TELISIK SEJARAH PANJANG PERKOPIAN MALANG RAYA

 

Ngopi yuk ngopi !!!

MALANG BARAT, SUB-KAWASAN RINTIS PERKEBUNAN KOPI : Telisik Sejarah Panjang Perkopian Malangraya

Oleh: M. Dwi Cahyono

Kancah perkopian di Indonesia yang menggeliat kembali di antero dunia pada dasawarsa terakhir mendapatkan kontribusi yang tidak kecil dari Kawasan Malangraya, khususya dari sub-kawasan Malang Timur-Selatan, seperti dari wilayah kecamatan Dampit, Sumbermanjing Wetan, Ampel Gading dan Kalipare. Sebenarnya, selain sub-kawasan itu, terdapat sub-akawasan lain yang juga turut mengkontribusikan produk perkebunan kopinya, yaitu sub-kawasan Malang Barat, seperti wilayah kecamatan Pujon-Ngantang dan Kromengan. Kendatipun kini sebagai ‘daerah produsen kopi’ pasokan kopi dari sub-kawasan Malang Barat tak sebesar dari sub-kawasan Malang Timur-Selatan, namun bila menelisik perjalanan pajang perkopian Malangraya, tergambar bahwa justru pada sub-kawasan Malang Barat lah budidaya kopi di Malangraya memulakan debutnya.

Dalam rangka menyingkapkan kontribusi historis sub-kawasan Malang Barat terhadap ekonomi agraris Malangraya, tulisan singkat lagi besahaja ini dibuat, dengan harapan dapat menambah khasanah pengetahuan mengenai sejarah kopi Malangraya, yang memiliki andil besar dalam penumbuhan dan pengembangan Malangraya sebagai kawasan terbesar kedua di Provinsi Jawa Timur. Cukup alasan untuk meyatakan bahwa kebesaran Malang di masa lalu adalah ‘berkah dari perkebunan kopi’. Kini pun, semestinya taaman perkebunan kopi mampu kembali berkontribusi memajukan Malangraya. Semoga.

 

A. Cercah Data Rintisan Budidaya Kopi di Malang

1. Pemeritahan dan Ekologi Malag abad XVIII-XIX

Sebelum tahun 1914, seluruh wilayah Malangraya berada dalam satu pemerintahan, yaitu Regent (Kaboepaten) Malang, yang mulanya masuk dalam wilayah Residensi Pasuruan – selain Pasuruan, Bangil, Probolinggo, Kraksan, dan Lumajang. Luas wilayah Malang tergambar dalam “Map of the Island of Java, Enginer for Schetches Civil and Military’ tertanggal 5-10-1811, karya John Joseph Stockdale, yang meliputi kawasan luas di bagian timur Jawa. Sisi barat berbatasan dengan Kadiri (Kediri) di sisi barat, Jiepang (Jipang) di barat-laut, Lamajang (Lumajang) di sisi timur, Pusuruan dan Sourabaya (Surabaya) di sisi utara, serta Samudra Hindia (Samodra Indoesia) di sisi selatanya. Pada peta itu tak tampak detail daerah Malang. Yang tampak jelas hanya sebuah sungai, yang amat boleh jadi adalah Bramtas.

Pada Staatsblad Nomor 16 tahun 1819 dan Nomor T 2 tahun 1874, diputuskan bahwa Karesidenan Pasuruhan terdiri atas tiga kaboepaten, yakni: (1) Pasuruhan, (2) Bangil, dan (3) Malang. Menurut sumber sejarah berupa tulisan tangan era Penjajahan Inggris tahun 1812 “Detailed Settlement of Residecy of Malang’, dinyatakan bahwa Malag terdiri dari enam kawedanan (district), yaitu: (1) District Kotta, (2) Karang Lo, (3) Pakis, (3) Gondang Legi, (4) Penanggungan, (6) Antang (kini ‘Ngantang’). Kampung-kampung di District Kotta adalah Pasar Kidul (kini ‘Kidul Pasar’), Taloon (kini ‘Talon), Kahooman (kini ‘Kauman’), Leddok (kini ‘Ledok Btantas’), Temmengoonhan (kini ‘Tumenggungan’), Geddong (kini ‘Gadang;), Palleyan (kini ‘Polean’), Jodeepan (kini ‘Jodipan’), Kaballen (kini ‘Kebalen’), dan Cooto Lawas (kini dinamai ‘Kota Lama’).

