NGOBONG PRING SEDAPUR’, PEMBINASAAN SEKELUARGA DEMI KEYAKINAN RADIKAL KETIKA NURANI DALAM KEMATIAN

Tragedi Kemanusiaan

‘NGOBONG PRING SEDAPUR’, PEMBINASAAN SEKELUARGA DEMI KEYAKINAN RADIKAL KETIKA NURANI DALAM KEMATIAN : Refleksi Rangkaian Ledakan Bom di Surabaya-Sidoarjo Dua Hari Berturut

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Sebutan Perumpamaan “Pring Sedapur”

Bambu (pring, deling, awi) tidak tumbuh sendirian, yag cuma sebatang, melainkan berada dalam sekumpulan. Dalam bahasa Jawa, sekumpulan pohon bambu dinamai ‘pring sedapur’. Pada jenis bambu berdiri, seperti jenis pring ori (ngori), rimbunan bambu yang tumbuh merapat dalam satu kumpulan itu dibaluti dengan ranting-rating berdiri, sehingga tak mudah untuk dapat memotong bamboo pada pangkalnya. Dengan model tumbuhnya yag semikian, maka sekumpulan bambu ini terlidung dari intervensi luar. Dalam koteks ‘keluarga batih (nuclear family)’, suami-istri beserta anak-anaknya, atau dalam lingkup lebih luas sebagai ‘keluarga luas (extended family)’ diibarati sebegai ‘pring sedapur’, suatu keutuhan meurut garis ganelogis, yang antara satu dengan lainnya berelasi erat. Bahkan, ada perasaan senasib, seberuntugan atau sebaliknya sependeritaannya.

Istilah ini konon masuk dalam konsepsi sosio-budaya Jawa. Secara sosial, suatu keluarga (baik keluarga batih ataupu keluarga luas) adalah sebuah unit sosial, yang dijaga keutuhannya. Spirit kesatuan darinya, sebagai satu unit sosial tergambar pada ‘solidaritas’ yang terbangun diantara sesame anggota keluarga. Dalam bentuk ekstrim, termasuk dalam hal kematian, pada masa lalu terdapat ‘tradisi sati atau belapati’, yang merupakan pengaruh dari budaya India, yang berupa kesediaan istri untuk menyertai kematian sang suami. Bahkan, dalam susastra lama, misalnya dalam Kidung Sunda (Sudayana), kesertaan dalam kematian juga dilakukan oleh anak terhadap ayah dan ibunya, seperti belapati yag dilakukan oleh Dhyah Pitaloka terhadap kemgkatan sang ayah (Sri Baduga Maharaja) dan ibunya yang telah terlebih dahulu ber-belapati teradap suami, pada pasca Perang Bubad. Periaku dedam dan menutut balas atas kematian aggota keluar, juga terkait degan slidaritas dalam koteks uniti kekeluargaaan ini.

Konsep ‘pring sedapur’ acap pula dipercayai dalam kaitan dengan perkawian yang semestinya dihidari (tabu nikah), yang jika dilaggar dapat berdampak buruk dengan teradinya kematian secara beruntun di sekalangan anggota keluarga. Dalam duia mistik Jawa, pring sedapur juga berkenaan dengan ‘santet yang ditujukan untuk membiasakan seluruh anggota keluarga, Ibarat kebakaran yang melanda pohon bamboo, kebakaran satu batang bamboo dapat merembet pada terbakarnya batang-batang bamboo lain yang ‘sedapur (sekumpulan)’ dengannya. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, terbunuhnya seluruh anggota keluarga, entah sebagai akibat kecelakaan, peperangan, wabah penyakit, bunuh diri masal (sekeluarga), dsb., diistilahi dengan meminjam sebuatan perumpaan ‘pring sedapur’. Jika pembunuhan tersebut sengaja dilakukam. maka bisa diibarati dengan membakar sekumpulan bambu (ngobong pring sedapur)’. Peristilahan inilah yang diakai untuk menggambarkan ‘tragedi kemanusian’ berupa seretetan (lima peristiwa pada lima lokasi kejadian) peledakan bom di Kota Surabaya dan Sidoarjo pada hari Minggu pagi dan malam menyusul kemudian pada Senin Pagi, terkait dengan terorisme.

