Connect with us

PERISTIWA

NGOBONG PRING SEDAPUR’, PEMBINASAAN SEKELUARGA DEMI KEYAKINAN RADIKAL KETIKA NURANI DALAM KEMATIAN

Avatar

Published

on

Tragedi Kemanusiaan

‘NGOBONG PRING SEDAPUR’, PEMBINASAAN SEKELUARGA DEMI KEYAKINAN RADIKAL KETIKA NURANI DALAM KEMATIAN : Refleksi Rangkaian Ledakan Bom di Surabaya-Sidoarjo Dua Hari Berturut

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Sebutan Perumpamaan “Pring Sedapur”

Bambu (pring, deling, awi) tidak tumbuh sendirian, yag cuma sebatang, melainkan berada dalam sekumpulan. Dalam bahasa Jawa, sekumpulan pohon bambu dinamai ‘pring sedapur’. Pada jenis bambu berdiri, seperti jenis pring ori (ngori), rimbunan bambu yang tumbuh merapat dalam satu kumpulan itu dibaluti dengan ranting-rating berdiri, sehingga tak mudah untuk dapat memotong bamboo pada pangkalnya. Dengan model tumbuhnya yag semikian, maka sekumpulan bambu ini terlidung dari intervensi luar. Dalam koteks ‘keluarga batih (nuclear family)’, suami-istri beserta anak-anaknya, atau dalam lingkup lebih luas sebagai ‘keluarga luas (extended family)’ diibarati sebegai ‘pring sedapur’, suatu keutuhan meurut garis ganelogis, yang antara satu dengan lainnya berelasi erat. Bahkan, ada perasaan senasib, seberuntugan atau sebaliknya sependeritaannya.

Istilah ini konon masuk dalam konsepsi sosio-budaya Jawa. Secara sosial, suatu keluarga (baik keluarga batih ataupu keluarga luas) adalah sebuah unit sosial, yang dijaga keutuhannya. Spirit kesatuan darinya, sebagai satu unit sosial tergambar pada ‘solidaritas’ yang terbangun diantara sesame anggota keluarga. Dalam bentuk ekstrim, termasuk dalam hal kematian, pada masa lalu terdapat ‘tradisi sati atau belapati’, yang merupakan pengaruh dari budaya India, yang berupa kesediaan istri untuk menyertai kematian sang suami. Bahkan, dalam susastra lama, misalnya dalam Kidung Sunda (Sudayana), kesertaan dalam kematian juga dilakukan oleh anak terhadap ayah dan ibunya, seperti belapati yag dilakukan oleh Dhyah Pitaloka terhadap kemgkatan sang ayah (Sri Baduga Maharaja) dan ibunya yang telah terlebih dahulu ber-belapati teradap suami, pada pasca Perang Bubad. Periaku dedam dan menutut balas atas kematian aggota keluar, juga terkait degan slidaritas dalam koteks uniti kekeluargaaan ini.

Konsep ‘pring sedapur’ acap pula dipercayai dalam kaitan dengan perkawian yang semestinya dihidari (tabu nikah), yang jika dilaggar dapat berdampak buruk dengan teradinya kematian secara beruntun di sekalangan anggota keluarga. Dalam duia mistik Jawa, pring sedapur juga berkenaan dengan ‘santet yang ditujukan untuk membiasakan seluruh anggota keluarga, Ibarat kebakaran yang melanda pohon bamboo, kebakaran satu batang bamboo dapat merembet pada terbakarnya batang-batang bamboo lain yang ‘sedapur (sekumpulan)’ dengannya. Oleh karena itu, dalam tulisan ini, terbunuhnya seluruh anggota keluarga, entah sebagai akibat kecelakaan, peperangan, wabah penyakit, bunuh diri masal (sekeluarga), dsb., diistilahi dengan meminjam sebuatan perumpaan ‘pring sedapur’. Jika pembunuhan tersebut sengaja dilakukam. maka bisa diibarati dengan membakar sekumpulan bambu (ngobong pring sedapur)’. Peristilahan inilah yang diakai untuk menggambarkan ‘tragedi kemanusian’ berupa seretetan (lima peristiwa pada lima lokasi kejadian) peledakan bom di Kota Surabaya dan Sidoarjo pada hari Minggu pagi dan malam menyusul kemudian pada Senin Pagi, terkait dengan terorisme.

B. Kekejian Membinasakan Seluruh Anggota Keluarga Pelaku Bom Bunuh Diri

Peristiwa keji yang berupa peledakan bom di lima tempat berturut-turut dalam dua hari (13-14 Mei 2018) di Kota Surabaya dan Sidoarjo sangat fenomenal, tragis dan tak berperikemanusiaan. Dikatan fenomeal karana terjadi berantai dalam lima kejadian di lokasi berbeda dalam dua hari berturut-turut oleh diduga ‘pengikut JAD (Jamaah Ansharut Tauhid (JAD)’ di Surabaya, yang bersama dengan JAT (Jamaah Ansarud Tauhid) ditengarai sebagai ‘berafilisiasi’ dengan ISIS (Islamic State in Iraq and Syria, yang dalam bahasa Arab berama ‘Al-Dawla al-Islamiya fi al-Iraq wa al-Sham). Lebih fenomenal lagi, kejadian ini terjadi kurang dari seminggu dari tindak perusuhan yang dilakukan oleh para napi terorisme di dalam Mako Brimob Kelapa Dua Depok (8-10 Mei 2018), penusukan anggota Satuan Intel Korps Brimob Bripka Marhum Prencje, TS oleh pelaku terror berama Tendi Sumarno di halaman kantor Intelmob Kelapa Dua Cimanggis (Kamis, 10 Mei malam), peangkapan terduga teroris di Tambun (10/5) yang akan bergerak menuju Mako Brimob. Mereka akan membantu para napi teroris yang melawan petugas di rutan Mako Brimob Kelapa Dua, dan pemeriksaan dua wanita muda bernama Dita Siska Millenia dan Siska Nur Azizah yang diduga berencana menusuk dengan gunting anggota Brimob di Mako Brimob Kelapa Dua (12 Mei 2018).