Berdasarkan paparan itu tergambar bahwa terhitug sejak Noyo (kini “Dinoyo’) ke arah barat berada di luar Districk Kotta, yaitu masuk ke dalam wilayah Districk Penanggungan dan kemudian Districk Antang, Bertindak sebagai Bupati Malang ketika itu adalah Raden Tumenggung Kartonegoro. Alun-alun Kaboepaten (sebut ‘Alon-Alon Kotak’ untuk membedakan dengan ‘Alon-alon Bunder’) dibangun pada tahun 1822. Semenjak tahun 1824 di sisi selatan Alon-alon dibangun Kantor Asisten Resident. Asal mula Asisten Resident adalah Koffiesergean (Sersan Kopi), yang mengemban tugas khusus sebagai penasihat Bupati berkenaan dengan budidaya kopi. Penempatan Sersan Kopi di Malang tak lepas dari upaya mejadikan Malang sebagai daerah produsen kopi yang utama di Jawa Timur.

Dasar pertimbangan untuk menjadikan Malang sebagai areal perkebunan, utamaya kebuan kopi, karena daerah di pedalaman Jawa Timur yang berada di lingkung gunung ini hingga abad XVIII, semenjak pedudukan Kompeni Belanda (VOC) pada tahun 1767, masih merupakan daerah yang kurang aman bagi Pemeritah Kolonial Belanda. Malang kala itu berupa perkampugan yang penuh degan pepohonan. Hubungan antara Pasuruan da Malang masih sukar sekali. Demikian pula, jalan antara Lawang-Malang masih buruk dan sukar di tempuh. Terlebih sub-kawasan Malang Selatan da Timur masih berupa hutan belukar yang menurut kaca mata Kolonial bayak didiami oleh para perusuh. Hingga sekitar 60 tahun setelah perang besar melawan intervensi VOC ke Malang tahun 1767 itu, Malang dan Ujung Timur ‘nyaris tak berpenghuni’ lantaran dilanda kekacauan (Ricklefs, 2001: 226), bagaikan ‘kota mati’ yang sedikit penghuninya.

Menyikapi komdisinya yang demikian, Malang bakal tetap meadi acaman bila tidak diikutsertakan dalam lalu lintas perekonomian negara. Kawasan Malang musti ‘dibuka’, agar potesi yang terdapat di dalamnya dapat didayagunakan sebagai ajang perekonomian. Alternasi usaha ekoomi yang tepat untuk diusahakan di Malang adalah ekonomi agraris yang berupa perkebunan, dengan kopi sebagai komuditas agraris yang utama, Mengigat bahwa tanaman yang menurut Th, Raffles pada bukunya “History of Java (1817)” telah masuk ke Nusantara semenjak tahun 1696 di Batavia dan kemudian diperluas hingga ke Parahiyangan ini, pada tahun 1712 telah menjadi komuditas ekspor. Sebayak 14,5 kwintal kopi dari tanah jajahan Belanda di Jawa berhasil melakukan ekspor kopi perdana ke Amsterdam, Terbukri bahwa kopi Nusatara amat disukai di Eropa, khususnya di Demark, dan juga di Amerika, sehingga kebutuhan akan ekspor kopi dari Nusatara kian lama kian meningkat. Ketika kopi Nusantara mejadi terkenal dan meingkat permintaannya, bersamaan itu keutungan dari sector ekonomi agraris ini bertambah pula.

2. Kilas Informasi Kopi Malang abad XIX

Lereng-lereng gunung tinggi di Malangraya yang bertanah subur serta berudara sejuk dikalkulasi sebagai cocok untuk dijadikan areal perkebunan kopi yang luas. Sejak tahun 1800-an perkebuman kopi mulai diusahakan di Sub-Kawasan Malang Barat, yang kala itu masuk dalam wilayah District Penanggungan dan Antang, Sayang sekali tidak cukup banyak data diperileh megeaui sejarah kopi di Malangraya sebelum tahun 1900-an (abad XX Masehi). Kendati tak seberapa banyak, namun data yang sedikit itu mustilah dimanfaatkan untuk menerangi kesejarahan kopi Malangraya, yang merupakan tahap permulaan budidaya kopi di dataran tinggi (pleteau) berhawa sejak yang berada di lingkung gunung (Semeru-Tengger. Arjuno-Welirang, Anjasmoro, Kawi, dan Kelud). Karakter geogragis dan klimatologis Malang yang demikian menjadi modal alamiah untuk dijadikan sebagai kawasan perkebunan maha luas, yang meliputi tanaman kopi, teh, kakao, kina, dan bunga.

