Edisi “Mata Hati”

Oleh : M. Dwi Cahyono

Perumpaan bisa menggunakan contoh ilustrasi apapun. Pohon pun acap dijadikan contoh ilustrasi dalam perumpamaan. Salah satu bagian dari pohon yang dijadikan sebagai bahan perumpamaan itu adalah buahnya. Tidak serta-merta suatu pohon menghadilrkan buah. Tergantung pada bagaimana pohon itu ditanam, dirawat, hingga pada akhirnya menghasilkan buah. Bila ditanam dengan benar,, jika dirawat dengan baik, niscaya bakal berbuah baik pula, dan sebaliknya. Perilaku tanam, tindakan perawatan, tentulah berpengaruh pada buah yang bakal dihasilkan.

Selain menanam dan merawat, buah mustii pula dijaga, misalnya dengan cara “dibrongsong”, agar tidak kedahuluan dituai oleh binatang “pencuri” buah, semisal codot, kalong, musang, dsb. Dalam kehidupan manusia pun tak terelakkan adanya codot semacam itu. Padahal seseorang tidak turut menanam dan merawat tanaman, namun ikut-ikut mengunduh buah dari pohon yang diitanam dan dirawat oleh orang lain (tan melu nandur, ning melu ngunduh). Memang, buah yang ranum menggoda orang untuk memetiknya.

Terkait itu, ada mutiara kata di dalam bahasa Jawa, yakni “ngunduh wohing pakerti” atau diistilahi juga dengan “ngunduh wohing panggawe”. Kata “pakerti (pakreti, pakarti) atau panggawe (pa [ng]+gawe) menunjuk pada tindakkan manusia yang sengaja, yang dilakukan dalam kehidupannya dan kelak membuahkan sesuatu. Untuk itulah maka berbuat tidak boleh asal berbuat, sebab apapun perbuatan yang dilakukan pastilah akan berdampak, bakal menghasilkan sesuatu, atau bisa menyebabkan terjadinya suatu peristiwa. Itulah yang dinamai dengan “buah dari perbuatan”. Buah tak hadir dengan serta merta, melainkan sebagai hasil (produk) dari proses panjang, yang senantiasa membutuhkan ketelatenan, kesungguhan maupun kehati-hatian dalam penanganannya.

Dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, buah diistilahi dengan “phala”. Istilah serapan dari bahasa Sanskreta ini di dalam bahasa Jawa Baru disebut dengan “woh”. Suatu sebutan yang acap dihubungkan dengan tanaman. Istilah sinonimnya dalam bahasa Jawa Baru adalah “polo”. Ada tiga kategori dari polo, yaitu (a) polo gemantung, (b) polo kependem, dan (c) polo kesampar. Terlepas dari posisi buah tersebut pada permukaan tanah di suatu pohon, entah pada pisisi yang bergantung (gumantung), terpendam dalam tanah (kependem), atapun menghampar pada suatu permukaan tanah (kesampar). Ketiganya merupakan buah dari pohon, yang dihasilkan berkat perawatan pohon. Perilaku menanam dan merawat itulah yang konon diistilahi dengan “karma (perbuatan)”, sehingga ada istilah “pala-karma” atau “karma-phala”

Pada saatnya, apabila telah masak, buah tersebut dipanen, dituai, atau diunduh (ngunduh). Dalam konteks ini, yang diunduh iadalah buah (woh). Buah adalah produk dari tanaman, yang terhasil berkat tindakkan penanaman dan aktifitas keperawatan terhadap tanaman. Aktifitas ini diistilahi dengan “panggawe, pakerti, ataupun karma”. Terkait itu, muncul kalimat perumpamaan atau mutiara kata “ngunduh wohing pakerti” atau “ngunduh wohing panggawe”, yang dalam bahasa arkhais diistilahi dengan lebih singkat, yaitu “karmaphala”. Mutiara kata itu menuat konsepsi sosial, sebagai pusaka budaya tak benda (intangible culture heritage) luluhur pada kehidupan masyarakat Jawa, yang terbukti eksis dari masa ke masa.

Paparan diatas memperlihatkan bahwa konsepsi “karmaphala” bukan hanya terdapat dalam ajaran Hindu apapun Buddhis, namun tradisinya berlanjut memasuki pasca Mass Hindu-Buddha hingga kini. Mutiara kata itu menjadi pembukti mentradisinya konsepsi lama “karmaphala” hingga lintas masa. Mutiara kata tersebut menjadi pengingat kepada kita untuk senantiasa berhati-hati dalam berbuat. Oleh karena itu, “nanduro kabecikan (bertanamlah kebaikan)”, berbuat baiklah (subhakarma) ,karena nenananam kebaikan atau perbuatan baik bakal menghadirkan buah yang atentu baik (subhaphala). Demikianlah pula sebaliknya, asubhakarma bakal menghasilkan asubhaphala. Nuwun.

Sangkaling, 23 Agustus 2019
Griya Ajar CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.