HOTEL DAN RESTORAN YANG HERITAGE

 

Seminar ‘Hotel & Restoran Heritage’ di Malang

HOTEL DAN RESTORAN YANG HERITAGE,
Menghotel dan Restorankan Bangunan Heritage,
Menuansakan Heritage Hotel dan Restoran

Oleh ; M. Dwi Cahyono

Geef Mij Maar Nasi Goreng

“Geef mij maar nasi goreng met een gebakken e
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij
Geef mij maar nasi goreng met een gebakken e
Wat sambal en wat kroepoek en een goed glas bier erbij

Geen lontong, sate babi, en niets smaakt hier pedis
Geen trassi, sroendeng, bandeng geen een tahoe petis
Kwee lapis, onde-onde, geen ketella of ba-pao
Geen ketan, geen goela-djawa, daarom ja, ik zeg nou”
(Louisa Johanna Theodora “Wieteke” van Dort – aktris, kabaretis, dan penyanyi dari Belanda, digubah tahun 1979).

A. Kategorisasi Ke-heritage-an Hotel dan Restoran

Apabila kata ’heritage’ yang diartikan sebagai ‘warisan budaya (pusaka)’ dikenakan pada hotel dan restoran, setidaknya ada tiga ketegori sifat kewarisan budaya (heritage) dari keduanya :

(1) hotel dan restoran yang heritage, maksudnya bangunan tertentu yang sjak 50 tahun lalu atau sebelumnya dibangun dalam bentuk sedemikian rupa untuk disesuaikan dengan fungsinya sebagai hotel dan restoran,

(2) meng-hotel dan restoran-kan bangunan heritage (BCB), maksudnya adalah menjadikan bangunan heritage yang konon bukan merupakan hotel dan restoran untuk sekarang dimanfaatkan sebagai hotel dan restoran, serta

(3) menuansakan heritage hotel dan restoran, yang dimaksud adalah bangunan tertentu yang sebenarnya bukan bangunan heritage namun dikayakan dengan pernak-pernik yang bernuansa heritage untuk memberi ‘nilai tambah’ terhadap fungsinya sebagai hotel dan restoran.

Pembedaan kedalam tiga ketegori itu perlu diketengahkan terlebih dulu, sebab masing-masing kategori tersebut memiliki riwayat yang berlainan dalam hal usia bangunan, pemberian bentuk bangunan, pemfungsian bangunan, dan karenanya dibutuhkan perlakuan yang berbeda dalam hal pelestarian bentuk dan fungsinya. Berikut ini, masing-masing kategori terpapar diatas diberi paparan ringkas.

 

1. Hotel dan Restoran yang Heritage

Pada kategori pertama ‘hotel dan restoran yang heritage’, sejak sebermula (50 tahun lalu atau sebelumnya) bangunan bersangktan dibentuk dan difungsikan seara khusus sebagai hotel dan restoran. Dalam hal usia bangunan, keunikan, dan kelangkaan bentuknya, ia merupakan bangunan heritage, sehingga dapat dimasukkan dalam ‘Bangunan Cagar Budaya (BCB)’. Untuk mendukung fungsi khsusnya sebagai hotel dan restoran, secara arsitektural diberi bentuk tertentu sesuai dengan fungsi yang diembannya. Bangunan hotel, motel, losmen, atau sejenisnya membutuhkan sejumlah kamar hunian bagi para penginap, beserta fasiltas pendungkung bagi kenyamanan dan kebutuhan penginap — sesuai dengan spesifikasi penginap dan tingkat kemahalannya, seperti loby hotel, ruang makan, dapur, ruang pertemuan, kantor depan, bahkan bisa ditambah dengan ruang hiburan, kolam renang dan tempat bermain anak. Demikian pula, bangunan heritage (BCB) yang sejak semula berfungsi sebagai restoran membuatuhkan ruangan besar (hall) yang diperlengkapi dengan banyak meja-kursi dan kelengkapan lain yang sesuai untuk kepentingan menyajian dan penikmatan menu restoran. Oleh sebab itu, bentuk bangunan hotel dan restoran berbeda bila dibanding dengan rumah tinggal, perkantoran, sekolah, tempat ibadah, dsb. Lokasinya pun cenderung memilih tempat yang berada di pinggir jalan, mempunyai lingkungan fisis-alamiah sekitar yang elok-nyaman, dan relatif mudah dijangkau.

