Kesejarahan Desa-desa Kuno di Kota Malang. Malang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kota Malang.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 2002, Pemimpin Redaksi: Hasan Almwi. Jakarta: Balai Pustaka.

Sedyawati, Edi, 1985, ‘Pengaruh India pada Kesenian Jawa: Suatu Tinjauan Proses Akultura si’, Pengaruh India, Islam dan Barat dalam Proses Pembentukan Kebudayaan Jawa. Editor: Soedarsono. Javanologi, Dirjen Kebudayaan Depdikbud. Hal. 1-12.

Sejarah Nasional Indonesia (SNI), Jilid II, 2010, Ketua Tim Redaksi: Bambang Soebadio. Jakarta: Balai Pustaka

Subadio, Haryati, 1982/1983, ‘Seniman dan Seni di Indonesia’, Analisis Kebudayaan Th. II No. 2, 1982/1983. Hal. 5-9.
Mardiwarsito, 1965, Pararaton (Teks dan Terdjemahan). Jogdjakarta: Prapantja.

Mulyana, Slamet, 2006, Tafsir Serah Negara Kretagama. Yogyakarta: LKiS.

Teeuw, A, 1988, Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya dan Girimukti Pusaka.

Zoetmulder, P.J., 1995, Kamus Jawa Kuna – Indonesia. Penterjemah: Darusuprapto dan Sumarti Suprayitna. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*