Apabili menilik tanggal kejadian dari rangkaian peristiwa yang terjadi di Depok, Tambun, Surabaya dan Sidoarjo itu berlangsung berturut-turut mulai tanggal 8 hingga 14 Mei 2018. Tragisnya, pelaku terror bukan hanya napi dan pelaku terror berenis kelamin pria, namun terduga dilakukan pula oleh wanita da pria muda, bahkan melibatkan seluruh anggota keluarga. Adapun menilik tempat kejadiannya, peristiwa kerusuhan, pernusukan dan percobaan penusukan tersebut dengan berai dilakukan di basis Polri, yaitu di dalam dan di sekitar Mako Brimob Kelapa Dua, di Poltabes Kota Surabaya, serta menyasar tiga buah gereja sekaligus. Pelibatan wanita dan seluruh aggota keluarga untuk tindak terorisme nyata tergambar dalam keadian-kejadian itu, Tindakkan tak berperikemusian tidak hanya tergambar pada banyaknya korban tewas dan luka pada petugas keaman dan warga sipil, namun juga pada diri pelaku teror dan anggota keluargaya yang masih berusia muda bahkan anak-anak, sehingga terkesan kuat sebagai kekejian yang disengaja. Kali ini, tindak terorisme di Indonesia memasuki babak baru dengan melibatkan pelaku dan sasaran yang menadi lebih luas. Ibarat penyakit, kini terlihat kian akut, sehingga membutuhkan upaya penganan yang mustinya lebih ekstra intensif dan tepat.

Sebagaimaa marak diberitakan, terjadi pengeboman terhadap tiga gereja dalam wilayah Kota Surabaya pada Minggu pagi tanggal 13 Mei 2018, yaitu: (1) Gereja Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jl. Ngagel Madya Utara Nomor 1 Kelurahan Baratajaya Kecamatan Gubeng, bom meledak di gerbang gereja pada sekitar pukul 6.30 WIB, pelaku adalah Yusuf Fadhil (18 tahun) dan Firman Halim (16 tahun) dengan mengedari sepeda motor sambil membawa bom degan cara di pangku yang efek ledakanya cukup besar; (2) GKI (Geraja Kristen Idonesia) di Jl. Dipoegoro pada pukul 7.15 WIB, yag dilakukan oleh Puji Kuswati (43 tahun) berserta dua anak perempuan berama Fadila Sari (12 tahun) dan Famela Rizgita (9 tahun) dengan menggunakan bom bunuh diri yang diikatkan di pinggang – sesuai ciriya yang sangat khas, yaitu korban rusak perutnya di saja; (3) Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jl. Arjuno pada pukul 7.53 WIB, yang dilakukan oleh Dita Oepriarto (47 tahun) ketua JAD di Surabaya dengan menggunakan bom yang ditempatkan di dalam mobil Toyota Avansa untuk ditabrakkan ke gereja sehigga Ledakan paling besar diadingkan dengan di dua geraja lainnya.

Hasil penelisikan Badan Inteljen Nasioal (BIN) mengungkapkan bahwa ternyata para pelaku peledakan terhadap tiga gereja yang jumlah totalnya enam orag itu adalah satu keluaga batih yang tinggal di Perumahan Wisma Idah Jl. Wonorejo Asri XI Blok K No. 22 RT/RW 02/03 Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut sejak rahun 2010 – sebelumnya tinggal di Tembok Dukuh, yaitu pasagan sumai istri (Dita Oepriato da Puji Kuswati) beserta empat orang putra-putrinya (Yusuf Fadil, Firman Halim, Fadila Sari dan Fanela Rizgita). Dalam melakukan aksinya, Tak tangggung-tanggung, seluruh anggota keluarga – bisa diibarati dengan istilah Jawa ‘kerit lampit’ – dilibatkan dalam tindakan bom bunuh diri. Termasuk putri bungsunya yang masih berusia 9 tahun. Demikian pula, dalam tindak bom bunuh diri di Mapoltabes Surabaya (Senin, 14 Mei 2018) melibatkan anak kecil yang masih berusia 8 tahun. Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian saat menyampaikan keterangan pers di Mapolda Jatim di Surabaya ‘fenomena bom bunuh diri ini bukan hal yang baru, dan bom bunuh diri yang melibatkan wanita juga bukan hal yang pertama, namun aksi kali ini yang berhasil’. Namun, fenomena penggunaan anak-anak baru pertama kali di Indonesia.

Pada hari yang sama (Minggu, 13 Mei 2018), sekitar pukul 21.15 WIB) terjadi ledakan yang bersumber dari salah satu kamar yang dihuni oleh keluarga Anton Febriyanto (47 tahun) di Lantai V Blok B pada Rusunawa Woocolo, Sepanjang, Sidoarjo. Ledakan ini menyebabkan istrinya Puspita Sari (47 tahun) dan anaknya Hilta Aulita Rachman (17 tahun) tewas di kamar rusun. Anton yang meskipun terluka, namun ada kemungkinan belum tewas. Ketika polisi tiba di TKP, telihat ia masih memegang switching bom yang ditempatkan di dalam ransel. Oleh karena itu petugas tidak mengambil risiko, kemudian melumpuhkanya dan tewas pada sekitar pukul 24.15 WIB. Dua anaknya yang lain, yaitu Faizah Putri (11 tahun) dan Garidah Huda Akbar (10 tahun) mengalami luka dan dibawa ke RS Khadijah lalu dirujuk ke RS Bhayangkara. Seorang anaknya, yaitu Ainur Rachman (15 tahun) selamat. Dia lagsung membawa kedua adiknya yang terluka ke rumah sakit pasca ledakan dan menungginya. Ibu dan kakaknya sudah meninggal tetap berada di TKP. “Kalau meledaknya di kamar, ada unsur ketidaksengajaan. Ini semua rakitan (bom). Masih ada beberapa rangkaian yang sudah kami amankan,” pungkas

Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin menilai bisa saja Anton memiliki hubungan jaringan dengan keluarga Dita Oepriarto, pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Di kediaman Anton polisi menemukan bahan peledak, yang diduga Anton ingin melakukan aksi teror seperti yang keluarga oleh keluaga Dita, yaitu mengandung triacetone triperoxide, yag memiliki daya ledak tinggi tapi sangat sensitif. Selai itu juga ditenemukan stereofom, seperti yang digunakan pelaku pengeboman di Gereja Jalan Arjuno. “Seterofom ini digunakan untuk memperbesar pembakaran,” kata Kombes Pol Rudi Setiawan. Bahkan, saat dilakukan penyisiran, Anton masih memegang pemicu bom — meski ladakan pertama sudah terjadi di kediamannya, Dalam perisriwa ini, Antor, istri dan anak pertama tewas ditempat — Anton tewas ditembak polisi lantaran masih memengang pemicu bom. Tiga anakya yang lain mengalami luka, da selamat dari peledakan. Anton adalah teman dekat Dita, ‘Mereka berdua dulunya sering mengunjungi lapas khusus terorisme,” ungkap Kapolri Jendral Tito Karnavian. Kasus meledakya bom rakitan di rusunawa itu merupakan kecelakaan akibat keteledoran pelaku sendiri.