B. Kekejian Membinasakan Seluruh Anggota Keluarga Pelaku Bom Bunuh Diri

Peristiwa keji yang berupa peledakan bom di lima tempat berturut-turut dalam dua hari (13-14 Mei 2018) di Kota Surabaya dan Sidoarjo sangat fenomenal, tragis dan tak berperikemanusiaan. Dikatan fenomeal karana terjadi berantai dalam lima kejadian di lokasi berbeda dalam dua hari berturut-turut oleh diduga ‘pengikut JAD (Jamaah Ansharut Tauhid (JAD)’ di Surabaya, yang bersama dengan JAT (Jamaah Ansarud Tauhid) ditengarai sebagai ‘berafilisiasi’ dengan ISIS (Islamic State in Iraq and Syria, yang dalam bahasa Arab berama ‘Al-Dawla al-Islamiya fi al-Iraq wa al-Sham). Lebih fenomenal lagi, kejadian ini terjadi kurang dari seminggu dari tindak perusuhan yang dilakukan oleh para napi terorisme di dalam Mako Brimob Kelapa Dua Depok (8-10 Mei 2018), penusukan anggota Satuan Intel Korps Brimob Bripka Marhum Prencje, TS oleh pelaku terror berama Tendi Sumarno di halaman kantor Intelmob Kelapa Dua Cimanggis (Kamis, 10 Mei malam), peangkapan terduga teroris di Tambun (10/5) yang akan bergerak menuju Mako Brimob. Mereka akan membantu para napi teroris yang melawan petugas di rutan Mako Brimob Kelapa Dua, dan pemeriksaan dua wanita muda bernama Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah yang diduga berencana menusuk dengan gunting anggota Brimob di Mako Brimob Kelapa Dua (12 Mei 2018).

Apabili menilik tanggal kejadian dari rangkaian peristiwa yang terjadi di Depok, Tambun, Surabaya dan Sidoarjo itu berlangsung berturut-turut mulai tanggal 8 hingga 14 Mei 2018. Tragisnya, pelaku terror bukan hanya napi dan pelaku terror berenis kelamin pria, namun terduga dilakukan pula oleh wanita da pria muda, bahkan melibatkan seluruh anggota keluarga. Adapun menilik tempat kejadiannya, peristiwa kerusuhan, pernusukan dan percobaan penusukan tersebut dengan berai dilakukan di basis Polri, yaitu di dalam dan di sekitar Mako Brimob Kelapa Dua, di Poltabes Kota Surabaya, serta menyasar tiga buah gereja sekaligus. Pelibatan wanita dan seluruh aggota keluarga untuk tindak terorisme nyata tergambar dalam keadian-kejadian itu, Tindakkan tak berperikemusian tidak hanya tergambar pada banyaknya korban tewas dan luka pada petugas keaman dan warga sipil, namun juga pada diri pelaku teror dan anggota keluargaya yang masih berusia muda bahkan anak-anak, sehingga terkesan kuat sebagai kekejian yang disengaja. Kali ini, tindak terorisme di Indonesia memasuki babak baru dengan melibatkan pelaku dan sasaran yang menadi lebih luas. Ibarat penyakit, kini terlihat kian akut, sehingga membutuhkan upaya penganan yang mustinya lebih ekstra intensif dan tepat.

