REVITALALISASI TAMAN SRIWEDARI LEPAS KONTEKS

 

Potret Buram Pusaka Saujana

REVITALALISASI TAMAN SRIWEDARI LEPAS KONTEKS

Senjakala Pusaka Saujana Keraton Solo

Oleh:
M. Dwi Cahyono

A. Kesejarahan Taman di Lingkungan Keraton
1. Taman Kerajaan dalam Sejarah Jawa

Sebagai suatu kosa kata, istilah ”tamãn” telah kedapatan dalam Bahasa Jawa Kuna maupun Tengahan, yang secara harafiah berarti taman, taman hiburan (Zoetmuder, 1995:1189). Istilah ini antara lain dijumpai dalam susastra Adipatwa (81), Udygaparwa (24), Sumanasataka (2.1, 10.19), Sutasoma (68.4), Subhadrawiwaha (12.4), dan Kidung Ranggalawe (4.114). Orang yang bertugas sebagai penjaga atau pengawas taman dalam sumber data epigrafi (misalnya dalam prasasti Poleng II. 1B.3) disebut “mataman’, yang bersionim arti dengan ‘juru taman’. Istilah ‘taman’ terus dipakai dalam Bahasa Jawa Batu, bahkan dijadikan kosa kata dalam Bahasa Indonesia dengan arti sama. Tidak jarang kepadanya ditambahkan kata ‘sari’, sehingga muncul perkataan ‘tamansari’.

Dalam kompleks keraton (kadatwan, kedaton) pada era Kerajaan di Masa Himdu-Buddha maupun era Kasultanan di Masa Perkembangan Islam, taman menjadi bagian integral lingkungan istana raja-raja Nusantara. Oleh karena pada taman terdapat berbagai tanaman – termasuk aneka tanaman bunga (kusuma wicitra) serta satwa, maka tampak menyerupai kebon, sehingga muncul sebutan “kebon (acap dipersingkat menjadi ‘bon’) rojo’. Terkadang taman diperlengkapi dengan telaga, yang pada bagian tengahnya terdapat gundukan tanah asal atau tanah urug sebagai tempat berdirinya bangunan (bale). Bangunan (bale) tersebut seolah ‘mengambang’ di permukaan air, sehingga muncul sebutan ‘balekambang’. Secara simbolik-kosmologis bale (balai) melambangkan gunung Meru yang berada di Jambudwipa, dan dikelilingi dengan tujuh lapis samudra (segaran) berbentuk cincin (ring, melingkar). Oleh karena taman kerajaan merupakan tempat yang indah-permai, maka dapat difamai apabila menjadi tempat pilihan para putri untuk bersuka cita, sehingga tamansari acap mendapat sebutan ‘keputren’.

Kitab gancaran Pararaton berkisah bahwa Ken Dedes dan Akuwu Tunggulametung pergi melancong ke ‘Taman Baboji’ dengan mengendari giligan (semacam pedati). Semestiya lokasi Taman Baboji tidak terlalu jauh dari Kadatwan Tumapel, karena perjalan dilakukan menggukan gilingan dan ketika itu Dedes tengah hamil muda. Bisa jadi Taman Baboji [yang bisa diidetifikasi dengan situs patirthan Watugede sekarang] adalah semacam kebonrojo dari keakuwuan Tumapel, Gambaran menngenai tamaan juga didapati pada relief candi. Dalam relief ‘Ramayana’ di teras I candi induk Penataran misalnya divisualisasikan tamansari di lingkungan istana Langka (Alengka, dalam pewayangan Jawa disebut ‘Ngalegkdirojo’), yang dilengkapi dengan Balekambang. Tatkala sejumlah bangunan keraton dilalap api, yang tersulut dari ekor Hanuman yang terbakar, Rahwana membawa para putri ke areal balekambang yang berada di Tamansari, tempat dimana Dewi Sita disekap oleh Rahwana. Serupa dengan Sita, kakawin Arjunawiwaha juga mengkisahkan bahwa widyadari Suprabha disekap oleh raksasa Niwatakawaca di tamansari, sebagaiama divisualkan dalam relief cerita di kaki candi Surawana. Gambaran visual mengenai tamansari juga didapati pada relief Sudhamala di kaki candi Tigawamgi. Setelah ‘diruwat’ dengan jalan mengorbankan Sahadewa (Sadewa), syahdan ksetra Gandamayu yang agker serta mengerikan – tempat dimana raksasasi Ra Nini, yakni Dewi Uma ketika manakala terkena sapata (kutuk) dari suaminya (Dewa Siwa) – berubah wujud menjadi tamansari yang indah.

