MAKNA DAN FUNGSI ‘PAYUNG’ DALAM KONTEKS SOSIO-BUDAYA JAWA LINTAS ZAMAN

 

Saatnya ‘FESTIVAL KAMPUNG PAYUNG I’ 2017

MENGUAK MAKNA DAN FUNGSI ‘PAYUNG’ DALAM KONTEKS SOSIO-BUDAYA JAWA LINTAS ZAMAN : Kesejarahan Payung Jawa

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Payung, Perangkat Bersejarah yang Bermakna

Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Romo menyang Solo
Leh-olehe patung mutho
Mak jenthit ….., lo-lo-lobah, dst.

Demikianlah sebuah potongan kutipan syair tembang dolanan bocah berbahasa Jawa berjudul ‘Sluku-sluku Bathok’. Dalam syair lagu tersebut, ada pengharapan dari keluarga bahwa tatkala pulang dari bepergiannya ke Solo (menyang Solo), si Ayah (si Romo) bakal membawa payung sebagai ‘buah tangan (oleh-oleh, cendera mata, souvenir)’, Mengapa oleh-oleh yang diharap itu payung?, sebab daerah Solo – selain Tasikmalaya – ketika itu (ketika lagu ini diciptta) hingga kini merupakan daerah produsen dan sekaligus pemasaran seni-kriya payung ternama, baik untuk jenis payung tradisional dari bahan kertas (payung kertas) maupun payung yang berbahan kain dengan atap berbentuk kubah (payung mutho). Oleh karena itu tidak mengada-ada bila agenda tahunan ‘Festival Payung Internasional” digelar di Kota Solo dan terdapat gelaran yang serupa di Tasikmalaya.

Pengharapan yang tergambar pada syair lagu tersebut sekaligus memberikan menegaskan bahwa payung adalah buah tangan istimewa baik fungsi maupun makna yang diembannya. Payung adalah perangkat hidup yang telah demikian lama familier pada masayarakat Nusantara, baik dalam hal fungsi praksis sebagai peneduh dari panas dan hujan maupun sebagai property (alat perlengkapan) di berbagai peristiwa – termasuk sebagai properti pada peristiwa seni pertunjukan tari. Misalnya, pada ‘Tari Payung’, yang adalah tari khas Melayu, dimana pada sayair lagu pengiring tari berbunyi ‘tari payung untuk menghbur hati yang bingung’.

1. Jejak Sejarah Payung Jawa

Tidak berlebihan bila payung dikatakan ‘bersejarah’, mengingat bahwa payung meniti perjalanan sejarah pajang dalam sosio-budaya Jawa. Keberadaan payung pada Masa Hindu-Buddha bukan hanya tergambarkan pada relief candi, namun juga disebutkan dalam sumber data tekstual, baik prasasti ataupun susustra lama. Pada relief candi, acap terdapat tokoh yang dipayungi, Misalnya pada relief di batur Candi Jawi dari Masa Majapahit (abad XIV Masehu), yang menggambarkan perempuan-perempuan yang tengah berjalan kaki dinaungi dengan payung. Perempuan itu bukan wanita biasa, melainkan perempuan kalangan bangsawam. Salah seorang darinya, tepatnya yang mengenakan “jathamakuta (mahkota berupa rambut disanggul tinggi, seperti sorban)” boleh jadi adalah Gayatri (Rajapadni, yakni Neneknda Hayam Wuruk), yang dijemput dari tempat dimana Beliau menjalankan wanaprastai di hari tuanya,

Gambaran demikian didapati pula di Pendapa Teras II komleks Candi Penataran, yang juga berasal dari Masa Majapahit. Payung bulat tidak bersusun itu diperuntukkan bagi perempuan muda dari kalangan bangsawan yang tengah ditandu (berada di dalam joli) pada suatu perjalanan. Pada candi yang berusia lebih tua, payung buat seseorang dari kalangan bangsawan juga divisualkan di Candi Borobudur (abad VIII Masehi). Sudah barang tentu masih terdapat relief-relief candi lainnya yang memvisualkan payung, sehingga ada cukup bukti untuk menyatakan bahwa payung telah dikenal dan dipergunakan semenjak masa Hindu-Buddha. Tradisi memayungi bangsawan berlanjut hingga memasuki masa Perkembangan Islam, sebagaimana digambarkan pada gambar sket pada era awal kedatangan bangsa Eropa di Nusantara sebagai gambar realis atas dasar realita pada jamannya.

