Connect with us

BUDAYA

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Avatar

Published

on

Salamun ya Ramadhan

PREPEGAN-MEGENGAN, RONA TRADISI LUHUR JELANG PUASA RAMADHAN

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Arti Istilah dan Ragam Jenis Puasa

Istilah ‘puasa’ adalah kosa kata bahasa Indonesia, yang pada bahasa Jawa disebut ‘poso’. Dalam bahasa Arab sebutannya adalah ‘shaum’, yang berarti : menahan diri dari segala sesuatu. Puasa dilaksanakan dengan atau dimaksudkan untuk menahan diri dari segala perkara, seperti makanan, minuman, berbicara, menahan nafsu dan syahwat, dsb. Sedangkan secara harafiah, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, dimulai sejak terbit fajar hingga matahari terbenam. Pokok kegiatan puasa (shaum) adalah ‘menahan diri’, atau bisa disinonimkan dengan ‘pengekangan diri’. Dalam arti ‘pengekangan’ itu, pada bahasa Jawa Kuna terdapat istilah ‘pasa’, yang secara harafiah berarti : jerat, perangkap, ikatan, rantai, dan kekangan (Zoetmulder, 15:76). Istilah ini menunjuk pada benda, atau senjata ataupun tindakan.

Dalam kakawin Ramayana (24.59) terdapat perkataan ‘pasa-brata’ yang diarahkan pada tindakan durjana. Secara harafiah perkataan ‘pasabrata’ berarti: kelakuan (kewajiban) untuk menggunakan rangkaian (dalam peggunaan kekuatan kersanya). Pada arti istilah ‘pasa’ itu tak dipeoleh gambaran pengekangan diri dengan tidak makan-minum, bicara, ataupun nafsu-syahwat. Pengekangan diri untuk perihal ini secara lebih khusus dilakukan dalam bentuk ‘tapa’, yang berarti: tapa, ‘mati raga’, pengendalian indera atau nafsu, yoga. Kata ‘tapa’ acapk dikombiasi dengan kata ‘bhrata’ menjadi ‘tapa-bhrata’, dalam artiL ketaatan ibadat reliegius, tapa (Zoetmulder, 1995:1210). Dalam bahasa Jawa Baru, kegiatan demikian disinonimkan dengan ‘tirakat’.

Ada berbagai macam puasa, baik kategori wajib (fardhu). sunnah, makruh, maupun puasa haram (moharram). Ragam puasa kategori wajib adalah puasa Ramdhan, puasa Qodha (pegganti puasa wajib lantaran berhalagan), puasa Kafarat (puasa penebusan dosa besar, seperti membunuh dan melanggar sumpah), puasa Nadzar (puasa pemenuh janji, di dalam bahasa Jawa disebut ‘ngluwari ujar’). Adapun yang masuk kategori puasa sunnah adalah puasa 10 hari di bulan Syawal, puasa 10 hari pertama budan Dzulhijah, puasa Hari Arofah (tanggal 9 Dzulhijah), puasa Senin dan Kamis, maupun puasa Dawud (puasa berselang-seling waktu). Puasa makruh dikhususkan pada hari jumat dan sabtu. puasa Moharram – terutama hari Asyyro’ (tanggal 10 Muharram), puasa Sya’ban, puasa padda bulan harom (bulan yang dimuliakan), terdiri atas bulan Dzulqo;dah, Dzulhijah, Moharram. Rajab, dan sehari pasca Idul Fitri serta sepajang tahun, Selain itu, masayarakat Muslim Jawa juga mengenal poso pati-geni, poso mutih, poso ngrowot, dsb.

Diatara beragam puasa itu, yang utama adalah puasa Ramadhan, sehingga diwajibkan ‘Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (Q.S. Al-Baqoroh;183-184). Tulisan ini lebih banyak membicarakan tentang tradisi jelang puasa bulan Ramadhan, yang diistilahi dengan “prepegan” dan “megengan”.

B. Aktifitas Prepegan atau Megengan Jelang Bulan Suci Ramadhan

Apabila meilik waktu pelaksaaannyam yakni sebula punh di bulan Ramadhhan, yang wajib untuk dilakukan oleh semua umat Islam yang memenuhi syarat, maka puasa ini terbilang ‘puasa besar’. Oleh karena itu bukan hanya hal-hal ekstra yang musti dilakukan selama menjalakan ibadah puasa, namun ada hal ekstra pula yang dilakukan sebelum mamasuki ‘bulan suci’ Ramadhan, Prinsipnya, ketika memasuki bulan suci ini para pelaku puasa hendaknya telah dalam kondisi suci. Pembersihan tidak hanya dilakukan untuk dieinya, namun juga dilakukan terhadap reladinya dengan sesama manusia yang masih hidup maupun dengan leluhurnya yang telah tiada. Untuk itu dilakukan permohoan maaf kepada sesama manusia yang hidup, ziarah kubur (salah satu sebutan dalam bahasa Jawa mengenai itu adalah ‘sadranan’), pembersihan diri – antara lain menggunakan media air, Selain itu, ada sejumah kegiatan untuk memarakkan proses memasuki bulan Ramadhan, seperti selamatan (slametan, manganan), takbir keliling – ada pula yang menyertai dengan ‘pawai obor’, menabuh bedug bertalu-talu, dan varian kegiatan lain.

Pendek kata, pada satu atau dua hari menjelang memasuki bulan suci Ramadhan ada suatu kondisi khusus, yang diibaratkan sebagai suatu : pergerakan bersama secara berfokus guna mendekati atau memasuki sesuatu’ — dalam hal ini, sesuatu itu adalah bulan suci Ramadhan, padamana umat Islam mendalan ibadah puasa. Kondisi demikian dalam bahasa Jawa diistilahi dengan ‘prepek’ atau akata jadianya ‘prepegan’. Akar kata ‘prepeg (pa-repeg)’ adalah ‘rep’, yakni partikel desktipsi, (dengan) medadadk. Kata ulang ‘rep-rep’ atau ‘arep-rep’, yang berarti: dengan gerakan yang cepat dan tiba-tiba, berkibar-kibar (Zoermulder, 1995:942).

Selain kata ‘prepegan’ dihubungkan dengan waktu jelang memasuki bulan Ramadhan, istilah ini lebih sering digunakan untuk menyebut kurun waktu pendek (satu atau dua hari) jelang datangnya Idul Fitri (Lebaran). Dalam hubungan itu, ada yang membedakannya ke dalam: (a) prepegan cilik (kecil) utuk menyebut waktu dan suasana pada dua hati jelang Lebaran, dan (b) prepegan gede (besar) untuk menyebut kurun waktu atau suasana pada sehari jelag Lebaran. Suasaa itu antara lain ditandai oleh suasana pasar yang ramai sesak, karena sebagian besar orang pergi untuk berbelanja ke pasar guna memenuhi segala kebutuhan pada hari Lebaran. Suasaa pasar yang tambah marak, juga berlagsug jelang Ramadhan, yang disertai dengan naiknya harga bahan pangan, meski tak semarak jelang Lebaran.

