Connect with us

BUDAYA

REFLEKSI PESAN BUDAYA ‘TRESNO BOCAH’ PADA ‘DEWI PENYAYANG ANAK’ HARITI DALAM KESEJARAHAN JAWA DAN BALI

Avatar

Published

on

 

Kado ‘ULTAH’ buat Anes, 1711

REFLEKSI PESAN BUDAYA ‘TRESNO BOCAH’ PADA ‘DEWI PENYAYANG ANAK’ HARITI DALAM KESEJARAHAN JAWA DAN BALI

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Sayang Anak, Sadar Regenerasi

Masih ingatkah dengan sebuah lagu anak tempoe doeloe?, yang berlirik sederhana sebagai berikut:

‘Bila kuingat lelah ayah-bunda
bunda paira, piara akan daku
sehingga aku besarlah.
Waktu ku kecil hidupku
amatlah senang, senang dipangku
dipangku dipeluknya, serta
dicium-dicium dimanjakan,
namanya kesayangan’.

Lagu ini membawa pesan ‘sayang anak (tresno bocah)’ dari ayah dan bunda kepada anak. Menurut syair lagu karya Daljono (akrab disebut ‘Pak Dal’) berjudul ‘Bunda Piara’, ekspresi sayang anak cukup dilakukan bersahaja, meski hanya dengan memangku, mencium ataupun memanjakan anak. Sikap dan perilaku menyayang anak ini menjadi amat kontans bila dibandingkan dengan sejumlah berita pada akhir-akhir ini mengenai ‘kekerasan terhadap anak, yang tidak jarang hingga melukai bahkan menelan korban jiwa anak. Ironisnya, beberapa diantaranya justru dilakukan oleh oknum orang tua sendiri – entah orang tua kandung, orang tua tiri, atau orang tua angkat. Sayang anak yang mustinya adalah ‘panggilan jiwa, naluriah’ pada diri orang tua, orang dewasa atau siapapun, di satu pihak mengalami degradasi (kemerosotan), namun sebaliknya pada pihak lain tidak sedikit orang tua yang berupaya untuk mencari dan menemukan beragam cara untuk menyayangi anak, yang untuk itu sanggup keluarkan biasa besar. Padahal sayang anak bisa dilaksanakan bersahaja sekalipun, sesuai dengan kemampuan dan konteks lingkungannya. Setiap orang, dan tak terkecuali setiap binatang, mecurahkan kasih sayangnya kepada anak dengan cara khasnya, yang boleh jadi berlaian satu sama lain, namun dengan muara yang sama, yakni ‘tresno bocah’.

Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua orang tua sayang anak, Tentulah hal ini merupakan ‘kelainan (anomaly) kemanusiaan’. Lantaran rasa malu hamil di luar nikah, ada saja ibu yang tega-teganya membuang, bahkan dengan sadis membuuh orok yang tiada lain adalah ‘darah danging’nya sendiri. Dalam wiracarita arkhais Mahabaratta dikisahkan bahawa ibu Kunti melarung (menghanyutkan) orok (kelak dikenal dengan nama ‘Karna’) karena jabang bayi ini tak lahir dari benih biologis suami syahnya (Pandudewanata). Susastra roman tertua di India, yakni ‘Syakuntala’, juga mengisahkan bahwa bayi mungil — kelak oleh ayah angkatnya, seorang rsi pada suatu mandala di tepi Bengawan Yamuna, diberimana ‘Syakuntala’, terpaksa dilarnng ke sungai karena perkawinan keduanya tak disetujui keluaga. Apalafi ibu bayi harus ditinggal laku ibadah dalam waktu lama oleh suami. Demikian pula, ni Ndok oleh susastra gancaran (prosa) Paparaton dikisahkan terpaksa membuang bayi yang baru dilahirknya pada tengah malam ke pabajangan (kuburan bayi) lantas dikemukan dan dijadijan anak angkat oleh pencuri Lembong/ Bayi tak berdosa itu dibuang lantaran ‘rasa malu’nya, karena bukan lahir dari suami syahnya (Gajapara dari Camara) melainkan hasil sanggama-nya di Tgal Lalateng dengan yang disimbolkan sebagai ‘Brahma’.

Sayang anak adalah wujud kesadaran di tahap dini mengenai urgensi regenerasi. Anak merupakan penerus generasi, mata rantai antar generasi, sekaligus aset masa depan kehidupan. Bagaimana derita orang tua yang tidak dikarunia keturuan, lantaran khawatir bahwa rantai kehidupan darinya bakal terputus setelah kematiannya, Dalam kaitan itu, dapat disadari mengapa terdapat ritus untuk memperoleh kesuburan (fertility cult), antara lain menggunakan media berupa kesatuan ‘Lingga-Yoni” – simbol integrasi unsur mikro-kosmik, yakni feminin (Yoni) dan maskulin (Lingga), yang bermakna ‘kesuburan’. Baik kesuburan tanah, kesuburan tanaman, atau kesuburan anak. Sebagai aset keluarga, malahan ada pendapat bahwa tiada harta keuarga yang lebih berharga selain ‘anak’, jauh melebihi keberhargaan harta-benda. Ada pula perkataan bijak dari ayah atau ibu pekerja ‘aku gulung-gemek nyambut gawe, mbuh kucing-kucing diraupi, kanggo sopo maneh yen ora kanggo anak (saya bekerja keras, entah seperti membasuh muka kucing, untuk siapa lagi apabila bukan demi anak)’. Agama apapun oleh karenanya menempatkan pencarian nafkah untuk anak sebagai ‘laku ibadah’.

Dalam “Dinamika Kehidupan Anak-Anak Pada Masa Jawa Kuno Abad VII-XV Masehi”, yang termuat dalam Jurnal Makara Sosial Humaniora Vol 12 No 1 (2008), diyatakan bahwa anak-anak (baala) dapat diartikan “manusia kecil, yang masih sangat muda usia, Dalam pengarcaan dan relief candi, usia anak yang diganbarkan di bawah lima tahun (balita) hingga duabelas tahun, atau kadang lebih. Acap postur tubuh anak digambarkan komis. Misalnya, di Candi Borobudur terdapat reief pahatan anak dengan pakaian minim, tubuh terlihat gemuk, pipi montok, dan wajahnya ceria. Pada candi ini pula diperoleh gambaran bagiamana upaya orang tua untuk menyenangkan hati anak, antara lain dengan mengajakkannya ke pasar, karena kala itu – bahkan hingga beberapa dasawarsa lalu — kelompok pertunjukan keliling (ambarang) jamak ditemui di areal pasar. Akrobat dan seni pertujukan laim adalah atraksi yang disenangi oleh anak-anak.

B. Jejak Budaya ‘Dewi Kesuburan Anak’ Hariti

Dalam konsep ‘dualisme kosmologis’, wanita berada dalam kategori sama dengan tanah sebagai tempat tumbuh-berkembangnya aneka tanaman maupun air sebagai unsur penyubur tanah. Oleh karena itu, semenjak Masa Perundagian di Zaman Presejarah hadir arca megalitik yang dinamai ‘Arca Dewi Ibu (Mother Goddes)’, yang dijadikan media ritus untuk memperoleh kesuburan, baik kesuburan tanah, tumbuh-berkembangnya secara subur tanaman agraris, maupun kesuburan anak. Sebagai simbol kesuburan, Dewi Ibu yang dipahatkan amat bersahaja dan acap tak proporsional, memiliki indikator anatomis terkait dengan kesuburan, seperti payudara besar sebagai gambaran wanita yang menyusui anak atau berpantat besar sebagai gambaran wanita yang sedang hamil. Ciri fisik yang tergambar pada wanita hamil dan menyusui itu sengaja dijadikan bahan pertimbangan dalam mempersonifikasikan Dewi Ibu (Dewi Kesuburan). Konsepsi Dewi Kesuburan pada Masa Hindu-Buddha, yang meski memiliki benyuk, sebuatan, dan latar mitologis yang berbada dengan Dewi Ibu dari tradisi megalitik, namun sesunggungnya mempunyai dasar konsepsional yang tidak jauh berbeda antara keduanya. Keduanya adalah fenomena ‘paralelisme’ di dalam sejarah-budaya Nusantara lintas masa berkenaan dengan konsep religis tentang ‘kesuburan’. Diantara arca megalitik itu, terdapat gambaran ibu menyusui di situs magalitik Pasemah.