Sehari kemudian (Senin pagi, 14 Mei 2018, sekitar pikul 08.50 WIB) kembali terjadi bom bunuh diri kategori ‘bom kendaraan’ di Mapolrestabes Surabaya, Jawa Timur. Lima pelaku peledakan bom yag terekam CCTV ini juga merupakan satu keluarga, yaitu pasangan sumai-istri Tri Murtiono (50 tahun) dan Tri Ernawati (43 tahun) besarta tiga orang anaknya, yaitu Muhammad Daffa Anin Murdana (18 tahun), M. Dary Satria (14 tahun) dan AA (8 tahun). Saat meledakkan bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya, keluarga yang tinggal pada rumah kontrakan di Jl. Tambak Medokan Ayu Surabaya tersebut datang dengan dua sepeda motor. Motor paling depan adalah Honda Supra Nopol L 3559 D, yang dikendarai oleh Tri Mulyono dengan membonceng istrinya dan anak bungsunya (AA). Motor di belakangnya, yakni Honda Beat Nopol L 6629 NN. Empat pelaku tewass, sedangkan AA yang terlempar ketika terjadi ledakan tampak bangun dan berjalan setelah bom newaskan kedua orang tua dan kedua kakaknya, yang sekarang dirawat di RS Bhayangkara. Kapolri Tito Karavian mengemukakan ‘kelompok yag melakukakan aksi di Polrestabus Surabaya merupakan bagia ari kelompok yag sama yang melakukan aksi di tiga hereja di Srabaya, Minggu (13/4), yakni keleompok sel Jamaah Ssharus Daulah (JAD) di Surabaya”.

C. Kekejian Kemunusiaan sebagai Dampak Bom Bunuh Diri Pelaku Teror

Dampak bom bunuh diri yang dilakukan oleh keluarga Dita Oepriarto adalah menewaskan semua anggota keluarganya. Dalam istilah Jawa, hal demikian dinamai dengan ‘cures’, yakni habis total, tak menyisakan satupun keturunan sebagai generasi penerus keluarga, Ibarat himpunan bambu (pring sedapur) yang sengaja dibakar, semua batang bambu, baik yang telah besar maupun yag baru bertunas, musnah dilalap api. Sedangkan keluarga Anton menyisakan tiga orang anaknya yang belum dewasa (10-15 tahun). Pada keluarga Tri Murtiono hanya menssaikan satu anggota keluarga, yang baru berusia 8 tahun. Dengan meninggalnya ayah-bundanya, maka mereka kini berstatus ‘yatim lagi piatu’. Bahkan, kakak-kakaknya yang telah dewasa pun turut menjadi korban ledakan bom bunuh diri. Menilik usianya, anak-nak ini adalah ‘korban’ kekejian orang tuanya, yang telah menyeretnya ke tindakan dan peristwa yang belum tentu mereka fahami dan yakini kebenarannya. Terlepas apapun keyakinan orang tuanya, terang bahwa tindak melakukan bom bunuh diri yang menyertakan anak-anak adalah suatu ‘kebiadaban’, sama sekali ‘tidak manusiawi’. Sungguh memiikukan, anak-anak itu tentu diterpa trauma berkepanjang atas kejadian mengerikan yang telah dialamiya sendiri dan hari depanya untuk melanjutkan kehidupan tanpa orang tua dan kakak-kakak dewasanya. Semua itu adaah penumpahan beban psikologis dan penerlantaran tehadap anak.

Dampak kemanusiaan yang demikian bukan hanya secara internal menimpa keluaga pelaku bom bunuh diri, namun lebih keji lagi menimpai keluarga lain akibat bom dahsyat yang diledakkan olehnya. Jumlah korban, baik meninggal ataupun terluka, yang mencapai puluhan orang adalah sebuah ‘becana kemausiaan’ yang sengaja ditumpahkan oleh orang-orang yang mengataskan aksi kejinya ‘demi keyakinan, demi agama, demi kebenaranya’. Pertanyaan jujur adalah ‘keyakinan yang mana, agama apa, dan kosepsi kebeanaran yang bagaimana’ yang tepat untuk dijadikan landasan atau alasan pembenar atas kekejiannya itu. Terkutuklah mereka yang telah dan berniat akan melakukan kekejian demikian. Makhluk yang bukan manusia sekalipun, belum tentu tega melakukanya, kecuali yang mati hati nuraninya, kecuali yang ‘uteke koplak’;, kecuali mereka tak berperikemanusiaan.

Teror yang dilakukan oleh para teroris keji, yang menelan banyak korban tidak bakal membawa kebaikan. Sebaliknya, justru mengakibatkan kehancuran, kesengsaraan dan keterlantaran, Contoh buruk yang justru dijadikan ‘jargon’ oleh mereka, yakni kejadian beberapa tahun terakhir di negeri-negara Timur Tengah, sesugguhya adalah ‘petaka kemanusiaan’ yang dicobatumpahkan ke Indonesia. Suatu ambisi politik (kekuasaan), yang dengan muslihat menjadikan agama sebagai alasan pembenar (alibi) bagi kemauannya. Semoga kejadian yang berlatar teror pada pekan terakhir ini, baik yang berlangsung di DKI dan Jawa Barat maupun di Jawa Timur, adalah petaka yang terakhir. Paling tifak mampu menyadarkar kita yang masih memiliki nurani dan rasa kemanusia untuk tidak turut terhasut dan bahu-membahu melawan kekejiannya dengan beragam upaya.

Semoga tulisan singkat dan bersahaja ini, sebagai refleksi atas rentetan kejafian peladakan bom di Kota Surabaya dan Sidoarjo pada dua hari berselang (13-15 Mei 2008) dapat membuahkan kefaedahan. Agama apapun, terlebih Islam, menolak kekajian. Para pelaku teror itu bukan hanya keji kepada orang lain, namun keji pula terhadap anggota keluarganya sendiri. Saya “turut berduka yang mendalam atas musibah yang menimpa para korban’. Nuwun.

Sangkaliang, PATEMBAYAN CITRALEKHA, 15 Mei 2018

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

PERISTIWA

“DUA WAJAH” PRAU TAMBANGAN DALAM SEJARAH JAWA: ANTARA TRAGEDI DAN MANFAAT

Avatar

Published

on

A. Nahas Pangkal Hari Tambangan Serbo

Hari masih terbilang pagi (sekitar pukul tujuh), manakala para ‘pelaju’ tengah menuju ke daerah seberang untuk menjalankan aktifitasnya. Ya ….., ‘ke daerah seberang’, karena daerah padamana aktifitasnya hendak dijalankan memang berada di seberang sungai – tepatnya di seberang sungai besar (bengawan), yakni Kali Surabaya atau Kali Mas (lebar : 30 meter) – bisa juga dinamai ‘Kali Kancana’ menurut sebutan yang lebih arkhais di dalam Prasasti Gedangan (Kancana atau Bungur Lor) bertarikh 950 Masehi. Menurut keterangan Prasasti Kamalagyan (959 Saka = 1037 Masehi), kali ini adalah salah sebuah dari tiga percabangan Bangawan Brantas terhitung dari alirannya di Waringinsapta.