Pada relief-relief candi tersebut tamansari digambarkan sebagai lingkungan tertutup, yang dilegkapi dengan gapura dan pagar keliling. Oleh kerena itu, untuk dapat menemui Dewi Sita yang disekap di tamansari kerajaan Langka, Hanuman musti memanjat pohon nagasari, sebagaimana tergambar pada kalimat ‘Hanuman malumpat sampun, prateng wit nagasari”. Demikian pula pada relief Arjunawiwaha di kaki candi Tigawangi, digambarkan bahwa untuk dapat memantau Dewi Suprabha yang disekap oleh Niwatakawaca di tamansari, maka Arjuna pun memanjat pohon. Demi keamanan tamansari, pihak kerajaan membentuk satuan tugas pengaman taman. Bisa jadi, ketika Ken Angrok pertamakali melihat Ken Dedes di Taman Baboji, jabatannya kala itu adalah sebagai prajurit penjaga dan pemelihara tamansari (mataman, juru taman). Gambaran tamansari demikian juga didapati pada era Kasultanan, seperti tampak pada Tamansari di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Tamansari di kompleks kasultanan Sumenep, Taman Narmada di Lombok, dsb.

Baik tamansari ataupun kebonrojo adalah areal dan komponen arsitektural yang integral di lingkungan pusat pemeritahan. Ada kemugkinan tamansari terletak pada lingkungan dalam (jron benteng). Adapun kebonrojo, yang membutuhkan areal luas, ditempatkan di luar benteng. Telaga Bureng (yang bisa diidentifkasi dengan situs Wendit Wedok sekarang) yang berair jernih-kebiruan dengan sejumlah bangunan bagus di sekelilingnya, yang disinggahi oleh rombongan Hayamwuruk pasca perjalanan ziarah (pylgrime) di pendharman Kidal dan Jajaghu boleh jadi adalah Kebonrojo kerajaan Tumapel. Model penataan lingkungan yang demikian berlanjut hingga di era kasultanan. Taman Sriwedari di Kota Solo adalah bonrojo Kasunanan Surakarta Hadiingrat. Keberadaan dan konsepsi kebonrojo yang terdapat di lingkungan keraton ini kemudian diadopsi dalam skala yang lebih kecil (replica) pada pusat-pusat pemerintahan di daerah (kadipaten/kabupaten). Misalnya, hingga kini masih terdapat bonrojo di Blitar dan konon daerah- daerah pada kawasan Mataraman (Tulunagung, Kediri, Nganjuk Madiun, Ngawi, dsb.) juga memiliki bonrojo.

Lokasinya di luar benteng keraton memberi peluang bagi khalayak untuk dapat mencercap faedah taman yang dibangun oleh karaton. Terlebih tanam luas itu dilengkapi dengan prasarana dan sarana pertunjukan seni-budaya, yang memberi hiburan terhadap rakyat. Oleh karena itu kata ‘taman’ dapat diartikan dengan ‘taman hiburan’. Dalam konteks ini taman raja (baca ‘kebon rojo’) mengkontribusikan fungsi rekreatif, edukatif, maupun ekologis. Secara sosiologis, taman menjadi sarama penghubung (mediator) antara warga dalam keraton dan luar keraton melalui fasilitas dan kegiatan seni-budaya yang dilangsungkan padanya. Kebon raja dengan demikian semenjak dahulu diposisikan sebagai ‘ruang public (open space)’, dimana semua orang bisa hadir kepadanya, serta berbagai kegiatan seni-budaya dapat diekspresikan di dalamnya.