Terdapat relasi biologikal antara ibu-anak, mengingat bahwa ibu (‘induk’ untuk binatang) adalah makhluk yang menandung, melahirkan/menetaskan, dan mengasuh anak sedari muda usia. Oleh karena itu, dalam seni arca dan relief candi (ikonografi) di Jawa dan Bali didapatkan arca dan relief Dewi Hariti, yang dikonsepsikan sebagai “Dewi Buddha Kesuburan”, sekaligus “Dewi Penyayang dan Pelindung Anak” (Liebert, 1975). Hariti juga dikenal dalam agama Hindu dan legenda di Bali dengan nama ‘Men Brayut’. Menurut mitologi, Hariti adalah adalah adik yaksa Saptagiri sebagai pelindung Rajagriha, dengan nama ‘Abhirti’. Suaminya adalah Pancika, anak Pancala, yakni yaksa pelindung Gandhara. Pernikahan keduanya melahirkan 500 orang anak, sehingga disebut ‘panca-putra-sata-parivara”. Yang paling disayanginya adalah si bungsu bernama ‘Priyangkara’.

Abhirti amat suka memakan anak-anak, sehingga diberi sebutan ‘Hariti’. Hal inilah yang membuat rakyat Rajagriha bersedih, dan kemudian mendekati Sang Buddha untuk mohon pertolongan guna menyelamatkan anak-anak dari pemangsaan Hariti. Taktiknya, Buddha membawa anaknya yang bungsu (Priyangkara). Ketika pulang Hariti tidak menemukan Priyangkara di rumah. Dicarinya ke mana-mana dengan perasaan sedih, bahkan nyaris putus asa. Hariti pun minta pertolongan kepada Buddha untuk dapat mengembalikan anak bungsunya. Sang Buddha menanyakan latar kesedihnya, dan dijawab bahwa ia kehilangan salah satu dari 500 anaknya. Padahal, pada sisi lain Hariti adalah makhluk yang tak mengenal belas kasih, gemar melahap anak-anak. Sejak itu, Hariti menyadari kebodohannya, dan akhirnya berkenan mengikuti ajaran sang Buddha, utamanya ‘dharma ahimsa (pantang melakukan kenyiksaan, apalagi pembunuhan terhadap makhluk hidup)’, sehingga terjadi perubahan drastis pada sikap maupun berilakunya dari’pemangsa anak’ menjadi ‘penyayang atau pelindung anak’, sehingga suka citalah rakyat Rajagriha (Gupte 1972, 119; Getty 1962, 85). Hariti tidak lagi memakan daging manusia, dan sebagai balasannya, atas saran dari Sang Buddha maka orang-orang berjanji untuk menjaga anak-anaknya dengan memberinya persembahan makanan,.

Pada semua vihara di India Utara warga menyisihkan sebagian makanannya kepada Hariti dan 500 anaknya, dan arcanya diposisikan mengarah ke ruang makan. Menurut Yuan Chwang dan I-Tsing (abad VII Masehi), kala itu ditemukan sebuah altar yang didedikasikan buat Hariti. Selain di India Uatara, Hariti juga dipuja di India Barat, bahkan akhirnya populer pula di Nepal, Tibet, Cina, Jawa, Bali, dan Turkestan. Pada umumnya Hariti ditampilkan bersama pasangannya, yaitu Pancika, yang merupakan tentara Dewa Kubera (Kuwera). Pada pengarcaan biasanya Hariti digambakan dalam posisi duduk atau berdiri dengan dikelilingi lima orang anak, yang diduga mewakili 500 anaknya. Salah sebuah tangannya membawa delima, sebagai simbol kesuburan. Delima juga melambangkan penyembuhkan dari kanibalisme dengan melakukan ‘diet buah delima’. Warna buah delima yang merah menyerupai daging manusia, santanpan yaksa Hariti ketika masih kanibalis.

Hariti menempati posisi penting dalam literatur Buddhis, sebagai simbol ‘Motherhood (Keibuan)’. Hariti diyakini sebagai ‘pengusir pengaruh jahat yang menimpa anak-anak’, sehingga menurut L. Chandra (KITLV No. 133 tahun 1977) pemujaan terhadapnya berkenaan dengan kematian anak yang tinggi pada masa kuno. Di dalam pujian terhadapnya, Hariti dipuja sebagai dewi kesuburan, tepatnya kesuburan anak. Rahimnya tak pernah gagal, mampu melahirkan anak sekuat bajra. Hariti mempunyai kekuatan untuk memurnikan seperti langit, memberikan umur panjang, penebus atau menghapus semua dosa, pembebas dari ketakutan dan penderitaan dengan membasmi orang jahat. Hariti mampu pempertahankan janin, menaklukkan semua musuh, hancurkan segala yang menodai untuk melindungi hidup pribadi, keluarga dan semua makhluk yang tak berdaya. Dewi yang dipuja oleh semua kelas, mahakuasa dan memberkati ini digambarkan bagai teratai, mengenakan mahkota dan kalung berhias pemata, memakai kain dari tenun bervariasi dan eksotis, serta berpenampilan jinak. Namun demikian, dalam hal tertentu tampil sengit dan menakutkan, mengingat bahwa pada mulanya adalah seorang yaksini. Hari juga diyakini sebagai Dewi Pengetahuan yang amat esoteril, gemilang, dan diterangi oleh murni cahaya.

Secara anatomis, aspek kesuburan tergambar pada proporsi tubuhnya yang subur (kegemukan). Adapun predikatnya sebagai ‘penyayang anak’ tergambarkan pada dua atau lebih pahatan yang menggambarkan anak-anak yang menyertainya. Rasa sayangnya terhadap anak menjadikannya senantiasa berada di lingkungan anak, bahkan dikerubuti oleh anak-anak, yang mengingatkan kita kepada ‘ibu panti asuhan anak’ pada masa sekarang. Dalam naskah Tibet yang ditemukan Waddell, Hariti digambarkan berwarna merah, dengan seorang anak di payudara kanan dan musang pada payudara kirinya. Tangan kanannya bersikap waramudra (simbol pemberian anugerah), dan pada tangan kirinya terdapat semangkuk perhiasan yang melambangkan ‘pemberi kekayaan’ (Getty 1962: 86). Namun uniknya, apabila dicermati raut wajahnya memlihatkan sepasang siung (taring) di celah bibirnya, yang menandakan bahwa ia memiliki latar keraksasaan (demonis, yaksa wanita atau yaksini). Hariti acap ditampilkan berpasang dengan suaminya, yakni Pancika. Reliaf Hariti-Pancika misalnya dipahatkan pada kuil di Ajanta dan Ellora (Gupte 1972, 119; Getty 1962, 85, 86). Umat Hindu di India Utara pun memuaja Dewi Hariti sebagai ‘pelindung anak’, utamanya oleh orang tua yang tengah berduka. Sementara di Nepal, Hariti dipuja untuk mencegah penyakit cacar (Getty 1962, 84).

Hariti dam dua orang dewasa pembantunta tergambar dengan jelas pada bilik penampil sisi selatan Candi Mendut, sementara pada bilik penampil sisi utara dipahatkan Dewa Kekayaan Harta-benda Kuwera (Avataka) – kemungkinan lainnya adalah Pancika, yakni prajurit Kuwera. Relief Hariti juga didapat di candi-candi Mahayana Buddhisme lainnya, seperti Candi Sewu, Banyunibo, dan Kalasan. Keberadaan arca Dewi Hariti di candi-candi itu boleh jadi dimaksudkan sebagai pengusir pengaruh jahat yang mungkin menimpa anak-anak. Hariti pada reief itu digambarkan dalam posisi duduk bersimpuh di atas sebuah bangku sembari memangku dan membopong mesra seorang bayi. Mulut bayi diarahkan ke payudara kanannya, sebagaimana perilaku para ibu yang prigel (trampil) dalam menyusui anak. Di belakang punggungnya berdiri seorang anak lainnya dan di sekelilingnya tergambar sembilan anak sedang memanjati dua pohon. Laksana (ciri khusus)-nya tertampakkan oleh tubuhnya yang kegemukan dan sepuluh anak yang berada di sekelilingnya, sehingga dengan sekilas pandang saja (bagi yang memahami ikonografi Hindu-Buddha) bisa mengidentifikasikan bahwa relief itu mempersonifkasikan Dewi Hariti sebagai “Dewi Kekayaan atau Pelindung Anak”. Sayang sekali mulutnya terkatub, sehingga tak tampak sepasang taringnya, yang menjadi indikator akan keyaksaannya. Selain indikator “kesuburan” ttampak pada tubuhnya yang kegemukkan dan penyertaan anak-anak, pohon padamana anak-anak tersebut memanjatinya juga digambarkan paralel dengannya, yakni tengah berbuah lebat, yang melukiskan tanaman buah yang tumbuh-berkembang dengan suburnya.

