PAWIWAHAN HAGENG DALAM TRADISI JAWA KUNA

 

Ancient Royal Wedding

PAWIWAHAN HAGENG DALAM TRADISI JAWA KUNA : Ekspesi Kebesaran Kerajaan

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Pawiwahan Hageng, Mode Jawa Kuna tentang Royal Wedding
1. Royal Wedding Negara Manca dan Nusantara

Sabtu, 19 Mei 2018 sekitar pukul 1 siang waktu Inggris atau sekitar pukul 1 dini pagi di Indonesia berlagsung perhelatan akbar, yakni pernikahan agung (royal wedding) untuk Prince Henry Charles Albert David of Wales alias Pangeran Harry – putra kedua mendiang Putri Diana dan Pangeran Charles. yang lahir pada 15 September 1984. Pangeran Hary adalah adik Prince William Arthur Phillip Louis Duke of Cambridge alias Pangeran William. Bertempat pada Kapel St. George di Windsor Castle, Pangeran Hary mengucap janji setia atau mendapat pemberkatan nikah dengan ‘Rachel’ Meghan Markle.

Seusai pemberkatan pasangan pengantin diarak dengan kereta kuda di sepanjang jalan Castle Hill, High Street serta ke pusat kota Wisdor sebelum kembali sepanjang Long Walk untuk akhirnya diantar ke St. George Hall, Windsor Castle, padamana resepsi yang dihadiri oleh 600 undamgan dilangsungkan secara tertutup. Lewat arak-arak ini mempelai berkesempatan untuk menyapa warga dari berbagai penjuru dunia. Demikian sabaliknya, dengan rute arak-arakan yang dirancang sedemikan rupa itu publik dimugkinkan dapat melihat dan memotret Harry dan Markle saat masih mengenakan gaun pernikahan secara bebas. Tradisi berkeliling yang demikian sudah berlangsung secara berabad-abad di Kerajaan Inggris. Malam harinya diselenggarakan resepsi bersama keluarga dan sahabat di Frogmore House, sekitar 3 kilometer dari lokasi resepsi. Windsor Castle merupakan salah satu hunian kepunyaan Keluarga Kerajaan Inggris yang terletak di daerah Berkshire, sekitar 25 kilometer arah Barat Daya kota London.

Royal wedding yang demikian sebenarnya tidak hanya berlangsung di Inggris, namun pernah pula dilangsungkan di negara-negara lain, khususnya yang masih mempunyai kerajaan. Indonesia yang masih memiliki kerajaan yang diakui sescaa resmi, yakni Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, pernah pula menyelenggrakan beberapa kali royal wedding, yang memperoleh peliputan luas. Pada era terakhir, yakni pada pemeritahan Sultabn Hamengku Buwono X, telah dilangsungkan dua kali royal wedding, yaitu: (1) perikahan antara GKR Bendara dan KPH Yudanegara pada tahun 2011, (2) pernikahan Gusti Kanjeng Ratu Hayu dan Kanjeng Pangeran Haryo Notonegoro pada tahun 2013. Selain di Keraton Ngayogyakarta, royal wedding juga dilangsungkan di lingkungan keraton Surakarta maupun keraton-keraton lain yang hingga pasca Kemerdekaan Repiblik Indonesia masih kedapatan di penjuru wilayah Indonesia.

Sudah barang tentu, pada masa lalu manakala Nusantara masih berada dalam sistem pemernitahan kemonarkhian (kerajaan se Masa Hindu-Buddha ataupun kasultanan pada Masa Pertimbuhan-Perkembangan Islam), pernikahan agung pasti lebih banyak lagi dilangsungkan. Masing-masing menyelenggarakan sesuai norma agama, norma hukum, dan norma sosial dengan upacara pernikahan yang berragam dan bervariasi sesuai dengan tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial.