Pada masa lampau, payung bukan marupakan benda yang boleh dipunyai dan dipergunakan oleh sembarang orang, melainkan untuk lapisan sosial tertentu. Dalam sumberdata prasasti, khususnya prasasti yang berisi ‘penetapam status sima (perdikan)’, diperoleh siratan informasi bahwa jenis payung tertentu yang dinamai ‘pajeng wlu (payung bulat)’, hanya boleh dikenakan oleh kalangan bangsawa atau orang tertentu diluar bangswan yang memperoleh hak-hak istimewa. Jenis payung khusus lainnya adalah payung berwarna keemasan, yang dalam Kakawin Bharattayuddha dinamai ‘pajeng mas’. Dalam sumberdata prasasti maupun susastra Masa Hindu-Buddha, istilah dalam Bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan untuk penyebut payung adalah ‘pajeng’, yang kemudian vokal ‘e’ diganti dengan ‘u’ dan konsonan ‘j’ dengan ‘y’ di dalam bahasa Jawa Baru dan bahasa Indonesia. Kata jadian ‘apajeng’ berarti: berpayung, dan ‘pinajengan’ berarti: melindungi dengan payung (memayungi). Istilah ini antara lain didapat dalam Kakawin Bharattayuddha (1.14 dan 15, 9.5), Harisraya B (23.5), Hariwangsa (27.10), Krensnataka (39.4), Kidung Ranggalawe (7.151, 9.8 dan 10) serta Kidung Harsyawijaya (2.43).

Payung adalah karya kerajinan (kriya), dan khususnya untuk payung berhias dapat dimasukkan dalam kategori ‘seni kriya’. Tidak semua orang dapat membuat payung. Oleh karena itu, payung adalah hasil karya dari para perajin khusus dan ahli (undagi, undahagi), yang dalam konteks ini bisa disebut ‘undagi pajeng’, salah satu profesi atau pencaharian khusus yang diprakirakan telah terdapat di Jawa pada abad VIII Masehi. Sebagai suatu jenis mata pencaharian, maka perajinnya dikenai pajak oleh kerajaan dengan besaran pajak diatur oleh pihak kerajaan, yang dikumpulkan oleh petugas pengungumpul pajak (mangilalala drawyahaji) melalui ketua (tuha atau jiru) perajin payung.


Sayang sekali tidak diperoleh kejelasan mengenai bahan pelapis atap payung, apakah kain ataukah kertas. Jika kertas, apakah telah terdapat perajin kertas di Nusantara kala itu, atau barangkali kertas didatangkan dari negeri luar Nusantara, entah India atau Cina. Apabila menilik relief-relief yang menggambarkan payung, ada kecenderungan bahwa payung-payung pada masa lampau bertangkai panjang (sapanggalah) dan berukuran besar. Payung yang berukuran amat besar, sebagai peneduh lapak jualan, ada kemungkinan memakai bahan pelapis atap dari dedadunan atau ayaman bambu. Payung berukuran sedang dengan tangkai pendek kemungkinan sebagai pengaruh dari Cina, yang berkembang di Nusantara pada masa yang lebih kemudian.

2. Urgensi Telaah Fungsi dan Makna Payung

Apabila payung diposisikan sebagai ‘benda praksis’, maka payung hanya dilihat sebagai barang yang hanya ‘penting sesaat’. Artinya, dipadang pemting jika tengah dibutuhkan dan dipergunakan. Orang menghadapi kesulitan untuk dapat melalukan mobilitas ketika hujan sementara dirinya tidak membawa payung. Ia terkurung beberapa lama di suatu tepat dan tak dapat bergerak hingga hujan reda. Apabila terburu waktu, maka terpaksa ia membayar jasa ‘ojek payung’, atau nekat berbasah-kuyup. Pasca hujan, payung cenderung untuk dikesampingkan. Kurun waktu padamana payung dipandang penting adalah musim penguhujan, khususnya ketika tengah turun hujan. Oleh karena itu, di musim kemarau atau kurun waktu tidak sedang turun hujan, payung semacam barang yang ‘kelihangan fungsi, menjadi benda menganggur’. Kalaupun di musim kemarau terdapat orang yang berpayung, hal itu dilakukan karena ada pertimbangan atau kepentingan khusus. Misalnya ketika membawa bayi. Konon bayi dan payung mempynyai relasi yang kuat, sehingga salah satu properti tari yang penting pada tari bondan adalah boneka, payung dan kendi. Konon pula untuk mencegah sengatan langsung dari terik sinar matahari, para wanita cantik dari kalangan atas di negara-negera tropis memakai payung sebagai peneduh, meskipun acap muncul kata cemooh ‘kemayu, kemenyek, koyok nonik-nonik Londo’ bagi pemakainya.