Hariti sebagai ‘Dewi pelindung anak-anak’dipuja pada banyak pura di Bali, dengan sebutan ‘Men Brayut’. Bahkan, hingga lini terus hadir dalam bentuk ukir kayu. arca batu padas, relief, mite dan susastra geguritan, maupun seni pertunjukan. Men Brayut adalah ‘adaptasi lokal’ terhadap konsep kedewataan India mengenai ‘Dewi Kekayaan Anak’ Hariti. Menurut mitologi di Bali, Men Brayut adalah seorang ibu yang berturut-turut — dalam jeda yang pendek melahirkan banyak anak (dalam istilah berbahasa Jawa disebut ‘nrecel’), bahkan hingga mencapai18 orang. Sudah beranak banyak, keluarga petani Pan Brayat dan Men Brayut itu hidup di dalam kemiskinan. Rumahnya compang-camping, kain bajunya penuh jahitan dan tambalan, bahkan tubuh dan kainnya dipenuhi oleh kutu. Rambut Men rayut lekat oleh ketombe, sehingga tampilannya begitu tak karuan. Namun lantaran kegigihan dalam mengasuh anak-anaknya, pada akhirnya berhasil membesarkan. Oleh karennaya, oleh warga Bali mite mengenai Men Btayut tersebut dikaitkan dengan pola pengasuhan anak.
Masing-masing dari anak itu memiliki tabiat dan kecenderungan berlainan. Empat anak bertabiat alim, empat anak suka seni, empat anak bergaya urakan, empat anak berpikiran agak dewasa, dan dua anak lainnya masih kecil. Dasar anak-anak, mereka acap tak bertoleransi terhadap saudaranya, sehingga sering bertengkar. Namun, berkat keuletan serta kecerdikan Mem Brayut, perbedaan itu dapat dipadukan dan menghasilkan karya bermanfaat, sehingga bisa digunakan untuk menopang hidupnya. Tersirat dalam kisah ini adalah dengan memadukan keunikan dari kondisi yang pluralis bisa memberi kemanfaan.

Pada situs Goa Gajah (dekat Bedulu), Hariti divisualkan dengan tujuh orang anaknya, pada Pura Panataran Panglan (bertarikh 1091 Masehi) di Pejeng dengan lima anak, begitu pula di Candidasa disertai dengan banyak anak. Pura Er Jeruk yang dilengkapi dengan arca padas Ratu Brayut pada pelinggih di sub-halaman jaba-tengah banyak diziarahi oleh warga dari pelosok Bali, bahkan dari luar daerah, untuk memohon agar tanaman budidayanya subur ataupun untuk memohon keturunan oleh pasangan suami-istri yang lama belum dikaruniai anak. Pemujaan kepada Men Brayut untuk mendapat anak sebagai penerus keluarga juga telihat di Pura Dalem Ukur-ukuran di Desa Sulahan, Susut Bangli, yang konon dilengkapi dengan arca Men Brayut. Dahulu ketika banyak warga Bali berpandangan bahawa ‘banyak anak rezeki melimpah’, kisah mengenai suami-istri Pan Brayat dan Men Brayut banyak dikagumi orang. Kata ‘brayat’ untuk sang suami (pan) dan kata ‘brayut’ untuk sang istri (men) dalam penaman sumi-istri itu bersinomim arti, bahkan acap dikombinasi menjadi ‘brayat-brayut’, yang berarti banyak keturunan. Mantra pujaan terhadap Harit dikaitkan dengan kelahiran dan keselamatan bayi, mauoun dengan umur panjang. Dharani untuk Hariti merupakan doa yang tak hanya untuk menjaga anak-anak, melainkan juga bagi keluarga dan semua makhluk, guna membebaskan dari rasa takut, serta untuk menghancurkan racun — terutama untuk menangkal dan melindungi anak terhadap enam belas roh-roh jahat penyebab penyakit (Candra 1977, 470).

C. Keteladanan Hariti sebagai ‘Dewi Penyayang Anak’

Sayang anak tidaklah musti karena telah sebermula punya rasa sayang terhadap anak. Rasa sayang itu, karena suatu musabab luar biasa, bisa saja berubah menjadi ‘ambeksio (mensiakan, menyiksa, bahkan membinasai) anak”. Namun sebaliknya, seseorang yang semula kurang perhatian atau tak sepenunya menyayang anak, ada suatu tonggak waktu yang berupa pencerahan diri untuk curahkan perhatian dan rasa sayangnya kepada anak. Dalam hal terakhir, Dewi Hariti adalah contoh kasus yang tepat. Yaksini yang semula gemar menculik dan memakan daging anak ini, berkat pencerahan (budh) dari dharmma Buddha maka berubahlah total menjadi ‘Ibu penyayang dan pelindung anak-anak” atau ‘pemberi anugerah (waranugraha) keturunan’. Keberkahan keturunan dari Dawi Hariti tersebut secara simbolik tergambar dalam mudra (sikap tangan) pada pengarcaannya, yang berupa waramudra, yakni simbol memberi berkah keturunan. Dalam fungsi religis ini, Dewi Hariti dipuja oleh para keluarga yang bermaksud mendapatkan anak.

Anak pasangan Hariti-Pancika, yang jumlahnya hingga mencapai 500 orang, memberi gambaran bahwa Hariti adalah Dewi Kesuburan anak. Gambaran seurapa diyampakkan pada motologi lokal Bali mengenai ‘Men Brayut’, yang mempunyai 18 orang anak. Kata ‘btayut’ itu sediri mengandung arti beranak-pinak, banyak keturunan. Diantara ratusan anaknya itu, Priyangkara – yang tiada lain anak bungsunya (wuragil)nya, adalah yang paling disayangi. Hal ini mengingatkan pada perkataan ‘anak wuragil ganthilaning ati (anak bungsu pautan hati)’, yang terkasih diantara anak-anaknya. Terlebih lagi rasa sayang orang-tua terhadap anak tuggal (ontang-anting). Oleh karena itu pulalah maka ‘siasat pancingan’ agar Abhirthi (Hariti) mau menemui Sang Buddha untuk dicerahkan jiwanya adalah dengan membawa Priyangkara dari rumah Hariti, dan muslihat ini terbukti membuahkan hasil.

Gambaran serupa didapati pada susastra Kidung Sudhamala dan relief di kaki Candi Tegawangi mengenai keengganan ibu Kunti untuk mewadalkan (menjadikan) putra bungsunya, yakni Sahadewa (Sedewa, yang oleh Dewi Uma dianugerahi nama ‘Sudhamala’) sebagai media korban untuk meruwat raksasi Ra Nini (Dewi Durga) agar dapat kembali ke wujud aslinya sebagai Dewi Uma yang cantik, sebagai ‘prasyarat’ atas bantuan Durga terhadap keluarga Pandawa. Demikian pula, dalam Legenda Tengger tergambar bagaimana keengganan Joko Seger-Roro Anteng untuk mengorbankan Dewata Kusuma (si bungsu diantara 25 orang anaknya) untuk dilarungkan ke dalam kaldera Gunung Bromo guna membayar janji (nadzar) atas anugerah dewata yang menaungi Ardi Brama berupa anak-keturunan.

Pada relief Dewi Hariti di Candi Mendut, anak kecil yang berada di pangkuannya, yang dengan mesra diarahkan mulut si bayi ke payudara kanannya sangat mungkin adalah bungsu Priyangkara. Dalam gambaran ini telihat kesesuainya dengan teks asal Tibet, yang menyatakan bahwa seorang anak berada di payudara kanan dan musang pada payudara kiri Hariti. Dalam hal menyusui bayi, memberi ASI (Air Susu Ibu) merupakan ekspresi paling dini dan bersahaja mengenai kasih sayang ibu kepada anak bayi, sehingga dapat difahami apabila patung simbolik yang acap tampil di Rumah Sakit Ibu dan Anak adalah patung ibu menyusui. Demikianlah, sayang anak tidak musti dilakukan dengan kemewagan, namun cukup dengan bersahajaan dan ketulisan. Bukan saja oleh ibu, namun terbuka keungkinan untuk juga diekspresikan oleh seorang ayah. Ada banyak wahana yang dapat dijadikan media menyayang anak, salah sebuah diantaranya adalah menyayang anak lewat wahana eko-kultura sendiri.