Istilah lainnya untuk menyebut kurun waktu satu atau dua hari jelas memasuki Ramadhan adalah ‘megengan’, yang berkata dasar ‘megeng (ma-geng)’ dan berakar kata ‘geng (besar)’. Ada pula yang mengartikan kata ‘megeng’ dengan: menahan (ngempet), berkaitan dengan peringatan bahwa sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan, dimana umat Islam diwajibkan menjalankan puasa, yaitu menahan untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menggugurkan ibadah puasa itu. Kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, sesuai adat setempat. Umumnya waraga berbondong-bondong melakukan ziarah kubur, membersihkan makam, menaburi denga bunga dan mendoakan arwah leluhur. Suana marak ditandai dengan masak besar untuk dibagi-bagikan pada sanak famili. Pada malam harinya diadakan slametan (kenduri) untuk mendoakan anggota keluarga yang sudah meninggal. Ada pula yang mengadakan selamatan bersama di masjid, langgar atau mushola.

Nabi Muhammad SAW untuk senang, bergembira, atau bersuka cita menyambut tiba bulan Ramadhan. Peristiwa ini di Jawa dinamai “megengan”, siatu tradisi turun temurun untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas berkat-nikmatya selama setahun berlalu. Tradisi ini juga dijadikan pertanda bahwa sebentar lagi datang tamu istimewa, yakni Ramadhan. Megengan merupakan bukti kerukunan warga masyarakat di dalam menjalin kerukunan dan kerjasama menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Biasanya megengan dilakukan di minggu terakhir bulan Sya’ban (Ruwah).

C. Makna Kuliner Apem dalam Selamatan Megengan

Salah satu pengaan khas yang disajikan dalam slametan megegan adalah apem. Seusai malam nisfu sya’ban, beberapa hari jelang bulan Ramadhan, umat muslim bisanya melakukan tradisi megengan dengan membagikan kue apem kepada tetangga kanan kiri rumah. Ada yang mengasalkan istilah ‘apem’ dari kata ‘afum’. yang artinya adalah meminta dan memberi maaf. Oleh karena masyarakat Jawa tidak mengenal huruf ‘F’, maka kata ‘afwun’ berubah sebutan menjadi ‘apwun’. dan kemudian menjadi ‘apwum’, lantas berubah jadi ‘apwem’, dan akhirnya disebut ‘apem’.

Bahan dasar apem adalah tepung beras, yang melambangkan kebersihan dan kesucian. Sedangkan santan merupakan sari buah kelapa sebagai akronim dari kata Jawa sagetho nyuwun pangapunten, yang bermakna permohonan maaf. Gula dan garam melambangkan perasaan hati. Apabila semua bahan-bahan itu dijadikan satu, makna simbolikya adalah kesucian dan ketulusan hati. Jadi, makan kue apem bisa diartikan memohon maaf kepada keluarga, sanak saudara dan teman. Usai memakan apem, biasanya orang-orang saling bersalaman, meminta maaf dan membaca doa.

Tradisi megengan diwarnai dengan rasa syukur dengan membagi kue apem kepada tetangga. Rasa syukur dan nuansa kekeluargaan (keguuyuban ) terkadung kental didalamnya. Meskipun kue apem dalam megengan hanyalah sebentuk kiliner, namun substansi maknaya dalam. Suatu nilai kultural luhur, yang patut dilestarikan, dimasyarakatkan dan dipetik maknanya untuk diejowarahkan dalam kehidupan bermasyarakt. Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, semoga bisa membuahkan pirifikasi (pembersihan diri) terhadap segala ‘kekotoran’ yang mengotori diri selama satu talun berlalu. Nuwun

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 16 Mei 2018

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BUDAYA

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

Avatar

Published

on

 

Edisi ‘TAKJIL KHAS RAMADHAN’ 1

‘SERASA KURANG JANGKEP’ BUKA PUASA TANPA TAKJIL KOLAK

A. Familiaritas Kolak pada Rumpun Melayu

Apabila di Dunia Arab pembuka berbuka puasa adalah kurma, maka kolak lah yang lazim serta difavoriti sebagai ‘pembuka buka pausa’ di Indonesia. Mulai dari lingkugan keluarga bersahaja hingga di restoran mahal sekalipun, kolak menjadi menu sajian terawal yang disuguhkan untuk membatalkan puasa setibanya bedug Maqrib. Oleh sebab itu dapat dimengerti bila salah sebuah kuliner yang hampir senantiasa ada diantara beragam penganan yang dijajakan pada bedak-bedak dadakan yang menjamur di sore hari manakala tiba puasa Ramadhan adalah kolak. Kuliner inilah yang seolah menjadi ‘rajanya takjil’, yang pertama dan yang utama dikonsumsi oleh banyak orang, tatkala berbuka puasa. Bahkan, tahap permulaan berbuka puasa telah serasa cukup kendati hanya dengan menyatap kolak.

Menilik demikian lamanya waktu kolak dikonsumsi, luasya daerah persebaran kulier kolak, dan banyaknya pemiat kolak – terlepas apapun statra soasial-ekonomiya, maka tak berlebihan untuk menyatakan bahwa kolak adalah kuliner yang amat mengkeluarga (familier) pada masuarakat di Indonesia. Sebenarnya, selain di Indonesia kuliner ini juga dikenal di negara-negara lain dalam region Asia Tenggara yang dihuni oleh rumpun bangsa Malayu, Kolak hadir dalam lintas masa, lintas area dan lintas sosia pula, sebab kapanpun, dimanapun dan siapapun hampir-hampir pernah mengkonsumsi kolak. Malahan, terdapat orang-orang tertetu yang mencandui kolak, baik ketika berbuka puasa ataupun pada kesempatan lain. Dengan perkataan lain, kolak adalah kuliner yang ‘merakyat’ – namun, bukan berarti bahwa kolak hanya dikosumsi rakyat kecil, karena kalangan atas pun terbukti doyan kolak.

B. Etimologi dan Tafsir Makna Istiah Unsur Kuliner Kolak

Ada sejumlah varian sebutan untuk ‘kolak’, antara lain ‘kolok, kulak, kolêk, dsb’. Sebagaimana sebutan-sebutan lain untuk kuliner yang berkeanan dengan ritual Islam, seperti ‘apem dan kupat’, sebutan ‘kolak’ juga diasalkan dari bahasa Arab. Kyai sepuh dari Pondok Pinang Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta Selatan, yakni almarhun KH Hasbullah, menyatakan bahwa kata ‘kolak’ berasal dari istilah dalam bahasa Arab ‘kul laka (makanlah, untukmu)’. Pendapat lain mengasalkannya dari kata dala, bahasa Arab ‘khala’ atau ‘kholaqo’, yang bisa diturunkan menjadi kata ‘kholiq’ atau ‘khaliq’ yang berarti pencipta, pencipta alam semesta dan menunjuk kepada Allah SWT. sebagai pencipta seluruh makhluk yang hidup di alam semesta. Selain berarti pencipta, dapat pula berarti: Tuhan yang disembah, Pengatur dan Pemelihara, Pemberi bentuk, dan Tuhan Yang Maha Perkasa. Sebutan ini dijadikan media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bukan hanya itu, unsur-unsur di dalam kolak pun difilosofikan dalam kaitan dengan ajaran Islam. Pisang jenis ‘kepok’ yang paling umum digunakan sebagai isian kolak merujuk pada ‘kapok (jera)’ dalam bahasa Jawa, yakni istilah ibarat agar manusia jera berbuat dosa dan segera bertobat kepada Allah SWT. Selain itu, isian kolak lainnya, yaitu ubi, dikenal dengan sebutan ‘telo pendem’ – masuk kategori ‘polo pendem’, memuat filosofi bahwa manusia harus mengubur kesalahannya dalam-dalam. Reka foilosofis lainnya menghubungkan dengan kematian, yaitu media pengingat bahwa suatu saat manusia pasti mati dan kemudian dikubur (dipenden) di dalam tanah. Kematian mungkin saja akan datang, semudah kita menyendok kolak ke dalam mulut. Unsur lain sebagai bahan kolak adalah santan, yang dalam bahasa Jawa disebut ‘santen’, sebagai kependekan dari ‘pangapunten (permohonan maaf), yang menjadi media pengingat agar manusia seantiasa meminta maaf atas kesalahannya.

