PERHELATAN BUDAYA MALAM 1 SURO DI DESA KUNO MANGLIAWAN

TIRTHAWIWAHA, SIMBOLISASI PENEGASAN AKAN ‘URGENSI TIRTHA’ DALAM PERHELATAN BUDAYA MALAM 1 SURO DI DESA KUNO MANGLIAWAN

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Tirthawiwaha

Kakawin Jawa Kuna yang disurat oleh rakawi Pu Kanwa semasa pemerintahan raja Airlangga mengambil judul ‘Arjunawiwaha’. Diberi judul demikian, karena pokok isinya mengkisahkan tentang perkawinan (wiwaha) antara manusia bernama yang ‘Arjuna’ dengan tujuh widyadari diantaranya Supraba dan Tilotama. Perkawinan dalam arti ‘menyatupadukan dua pihak’ ternyata bukan hanya terjadi antar manusia, namun di dalam pengkisahan ‘Arjunawiwaha’ itu bisa saja berlangsung antara mahluk manusia dan bidadari – bandingkan dengan kisah serupa mengenai perkawinan antara manusia yang bernama ‘Joko Tarub’ dan bidadari bernama ‘Nawangwulan’. Bahkan secara simbolik, terdapat pula perkawinan unik-simbolik antar binatang, seperti dalam ritus ‘manten kucing’ di Tulungagung, manten pari (padi) pada ritus ‘Sri-Sedono’, dsb. Dalam bentuk simbolik, suatu perkawinan terbuka kemungkinan untuk dilakukanan pula terhadap air, sebagaimana tadi malam diselenggarakan oleh warga Desa Mangliawan di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang, yang mengambil tajuk perhelatannya ‘Tithawiwaha (Manten Banyu)’.

Ide mengenai ‘tirthawiawaha’ ini berangkat dari realitas ekologis di wilayah Desa Mangliawan, yakni adanya dua sumber air besar (telogo), yang sama-sama dinamai dengan ‘Wendit’ atau ‘Mendit’. Untuk membedakan keduanya, sumber air Wendit/Mendit yang terletak di sebelah selatan-barat dinamai ‘Wendit Wedok (Wadon)’, yang kini dijadikan ‘taman wisata’ komersial oleh Pemkab Malang. Adapun yang berada di sebelah utara-timurnya dinamai ‘Wendit Lanang’. Adanya unsur nama (toponimi) ‘wedok/wadon (feminin, perempuan)’ dan ‘lanang (maskulin, laki-laki)’ itulah yang mengilhami saya untuk mentemakan kirab-budaya dari Mendit Wedok ke Mendit Lanang tadi malam (20 September 2017) sebagai ‘penyatupaduan air dua sumber”, yang secara simbolik digambarkan sebagai ‘perkawinan (wiwaha) air (tirtha)’, Maka, muncullah ide untuk mentajukan tema perhelatan bydaya itu dengan ‘TITHAWIWAHA’.

Pada kirab budaya tepat pada Malam 1 Suro tersebut, para peserta kirab (tua, muda bahkan anak-anak) menghadirkan nuansa busana dan oborampe tradisional Jawa. Sesuai tema tersebut mereka membawa serta air (tirtha) dari Mendit Wedok yang ditempatkan di dalam sebuah jedi (kawah) besar untuk diarak jalan kaki beriringan (sepajang sekitar 1 Km) ke lokasi perhetan di Mendit Lanang, Setelah serangkaian butir acara disajikan, seperti (a) kata sambutan, (b) tarian, (c) doa bersama, dan (c) babar sejarah-budaya kampung, selanjutya dilaksanakan ritus penyatuanpaduan (wiwaha) air dengan tata acara yang ‘Njawani’, yaknI menumpahkan air pada jedi yang berasal dari Mendit Wedok itu ke dalam sumber air Mendit Lanang. Inilah jati perhelatan, yang secara simbolik dinamai ‘Tithawiwaha Mendit’.

B. Kawasan Purbatirtha

Berbicara tentang ‘Wendit/Mendit”, asosiasi orang tertuju pada dua hal, yaitu kera (kethek, kapi) dan air (tirtha, telaga). Namun, kebanyakan orang hanya tahu adanya sebuah sumber air besar (telaga), yang berair jernih kebiruan – karena pada masa Kolonial Hindia-Belanda lazim disebut ‘Banyu Biru’, yang di dalam sebutan lokal dinamai ‘Mendit Wedok/Wadon’, padamana terdapat banyak kera menghuni pepohonan sekitar telaga. Padahal, disamping sumber air yang berada di sebelah selatan ‘jalan poros Blimbing-Tumpang‘, yang telah sejak sangat lama menjadi tempat untuk beplesiran (wisata) tersebut, masih terdapat beberapa sumber air besar lainnya di wilayah Desa Mangliawan, yaitu; (a) Mendit Lanang pada utara Jalan Poros Blimbing-Tumpang, dan (b) beberapa sumber air di Kampung Lok Suruh – kata ‘lok’ atau varian sebutannya ‘lowok’ berarti cekungan tanah yang berisi air.