Fungsi non-praksis payung tak mengenal pengaruh waktu dan musim. Misalnya, payung sebagai simbol kebesaran dimekarkan untuk menangungi singgasana, meskipun lokasinya di dalam ruang. Payung sebagai petanda kebangsawanan hampir senantiasa tidak dimekarkan (mingkup) dan hanya ditancapkan tangkainya di tempat tertentu bersama dengan tombak di dalam ruang. Payung yang demikian, memang tidak difungsikan sebagai perangkat peneduh. Oleh karenanya, payung musti dilihat secara kontekstual, baik dalam konteks waktu, fungsi, makna, dan latar sosial penggunanya.

Sebagai suatu barang yang familier pada masayarakat Jawa semenjak amat lama, maka payung terintegrasi dalam sosio-budaya Jawa, Bukan hanya sejak hadirnya ‘Payung Eropa’ yang berwujud ‘payung mutho’ pada Masa Kolonial, namun payung telah menyejarah sejak Masa Hindu-Buddha. Bahkan, jenis ‘payung natural’ berupa daun pohon tertentu sangat bisa jadi telah digunakan sedari pra-Masa Hindu-Buddha (Zaman Prasejarah). Payung oleh karenanya perlu untuk dilihat sebagai peralatan hidup yang adaptif di negara-negara yang beriklim tropis sebagaiamana Indonesia, yakni sebagai peneduh dari deras guyuran hujan di Musim Penghujan dan peneduh panas terik mentari manakala Musim Kemarau, namun perlu pula dilihat sebagai ‘benda simbolik’ yang mempunyai beragam makna dalam sosio-budaya khalayak penggunanya. Atas dasar realitas historis dan sosio-kulturalnya itulah, maka bahasan ini merupakan ikhtiar untuk menguak makna dan fungsi payung dalam sosio-budaya Jawa lintas zaman.

B. Kategori Jenis dan Bentuk Beragam Payung

Ditilik dari bahannya, terdapat dua kategori payung, yaitu: (1) payung natural, (2) payung artifisial. Payung natural adalah suatu jenis payung yang berasal dari unsur alamiah, yaitu suatu bagian dari tanaman, utamanya danun. Payung jenis ini lazim dinamai ‘payung daun’. Ada daun pohon-pohon tertentu yang terbilang lebar, yang kerenanya dapat dimanfaatkan sebagai ‘alat peneduh’, seperti daun pisang, daun keladi atau talas, daun pohon tal (rontal), dsb. Pada relief cerita ;Parthayajna’ di teras II candi Jajaghu (Jago) dari abad XIV Masehi terdapat sebuah panil yang menggambarkan Partha (mana alias ‘Arjuna’ ketika muda) yang tengah berpayung daun pisang tatkala hujan lebat dalam perjanan panjang bersama dua punakawan menuju ke tempat petapaan di Gunung Indrakila. Hanya tuannya (Partha) yang berpayung daun pisang, sedangkan kedua punakawannya yang tidak berpayung terguyur hujan lebat. Tradisi lama berpayung daun pisang terlanjut di daerah pedesaan hingga beberapa dasawarsa terahir, khususnya ketika kodisi darurat tak membawa payung artifisial atau jas hujan (yang memang tak terbiasa olehnya).