D. Wahana Eko-Kultura Menyayang Anak

Pada zaman now ada banyak wahana untuk menyayang anak. Dari yang murah hingga yang mahal, dari yang tradisional hingga yang super modern, dari yang ada di lingkungan sekitar hingga yang jauh jarak jangkaunya, dari yang instan untuk tinggal pakai atau yang musti membuatnya terlebih dahulu baru bisa memakainya. Pendek kata, tinggal berapa banyak punya uang, tinggal minat yang mana, tinggal ingin yang mudah dijangkau atau didapatkan atau jusru lebih puas apabila mampu menjangkau tempat yang jauh dan terlibat di dalam proses pembuatannya. Salah satu wahana, yang dapat didayagunakan sebagai ikhtiar menyayang anak adalah wahana budaya yang terdapat di area sekitar. Dari wahana ini, bukan sekedar asek kesenangan (rekretatif) yang bisa diperoleh darinya, namun sekaligus aspek edukatif, yakni kenal, tahu, faham, cinta dan peduli terhadap budaya sendiri dan lingkungan sekitarnya, sehingga anak tak terasing dengan konteks lokalnya, baik koteks sosio, kutura ataupun ekologisnya sendiri.

Dalam hal permainan anak, ada ada baiknya anak tak dibiasakan ‘reduiktif’, yakni dengan sekedar menjadi pemakai (operator) terhadap perangkat bermain yang sudah jadi dan siap pakai. Namun, perlu pula dilibatkan ke dalam ‘proses buat’, dan syukur bila hingga menjangkau proses pencarian bahan buat yang ada di lingkungan sekitar berupa barang sisa yang telah dibuang atau sekilas tidak bermanfaat. Kegiatan buat dapat membawa anak ke dalam olah keatif, gladi keuletan, ketelatenan, serta kerjasama dengan anak lain. Bila perngkat mainnya telah jadi dan bisa diaminkannya, diharap bakal timbul kebanggaan akan prestasi diri dan kesediaan untuk memelihara buah karyanya. Tidak perlu merasa ‘ndeso dan kuno’ dengan permainan tradisional, tak harus menyepelekan lingkungan sekitar untuk pembejaran, tak musti dengan dana besar untuk menyayangkan anak. Jika demikian, sayang anak justru dikendalai sendiri oleh anggapan-anggapan yang tidak berasalan. Marilah kita ekspresikan sayang anak dengan ‘sak madyo’, dengan cara dan media yang terjangkau, ora perku kani ngoyo (tidak perlu berlebih upaya), yang penting tulus-ikhlas dalam ranga ibadah buat anak.

Terkait itu, kami (lintas komunitas peduli-pencinta sejarah dan budaya se Malangraya), Munggu tanggal 19 Nopember 2017 bermaksud mengkontribusikan wahana menyatang anak (tresno bocah) di situs Candi Badut dalam rangka ‘Hari Anak Sedunia’. Tema dan pesan yang kami usung adalah ‘Cintakan Budaya Sendiri Sedari Dini’, dengan khalayak sasaran anak-anak (seusia sekolah SD hingga SMP). Insya Allah kami suguhkan menu : (1) ajar candi, arca dan relief, (2) persembahan seni pertunjukkan buat anak, (3) dulinan tradisional anal, (4) gladi olah seni dan kriya anak, (5) raga busana tradisional anak, (6) fotografi dan videografi bagi anak, serta (7) layanan baca anak ‘perpustakaan sehari di candi’. Sumoggo menyertainya dan raihlah ‘kefaedahan edukatif-rekreatif’ daripadanya. Kapan lagi bila bukan sekarang untuk mencintakan putra-putri kita dengan khasanah budaya sendiri, mengingat bahwa mungkin tanpa disadari sehari-hari anak-anak ‘dicekoki’ dengan aneka produk budaya yang instan dari luar Nusantara.

Semoga tulisan bersahaja yang di satu sisi sebagai ‘kado ultah untuk wuragil Anes (yang belum bisa baca’ dan pada sisi lain bagi khalayak ini membuahkan makna. Minimal menggungah untuk lebih menyanyang anak, baik anak kandung, anak tiri, anak angkat, ataupun anak-anak siapapun juga, dengan wahana eko-kultura sendiri. Salam ‘tresno-bocah’. Piyadasi. Nuwun.

Sengkaling, 15 Nopember 2017
PATEMBAYAN CITRALEKHA

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BUDAYA

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

Avatar

Published

on

 

Edisi ‘TAKJIL KHAS RAMADHAN’ 1

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

A. Familiaritas Kolak pada Rumpun Melayu

Apabila di Dunia Arab pembuka berbuka puasa adalah kurma, maka kolak lah yang lazim serta difavoriti sebagai ‘pembuka buka pausa’ di Indonesia. Mulai dari lingkugan keluarga bersahaja hingga di restoran mahal sekalipun, kolak menjadi menu sajian terawal yang disuguhkan untuk membatalkan puasa setibanya bedug Maqrib. Oleh sebab itu dapat dimengerti bila salah sebuah kuliner yang hampir senantiasa ada diantara beragam penganan yang dijajakan pada bedak-bedak dadakan yang menjamur di sore hari manakala tiba puasa Ramadhan adalah kolak. Kuliner inilah yang seolah menjadi ‘rajanya takjil’, yang pertama dan yang utama dikonsumsi oleh banyak orang, tatkala berbuka puasa. Bahkan, tahap permulaan berbuka puasa telah serasa cukup kendati hanya dengan menyatap kolak.

Menilik demikian lamanya waktu kolak dikonsumsi, luasya daerah persebaran kulier kolak, dan banyaknya pemiat kolak – terlepas apapun statra soasial-ekonomiya, maka tak berlebihan untuk menyatakan bahwa kolak adalah kuliner yang amat mengkeluarga (familier) pada masuarakat di Indonesia. Sebenarnya, selain di Indonesia kuliner ini juga dikenal di negara-negara lain dalam region Asia Tenggara yang dihuni oleh rumpun bangsa Malayu, Kolak hadir dalam lintas masa, lintas area dan lintas sosia pula, sebab kapanpun, dimanapun dan siapapun hampir-hampir pernah mengkonsumsi kolak. Malahan, terdapat orang-orang tertetu yang mencandui kolak, baik ketika berbuka puasa ataupun pada kesempatan lain. Dengan perkataan lain, kolak adalah kuliner yang ‘merakyat’ – namun, bukan berarti bahwa kolak hanya dikosumsi rakyat kecil, karena kalangan atas pun terbukti doyan kolak.

B. Etimologi dan Tafsir Makna Istiah Unsur Kuliner Kolak

Ada sejumlah varian sebutan untuk ‘kolak’, antara lain ‘kolok, kulak, kolêk, dsb’. Sebagaimana sebutan-sebutan lain untuk kuliner yang berkeanan dengan ritual Islam, seperti ‘apem dan kupat’, sebutan ‘kolak’ juga diasalkan dari bahasa Arab. Kyai sepuh dari Pondok Pinang Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan, yakni almarhun KH Hasbullah, menyatakan bahwa kata ‘kolak’ berasal dari istilah dalam bahasa Arab ‘kul laka (makanlah, untukmu)’. Pendapat lain mengasalkannya dari kata dala, bahasa Arab ‘khala’ atau ‘kholaqo’, yang bisa diturunkan menjadi kata ‘kholiq’ atau ‘khaliq’ yang berarti pencipta, pencipta alam semesta dan menunjuk kepada Allah SWT. sebagai pencipta seluruh makhluk yang hidup di alam semesta. Selain berarti pencipta, dapat pula berarti: Tuhan yang disembah, Pengatur dan Pemelihara, Pemberi bentuk, dan Tuhan Yang Maha Perkasa. Sebutan ini dijadikan media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bukan hanya itu, unsur-unsur di dalam kolak pun difilosofikan dalam kaitan dengan ajaran Islam. Pisang jenis ‘kepok’ yang paling umum digunakan sebagai isian kolak merujuk pada ‘kapok (jera)’ dalam bahasa Jawa, yakni istilah ibarat agar manusia jera berbuat dosa dan segera bertobat kepada Allah SWT. Selain itu, isian kolak lainnya, yaitu ubi, dikenal dengan sebutan ‘telo pendem’ – masuk kategori ‘polo pendem’, memuat filosofi bahwa manusia harus mengubur kesalahannya dalam-dalam. Reka foilosofis lainnya menghubungkan dengan kematian, yaitu media pengingat bahwa suatu saat manusia pasti mati dan kemudian dikubur (dipenden) di dalam tanah. Kematian mungkin saja akan datang, semudah kita menyendok kolak ke dalam mulut. Unsur lain sebagai bahan kolak adalah santan, yang dalam bahasa Jawa disebut ‘santen’, sebagai kependekan dari ‘pangapunten (permohonan maaf), yang menjadi media pengingat agar manusia seantiasa meminta maaf atas kesalahannya.