2. Istilah Lokal Jawa untuk Royal Wedding

Terdapat beragam sebuatan dalam bahasa lokal Jawa untuk perkawian atau pernikahan, antara lain ‘kawin, nikah, rabi, kromo atau krami, simah, daup, ataupun wiwaha’. Istilah ‘nikah’ berasal dari bahasa Arab, adapun kata ‘wiawaha’ berasal dari bahasa Sanskreta, untuk menyebut pengikatan oleh dua orang dengan maksud untuk meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Menikah merupakan ‘perjanjian yang kokoh (kuat, teguh) – dalam kitab suci Al Qur’an disebut ‘ mitsaqan gholidzo ’ – di hadapan Illahinya, yang dibuktikan dengan akad nikah yang dilaksanakan calon suami dan ayah pasangannya. Dengan demiikian, menikah bukan hanya melakukan perjanjian dengan manusia, melainkan juga perjanjian dengan Illahinya, sehingga pernikahan dibangun dalam sebuah ikatan yang suci. Perkawinan bukan sekedar menyatukan dua insan yang berlainan tempat asal, kehidupan sosial dan budaya, bahkan mungkin mempunyai cara pandang dan berpikir yang berbeda, tapi juga menyatukan dua keluarga besar. Ritus adalah acara yang dilangsungkan untuk melakukan pernikahan menurut adat-istiadat yang berlaku dan kesempatan untuk merayakan bersama teman dan keluarga. Wanita dan pria yang sedang melangsungkan pernikahan dinamakan pengantin (manten), dan setelah upacaranya selesai kemudian mereka dinamakan suami-istri (kali-stri,laki-bini) dalam ikatan perkawinan (bebrayan) membentuk keluarga (kaluqargga).

Dalam bahasa Jawa Kuna maupun Jawa Tengahan, selain istilah ‘rabi, kawin, dan krama’, terdapat kata ‘wiwaha” yang lazim dipakai untuk menyebut perkawinan/pernikahan. Secara harafiah istilah “wiwaha’ berarti : membawa pergi (mengenai pemantin putri dari rumah ayahnya). perkawinan (Zoetmulder, 1995:1455) atau pesta penikahan. Sebutan ini masih lazim digunakan di Bali, dimana perkawinan diistiah dengan ‘pawiwahan’, dalam arti ikatan lahir batin (sakala dan niskala ) antara seorang pria dan wanita untuk membentuk keluarga bahagia dan kekal yang diakui oleh hukum negara, agama dan adat. Demikian familiernya, istilah ini dipakai untuk unsur judul susastra yang bertemakan perkawinan, seperti Arjunawiwaha, Abhimanyuwiwaha, dan Subhadrawiswaha. Kata ‘wiwaha’ bisa dikombinasikan dengan kata-kata lain menjadi gandharwawiwaha, raksasawiwaha, sudrawiwaha. Perkawinan di lingkungan bangsawan, rakyat biasa, bahkan kedewataan sekalipun acap menggunakan sebutan ‘wiwaha’.

Pernikahan di lingkungan bangsawan, terlebih yang berlagsung di keraton, mencitrakan sebagai perkawinan besar, mulia, luhur dan agung, sehingga bisa diistilahi dengan‘kawiwahan agung’ atau ‘pawiwahan hageng’ untuk membedakan dengan perhelatan nikah kecil atau bersahaja di kalangan rakyat kebannyakan, seperti perkawinan pada kalangan kasta sudra (sudraiwaha). Ada pula model penikahan diam-diam tanpa persaksikan keluarga pria, yang dinamai ‘gandgarwawiawaha”. Pada susastra lama dan tradisi lisan dikisahkan mengenai perkawinan antara bangsawan pria dan wanita pedesaan atau warga wanasrama atau karsyan tanpa diketahui dan dihadiri oleh anggota keluarga bangsawan itu. Di Bali istilah ini dipergunakan untuk menyebut pertemuan suka sama suka antara seorang wanita dengan seorang pria sebagai kekasihnya, serta timbul nafsunya dan bertujuan untuk melakukukan hubungan kelamin. Sedangkan istilah ‘raksasawiawaha’ digunakan untuk menyebut tindakan melarikan seorang gadis secara paksa dari rumahnya, sampai menangis, berteriak-teriak disertai dengan membunuh keluarga dan merusak/membakar rumah gadis tersebut. Perkawinan ini mengigatkan pada kawin lari, yaitu tindakan melarikan seorang wanita tanpa izin, yang bertujuan untuk hidup bersama maupun menikah. Kawin lari bisa juga berbentuk penculikan gadis di bawah umur atas persetujuannnya, namun tidak disukai oleh orang tuanya; atau bisa juga diartikan dengan menculik pengantin wanita, baik dengan taktik, paksaan, maupun ancaman. Kebiasaa kawin lari masih didapati di beberapa daerah, seperti di Lampung, Bali, Lombok (diamai ‘merari’), Sumatera Utara (disebut ‘marlonjong’), Sulawesi Selatan (dinamai ‘silariang’)m dsb.

