1
1 share, 1 point

Aset Heritage Lintas Masa

Bagian 1

Oleh : M.. Dwi Cahyono

A. Paleo-ekoliogi Talun dan Kajoe Tangan 
1. Arti Toponimis “Talun”

Sub-area Tengah Kota Malang bersentra pada Alun-alun Kothak — kini acap dsebut “Alun-alun Merdeka”. Untuk menjangkaunya dari arah utara terdapat prasarana jalan yang dalam tulisan ini disebut ” Koridoor Kajoe Tangan”. Suatu jalan poros dengan arah utara-selatan, bersambung dengan Koridoor Celaket di sebelah utaranya. Koridoor Kajoe Tangan berada di punggungan tanah membukit, yang diapit oleh Bhagawan Brantas di sebelah timur dan Kali Sukun di sebelah baratnya. Kali Talun yang pada masa pemerintahan kolonial Hindia-Helanda pernah direvitalisasi dan dijadikan sebagai “drainase induk’ ini bertemu dengan Kali Bareng di Dudung Ngaglik – Kasin. Pada seberang barat Koridoor Kajoe Tangan itulah rerdapat kampung yang “mengantong” di sepanjang aliran Kali Sukun, yakni kampung arkhais dengan nama “Talun”. Demikianlah, Koridoor Kajoe Tangan danpermukiman di Kampung Talun serta deretan bangunan di kanan-kiri koridoor jalan itu berada dalam apitan dua sungai.

Latar penamaan “Talun” terhadapnya berkenaab dengan keberadaan ekologisnya pada masa lalu. Kata “talun” kedapata din alam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, yang secara harafiah berarti “kebun luar (di tepi hutan, belum lama dibuka (Zoetmulder, 1995: 1188). Istilah itu disebut dalam kakawin Bhomakawya (7.5), Sumanasantaka (37.7), Partayajnya (12.7), Subhadrawiwaha (7.5), Ramaparasuwijaya (36.9, 39.25), Tantupanggelaran (111), Kidung Ranggalawe (4.101, 6.11), Kidung Malat (11.2), Tantri Kadiri (2.6, 2.25), dsb. Kata jadiannya antara lain ‘tahunan, tslun-talun, patalunan”. Selain itu terdapat kata gabung seperti “ayam talun (ayam hutan), selasih talun (salasih liar), wiku talun (wiku yang hidup dalam hutan)”. Maharsi (3009:621) juga mengartikan istilah “talun ” dengan : kebun luar, tanah di hutan. Sejalan itu, Wojowasito (1977:259) mengartikan “talun” dengan :kebun atau perkebunan. Begitu pula Suparlan (1991:279) maupun C. F. Winter dan Ranggawarsita (2007: 264) mengaryikan dengan : ladang, desa. Dalam bahasa Jawa Baru juga terdapat kata ” talun” untuk menyebut : ladang, huma (Prawiroatmojo, 1980: 230). Tergambar bahwa menurut sejumlah pengertian itu, talun adalah suatu kebun atau padang baru pada suatu dusun yang dibukan di areal tepian hutan.

Paling tidak pada abad X-XII Mesehi menurut keterangan dalam dalam prasasti Kanjuruhan (Wurandungan) B bertarik 943 Maseh dan Prasasti Ukir negara (Panotoh) bertarikh 1198 Masehi) areal tertelaah telah bernama “Talun”. Hal ini menjadi petunjuk bahwa kebun baru di tepian hutan itu telah ada pada medio abadi X Masehi. Lantaran adanya kebun baru di tepian hutan itulah maka areal tertelaah disebut “talun”. Hutan di areal itu boleh jadi berada di sisi timur permukiman desa (wanua, thani) Talun, yang besar kemungkinan bernama ” Patangtangan”. Gambaran mengenai kebun di tepian hutan itu diperoleh dalam tembang bocah ‘Kurang Talun”
Kidang Talun, 
mangan kacang talun.
Milkethemil, milkethemil 
si kidang mangan lembayung. 
Mengingat bahwa budidaya tanaman dilakukan pada suatu kebun di tepian hutan, maka waktu- waktu tertentu ada binatang hutan, antara lain kidang (kijang), yang menyelinong dari hutan ke kebun petani di desa desa Talun untuk memakan tanaman budidaya, baik kacang atau lembayung.