Sebagaimana biasa, perjalanan menuju ke tempat seberang ditempuhi dengan mengendarai perahu penyebarang (prau tambangan). Namun pagi itu, Kamis tanggal 13 April 2017, adalah ‘saat nahas’ bagi 10 orang penumpang dan dua orang operator penyeberang (tukang tambang). Lataran bentang kawat sling antar seberang sungai yang menjadi ‘tautan penguat’ bagi perahu agar tidak terbawa hanyut mengalami putus tali akibat memuat beban terlalu berat, maka posisi perahu mengalami kemiringan dan kemudian terguling. Seluruh muatannya (12 orang, 7 buah sepeda motor) melorot tenggelam ke dalam sungai, yang padahal tinggal berjarak 7-8 meter dari dermaga sungai di Desa Sumberame. Celakanya, kala itu Kali Mas tengah beraliran deras dan berair sangat keruh di musim penghujan.

Pada pangkal hari itu, panambangan kuno yang diberitakan dalam Prasasti Canggu (7 Juli 1358), yakni Serba (sekarang ‘Dusun Serbo’), yang menghubungkan Dusun Serbo RT 05 RW 03 Desa Bogem Pinggir di Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo dengan Sumberame di Kecamatan Wringin Anom Kabupaten Gresik digegerkan oleh ‘tragedi prau tambang’. Tragedi demikian sebenarnya bukan kali pertama terjadi di Kali Mas dan sungai-sungai lainnya, yang di titik-titik tertentunya dilengkapi dengan prau tambang guna menghubungkan antar seberang. Beberapa tahun lalu, tragedi serupa terjadi di Tambangan Karah, yang antara lain menewaskan sejumlah pelajar.

Tragedi di Tambangan Serbo kali ini hanya menyisakan enam orang selamat, selebihnya (7 orang, yaitu 6 orang penumpang dan seorang yang berupaya menolong korban) meninggal, menenggelamkan 7 sepeda motor serta barang bawaan. Sebuah tragedi yang tidak cukup untuk sekedar disikapi dengan ‘memang sudah nasibnya’, namun jauh lebih bijak daripada itu perlu dijadikan bahan telaah mendalam untuk mengevaluasi jaminan keselamatan dan merevitalisasi prau tambangan, yang di satu sisi berpotensi timbulkan ‘tragedi’ apabila dibiarkan sebagaimana kondisinya sekarang dan sebaliknya pada sisi lain memberi ‘kemanfaatan’ bagi publik.

Aparat bahu membahu mengupayakan evakuasi korban tenggelam

Walaupun tragedi demi tragedi prau tambangan berulang terjadi, namun tidak menyurutkan para pengguna untuk memanfaatkannya, sebab apabila penyeberangannya dilakukan dengan melewati jembatan penyeberang terdekat musti menempuh jarak yang jauh lebih panjang dan tentu lebih memakan waktu. Perjalanannya melintas dengan memanfaatan prau tambangan dengan demikian lebih efisien jarak, waktu dan tidak berbiaya besar, meski mereka tahu bahwa ini adalah perjalanan ‘yang beresiko’. Sementara pada sisi lain, pemeritah setempat tak mampu menyediakan sejumlah banyak jembatan penyeberang sungai besar yang penghubung antar daerah yang wilayahnya diiris oleh aliran sungai, karena tentu membutuhkan biaya yang amat besar.

 

B. Prau Tambangan dalam Sejarah Jawa

Prau tambangan di Jawa telah meniti perjalanan sejarah panjang. Informasi tekstual tertua yang memberitakannya adalah Prasasti Telang I dan II (825 Saka = 7 Januari 904), yang ditemukan di daerah Wonogiri. Prasasti yang ditulis atas perintah Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmmodaya Mahasambhu (899-911 Masehi) ini memuat pokok isi tentang penetapan wanua (desa) Mahe, Tlang dan Paparahuan sebagai perdikan (swatantra, sima) berkenaan penyeberangan sungai.
Pembangunan kompleks penyeberagan di Paparahuan itu untuk menjalankan nazar seorang raja yang memerintah sebelumnya, yaitu Haji Dewata Sang Lumah ing Satasrengga. Yang ditunjuk sebagai pelaksana pembangunan adalah Rakai Wlar pu Sudarsana.

Tempat penyebarangan sungai dilengkapi dengan tambatan perahu, tempat penjagaan, 2 buah perahu dan dua buah perahu lainnya sebagai cadangan. Adanya tempat penjagaan memberi gambaran mengenai kesiagaan terhadap kemungkinan buruk yang bisa terjadi, misalnya kecelakaan penyeberangan. Ketiga wanua sima itu memberikan persetujuan terhadap pembangunan tempat penyeberangan dan ksediaannya untuk memberikan imbalan kepada petugas penyebarangan dari hasil pajaknya sebayak 9 masa emas tiap tahun atas jasanya setiap hari melayani orang-orang yang melewati jalan itu (penyeberangan sungai) tanpa pungutan.

Salah satu wanua sima tersebut bernama ‘Paparahuan’, yang berkata dasar ‘parahu (perahu)’. Bisa jadi tempat penyeberangan itu berada di Desa Praon, yang terletak di Sub-DAS Hulu Bengawan Solo – kini pada areal genangan Waduk Gajah Mungkur. Toponimi ‘Paparahuan’ maupun ‘Praon’ memberi petunjuk tentang telah adanya sarana penyebarangan Bangawan Solo yang memakai alat transportasi berupa perahu. Dalam prasasti ini belum didapati sebutan ‘panambangan’ bagi tempat dan sarana penghubung atar daerah seberang. Sebutan ini baru didapati di dalam prasasti-prasasti yang lebih muda, utamanya prasasti Masa Majapahit.

Kata jadian ‘panambangan’, yang berkata dasar ‘tambang (tali, kendali, tambang)’, dalam konteks ini menunjuk kepada seutas tali besar dan panjang yang direntangkan antar seberang sebagai ‘tautan penguat’ bagi jalannya perahu ketika memotong aliran sungai, sehingga terjaga dari kenungkinan terbawa hanyut. Tambang digunakan pula sebagai ‘perangkat penarik perahu’, ditarik bergantian dengan kedua tangan operator perahu penyeberang (tukang tambang). Dengan demikian, tambang adalah perangkat penting bagi sarana penyeberang sungai, sehingga bisa difahami bila kata ‘tambang’ dijadikan unsur penyebutannya.