Etimologi dan tafsir makna sebagaimana dikemukakan pada alinea diatas adalah ikhtiar baik untuk menjadikan makanan sebagai media pembelajaran budi pekerti dan penguat keyakinan keagamaan. Namun, bukan berarti bahwa muasal sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab. Entah dari istilah ‘kul laka (makanlah)’ atau ‘khala, kholaqo, kholiq, khaliq (pencipta)’. Etimologis yang demikian hanya mendasarkan pada keserupaan istilah, dan terkesan dipas-paskan. Jika dasarnya hanya keserupaan istilah, maka tak usah jauh-jauh istilah serupanya dicari dalam bahasa Arab, melainkan cukup dicari di Jawa, padamaa kolak berada. Sebutan ‘kolak’ atau variannya ‘kulak (kula’)’ mempuyai keserupaan dengan istilah dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan, yaitu ‘kula’, yang antara lain berarti: kawanan, pasukan, kumpulan, oramg banyak, jumlah, suku, keluarga, rumpun, kasta, rombongan, keluarga bangsawan atau unggul, keluarga, keturunan, asal-usul (Zoetmulder, 1005: 530).

Dalam arti kumpulan, kuliner kula+k (kulak) atau kula’ dicirikan oleh adanya sekumulan bahan makan yang diisikan ke dalam kuah kolak. Dengan perkataan lain, ke dalam kuah kolak terbuka untuk diisikan beragam bahan makan, baik berupa buah, bijian atau bahan makan lainnya. Selain menggunakan pisang dan ubi, saat ini modifikasi kolak juga telah banyak ditemui. Mulai dari gabungan penggunaan pacar Cina, tapai singkong, ketan, roti, serabi, jenang, kolang-kaling, buah labu, buah nangka, rumput laut, biji salak atau ubi yang diolah menyerupai biji salak, dsb. Adapun dalam arti keluarga, kolak adalah kuliner yang amat lama familier (mengkeluarga) pada masayarakat Nusanara, khususnya Jawa. Boleh jadi, asal kuliner kolah bukan dari Timur Tengah, melainkan dari Nusantara sendiri.

Dengan mengasalkan sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab, maka diambill alibi bahwa kolak berasal dari Timur Tengah. Kelatahan mengasalkan kolak dari Timur Tengah juga pernah dikemukakan William Wongso, yang menyatakan bahwa kudapan ini dimungkinkan berasal dari negara Timur Tengah. “Mereka itu suka makanan manis-manis, jadi kalau kolak kemungkinan dari sana,” ujar pakar kuliner Nusantara ini saat dihubungi harian Republika (Rabu (17 Juni 2017). Sebenarnya, apabila alasannya karena genar mengkonsumsi makanan yang rasanya manis, bukan hanya orangTimur Tengah yang suka makanan manis, namun orang Jawa – utamanya orang Semarang, Yogyakarta dan Surakarta – juga gemar rasa manis pada beragam makaan dan minumannya. Bahkan, semenjak masa Hindu-Buddha masyarakat Jawa Telah mengeal miuman yang rasanta manis seperti kilang dan cairan gula merah untuk pemanis kuah yang dinamai ‘juruh’.

C. Kegemaran Minuman-Makanan Rasa Manis

Kolak bisa dimasukkan sebagai ‘makanan’ apabila ditilik dari buah, biji-bijian atau bahan makan lain yang terdapat di dalamya. Namun dapat pula dimasukkan sebagai ‘minuman’, sebab berkuah manis, yang dibuat dari air ditambah dengan santan, garam secukupyam daun pandanm fanili, dan gula – mulaya digunakan jenis ‘gula merah’, seperti gula aren, gula kelapa (gulo klopo) atau gula siwalan (tal), namun kini gula putih lazim digunakan sebagai pengganti atau campuran gula merah. Oleh karena itu, cita rasa kolak adalah manis. Lantaran rasanya yang manis itu, maka kolak serupa dengan kurma, yakni cocok untuk makaan pembuka dalam berbuka puasa. Kelebihan kolak bila dibandingkan dengan kurma dalam hal ini ada;ah selain manis juga berkuah, sehingga rasa dahaga lataran tidak minum seharian segera dapat tertasi.

Masyarakat Nusantara, terlebih orang Jawa, banyak menyukai rasa manis. Pemanis yang berupa gula – dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan disebut ‘gendis’ – telah lama digunakan, Kolak yang berasa manis karenanya termasuk kuliner yang disukai dari masa ke masa. Masyarakat Jawa telah demikian lama mengenal dan menggemari minuman manis. Salah satu diantaranya adalah kilang, yakni minuman beragi dari tebu (Zoetmulder, 1995:500). Kilang juga digunakan untuk menyebut nira kelapa, aren ataupun tal yang direbus — bila direbus terus akan mengental, dan bisa dijadikan gula merah. Selain itu santan juga sudah terbiasa dipakai untuk memasak. Bila santan dicampurkan ke dalam kilang, maka jadilah kuah kolak. Hanya saja, pada umumnya kuah kolak dibuat dari air dicampur dengan santan dan arsiran gula merah dan kemudian direbus hingga mandidih. Kedalam kuah tersebut dimasukkan buah, biji-bijian atau bahan makan lainya, sehingga terbentuklah kolak pisang, kolak candil ketan, kolak labu, kolak ubi jalar, kolak durian, kolak kolang kaling, kolak singkong, kolak apel, kolak kacang hijau, kolak cendol. kolak serabi, kolak biji salak, kolak kelapa muda, kolak jenang (jenang kolak), kolak rumput laut, kolak bola pelangi. kolak sagu mutiara, kolak pisang ijo, kolak pisang coklat, kolak paris, kolak tapai, kolak havermunt pisang, kolak pudding, kolak roti, dan banyak lagi. Terbayang bahwa kegemaran mengkonsumsi kolak adalah kelanjutan dalam bentuk lain dari kesukaan meminum kilang.

Kilang adalah salah satu miniman yang telah lama dikenal dan digemari Masyarakat Jawa, bahkan semejak masa Hindu-Buddha. Jenis mimuman lainnya adalah twak, sidhu, cinca (kinca), brem, arak, jnu, bunga campaga, bunga pandan, bunga karaman, jatisara, air kelapa, mastawa, dsb. Dalam sumber data prasasti, kilang tekah disebut di dalam abad X Masehi, yairu prasasri Watukura (902 Masehi) dan Alasantan (939 Masehi) serta pada sejunlah sussstra Jawa Kuna dan Tengahan, seperti dalam kitab Brahmanda Purana (142, 161), Sumanasantaka (38.1), Arjunawijaya (31.10), Nagarakretagama, Partayajna (18.7), Subhadra Wiwaha (7.4), Kidung Hasyawijaya (1/37, 4.54), Kidung Malat (7.77), dan Wangbang Wideya (6.184). Menilik lamanya waktu dan banyak sumber data yang memberitakan, tergambar bahwa ninuman kilang ini banyak dimiati warga Jawa pada zamannya. Peminatnya mulai kalangan rakyat hingga para bangaswan, Kebiasaan mengonsumsi kilang berlanjut dengan beberapa perubahan menjadi kolak.

 

Ada kemungkinan, sebagai sebutan, kata ‘lolak’ baru digunakan paaa Masa Hindu-Buddha, karena sebutan ini tidak dijumpai dalam sumber data tekstual Masa Hindu-Buddha, baik prasasti ataupun susastra. Pada Masa Perkembangan Islam, awalnya kolak disajikan bulan Syaban, atau satu bulan sebelum memasuki Ramadhan. Pada bulan Syaban, umat Muslim diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud ketakwaan jelang memasuki ‘bulan yang penuh berkah’, yaitu bulan Ramadhan,. Tradisi mengkonsumsi kulner kolak itu berlanjut hingga memasuki bulan Ramadhan, utamanya sebagai kudapan (takjil) ketika buka puasa. Demikianlah, kolak adalah kuliner Nusatara yang telah meniti perjalanan sejarah pajang. Selamat menikmati hidangan kolak, semoga melagakan tenggorokan. Nuwun.

Sangkaliang, Griya Ajar CITRALEKHA, 19 Mei 2018

 

Continue Reading

BUDAYA

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Avatar

Published

on

Salamun ya Ramadhan

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Arti Istilah dan Ragam Jenis Puasa

Istilah ‘puasa’ adalah kosa kata bahasa Indonesia, yang pada bahasa Jawa disebut ‘poso’. Dalam bahasa Arab sebutannya adalah ‘shaum’, yang berarti : menahan diri dari segala sesuatu. Puasa dilaksanakan dengan atau dimaksudkan untuk menahan diri dari segala perkara, seperti makanan, minuman, berbicara, menahan nafsu dan syahwat, dsb. Sedangkan secara harafiah, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Pokok kegiatan puasa (shaum) adalah ‘menahan diri’, atau bisa disinonimkan dengan ‘pengekangan diri’. Dalam arti ‘pengekangan’ itu, pada bahasa Jawa Kuna terdapat istilah ‘pasa’, yang secara harafiah berarti : jerat, perangkap, ikatan, rantai, dan kekangan (Zoetmulder, 15:76). Istilah ini menunjuk pada benda, atau senjata ataupun tindakan.