Sebagaimaa marak diberitakan, terjadi pengeboman terhadap tiga gereja dalam wilayah Kota Surabaya pada Minggu pagi tanggal 13 Mei 2018, yaitu: (1) Gereja Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jl. Ngagel Madya Utara Nomor 1 Kelurahan Baratajaya Kecamatan Gubeng, bom meledak di gerbang gereja pada sekitar pukul 6.30 WIB, pelaku adalah Yusuf Fadhil (18 tahun) dan Firman Halim (16 tahun) dengan mengedari sepeda motor sambil membawa bom degan cara di pangku yang efek ledakanya cukup besar; (2) GKI (Geraja Kristen Idonesia) di Jl. Dipoegoro pada pukul 7.15 WIB, yag dilakukan oleh Puji Kuswati (43 tahun) berserta dua anak perempuan berama Fadila Sari (12 tahun) dan Famela Rizgita (9 tahun) dengan menggunakan bom bunuh diri yang diikatkan di pinggang – sesuai ciriya yang sangat khas, yaitu korban rusak perutnya di saja; (3) Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jl. Arjuno pada pukul 7.53 WIB, yang dilakukan oleh Dita Oepriarto (47 tahun) ketua JAD di Surabaya dengan menggunakan bom yang ditempatkan di dalam mobil Toyota Avansa untuk ditabrakkan ke gereja sehigga Ledakan paling besar diadingkan dengan di dua geraja lainnya.

Hasil penelisikan Badan Inteljen Nasioal (BIN) mengungkapkan bahwa ternyata para pelaku peledakan terhadap tiga gereja yang jumlah totalnya enam orag itu adalah satu keluaga batih yang tinggal di Perumahan Wisma Idah Jl. Wonorejo Asri XI Blok K No. 22 RT/RW 02/03 Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut sejak rahun 2010 – sebelumnya tinggal di Tembok Dukuh, yaitu pasagan sumai istri (Dita Oepriato da Puji Kuswati) beserta empat orang putra-putrinya (Yusuf Fadil, Firman Halim, Fadila Sari dan Fanela Rizgita). Dalam melakukan aksinya, Tak tangggung-tanggung, seluruh anggota keluarga – bisa diibarati dengan istilah Jawa ‘kerit lampit’ – dilibatkan dalam tindakan bom bunuh diri. Termasuk putri bungsunya yang masih berusia 9 tahun. Demikian pula, dalam tindak bom bunuh diri di Mapoltabes Surabaya (Senin, 14 Mei 2018) melibatkan anak kecil yang masih berusia 8 tahun. Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian saat menyampaikan keterangan pers di Mapolda Jatim di Surabaya ‘fenomena bom bunuh diri ini bukan hal yang baru, dan bom bunuh diri yang melibatkan wanita juga bukan hal yang pertama, namun aksi kali ini yang berhasil’. Namun, fenomena penggunaan anak-anak baru pertama kali di Indonesia.

Pada hari yang sama (Minggu, 13 Mei 2018), sekitar pukul 21.15 WIB) terjadi ledakan yang bersumber dari salah satu kamar yang dihuni oleh keluarga Anton Febriyanto (47 tahun) di Lantai V Blok B pada Rusunawa Woocolo, Sepanjang, Sidoarjo. Ledakan ini menyebabkan istrinya Puspita Sari (47 tahun) dan anaknya Hilta Aulita Rachman (17 tahun) tewas di kamar rusun. Anton yang meskipun terluka, namun ada kemungkinan belum tewas. Ketika polisi tiba di TKP, telihat ia masih memegang switching bom yang ditempatkan di dalam ransel. Oleh karena itu petugas tidak mengambil risiko, kemudian melumpuhkanya dan tewas pada sekitar pukul 24.15 WIB. Dua anaknya yang lain, yaitu Faizah Putri (11 tahun) dan Garidah Huda Akbar (10 tahun) mengalami luka dan dibawa ke RS Khadijah lalu dirujuk ke RS Bhayangkara. Seorang anaknya, yaitu Ainur Rachman (15 tahun) selamat. Dia lagsung membawa kedua adiknya yang terluka ke rumah sakit pasca ledakan dan menungginya. Ibu dan kakaknya sudah meninggal tetap berada di TKP. “Kalau meledaknya di kamar, ada unsur ketidaksengajaan. Ini semua rakitan (bom). Masih ada beberapa rangkaian yang sudah kami amankan,” pungkas

Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin menilai bisa saja Anton memiliki hubungan jaringan dengan keluarga Dita Oepriarto, pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Di kediaman Anton polisi menemukan bahan peledak, yang diduga Anton ingin melakukan aksi teror seperti yang keluarga oleh keluaga Dita, yaitu mengandung triacetone triperoxide, yag memiliki daya ledak tinggi tapi sangat sensitif. Selai itu juga ditenemukan stereofom, seperti yang digunakan pelaku pengeboman di Gereja Jalan Arjuno. “Seterofom ini digunakan untuk memperbesar pembakaran,” kata Kombes Pol Rudi Setiawan. Bahkan, saat dilakukan penyisiran, Anton masih memegang pemicu bom — meski ladakan pertama sudah terjadi di kediamannya, Dalam perisriwa ini, Antor, istri dan anak pertama tewas ditempat — Anton tewas ditembak polisi lantaran masih memengang pemicu bom. Tiga anakya yang lain mengalami luka, da selamat dari peledakan. Anton adalah teman dekat Dita, ‘Mereka berdua dulunya sering mengunjungi lapas khusus terorisme,” ungkap Kapolri Jendral Tito Karnavian. Kasus meledakya bom rakitan di rusunawa itu merupakan kecelakaan akibat keteledoran pelaku sendiri.

Sehari kemudian (Senin pagi, 14 Mei 2018, sekitar pikul 08.50 WIB) kembali terjadi bom bunuh diri kategori ‘bom kendaraan’ di Mapolrestabes Surabaya, Jawa Timur. Lima pelaku peledakan bom yag terekam CCTV ini juga merupakan satu keluarga, yaitu pasangan sumai-istri Tri Murtiono (50 tahun) dan Tri Ernawati (43 tahun) besarta tiga orang anaknya, yaitu Muhammad Daffa Anin Murdana (18 tahun), M. Dary Satria (14 tahun) dan AA (8 tahun). Saat meledakkan bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya, keluarga yang tinggal pada rumah kontrakan di Jl. Tambak Medokan Ayu Surabaya tersebut datang dengan dua sepeda motor. Motor paling depan adalah Honda Supra Nopol L 3559 D, yang dikendarai oleh Tri Mulyono dengan membonceng istrinya dan anak bungsunya (AA). Motor di belakangnya, yakni Honda Beat Nopol L 6629 NN. Empat pelaku tewass, sedangkan AA yang terlempar ketika terjadi ledakan tampak bangun dan berjalan setelah bom newaskan kedua orang tua dan kedua kakaknya, yang sekarang dirawat di RS Bhayangkara. Kapolri Tito Karavian mengemukakan ‘kelompok yag melakukakan aksi di Polrestabus Surabaya merupakan bagia ari kelompok yag sama yang melakukan aksi di tiga hereja di Srabaya, Minggu (13/4), yakni keleompok sel Jamaah Ssharus Daulah (JAD) di Surabaya”.