Etimologi dan tafsir makna sebagaimana dikemukakan pada alinea diatas adalah ikhtiar baik untuk menjadikan makanan sebagai media pembelajaran budi pekerti dan penguat keyakinan keagamaan. Namun, bukan berarti bahwa muasal sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab. Entah dari istilah ‘kul laka (makanlah)’ atau ‘khala, kholaqo, kholiq, khaliq (pencipta)’. Etimologis yang demikian hanya mendasarkan pada keserupaan istilah, dan terkesan dipas-paskan. Jika dasarnya hanya keserupaan istilah, maka tak usah jauh-jauh istilah serupanya dicari dalam bahasa Arab, melainkan cukup dicari di Jawa, padamaa kolak berada. Sebutan ‘kolak’ atau variannya ‘kulak (kula’)’ mempuyai keserupaan dengan istilah dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan, yaitu ‘kula’, yang antara lain berarti: kawanan, pasukan, kumpulan, oramg banyak, jumlah, suku, keluarga, rumpun, kasta, rombongan, keluarga bangsawan atau unggul, keluarga, keturunan, asal-usul (Zoetmulder, 1005: 530).

Dalam arti kumpulan, kuliner kula+k (kulak) atau kula’ dicirikan oleh adanya sekumulan bahan makan yang diisikan ke dalam kuah kolak. Dengan perkataan lain, ke dalam kuah kolak terbuka untuk diisikan beragam bahan makan, baik berupa buah, bijian atau bahan makan lainnya. Selain menggunakan pisang dan ubi, saat ini modifikasi kolak juga telah banyak ditemui. Mulai dari gabungan penggunaan pacar Cina, tapai singkong, ketan, roti, serabi, jenang, kolang-kaling, buah labu, buah nangka, rumput laut, biji salak atau ubi yang diolah menyerupai biji salak, dsb. Adapun dalam arti keluarga, kolak adalah kuliner yang amat lama familier (mengkeluarga) pada masayarakat Nusanara, khususnya Jawa. Boleh jadi, asal kuliner kolah bukan dari Timur Tengah, melainkan dari Nusantara sendiri.

Dengan mengasalkan sebutan ‘kolak’ dari bahasa Arab, maka diambill alibi bahwa kolak berasal dari Timur Tengah. Kelatahan mengasalkan kolak dari Timur Tengah juga pernah dikemukakan William Wongso, yang menyatakan bahwa kudapan ini dimungkinkan berasal dari negara Timur Tengah. “Mereka itu suka makanan manis-manis, jadi kalau kolak kemungkinan dari sana,” ujar pakar kuliner Nusantara ini saat dihubungi harian Republika (Rabu (17 Juni 2017). Sebenarnya, apabila alasannya karena genar mengkonsumsi makanan yang rasanya manis, bukan hanya orangTimur Tengah yang suka makanan manis, namun orang Jawa – utamanya orang Semarang, Yogyakarta dan Surakarta – juga gemar rasa manis pada beragam makaan dan minumannya. Bahkan, semenjak masa Hindu-Buddha masyarakat Jawa Telah mengeal miuman yang rasanta manis seperti kilang dan cairan gula merah untuk pemanis kuah yang dinamai ‘juruh’.

C. Kegemaran Minuman-Makanan Rasa Manis

Kolak bisa dimasukkan sebagai ‘makanan’ apabila ditilik dari buah, biji-bijian atau bahan makan lain yang terdapat di dalamya. Namun dapat pula dimasukkan sebagai ‘minuman’, sebab berkuah manis, yang dibuat dari air ditambah dengan santan, garam secukupyam daun pandanm fanili, dan gula – mulaya digunakan jenis ‘gula merah’, seperti gula aren, gula kelapa (gulo klopo) atau gula siwalan (tal), namun kini gula putih lazim digunakan sebagai pengganti atau campuran gula merah. Oleh karena itu, cita rasa kolak adalah manis. Lantaran rasanya yang manis itu, maka kolak serupa dengan kurma, yakni cocok untuk makaan pembuka dalam berbuka puasa. Kelebihan kolak bila dibandingkan dengan kurma dalam hal ini ada;ah selain manis juga berkuah, sehingga rasa dahaga lataran tidak minum seharian segera dapat tertasi.

Masyarakat Nusantara, terlebih orang Jawa, banyak menyukai rasa manis. Pemanis yang berupa gula – dalam bahasa Jawa Kuna/Tengahan disebut ‘gendis’ – telah lama digunakan, Kolak yang berasa manis karenanya termasuk kuliner yang disukai dari masa ke masa. Masyarakat Jawa telah demikian lama mengenal dan menggemari minuman manis. Salah satu diantaranya adalah kilang, yakni minuman beragi dari tebu (Zoetmulder, 1995:500). Kilang juga digunakan untuk menyebut nira kelapa, aren ataupun tal yang direbus — bila direbus terus akan mengental, dan bisa dijadikan gula merah. Selain itu santan juga sudah terbiasa dipakai untuk memasak. Bila santan dicampurkan ke dalam kilang, maka jadilah kuah kolak. Hanya saja, pada umumnya kuah kolak dibuat dari air dicampur dengan santan dan arsiran gula merah dan kemudian direbus hingga mandidih. Kedalam kuah tersebut dimasukkan buah, biji-bijian atau bahan makan lainya, sehingga terbentuklah kolak pisang, kolak candil ketan, kolak labu, kolak ubi jalar, kolak durian, kolak kolang kaling, kolak singkong, kolak apel, kolak kacang hijau, kolak cendol. kolak serabi, kolak biji salak, kolak kelapa muda, kolak jenang (jenang kolak), kolak rumput laut, kolak bola pelangi. kolak sagu mutiara, kolak pisang ijo, kolak pisang coklat, kolak paris, kolak tapai, kolak havermunt pisang, kolak pudding, kolak roti, dan banyak lagi. Terbayang bahwa kegemaran mengkonsumsi kolak adalah kelanjutan dalam bentuk lain dari kesukaan meminum kilang.

Kilang adalah salah satu miniman yang telah lama dikenal dan digemari Masyarakat Jawa, bahkan semejak masa Hindu-Buddha. Jenis mimuman lainnya adalah twak, sidhu, cinca (kinca), brem, arak, jnu, bunga campaga, bunga pandan, bunga karaman, jatisara, air kelapa, mastawa, dsb. Dalam sumber data prasasti, kilang tekah disebut di dalam abad X Masehi, yairu prasasri Watukura (902 Masehi) dan Alasantan (939 Masehi) serta pada sejunlah sussstra Jawa Kuna dan Tengahan, seperti dalam kitab Brahmanda Purana (142, 161), Sumanasantaka (38.1), Arjunawijaya (31.10), Nagarakretagama, Partayajna (18.7), Subhadra Wiwaha (7.4), Kidung Hasyawijaya (1/37, 4.54), Kidung Malat (7.77), dan Wangbang Wideya (6.184). Menilik lamanya waktu dan banyak sumber data yang memberitakan, tergambar bahwa ninuman kilang ini banyak dimiati warga Jawa pada zamannya. Peminatnya mulai kalangan rakyat hingga para bangaswan, Kebiasaan mengonsumsi kilang berlanjut dengan beberapa perubahan menjadi kolak.