Apabila benar yang dipaparkan di atas, lingkungan keraton/kasultanan dilengkapi dengan tamansari dan kebonrojo, berarti telah berada lama dalam sejarah kemonarkhian di Jawa. Oleh karenanya layak bila dikatakan ’menyejarah’, yakni semenjak Masa Hindu-Buddha dan berlanjut hingga Masa Perkembangan Islam. Bahkan, jejak-jejaknya masih dijumpai pada sejumlah daerah di Jawa. Kebonrojo dengan bale kambang di dalamnya dikemas menurut konsep kosmologis yang berakar panjang di dalam sejarah Jawa. Dengan mempertimbangan usianya, kelangkaannya kini, urgensi fungsinya maupun kandungan makna simboliknya, maka tamansari dan kebonrojo layak dimasukkan dalam kategori “heritage (pusaka),” yang bukan sekedar sebagai pusaka alam (natural heritage) namun sekaligus merupakan pusaka budaya (cultural heritage). Paduan pusaka alam dan pusaka budaya acapkali disitilahi ‘pusaka saujana”. Dalam kaitan itu, taman raja (kebonrojo) yang dibangunan pada masa lampau dan masih dijumpai jejaknya hingga masa kini merupakan ‘pusaka saujana’.

2. Taman Sriwedari sebagai ‘Pusaka Saujana’

Apabila menilik awal pemdiriannya (tahun 1899-1901), Taman Sriwedari yang dicetuskan pembangnannya oleh Sri Susuhunan Pakubuwno X (1893-1939), masuk dalam kategori ‘tinggalan sejarah’ atau ‘warisan budaya masa lampau (heritage)’. Pada tahun 1901 diresmikan purnabangun Taman Sriwedari dan difungsikan sebagai taman rekreasi (hiburan) sekaligus tempat peristirahatan bagi keluarga istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Areal luas (sekitar 10 Ha) yang ditumbuhi pepohonan besar serta dilengkapi dengan balekambang artifiasial ini dikenal dengan sebutan “bon rojo (sebutan ‘bon’ merupakan kependekan dari kata ‘kebon’, dalam arti : taman), yang menunjuk kepada ‘taman raja’. Luasmya taman tercermin pada unsur sebutannya ‘wedari (wedar+i)’, yakni istilah dalam Bahasa Jawa Kuna hingga Jawa Baru, yang secara harafiah berarti : luas terbentang, nampak (seutuhnya), terbuka, tersingkap (Zoetmulder, 1995:1407). Sebutan ‘Sriwedari’ kedapatan dalam cerita pewayangan Jawa sebagai ‘taman surgawi (taman Kaindran)’, yang menjadi inspirasi bagi pembangunan taman ini. Lahan untuk taman dibeli oleh KRMT Wirjodiningrat (kakak ipar Sri Susuhunan Pakubuwono X) dari Johannes Busselaar (orang Belanda yang tinggal di Solo) pada 5 Desember 1877, dengan status ‘tanah hak milik’. Setelah diberlakukan Undang-Undang Pokok Agraria oleh Pemerintah RI (berlaku sejak 24 September 1960). status kepemilikan tanah Taman Sriwedari didaftarkan kembali, namun hanya mendapat status ‘Hak Guna Bangunan (HGB) 22’, karena baru didaftarkan pada tahun 1965.