Dalam kakawin Ramayana (24.59) terdapat perkataan ‘pasa-brata’ yang diarahkan pada tindakan durjana. Secara harafiah perkataan ‘pasabrata’ berarti: kelakuan (kewajiban) untuk menggunakan rangkaian (dalam peggunaan kekuatan kersanya). Pada arti istilah ‘pasa’ itu tak dipeoleh gambaran pengekangan diri dengan tidak makan-minum, bicara, ataupun nafsu-syahwat. Pengekangan diri untuk perihal ini secara lebih khusus dilakukan dalam bentuk ‘tapa’, yang berarti: tapa, ‘mati raga’, pengendalian indera atau nafsu, yoga. Kata ‘tapa’ acapk dikombiasi dengan kata ‘bhrata’ menjadi ‘tapa-bhrata’, dalam artiL ketaatan ibadat reliegius, tapa (Zoetmulder, 1995:1210). Dalam bahasa Jawa Baru, kegiatan demikian disinonimkan dengan ‘tirakat’.

Ada berbagai macam puasa, baik kategori wajib (fardhu). sunnah, makruh, maupun puasa haram (moharram). Ragam puasa kategori wajib adalah puasa Ramdhan, puasa Qodha (pegganti puasa wajib lantaran berhalagan), puasa Kafarat (puasa penebusan dosa besar, seperti membunuh dan melanggar sumpah), puasa Nadzar (puasa pemenuh janji, di dalam bahasa Jawa disebut ‘ngluwari ujar’). Adapun yang masuk kategori puasa sunnah adalah puasa 10 hari di bulan Syawal, puasa 10 hari pertama budan Dzulhijah, puasa Hari Arofah (tanggal 9 Dzulhijah), puasa Senin dan Kamis, maupun puasa Dawud (puasa berselang-seling waktu). Puasa makruh dikhususkan pada hari jumat dan sabtu. puasa Moharram – terutama hari Asyyro’ (tanggal 10 Muharram), puasa Sya’ban, puasa padda bulan harom (bulan yang dimuliakan), terdiri atas bulan Dzulqo;dah, Dzulhijah, Moharram. Rajab, dan sehari pasca Idul Fitri serta sepajang tahun, Selain itu, masayarakat Muslim Jawa juga mengenal poso pati-geni, poso mutih, poso ngrowot, dsb.

Diatara beragam puasa itu, yang utama adalah puasa Ramadhan, sehingga diwajibkan ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S. Al-Baqoroh;183-184). Tulisan ini lebih banyak membicarakan tentang tradisi jelang puasa bulan Ramadhan, yang diistilahi dengan “prepegan” dan “megengan”.

B. Aktifitas Prepegan atau Megengan Jelang Bulan Suci Ramadhan

Apabila meilik waktu pelaksaaannyam yakni sebula punh di bulan Ramadhhan, yang wajib untuk dilakukan oleh semua umat Islam yang memenuhi syarat, maka puasa ini terbilang ‘puasa besar’. Oleh karena itu bukan hanya hal-hal ekstra yang musti dilakukan selama menjalakan ibadah puasa, namun ada hal ekstra pula yang dilakukan sebelum mamasuki ‘bulan suci’ Ramadhan, Prinsipnya, ketika memasuki bulan suci ini para pelaku puasa hendaknya telah dalam kondisi suci. Pembersihan tidak hanya dilakukan untuk dieinya, namun juga dilakukan terhadap reladinya dengan sesama manusia yang masih hidup maupun dengan leluhurnya yang telah tiada. Untuk itu dilakukan permohoan maaf kepada sesama manusia yang hidup, ziarah kubur (salah satu sebutan dalam bahasa Jawa mengenai itu adalah ‘sadranan’), pembersihan diri – antara lain menggunakan media air, Selain itu, ada sejumah kegiatan untuk memarakkan proses memasuki bulan Ramadhan, seperti selamatan (slametan, manganan), takbir keliling – ada pula yang menyertai dengan ‘pawai obor’, menabuh bedug bertalu-talu, dan varian kegiatan lain.

Pendek kata, pada satu atau dua hari menjelang memasuki bulan suci Ramadhan ada suatu kondisi khusus, yang diibaratkan sebagai suatu : pergerakan bersama secara berfokus guna mendekati atau memasuki sesuatu’ — dalam hal ini, sesuatu itu adalah bulan suci Ramadhan, padamana umat Islam mendalan ibadah puasa. Kondisi demikian dalam bahasa Jawa diistilahi dengan ‘prepek’ atau akata jadianya ‘prepegan’. Akar kata ‘prepeg (pa-repeg)’ adalah ‘rep’, yakni partikel desktipsi, (dengan) medadadk. Kata ulang ‘rep-rep’ atau ‘arep-rep’, yang berarti: dengan gerakan yang cepat dan tiba-tiba, berkibar-kibar (Zoermulder, 1995:942).

Selain kata ‘prepegan’ dihubungkan dengan waktu jelang memasuki bulan Ramadhan, istilah ini lebih sering digunakan untuk menyebut kurun waktu pendek (satu atau dua hari) jelang datangnya Idul Fitri (Lebaran). Dalam hubungan itu, ada yang membedakannya ke dalam: (a) prepegan cilik (kecil) utuk menyebut waktu dan suasana pada dua hati jelang Lebaran, dan (b) prepegan gede (besar) untuk menyebut kurun waktu atau suasana pada sehari jelag Lebaran. Suasaa itu antara lain ditandai oleh suasana pasar yang ramai sesak, karena sebagian besar orang pergi untuk berbelanja ke pasar guna memenuhi segala kebutuhan pada hari Lebaran. Suasaa pasar yang tambah marak, juga berlagsug jelang Ramadhan, yang disertai dengan naiknya harga bahan pangan, meski tak semarak jelang Lebaran.

Istilah lainnya untuk menyebut kurun waktu satu atau dua hari jelas memasuki Ramadhan adalah ‘megengan’, yang berkata dasar ‘megeng (ma-geng)’ dan berakar kata ‘geng (besar)’. Ada pula yang mengartikan kata ‘megeng’ dengan: menahan (ngempet), berkaitan dengan peringatan bahwa sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan, dimana umat Islam diwajibkan menjalankan puasa, yaitu menahan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa itu. Kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, sesuai adat setempat. Umumnya waraga berbondong-bondong melakukan ziarah kubur, membersihkan makam, menaburi denga bunga dan mendoakan arwah leluhur. Suana marak ditandai dengan masak besar untuk dibagi-bagikan pada sanak famili. Pada malam harinya diadakan slametan (kenduri) untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal. Ada pula yang mengadakan selamatan bersama di masjid, langgar atau mushola.

Nabi Muhammad SAW untuk senang, bergembira, atau bersuka cita menyambut tiba bulan Ramadhan. Peristiwa ini di Jawa dinamai “megengan”, siatu tradisi turun temurun untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas berkat-nikmatya selama setahun berlalu. Tradisi ini juga dijadikan pertanda bahwa sebentar lagi datang tamu istimewa, yakni Ramadhan. Megengan merupakan bukti kerukunan warga masyarakat di dalam menjalin kerukunan dan kerjasama menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Biasanya megengan dilakukan di minggu terakhir bulan Sya’ban (Ruwah).

C. Makna Kuliner Apem dalam Selamatan Megengan

Salah satu pengaan khas yang disajikan dalam slametan megegan adalah apem. Seusai malam nisfu sya’ban, beberapa hari jelang bulan Ramadhan, umat muslim bisanya melakukan tradisi megengan dengan membagikan kue apem kepada tetangga kanan kiri rumah. Ada yang mengasalkan istilah ‘apem’ dari kata ‘afum’. yang artinya adalah meminta dan memberi maaf. Oleh karena masyarakat Jawa tidak mengenal huruf ‘F’, maka kata ‘afwun’ berubah sebutan menjadi ‘apwun’. dan kemudian menjadi ‘apwum’, lantas berubah jadi ‘apwem’, dan akhirnya disebut ‘apem’.

Bahan dasar apem adalah tepung beras, yang melambangkan kebersihan dan kesucian. Sedangkan santan merupakan sari buah kelapa sebagai akronim dari kata Jawa sagetho nyuwun pangapunten, yang bermakna permohonan maaf. Gula dan garam melambangkan perasaan hati. Apabila semua bahan-bahan itu dijadikan satu, makna simbolikya adalah kesucian dan ketulusan hati. Jadi, makan kue apem bisa diartikan memohon maaf kepada keluarga, sanak saudara dan teman. Usai memakan apem, biasanya orang-orang saling bersalaman, meminta maaf dan membaca doa.

