Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Paleo-ekologis Desa Kuno Tapan

Sebagai sungai terpanjang ke-2 di Jawa Timur, Bhangawan Brantas melinrasi belasan daerah (kota dan kabupaten). Salah satu daerah yang dilintasi adalah Kabupaten Tulungagung. Sejak ujung timur wilayah di Kecamatan Rejotangan hingga penghujung utaranya pada Kecamatan Ngantru, bhangawan dengan total panjang 340 Km ini mengalir di sub-area timur serta utara Tulungagung. Paling tidak sebanyak empat kali Brantas mengalami perubahan arah aliran di wilayah Tulungagung, yaitu (1) dari arah timut- barat antara Rejotangan-Ngunut, lalu berubah aliran menjadi arah (2) selatan-utara antara Ngunut-Tapan, lantas berubah arah menjadi (3) timur- barat antara Tapan- Karangrejo, hingga akhirnya berubah arah aliran lagi menjadi (4) selatan-utara dari Karangrejo sampai pada muaranya di wilayah “Jalur Simpang” Selat Madura.

Tergambar dalam uraian di atas, pada Desa Tapan itu Bhangawan Brantas berbelok tajam, dari awalnya mengarah selatan-utara lantas menjadi timur-barat. Desa Tapan memanglah berada di bantaran Brantas, tepatnya di sekitar kelokan tajam (90°) aliran Brantas tersebut. Sebenarnya, selain di Desa Tapan, kelokkan tajam Bhagawan Brantas juga kedapatan di Desa Pulotondo serta Dusun Kucen di Desa Kara ngrejo. Pada umumnya di masa lampau, daerah kelokkan sungai dan aliran berbentuk meander dikalkulasi sebagai tempat yang baik untuk bermukim. Pada ketiga lokasi kelokan Brantas di Tulungagung itu — termasuk juga di Tapan,jejak masa laku yang sisa permukiman kuno diperoleh buktinya, antara lain sisa bagian atas dari sumur kuno, fragmen lumpang batu (stone mortar), dsb.

Tapan sebagai suatu desa yang sisi timur dan utaranya berbatasan dengan aliran Bhangawan Brantas masuk dalam apa yang disebut “nadi tir,a pradesa”, yakni desa-desa (pradesa) yang berasa di pinggiran (tira) sungai besar (nadi). Sebutan ini didapati dalam prasasti Canggu (1353 M), untuk menyebut puluhan desa (thani, wanua) yang berada di tepi Bhagawan Solo dan Bhagawan Brantas sebagai desa-desa perdikan (simathani). Puluhan desa itu mendapat status “sima atau swatantra”, lantaran pada desanya terdapat “panambangan”, yakni tempat untuk penyeberangan sungai. Bisa jadi Tapan adalah salah satu diantara desa-desa panambangan pada DAS Brantas, yang jika lengkap mustinya namanya tercantum pada lempeng yang hilang dari Prasasti Canggu (Trowulan I), yakni dalam lempeng VI, yang menyebut tentang sejumlah desa panambangan lainnya pads DAS Brantas di posisi yang lebih ke hulu. Memang, hingga kini di di Sub-DAS tengah Brantas masih cukup banyak didapati desa yang dilengkapi dengan panambangan (kini disebut “tambangan”).

Tempat yang memiliki panambangan adalah tempat yang strategis, sehingga bisa difahami menjadi permukiman ramai, sekaligus menjadi ajang aktifitas ekonomi — umumnya dilengkapi dengan pasar desa. Dengan demikian,, dapat difahami bila di masa lalu Tapan adalah desa yang maju, baik berkat hasil mata pencaharian agraris maupun perdagangan. Sangat mungkin konon terdapat koneksi antara Pinggirsari dan Tapan dengan wahana koneksi berupa perahu (parahu) tambangan. Pada Pinggirsari terdapat juga peninggalan arkeologis dan epigrafi dari tahun 10.. Masehi (angkat satuan dan puluhan tidak terbaca) dari masa pemerintahan raja Sarweswara dari kerajaan Kadiri (Pangjalu) serta sebuah prasasti lain berlancana (segel) “garudamukha” (ROC, 1908: 192). — lancana dari prasasti- prasasti raja Airlangga. Pada desa Tapan itu sendiri paling tidak terdapat dua buah prasasti dari era Kadiri (XII Masehi). Demikianlah, areal pada kelokan Brantas di Tapan dan Pinggirsari paling tidak telah menjadi permukiman pada abad XI dan XII Masehi.