 

Ada kemungkinan, sebagai sebutan, kata ‘lolak’ baru digunakan paaa Masa Hindu-Buddha, karena sebutan ini tidak dijumpai dalam sumber data tekstual Masa Hindu-Buddha, baik prasasti ataupun susastra. Pada Masa Perkembangan Islam, awalnya kolak disajikan bulan Syaban, atau satu bulan sebelum memasuki Ramadhan. Pada bulan Syaban, umat Muslim diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai wujud ketakwaan jelang memasuki ‘bulan yang penuh berkah’, yaitu bulan Ramadhan,. Tradisi mengkonsumsi kulner kolak itu berlanjut hingga memasuki bulan Ramadhan, utamanya sebagai kudapan (takjil) ketika buka puasa. Demikianlah, kolak adalah kuliner Nusatara yang telah meniti perjalanan sejarah pajang. Selamat menikmati hidangan kolak, semoga melagakan tenggorokan. Nuwun.

Sangkaliang, Griya Ajar CITRALEKHA, 19 Mei 2018

 

Continue Reading

BUDAYA

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP

Avatar

Published

on

 

Khasanah Heritage Songhenep

LABANG MESEM, EKSPRESI SIMBOLIK KERAMAHAN SONGHENEP : Menuju “Labang Mesem Cultural Movement”, Wahana Smiling Sucsesion

Oleh: M. Dwi Cahyono

A. Makna ‘Mesem” pada Gapura Labang Mesem

Mutiara kata menyatakan ‘sambutlah tamumu dengan senyuman’. Suatu ekspresi sikap ‘ramah’ yang murah namun bermakna, yang keluar dari hati bersih-tulus kepada orang lain yang berelasi dengannya. Seyuman yang dalam bahasa lokal Jawa maupun Madura disebut ‘mesem (sunggingan senyum)”, dalam hal penerimaan tamu bukan sekedar citra pantomimik pada raut muka seseorang, namun lebih daripada itu menyiratkan makna yang berkenaan dengan etika pergaulan (toto kromo), yaitu: (a) selamat datang, disambut baik, penyambutan (welcome) (b) kesediaan atau keterbukaan untuk menerima kehadiran orang lain, maupun (b) pengharapam agar niat baik untuk mengadakan pertemuan itu membuahkan hasil yang baik (kefaedahan) bagi kedua pihak, ‘Murah senyum’ acap dimaknai dengan kebaikan hati. Sebaliknya, ‘pelit senyum’ dikonotasikan dengan kesombongan, keculasan dan ketidakbersahabatan. Demikianlah, senyuman memiliki makna serta manfaat yang mendalam. Meski hanya sekejap, senyuman dapat menjadi kenangan yang bertahan lama. Senyum menciptakan kebahagiaan bagi sekitar. Senyum yang tulus adalah ibadah. Memberikan senyuman untuk semua orang akan memberi keceriaan, sebab senyuman membuka pintu kebahagiaan. Ketika seseorang tersenyum tanpa paksa (tulus), ia membuat suasana perasaan menjadi lebih riang. Orang yang berjumpa dengannya atau berada di sekitarya ikut tersenyum dan merasa jadi lebih bahagia.

Dalam kaitan dengan sunyum, adalah unik bahwa nama yang diberikan untuk gapura masuk di sisi timur dari Keraton Sumenep adalah ‘Labang Mesem’. Kata ‘labang (diujar dengam logat Madura ’labeng”) dalam bahasa Jawa dinamai ‘lawang’. Keduanya menunjuk kepada pintu atau gapura dalam bahasa Indonesia. Pada kedua kata itu, yang berbeda hanyalah kosonan ‘W’ dan ‘B’-nya, dimana kedua kosonan ini acapkali ‘bertukar’, baik pada bahasa yang sama namun beda masa atau pada dua bahasa yang bertetangga seperti pada bahasa Jawa dan Madura. Labang mesem dengan demkian secara harafiah berarti: gapura tersenyum. Sudah barang tentu, penamaanya itu bukanlah tanpa pertimbangan, yaitu simbol: keramahan, sikap ramah kepada siapapu yang datamg bertamu ke Keraton Songhenep (toponimi lama untuk apa yang kini dinamai ‘Sumenep”). Siapapun yang datang bertamu mustilah dihormati, harus disikapi dengan ramah, dan diterima dengan lapang hati. Tamu ibarat ‘raja’, meskipun tempat yang didadatangi tersebut adalah tempat kediaman sang raja (disebut ‘karajyan = ka+rajya-an’), datu (dinamai ‘kadatwan = ka-datu-an’), atau ratu (dibilang “keraton = ka-ratu-an’).

Setidaknya terdapat tiga versi kisah lokal terkait dengan latar pemberian nama ‘Labang Mesem’. Pertama, dahulu pintu gerbang keraton dijaga oleh dua orang cebol – diidikatori oleh adanya dua buah ruangan berpintu rendah di kanan dan kiri gapura serta terdapat kuburan cebol kompleks makam Astatinggi. Lataran penjaganya orang cebol, maka tak heran apabila sering menghadirkan senyum pada orang yang melintasinya. Kedua, ruang terbuka yang berada di bagian atas koridoor adalah tempat raja mengawasi area di sekitar keraton, temasuk putri-putri dan para istrinya yang sedang mandi di Taman Sari (logat Madura ‘Taman Sare’). Ketika memperhatikan putri dan atau istrinya yang sedang mandi itu, raja terseyum simpul (mesam-mesem). Ketiga, pada suatu ketika Kasultaan Sumenep berhasil memukul mundur pasukan Bali. Timbul rasa dendam darinya, dan bermaksud menuntut balas. Namun tatkala pasukan Bali datang ke Sumenep, tepat di depan gerbang keraton, amarah mereka serta merta berubah, sebab warga keraton Sumenep meyambut dengan senyum ramah penuh persahabatan.

Terlepas dari versi mana yang benar, keseluruhannya menggarisbawahi perihal ‘senyum (mesem)’ terkait dengan keberadaan gapura sisi timur keraton Sumenep. Konon wujud senyuman tidak hanya tergambar pada unsur nama ‘mesem’, namun diperkuat oleh sebuah arca yang menggambar figur yanng menyunggingkan senyuman. Menurut persaksian RP. Mohammad Mangkuadiningrat, dahulu arca itu ditempatkan di sebelah timur dari pendapa keraton, dekat dengan ‘rumah lonceng’, yang terlihat lurus dari arah pandang luar gapura Labang Mesem. Namun sayang sekali, arca yang mengekspresikan senyuman itu, selaras dengan unsur nama ‘mesem’ dari gapura keraton tersebut, kini telah tiada lagi, sehingga perihal ‘seyuman’ hanya tersisakan pada unsur nama gapura. Kendati demikian, tak lantas menyurutkan keramahan warga Sumenep, yang dikenal satun dan bersahabat (friendelig).

