0
1 share

Ketika Sang Pencipta Terpesona pada Benda Ciptaannya

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Dewi Suprabha, Widyadari Tercantik

Secara ikonografis, arca Dewa Brahma terbilang mudah untuk diidentifikasikan. Laksana (ciri khusus kedewataan)-nya berupa empat (catur) buah mukha (muka). Oleh karena itu, Brahma acap memperoleh sebutan “Hyang Caturmukha”. Dalam pantheon (sistem kedewataan) Hindu bukan hanya Dewa Brahma yang digambarka bermuka lebih dari satu. Ada kalanya Dewa Siwa dipesonifikasikan dengan kepala (sirah) berjumlah tiga (tri) buah, sehingga terdapat pula sebutan “Siwa Trisirah” atau “Siwa Trimukha”. Berkait dengan catur kapala dari Dewa Brahma, pertamyaannya adalah “mengapa kepalaBrahma empat jumlahnya?”.

Dalam mitoligi Hindu dikusahkan pemintaan dari para dewa agar Brahma sebagai Dewa Pencipta berkenanan untuk menciptakan makhluk sorgawi petempuan (bidadaari) tetcantik. Pemintaan itu di respon oleh Brahma dengan menciptakan seorang dewi yang diberi mama Suprabha, seorang bidadari yang paling cantik apabila dibanding dengan para bidadari lainnya. Coba bayangkan, bidadari yang manapun sudah cantik, apa lagi bidadari tetcantik, tentu menjadikan terpesona siapapun orang yang melihatnya. Lantaran kecantikannya itulah, maka Raksasa Niwatakawaca bersikeras untuk dapat menpersunting si jelita Dewi Suprabha. Jika para dewa taidk menberikan padanya, maka Kaindran bakal diserangnya. Demikian yang terkisah dalam Kakawin Arhunawiwaha karya Pu Kanwa di era pemerintahan Airlsngfa (1019-1049 Masehi.

Demikian pula, oleh karena kecantikan Suprabha itu, maka dialah yang dikirim bersama enam budari lain oleh Dewa Indra untuk menguji keteguhan Arjuna dalam tapabrata di Gunung Indrakila. Sebagai laki- laki, Arjuna diuji dengan goda yang berupa wanita- wanita cantik, yakni sapta (tujuh) widyadari, yang salah sorang diantaranya adalah Suprabha, yakni widyadari tercantik. Nantinya setelah usai kalahkan daitya Niwatakawaca, maka Arjuna mendapatkan waranugraha (anugerah) dewata untuk mengawini saptawidyadari itu sekaligus. Prrkawinan Arjuna dengan para bidadari itulah yang dijadikan judul kakawin, yaitu “Arjunawiwaha (Prrkawinan Arjuna)”.

B. Latar Terbentuknya Caturmukha Dewa Brahma

Dalam kehidupan nyata, bisa jadi orang terkagum- kagum alias terpesona olelh benda buatan sendiri. Half demikian juga terjadi pada diri Dewa Brahma. Demikian makhluk berwujud bidadari Suprabha usai dicipta oleh Brahma sebagai Sang Hyang Pencipta secara yang ada, Dewa yang merupakan satu dari tiga dewa utama (trimurti) itu merasa terpesona atau terkagum berat terhadap widyadari tercantik buah ciptaannya sendiri. Demikian kagumnya pada Suprabha hingga pandangan mata-Nta ridak mau lepas dari Suprabha. Begitulah daya persona dari kejelitaan sang dewi.

Sebagaimana lazimnya para makhluk ciptaan Illahi, sesudah dicipta ia menghaturkan sembah sebagai tanda puji terima kasih kepada Sang Pencipta. Oleh karena itu, Widyadari Dewi Suprabha pun ber-anjali (bersemnbah bhakti) pada Dewa Brahma sebanyak empat kali, dengan melaksanakan anjali di empat penjuru secara pradhaksina (berputar searah jarum jam), yakni menyembah dari sisi depan, samping kanan, sisi belakang, lantas samping kiri. Persona jelita Suprabha membuat Brahma tak hendak mau melewatkan padangannya. Begitu Subrabha geser ke samping kanan untuk berajali di sisi kanan Dewa Brahma, maka Brahma bernaksud untuk mengikuti gerak Suprabha dengan menoleh ke arah kanan. Namun belum sampai menoleh, muncullah muka pada sisi kanan kepalanya, sebagai muka kedua.