Tradisi megengan diwarnai dengan rasa syukur dengan membagi kue apem kepada tetangga. Rasa syukur dan nuansa kekeluargaan (keguuyuban ) terkadung kental didalamnya. Meskipun kue apem dalam megengan hanyalah sebentuk kiliner, namun substansi maknaya dalam. Suatu nilai kultural luhur, yang patut dilestarikan, dimasyarakatkan dan dipetik maknanya untuk diejowarahkan dalam kehidupan bermasyarakt. Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, semoga bisa membuahkan pirifikasi (pembersihan diri) terhadap segala ‘kekotoran’ yang mengotori diri selama satu talun berlalu. Nuwun

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 16 Mei 2018

Continue Reading

BUDAYA

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP

Avatar

Published

on

 

Khasanah Heritage Songhenep

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP : Menuju “Labang Mesem Cultural Movement”, Wahana Smiling Sucsesion

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Makna ‘Mesem” pada Gapura Labang Mesem

Mutiara kata menyatakan ‘sambutlah tamumu dengan senyuman’. Suatu ekspresi sikap ‘ramah’ yang murah namun bermakna, yang keluar dari hati bersih-tulus kepada orang lain yang berelasi dengannya. Seyuman yang dalam bahasa lokal Jawa maupun Madura disebut ‘mesem (sunggingan senyum)”, dalam hal penerimaan tamu bukan sekedar citra pantomimik pada raut muka seseorang, namun lebih daripada itu menyiratkan makna yang berkenaan dengan etika pergaulan (toto kromo), yaitu: (a) selamat datang, disambut baik, penyambutan (welcome) (b) kesediaan atau keterbukaan untuk menerima kehadiran orang lain, maupun (b) pengharapam agar niat baik untuk mengadakan pertemuan itu membuahkan hasil yang baik (kefaedahan) bagi kedua pihak, ‘Murah senyum’ acap dimaknai dengan kebaikan hati. Sebaliknya, ‘pelit senyum’ dikonotasikan dengan kesombongan, keculasan dan ketidakbersahabatan. Demikianlah, senyuman memiliki makna serta manfaat yang mendalam. Meski hanya sekejap, senyuman dapat menjadi kenangan yang bertahan lama. Senyum menciptakan kebahagiaan bagi sekitar. Senyum yang tulus adalah ibadah. Memberikan senyuman untuk semua orang akan memberi keceriaan, sebab senyuman membuka pintu kebahagiaan. Ketika seseorang tersenyum tanpa paksa (tulus), ia membuat suasana perasaan menjadi lebih riang. Orang yang berjumpa dengannya atau berada di sekitarya ikut tersenyum dan merasa jadi lebih bahagia.

Dalam kaitan dengan sunyum, adalah unik bahwa nama yang diberikan untuk gapura masuk di sisi timur dari Keraton Sumenep adalah ‘Labang Mesem’. Kata ‘labang (diujar dengam logat Madura ’labeng”) dalam bahasa Jawa dinamai ‘lawang’. Keduanya menunjuk kepada pintu atau gapura dalam bahasa Indonesia. Pada kedua kata itu, yang berbeda hanyalah kosonan ‘W’ dan ‘B’-nya, dimana kedua kosonan ini acapkali ‘bertukar’, baik pada bahasa yang sama namun beda masa atau pada dua bahasa yang bertetangga seperti pada bahasa Jawa dan Madura. Labang mesem dengan demkian secara harafiah berarti: gapura tersenyum. Sudah barang tentu, penamaanya itu bukanlah tanpa pertimbangan, yaitu simbol: keramahan, sikap ramah kepada siapapu yang datamg bertamu ke Keraton Songhenep (toponimi lama untuk apa yang kini dinamai ‘Sumenep”). Siapapun yang datang bertamu mustilah dihormati, harus disikapi dengan ramah, dan diterima dengan lapang hati. Tamu ibarat ‘raja’, meskipun tempat yang didadatangi tersebut adalah tempat kediaman sang raja (disebut ‘karajyan = ka+rajya-an’), datu (dinamai ‘kadatwan = ka-datu-an’), atau ratu (dibilang “keraton = ka-ratu-an’).

Setidaknya terdapat tiga versi kisah lokal terkait dengan latar pemberian nama ‘Labang Mesem’. Pertama, dahulu pintu gerbang keraton dijaga oleh dua orang cebol – diidikatori oleh adanya dua buah ruangan berpintu rendah di kanan dan kiri gapura serta terdapat kuburan cebol kompleks makam Astatinggi. Lataran penjaganya orang cebol, maka tak heran apabila sering menghadirkan senyum pada orang yang melintasinya. Kedua, ruang terbuka yang berada di bagian atas koridoor adalah tempat raja mengawasi area di sekitar keraton, temasuk putri-putri dan para istrinya yang sedang mandi di Taman Sari (logat Madura ‘Taman Sare’). Ketika memperhatikan putri dan atau istrinya yang sedang mandi itu, raja terseyum simpul (mesam-mesem). Ketiga, pada suatu ketika Kasultaan Sumenep berhasil memukul mundur pasukan Bali. Timbul rasa dendam darinya, dan bermaksud menuntut balas. Namun tatkala pasukan Bali datang ke Sumenep, tepat di depan gerbang keraton, amarah mereka serta merta berubah, sebab warga keraton Sumenep meyambut dengan senyum ramah penuh persahabatan.

Terlepas dari versi mana yang benar, keseluruhannya menggarisbawahi perihal ‘senyum (mesem)’ terkait dengan keberadaan gapura sisi timur keraton Sumenep. Konon wujud senyuman tidak hanya tergambar pada unsur nama ‘mesem’, namun diperkuat oleh sebuah arca yang menggambar figur yanng menyunggingkan senyuman. Menurut persaksian RP. Mohammad Mangkuadiningrat, dahulu arca itu ditempatkan di sebelah timur dari pendapa keraton, dekat dengan ‘rumah lonceng’, yang terlihat lurus dari arah pandang luar gapura Labang Mesem. Namun sayang sekali, arca yang mengekspresikan senyuman itu, selaras dengan unsur nama ‘mesem’ dari gapura keraton tersebut, kini telah tiada lagi, sehingga perihal ‘seyuman’ hanya tersisakan pada unsur nama gapura. Kendati demikian, tak lantas menyurutkan keramahan warga Sumenep, yang dikenal satun dan bersahabat (friendelig).

B. Ekspresi Akulturatif Gapura Labang Mesem pada Kompleks Keraton Sumenep

Labang Mesem dibangun tahun 1781, bersamaan waktu dengan pembangunan Keraton Sumenep pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo (Pangeran Natakusuma I) oleh arsitek keturunnan Tiong Hoa bernama Lauw Piango – mengungsi ke Madura sebagai akibat Huru Hara Tionghoa di Semarang tahun 1740. Bangunan yang berwujud gapura ini adalah salah satu dintara dua gapura yang tersisa, yang semula lengkapnya berjumlah lima buah (dinamai ‘ponconiti’). Posisinya pada bagian depan keraton Sumenep menghadap ke selatan, berloksi di sebelah timur Gedong Negeri, dekat Taman Sari (dialek Madura ‘Taman Sare”). Gapura Labang Mesem dengan demikian hanya salah sebuah komponen arsirektur pada kompleks keraton Pajagalan (sebutan populernya ‘keraton Sumenep’) selain pendopo agung, gedong negeri, pengadilan keraton, paseban, taman sare, serta beberapa bangunan pribadi keluarga keraton.

Secara arsitektural Labang Mesem yang monumental masuk dalam kategori gapura padhuraksa, yaitu suatu jenis gapura (selain ‘candi bentar’), yang lazimnya ditempatkan dan difungsikan untuk memasuki ruangan yang dipandang suci atau penting. Gapura padhuraksa ini dilengkapi dengan ‘sayap’ di kanan-kirinya, sehingga bisa disebut ‘gapura bersayap’. Gapura bersayap telah terdapat semenjak Masa Hndu-Buddha dan berlanjut penggunaannya hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam. Meski beda masa dan berlainan latar religisnya, namun model arsitektur dari keduanya sama, yakni sama-sama berupa gapura bersayap. Arsitektur yang berasal dari lapis masa dengan latar religis berbeda, yaitu Masa Hidu-Buddha, tidak disikapi dengan ‘penolakan’. Suatu siakap buadaya Madura yang tidak inklusif, sebaliknya membuka diri bagi pengaruh budaya lain, seperti keterbukaannya dalam menerima tamu yang disimbolkan oleh gapura Labang Mesem. Pemangku budaya Madura terbuka terhadap budaya luar tanpa meninggalkan budayanya sendiri. Dengan perkataan lain mengadaptasi anasir budaya luar kepada budaya setempat, sehingga terbuahkan paduan budaya yang akulturatif.