Taman Sriwedari bukanlah sekedar hamparan tanah amat luas dengan bangunan-bangunan artifisial di atasmya sebagai komponen arsitektural, namun berisi komponen ekologis yang berupa flora dan fauna. Pada sisi tenggara terdapat kolam melingkar (segaran) dengan gundukan tanah di tengahya, yang didesian secara artifisial seagai bale kambang. Untuk menjangkau gundukan tanah di tengah kolam dibangun jembatan penyebarang. Pada gundukan tanah itu ditempatkan panggung (diberi nama ‘Pangeksi’), yang pada tahun 1950-an digunakan sebagai tempat pementasan musik keromcong. Di bawah panggung terdapat sebuah ruangan, yang dinamai ‘Guosworo (berasal dari kata ‘guo’ dan ‘sworo’, yang berarti: gua suara. sebagai tempat penyimpanan gamelan keratom (gamelan Satiswaran), yang siap sedia apabila diperlukan dalam siatu pementasan,. Pada sub-area selatan dibangun paviliun yang nyaman, dengan konsep ‘bangunan terbuka’ dan bertingkat sebagai tempat peristirahatan dan sekaligus refreshing.

Pepohonan besar seperti Casuarina, kenari, trembesi dsb. terdapat di penjuru areal taman. Sementara pada permukaan segaran tumbuh tanam teratai yang bunga-bunganya menghiasi kolam melingkar. Kolam kian dibuat mempesna oleh renang angsa dan itik maupun keberadaan burung-burung bangau. Aneka warna bunga ditanam guna memperindah pemampilan panggung Pangeksi. Sri Susuhunan Pakubuwono X menambah koleksi di Taman Sriwedari dengan memelihara aneka jenis hewan di lingkungan taman. Di sebelah selatan, tidak jauh dari pavilion, ditempatkan banyak rusa. Di sisi utara terdapat sejumlah kandang untuk memelihara beberapa jenis hewan liar, seperti buaya dan kura-kura. Tak jauh dari situ, terdapat sejumlah kandang lain untuk harimau dan macan kumbang. Pada sebelah selatannya lagi, terdapat kandang monyet, siamang, dan orang utan. Ada juga kandang gajah dan berbagai jenis unggas seperti ayam liar dan ayam emas.

Pada sepanjang paro pertama abad ke-20, khususnya selama pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X, diadakan acara perayaan besar di Taman Sriwedari setiap “peringatan ulang tahun Susuhunan”. Tidak hanya itu, untuk memarakkan suasana Taman Sriwedari sebagai pusat hiburan, Sri Susuhunan Pakubuwono X menginstruksikan pembangunan gedung pertunjukan bagi kesenian wayang orang (wayang wong) di lingkungan Taman Sriwedari, yang populer dengan sebutan ‘GWO (Gedung Wayang Orang)”. Hampir setiap malam, pementasan wayang orang ditampilkan di gedung ini. Bahkan, dari tempat ini lahir lahir perkumpulan wayang orang yang terkenal, yaitu “Wayang Orang Sriwedari”, yang dibentuk pada tahun 1911. Kawasan gedung pertunjukan wayang orang ini kemudian dikenal dengan sebutan “Taman Hiburan Rakyat (THR)”. Di sebelah gedung pertunjukan ini didirikan bangunan yang difungsikan sebagai museum, yaitu “Museum Radya Pustaka”, yang dibangun pada 28 Oktober 1980, oleh salah seorang pejabat istana bernama Kanjeng Adipati Sosrodiningrat IV.

Sejak masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X, Taman Sriwedari menjadi tempat diselenggarakannya tradisi Malam Selikuran (malam ke-21 bulan Ramadhan), yang sering disebut juga sebagai “Malam Lailatul Qadar”, Kala itu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan warga Solo menggelar tradisi ‘Kirab Seribu Tumpeng’, dimulai dari pelataran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan berakhir di Taman Sriwedari. Seribu tumpeng diarak dan kemudian diperebutkan oleh warga di Taman Sriwedari, lantaran dipercayai sebagai mengandung berkah. Tradisi tersebut diyakini telah ada semenjak zaman Kewalian dan berlanjut ke masa Kesultanan Demak, Mataram, Kartasura, hingga era Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Selain itu Taman Sriwedari juga pernah menjadi lokasi bagi penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I pada tahun 1948