Adegan berpayung daun pisang hadir sebagai kisah di dalam susastra lama. Bahkan, adegan mesra sepasang kekasih berpayungkan daun pisang pun hadir dalam syair lagu dangdut bertajuk ‘Memori Daun Pisang’ yang pernah dinyanyikan oleh Solid AG-Ine Sinthya, dengan penggalan bait terahir berbunyi:
…………
Kenangan malam minggu
waktu jalan-jalan
Berdua jalan kaki saat turun hujan
Memori daun pisang takkan terlupakan
Memori daun pisang menjadi kenangan

Boleh jadi, payung yang terdiri atas dua bagian utama, yaitu: (a) bagian tangkai, dan (b) bagian atap yang mengembang, diilhami oleh bentuk tanaman, yaitu jamur, sebagaimana tergambar pada jenis dan bentuk jamur ‘jamur payung’. Bentuk dasar rumah pun ada yang diilhami bentuk jamur, utamanya rumah sederhana bertiang tunggal (bangunan soko tunggal), yang di dalam istilah Jawa Kuna disebut ‘patani jamur’. Bentuk bangunan demikian acap tampil di relief candi Masa Hindu-Buddha dan ukir kayu cungkup makam Islam Periode Kewalian. Bentuk payung nampaknya juga menginspirasi sebutan jenis paku yang bagian atasnya mengembang, yang dinamai ‘paku payung’, yang menyerupai paku pines namun berukuran jauh lebih besar.

Jeruji-jeruji yang dirangkai dari satu titik sentrum yang bisa dikembangkan melingkar boleh jadi diilhami oleh jeruji roda yang juga berpola lingkaran konsentris. Oleh karena itu, sebagai properti tari, payung yang diputar apabila dilihat dari arah samping menyerupai roda yang tengah berputar untuk menggerakkan kereta. Demikianlah payung kategori “payung artifisial (buatan)’ boleh jadi pembentukkannya diilhami oleh tanaman jamur, bangunan patani jamur maupun roda kereta untuk jeruji payung. Untuk jenis ‘payung mutho’, yang atapnya berbentuk kubah, apabila menilik unsur sebutannya ‘mutho (parasut untuk terjun)’, sangat mungkin diilhami oleh bentuk bentuk parasut terjun ini, sehingga dapat difahami bila terdapat sebutan ‘terjun payung’.

Bila ditlik dari bentuk dan bahannya, terdapat kategori” (1) payung kertas, dan (2) payung mutho’. Payung kertas menggunakan tangkai, poros tancap bagi jeruji-jeruji maupun kemuncak (pengunci atas) dari bahan kayu, jeruji-ketuji dari bambu, dan pelapis atap dari kertas. Bahan yang berupa kertas inilah yang nampaknya menjadi dasar penyebutannya sebagai ‘payung kertas’. Oleh sebab jeruji-kerujinya terbuat dari bambu dan pelapis atapnya dari kertas, maka bila payung dimekarkan atap payung hanya mampu bekembang melingkat dengan permukaan atap bersudut miring sekitar 20 derajad. Hal ini berbeda dengan karegori ‘payung miutho’ yang jerujinya dari logam dan pelapis atap dari kain, sehingga bila dimekarkan mampu menghasilan bentuk atap kubah (mutho).

Payung kertas boleh jadi hadir lebih awal (Masa Hindu-Buddha) sebagai pengaruh budaya Inda, lalu dipercanggh oleh pengaruh payung dari Cina. Negeri Cina – selain Jepang dan Korea – dikenal sebagai produsen payung kertas yang artistik dan canggih. Payung mutho hadir lebih lemudian, sebagai pengaruruh Payung Eropa pada Masa Kolonial. Oleh karena itu, ada cukup alasan untuk mempredkati payung kertas yang telah meniti perjalanan sejarah panjang tersebut sebagai ‘payung tradisional’. Meski hadir lebih belakangan, namun payung mutho, yang telah berabad-abad hadir di Nusantara dan telah diadaptasi dengan budaya lokal, dapat pula dipredikati ‘payung tradisiional’.

Ukuran payung berbeda-beda, mulai dari (a) payung kecil, (b) payung sedang, (c) payung besar, hingga (d) payung amat besar. Payung kecil diperuntukkan bagi anak-anak untuk fungsi praktis atau sekedar mainan. Payung jenis ini juga acap digunakan sebagai pelengkap dalam ritus-upacara, properti tari, hisan ruang, dsb. Adapun payung amat besar konon dijadikan sebagai peneduh pada lapak dagang bersahaja di pasar-pasar tradisonal. Pilihan kepada payung kertas berukuran besar sebagai peneduh di pasar traidisional dipandang tepat, mengingat bahwa pasar lama tak terdiri atas lapak-lapak (kios, bedak) permanen yang buka setiap hari, melainkan hanya dibuka sehari dalam sepekan (sepasar, lima hari), bahkan ada yang hanya buka sesaat di pagi hari. Pasca itu kembali menjadi tanah lapang atau areal berbentuk lainnya tanpa lapak. Payung kertas sebagai peneduh lapak, yang merupakan kenampakan umum pada Masa Hibdu-Buddha hingga pra-Kemerdekaan RI termasuk di Pasar Baru Batavia (kini ‘Jakarta’) masih bisa dijumpai pada banyak tempat di Jawa Tengah hingga beberapa dasawarsa terakhir. Kini keberadaannya digantikan oleh payung besar bertiang dan berjerujui logam dengan atap kain untuk fungsi yang serupa.