Dalam wilayah Malang raya (Kota dan Kabupaten Malang serta Kota Batu) terdapat tidak sedikit bangunan heritage yang konon dibentuk dan difungsikan sebagai hotel, Misalnya, ‘Pelangi’ adalah nama sekarang dari sebuah hotel yang terletak di seberang selatan Alun-alun Kotak Kota Malang, yang konon (terhitung sejak tahun 1915) bernama ‘Palace Hotel’, memiliki jumlah kamar 125 buah. Hotel besar ini dibangun pada tahun 1890-an dengan nama awal ‘Jansen Hotel’. Menilik fungsinya yang hingga sekarang sebagai hotel, yang pada sebagian besar komponen arsitekturnya mempertahankan bentuk asalnya, maka cukup alasan untuk secara tegas memberi nama ‘Pelangi Heritage Hotel’. Bangunan heritage lain yang sejak tahun 1930-an berfungsi sebagai hotel adalah ‘Riche Hotel’. Hotel yang berada di sudut barat-laut Alun-alun Kotak Kota Malang ini hingga kini masih difungsikan sebagai hotel. Meskipun telah direnovasi, namun sebagian dari bangunan induk (main building) dan hampir seluruh bangunan sayap kanan-kiri serta belakang masih pertahankan bentuk asalnya.

Selain keduanya, konon (pada tahun 1920-an) di Gemeente (Kotapraja) Malang terdapat juga sejumlah hotel, antara lain adalah N.V. Hotel-Restourant MABES (kemudian berganti nama “YMCA’) di perempatan Kayoetanganstraat, yang dibangun tahun 1930 oleh biro arsitek Karel Bosh sebagai satu-satunya hotel beraringan internasional di Malang ketika itu. Terdapat pula Hotel Apollo di Jl. Klojenlorstraat (Jl. Patimura’), Astor di Bromostraat, Harmonie di Verschuenrenlaan (Jl. Rampal Dalam), Juliana dan Mansion di Klentengstraat (Jl. Laksamana Martadinata), Van Smaalenn di Verlengde Sophiasstraat (Jl. Dr. Wahidin), Brantas di Jl. Regenstraat (Jl. H. Agus Salim), dan Van den Muysensergh di Van Imhotfstraat (Jl. Merdeka). Disamping hotel, ada pula semacam ‘guest house’ yang dahulu diberi unsur nama dalam Bahasa Belanda ‘pension’, seperti Pension Villa Sans Souci di Julianastraat (Jl. Dr. Cipto). Jenis lainnya adalah rumah hotel (motel) atau semacam ‘apartment’, yaitu Hotel en Restourant Splendid di Metsuickertraat (Jl. Tumapel No. 1, sehingga disebut dengan ‘Wisma Tumapel’), yang dibangun tahun 1928 dan baru rampung tahun 1932. Pada jamannya tergolong sebagai hotel bergaya Indies yang artistik, mewah, bahkan modern. Berada di area strategis lantaran dekat dengan Balaikota Malang, sehingga banyak diinapi tamu pemerintahan. Selain itu memiliki view yang elok, karena bagian belakangnya menghadap bantaran Kali Brantas yang membelah tengah Kota Malang. Pada tahun 1944 (semasa Pendudukan Jepang) beralih fungsi jadi kantor pemerintahan, dan selanjutnya pada tahun 1954 dimanfaatkan sebagai wisma dosen, kantor dan tempat perkuliahan oleh PTPG Universitas Airlangga di Malang (tahun 1954 menjadi “IKIP Malang”, sehingga semenjak tahun 1968 disebut dengan “Wisma IKIP Malang”).

Dalam wilayah Kaboepaten Malang terdapat pula hotel atau semacam tempat penginapan yang tersebar di beberapa tempat. Ada dua buah di Nongkojajar, yaitu Grand Hotel Nongkodjadjar dan N.V. Bungalow-Bedrijf ‘Andanasari’. Lainnya berada antara daerah Batoe-Poejon, yaitu Huise Justiana, Parzicht, Boerderij Pension ‘Soember Oerip’, Badhotel Songgoriti, Terminus, dan dapat ditambahkan Miranda. Sedangkan di daerah Pakis terdapat Badhotel Wendit, Bar en Restaurant. Dalam kondisinya sekarang, tidak seluruh bangunan hotel atau sejenisnya itu masih berada, atau kalaupun masih ada tak seluruhnya berfungsi sebagai hotel atau sejenisnya, dan pada sejumlah hal mengalami perubahan dari bentuk bangunan asalnya.

Pada awal dua atau tiga dasawarsa awal di abad XX terdapat dua macam bangunan yang difungsikan sebagai restoran atau sejenisnya, yaitu: (a) bangunan yang secara khusus dibentuk dan difungsikan sebagai restoran, dan (b) bangunan hotel yang diperlengkapi dengan restaurant. Pada kategori kedua, restoran hanya menjadi sebagian dan salah satu kelengkapan bagi bangunan hotel. Hal demikian tergambar pada N.V. Hotel-Restourant MABES, Hotel en Restaurant Splendid, dan Badhotel Wendit, Bar en Restaurant. Selain itu, restoran acap kedapatan pada kompleks bangunan societiet, yang pada Gemeente Malang dapat dijumpai pada Societiet Harmonie dan Concordia. Sedangkan bangunan yang secara khusus diperuntukkan bagi usaha kuliner (restoran) yang kini masih ada diantaranya adalah “Toko (baca ‘restoran’) Oen” di Kajoetanganstraat, milik pengusaha Tiong Hoa suami-istri Liem Gien Nio (Oma Oen) dan Oen Tjoen Hok (Opa Oen). Pada awalnya ketika didirikan di Yogyakarta sekitar tahun 1910 namanya “Oen Cookies Store”, dan kemudian lebih dikenal dengan ‘Toko Oen’saja. Dalam perkembangannya dibuka cabang di Jakarta (1934), lalu di Malang dan Semarang (1936). Restoran ini mulanya hanya menjual menu spesial, yaitu kue dan es krim, dan kemudian menambahinya dengan masakan Indonesia, Belanda, dan Cina. Rumah makan lainnya. Semenjak dulu Toko Oen sudah dikenal dengan varian rasa ice cream-nya, seperti tutti fruity cassata, sprakling delight, morcus, dsb.