Sekilas data mengenai kopi di Malangraya diperoleh dari catatan perjalanan (journey report) dari seorang pejabat tinggi Belanda yang gemar mengelana, banyak melanglang ke penjuru wilayah Jawa, bernama Jan Izaak Sevenhoven. Dalam perjalanan (reis) ke Oosthoek Java (Jawa Timur) pada tahun 1812 yang ditulisnya dengan judul ‘Aantekeingen Gehouden op eene Reis over Java va Batavia naar de Oosthoek in den Jare 1812’, ia sempat mengunjungi sub-kawasan Malang Barat, yang kala itu telah merupakan areal perkebunan kopi. Sayang sekali tidak diberitakan kapan perkebunan kopi pada sub-kawasa ini mulai dibudidayakan. Namun, paling tidak pada awal tahun 1800an telah dimulai perintisannnya. Kebun kopi telah dijumpaiya semenjak di Desa Noyo (kini ‘Dinoyo”), kemudian di Alu (kini ‘Ngelo’) dan Kaling (kini ‘Sengkaling’).

Perjalanan dilajutkan dengan menyeberang Brantas – kemukian pada aliran Brantas di Pendem, serta sempat melintasi sebuah candi (belum dapat diidetifikasi candi mana yang dimaksud), hingga akhirnya sampailah di kebun kopi Batu (ada kemugkian di Batu Utara, kini masuk wilayah kecamatan Bumiaji). Lantas berherak lagi kea rah barat menuju ke Sanggariti dan Desa Rata (kini ‘Lebakroto’), yang juga ada tanaman kopinya. Jalur selajutnya adalah lembah Gunung Dwarawati menuju ke Antang, Jalur ini adalah ‘jalur purba’, yang melintasi Desa Mantung, Ngabab, Ganten, yang konon telah dijadikan jalan pehubung antara pusat kerajaan Tumapel di sub-DAS Hulu Brantas dengan Pangjalu (Kadiri) pada sub-DAS Tengah Brantas.

Tergambar dalam catatan perjalanan itu, tanaman kopi telah dibudidayakan secara luas di Malang Barat, sejak dari Districk Penanggugan hingga Antang pada tahun 1812 dan bahkan satu dasawarsa sebelumya. Cultives (areal perkembunan) kopi bukan hanya diusahakan di areal perkebunan milik pemeritah Kolonial Belanda, namun juga di tanah kubwan (kebun) milik rakyat, Kala itu, budidaya kopi belum diusahakan di sub-kawasan Malang Timur dan Selatan yang masih merupakan hutan belatara, dihuni oleh ‘para perusuh’, terlebih lagi kondisi jalannya masih sangat buruk. Jalan purba di sub-kawasan Malang Barat yang telah ada sejak Masa Hindu-Buddha (paling tidak pada abad XII hingga XVI Masehi), terdapat sederetan desa kuno yang terbilang maju pada zamannya, tanah yang subur serta bersuhu udara sejuk menjadi pertimbangan untuk memulakan usaha perkembunan kopi di sub-kawasan Malang Barat. Semetara pada sub-kawasan Malang Utara, yaitu Lawang dan sekitarnya, dibudidayakan tanaman teh.

Sayang sekali tidak diperoleh informasi mengenai jenis kopi yang kala itu ditanam, Apakah kopi jenis Arabika ataukah Robusta. Namun, apabila menilik jenis kopi yang dibudidayakan di daerah-daerah lain di Jawa dan Sumatra pada tahun 1800-an atau sebelumnya, ada kemugkinan kopi jenis Arabika lah yang dibudidayakan. Hingga kini sisa tanaman kopi jenis Arabika masih dijumpai di kebun-kebun rakyat dalam wilayah Kota Batu, Kecamatan Pujon maupun Ngantang. Kebun kopi jenis Arabika di Malang Barat kemungkinan turut terkena wabah kopi tahun 1876, yakni penyakit karat daun (Hemileia vastratix). Wabah taaman kopi ini bukan hanya menyerang perkebunan kopi di Priangan, namun juga di Sumatra dam di Ceylon – bibit kopi jenis Arabika yang menyebar di Priangan maupun Sumatera berasal dari Ceylon (Srilangka).

Hemileia vastatrix adalah cendawan anggota ordo Pucciniales, yang menyebabkan penyakit karat daun kopi. Kopi Arabika merupakan inang wajib Hemileia vastatrix. Cendawan ini berasal dari tempat asal kopi Arabika, yaitu Afrika Timur. Hama ini demikian berbahaya, karena mengundang cendawan lainnya, seperti Verticillium haemiliae dan Verticillium psalliotae. Hama karat daun menyerang perkebunan kopi di Pulau Jawa dan Sumatera, terutama yang ditanam di ketinggian kurang dari 1000 meter DPL. Ketika wabah Hemileia vastratix melanda, pemeritah Hindia-Belanda hampir tak bisa berbuat apa-apa. Produksi kopi menurun tajam, sementara permintaan kopi dari Pulau Jawa dan Sumatera tetap banyak. Balai lelang kopi Amsterdam pun terguncang. Tanaman kopi Arabika hanya bertahan hanya di dataran tinggi Ijen, Toraja, lereng atas Bukit Barisan (tepatnya di Mandhailing, Lintong dan Sidikalang), dan dataran tinggi Gayo.