Boleh dibilang bahwa sumber air di Lok Suruh (kini dinamai ‘Kampung Banyu’) berada dalam satu entitas ekologis dengan sumber air Mendit Wedok. Sedangkan di desa tetangganya, yang bernama ‘Tirtomoyo’ di sebelah utara Desa Mangliawan, terdapat sumber besar lainnya yang dekat jarakya (kurang dari 1 Km) dengan Mendit Lanang, yaitu Sumber Genthong. Oleh kaena itu, diperoleh gambaran bahwa Desa Mangliawan dan Tirtomoyo merupakan kawasan perairan purba, yang dikoneksikan dengan sungai-sungai kecil, yaitu Kali Gentong serta Kalisari, dan bukan tidak mungkin terdapat saluran ar bawah tanah (arung) yang menghubungkan Sumber Genthong, Mendit Lanang, Mendit Wedok.

Keberadaan sumber-sumber air dan sungai-sungai itulah yang menjadi pertimbangan lingkungan (baca ‘kalkulasi ekologis’) untuk memilih kawasan ini sebagai ‘areal hunian atau permukiman’. Selain bertanah subur akibat material vulkanik Bromo-Semeru, kawasan ini juga ditopang oleh sumber daya aquatik yang berlimpah, yang bisa didayagunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi rumah tangga maupun untuk irigasi bagi persawahannya. Perhal ini secara historis tergambar pada adanya desa (wanua) lama bernama ‘Balingawan (kini berubah sebutan menjadi ‘Mangliawan’), sebagimana diberitaan di dalam prasasti batu (linggoprasasti), yaitu: (a) prasasti berbetuk segilima dari Singosari – dipindahkan oleh Bik ke Batavia, kemudian oleh J.L. Brandes dicatat sebagai benda koleksi Bataviaasch Genootschap (kini Museum Nasional Jakarta) dengan No. Inventaris D 52), dilanjut pada (b) sandaran sisi belakang arca Ganesya yang ditemukan oleh L. Melville di pekurburan Cina – kemungkinan juga di Singosari, kini menjadi koleksi Museum Nasional No. Inv. D 108 (OJO, XIX-XX). Prasasti Balingawan beratrikh Saka 813 (13 April 891 Masehi).

Pokok isi prasasti diatas memperingati penetapan sebidang tanah di desa (wanua) ‘Balingawan’, berupa tanah di tegalan (tgal) di Gurubhakti sebagai tanah berstatus perdikan (sīma). Anugerah (waranugraha) ini berasal dari Rakryān Kanuruhan bernama ‘pu Huntu’, yang bertindak atas nama Raja Daksa, yakni raja jerajaan Mataram yang beribukota di Jawa Tengah – relokasi pusat pemerintahan (kadatwan) Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur baru berlangsung tahun 929 Masehi, semasa pemerntahan Pu Sindok (Sri Isana), dua generasi setelah Daksa. Adapun alasan (sambhanda) atas pemberinan anugerah istimewa itu lantaran rakyat di wanua Balingawan dan dukuh-dukuhnya berjasa ciptakam keamanan lingkungan setempat. Sebelumnya mereka merasa ketakutan dan menderita (melarat), sebab berulangkali dibebani denda akibat terjadinya musibah pembunuhan yang diistilahi dengan ‘rāḥ kasawur (darah tersebar berceceran)’ dan ‘wangkay kābunan (mayat terkena embun)’. Pembunuhan ini merupakan tindak kejahatan terjadi di jalan besar (hawan) namun rawan di malam hari yang melintasi desanya, atau semacam tindakan begal jalanan. Mereka mengajukan permohonan kepada Rakryān Kanuruhan melalui beberapa orang patiḥ (Ḍapunta Ramyaḥ, Ḍapu Hyang Bharatī, Ḍaman Tarṣa, dan Ḍapu Jala) yang membawahi Desa Balingawan. Permohonannya dikabulkan, bahkan disertai anugerah yang berupa tegalan di Gurubhakti berstatus perdikan (sīma), berkat jasanya citpakan jaminan keamanan di jalan besar. Semenak itu, rakyat Desa Balingawan beserta dukuh-dukuhnya tak lagi merasa ketakutan. Sīma tersebut dinamakan ‘sīma kamulān’.