Rumah makan heritage lainnya yang masih ada hingga kini adalah ‘Depot Hok Lay’ di Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 10, dengan menu spesial cwie mie. Rumah makan milik Tio Hoo Poo ini juga menyajikan nasi bakmoy, lumpia Semarang, siomay dan nasi goreng, dengan minuman khas ‘fosco’ (semacam susu coklat dikemas dalam botol cola), limun beruap, dan temulawak. Konon Depot Hok Lay adalah langganan keluarga Bung Tomo ketika berkunjung ke Malang. Depot mie tertua lainnya adalah “Depot Mie Gajah Mada” di kawasan Pecinan Kecil, yang menyajikam cwi mie khas. berupa mie kurus warna kuning dengan rasa yang kenyal, enak, dan rasa yang original. Pada masa lebih kemudian (1960-an) hadir pula ‘Depot Bakmie Gang Jangkrik’ di Jl. Kiai Tamin (Wetan Pasar), kemudian membuka tempat usaha di Jl Kawi Atas No 26 dan di Jl. Soekarno Hatta Kav 4B. Menu yang ditawarkannya adalah nasi campur, sio bak, sio kee, chasiew (jasio), cwi mie pangsit bakso, babi manis, baikut, sampai bubur udang, ikan, ayam dan jamur.

Tempat makanan tradisional lain yang juga terbilang tua di Gemeente Malang adalah Depot Rawon. Dua diantaranya yang terbilang tua dan masih berjualan hingga kini adalah “Depot Rawon Nguling’, yang telah ada sejak tahun 1942 (cabang perdana di Tongas, Kabupaten Probolinggo). Kekhasan Rawon Nguling adalah beruah kental, kaya rempah, daging sapi empuk dengan bumbu meresap hingga ke dalam. Bersamaan waktu dengan itu dibuka ‘Warung Rawon Brintik’. Selain rawon, masakan soto (konon disebut dengan ‘sauto’) juga merupakan kuliner tradional yang telah lama diusahakan. Misalnya, di pojok perempatan stan Pasar Besar Kota Malang terdapat ‘Warung Soto Daging Rahayu’, yang telah memulai usahanya sejak tahun 1928 hingga sekarang. Selain itu terdapat “Warung Bakso Geprak dan Soto Geprak Mbah Jo’, yang memulai usahanya tahun 1935 hingga kini di Jl. Letjen S. Parman No. 77-79. Dua dasawarsa setelah itu (tahum 1955) menyusul suami-istri asal Pulau Madura, yaitu Achmad Mustadjab dan Maemunah, membuka ‘Depot Soto Ayam Lombok.” di sepanjang Jl. Lombok – sehingga mengambil unsur nama ‘Lombok”. Warung makanan tradisonal yang juga berusia tua adalah “Warung Nasi Buk Bik Matirah” di Jl. Trunojoyo 10 E, depan Stasiun Kota Baru – lokasi awalnya di Pecinan ‘Gang Semarang’, berdiri sejak 1949. Sebelum menetap di Pecinan, sejak tahun 1947 berjualan secara berkeliling (maindering). Warung makanan tradisional yang juga telah mengheritage adalah “Warung Tahu Lontong Lonceng’, yang memulai usaha sejak tahun 1935, berlokasi di Jl. Laksamana Martadinata No. 66 Kota Malang

Terdapat juga warung jajanan dan minuman tradisional di Kota Malang yang telah amat lama memulai usahanya dan masih bertahan hingga kini. Salah satu diantaranya adalah kue putu, yang menamai usahanya dengan “Putu Lanang Celaket” pada Jl. Jaksa Agung Suprato di ‘Gang Buntu’. Usaha kuliner kategori ‘jajan pasar’ ini telah dirintis oleh ibu Jalal, yakni warga setempat (Kampung Celaket), semenjak tahun 1935 di depan Pastoran, dengan menjual putu, cenil, lopis, klepon, dsb. Lebih kemudian (tahun 1960-an) hadir warung jajanan dengan menu rujak manis dan es degan (kelapa muda) di Jalan Semeru No. 54 dan ‘Depoy Semeru” di J;. Semru Mo. 27 dengan menu andalah menu heci. Cakue. Kacang kuah, roti goreng, dan kompiang.