Pada khasanah suastra lama, kawin lari antara lain tergambar dalam kakawin Krenayana dan Gathotkacasraya.
Urgensi perkawinan dalam kehidupan manusia menjadi alasan untuk menyebutnya dalam sumber data prasasti dan dikisahkan pada susastra kuno. Prasasti Pucangan (1041/1042 Masehi) misalnya, memberitakan mengenau tragedi yang terjadi ketika berlangsung pernikahan antara Airlangga dan putri Dharmawangsatguh, Begitu pula pada prasasti Mantyasih (907 Masehj) yang ditulis atas perintah raja Balitung diinformasikan tentang adanya lima orang patih di daerah Mantyasih yang berjasa mempersembahkan kerja bhakti ketika perkawinan raja (wurangan haji – kata ‘warangam’ berarti: pesta perkawinan (untuk anak), dengan mejaga keamanan di Desa Kining yang penduduknya selalu merasa ketakutan. Perkawinan juga dipadang sebagai perisriwa menarik di mata musyafir asing Ma Huan, sehingga turut dicatat dalam catatan peejalaannya ke Jawa tahun 1416 Mesehi dan dibukukan dengan judul “ying yai seng lan”. Dalam berbagai susastra, peristiwa perkawnan keluarga raja acapkali dideskripsikan secara penjang-lebar. Namun perihal ini belum diperoleh data visualnya secara langsung di dalam relief candi. Kandungan data yang cukup banyak dalam beragam sumber-sumber data itu cukup untuk merekonstruksikann prosesi pawiwahan hageng pada Masa Hindu-Buddha,

B. Sekilas Gambaran Pawiwahan Hageng pada Masa Hindu-Buddha

Berbeda dengan pernikahan pada umumnya sekarang, dimana perhelatan perdaa diselenggarakan di tempat kediaman pengantin perempuan dan beberapa waktu kemudian berganti dilaksanakan di kediaman pengantin pria – bahasa Jawa Baru menyebut dengan ‘ngunduh mantu’, sebaliknya pada Masa Jawa Kuna dilaksaakan terlebih dahulu di tempat kediaman penganti pria. Hal ini diperoleh gambarannya dalam kitab “ying yai seng lan” karya Ma Huan, yang menyatakan bahwa perhelatan perdana dilaksanakan di tempat pengatin laki-laki. Tiga hari kemudian, kedua mempelai dijemput di kediaman pengantin pria untuk di bawa ke kediaman pengantin wanita dengan iringan beberapa wadutra berbagan penunggu (bonang), sebuah gong besar dari kuningan dan beberapa waditra tiup dari tempurung kelapa serta genderang-genderang pukul dari bambu (Gronoveld, 1950: 51; Kunts, 1968:88, Zhi, 1993:73).

Dari segi kebahasaan, yakni bahasa Jawa Kuna dan Tegahan, diperoleh infoemasi mengenai hal-hal yang berkenaan dengan komponen-komponen perkawinan. Pelaksanaan upacara perkawinan (awiwaha) memerlukan perlengkapan perkawinan (pawiwaha), seperti payung kertas dengan tiga warma yang berbemtuk seperti dedaunan cemara (payung kertas camara matigawarna). Kedua mempelai ditempatkan di tempat penikahan (pelaminan), yang dalam bahasa Jawa Kuna dinamai ‘pamarangan’. Gamelan dibunyikan sebagai penanda bahwa mempelai telah memasuki pelaminan (Zoetmulder, 1985:539). Gamelan dibunyikan sebagai penanda bahwa mempelai telah memasuki pelaminan (Zoetmulder, 1985:539).