Paparan diatas memberi gambaran adanya penataan area, yang mendasarkan pada konsep tertentu, diisi dengan kegiatan tertetu, dan untuk memeuhi fungsi tertentu. Taman Sriwedari oleh karenanya tidak cukup dilihat sebagai sekedar bentang lahan yang bisa diapasajakan, namun perlu ‘dikalkulasi secara menyeluruh (holistic)’. dengan memperhatikan secara seksama baik konponen arsitektural, ekologis maupun ragam altifitas sosio-kultura yang berlangsung padanya dalam kurun waktu lama dan memberi kontribusi fungsi riil. Arti pentingnya menjadi dasar pertimbangan untuk sekarang dan ke depan dilakukan upaya guna melestarikan bentuknya dan meneruskan fungsinya.

B. Revitalisasi Konseptual-Kontekstual Taman Sriwedari
1. Urgensi Taman Sriwedari

Komtribusi fungsi Taman Sriwedari bukan hanya merupakan tempat rekreasi (hiburan) dan tempat peristirahatan bagi keluarga Kasunan Surakarta Hadiningrat, namun sekaligus adalah ruang pubik yang dijadikan sebagai pusat hiburan bagi khalayak, ajang berlatih dan mengekspresikan seni-budaya, serta diposisikan sebagai ‘mediator’ sosio-kultural antara lingkungan dalam keraton (pemerintah) dengan lingkungan di luar keraton (rakyat, masyarakat). Taman Sriweidari dengan demikian bukan sekedar mengemban fugsi rekreatif, namun sekaligus mempunyai fugsi edukatif (baca ‘edu-kuluiral’), serta fungsi konservasif-ekologis. Beragam fungsi hadir di dalamnya untuk dikontribusikan kepada khalayk. Oleh sebab itu wajarlah bila pada masa lampau warga masyarakat di Solo memperoleh banyak kefaedahan dari keberadaannya, sehingga taman yang berada di jalan poros Kota Solo ini konon menjadi tempat favorit untuk dikunjungi oleh khalayak.

Meskipun Taman Sriwedari baru diresmikan purnabangunnnya pada tahun 1901 (berartti 117 tahun dari sekarang), namun bukan berarti bahwa konsep dan isiannya terbilang muda. Taman kerajaan adalah konsepsi lama, yang telah ada pada Masa Hindu-Buddha dan awal Perkembangan Islam. Balekambang yang berada di dalamya adalah produk arsitektural simbolik-kosmologis yang telah ada semenjak Masa Hindu-Buddha dan berlanjut hingga awal masa kasultanan di Nusantara. Begitu pula tradisi ‘Malem Selikuran”, yang secara periodik diselenggarakan di Taman Sriwedari diprakirakan telah ada sejak zaman Kewalian. Kebonrojo yang bermula pada pusat pemerintahan kerajaan/kasultanan kemudian dijadikan ‘jargon’ untuk dibuat duplikatif-replikatifnya di daerah-daerah. Dengan demikian cukup alasan untuk menyatakan bahwa tradisi budaya Jawa dari masa ke masa direpresentasikan di Taman Sriwedari, sebagai taman yang berkonsep sosio-kultural dan ekologis. Oleh karena itu, apabila Taman Sriwedari lenyap, bukan hanya hilangnya produk budaya dari satu abad lalu, namun turut pula mengilang represetasi sosio-kultural-ekologis yang menjadi khasanah kekayaan Nusantara lintas masa.