Dalam wilayah Kabupaten Malang terdapat restoran heritage, yaitu ‘Depot HTS (akronim dari ‘Han Thwan Sing’, sang pemilik usaha)”, yang telah berdiri sejak tahun 1927 dan masih eksis hingga kini. Pada mulanya hanya berupa kedai kecil yang menjual aneka kue kategori ‘jajan pasar’ di Pasar Lawang. Terhitung sejak tahun 1987 menempati bangunan permanen di Jl. Dr. Wahidin No. 123 Lawang. Jajanan kesohor yang dijajakan adalah onde-onde khas Lawang, yang berstruktur bulat cantik, kenyal (tak keras), bertabur wijen, dengan gorengan sempurna berwarna kekuningan. Ada banyak varian onde-one di HTS. Selain berisi kacang hijau, ada pila yang berisi kelapa parut dan kacang merah. Bahkan terdapat onde-onde khusus dari katan hitam. Ada pula aneka jajanan pasar yang berkualitas istimewa. Rumah makan lain di Kota Malang yang berawal di areal pasar, yaitu “Warung Lama Haji Ridwan”, yang memulai usaha sejak 1925 dengan berjualan keliling di sekitar pasar. Sekarang berada di Jl. KH. Zaenal Arifin No. 45B Kota Malang (Pasar Besar). Menu andalannya adalah sate komoh, empal, paru, dan babad bacem-goreng.

2. Meng-Hotel dan Restoran-kan Bangunan Heritage

Pada kategori kedua ‘meng-hotel atau restoran-kan bangunan heritage’, yang heritage itu adalah bangunannya, yakni bangunan tertentu yang telah dibangunan pada 50 tahun lampau atau sebelumnya, dan mempunyai bentuk unik, langka atau mewakili masa gaya tertentu. Bangunan itu oleh karenanya masuk dalam kategori BCB. Adapun fungsinya sebagai hotel atau restoran ‘tidak heritage’, sebab tidak sebermula difungsikan khusus sebagai hotel atau restoran. Fungsinya yang demikian adalah pemberian fungsi baru terhadap bangunan heritage (BCB). Misalnya, eks rumah tinggal atau villa, perkantoran, garasi, gudang, dsb. yang kini dialihfungsikan menjadi hotel, home stay, losmen, restoran, café resto, beautique and restoran, atau sejenisnya. Dalam alihfunginya tersebut, sudah barang tentu dalam sejumlah hal dilakukan perubahan terhadap sebagian bentuk bangunan, warna, tata letak, pertamanan, atau boleh jadi diberi tambahan bangunan baru. Hal ini sengaja dilakukan untuk menyesuikan dengan fungsi barunya sebagai hotel atau restoran, sebab tatkala dibangunan tidak berfungsi demikian. Pilihan pada bangunan heritage (BCB) sebagai hotel atau restoran antara lain mempertimbangkan ‘daya tarik khusus’ dari arsitektur dan lingkungan sekitarnya bagi calon penggunanya.

Contoh bangunan heritage di Kota Malang yang kini mengalami alihfungsi sebagai hotel atau sejenisnya antara lain ‘Hotel Grahacakra’ di kawasan perumahan elite Bergenbuurt. Konon dibangun oleh arsitek Belanda Ir. Muller tahun 1930-an, yang awalnya digunakan oleh the Society of Freemasons. Pada tahun 1964 alifungsi menjadi bangunan siar Radio Republik Indonesia (RRI) Malang. Kemudian tahun 1993-1994 direnovasi — dengan mempertahankan nilai sejarah, bentuk aslinya yang bergaya arsitektur Indis untuk dialihfungsikan menjadi hotel. Hal serupa terjadi pada “Hotel Trio Indah 2’ di Celaketstraat (kini Jl. Jaksa Agung Suprapto). Pada Masa Hindia-Belanda pernah difungsikan sebagai ‘Malang Museum” – mengalami disfungsi ketika berlangsung Perang Mempertahakan Kemerdekaan RI (1945-1948). Selain itu, tak sedikit rumah tinggal heritage yang kini dijadikan sebagai guest house atau home stay, antara lain Kertanegara Premium Guest House Jl. Semeru No. 59, D-Pavilion Guest House & Resto Jl. Buring No. 37, Merbabu Guest House Jl. Merbabu 26, Enny’s Guest House Jl. Taman Wilis 1A-1B, Bandoeng Guest House Jl. Bandung 20, Guest House Ijen 52 Heritage Jl. Raya Ijen 52, Srikandi Guest House Jl. Panderman 10, Fendi’s Guest House Jl. Kawi No. 48, New Kawi Guest House Jl. Kawi Atas No. 40 Malang, Graha Asri Guest House Jl. Welirang 6, Loesje Guest House Jl. Tangkuban Perahu 21, Hasanah Guest House Jl. Buring No. 9, Amalia Guest House Jl. Merbabu 18 Malang, dsb.