C. Kekejian Kemunusiaan sebagai Dampak Bom Bunuh Diri Pelaku Teror

Dampak bom bunuh diri yang dilakukan oleh keluarga Dita Oepriarto adalah menewaskan semua anggota keluarganya. Dalam istilah Jawa, hal demikian dinamai dengan ‘cures’, yakni habis total, tak menyisakan satupun keturunan sebagai generasi penerus keluarga, Ibarat himpunan bambu (pring sedapur) yang sengaja dibakar, semua batang bambu, baik yang telah besar maupun yag baru bertunas, musnah dilalap api. Sedangkan keluarga Anton menyisakan tiga orang anaknya yang belum dewasa (10-15 tahun). Pada keluarga Tri Murtiono hanya menssaikan satu anggota keluarga, yang baru berusia 8 tahun. Dengan meninggalnya ayah-bundanya, maka mereka kini berstatus ‘yatim lagi piatu’. Bahkan, kakak-kakaknya yang telah dewasa pun turut menjadi korban ledakan bom bunuh diri. Menilik usianya, anak-nak ini adalah ‘korban’ kekejian orang tuanya, yang telah menyeretnya ke tindakan dan peristwa yang belum tentu mereka fahami dan yakini kebenarannya. Terlepas apapun keyakinan orang tuanya, terang bahwa tindak melakukan bom bunuh diri yang menyertakan anak-anak adalah suatu ‘kebiadaban’, sama sekali ‘tidak manusiawi’. Sungguh memiikukan, anak-anak itu tentu diterpa trauma berkepanjang atas kejadian mengerikan yang telah dialamiya sendiri dan hari depanya untuk melanjutkan kehidupan tanpa orang tua dan kakak-kakak dewasanya. Semua itu adaah penumpahan beban psikologis dan penerlantaran tehadap anak.

Dampak kemanusiaan yang demikian bukan hanya secara internal menimpa keluaga pelaku bom bunuh diri, namun lebih keji lagi menimpai keluarga lain akibat bom dahsyat yang diledakkan olehnya. Jumlah korban, baik meninggal ataupun terluka, yang mencapai puluhan orang adalah sebuah ‘becana kemausiaan’ yang sengaja ditumpahkan oleh orang-orang yang mengataskan aksi kejinya ‘demi keyakinan, demi agama, demi kebenaranya’. Pertanyaan jujur adalah ‘keyakinan yang mana, agama apa, dan kosepsi kebeanaran yang bagaimana’ yang tepat untuk dijadikan landasan atau alasan pembenar atas kekejiannya itu. Terkutuklah mereka yang telah dan berniat akan melakukan kekejian demikian. Makhluk yang bukan manusia sekalipun, belum tentu tega melakukanya, kecuali yang mati hati nuraninya, kecuali yang ‘uteke koplak’;, kecuali mereka tak berperikemanusiaan.

Teror yang dilakukan oleh para teroris keji, yang menelan banyak korban tidak bakal membawa kebaikan. Sebaliknya, justru mengakibatkan kehancuran, kesengsaraan dan keterlantaran, Contoh buruk yang justru dijadikan ‘jargon’ oleh mereka, yakni kejadian beberapa tahun terakhir di negeri-negara Timur Tengah, sesugguhya adalah ‘petaka kemanusiaan’ yang dicobatumpahkan ke Indonesia. Suatu ambisi politik (kekuasaan), yang dengan muslihat menjadikan agama sebagai alasan pembenar (alibi) bagi kemauannya. Semoga kejadian yang berlatar teror pada pekan terakhir ini, baik yang berlangsung di DKI dan Jawa Barat maupun di Jawa Timur, adalah petaka yang terakhir. Paling tifak mampu menyadarkar kita yang masih memiliki nurani dan rasa kemanusia untuk tidak turut terhasut dan bahu-membahu melawan kekejiannya dengan beragam upaya.

Semoga tulisan singkat dan bersahaja ini, sebagai refleksi atas rentetan kejafian peladakan bom di Kota Surabaya dan Sidoarjo pada dua hari berselang (13-15 Mei 2008) dapat membuahkan kefaedahan. Agama apapun, terlebih Islam, menolak kekajian. Para pelaku teror itu bukan hanya keji kepada orang lain, namun keji pula terhadap anggota keluarganya sendiri. Saya “turut berduka yang mendalam atas musibah yang menimpa para korban’. Nuwun.

Sangkaliang, PATEMBAYAN CITRALEKHA, 15 Mei 2018

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*