Dalam “Kamus Bahasa Jawa Kuna, kata jadian ‘(m)anambangi’ dapat diartikan: menambangkan, kepala tambangan/perahu tambang, pengawas tambangan/perahu tambang; adapun nomina (kata benda) ‘tambangan’ menunjuk pada perahu tambang, tambangan, ongkos tambangan (Zoetmulder, 1995:1191). Istilah ini telah tercantum dalam Susastra Adiparwa (61 dan 62), kumpulan prasasti berbahasa Kawi oleh Cohen Sturat (1875, 2.4a.3), kumpulan prasasti dalam OJO 46.ro 18 dan OJO 58.vo 5 (Brandes, 1913), Prasasti Trowulan I (Canggu) 3.vo 4 maupun teks prasasti pada TBG 65. 231f.Ib.8. Demikian pula, di dalam “Kamus Bahasa Jawa Baru’, istilah ‘panambangan’ diartikan sebagai papan atau perahu untuk menambangkan. Serupa arti dengan itu, pada “Kamus Besar Ba-hasa Indonesia (KBBI)”, panambangan merupakan nomina, yang memiliki tiga kemungkinan arti, yaitu: (1) sampan (perahu, dsb.) untuk menyeberangkan orang, (2) perahu tambang, dan (3) tempat menyeberangkan orang dengan perahu tambang.

Informasi panambangan yang paling rinci diperoleh dalam Prasasti Canggu, atau dengan sebutan asing ‘Ferry Charter’ bertarikh Saka 1280 (1358 Masehi). Tak tanggung-tanggung, prasasti yang disurat atas perintah Hayam Wuruk (Rajasanagara) dibawah pengawasan perintah Sri Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwarddhani ini menyebut puluhan desa pada dua aliran sungai besar (bangawan, nadi), yakni 44 thani (desa) pada aliran Bangawan Solo dan 34 thani pada Bangawan Brantas beserta percabangan dan anak-anak sungainya yang ditetapkan sebagai ‘desa perdikan (sima thani). Jumlah desa-desa perdikan itu, utamanya pada Bangawan Brantas, akan menjadi lebih banyak lagi apabila lempeng IV berhasil diketemukan, yang tentu mencakupi daerah dari hulu hingga hilir.

Deretan desa (pradesa) di sepanjang tepi dua bangawan (naditira) itu, yang diistilahi dengan ‘naditirapradesa’, mendapat anugerah status istimewa (sima, swatantra) berkat jasanya dalam penyeberangan sungai (panambangan). Informasi ini menjadi petunjuk bahwa pemerintah Mahapahit menaruh perhatian serius terhadap sarana dan prasarana transpotasi sungai. Oleh sebab, Jawa Timur – sebagai wilayah utama Kerajaan Majapahit – dibelah oleh dua buah sungai besar dan amat panjang (519 Km aliran Bangawan Solo, dan 340 Km aliran Bangawan Brantas), sehingga hubungan antar daerah dalam rangka integrasi wilayah kekuasaan, kesatuan sosial-budaya dan relasi ekonomik perlu ditopang oleh berpuluh-puluh panambangan. Dengan demikian, transporasi di kedua bangawan itu bukan hanya menghilir-memudik atau sebaliknya, namun juga antar seberang.

Keberadaan panambangan itu bukan berarti bahwa pada Masa Hindu-Buddha belum ada jembatan penyebarang sungai. Hanya saja, jembatan bambu atau kayu yang telah ada belum memungkinkan untuk dilintaskan pada sungai yang amat lebar (bangawan dan anak bangawan), terlebih lagi pada masa lampau batang alir sungai-sungai di Jawa jauh lebih lebar daripada batang alirnya sekarang. Selain itu, telah muncul kesadaran bahwasanya penyebarangan sungai besar dengan mempergunakan perahu memuat penumpang orang dan barang ‘bukanlah tanpa resiko’. Oleh karena itu, di dalam Prasasti Canggu dicantumkan secara eksplisit (tertulis) mengenai ketentuan-ketentuan – baik bagi petugas peneyebarang maupun penumpuang — menghadapi kemungikinan terjadinya kecelakaan. Dengan demikian, tergambar ‘tindak antisiatif’ terhadap resiko buruk dalam penyebarangan sungai dengan menggunakan prau tambangan, termasuk kemungkinan klaim hukum atas kejadian tersebut.

Ketentuan hukum tersebut disuratkan pada lempeng VIII, antara lain: (a) bila seorang perempuan jatuh karam ke dalam air, walau bagaimanapun kedudukannya, diperbolehkan tukang tambang memegang tubuhnya untuk dibawanya ke seberang, dan perbuatannya ini tidak dimasukkan dalam perbuatan tak senonoh; (b) bila penyeberang belum melunasi hutangnya, maka diharuskan mereka menjaminkan tubuhnya, dan jika perbuatan tersebut mengakibatkan aniaya, maka perlakuan itu menjadi ganti penyeberangan dan perbuatan dari tukang tambang yang demikian tak dimasukkan sebagai kejahatan; (c) bila suatu ketika dalam penyeberangan barang jualan penumpang jatuh ke dalam air, maka tukang tambang tidak bertanggung jawab atas kejadian itu, ia tak berkewajiban membayar barang yang hilang. Ketentuan-ketentuan lainnya tidak diketahui, lantaran lempang IX belum diketemukan.

Kecanggihan teknologi transportasi air tersebut berlanjut hingga pasca Hindu-Buddha, bahkan di beberapa tempat di pedalaman dan pesisiran Jawa masih didapati adanya prau tambangan hingga kini, dengan teknik yang tidak terlampau berbeda dengan keberadaannya di masa lampau. Hal ini menjadi petunjuk bahwa kontribusi fungsi prau tambangan melintas masa. Jumlah jembatan yang ada belumlah cukup untuk ‘menyingkirkan’ keberadaan berpuluh bahkan beratus prau tambangan yang kini masih ada. Kalaupun kini terdapat perahu yang ukurannya lebih besar, dibuat dari bahan logam – sebagai pengganti kayu dan papan serta tenaga dorongnya dibantu dengan mesin sehingga mampu untuk menyebarangkan beberapa mobil dalam sekali jalan, namun prisip kerjanya relatif sama. Tambang, yang dahulu menjadi perangkat penting dalam prau tambangan, kini banyak yang digantikan dengan kawat sling, yang dikalkulasi lebih kokoh, namun tanpa disertai penggantian penyebutan menjadi ‘prau sling’. Kendati sekuat apapun kawat sling dalam menahan beban perahu dan derasnya aliran sungai serta mendapat gesekan berulang kali dengan besi kolong – tersambang rantai pengikat perahu, maka lambat laun mengalami ‘putus tali’, yang mengakibatkan terjadinya ‘tragedi prau tambangan’ sebagaimana baru-baru ini terjadi di Tambangan Serbo.