Tergambar kala itu terjadi tindak kekerasan yang meresahkan warga. Kejahanatan yang berakibat tumpahnya darah bahkan kematian itu tak diketahui siapa pelakunya. Sering diketemukan darah berceceran dan sesosok mayat tergeletak di tegalan pada Gurubhakti, yang baru dilihat di waktu pagi. Mungkin saja mayat itu bukan mayat warga Desa Balingawan, dan bisa saja pembunuhan terjadi di desa lain pada waktu malam, lalu mayatnya diletakkan di tegalan di Gurubhakti tanpa ada yang mengetahuinya. Selain karena begal jalanan, bisa saja pembunuhan tersebut berkenaan dengan sengketa pemanfaatan air untuk pertanian, yang berujung dengan pertikaian. Oleh karena tegalan tempat dimana mayat itu ditemuan masuk dalam wilayah Desa Balingawan, maka secara de yure rakyat di Desa Balingawan lah yang musti bertanggung jawab dan menanggung denda. Akibatnya, penduduk Balingawan menjadi melarat (durbala) dan tidak lagi mampu membayar pajak. Rakyat melalui pemuka-pemukanya mengajukan permohonan kepada Rakryān Kanuruhan agar tegalan di Gurubhakti dijadikan sima, yakni sebagai sumber penghasilan bagi pejabat mula yang bertugas untuk memimpin penjagaan di jalan pada waktu malam.


Prasasti tersebut menjadi bukti tak terbantahkan bahwa Balingawan ada desa tua, yang telah ada sebelum tahun 891 Masehi, kerena tahun itu adalah tahuan penetapan tanah perdkan di desanya. Keberadaan sumber air dan sungai di wilayahnya itu menjadi salah satu kalkulasi ekologis untuk memilihnya menjadi areal bermukim. Desa ini berlanjut hingga masa ke masa-masa seduahnya. Bahkan, pada masa Majaphit jalan besar – tergambar dalam unsur toponimis ‘bali (besar)’ dan hawan (jalan) – menjadi jalan poros yang mengubungkan pusat kerajaan bawahan Tumapel di Songhasari pada sub-area Malang utara sekarang dengang sub-area Malang Timur di Tmpang tempat keberadaan Candi Jajaghu (kini ‘Candi Jago’) dan Kidal. Jalan besar itu bukanlah jalan poros sekarang yang menghubungkan Blimbing-Tumpang via Desa Mangliawan, melainkan jalan alternatif lebih kecil yang menghubungkan Singsari-Tumpang melalui Karanglo belok ke timur melintasi Desa Tirtomoyo dan Mangliawan, lalu belok ke arah timur melintasi Pakis. Jalan purba inilah yang konon dilintasi oleh Maharaja Hayam Wuruk dan rombongan kala perjalanan ziarah (pilgryme) ke penddharmmaan lelulur raja-raja Majapahit di Candi Kidal bag arwah raja Anusapati dan di Candu Jajaghu bagi arwah raja Sminngrat (Wisnuwarddhana). Oleh sebab telah tiba waktu malam, maka mereka bermalam di sekitar Candi Jajaghu.

Menurut keterangan dalam Kakawin Nagarakretagama, pada keesokan harinya ketika perjalanan pulang rombongan singgah di Bureng. Puuh 38.7 menyatakan ‘…… Paginya menuju Singasari, belum lelah telah sampai Bureng”. Dilanjutkan dalam pupuh 38.1-2 ‘Keindahan Bureng : telaga bergumpal air jernih. Kebiru-biruan, ditengah: candi karang bermekala. Tepinya rumah berderet, penuh pelbagai ragam bunga. Tujuan para pelancong penyerap sari kesenangan ……….’. Cukup lama mereka berada di Bureng. Setelah reda terik matahari, rombongan melanjutkan perjalanan dengan melintas area tegal tinggi. Rumputnya tebal rata, hijau mengkilat, indah terpandang. Luas terlihat laksana lautan kecil berombak jurang. Seraya berkeliling kereta lari tergesa-gesa. Menuju Singasari, dan selanjutnya segera masuk ke pesanggrahan.