B. Ekspresi Akulturatif Gapura Labang Mesem pada Kompleks Keraton Sumenep

Labang Mesem dibangun tahun 1781, bersamaan waktu dengan pembangunan Keraton Sumenep pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo (Pangeran Natakusuma I) oleh arsitek keturunnan Tiong Hoa bernama Lauw Piango – mengungsi ke Madura sebagai akibat Huru Hara Tionghoa di Semarang tahun 1740. Bangunan yang berwujud gapura ini adalah salah satu dintara dua gapura yang tersisa, yang semula lengkapnya berjumlah lima buah (dinamai ‘ponconiti’). Posisinya pada bagian depan keraton Sumenep menghadap ke selatan, berloksi di sebelah timur Gedong Negeri, dekat Taman Sari (dialek Madura ‘Taman Sare”). Gapura Labang Mesem dengan demikian hanya salah sebuah komponen arsirektur pada kompleks keraton Pajagalan (sebutan populernya ‘keraton Sumenep’) selain pendopo agung, gedong negeri, pengadilan keraton, paseban, taman sare, serta beberapa bangunan pribadi keluarga keraton.

Secara arsitektural Labang Mesem yang monumental masuk dalam kategori gapura padhuraksa, yaitu suatu jenis gapura (selain ‘candi bentar’), yang lazimnya ditempatkan dan difungsikan untuk memasuki ruangan yang dipandang suci atau penting. Gapura padhuraksa ini dilengkapi dengan ‘sayap’ di kanan-kirinya, sehingga bisa disebut ‘gapura bersayap’. Gapura bersayap telah terdapat semenjak Masa Hndu-Buddha dan berlanjut penggunaannya hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam. Meski beda masa dan berlainan latar religisnya, namun model arsitektur dari keduanya sama, yakni sama-sama berupa gapura bersayap. Arsitektur yang berasal dari lapis masa dengan latar religis berbeda, yaitu Masa Hidu-Buddha, tidak disikapi dengan ‘penolakan’. Suatu siakap buadaya Madura yang tidak inklusif, sebaliknya membuka diri bagi pengaruh budaya lain, seperti keterbukaannya dalam menerima tamu yang disimbolkan oleh gapura Labang Mesem. Pemangku budaya Madura terbuka terhadap budaya luar tanpa meninggalkan budayanya sendiri. Dengan perkataan lain mengadaptasi anasir budaya luar kepada budaya setempat, sehingga terbuahkan paduan budaya yang akulturatif.

Pada gapura Labang Mesem yang dibangun semasa pemerintahan Panembahan Sumolo ini, unsur arsitektural dari Masa Hindu-Buddha lainnya adalah atap yang berbentuk tumpang (meru), yakni atap bersusun dalam jumlah gasal (ganjil), yang pada gapura ini terdiri atas tiga susun, yang makin ke atas semakin mengecil dan diakhiri dengan kemuncak (Memolo). Atap meru juga didaati pada Masa Hindu-Buddha, baik pada bangunan profan terlebih pada banguan sakral, Model atap yang demikian juga berlanjut hingga memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam, Bahkan, di beberapa daerah berlanjut sampai sekarang, seperti tergambar pada bangunan suci pura, masjd, dan sebagainya. Atap meru iitu menaungi ruangan berdinding terbuka yang berada di atas koridoor (lorong keluar-masuk), sehingga tampak sebagai bangunan berloteng (verdiping) yang digunakan untuk memantau segala aktifitas di dalam lingkungan keraton, termasuk kegiatan di Taman Sare. Pada kanan-kiri koridoor terdapat sepasang ruang kecil dan pendek dengan pintu yang pendek pula dibawah naungan teras, yang di dalamnya terdapat tangga kayu untuk naik-turun ke/dari loteng.

Kecuali atap banguan yang berbetuk meru dan konsep arsitektur padhuraksa bersayap, konponen-komponen arsitektur lain dari gapura ini, utamanya pada fasadenya, dengan jelas memperlihatkan unasir seni bangunan Eropa, seperti tergambarkan pada pilar ganda di kanan-kiri koridoor, pelipit, kolom lengkung pada koridoor, bangun segitiga pada bagian atas fasade sisi depan, maupun teknik arsitekturya. Paduan antara nasisr arsitektur Eropa-Jawa pada gapura ini menjadi alasan kuat untuk menyatakan bahwa Labang Mesem memiliki gaya arsitektur Indis. Budaya Indis yang berkembang di Indonesia pada Masa Kolonial, khususnya pada golongan menegah ke atas warga Hidia-Belada di Jawa abad XVIII-XIX Masehi, mengindikasikan percampuran antara budaya Belanda dan Pribumi, yang dapat diidentifikasi pada pelacakannya terhadap tujuh unsur budaya universal (Sukiman, 2000). Gaya Indis tersebut tergambar jelas pada seni-bangun (arstektur), seperti dicontohkan oleh gapura Labang Mesem yang akulturatif. Ekspresi akulturatif tampak kuat pada kompleks keraton Sumenep, yang ditadai oleh percampuaran anasir budaya Jawa, Belanda, Cina dan Madura.

C. Kekayaan Khasanah Heritage Performig Art di Sumenep

Sebagai ‘daerah bersejarah’ sekaligus ‘daerah kaya budaya’ Sumenep memiliki jejak budaya masa lampau yang kaya, beragam, unik, dan penting. Peninggalan arkeologis, utamanya dari Masa Perkembangan Islam dan Masa Koloial, terdapat di pejuru wilayah Sumenep. Hal serupa tergambar dalam seni-budayanya, tidak terkecuali pada seni-pertunjukan daerah (lokal)-nya yang mentradisi. Bila kedua sumber daya budaya yang nota bene merupakan ‘warisan budaya (heritage)’ itu dikombinasikan, maka hadir apa yang dinamai ‘heritage performing art’, yakni penyajian seni pertunjukan (performing art) yang heritage di suatu pentas yang juga merupakan heritage.

Salah sebuah diantara tidak sedikit arsitektur heritage di Kabupaten Sumenep adalah komplek keraton Pajagalan atau keraton Sumenep, termasuk di dalamya adalah gapura bersayap Labang Mesem yang artistik, unik dan simbolik sebagai sebuah komponen arsitekturnya. Gapura yang masih tegak berdiri dalam kondisi relatif utuh dan lesari di seberang utara jalan ini layak kiranya dijadikan sebagai pentas (stage) bagi pemetasan beragam bentuk seni-pertunjukan lokal Sumenep yang mentradisi. Bagian depan gapura heritage Labang Mesem menarik dan unik untuk dijadikan sebagai latar (back ground) bagi pementasan seni-budaya. Tata cahaya ataupun video maping tentu bakal menambah keelokan tampilan Labang Mesem yang monumenta; itu pada malam hari sebagai latar pemetasan.