Pada wilayah Kabupaten Malang terdapat contoh yang serupa, yaitu ‘Hotel Niagara’, yang berada di ‘gerbang Malang Raya’, yakni di Lawang. Bangunan bertingkat lima ini tidak sebermula difungsikan sebagai hotel. Ketika dibangun pada tahun 1918 oleh arsitek Fritz Joseph Pinedo yang berdarah Brazil dengan gaya arsitektur arkhais campuran Brazil. Belanda, Tiong Hoa dan Victoria bangunan ini difungsikan sebagai villa pribadi milik penguasa Liem Sian Joe. Pemfungsi bangunan yang artistik, eksotik, menawan, sekaligus bangunan modern tertinggi (35 meter) di Asia Tenggara pada zamannya itu menjadi hotel baru terjadi tahun 1960-an, yakni setelah alih kepemilikan ke Ong Kie Tjay, pengusaha Tionghoa di Surabaya. Antara tahun 1960-1964 Baba Ong membenahi bangunan tua yang amat lama kurang terus inu untuk dijadikan hotel dengan nama ‘Hotel Niagara’.

Contoh serupa di wilayah Kota Batu adalah ‘Hotel Heritage Kartikawijaya’. Bangunan ini dibuat tahun 1891sebagai vila bagi keluarga Sarkies — sehingga pernah dinamai ‘Hotel Sarkies’, atau dikenal oleh masyarakat sekitar dengan ‘Jambedawe” lantaran terdapat pohon-pohon hambe di halamannya. Walaupun telah tujuh kali mengalami alihfungsi hingga fungsi terakhirnya sebagai hotel, namun gaya arsitektur Eropa kunonya masih kental terasa, baik di fasade maupun ruang lobi dengan kaca mozaik bergambar peta Jawa Timur. Atap maupun pilar hotel menyerupai bangunan di Switzerland, sehingga tidak salah apabila hotel ini juga dijuluki sebagai ‘Klein Switzerland’. Selain itu terdapat ‘Royal Orchid Garden’ di Jl. Indragiri No. 4 Kota Batu, yang masih menyisakan bangunan lama yang kental bergaya Indis. Dapat pula ditambahkan kemar-kamar ini di kawasan wisata Selecta. Kamar-kamar inap ini ditambahkan kemudian di areal yang semula dibuat sebagai tempat wisata yang indah pada tahun 1928 oleh orang Belanda bernama Reyter de Wildt di tempat dengan panonara alam pegunungan yang menawan pada ketinggian 115 DPL di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji. Salah satu kamar inapnya, yakni Villa Brandarice (kini dikenal dengan ‘Villa Bima Shakti”) pernah diinapi oleh Bung Karno pada Masa Pendudukan Jepang (tahun 1942). Pada tahun 1956, menjelang konfrensi KNIP, kembali Soekarna – bahkan bersama dengan Mohammad Hatta – kembali menginap di Selecta.

Bangunan heritage di wilayah Kota Malang yang semula tidak dibuat dengan peruntukan khusus sebagai restaurant namun kini dialihfungsikan sebagai restoran atau sejenisnya, antara lain adalah Rumah Makan Inggil di Jl. Gajahamada No. 4. Bagian depan dan dereran dapur merupakan bangunan heritage, adapun bagian tengah belakang yang didesain dalam bentuk ‘tobong’ adalah tambahan kemudian (tahun 2004). Perabotnya doniman barang-barang kuno (jadul) seperti meja, kursi, wadah makanan, begitu pula akesorismya yang bernuansakan etis-arkhais, sehingga sengaja dibisa dipredikati sebagai ‘museum resto’. Untuk menguatkan ‘nuansa heritage-nya’, di hari-hari tertentu digelar seni tradisional bernuasa kehidupan masa lalu di atas panggung. Demikian pula menunya, disajikan makanan khas tempo dulu. Selain itu, pada sepanjang Jl. Besar Ijen terdapat bangunan heritage yang kini didayagnakan sebagai resto, seperti Und Corner, TJ. Heritage Steak & Bistro, Teras Cafe, Kajiku, Sucor nves, dan Rumah Makan Iga Bakar. Und Corner yang berada di Jl. Ijen No. 84 adalah cafe bakery dibawah manajemen Hotel Tugu, yang dilengkapi dengan koleksi benda antic, yang memberi kesan unik dan elegan. Di bagian depan cafe resto ini terdapat etalase untuk mendisplay kue kering tempo doeloe, seperti roti marble coklat, roti konde, roti sobek, dsb. Sementara di Jl. Pahlawan Trip No. 19 terdapat ‘Padi Resto Galery’, yang memadukan unsur galeri dengan rumah makan. Adapun di sekitar Alun-alun Bunder terdapat ‘Rumah Makan Kertanegara’. Demikianlah sebagian bangunan heritage di Kota Malang yang kini dijadikan resto.