2. Muasal nama “Kayu Tangan”

Lantaran berada di antara dua sungai, maka dapat difahami bila areal apit sungai tersebut merupakan tanah yang potensial bagi tumbuh lebatnya aneka tanaman, sehingga konon membentuk areal hutan (alas, hanlas, wana) . Salah satu jenis pohon yang tumbuh di hutan itu, bahkan menjadi tanaman yang dominan, adalah pohon (wit) tangan. Dinamai ” tangan” boleh jadi karena cabang dan rantingnya lurus ke samping kanan-kiri, seperti tangan yang direntang. Pohon ini masuk dalam kategori pohon tegakkan yang berbatang keras dengan ukuran cukup besar dan tinggi, yang oleh masyarakat setempat disebut “kayu”. Karenanya pohon itu mendapat sebutan “kayu tangan”. Ketika masih merupakan areal hutan, di sekitar Koridoor Kajoe Tangan tumbuh cukup banyak pohon (kayu) tangan tersebut. Hal inilah yang kiranya menjadi latar adanya sebutan “Jalan (Koridoor) Kayu Tangan (ditulis dengan ejaan van Opoesen “kajoe”).

Unsur sebutan “tangan” dari pohon itu kedapatan dipakai juga sebagai unsur nama desa sekaligus kecamatan di sub-area tlimur Tulungagung, yaitu Rejotangan (rajo+pangan). Disamping itu, real di samping utara belakang Pasar Wage pada Desa Kenayan Kabupaten Tulungagung juga memiliki unsur nama “tangan” yakni “Jotangan (kata “jo” boleh jadi adalah akronim dari “rejo”). Dengan demikian, pohon ” kayu tangan” amat mungkin pada masa lampau tumbuh di berbagai tempat, di Jawa, antara lain di Malang dan Tulungagung. Unsur namanya acap digunakan untuk menamai desa ataupun dusun padamana pohon kayu itu banyak tumbuh padanya. Dengan perkataan lain, “Kajoe Tangan” pada konteks ini adalah sebuah toponimi, yakni nama yang memberi gambaran ekologis masa lalu pada area bersangkutan.

Hutan padamana pohon kayu tangan itu banyak tumbuh dinamai dengan memakai unsur nama “tangan”. Dalam susastra gancaran Pararaton, tepatnya pada bagian pertama, yang berkisah tentang pelarian Ken Angrok dalam pengejaran prajurit keakuwuan Tumapel disebutkan bahwa salah satu tempat persembunyiannya adalah di “Hutan Patangtangan”. Dikisahkan bahwasanya setelah berhasil menyeberangi sungai pada sisi timur Kapundungan, Angrok mengungsi ke timur di Nagamasa, lalu ke Oran, kembali lagi ke Desa Kapundungan, kemudian pergi ke areal hutan yamg bernama “Patangtangan, lantas ke Ano, hutan di Terwag, dst. Toponimi, yang dalam hal ini adalah nama suatu areal hutan, yakni “alas Patangtangan” patut untuk dicermati berkenaan dengan nama “Kajoe Tangan”.

Terdapatnya unsur sebutan “tangan” di dalam nama “Patangtangan” Itu, yang amat mungkin terbentuk dari kata ulang “tangan” dan awalan “pa”, yaitu “pa+tangan-tangan”, yang kemudian dipersingkat menjadi “pa-tang-tangan”. Apabila benar demikian, berarti semula di areal sekitar Koridoor Kajoe Tangan merupakan areal hutan yang bernama “Patangtangan”, sebagaimana disebut dalam Pararaton. Hutan Patangtangan itulah kiranya yang dalam prasasti Ukir negara (1198 Masehi) diberitakan sebagai suatu areal perburuan yang berada di timur (sakrida) dari Gunung Kawi, di pinggiran Desa Malang. Berikut kutipan teksnya “………… taning sakrid malang akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah limpa makanagaran i ……..” . Ad beberapa kata yang tidak tertulis lengkap, seperti “…….taning” yang lengkapnya “wetaning (sebelah timur dari)”, tulisan ” sakrid Malang” dari yang semestinya “sakarida (tempat perburuan) ” di dekat Desa Malang, Wacid dan Mau”. Kalimat kutipan itu kurang lebih adalah “.. di sebelah timur (Gunung Kawi) tempat berburu sekitar Malang bersama Wacid dan Macu, persawahan dari Dyah Limpa yaitu .…”. Hutan tempat berburu itu dihadiahkan kepada Dyah Limpa, yaitu salah seorang Rakryan Patang Juru, yang tinggal di Gasek (kini berupa dukuh di Kelurahan Karangbesuki). Hadiah yang diberikan oleh Sri Maharaja Digjaya Resi. Selain tanah yang luas, yang dihitung dengan satuan “jung”, Dyah Limpa memperoleh anugerah yang berupa rumah. Sayang sekali tidak diperoleh keterangan perihal alasan (sambhanda) tentang pemberian aku ugerah istimewa (waranegraha) kepadanya. Dalam pemberian anugerah ini, raja
diwakili oleh Rakryan Pamotoh dan Rakryan Kanuruhan.