Disamping gapura Labang Mesem, sebenarnya di penjuru daerah Sumenep masih terdapat cukup banyak bangunan heritage yang tidak kalah unik dan menariknya untuk digunakan sebagai stage atau back ground pementasan seni-pertunjukan. Dalam kaitan itu pementasan seni-pertunjukan bertajuk ‘Labang Mesem Cultural Movement” pada Minggu 13 Mei 2018 dapat dijadikan contoh terapan konsepsi ‘Heritage Performing Art” di Sumenep. Ke depan model demikian bisa adaptasi untuk dicobaterapkan kepada monument heritage lainnya di Sumenep. Heritage performing Art merupakan akhtiar kultural yang diharap dapat memberi ragam manfaat. Ibarat Mutiara kata ‘sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui’, ikhtiar ini bisa untuk: (a) mengenalkan bahkan memahamkan heritage yang ada di suatu daerah, baik arsitektur yang heritage ataupun performing art yang heritage, (b) tampilan yang artistik, unik dan menarik dari monumen heritage dapat dijadikan pentas atau latar belakang pementasan seni-pertunjukan, (c) kandungan makna atau pesan dalam monumen heritage bisa digunakan untuk mengkomunikasikan atau menguatkan isi pesan yang disampaikan oleh pementasan seni-pertunjukan atau kegiatan lain.

D. Wahana bagi ‘Smiling Sucsesion’

Suksesi pemeritahan, baik berupa Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) tingkat Kota/Kabupaten dan Provinsi maupun Pilpres (Pemilihan Presiden) tingkat nasioal adalah suksesi pemerintahan yang dilangsungkan secara periodik, yakni lima tahuan. Setiap tahun bakal berlangsung Pilkada ataupun Pilpres, sebagimana halnya Pilkada Kota/Kabupaten dan Provinsi tahun 2018 pada bulan Juni 2018 mendatang. Untuk kepentingan itu, KPU Jawa Timur sebagai penyelenggara Pemilu (Pemilihan Umum) melaksanakan ikhiar untuk mensosialisasikan perhelatan yang segera dilangsungkan, yang antara lain dilaksanakan di Sumenep. Pementasan seni-pertunjukan dipertimbangkan sebagai tepat untuk didayaguakan sebagai wahana bagi sosialisasi itu, dengan pengharapan bahwa Pilkada Kota/ Kabupaten dan Provisi mendatang berlangsung dengan tertib, aman, demokratis dan membuahkan pilihan – yakni kepala daerah – yang amnah bagi penyelenggaraan pemerintahan serta pemajuan daerah untuk lima tahun ke depan.

Sosialisasi Pilkada 2018 di Sumenep pada Minggu malam, tanggal 13 Mei 2018 diselenggarakan dengan mengambil “spirit” gapura Labang Mesem, dalam bentuk ‘Heritage Performing Art’. Sengaja gapura Labang Mesem dijadikan spirit, dengan antara lain mempertimbangkan makna kata ‘mesem (senyum, smile)’ pada unsur sebutannya. Dalam konteks Pilkada, seyumam dapat dijadikan unsur penyampaikan pesan, yakni ‘laksanakan Pilkada mu dengan senyuman’, atau menjadi semacam ‘smiling sucsesion’. Memulih dengan gemibira (baca ‘tersenyum’), tersenyum bila memperoleh kemenangan sebaliknya menerima realitas kekalahan dengam senyuman (kelapangan hati) pula. Senyuman adalah kata kunc’ untuk mengeleminir kejadian buruk, baik sebelum, selama atau pasca Pilkada. Selain itu, pilihan spirit sosialisasi yang ditimba dari makna gapura (labang = lawang = pintu) bernama Labang Mesem menyiratkan pesan bahwa Pilkada adalah ‘pinitu masuk’ bagi suksesi pemeritahan periodik. Merupakan pintu pula bagi perubahan ataupun kesinambungan dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembagunan pada lima tahun kedepan.

Dengan pemakanaan yang demikian, niscaya Pilkada bakal merupakan ritus suksesi pemeritahan yang insya Allah bermakna bagi khalayak. Semoga tulisan yang cuma bersahaja ini membuakan keraedahan. Nuwun.

Sagkaliang, Rumah Ajar CITRALEKHA, 11 Mei 2018

 

Continue Reading

BUDAYA

TELISIK SEJARAH PANJANG PERKOPIAN MALANG RAYA

Avatar

Published

on

 

Ngopi yuk ngopi !!!

MALANG BARAT, SUB-KAWASAN RINTIS PERKEBUNAN KOPI : Telisik Sejarah Panjang Perkopian Malangraya

Oleh: M. Dwi Cahyono

Kancah perkopian di Indonesia yang menggeliat kembali di antero dunia pada dasawarsa terakhir mendapatkan kontribusi yang tidak kecil dari Kawasan Malangraya, khususya dari sub-kawasan Malang Timur-Selatan, seperti dari wilayah kecamatan Dampit, Sumbermanjing Wetan, Ampel Gading dan Kalipare. Sebenarnya, selain sub-kawasan itu, terdapat sub-akawasan lain yang juga turut mengkontribusikan produk perkebunan kopinya, yaitu sub-kawasan Malang Barat, seperti wilayah kecamatan Pujon-Ngantang dan Kromengan. Kendatipun kini sebagai ‘daerah produsen kopi’ pasokan kopi dari sub-kawasan Malang Barat tak sebesar dari sub-kawasan Malang Timur-Selatan, namun bila menelisik perjalanan pajang perkopian Malangraya, tergambar bahwa justru pada sub-kawasan Malang Barat lah budidaya kopi di Malangraya memulakan debutnya.

Dalam rangka menyingkapkan kontribusi historis sub-kawasan Malang Barat terhadap ekonomi agraris Malangraya, tulisan singkat lagi besahaja ini dibuat, dengan harapan dapat menambah khasanah pengetahuan mengenai sejarah kopi Malangraya, yang memiliki andil besar dalam penumbuhan dan pengembangan Malangraya sebagai kawasan terbesar kedua di Provinsi Jawa Timur. Cukup alasan untuk meyatakan bahwa kebesaran Malang di masa lalu adalah ‘berkah dari perkebunan kopi’. Kini pun, semestinya taaman perkebunan kopi mampu kembali berkontribusi memajukan Malangraya. Semoga.

 

A. Cercah Data Rintisan Budidaya Kopi di Malang

1. Pemeritahan dan Ekologi Malag abad XVIII-XIX

Sebelum tahun 1914, seluruh wilayah Malangraya berada dalam satu pemerintahan, yaitu Regent (Kaboepaten) Malang, yang mulanya masuk dalam wilayah Residensi Pasuruan – selain Pasuruan, Bangil, Probolinggo, Kraksan, dan Lumajang. Luas wilayah Malang tergambar dalam “Map of the Island of Java, Enginer for Schetches Civil and Military’ tertanggal 5-10-1811, karya John Joseph Stockdale, yang meliputi kawasan luas di bagian timur Jawa. Sisi barat berbatasan dengan Kadiri (Kediri) di sisi barat, Jiepang (Jipang) di barat-laut, Lamajang (Lumajang) di sisi timur, Pusuruan dan Sourabaya (Surabaya) di sisi utara, serta Samudra Hindia (Samodra Indoesia) di sisi selatanya. Pada peta itu tak tampak detail daerah Malang. Yang tampak jelas hanya sebuah sungai, yang amat boleh jadi adalah Bramtas.