Varian bentuk payung kertas tradisional adalah apa yang dinamai ‘songsong’, yakni payung yang memiliki atap bersusun dengan jumlah susunan gasal (ganjil). Atap payung bersusun ini boleh jadi diilhami oleh bangunan beratap tumpeng (meru), yakni bangunan suci dan bangunan penting lain di Jawa masa Hindu-Buddha dan masa-masa selanjutnya. Sebagaimana halnya dengan bangunan beratap meru yang berfungsi khusus, songsong juga digunakan sebagai perangkat yang sakral dan simbolik ketika beralangsung acara khusus, seperti dalam ritus-ritus lingkaran hidup manusia (life ctritis ritual), petanda kebesaran, dsb. Payung serupa itu acap kedapatan sebagai komponen teratas dari bangunan stupa, yang dinamai ‘catra’. Payung yang ditempatkan sebagai komponen teratas juga didapati pada panil relief kalpataru yang banyak terdapat di kompleks candi Prambanan dan Borobudur, yang seolah menaungi pohon kalpa (kalpataru, kalpawreksa, kalpadeuma). Padahal. kalpataru itu sendiri merupakan pohon kehidupan atau pohon keabadian yang peneduhi kehidupan segala makhluk. Dengan demikian, simbolisasi ini memberikan gambaran bahwa payung adalah ‘penaung dari segala nagungan’.

C. Ragam Fungsi dan Makna Payung

Bagi Indonesia yang memiliki iklim tropis, dengan panas yang terik di musim kemarau, sebaliknya dengan hujan yang deras di musim penguhujan, perangkat peneduh yang berupa payung sangat dibutuhkan. Payung karenanya hadir hampir di setiap rumah tangga selian caping. Sebagai barang yang dibutuhkan oleh banyak orang, industri payung memiliki pasar yang luas. Pada sisi lain, tidak semua orang dapat membuat payung, sehingga terdapat ketergantungan terhadap produk perajin atau industri payung. Demikian pula, tidak semua orang bisa memperbaiki payungnya yang rusak, sehingga akhir-akhir ini muncul usaha jasa ‘servis payung’. Jasa payung di kota-kota besar bahkan merambah kepada ‘ojek payung’ bagi yang membutuhkan payung ketika hujan turun lantaran yang bersangkutan tidak membawa payung. Ragam bentuk payung karena olah kreasi produsen payung menyebabkan payung masuk dalam khasanah ‘mode’ bahkan ‘trend mode’. Beberapa waktu lalu misalnya, terjadi ‘tren mode payung sesaat’, yakni ‘payung biru (blue umbrella)’ yang mendadak viral setelah Presiden Joko Widodo mengenakan payung warna biru sebagai peneduh dari girimis ketika menuju tempat sholat Jumat di Lapangan Monas pada ‘Aksi 212’ tanggal 2 Desember 2016.