Desa (thani) Malang yang berada di tepian hutan tempat yang baik untuk berburu menjadi muasal nama dari daerah (Kota dan Kabupaten) Malang, yang berada di timur-selatan (tenggara) Hutan Patangtangan, yang kini dinamai “Malang Kota Lama”. Dengan demikian, toponimi “Malang” bukanlah berasal dari apa yang selama diyakini oleh publik — padahal sebenarnya kurang tepat, yakni “Malamgkuceswara”, melainkan memang sejak sebermula — paling tidak di abad XII M. — telah bernama “Malang”. Bahkan hingga tahun 1811, menurut peta rupa bumi (topografi) kuno, gunung (tepatnya ” bukit”) yang sekarang disebut “Gunung Buring” kala itu masih memiliki nama “Gunung Buring”, yakni gunung orang desa kumo Malang. Diluar areal hutan itu terdapat pula areal persawahan, yang mengingatkan kepada nama “Kampung Sawahan” yang kini berada di barat Utara Kota Lama. Desa-desa kuno lain yang ada di sekitar Hutan Patangtangan selain thani Talun yang berada di sisi barat, terdapat pula Kasin di sisi barat daya,i Calaket (kini disebut “Celaket” atau “Claket”) di sisi utara, Tugaran (kini berupa kampung Tegaron pada Kelurahan Lesanpuro di sebelang timur aliran Bangawan Bantas dan Bango, maupun thani Gadangan (kini “Gadang”) jauh di sebelah timur- selatannya Patangtangan. Tergambar adanya desa-desa kuno yang terletak di sekitar Hutan Patangtangan, yang salah sebuah diantaranya adalah “thani Talun”.

Pemberitaan dari prasasti Ukirnegara (1198 M.) mengenai adanya tempat perburuan pada timur Gunung Kawi di dekat thani Malang bisa kiranya dihubungkan dengan keterangan dalam kakawin Nagarakretagama (pupuh 50-55). Pada areal perburuan ini raja Hayam Wuruk dan rombongan melaksanakan perburuan (cri nrpati mahas mareng paburwan) yang seru, mendebarkan, namun penuh dengan spirit keberanian dalam kontes oleh kaprajuritan. Menurut keterangan dalam pupuh 50, areal pada mana perburuan (paburwan = pa+buru+an) itu diselenggarakan adalah di “hutan Nandawa’. Ada kemungkinan, hutan Nandawa berasa di selatan Patangtangan, yang kini pada sebelah barat dan utara Kota Lama. Nama “Nandawa” adalah nama hutan di India, yang dihuni oleh ragam binatang seperti yang diberitakan dalam kitab Tantrikamandaka atau Pancatantra. Kakawin Negakretagama memuat informasi mengenai adanya beragam binatang yang hidup di areal perburuan tersebut, seperti burung — termasuk juga burung kaswari (kasuari), rusa dan kijang, banteng dan kerbau hutan, celeng, kelinci, badak, kucing hutan atau harimau, kera, dsb. Gambaran vegetasi hutan adalah suatu rimba belantara yang rungkut rimbun, penuh gelagah dan rumput rampak. Justru lantaran banyak ditumbuhi oleh gelagah dan rumput serta terdapat sungai serta sumber air, maka areal lembah timur Kawi ini dihuni oleh berbagai bintang liar.

Tempat perburuan di Hutan Nandawa itulah yang boleh jadi dimaksud oleh prasasti Ukirnegara (disebut juga prasasti “Pamotoh”), yang berada di sakarida (timur) Gunung Kawi di dekat Desa Malang. Berarti, berada di sebelah selatan dari Hutan Patangtangan, yang kemungkinan areal bentangannya dari Alun-alun Kotak hingga ke sekitar Gadang. Rombongan pemburu yang berasal dari keraton Majapahit ini diberitakan menginap semalam di suatu desa yang terletak di tepi hutan Patangtangan, yang bisa jadi di thani Malang atau mungkin justru pada thani Talun — karena rombongan berangkat dari Puri Singhasari, jauh di utara hutan Patangtangan dan desa kuno Talun.

B. Sejarah Panjang Talun dan Kajoe Tangan


1. Talun dan Patangtangan Masa Hindu-Buddha

Sebagaimana dibicarakan di bagian terdahulu, menurut keterangan prasasti Ukirnegara (1198 M.), Talun adalah suatu desa yang pada masa akhir masa pemerintahan Kerajaan Kadiri (1049- 1222 M.) telah menyandang status sebagai “desa perdikan (sima, swatantra)”. Prasasti ini ditsurat oleh citralekha benawa Mpu Dawaman di Taluun. Tarikh yang tertera pada prasasti dari bahan tembaga (tamraprasasti) ini tanggal 6 bulan Posha (Desember-Januari) tahun 1120 Saka (1198 M), hari Wurukung, Pahing, dan Saniscara (Antik, 2013). Penanggalan ini, yakni 6 Desember atau bisa juga 6 Januari 1198 M. bisa dijadikan sebagai petanda HARI JADI KAMPUNG TALUN. Kerengan ini sudah cukup memberikan bukti bahwa pernah ada kampung kuno bernama Talun, yang sayang belum ditemukan jejak-jejak artefktual dari Masa Hindu-Buddha di Kampung Talun sekarang.