Pada Staatsblad Nomor 16 tahun 1819 dan Nomor T 2 tahun 1874, diputuskan bahwa Karesidenan Pasuruhan terdiri atas tiga kaboepaten, yakni: (1) Pasuruhan, (2) Bangil, dan (3) Malang. Menurut sumber sejarah berupa tulisan tangan era Penjajahan Inggris tahun 1812 “Detailed Settlement of Residecy of Malang’, dinyatakan bahwa Malag terdiri dari enam kawedanan (district), yaitu: (1) District Kotta, (2) Karang Lo, (3) Pakis, (3) Gondang Legi, (4) Penanggungan, (6) Antang (kini ‘Ngantang’). Kampung-kampung di District Kotta adalah Pasar Kidul (kini ‘Kidul Pasar’), Taloon (kini ‘Talon), Kahooman (kini ‘Kauman’), Leddok (kini ‘Ledok Btantas’), Temmengoonhan (kini ‘Tumenggungan’), Geddong (kini ‘Gadang;), Palleyan (kini ‘Polean’), Jodeepan (kini ‘Jodipan’), Kaballen (kini ‘Kebalen’), dan Cooto Lawas (kini dinamai ‘Kota Lama’).

Berdasarkan paparan itu tergambar bahwa terhitug sejak Noyo (kini “Dinoyo’) ke arah barat berada di luar Districk Kotta, yaitu masuk ke dalam wilayah Districk Penanggungan dan kemudian Districk Antang, Bertindak sebagai Bupati Malang ketika itu adalah Raden Tumenggung Kartonegoro. Alun-alun Kaboepaten (sebut ‘Alon-Alon Kotak’ untuk membedakan dengan ‘Alon-alon Bunder’) dibangun pada tahun 1822. Semenjak tahun 1824 di sisi selatan Alon-alon dibangun Kantor Asisten Resident. Asal mula Asisten Resident adalah Koffiesergean (Sersan Kopi), yang mengemban tugas khusus sebagai penasihat Bupati berkenaan dengan budidaya kopi. Penempatan Sersan Kopi di Malang tak lepas dari upaya mejadikan Malang sebagai daerah produsen kopi yang utama di Jawa Timur.

Dasar pertimbangan untuk menjadikan Malang sebagai areal perkebunan, utamaya kebuan kopi, karena daerah di pedalaman Jawa Timur yang berada di lingkung gunung ini hingga abad XVIII, semenjak pedudukan Kompeni Belanda (VOC) pada tahun 1767, masih merupakan daerah yang kurang aman bagi Pemeritah Kolonial Belanda. Malang kala itu berupa perkampugan yang penuh degan pepohonan. Hubungan antara Pasuruan da Malang masih sukar sekali. Demikian pula, jalan antara Lawang-Malang masih buruk dan sukar di tempuh. Terlebih sub-kawasan Malang Selatan da Timur masih berupa hutan belukar yang menurut kaca mata Kolonial bayak didiami oleh para perusuh. Hingga sekitar 60 tahun setelah perang besar melawan intervensi VOC ke Malang tahun 1767 itu, Malang dan Ujung Timur ‘nyaris tak berpenghuni’ lantaran dilanda kekacauan (Ricklefs, 2001: 226), bagaikan ‘kota mati’ yang sedikit penghuninya.

Menyikapi komdisinya yang demikian, Malang bakal tetap meadi acaman bila tidak diikutsertakan dalam lalu lintas perekonomian negara. Kawasan Malang musti ‘dibuka’, agar potesi yang terdapat di dalamnya dapat didayagunakan sebagai ajang perekonomian. Alternasi usaha ekoomi yang tepat untuk diusahakan di Malang adalah ekonomi agraris yang berupa perkebunan, dengan kopi sebagai komuditas agraris yang utama, Mengigat bahwa tanaman yang menurut Th, Raffles pada bukunya “History of Java (1817)” telah masuk ke Nusantara semenjak tahun 1696 di Batavia dan kemudian diperluas hingga ke Parahiyangan ini, pada tahun 1712 telah menjadi komuditas ekspor. Sebayak 14,5 kwintal kopi dari tanah jajahan Belanda di Jawa berhasil melakukan ekspor kopi perdana ke Amsterdam, Terbukri bahwa kopi Nusatara amat disukai di Eropa, khususnya di Demark, dan juga di Amerika, sehingga kebutuhan akan ekspor kopi dari Nusatara kian lama kian meningkat. Ketika kopi Nusantara mejadi terkenal dan meingkat permintaannya, bersamaan itu keutungan dari sector ekonomi agraris ini bertambah pula.

2. Kilas Informasi Kopi Malang abad XIX

Lereng-lereng gunung tinggi di Malangraya yang bertanah subur serta berudara sejuk dikalkulasi sebagai cocok untuk dijadikan areal perkebunan kopi yang luas. Sejak tahun 1800-an perkebuman kopi mulai diusahakan di Sub-Kawasan Malang Barat, yang kala itu masuk dalam wilayah District Penanggungan dan Antang, Sayang sekali tidak cukup banyak data diperileh megeaui sejarah kopi di Malangraya sebelum tahun 1900-an (abad XX Masehi). Kendati tak seberapa banyak, namun data yang sedikit itu mustilah dimanfaatkan untuk menerangi kesejarahan kopi Malangraya, yang merupakan tahap permulaan budidaya kopi di dataran tinggi (pleteau) berhawa sejak yang berada di lingkung gunung (Semeru-Tengger. Arjuno-Welirang, Anjasmoro, Kawi, dan Kelud). Karakter geogragis dan klimatologis Malang yang demikian menjadi modal alamiah untuk dijadikan sebagai kawasan perkebunan maha luas, yang meliputi tanaman kopi, teh, kakao, kina, dan bunga.

Sekilas data mengenai kopi di Malangraya diperoleh dari catatan perjalanan (journey report) dari seorang pejabat tinggi Belanda yang gemar mengelana, banyak melanglang ke penjuru wilayah Jawa, bernama Jan Izaak Sevenhoven. Dalam perjalanan (reis) ke Oosthoek Java (Jawa Timur) pada tahun 1812 yang ditulisnya dengan judul ‘Aantekeingen Gehouden op eene Reis over Java va Batavia naar de Oosthoek in den Jare 1812’, ia sempat mengunjungi sub-kawasan Malang Barat, yang kala itu telah merupakan areal perkebunan kopi. Sayang sekali tidak diberitakan kapan perkebunan kopi pada sub-kawasa ini mulai dibudidayakan. Namun, paling tidak pada awal tahun 1800an telah dimulai perintisannnya. Kebun kopi telah dijumpaiya semenjak di Desa Noyo (kini ‘Dinoyo”), kemudian di Alu (kini ‘Ngelo’) dan Kaling (kini ‘Sengkaling’).

Perjalanan dilajutkan dengan menyeberang Brantas – kemukian pada aliran Brantas di Pendem, serta sempat melintasi sebuah candi (belum dapat diidetifikasi candi mana yang dimaksud), hingga akhirnya sampailah di kebun kopi Batu (ada kemugkian di Batu Utara, kini masuk wilayah kecamatan Bumiaji). Lantas berherak lagi kea rah barat menuju ke Sanggariti dan Desa Rata (kini ‘Lebakroto’), yang juga ada tanaman kopinya. Jalur selajutnya adalah lembah Gunung Dwarawati menuju ke Antang, Jalur ini adalah ‘jalur purba’, yang melintasi Desa Mantung, Ngabab, Ganten, yang konon telah dijadikan jalan pehubung antara pusat kerajaan Tumapel di sub-DAS Hulu Brantas dengan Pangjalu (Kadiri) pada sub-DAS Tengah Brantas.