B. Revitalisasi Budidaya Kopi Malang Barat

Konon di Masa Kolonial, kawasa Malang Barat merupakan areal perkebunan kopi, yang tak kalah luasnya dan telah ada jauh sebelum perkebunan kopi di sub-kawasan Malang Timur dan Selatan ada. Jejak arkeologis kopi di Ngantang misalnya ditandai dengan adanya sisa loji – sebutan bangunan perkebunan pada Masa Kolonial – di Desa Ganten (kini masih cukup utuh) dan Selokurug (sayang sebagian besar telah dibogkar). Batu Utara, yang acap diamai ‘Lor Brantas’, dikenal sebagai areal perkebunan kopi yang luas (selain tanaman kina, kakao dan bunga), yang membentang luas hingga Dusun Sumber Brantas di Desa Jurangkuali pada lembah atara Gunung Welirang dan Anjasmoro. Dalam perkembagannya, kebuan kopi di Batu meluas hingga ke ‘Kidul Brantas’, utamanya setelah diberlakunya Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yag digagas oleh Johanes van den Bosch tahun 1829 Undang-Udang Agraria (Agrarsche Wet) pada tahun 1870. Kebun kopi luas terdapat pula di wilayah kecamatan Pujon dan Ngantang. Bahkan, hingga kini produk kopi dari Desa Selokurung dikenal sebagai produk kopi terbagus di Sub-Kawasan Malang Barat.

Budidaya kopi di Malagraya semakin meluas dengan dibukanya perkebunan kopi di sub-kawasan Malang Selatan dan Timur pada akhir abad XIX da awal abad XX. Rintisan perluasan perkebuan dicanangkan oleh Gubernoer Generaal Du Buis tahun 1820, dengan mengalih fungsikan lahan dari lahan kosong menjadi lahan produktif, termasuk untuk perkebunan kopi. Di Malangraya, wilayah District Pakis, Batu, Ngantang, dan rayon Penanggungan dijadikan areal perkebunan. Produktifitas kopi dari Malangraya meningkat signifikan dengan penambahan areal perkebunan kopi pada sub-kawasan Malang Selatan dan Timur, sebagaimana tergambar pada hasil produksi kopi di Malang pada tahun 1901 yang mencapai 6.031 pikul. Kendati areal perkebunan kopi berada di sub-kawasan Selatan, Timur dan Barat Malangraya, namun dampaknya juga terhadap sub-kawasan tengah, yang menjadi sentra bagi penampungan dan penjualan produk kopi.

Pada koridoor Pecinan Besar (Bolldy) yang berdekatan dengan stasiun KA untuk bongkar-muat barang tumbuh berderetan tempat penampungan dan penjualan hasil bumi, termasuk kopi, yang berasal dari kawasan hinterland di Malang Selatan, Timur maupun Barat. Tak hanya biji kopi yang dijual di Kotapraja (Gemeente) Malang, melainkan juga kopi bubuk. Misalnya, pada tahun 1948 secara khusus dibuka kedai kopi ‘Sido Mulia’ oleh Tjing Eng Hwie di dekat Pasar Pecinan. Sentra kopi Kota Malang menguat pada dasawarsa terakhir, dimana coffe maupun caffe-resto bertumbuh menjamur di pernjuru wilayah Kota Malang. Kemudian merembes memasuki wilayah Kabupaten Malang da Kota Batu. Slogan “Malang Sejuta Kopi’ kiranya tak sekedar ‘pepesan kosong’.

Sejalan itu, ke depan hedaknya revitalisasi bagi perkebunan kopi di wilayah Kota Batu, Kecamatan Pujon dan Ngantang yang konon mejadi sub-kawasan perintisan perkebunan kopi di Malangraya, semoga menguat kembali, dan kopi berperan lagi sebagai kotributor bagi berkembangangnya Malangraya sebagaimana di Zaman Kolonial. Viva Kopi Malang bagi para ‘pengunjuk’ dan bakul kopi, pekikkan “ngopi yuk ngopi’. Nuwun.

Kaling, Griya Ajar CITRALEKHA, 8 Mei 2018

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*