Fungsi payung dapat dipilahkan menjadi: (a) payung dalam fungsi praksis, yaitu payung yang digunakan untuk kebutuhan praktis sebagai perangkat peneduh dari panas dan hujan; (b) payung dalam fungsi non-praksis, bahkan simbolik. Dalam fungsi terakhir, tersirat makna-makna tertentu, sehingga payung bukan hanya sekedar barang biasa melainkan benda khusus untuk fungsi khusus pula. Salah satu makna simboliknya berkenaan dengan ‘kukuasaan”. Kalimat simbolik ‘…………. nagari-nagari yang berada di bawah payung kemaharajaan Majapahit’ menunjuk kepada kerajaan-kerajaan bawahan (vasal, nagari) yang berada di bawah kekuasaan politik kerajaan Majapahit. Payung sebagai simbol kekuasaan tampil secara visual pada prasasti era Girindrawatddhanavamsa di Masa Akhir Majapahit (abad XV-XVI Masehi). Simbol payung sebagai lambang kekuasaan ini hadir bersama dengan tombak dan telapak kaki (bisa juga ‘terompah’). Hal ini mengingatkan kita kepada payung dan tombak yang menjadi petanda bahwa pemiliknya adalah bangsawan Mataram (termasuk setelah perpecahannya menjadi: Ngayogyokartohadiningrat dan Surakartahadiningrat). Kendatipun para bangsawan itu tinggal jauh dari pusat kekuasaan (mancanagari), namun dengan petanda itu – selain layang kekancingan dan silsilah – merasa mempunyai bukti bahwa ia adalah bangsawan kasultanan Mataram.

Payung sebagai petanda terkait dengan kebangswanan tergambar pula pada kettntuan masa lampau bahwa payung, khususnya payung tertentu yang disebut ‘pajeng wlu’ dan ‘pajeng mas’, hanya boleh digunakan oleh bangsawan atau otang yang meski bukan bangswan namun memperoleh hak istimewa dari kerajaan. Oleh karena itu, dengan melihat siapa yang dipayungi saja telah tergambar apa lapisan sosialnya. Waran emas pada konteks ‘pajeng mas’ tersebut menjadi ‘petanda warna’, yang secara umum dihubungkan dengan kebangsawanan atau lingkungan keraton. Dalam kaitan dengan warna payung, ‘payung hitam’ merupakan payung khusus yang dalam budaya Eropa lazim digunakan di areal makam sebagai petanda duka-cita ketika upacara penguburan. Tradisi demikian kini merambah ke Indonesia. Pada masa sekatang payung sebagai petanda lapis sosial, khususnyya lapisan sosial kebangswamam telah tak lagi berlaku, sebab siapapun beleh memakai payung dalam bentuk, warna dan ukuran apapun, terkecuali untuk jenis payung ‘sosong (payung bersusun)’, yang hingga kini masih berfungsi khusus terkait dengan lokasi dan peristiwa khusus, seperti peristiwa perkawinan, penobatan, singgasana raja, dsb., sehingga tidak lazim (aneh) apabila ada orang jalan-jalan di bawah terik matahari dengan berpayungkan songsong.

Payung tertentu tak jarang dijadikan sebagai pertanfkat untuk peistiwa tertentu. Misalnya payung dipergunakan untuk menaungi tempat padamana ari-ari (potongan tali pusar) ditanam – kadang diganti dengan sangkar ayam berukuran kecil dan berbentuk silindris. Terdapat pula payung yang digunakan sebagai perangkat untuk menaungi anak yang dikhitan (manten sunat), pengantin, dan jenazah. Dengan demikian, tergambar bahwa pada setiap ritus perubahan fase kehidupan manusia secara simbolik disertai dengan ‘pemberian naungan (payung)’. Sebagai peneduh payung memang acap dimaknai sebagai pemberi naunngan atau pengayom. Pemerintah mustinya bagaikan payung, yang mengayomi siapa saja yang menjadi rakyatnya, dan bukan sebaliknya malah minta dinaungi oleh rakyatnya. Oleh karena itu, apabila tidak mampu berperan sebagai ‘pengayom’, timbul protes seperti tergambar dalam ‘Revolusi Payung’ pada tanggal 1 Oktober 2014, bertepatan dengan ulang tahun ke-65 pemerintahan Komunis Cina. Suatu demonstrasi anti-pemerintah di Hong Kong untuk apa yang dikalimati dengan “Kami berjuang untuk demokrasi yang adil”.