Tergambar dalam catatan perjalanan itu, tanaman kopi telah dibudidayakan secara luas di Malang Barat, sejak dari Districk Penanggugan hingga Antang pada tahun 1812 dan bahkan satu dasawarsa sebelumya. Cultives (areal perkembunan) kopi bukan hanya diusahakan di areal perkebunan milik pemeritah Kolonial Belanda, namun juga di tanah kubwan (kebun) milik rakyat, Kala itu, budidaya kopi belum diusahakan di sub-kawasan Malang Timur dan Selatan yang masih merupakan hutan belatara, dihuni oleh ‘para perusuh’, terlebih lagi kondisi jalannya masih sangat buruk. Jalan purba di sub-kawasan Malang Barat yang telah ada sejak Masa Hindu-Buddha (paling tidak pada abad XII hingga XVI Masehi), terdapat sederetan desa kuno yang terbilang maju pada zamannya, tanah yang subur serta bersuhu udara sejuk menjadi pertimbangan untuk memulakan usaha perkembunan kopi di sub-kawasan Malang Barat. Semetara pada sub-kawasan Malang Utara, yaitu Lawang dan sekitarnya, dibudidayakan tanaman teh.

Sayang sekali tidak diperoleh informasi mengenai jenis kopi yang kala itu ditanam, Apakah kopi jenis Arabika ataukah Robusta. Namun, apabila menilik jenis kopi yang dibudidayakan di daerah-daerah lain di Jawa dan Sumatra pada tahun 1800-an atau sebelumnya, ada kemugkinan kopi jenis Arabika lah yang dibudidayakan. Hingga kini sisa tanaman kopi jenis Arabika masih dijumpai di kebun-kebun rakyat dalam wilayah Kota Batu, Kecamatan Pujon maupun Ngantang. Kebun kopi jenis Arabika di Malang Barat kemungkinan turut terkena wabah kopi tahun 1876, yakni penyakit karat daun (Hemileia vastratix). Wabah taaman kopi ini bukan hanya menyerang perkebunan kopi di Priangan, namun juga di Sumatra dam di Ceylon – bibit kopi jenis Arabika yang menyebar di Priangan maupun Sumatera berasal dari Ceylon (Srilangka).

Hemileia vastatrix adalah cendawan anggota ordo Pucciniales, yang menyebabkan penyakit karat daun kopi. Kopi Arabika merupakan inang wajib Hemileia vastatrix. Cendawan ini berasal dari tempat asal kopi Arabika, yaitu Afrika Timur. Hama ini demikian berbahaya, karena mengundang cendawan lainnya, seperti Verticillium haemiliae dan Verticillium psalliotae. Hama karat daun menyerang perkebunan kopi di Pulau Jawa dan Sumatera, terutama yang ditanam di ketinggian kurang dari 1000 meter DPL. Ketika wabah Hemileia vastratix melanda, pemeritah Hindia-Belanda hampir tak bisa berbuat apa-apa. Produksi kopi menurun tajam, sementara permintaan kopi dari Pulau Jawa dan Sumatera tetap banyak. Balai lelang kopi Amsterdam pun terguncang. Tanaman kopi Arabika hanya bertahan hanya di dataran tinggi Ijen, Toraja, lereng atas Bukit Barisan (tepatnya di Mandhailing, Lintong dan Sidikalang), dan dataran tinggi Gayo.

B. Revitalisasi Budidaya Kopi Malang Barat

Konon di Masa Kolonial, kawasa Malang Barat merupakan areal perkebunan kopi, yang tak kalah luasnya dan telah ada jauh sebelum perkebunan kopi di sub-kawasan Malang Timur dan Selatan ada. Jejak arkeologis kopi di Ngantang misalnya ditandai dengan adanya sisa loji – sebutan bangunan perkebunan pada Masa Kolonial – di Desa Ganten (kini masih cukup utuh) dan Selokurug (sayang sebagian besar telah dibogkar). Batu Utara, yang acap diamai ‘Lor Brantas’, dikenal sebagai areal perkebunan kopi yang luas (selain tanaman kina, kakao dan bunga), yang membentang luas hingga Dusun Sumber Brantas di Desa Jurangkuali pada lembah atara Gunung Welirang dan Anjasmoro. Dalam perkembagannya, kebuan kopi di Batu meluas hingga ke ‘Kidul Brantas’, utamanya setelah diberlakunya Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yag digagas oleh Johanes van den Bosch tahun 1829 Undang-Udang Agraria (Agrarsche Wet) pada tahun 1870. Kebun kopi luas terdapat pula di wilayah kecamatan Pujon dan Ngantang. Bahkan, hingga kini produk kopi dari Desa Selokurung dikenal sebagai produk kopi terbagus di Sub-Kawasan Malang Barat.

Budidaya kopi di Malagraya semakin meluas dengan dibukanya perkebunan kopi di sub-kawasan Malang Selatan dan Timur pada akhir abad XIX da awal abad XX. Rintisan perluasan perkebuan dicanangkan oleh Gubernoer Generaal Du Buis tahun 1820, dengan mengalih fungsikan lahan dari lahan kosong menjadi lahan produktif, termasuk untuk perkebunan kopi. Di Malangraya, wilayah District Pakis, Batu, Ngantang, dan rayon Penanggungan dijadikan areal perkebunan. Produktifitas kopi dari Malangraya meningkat signifikan dengan penambahan areal perkebunan kopi pada sub-kawasan Malang Selatan dan Timur, sebagaimana tergambar pada hasil produksi kopi di Malang pada tahun 1901 yang mencapai 6.031 pikul. Kendati areal perkebunan kopi berada di sub-kawasan Selatan, Timur dan Barat Malangraya, namun dampaknya juga terhadap sub-kawasan tengah, yang menjadi sentra bagi penampungan dan penjualan produk kopi.

Pada koridoor Pecinan Besar (Bolldy) yang berdekatan dengan stasiun KA untuk bongkar-muat barang tumbuh berderetan tempat penampungan dan penjualan hasil bumi, termasuk kopi, yang berasal dari kawasan hinterland di Malang Selatan, Timur maupun Barat. Tak hanya biji kopi yang dijual di Kotapraja (Gemeente) Malang, melainkan juga kopi bubuk. Misalnya, pada tahun 1948 secara khusus dibuka kedai kopi ‘Sido Mulia’ oleh Tjing Eng Hwie di dekat Pasar Pecinan. Sentra kopi Kota Malang menguat pada dasawarsa terakhir, dimana coffe maupun caffe-resto bertumbuh menjamur di pernjuru wilayah Kota Malang. Kemudian merembes memasuki wilayah Kabupaten Malang da Kota Batu. Slogan “Malang Sejuta Kopi’ kiranya tak sekedar ‘pepesan kosong’.

Sejalan itu, ke depan hedaknya revitalisasi bagi perkebunan kopi di wilayah Kota Batu, Kecamatan Pujon dan Ngantang yang konon mejadi sub-kawasan perintisan perkebunan kopi di Malangraya, semoga menguat kembali, dan kopi berperan lagi sebagai kotributor bagi berkembangangnya Malangraya sebagaimana di Zaman Kolonial. Viva Kopi Malang bagi para ‘pengunjuk’ dan bakul kopi, pekikkan “ngopi yuk ngopi’. Nuwun.

Kaling, Griya Ajar CITRALEKHA, 8 Mei 2018

 

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019