Pada gapura Labang Mesem yang dibangun semasa pemerintahan Panembahan Sumolo ini, unsur arsitektural dari Masa Hindu-Buddha lainnya adalah atap yang berbentuk tumpang (meru), yakni atap bersusun dalam jumlah gasal (ganjil), yang pada gapura ini terdiri atas tiga susun, yang makin ke atas semakin mengecil dan diakhiri dengan kemuncak (Memolo). Atap meru juga didaati pada Masa Hindu-Buddha, baik pada bangunan profan terlebih pada banguan sakral, Model atap yang demikian juga berlanjut hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam, Bahkan, di beberapa daerah berlanjut sampai sekarang, seperti tergambar pada bangunan suci pura, masjd, dan sebagainya. Atap meru iitu menaungi ruangan berdinding terbuka yang berada di atas koridoor (lorong keluar-masuk), sehingga tampak sebagai bangunan berloteng (verdiping) yang digunakan untuk memantau segala aktifitas di dalam lingkungan keraton, termasuk kegiatan di Taman Sare. Pada kanan-kiri koridoor terdapat sepasang ruang kecil dan pendek dengan pintu yang pendek pula dibawah naungan teras, yang di dalamnya terdapat tangga kayu untuk naik-turun ke/dari loteng.

Kecuali atap banguan yang berbetuk meru dan konsep arsitektur padhuraksa bersayap, konponen-komponen arsitektur lain dari gapura ini, utamanya pada fasadenya, dengan jelas memperlihatkan unasir seni bangunan Eropa, seperti tergambarkan pada pilar ganda di kanan-kiri koridoor, pelipit, kolom lengkung pada koridoor, bangun segitiga pada bagian atas fasade sisi depan, maupun teknik arsitekturya. Paduan antara nasisr arsitektur Eropa-Jawa pada gapura ini menjadi alasan kuat untuk menyatakan bahwa Labang Mesem memiliki gaya arsitektur Indis. Budaya Indis yang berkembang di Indonesia pada Masa Kolonial, khususnya pada golongan menegah ke atas warga Hidia-Belada di Jawa abad XVIII-XIX Masehi, mengindikasikan percampuran antara budaya Belanda dan Pribumi, yang dapat diidentifikasi pada pelacakannya terhadap tujuh unsur budaya universal (Sukiman, 2000). Gaya Indis tersebut tergambar jelas pada seni-bangun (arstektur), seperti dicontohkan oleh gapura Labang Mesem yang akulturatif. Ekspresi akulturatif tampak kuat pada kompleks keraton Sumenep, yang ditadai oleh percampuaran anasir budaya Jawa, Belanda, Cina dan Madura.

C. Kekayaan Khasanah Heritage Performig Art di Sumenep

Sebagai ‘daerah bersejarah’ sekaligus ‘daerah kaya budaya’ Sumenep memiliki jejak budaya masa lampau yang kaya, beragam, unik, dan penting. Peninggalan arkeologis, utamanya dari Masa Perkembangan Islam dan Masa Koloial, terdapat di pejuru wilayah Sumenep. Hal serupa tergambar dalam seni-budayanya, tidak terkecuali pada seni-pertunjukan daerah (lokal)-nya yang mentradisi. Bila kedua sumber daya budaya yang nota bene merupakan ‘warisan budaya (heritage)’ itu dikombinasikan, maka hadir apa yang dinamai ‘heritage performing art’, yakni penyajian seni pertunjukan (performing art) yang heritage di suatu pentas yang juga merupakan heritage.

Salah sebuah diantara tidak sedikit arsitektur heritage di Kabupaten Sumenep adalah komplek keraton Pajagalan atau keraton Sumenep, termasuk di dalamya adalah gapura bersayap Labang Mesem yang artistik, unik dan simbolik sebagai sebuah komponen arsitekturnya. Gapura yang masih tegak berdiri dalam kondisi relatif utuh dan lesari di seberang utara jalan ini layak kiranya dijadikan sebagai pentas (stage) bagi pemetasan beragam bentuk seni-pertunjukan lokal Sumenep yang mentradisi. Bagian depan gapura heritage Labang Mesem menarik dan unik untuk dijadikan sebagai latar (back ground) bagi pementasan seni-budaya. Tata cahaya ataupun video maping tentu bakal menambah keelokan tampilan Labang Mesem yang monumenta; itu pada malam hari sebagai latar pemetasan.

Disamping gapura Labang Mesem, sebenarnya di penjuru daerah Sumenep masih terdapat cukup banyak bangunan heritage yang tidak kalah unik dan menariknya untuk digunakan sebagai stage atau back ground pementasan seni-pertunjukan. Dalam kaitan itu pementasan seni-pertunjukan bertajuk ‘Labang Mesem Cultural Movement” pada Minggu 13 Mei 2018 dapat dijadikan contoh terapan konsepsi ‘Heritage Performing Art” di Sumenep. Ke depan model demikian bisa adaptasi untuk dicobaterapkan kepada monument heritage lainnya di Sumenep. Heritage performing Art merupakan akhtiar kultural yang diharap dapat memberi ragam manfaat. Ibarat Mutiara kata ‘sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui’, ikhtiar ini bisa untuk: (a) mengenalkan bahkan memahamkan heritage yang ada di suatu daerah, baik arsitektur yang heritage ataupun performing art yang heritage, (b) tampilan yang artistik, unik dan menarik dari monumen heritage dapat dijadikan pentas atau latar belakang pementasan seni-pertunjukan, (c) kandungan makna atau pesan dalam monumen heritage bisa digunakan untuk mengkomunikasikan atau menguatkan isi pesan yang disampaikan oleh pementasan seni-pertunjukan atau kegiatan lain.

D. Wahana bagi ‘Smiling Sucsesion’

Suksesi pemeritahan, baik berupa Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) tingkat Kota/Kabupaten dan Provinsi maupun Pilpres (Pemilihan Presiden) tingkat nasioal adalah suksesi pemerintahan yang dilangsungkan secara periodik, yakni lima tahuan. Setiap tahun bakal berlangsung Pilkada ataupun Pilpres, sebagimana halnya Pilkada Kota/Kabupaten dan Provinsi tahun 2018 pada bulan Juni 2018 mendatang. Untuk kepentingan itu, KPU Jawa Timur sebagai penyelenggara Pemilu (Pemilihan Umum) melaksanakan ikhiar untuk mensosialisasikan perhelatan yang segera dilangsungkan, yang antara lain dilaksanakan di Sumenep. Pementasan seni-pertunjukan dipertimbangkan sebagai tepat untuk didayaguakan sebagai wahana bagi sosialisasi itu, dengan pengharapan bahwa Pilkada Kota/ Kabupaten dan Provisi mendatang berlangsung dengan tertib, aman, demokratis dan membuahkan pilihan – yakni kepala daerah – yang amnah bagi penyelenggaraan pemerintahan serta pemajuan daerah untuk lima tahun ke depan.

Sosialisasi Pilkada 2018 di Sumenep pada Minggu malam, tanggal 13 Mei 2018 diselenggarakan dengan mengambil “spirit” gapura Labang Mesem, dalam bentuk ‘Heritage Performing Art’. Sengaja gapura Labang Mesem dijadikan spirit, dengan antara lain mempertimbangkan makna kata ‘mesem (senyum, smile)’ pada unsur sebutannya. Dalam konteks Pilkada, seyumam dapat dijadikan unsur penyampaikan pesan, yakni ‘laksanakan Pilkada mu dengan senyuman’, atau menjadi semacam ‘smiling sucsesion’. Memulih dengan gemibira (baca ‘tersenyum’), tersenyum bila memperoleh kemenangan sebaliknya menerima realitas kekalahan dengam senyuman (kelapangan hati) pula. Senyuman adalah kata kunc’ untuk mengeleminir kejadian buruk, baik sebelum, selama atau pasca Pilkada. Selain itu, pilihan spirit sosialisasi yang ditimba dari makna gapura (labang = lawang = pintu) bernama Labang Mesem menyiratkan pesan bahwa Pilkada adalah ‘pinitu masuk’ bagi suksesi pemeritahan periodik. Merupakan pintu pula bagi perubahan ataupun kesinambungan dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembagunan pada lima tahun kedepan.

Dengan pemakanaan yang demikian, niscaya Pilkada bakal merupakan ritus suksesi pemeritahan yang insya Allah bermakna bagi khalayak. Semoga tulisan yang cuma bersahaja ini membuakan keraedahan. Nuwun.

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 11 Mei 2018

 

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019