 

C. Tambangan Serbo, Jejak Tertinggal Panambangan Masa Majapahit

Salah satu wanua sima panambangan yang disebut dalam Prasasti Canggu, terpatnya di lempeng V baris ke-3, adalah Serba, yang disebut berturut dengan wanua~wanua sima panambangan lain di dekatnya:
“ i serba, i waringin pitu, i lagada, i pamotan,
i tulangan, i panumbangan, i jruk, I trung,
i kambangan śrī, i tda, i gsang, i …..’.
Sangat mungkin sima thani Sarba berada di Kabupaten Sidoarjo, tepatnya di Kecamatan Balungbendo, mengingat bahwa Waringinpitu kini masih dikenal, menjadi Desa ‘Bakalan Wringinpitu’, yang juga di wilayah Kecamatan Balungbendo. Pamotan bisa dilokasikan di Pamotan Kecamatan Porong. Tulangan masih bernama ‘Tulangan’ Kecamatan Tulangan. Panumbangan kini bernama ‘Penambangan’ di Kecamatan Balungbendo. Jeruk menjadi Jeruk Legi di Kecamatan Balungbendo. Trung kini menjadi ‘Terung Wetan dan Kulon’ di Kecamatan Krian. Kambangsri kini menjadi Desa Bangsri di Kecamatan Sukodono.

Bila benar pelokasian diatas, tergambar bahwa desa-desa sima panambangan itu berada di wilayah Kecamatan Balungbendo, Tulangan, Krian, Sukodono, Porong, dan seterusnya hingga ke wilayah Surabaya. Dalam wilayah Kecamatan Balungbendo, tepatnya di Desa Bogem Pinggir, dijumpai dusun bernama ‘Serbo’, padamana terdapat suatu tambangan yang menghubungkan Serbo dan Desa Sumberame di Kecamatan Wringin Anom Kabupaten Gresik. Dengan demikian, cukuplah alasan untuk melokasikan sima thani panambangan Serba itu dengannya. Berarti tambangan Serbo merupakan jejak kelampuan yang masih tertinggal mengenai tempat penyeberangan sungai Masa Keemasan Majapahit. Salah satu indikator desa panambangan kuno adalah adanya pasar, karena panambangan sekaligus merupakan bandar (pelabuhan sungai), yang konon menjadi ‘sentra perekonomian lokal’, lantaran merupakan tempat yang cukup ramai.

Pasar ternyata juga kedapatan dekat dengan Tambangan Serbo, yang sangat boleh jadi merupakan pasar kuno yang masih eksis hingga sekarang, yang oleh warga sekitar disebut ‘Pasar Surungan’. Lokasi pasar terbilang dekat dengan Perempatan Bakalan. Salah satu pecabangan jalan ini, yakni yang arah barat, menuju ke lokasi Pasar Surungan dan seterusnya menuju ke Tambangan Serbo. Toponimi ‘Bakalan’, yang terbentuk dari ‘bakal-an’, menjadi petunjuk bahwa tentunya tempat ini adalah ‘perintis (bakal)’. Atau dengan perkataan lain, merupakan desa tua. Petanda ketuaannya juga tergambar oleh adanya bangunan-bangunan kuno, antara lain sejumlah rumah-toko dari warga etnik Tiong-Hoa yang bergaya seni bangun Indis di sekitar Perempatan Bakalan. Jelaslah bahwa Tambangan Serbo, Pasar Surungan dan sejumlah bangungan tua bergaya Indis pada Perempat Bakalan memiliki potensi untuk dimasukkan ke dalam Cagar Budaya (CB).

 

D. Evaluasi Kelayakan dan Revitalisasi Fungsi Prau Tambangan

Sebagai alat transportasi sungai yang menyejarah, yang telah digunakan lintas masa, tidak sedikit prau tambangan yang ada merupakan perahu lama, yang kini terbilang ‘beresiko (riskan)’ bagi terjadinya kecelakaan. Perahu kayu atau papan tersebut ada yang bocor atau terkena rembesan air pada beberapa bagian tubuh perahu, sehingga perlu disertai dengan ‘pengurasan’ ketika melintas sungai. Begitu pula, tambang atau kawat sling-nya tidak sedikit yang ‘telah aus’, sehingga rawan putus, utamayna ketika mengangkut beban terlampau berat dan aliran sungai yang deras di musim penghujan. Bentuk perahu, tidak terkecuali pada perahu logam (lembar seng) ukuran besar, belum melalui ‘uji keseimbangan’ dalam mengangkut bebeban berat di atasnya, sehingga dapat terbalik ketika memotong arus desas sungai. Kendati besar ukurannya, namun lantaran bahan perahu dari lembar-lembar seng, maka tidak seberat dan seimbang pada perahu yang berbahan kayu. Kondisi kerawanan yang demikian sejauh ini belum menjadi ‘keterperiksaan’ – baik oleh pemilik perahu itu sendiri atau pihak lain yang memiliki kepiawaian dalam teknologi perahu. Bila pun kondisinya tidak layak pakai, namun pihak pemilik perahu tidak memiliki cukup dana untuk bisa mengganti dengan perahu baru. Oleh karena itu, bukan tidak mungkin terdapat sejumlah prau tambangan yang kini asal dioperasikan tanpa disertai ‘jaminan layak jalan’. Padahal pada sisi lain. tak sedikit warga masyarakat yang hingga sejauh ini masih menggantungkan mobilitasnya kepada prau tambangan.

Menghadapi kondisinya yang demikian, maka tiba saatnya dilakukan dua hal, yaitu: (1) evaluasi keamanan dan kelayakan jalan prau tambangan, (2) revitalisasi fungsi prau tambangan sebelum keberadaannya dapat digantikan oleh jembatan-jembatan penyeberang sungai.

Upaya pencarian korban tenggelam

Kedua upaya ini musti melibatkan lintas pihak, yakni pihak operator prau tambangan, Departemen Perhubungan, Polisi Lalu Lintas, akademisi yang berkompeten di dalam bidang Perkapalan dan Sosio-Budaya.

‘Kehadiran Negara’ jelas diperlukan, mengingat tidak mungkin hanya menyerahkan sepenuhnya kepada pihak operator prau tambangan. Terlebih prau tambangan merupakan ‘alat transportasi publik’ yang beresiko tinggi karena harus melintasi sungai yang dalam dan pada waktu-waktu tertentu berarus deras. Pada sisi lain, tidak bijak untuk ‘merebut hak operator’ perahu tambangan dari operator awalnya, sebab pengopersiannya diperoleh secara turun-temurun dari garis keluarga, yang konon menjadi pihak swasta perintis usaha jasa penyeberangan.