3. Menuansakan Heritaga Hotel dan Restoran

Pada kategori ketiga ‘menuansakan heritage hotel dan restoran’, bangunannya bukanlah heritage. Sangat mungkin merupakan bangunan baru yang difugsikan sebagai hotel dan restoran. Untuk memberi ‘nuansa heritage’, gaya arsitekturnya dibuat tradisional atau kuno, perabot berupa barang-barang antik, aksesoris seni kriya tradisional dan berusia tua, beusana tradisional atau kuno bagi para karyawan, menghadirkan musik taradisi atau jadul, dan menyajikan menu makanan lokal tradisional. Paling tidak, dindng-dindingnya dipajangi foto-foto dukumenter lama atau reproduksi darinya. Dengan demikian, sesungguhnya bangunan maupun fungsinya bukan ‘heritage’, hanya diberi nuasa yang heritage, dengan menghadirkan barang dan tampilan arkhais ataupun etnis. Pada kawasan Malangraya, yang merupakan kawasan bersejarah dan berbudaya, hotel dan restoran atau sejenisnya yang diberi ‘nuansa heritage’ terbilang banyak, dan tersebar di sejumlah tempat. Salah satu cantohnya adalah ‘Rumah Coffee Loe Mien Toe’ di Jl. Tata Surja No. 2, yang dipenuhi dengan benda kuno yang mengusung konsep perpaduan Cina-Jawa, baik dekorasi maupun pernak-pernik yang menghiasi setiap sudut, seakan suatu villa yang dihuni oleh kolektor benda kuno. Café-resto ini menjadi tempat favorit para calon pengantin sebagai lokasi pemotretan pre-wedding.

Bangunan lainya adalah “Rumah Opa Kitchen ad Lounge” di Jl. Welirang No. 41A, yang menyajikan menu pizza, pasta, dan cocktail. Berkunjung ke mari solah sedang mengunjungi rumah kakek yang bergaya klasik Jawa. Nuansa tempo doeloe juga hadir pada ‘Taman Indir River View Resto’ di Jl. Lawang Sewu Golf No.2018, Kota Araya yang bernuansa tradisional di tengah alam yang asri, yang membawa bernostalgia ke Masa Kolonial di lungkungan masyarakat Jawa tatkala masih hidup secara tradisional dengan bertani dan menangkap ikan di Sungai Bango di hamparan sawah dan hutan. Nuansa pedesaan Jawa bisa juga ditemui pada ‘Pondok Telaga’ di Dusun Telaga Boutique Villa
Resort, yang memiliki lingkungan seluas 35 ha dan dilengkapi dengan kolam ikan atau akuarium raksasa, sehingga terkesan berada di sekeliling telaga yang cukup luas yang berisi banyak sekali ikan koi.

Selain itu terdapat ‘Java Dancer Coffee’ di Jl. Kahuripan No, 12, yang dikemas seakan ngopi bareng dengan punakawan Bagong dan Petruk, untuk menikmati varian pilihan kopi teraik Nusantara asal Aceh Gayo, Sumatra Mandheling, Java Estate, Flores, Java Mountain, Toraja dan Wamena, atau kopi Luwak asal Sumbawa. Cofe-resto bernuansa heritage lainnya adalah “Goleden Heritage”di Jl. Raya Tidar No. 36, bergaya kedai kopi industrial, dengan konsep gudang berpadu desain pondok kayu desertai bata expose, lampu gantumg, dinding bertekstur ala peti kemas, dan dilengkapi kotak-kotak kayu. Ada lagi yang unik, yakni “VolksWaffle Streatery’ di Jl. Semeru 76, yang berupa tempat makan dan jajan yang mengusung konsep food truck, dimana semua makanan dimasak dan diolah langsung di dalam mobil VW.

Restoran bernuasa heritege ada pula yang diintegrasikan dengan hotel. Misalnya, ‘The Lost Temple’ di areal Hotel Tugu di Jl. Tugu No. 3, yang bergaya Kolonial dengan konsep heritage dan Indonesia tempo doeloe bernuasa Cina Peranakan, Nusantara Lama, Masa Kolonial Belanda, serta sentuhan Prancis yang modern. Nuansa Cina Peranakan masa lalu terkesan hadir kuat di ‘Melati Restaurant’. Ada pula sajian ‘The Lost Temple Dinner” di sebuah hall yang didesain menyerupai Candi Angkor Wat. Pada Hotel Gajamada Graha di Jl. Dr, Cipto No. 17 dihadirkan “Cleopatra Restaurant’, yang bernuansa tradisional di tengah alam asri dengan konsep Romawi Kuno. Selain itu, juga dihadirkan aksen-aksen Mesir Kuno, furnitur bergaya Eropa, dengan hidangan Jawa, Cina dan Eropa.