Status Talun sebagai desa perdikan memberi kita gambaran bahwa Talun terbilang sebagai desa yang telah cukup maju pada zamannya, sehingga dipercaya atau tempatnya dianugerahi “hak istimewa” oleh pemerintah Kerajaan Kadiri untuk mengelola urusan rumah tangga desanya secara mandiri (swatantra). Sudah barang tentu, desa kuno ini (Talun) telah ada sejak pra-Kadiri, karena tidak serta-merta suatu desa tumbuh dan berkembang sebagai desa maju pada masanya. Talun sebagai nama desa (eanua) telah disebut di dalam prasasti Kanjuruhan B (ada pula yang menyebut “prasasti Wurandubgan B”) bertarikh 943 M, yang disurat atas perintah Mpu Sindok (Sri Isana). Pada transkripsi J.L. Brandes, yang dimuat di dalam buku berjudul “Oud Javansch Oorkonden” (1913), pada teks prasasti ini tertera kata “Tahun”. Mustinya, pembacaannya adalah “Talun”, sebagai nama desa yang disebut dalam prasasti Ukir Negara yang dikelyatkan pada 255 tahun berikutnya. Lebih tua daripada itu, boleh jadi embrio permukiman di Talun telah terdapat pada akhir Zaman Prasejarah, yang ditandai oleh adanyal jejak budaya megalitik di Talun berupa bangunan berundak beserta menhir dan dolmen di suatu tanah yang membukit di areal makam Mbah Knggo di dalam Kampung Talun sekarang.

Konsentrasi permukiman warga Thani Talon di sepanjang DAS Sukun, pada permukaan tanah cekung (ledhok) — bisa juga dinamai “Lowok/Lok Talun”, yang dibelah aliran Kali Sukun. Mofologi desa kuno Talun adalah “linier”, yakni mengikuti arah aliran Kali Sukun, dari utara menuju ke arah selatan. Sebagai suatu desa yang telah cukup maju pada zamannya, Thani Talon dilengkapi dengan pasar (pkan, kini disebut “peken”). Jejak pasar desa itu masih kedapatan hingga kini yang berupa “pasar krempyeng” di tengah kampung. Secara harafiah kata “krempyeng” berarti sesaat, sementara waktu. Amat mungkin pasar inilah yang konon merupakan “pasar desa”, yang hanya buka di hari tertentu menurut rotasi hati pasaran. Dulu setap desa dilengkapi dengan pasar kecil yang berlokasi di pusat desa sekaligus sentra permukiman. Pada thani Thalun permukiman awalnya berada di sepanjang aliran Kali Sukun, utamanya pada seberang timur alirannya yang bertopografi cekung (ledhok). Jalan desa awal membujur utara-selatan, bersejajar dengan arah aliran Kali Sukun. Jalan desa lama ini kedapatan hingga kini, menjadi jalan poros sempit di dalam Kampung Talun.

Sangat boleh jadi, konon manakala Talun masih merupakan suatu desa (thani, wanua), wilayah desa terdiri atas tiga bagian, yang seluruhnya berada di sepanjang aliran Kali Sukun, yaitu (a) sub-area utara — kini berada di seberang utara Jl. Semeru yang masuk Kelurahan Oro-oro Dowo, (b) sub-area tengah — areal apitan Jl. Semeru dan Jl. A.R. Hakim, yang kini disebut “Kampung Talun”, dan (c) sub-area selatan, yang berada di belakang Masjid Jamik, karenamya mendapat sebutan “Kampung Kauman”. Kini, dalam tata pemerintahan Kota Malang, Talun mengalami penciptaan, yakni dari ” desa” tinggal menjadi “kampung”, yaitu sebatas di sub-area tengah tersebut. Demikianlah, konon Talun metupakan wilayah yang luas, yang meliputi seluruh wilayah Kelurahan Kauman dan sebagian wilayah Oro- oro Dowo. Pensiunkan Talun dari desa menjadi dusun (kampung) batulah terjadi setelah tahun 1946, sebab pada peta buatan Belanda berjudul “Malang Java Town Plans” tahun 1946, diketahui bahwa kala itu Talun masih merupakan “desa’. Sebelah utara dan barat Talun terletak Bareng Tengah dan Tanjung, apapun sebelah selatannya terdapat Kasin. Kala itu Kauman masih berupa dusun di dalam wilayah Desa Talun, yang kini malah kebalikannya.

2. Talun dan KajoeTangan Masa Perkembangan Islam (BERSAMBUNG)

Sang kaling, 30 Agustus 2019
Griya Ajar CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.