Pada konteks lain, payung menjadi simbol ‘pemberian pertolongan’. Dalam susastra Jawa terdapat kelimat yang bermakna kesetiakawanan sosial berbunyi ‘aweh payung marang wong kaudanan, aweh payung marang wong kepanasan (memberikan payung terhadap orang yang kehujanan atau kepanasan)’. Penggunaan sebuah payung secara bersama oleh dua orang atau lebih bisa dimaknai sebagai ‘kebersamaan’, bahkan ‘kemesraan’ – bagi dua insan yang tengah pemadu kasih kendati dalam kesederhanaan, sebagaimana tergambar di dalam syair lagu ‘Memori Daun Pisang’ diatas. Adapun makna ‘payung mutho’ sebagai cenderamata (oleh-oleh) dalam tembang dulanan ‘Sluku-sluku Batok’ memberi ganbaran mengenai kasih sayang ayah dan penyenang hati kepada anggota keluarga yang ditinggal bepergian. Dapat pula ditambahkan fungsi payung sebagai properti tari, seperti pada tarian tradisional Jawa ‘tari bondhan’ ataupun tarian Melayu ‘tari payung’, dan tarian lain yang juga berpropertikan payung. Pendek kata, payung tak sekedar berfungsi praksis, namun juga berfungsi sebagai ‘pelengkap’ bagi aneka kegiatan, yang bahkan simbolik-bermakna. Akhir-akhir ini muncul varian fungsi payung lainnya, yakni sebagai aksesori (penghias) ruang.

D. Menuju “Kampung Wisata Kriya Payung’ Lowok Padas

Payung adalah benda yang menyejarah. Realitas menyejarah dari payung ternyata melekat pula pada kerajinan (kriya) payung di kampung pinggir timur Kota Malanga, yaitu Kampung Lowok Padas Kelurahan Pandanwangi Kecamatan Blimbing. Latar kesejarahan hadirnya kriya payung di Lowok Padas terkait dengan sejarah ‘Perang Mempertahakan Kemerdekaan RI’, utamanya Agresi Militer I pada tahun 1947, yang mulai meletus pada bulan Ramadhan, 21 Juli 1947. Brigade infanri Belanda (KNIL) yang berpangkalan di Kotapraja Surabaya berhasil menerobos garis pertahanan Divisi VII (Untung Surapati) di Porong. Terjadilah pertempuran sengit di daerah Porong, yang menjadi picu terjadinya pengungsian warga sipil. Belasan orang dari Desa Tanggulangin di Porong mengungsi jauh ke Lowok Padas, dan diterima dengan baik (semanak) oleh warga, meski pada akhirnya Belanda juga memasuki Kota Malang terhitung sejak 31 Juli 1947.

Filosofi simbolik payung yang berkenaan dengan ‘kesetiakawanan sosial’, yakni ‘aweh pitulungan (memberi pertolongan)’, tergambar pada peristiwa tersebut. Yang menarik untuk dicermati adalah terjadinya ‘relasi saling mengutungkan (mutualistik)’. Warga Lowok Padas memberi pertolongan kepada pengungsi perang asal Tanggulangin, sebaliknya para pengungsi asal Tanggulangin yang berprofesi sebagai perajin payung mengajarkan ketrampilannya kepada warga Lowok Padas. Pasca Perang Kemerdekaan (1945-1948), atau awal tahun 1950-an, terdapat sekitar 20 Kepala Keluarga di Desa Pandawangi yang berprofesi sebagai perajin payung kertas yang artistik, sehingga desa ini untuk sekitar empat dasawarsa dikenal di antero Malang sebagai ‘Desa Pekriya Payung’.

Kini tinggal beberapa orang saja dari para perintis kriya payung di Kampung Lowok Padas yang masih hidup. Bahkan hingga beberatahun lalu, tinggal Mbak Rasimun saja yang masih bertahan untuk konsisten sebagai perajin payung kertas. Seiring dengan maraknya hasil prodksi pabrikan payung mutho, di banyak daerah produksi payung kertas tergilas. Tidak sedikit yang menyandang status ‘almarhum’, atau setidaknya ‘mati suri’. Kerajinan payung di Kampung Lowok Padas pun sempat memasuki ‘fase mati suri’ hingga dua atau tiga dasawarsa lamanya. Lewat ikhtiar ‘Festival Kampung Payung’ tahun 2017 ini, ada keinginan warga untuk merevitalisasikan kriya payung di kampungnya, bahkan ingin menjadikan Kampung Lowok Padas sebagai ‘Kampung Wisata Kriya Payung’. Semoga kedepan pekriya payung di kampung ini kian bertumbuh, sehingga Lowok Padas benar-benar hadir sebagai sentra kerajinan payung yang berkarater di Jawa Timur. Papakabhutihi (semoga menjadi kenyataan). Mugi migunani, Nuwun.

Sengkaling, 12 November 2017,
PATEMBAYAN CITRALEKHA

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*