B. Kelestarian Hotel dan Restoran Heritage

Kelestarian bangunan heritage (baca ‘BCB’) merupakan hal utama dan pertama. Kalaupun fungsi darinya diposisikan penting, namun terus beradanya bangunan tua itu perlu dipertahankan guna mendukung fungsinya, sebab bila telah tiada, runtuh atau diruntuhkan maka tiada lagi fungsi daripadanya. Sekalipun pada reruntuhannya dibuat bangunan baru dengan fungsi sama, maka yang berfungsi itu bukanlah bangunan heritage (BCB)-nya, melainkan adalah bangunan lain yang baru pada tempat yang sama dengan fungsi yang sama pula. Tak sedikit orang, khususnya pemilik baru bangunan heritage yang mengalami alih kepemilikan, lebih memilih untuk meruntuhkan bangunan heritage yang ada, yang tidak sesuai dengan selera dirinya untuk digantikan dengan bangunan baru dengan gaya arsitektur baru namun dengan fungsi sama.

Selain pilihan ekstrim dengan meruntuhkan atau melumatkan bangunan heritage kemudian digantikan dengan bangunan baru untuk fungsi yang sama, pilihan lain yang kurang ekstrim adalah ‘merenovasinya’, yakni menggantikan sebagian dari komponen-komponen aresitekturnya dengan komonen baru, menambahkan sebagian bangunan baru, atau menganti bagian tertentu – utamanya bagian fasade – dengan bangunan baru bergaya asitektur baru. Tidakkan demikian acapkali pula dilakukan terhadap bangunan heritage yang mengalami pengalihan fungsi. Dengan fungsi barunya tersebut, ada bagian-bagian dari bangunan yang ada diubah bentuknya, baik dengan meniadakan sebagian, menambah sebagian, ataupun mengubah tampilannya guna mendukung fungsi barunya. Bahkan tak jarang bangunan heritage diruntuhkan, bahkan dilumatkan, dengan alasan bentuk dan ukurannya tak lagi sesuai dengan fungsi baru yang diancangkan di lahan itu. Dalam hal demikian, keberadaan bangunan heritage tidak diposisikan sebagai keutamaan, Baginya, yang utama adalah fungsi yang diembankan kepadanya.

Tak dapat dipungkiri banhwa tidak sedikit biaya, tidak mudah memelihara, dan dibutuhkan komitmen untuk mempertahkan kelestarian bangunan heritage. Bangunan heritage yang tidak atau kurang berfungsi, cenderung dipandang ‘tak berguna’ dan karenanya tak perlu lagi dipertahankan keberadaannya. Bila harga tanah di lokasi itu ‘melangit’, ditambah dengan pajak PBB yang tinggi karena berada di lokasi strategis, maka menjualnya cenderung dijadikan pilihan, ‘persetan’ dengan nasib keberadaan dari bangunan heritagenya kelak setelah alih kepemilikan dan diberi fungsi baru. Memang, mempertahankan keaslian detail bentuk dan fungsi semula pada bangunan heritage acap merupakan dilema bagi pemilik BCB, khususnya untuk pemik pemilik yang secara ekonomik tidak sekuat dulu. Pada sisi lain, yang cenderung dikedepanan sebagai solusi bagi waris adalah dengan menjualnya kepada pihak lain, terlepas fungsi apa yang akan dikenakan padanya.

Antara bentuk dan fungsi bangunan berelasi satu sama lain merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri. Fungsi tertentu membutuhkan bentuk bangungan yang tertentu. Kendatipun demikian, antara bentuk dan fungsi bangunan tidak musti dikonfrontaskan, dengan satu mengalahkan yang lain. Dibutuhkan adanya kebijakan untuk membuat ‘formulasi balancing’ antara mempertahankan kelestarian bangunan heritage dan penerusan fungsi lamanya, apa lagi bila diberikan fungsi baru padanya – misalnya, fungsi baru sebagai hotel dan restoran, atau sejenisnya. Dalam hal demikian, pengubahan terbatas terhadap bentuk, ukuran, warna, dsb. dari bangunan lama (baca ‘hareitage’) kadang tak terelakkan. Terkait itu, UU ataupun Perda ‘Cagar Budaya’ perlu ditegakkan, peran dari Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB) dibutuhkan untuk membantu dalam mendapatkan solusi bijak tentangnya, dan komitmen berbagai pihak untuk melestarikan bangunan heritage adalah prasyarat pada tahap terawal. Tanpa komitmen itu, perangkat perundangan yang ada hanya menjadi ‘macan ompong’, dan TACB yang telah dibentuk pun bakal tertatih-tatih dalam menjalankan amanat yang diembankan kepadanya.

C. Hetitage sebagai ‘Image Positif’

Sebelum tiga dasawarsa lalu, apabila orang menyebut ‘heritage’ maka terbayang mengenai sesuatu yang ‘kuno, tertinggal, out of date, tidak modern’, yang kodisinya sekarang ‘kumuh, lusuh, jorok, dan tudak menarik perhatian’. Yang heritage itu oleh karenanya dihindari, ditinggalkan, dan apabila perlu ditiadakan untuk diganti sepenuhnya dengan ‘yang serba baharu’. Bagi para pemilik bagunan heritage kala itu, bangunan miliknya dirasakan menidihkan ‘beban’. Sudah bangunan tua, gampang rusak disana-sini, dan jika dijual dalam kondisinya seperti itu banyak yang menghindari, antara lain lantaran enggan berurusan dengan ketetntuan hukum dalam UU ataupun Perda Cagar Budaya. Itulah kesan masa lalu terhadap heritage. Namun, pada beberapa dasawarsa terakhir justru mengalami ‘pembalikan image’ – setidak-tidaknya oleh tak sedikit orang. Memang, kesan itu ada benarnya, khususnya untuk bangunan heritage yang tidak dirawat atau diterbengkelaikan. Namun, tentunya tidak untuk bangunan heritage yang dilestarikan dan dirawat secara baik.