Urgensi Taman Sriwedari juga tergambar pada statusnya sebagai ‘Cagar Budaya (CB)’ dan sekaligus ‘pusaka saujana’, yang sebagaimana diamanahkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 tahun 2010 tentang ‘Cagar Budaya’ perlu untuk dilestarikan, bukan hanya oleh pemilik CB meliankan juga oleh pemerintah. Tidak ada alasan lantaran terjadi sengketa kepemilikan, maka BC dan sekaligus pusaka saujana Taman Sriwedari diterlantarkan hingga kurun waktu lama, sehingga terjadi kerusakan bahkan kehancuran baik pada komponen arsitektuar lamanya maupun khasanah flora dan faunanya. Kebangkrutan usaha hiburan THR (Taman Hiburan Rakyat) di areal Sriwedari semestinya tak dimaknai sebagai telah berakhirnya seluruh fungsi dari taman bersejarah (historical park atau hetitage park) Sriwedari, sehingga terhadapnya disodorkan fungsi baru yang tidak gayut bahkan bertubrakan dengan fungsi-fungsi lamanya. Oleh karena itulah revitalisasi terhadap Taman Sriwedari semestinya menperhitungan landasan konsepsional maupun kontekstualitas dari taman yang telah menyejarah ini.

2. Konsepsional dan Kontekstualitas Revitalisasi Taman Sriwedari

Taman Sriwedari ‘bukanlah suatu taman biasa’. Bukan saja lantaran dibangun dan mulanya diperunukkan bagi keluarga Kasunanan Surakarta Hadiningat, namun di dalam perkembangannya mengalami diversifikasi menjadi ‘taman rakyat (baca ‘ruang publik’), dengan beragam fungsi yang ada di dalamnya. Pemberian bentuk dan penyematan fungsinya mendasarkan pada konsep budaya dan ekologi Jawa yang berakar dalam pada sejarah Jawa. Oleh karena itu, Taman Sriwedari boleh dibilang sebagai ‘taman berkonsep’. Perjalanan sejarah Taman Sriwdari perlu dijadikan referensi untuk merevitaliasasikannya. Begitu juga konsepsi ekologisnya yang simbolik-kosmologis dalam penataaan lingkungannya mustilah dijadikan sebagai ‘bingkai (frame)’ bagi penataannya sekarang dan mendatang. Demikian pula fungsi kulturalnya sebagai tempat berlatih dan mempresentasikan produk seni-budaya lokal maupun fungsi sosialnya sebagai ‘ruang perjumpaan’ antar elemen di masyarakat hendaknya dijadikan aspek-aspek pertimbangan utama dalam merevitalisasikannya.

Revitalisasi terhadap Taman Sriwedari seyoyananya diselaraskan dengan konteksnya, baik konteks historis, konteks sosio-kutural, maupun koteks ekologisnya. Kemasan bentuk dan fungsi dalam revitalisasi Taman Sriwedari tidak cukup sekedar dimaknai dengan pemberian bentuk dan fungsi baru sebagai perwujudan dari pemberian ‘perubahan (changes)’ terhadapnya, namun perlu pula disertai dengan pensinambungan (continuity) bentuk dan fungsi lama yang relevan bagi masa kini dan mendatang. Konsepsi ‘eko-sosio-kultura’ Taman Sriwedari yang kental nuansa Jawa-nya dan beragam fungsi lama (rekreatif, edukatif, sosio-kultural, dan ekologis)-nya sebagaimana telah dipaparkan diatas bukan ‘out of date (ketinggalan zaman)’ atau tak relevan dengan kehidupan masa kini, sehingga layak untuk diteruskan dengan disertai sentuhan atualisasi seperlunya. Dengan kata lain revitalisasi Taman Sriwedari mustinya tidak dilakukan dengan ‘memutus rantai sejarahnya’, bukan dengan ‘menganulir tali tradisinya’, dan sebaliknya memaksakan fungsi baru yang tidak selaras dengan konsep dan konteks lamanya. Kalaupun tersedia cukup dana untuk menanganinya, maka pilihannya bukan dengan menghadirkan bangunan besar dengan desain gaya seni-bangun yang ‘tidak njawani’ dan berbiaya besar yang belum pernah terdapat di Taman Sriwedari, namun ada baiknya diprioritaskan kepada restorasi (pemugaran), preservasi (perawatan) serta revitalisasi (penguatan) terhadap fungsi-fungsi lamanya yang pada keberadaannuan kini mengalami dekadensi (kemerosotan).