Demikianlah, solusi bijak atas tragedi prau tambangan itu ‘TIDAK MUSTI DENGAN MENUTUP TOTAL” aset tambangan yang telah ada. Bagaimanapun juga, prau tambangan merupakan solusi murah, efisien dan berdayaguna bagi hubungan transportatif antara seberang. Terlebih lagi, keberadaannya tidak serta merta tergantikan oleh jembatan penyeberang, yang tentu membutuhkan biaya tinggi untuk pembangunannya. Apabila suatu waktu terjadi musibah atas penyeberangannya, maka musti dicari akar permasalahnya dengan melakukan evaluasi atas kelaikan jalan prau tambangan bersangkutan.

Simultan dengan itu perlu pula dilakukan peremajaan atau malahan penggantian dengan perahu baru, utamanya terhadap prau tambangan yang kini telah lewat usia (usang). Selain itu dilakukan revitalisasi atas fungsi pokoknya sebagai prasarana publik penyeberangan sungai. Bahkan, bukan tidak mungkin prau tambangan yang telah dikemas baik dapat dijadikan sebagai ‘perahu wisata’, baik wisata air maupun wisata heritage. Melenyapkan ‘tambangan tua’, utamanya yang masuk ke dalam kategori ‘heritage’, sama halnya dengan menyirnakan warisan budaya bangsa.

Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dan difaedahkan dari suatu musibah (tragedi). Salam budaya ‘Nusantarajayati’. Nuwun.

 

Oleh : M. Dwi Cahyono dan Prigi Arisandi

 

PATEMBAYAN CITRALEKHA
Sengkaling, 16 Aplil 2017

Continue Reading

PERISTIWA

JATIGUWI

Avatar

Published

on

Demi mendengar nama “Jatiguwi”, asosiasi kita tertuju kepada wayang topeng Malang Gagrak Gunung Kawi dan sentra penempa logam (pandean). Asosiasi demikian tidaklah salah, sebab akhir-akhir ini wayang topeng Jatiguwi yang sempat beberapa lama “mati suri” memperlihatkan grafik perkembangan yang kian menaik. Namun, sebaliknya kerajinan tempa logam (pande) yang konon demikian kuat justru kian mengalami degradasi (kemerosotan). Apakah desa pertanian yang berada di Kec. Sumber Pucung Kab. Malang, yang diapit oleh dua buah sungai ini — Bangawan Brantas di sisi selatan dan Kali Biru di sisi utara — adalah desa kuno yang terus eksis hingga kini?

Ada setidaknya dua indikator untuk menjawabnya dengan “ya”. Pertama, Jatiguwi Lor telah menjadi permukiman sejak Era Perang Diponegoro (1825-1850). Terbukti, terdapat suatu Dusun bernama “Mentaraman” di sini, yang menjadi salah satu lokasi pelarian dari anggota lasykar Pangeran Diponegoro pasca Kompeni Belanda melancarkan strategi perang Benteng Stelsel. Kedua, kekunoannya bahkan jauh lebih tua lagi dari abad XIX itu. Benarkah demikian, apa buktinya?

Minggu lalu, turun berita disejumlah media massa tentang penemuan arca batu andesit yang “diduga” arca Durga di Dusun Mentaraman Desa Jatiguwi, tepatnya di halaman belakang rumah pak Ngatiran. Kata “diduga”semestinya tidak perlu dicantumkan, sebab arca yang ditemukan oleh Ngatiran ketika menggali tanah aluvial sedalam sekitar 40 cm untuk wadah batu koral sisa dari pembangunan rumahnya — kini arca tersebut diamankan di Polsek Sumber Pucung — sudah PASTI atau jelas merupakan arca Dewi Durga Mahisasuramardhini. Apa petanda khusus (laksana) untuk memastikan demikian?

Ada tiga figur yang dipahatkan pada monolith ini, yaitu:

(1) Dewi Durga yang digambarkan tengah berperang — sehingga masuk dalam kategori “arca tipe adegan”,

(2) mahisa (kerbau) yang dijadikan sebagai landasan pijak dari berdirinya dengan sikap dwibangga,

(3) asyura, yakni demon sakti sebagai musuh para dewa, yang dapat menjelma menjadi beragam wujud.

 

Mahisa adalah makhluk jelmaannya, selain gajah, sabga, dll. Oleh karena itu, dapat difahami bila pada arca ini Asura digambarkan menyembul dari ubun-ubun Asyura — lazinnya, makhluk jelmaan keluar atau sebaliknya masuk dari/ke wujud aslinya lewat ubun-ubun. Dengan demikian, arca ini menggambarkan Dewi Durga yang tengah berperang melawan Asyura, yang sebelumnya menjelma menjadi mahisa.

Gambaran “tengah berperang” tampak dari sikap dari delapan tangan (hastabhyuja) beserta atributnya. Tangan kedewataan (bagian depan) sisi kiri dalam posisi menjambak rambut panjang-ikal dari Asura, sehingga tampak Asyura dalam kondisi kesakitan — tangan kanan dijulurkan ke arah rambutnya. Sementara tangan kedewataan sisi kanan menarik kearah atas ekor mahisa yang baru dikalahkannya. Dalam suasana perang, keenam tangan lainnnya masing-masing digambarkan memegang senjata. Pada tiga buah tangan belakang sisi kanan berturut-turut dari atas ke bawah dipersenjatai dengan sangka (cangkang), ketaka (perisai) dan busur panah (danda), sementara pada ketiga tangan belakang sisi kanan tak terlihat jelas senjata yang dibawa, lantaran sandaran arca (stella) bagian atas dan kanan rompal serta aus — kemungkinan membawa mata panah, tali jerat (pasa) atau semacam belati dan cakra.

Sebenarnya, selain arca sakti (istri) Dewa Siwa dengan tinggi sekarang 53 cm — jika utuh sekitar 57 sd 60 cm– itu juga ditemukan fragmen arca batu andesit. Yang tersisa tinggal bagian lutut hingga mata kaki, dalam posisi berdiri tegak lurus (samabhangga). Yang menarik, fragmen arca ini disertai dengan tonjolan di bagian bawah, sebagai penguat bagi posisi berdiri arca pada pedestal — yang dilengkapi dengan cekungan persegi. Sayang sekali sukar untuk mengidentifikasikan latar kedewataannya. Bisa jadi kaki dari arca Rsi Agastya (Siwa Mahaguru), atau mungkin fragmen arca Nandiswara. Ada hal lain yang belum dicermati dari pahatan di sisi kiri kakinya — lantaran terbalut tanah dan tidak dibersihkan, sebab di luar kewenangan saya. Jika pahatan itu menggambarkan teratai yang tumbuh dari bonggolnya, maka ada indikasi berasal dari Masa Singhasari. Jika tidak, dan dengan menilik ukuran bata-bata kuno yang banyak ditemukan, maka asal artefak di Jatiguwi diperkirakan dari Masa Majapahit.