Pada ketiga kaegori diatas (butir A), aspek ‘hetitage’ tidak dijadikan sebagai ‘penghalang’ untuk menampilkannya sebagai hotel dan restoran heritage di masa kini. Ikon dan nuansa heritage malahan sengaja disematkan padanya untuk memberi ‘daya tarik khusus’ bagi calon pengguna aspek ‘hetitage’ tidak dijadikan sebagai ‘penghalang’ untuk menampilkannya sebagai hotel dan restoran heritage di masa kini. Ikon dan nuansa heritage malahan sengaja disematkan padanya untuk memberi ‘daya tarik khusus’ bagi calon penggunanya. Bahkan, heritage menjadi semacam ‘trend baru’ pada hotel dan restoran mahal. Sebenarnya, yang menjadikan ‘mahal’ tersebut adalah suasana ke-heritage-annya, sejalan dengan ‘slogan elit’ yang menyeruak pada akhir-akhir ini, yakni ‘back to nature dan back to native culture’. Wujud ekapresi dari ‘back to native culture’ antara lain berupa pemberian nuansa etnik atau nuansa arkhaik (kuno, lawas) pada hotel dan restoran. Dalam konteks ini, karakter dan nuansa heritage itu dimanfaatkan untuk ‘memberikan nilai tambah, nilai kemahalan’. Padahal sebenarnya, menu makanannya biasa-biasa saja. Fasilatas hotelnya pun standar-standar saja. Sebutan ‘heritage’ seolah menjadi ‘kata magi’, yang menggelitik orang untuk merasakannya nunasanya, meski untutuk itu musti bersedia untuk ‘membayar lebih mahal’. Para pengguna yang kebanyakan berasal dari kalangan ‘menengah ke atas’ di perkotaan, utamanya pada kalangan ‘postmodern’, merasa mendapatkan prestise dengan menginap dan berkuliner padanya. Sementara bagi pengusaha hotel dan restoran heritage, unsur heritage itu dijadikan sebagai semacam komuditi yang berdampak ekonomik postif padanya.

Hanya saja, yang perlu mendapatkan perhatian adalah bahwa alih fungsi bangunan heritage untuk kepentingan usaha, termasuk di dalamnya untuk hotel dan restoran, mustilah sesuai dengan ketentuan peruntukan sub-kawasan sebagaimana diatur oleh RTRW, RDTR, RTB, dan Peraturan Zonasi dalam sistem perencanaan tata ruang. Disamping itu dibutuhkan IMB dan HO. Bukan saja untuk kepentingan legalitas usaha, namun lebih penting daripada itu adalah tersedianya data untuk memonitor kemungkinan adanya alih bentuk dan alih fungsi bangunan heritage bagi kepentingan pelestariannya. Sebagai contoh kasus, menutut pemberitaan REPUBLIKA.CO.ID, MALANG pada Jumat 15 October 2010, 01:41 WIB ‘Terdapat Belasan Pengusaha Dinilai Langgar Kawasan Cagar Budaya’ di Koridor Ijen Kota Malang. Padahal, menurut Perwakot tahun 1980 merupakam kawasan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah. Lebih tegas lagi, Perda No. 2004 Perda 1/2004 menyatakan bahwa bangunan yang sudah berusia di atas 50 tahun merupakan ‘cagar budaya’, yang karenanya tidak boleh ada perubahan bangunan dan alih fungsi. Untuk menegakkan kedua aturan itu, institusi terkait seperti Dispbudpar, BPU-PR, Dinas Perijinan, Satpol PP maupun TACB perlu bahu membahu untuk bersama-sama melestarikan BCB di daerah bersangkutan. Semoga ‘Perda Cagar Budaya’ Kota Malang, yang kelak diberlakukan kian mengkuhkan piranti hukum terhadap pelestarian dan pemanfaatan BCB di Kota Malang yang menyandang predikat ‘Kota Heritage’ ini.

Demikian lah tulisan singkat ini sebagai penghantar diskusi. Semoga memberi kefeedahan dalam rangka pelestarian dan pemfungsian bangunan heritage (CB) secara ‘bijak bestari’ dalam fungsinya sebagai hotel dan restoran. Salam budaya ‘Safe Malang Heritage’.Nuwun

Sengkaling, 31 Agustus 2017
PATEMBAYAN CITRALEKA

Total
1
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*