Tergambar dalam teks tersebut bahwa Bureng adalah tempat yang dilengkapi dengan telaga yang berair jernih kebiru-biruan. Bisa jadi, Bureng adalah apa yang kini dinamai Mendit Wedok, yang merupakan telaga luas dengan jarrak yang tidak terlampau jaug dari Candi Jajaghu. Indormasi air telaga yang jernik kebiruan tersebut mengingatkan kita dengan sebutan Pada Masa Hindia-Belanda terhadap tempat plesir di Mendit sebagai ‘Banjoe Biroe’. Apabila benar bahwa Bureng adalah Mendit Wedok, berartti konon di tempat yang telah semenjak Masa Hidu-Buddha menjadi destinasi bagi pelancongan ini pernah terdapat candi bermekala yang berada di tengah telaga. Disamping itu, di tepian telaga terdapat rumah berderet yang diperindah dengan beragam bunga. Perihal tegal tinggi yang luas, yang ada di perjalanan antara Bureng-Singhasari, ada kemungkinan adalah tgal Gurubhakti di Desa Kuno Balingawan yang berstatus sima – sebagaimana diberitakan dalam prasasti 891 Masehi diatas.

C. Ritus Penegas Urgensi Tirtha

Ritus Malem Suro di Mangliawan yang bertajuk ‘Tirthawiwaha’ memberi penegasan mengenai ugensi air bagi warga Desa Mangliawan dan segenap undangan. Penekanan pada arti penting air di Mangliawan ini amat bealasan, mengingat bahwa desa ini mempunyai sumber-umber air yang terbilang besar, yang memberi manfaat bukan hanya bagi warga desanya sendiri namun juga bagi khalayak di luar desa. Poetensi air yang demikian besar di Wendit Wedok misalnya, oleh PDAM Kabpaten Malang didayagunakan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga Kabupaten Malang, namun juga ‘dijual’ ke Kota Malang. Bahkan, akhir-akhir ini, penjualannya meningkat signifikan, sementara tunaman-tamaanan besar yang berusia tua di sekitar telaga satu per satu berkurang demi pembangunan ‘Taman Wisata Mendit’ yang cederung mengarah kepada obyek wisata buatan (artificial tourism) daripada wisata alam yang ‘natural’. Yang patut untuk diadari oleh Mendit Wedok adalah apabila tidak bijak dalam pengolaan dan memanfaatkaannya, maka pada ahirnya mengalami kerusakan lingkungan dan tentu bakal berkurang debit airnya.

Kondisi Mendit Lanang dalam hubungan dengan kelestarian sumber lebih baik daripada Mendit Wedok, meski beberapa waktu terdahlu sempat tertimbuni sampah. Kalaupun ada pemanfaatan, namun sebatas dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk kebutuhan sehari-hari. Seagaimana halnya Mendit Lanang, sumber air di Dusun Lok Suruh juga sempat ditimbuni sampah dan mengalami pendangkalan. Syukurlah beberapa waktu terkhir kedua sumber air itu mengalami rebitalisasi dengan pembersihan dari timbunan sampah. Bahkan, sumber air di Lok Suruh yang dibranding sebagai ‘Kampung Banyu’ mulai melangkah menapaki dunia kewisataan, baik rekreatf maupun religis. Tak mau ketiggalan dengan Wendit Wedok dan Kampung Banyu, Mendit Lanang pun mengemas diri sebagai destnasi eko-wisata yang bernasis air, bambu dan budaya. Pariwisata menjadi ‘daya pikat’ bagi kampung-kampung di Desa Mangliawan untuk mewisatakan sumber-sumber airnya, yang bukan tidak mungkin akan diikuti pula oleh Simber Genthong di tetangga desanya (Tirtomoyo).

Ritus air pada Malem Suro bertajauk ‘Tirthawiha’ ini mengaskan akan pentingnya melestarikan sumber air dan merevitalisasikan tanaman-taman di sekitar sumber, dan mengindarkan penistaan sumber air untuk sekedar dijadikan sebagai tempat penimbunan sampah. Sumber-sumber air di Desa Kuno Balingawan semenjak dulu diposisikan sebagai air suci (tirtha). Hal ini diindikatori oleh adanya jekal bangunan suci, baik berupa candi ataupun patirthan di sekitar sumber, Bahkan, hingga kinipun warga sub-etnik Tengger mensakralkan tirtha di Mendit Wedok, yang tergambar pada ritus tahunan ‘Grebed Tengger Tirto Aji’. Dalam perhelatan budaya ini, pesan yang terselip adalah ‘bijaklah memperlakukan air’. Benar bahwa ‘air musti bermanfaat’ bagi mahluk, Namun, pemanfaatannya jangan lantas mengalahlahkan kelestariannya. Oleh karena itu, yang semestinya pertama dilakukan adalah melestarikan, baru kemudian memanfatakannya. Bukan mewisatakan sumber air yang lebih didulukan, namun melestarikan/merevitalisasikan. Kalaupun lantaran kelestariannya bisa menarik kunjungan wisata, maka ‘kewisataan itu adalah bonusunya’. Bilapun tidak membuahkan hasil bagi kewisataan, tak apa lah, sebab sudah ada buah yang dihasilkannya, yakni sumber air yang lestari dan lingkungan sekitar sumber terevitalisasikan.

