Oleh : M. Dwi Cahyono

Salah sebuah lingkungan (baca “kampung”) pada Kelurahan Bareng Kota Malang bernama ” Bareng Kartini”. Unsur nama “Kartini” pada kampung itu memiliki latar historis, yang berkenaan dengan Sejarah Persekolahan di Malang, bahkan Sejarah Pendidikan di Indonesia se Masa Hindia-Belanda, yakni kehadiran sekolah-sekolah dengan nama “Kartini School’. Inisiator Sekolah Kartin, yakni sekolah khusus untuk perempuan, adalah Conrad van Deventer (1857-1915). Beliau adalah seorang ahli hukum Belanda, yang sekaligus adalah tokoh Politik Etis (1991) yang memperjuangkan bidang (1) edukasi, (2) emigras,i dan (2) irigasi. Untuk bidang edukasi, Van Deventer membentuk “Yayasan van Deventer” di beberapa tempat, yang membidani lahirnya sekolah-sekolah bagi siswa perempuan berdasarkan keinginan Raden Ajeng (R A) Kartini, dengan nama “Sekolah Kartini”, yang merupakan sekolah swasta.

Pada awalnya berdir Sekolah Kartini di Semarang tahun 1912, yakni delapan tahun setelah wafatnya R.A KartiniKartini (1904) dalam usia relatif muda (25 tahun). Menyusul kemudian dibuka Sekolah Kartini di kota- kota besar lainnya, termasuk juga di Batavia. Pada tahun 1928 Ny Abdurachman (istri dari wedana “Mester Cornelis” atau Jatinegara) pun turut menginisiasi berdirinya Sekolah Kartini. Staf pengelola dan para pengajar terdiri dari perempuan Indonesia. Ada tiga Sekolah Kartini di Batavia, yaitu Sekolah Kartini I di Jl. Kartini (Kartiniweg), Sekolah Kartini II di Pasar Nangka, dan Sekolah Kartini III di Jatinegara. Pada Nas Pendudukan Jepang (1942- 1945), Sekolah Kartini itu dialih fungsikan sebagai markas tentara Dai Nipon.

Pada tahun 1899 Van Deventer menulis di majalah De Gids (Panduan) suatu artikel dengan judul yang menggugah perasaan “Een Eereschuld (Hutang kehormatan)”. Kata “eereschuld” secara substasial berarti: hutang, yang demi kehormatan maka harus dibayar, walau tidak dapat di tuntut di muka hakim. Tulisannya itu dimaksudkan untuk menjelaskan kepada publik di Belanda memgenai bagaimana Belanda menjadi negara yang makmur dan aman merupakan berkah dari kolonialisasi yang datang dari daerah jajahan di Hindia Belanda. Namun ironisnya, kala itu Hindia- Belanda justru berada dalam kondisi miskin dan terbelakang. Karenanya sepantasnya apabila sebagian dari kekayaan itu dikembalikan kepada masyarakat Hindia-Belanda, antara lain untuk bidang edukasi. Gagasan Van Deventer yang tertuang dalam buku “Penerbitan “Surat-Surat Kartini” tahun 1911 itu mengintrodusir cita-cita mulia R.A. Kartini untuk memajukan kaum perempuan menurut konsepsi “emansipasi”, antara lain lewat jalur edukasi.

Memang, kala itu Sekolah Kartini belum berhasil didirikan di semua daerah di Pulau Jawa. Namun demikian, di sejumlah daerah berdiri sekolah yang secara khusus untuk kaum wanita itu. Selain di Semarang (1912) dan Batavia (1928) sekolah ini kedapatan berdiri di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah Sekolah Kartini. Malang adalah salah satu daerah yang memiliki Sekolah Kartini di di ebelah barat pusat kota, yaitu pada Desa Bareng (antara Jl. Kelud dan Jl. Bareng Kartini). Sekolah Kartini di Kota Malang didikan tahun 1915, berupa bangunan sekolah yang permanen (gedong) dalam ukuran besar untuk zamannya, Lantaran adanya sekolah itu, maka lingkungan sekitar sekolah di Desa Bareng, lantas mendapat sebutan “Bareng Kartini”. Pada foto dokumenter tahun 1930-an terlihat bahwa siswa-sisw yang belajar di Sekolah Kartini ini adalah para pelajar Wanita. Fenomena serupa terjadi di Sekolah-sekolah Kartini di daerah lain.

Ada bentuk turunan lain dari Sekolah Kartini yang merupakan lembaga pendidikan khusus bagi kaum wanita. Pada Orde Lama dan Orde Baru terdapat sekolah negeri untuk jenjang SLTP dan SLTA, yang siswanya khusus perempuan, yaitu SKP (Sekolah Ketrampilan Putri)untuk jenjang SLTP dan SKKA (Sekolah Keprndidikan Ketrampilan Atas) untuk Jenjang SLTA. Sayang sekali sekolah yang mendapat inspirasi dari gagasan mulia Kartini dan Sartika itu pada akhirnya dihapys untuk digantikan dengan SMP untuk SKP dan SMK untuk SKKA. Dengan telah tiadanya Sekolah-sekolah Kartini maupun SKP dan SKKA, maka memori generasi masa kini terhadap jasa R.A. Kartini dalam bidang edukasi bagi kaum wanita turut menguap, karena ilustrasi implenratufnya yang khas, yakni sekolah khusus bagi kaum wanita telah tiada lagi.

Sekolah Kartini di Jl. Kartini kini beralih fungsi dan berubah nama menjadi “SMA Islam Malang”. Pada pa berapa bagian, bangunan serah ini mengalami pengubahan bentuk, namun di sejumlah bagian lain jejak kekunoaannya masih tersisa. Menilik ketuaan, jejak arsitektural heritage dan peran perlntingmya dalam Sejarah Pendidikan di Malang, sekolah ini layak dipertimbangka untuk di-Cagar Budaya-kan. Meski kini sebagai nama sekolah, nama “Sekolah Kartini” di Bareng itu telah tidak digunakan lagi, tapi unsur nama “Kartini” tetaplah terabadikan pada nama kampung, yaitu “Bareng Kartini”. Selain itu, jalan di dekat lokasi sekolah itu diberi nama ” Jl. Kartini”. Demikian pula, pada areal yang telah di”rruislaag” menjadi Maal MOG konon pernah terdapat suatu gedung yang dinamai “Gedung Kartini”. Bentuk pengabadian nama “Kartini” — selain sebagai nama kampung, nama sekolah, dan nama jalan. Begitulah, meski R. A Kartini tak pernah berkunjung langsung di Malang, namun ide dasar (cita-cita)-nya pernah mengejowantah di Daerah Malang dalam bentuk “Sekolah Kartini”, dan namanya terabadikan kedalam nama kampung, jalan maupun gedung.

Demikianlah tulisan pendek ini dibuat sebagai suatu ekspresi “in memoriam R A Kartini” di Kota Malang. Semoga kedepan Pemkot Malang berkenan untuk membuat “monumen R A. Kartini” di eks “Sekolah Kartini” di Bareng KartiniKartini, yang kini menjadi SMA Islam Jl..Kartini Kota Malang. Nuwun.

Sangkaling, 3 September 2018
Griya Ajar CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.