Denikian pula ketika Suprabha ber-anjali di sisi belakang, Dewa Brahma pun hendak beringsut ke belakang. Namun serupa itu, sebelum dilakukannya, muncul muka pada sisi belakang dari kepalaNya sebagai muka yang ketiga. Terakhir Suprabha lalu ber-anjali di sisi kiri, dan lagi-lagi-Brahma hendak menoleh ke arah kiri. Sebelum sempat menoleh, serta-msrta muncul muka pada sisi kiri kepalaNya, sebagai muka yang keempat. Walhasil terbentuklah empat muka (caturmukha) pada kepala Brahma, yang justru menjadi petanda khas (laksana) dari Dewa Brahma.

C. Arca Brahma Koleksi Museum Mpu Purwa

Apabila dibanding dengan arca-arca Dewa Siwa beserta aspek-aspekNya maupun arca-arca Dewa Wisnu beserta avatara-awatara (penjelmaan di dunia), arca Dewa Brahma terbilang lebih sedikit jumlahnya. Dewata Pencipta (Brahma) ini kurang mendapat pemujaan apabila dibanding pemujaan kepada Dewata Perusak ataupun kepada Dewa Penghacur (pralina) yakni Dewa Siwa dan pemujaan terhadap Dewata Pelindung yaitu Wisnu. Sebagai makhluk ciptaan Illahi, manusia acap melupakan Sang Penciptanya. Bagi manusia, Penciptaan telah berlalu, dan mass lalu memang cenderung untuk dilupakan, dianggap tidak terlalu pending bagi masa sekarang dan mendatang. Oleh karena itu, tidak semua candi dilengkapi dengan arca Brahma.

Dalam Museum Mpu Putlrwa yang mengkoleksi banyak arca Dewata, hanya terdapat sebuah arca Brahma. Kerenanya arca dewa tersebut menjadi koleksi yang istimewa di Museum Dearah Kota Malang ini. Sebenarnya, keistimewaanya bukan srkedar karena satu-satunya arca Brahma yang menjadi benda koleksinya, namun juga karena keunikkannya. Pada kebanyakkan arca Brahma, caturmukha-Nya hamya tampak tiga sisi, yaitu sisi depan, sisi kanan dan kiri. Sebagai muka ke-3, yang berada di sisi belakang kepala tidak tertampakkan, karena arca tersebut dipahatkan menrpel pada sandaran arca (stella).

Uniknya, pada arca Brahma koleksi Museum Mpu Purwa yang dibuat pads era Singhasari ini, muka di sisi belakang jelas terlihat. Half ini disebakan oleh adanya lobang cukup besar pada sandaran arca, tepat di sekitar kepalaNya. Dengan melihatnya dari sisi belakang, maka pengunjung museum dapat mencernati muka ke-3 dari Dewa Brahma yang mengenakan kiratamakuta, jamang, sumping, anting-anting (kundala) serta rautvwahah ketuaan lengkap dengan kumis tebal dan jenggot yang lebat-panjang. Tiga mukaNya yang lain kini dalam keadaan rompal animation dirusak orang pada masa lalu.

Arca Brahma Caturmukha dari batu andesit yang berukuran besar dalam posisi duduk padmasana itu kiri ditempatkan di belakang pintu mqsuk gedung museum di depan tangga (menuju ke lantai II), seolah menjadi “kelir” di ruamg dalam lantai I. Arca yang pada lingkar sirascakra-nya dilengkapi dengan prabha berbentuk bunga-bunga api (flame) serta sepasang tetatai tumbuh dari bonggol yang dipahat pada stella di kanan-krii tubuh Brahma ini seakan menjadi ikon dari Museum Mpu Purwa. Sayang sekali arca yang telah beberapa dasawarsa berada di halaman depan Hotel Trio Indah (eksi Museum Malang era Kolonial) itu banyak mengalani keausan, sehingga detail arca yang menjadi petunjuk akan keindahan ikonografisnya menjadi kabur.

Demikianlah tulisan yang ringkas-padat ini dibuat sebagai bentuk “andum widya (bagi ilmu)” kepada para pembaca budiman. Semoga bisa memberi kefaedahan. Berhati-hatilah apabila terpesona pada wanita cantik, jangan- jangan kepala anda beranak- pinak menjadi empat. Nuwun.

Sangkaling, 22 Agustus 2019
Griya Ajar CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.