Prasasti Balingawan memberi kita bebarapa keteladanan, antara lain: (a) adanya inisatif internal dari warga wanwa Balingawan untuk menggalang semacam ‘Pengamanan Lingkungan’ secara Swakarsa dalam menyikapi dan mendapatkan solusi atas kerushuan yang berakibat kematian di lingkungannya, yang atas prestasinya itu pihak Kerajaan Mataram lewat perantaraan Kakryan Kanuruhan menganugerahkan status perdikan (sima) terhadap sebidang tanah di tgal Gurubhakti bagi peningkatan kesejahteraan warga; (b) pemanfaatan lingkngan alamiah setempat yang subur dan memiliki pasokan air cukup bagi kegiatan agraris menghantarkan Desa Baingawa menjadi desa yang terbilang maju pada jamannya. Adapun informasi yang didapat dari Nagarakratagama adalah bahwa : (a) telah semanjak Masa Majapahit atau sebelumnya Bureng (nama arkhais dari “Wendit Wedok’ yang bertelaga jenih berair kebiran sebagai tempat bagi pelancongan (destnasi wisata) alam sekaligus tempat bagi aktiftas keagamaan, dan (b) jalan yang melitasi desa yang Mengubungkan Tumpang, Pakis, Mangliawan, Tirtomoyo, Karanglo hingga Singosari konon merupakan jalan besar (hawan) penghubungan antar sub-area utara dan timur Malang.

Hal lain yang tak kalah bermanfaatnya adalah linggoprasasti Balingawan yang memiliki tarikh lengkap, yakni tanggal 13 April 901 Masehi, dan mencatat prestasi desa ini di masa lalu, layak untuk dijadikan sebagai petanda waktu untuk secara periodik diperingati sebagai ‘Hari Jadi Desa Balingawan”. Pada tahun depan (2018), tepatnya tanggal 13 April, masyarakat Desa Mangliawan dan desa-desa di sekitarnya diharapkan bersama-sama memperingati Ulang Tahun Balingawan yang ke-1127. Selain itu, diharapkan Tirthawiwaha yang kali diselenggarakan bukanlah ‘yang pertama dan terakhir’, namun sebagai ‘Tirthawiwaha I”, yang musti ditindaklanjuti untuk kali kedua, ketiga, dst. menjadi agenda budaya lokal tahunan.

Semoga tulisan bersahaja ini dapat membuahkan kefaedahan untuk memperlakukan air secara bijak. Beruntung Desa Mangliawan memilik banyak sumber air, sebab jauh lebih banyak desa-desa yang ketika musim kemarau menghadapi krisis air. Di Mangliawan, justru ketika kemarau tebing-teping tanahnya merembeskan iar. Namun, jangan lantaran kaya air, lantas menjadi abai lestarikan sumber air dan cenderung eksploratif dalam memanfaatkanya. Ingatlah bahwa hari ini ada dua desa di Kabupaten Malang yang mengalami kiris air bersih, yang bukan tidak mungkin kian bertambah, mengingat musim kemarau masih belum jelas kapan bakal berakhir dan dampak fenomena equinox turut melangkakan air. Kesadaran lain yang tidak kalah penting untuk disiagai adalah bahwa Manglianwan berada tepat diperbatasan dengan Kota Malang, bahkan sebentar lagi terdapat jalan tol tak jauh di sebelah timurnya. Muntahan kepadatan permukim dari Kota Malang dan keberadaanya di dekat jalan tol menjadikan cepat atau lambat Desa Mangliawan dirangsek oleh bermuculannya permukiman baru, yang tentu berdampak sifnifikan bagi eksistensi sumber-sumber air di wilayahnya. Salam ‘bijak bestari’. Nuwun.

Sengkaling, PATEMBAYAN CITRALEKHA, 21 Septbr 2017

 

Total
16
Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*