Pada kitab Wangbang Wideya (III.142a -143b) dikemukakan bahwa perkawinan Panji Wireswara dan putri mahkota Dhaha diselenggarakan di Balairung. Susastra lain, yaitu Hikayat Panji Kuda Semirang menyatakan bahwa pernikahan di Dhaha diselenggarakan di Bale Tejamaya. Beragam panganan disajikan di tempat ini untuk para tamu. Ditempat pesta nikan inilah menurut keteragan susstra Sumanasantaka (112.3-7) pqra tamu undangan memberikan sembah peghormatan kepada mempelai. Informasi lain didapati dalam Sumansataka (10), yang memberitakan bahwa ujuh orang paratanda bergegas mengelilingi mempelai secara bergantian dengan iringan padahi dan sorak-sorai para hadirin.

Salah satu sesi penting dalam prosesi penikahan adalah berkah nikah. Bahkan, untuk medapatkan berkat nikah itu, rombongan calon pengantin musti berpayah-payah menempuh perjalan jauh ke tempat persemayaman rokhaniawan yang berkompeten memberi peresmian serta berhah nikah. Kidung Panji Margamara — ditulis pada masa Majapagit Akhir (era Girindrawarddhanawamsa) medio abad XV, sedikit sebelum tahun 1450 Masehi – mengkisahkan tentang perjalanan pajang dari Singhasari ke mandala Kukub (sebutannya ‘Sunyasagiri’) yang terletak di lereng selatan Gunung Mahameru (Semeru) untuk mendapat berkah serta peresmian nikah (namun batal) bagi Ken Candrasari (putri Rangga Singhasari) dan Jaran Warida (putra pendeta sepuh Kagenengan). Ada kemugkinan mandala Kukup adalah situs dari abadXV Mesehi yang terletak di Supiturang pada areal pekebunan Gerbo sekarang, padamana pernah dutemukan tiga buah prasasti – sebuah diantaranya memuat teks ‘tulusamilu sa den kadi botingakasa lawan pratiwi sorga kabuktiha’ (Brandes dalam J. Knebel 1902:342-343). Prasasti pendek (sort inscription) ini mirip dengan isi prasasti Pasrujambe yang memuat nasihat nikah ‘iki pangestu yang mami, guru-guru yen arabi den kadi boting ngakasa lawan pratiwi papa kabuktihi’ (Sukarto, 1990:16-17)

Gambaran demikian dijumpai dalam kakawin Sutasoma (80.4), yang mengkisahkan bahwa ketika berlangsung perkawinan antara Sutasoma dan Candrawati, di langit para dewa, rsi, dan para ahli filsafat besar memnjatkan doa, matra dan himne-himne pemberkatan dari kitab suci Wedha (Santoso1975:366). Serupa dengan itu, susastra Wangbang Wideya (3.147b) mengkisahkan bahwa ketika berlangsung pernikahan antara Panji Wireswara dan putri mahkota kerajaan Dhaha, para Brahmana terkemuka besarta punjangga menyanyikan himme-himme pujian (samanasuti). Pemberkatan nikah dilakukan oleh Mpu Brahmaraja, dengan irigan gong, tatabuhan, genta-genta (genta-genti), peret dan sangkha . Pada bagian lain dari susastra ini (III. 182b-184a) dikisahkan perkawinan putri Tilakusuma dan Srenggayuda di Gegelang, mempelai mengucap janji kawin (Robson, 1971:219-22,238). Lantunan himne pujian dengan iringan bebunyian (padahi dan curing) pada upcara perkawian juga dijumpai informasinya dalam kitab Sumanasantaka (CXI.3-7, CXII.6), yang meceritakan tentang perkawinan Aja dan Indumati. Kedua mempelai melakukan pemujaan kepada dewa Agni, lantas diteruskan dengan upacara bawah pimpinan pendeta Siwa dan Sugata (Budha).

Setelah pemberkatan nikah, kedua mempelai diarah dalam suatu kemerihan pesta nikah. Terkait itu, Hikayat Panji Kuda Semirang mengkisahkan bahwa perkawinan di Dhaha, bertempat di Bale Tejamaya. Pasangan-pasangan pengantin diarak keliling alun-alun dengan tandu-tandu berbetuk garuda, naga wilmana dsb. sambil menyaksikan tenda-tenda dimana bermacam seni pertunjunkan (wayang, topeng, gambang, raket, dsb), Arak-arakan ini menuju ke arah pesanggrahan (Poerbatjaraka, 1968:41). Gambaran mengenai tandu (bahasa Jawa Baru menyebut ‘joli’) didapati

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*