Selain kedua arca itu, menurut pengakuan Udin, siswa kelas VI SD warga setempat, setahun lalu ia dan dua kawannya sempat melihat sebuah arca dalam posisi berdiri di antara rimbunan bambu apus. Ukuran hampir setinggi arca durga tersebut. Menurutnya, kedua telapak tangan arca ditempatkan di depan pusar (dhyanamudra) dan diatas telapak tangan yang terbuka ke arah atas tersebut terdapat benda melancip ke atas. Apa yang diungkapkan mengingatkan pada arca perwujudan, yakni personifikasi dari arwah seseorang tokoh yang diarcakan dalam wujud dewata (Siwa). Sayang sekali beberapa hari setelah mereka melihatnya, arca tersebut tak lagi dijumpainya. Kini rimbunan bambu (barongan pring) itu telah di bakar dan di sisi utaranya telah berdiri bangunan rumah, sementara di sisi barat berdiri pagar tembok. Tak diketahui latar raibnya dan keberadaannya kini.

Jika menilik ketiga arca itu, tergambar bahwa apa yang telah dan tengah ditemukan di situs Jatiguwi bukan sekedar penemuan arca Durga, lebih dari itu adalah tiga diantara satu set arca Siva Family, yang jika lengkap terdiri atas:

(1) arca Lingga-Yoni atau Siwa Mahadewa atau arca perwujudan, yang semula berada di bilik utama (garbha grha),

(2) arca Nandiswara dan Mahakala di relung depan kanan-kiri pintu candi,

(3) arca Durga di relung utara,

(4) arca Ganesya di relung belakang, dan

(5) arca Agastya atau Siwa Mahaguru di relung selatan.

 

Arca-arca ini adalah pantheon baku pada candi Hindu sekte Saiwa. Dengan demikian, yang ditemukan tersebut sebenarnya adalah ikonografi dari bangunan suci berbentuk candi, yang berasal dari masa Majapahit atau paling tua dari masa akhir Singhasari. Jika benar demikian, dimanakah keberadaan candinya?

Pada tempat penemuan arca-arca itu terdapat kandungan bata-bata besar-kuno dalam jumlah banyak. Dengan menggali tanah pada kedalaman sekitar 40 cm, didapati hamparan reruntuhan bata-bata kuno, baik di timur ataupun di barat pagar. Bahkan, hingga tahun 1960-an, pada areal yang diyakini angker (wingit) ini permukaan tanahnya menggunduk dan terdapat banyak bata-bata kuno berserakan diantara beberapa kelompok rimbunan bambu. Pada akhir dekade 60-an tidak sedikit bata-bata kuno yang ditumbuk untuk dijadikan bubuk bata, yang jumlahnya hingga mencapai sekitar 60 m kubik. Bata-bata kuno yang konon berada di atas permukaan tanah dan kini masih banyak yang terkandung di dalam tanah adalah komponen bangunan candi Hindu-Siwa dimaksud.

Boleh jadi, bata-bata yang telah raib tersebut adalah komponen dari tubuh dan atap candi. Masih bisa diharapkan kompononen kaki dan batur candinya masih berada di dalam tanah. Misteri keberadaan candi itu musti dibuktikan dengan ekskavasi. Oleh karena itu, kunjungan BPCB Jatim dan Disbudpar Kab. Malang ke Sumber Pucung diharapkan tak sekedar kunjungan dinas seremonial untuk meninjau berita temuan tinggalan purbakala, namun lebih dari itu untuk merancang tindakan menyelamatkan (konservasi) dalam bentuk ekskavasi –minimal melakukan test pit (uji gali).

Jangan bilang Pemkab Malang tak cukup dana untuk bisa melakukan itu sekarang, dengan mengingat dua hal:

(1) areal situs kini menjadi areal permukiman,

(2) adanya potensi temuan arsitektural, ikonografis dan artefak lain di bawah tanah,

(3) peninggalan candi di sub-area selatan Malang boleh dibilang jarang.

 

Jika terbukti bahwa situs Jatiguwi adalah candi, maka akan mengisi “kekosongan” temuan candi di lereng dan lembah sisi selatan G. Kawi. Sementara di sisi barat (misal situs Sirah Kencong, Rambut Monte, Punden Pagersari, dsb), utara (misal Selobrojo, Sebaluh, Princi, dsb) serta timur (misal Badut dan Gasek, Kagenengan, dsb) terbukti memiliki jejak bangunan suci Masa Hindu-Buddha. Temuan candi di situs Jatiguwi dengan demikian bakal memperkuat bukti bawa Kawi adalah gunung suci (holy mountain), sebagaimana dikisahkan dalam kitab gancaran (prosa) Tantu Panggelaran bahwa G. Kawi adalah salah satu rompalan dari puncak gunung suci Meru (Himalaya).

Ada kemungkinan orientasi (arah pengkiblatan) Candi Jatiguwi adalah ke utara-barat, yakni ke puncak gunung suci Kawi. Sebagai bangunan suci, candi Hindu-Saiwa ini bukan hanya diorientasikan ke puncak gunung suci, tapi juga didirikan di dekat kali suci Biru — airnya disakralkan, sebab bermata air (tuk) di lereng gunung suci Kawi dan berada di areal suci, yakni areal yang diapit oleh dua buah sungai (Brantas-Biru). Bangunan suci ini bakal memperkaya khasanah budaya masa lalu di Kab. Malang, khususnya untuk sub-rea selatan Malang.

Marilah penanganan terhadap situs Jatiguwi ini dijadikan pembukti akan tingkat kepedulian Pemkab Malang, khususnya Disbudpar terhadap heritage. Jika toh Pemkab mengalokasikan dana untuk merisetnya lewat ekskavasi, jangan sekali-kali berfikir BEP, yakni bea riset harus kembali lewat perolehan dari sektor pariwisata atasnya, sebab konservasi budaya tidak senantiasa berdampak finansial. Kesungguhan Pemkap Malang tangani BCB kita uji kali ini pada tindakan nyata yang dilakukannya untuk menangani secara bijak dan proporsional situs Jatiguwi. Semoga terbukti peka dan peduli.

Dwi Cahyono

10 September 2015

 

Continue Reading

Patembayan Citralekha © 2019