Menghadirkan konponen arsitektural dengan gaya arsitektur dan fungsi yang tidak selaras dengan kosep dan konteks lama dari Taman Sriwedari bukan hanya ‘tidak matching’, namun juga berpotensi terjadinya gesekan bahkan benturan kepentingan. Suatu pilihan yang bersiko, yang ada baiknya dihindari dan digantikan dengan rencana lain yang lebih berfaedah untuk pelestarian CB dan pusaka saujana Taman Sriwadari yang nota bene merupakan ‘ikon-kultural’ sekaligus ‘ikon-ekologis’ di Kota Solo. Taman sebagaimana terdapat di Kota Solo ini tidak dimiliki oleh banyak daerah di Indonesia, sehingga amat disayangkan apabila mengalami kerusakan dan kemusnahan, dan sebaliknya perilu dilestarikan bentuk fisis-asitektural, tata linglungan maun fungsi-fungsi yang melekat padanya. Bukan dengan alasan dalam sejumlah hal mengamai kerusakan dan kemerosotan fungsi lantas dibiarkan terlantar untuk kemudian dilumatkan dan digantikan dengan kemasan baru sebagaimana akhir-akhir ini terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, utama di kota-kota besar.

C. Revitalisasi Taman Sriwedari dalam Konstelasi Kepusakaan Nasional

Keelokan dan pesona Taman Sriwedari tinggal cerita masa lalu. Taman Balekambang yang konon ditumbuhi teratai berbuga indah dengan itik, angsa dan burung bangau penghuninya beserta wisata perahunya berganti dengan kolam pancing, yang debit airnya semakin mengecil. Gundukan tanah (baca ‘pulau’) pada tengah kolam dengan vegetasi cukup lebat serta panggung Pangeksi dan Guoswro-nya tidak terurus, sehingga nyaris menjadi puing kebesaran masa lalu. Beberapa bagian tebimg kolam lingkar rompal, Kandang dan aneka satwa yang melengkapi khasaah hayati Taman Sriwedari tak lagi diumpai. Souvenirshop pada samping-depan kawassan taman mirip lapak lawas yang kurang mengundang minat untuk menyinggahi. Area tebuka hijau menjadi lapangan dengan rerumputan tinggi,

Arsitektur yang masih cukup kokoh berdiri dan berfugsi tinggal gapura depan, pendopo, dan GWO. Itupun kurang tarawat, yang beberapa bagiannya tidak layak pakai. Museum Radyapustaka yang menjadi bagian integral dalam kompleks Taman Sriwedari ‘jalannya terseok-seok’, Taman Hiburan Rakyat (THR), yang dahulu merupakan destinasi rekreatif bagi warga Solo berstatus ‘almarhum’, bahkan kini diratakan dengan tanah untuk peruntukan lain. Seiring dengan keruntuhannya, fasilitas kulier di sekitarnya mengalami kemersotan pembeli. Ketika hujan turun, air menggenaagi beberapa ruas jalan pedestrian yang aspalnya berlobang dan melesak, Siapapun yang melihatya, timbul kesan bahwa Taman Sriwedari yang pernah eksotis telah lama diterlatarkan dan mengalami pembiaran. Kerusakan demii kerusakan hingga robohnya beberapa banguan serta tata tamannya adalah konsekuensi logisnya dan dijadikan alasan untuk merombaknya. Pendek kata kini nasib Taman Sriwedari yang konon menjadi kebanggaan Kota Solo menjadi ‘nelangsa’. Ibarat rambut kepala, terlihat lebat dari muka, mamun botak di tengahnya.

Nestapa yang menimpai CB dan pusaka saujana Taman Sriwedari bukan kanya fenomena yang terjadi Kota Solo, namun juga menimpai CB dan pusaka (heritage budaya, alam, dan sujana) di kota-kota lain pada beberapa dasawarsa terkhir. Laju pembangunan kota yang berorientasi pada kepentingan kekinian dan keakanan tak pelak ‘menelan korban’ dengan merenovasi, merusak, dan bahkan melupamatkan CB atau pusaka yang telah ada jauh sebelumnya. Terlebih yang terletak di ruas jalan strategis di daerah bersangkutan. Taman Sriwedari yang berada di ‘jalan poros’ Slamet Riyadi Kota Solo adalah salah satu fenomena yang demikian. Keberadaan CB atau pusaka di ruas jalan yang strategis memberika keuntungan dan kerugian. Salah satu keuntungannya adalah mudah diakses oleh khalayak. Namun, lantaran lokasinya yang strategis, maka rentan terjerembab dalam pusaran perebutan kepentingan, yang ujung-ujung berdampak pada kelestarian bentuk dan fungsi yag diembannya. Perebutan kepemilikam acap menjadi musabab keterlayarannya. Demikian pula alih kepemilikan acap dilanjuti dengan pengubahan atau penambahan bentuk batu, yang dikakukan untuk menyesuikan dengan fungsi baru yang disematkan kepadanya.

Taman Sriwedari yang kini telah melewati usia satu abad (tepatnya 107 tahun) ini tengah berada di ‘senjakala’, yang bukan tidak mungkin segera ditelan kegelapan malam dan tiada lagi di keesokan harinya bila tidak dilestarikan. Atau boleh jadi pula, bakal tetap berada melewati malam demi malam apabila dikonservasi dan dimanfaatkan. Fenomena yang terjadi di ‘kota budaya’ Solo ini menjadi barometer bagi kelestarian CB/pusaka budaya di daerah-daerah lain. Bila ‘penjagaan gawang pelestarian budaya’ di Kota Budaya ini jebol, maka berpotensi viral pada kota-kota lain yang tak sekuat kepedulian dan kecintaan budayanya jika dibanding dengan warga masyarakat di Solo. Menyadari akan itu, maka ada baiknya revitalisai CB atau pusaka di Kota Solo, tak terkecuali terhadap Taman Sriwedari dilakukan dengan megindahkan kaidah-kaidah pelestarian CB ataupun pusaka (alam, budaya maupun saujana). Revitalisasi yang dilaksanakan di daerah ini bukan hanya bermanfaat bagi kecagarbudayaan atau kepusakaan di Kota Solo, namun dapat dijadikan ‘contoh teladan’ bagi daerah-daerah lain dalam melestariakan CB atau pusaka di daerahnya.

Semoga masih ada ‘ruang dialog’ antara Pemerintah Kota Solo yang hendak menghadirkan bangunan baru untuk tempat perbadatan di Taman Sriwedari dengan para pemannku seni-budaya di Kota Budaya ini, sehingga diperoleh ‘solusi jalan tengah’ yang mutualistik bagi berbagai pihak. Kata kincinya adalah ‘bukan pada siapa yang lebih kuat dalam memenangkan kepentingan serta rencananya, namun lebih kepada kefaedahannya bagi khalayak’, yakni dengan sedapat mungkin menghidari ‘pilihan yang beresiko’. Sistem prioritas, yang mendahulukan kepentingan pelestarian dan penguatan fungsi-fungsi yang telah ada sebelumnya layak untuk dipertimbangkan ketimbang mengisikan bangunan baru dengan fungsi baru yang tak selaras dengan konsep dan konteks Taman Sriwedari dari waktu ke waktu. Semogalah tulisan ini membuahkan kemafaatan bagi penanganan bijak Taman Sriwedari. Ke depan, semoga Taman Sriwedari ibarat menjadi ‘taman sorgawi’ bagi olah-kreasi dan unjuk ekspresi seni-budaya Nusantara. Nuwun.

Padepokan Lemah Putih Karanganyar, 1 April 2018
PATEMBAYAN CITRALEKHA

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*