Tapan dan desa-desa di sekitarnya merupakan areal agraris luas. Sebelum maraknya budidaya tanaman tebu terhitung sejak diberlakukannya Undang Undang Gula (Suikerwet) — disahkan tahun 1870 dan berjalan sempurna tahun 1891 — Tapan merupakan areal persawahan padi dan tanaman palawija. Pencaharian agraris ini telah dibudidayakan semenjk Masa Hinfu- Buddha, bahkan menjadi pilar ekonomiknya. Adanya Swasembada pangan dan pendapatan dari sektor perdagangan itulah yang menjadikan Tapan sebagai desa yang maju pada masanya, sehingga cukup alasan untuk dijikan sebagai desa otonom (swatantra), yakni desa yang diberi anugerah (waranugraha) berupa hak-hak istimewa oleh pihak kerajaan untuk mengelola urusan rumah tangga desanya secara mandiri (swa = sendiri, mandiri)

B Tapan sebagai “Daerah Perdikan”

Desa Tapan adalah satu diantara 19 desa pada wilayah administrasi Kecamatan Kedungwaru Letaknya di sudut utara-timur (timu laut) dari kecamatan ini. Bersama dengan desa tetangga baratnya, yaitu Ngujang, Tapan beralasan untuk dipredikati sebagai “desa bersejarah”. Bila di Tapan i jumpai data artefaktual dan tekstual (berupa dua buah prasasti), di Ngulang hanya terdapat data artefaktual yang berupa rumah kecil (T 0,4 m dan P bubungan 0,73 m) dari batu andesit yang dilengkapi dengan ornamen berupa trisula — amat mungkin adalah miniatur “lumbung batu” dan “reco pelem” (T 0,92 m) yang bentuknya menyerupai penis (phallus) (ROC, 1908:191). Baik Tapan maupun Ngujang sama-sama berasa di bantaran aliran Brantas.

Nama desa ini adalah “Tapan”, sebuah kata jadian dalam hasa Jawa Kuna, Pertengahan hingga Jawa Baru yang berkata dasar ” tapa (tapa+an)”. Secara harafiah, kata “tapa” berarti : tapa, ‘mati raga’, pengendalian indra atau nafsu, yoga, ketaatan beribadah. Kata ulpaang (repetitif) “atapa- tapan” mengandung arti : hidup sebagai pertapa. Adapun kata jadian “”patapan” menunjuk pada : tempat kediaman pertapa, pertapaan (Zoetmulder, 1995: 1211). Menilik toponiminya itu, tergambaSr bahwa konon Tapan merupakan tempat kediaman pertapa. Ada aktifitas tapa di desa ini pada masa lampau. Sebagaimana di India, misalnya dalam cerita “Syakuntala”, tidak sedikit tempat petrapa yang berada di tepi kali. Keberadaan desa Tapan di tepi sungai besar (bhagawan) Brantas menjadikannya cocok sebagai tempat berrmukiman para pertapa

Kesejarahan Tapan pada Masa Hindu-Buddha antara lain tersurat dalam dua buah prasasti batu (llinggo- prasasti). Sebuah diantarnya kini masih insitu, yaitu berada di situsnya. Warga setempat menyebut tempat beradanya dengan “Punden Mbah Sentono Gilang”. kiranya apa yang disebut dengan “gilang” Itu adalah sebuah prasasti batu (linggoprasasti) yang berbentuk melempeng, dengan lengkung bagian atasnya berbentuk kurawal. Sebagaimana lazimnya, prasasti ini bagian atasnya kian mengembang, dengan posisi tegai pada pedestal berbentuk persegi. Sayang sekali, tulisan yang diguriskan pada permukaan batunya telah amat aus, sehingga tidak semua aksaranya, baik di sisi depan (recto) ataupun di sisi belakang (verso) bisa dibaca dengan jelas. Lancana (zegel atau materai) yang dipahatkan pada bingkai lingkar di jadian atas prasasti telah aus, namun samar- samar perlihatkan bentuk tengkorak (kapala) di atas bulan sabit (ardhacandra), sehingga dapat diistilahi dengan “ardhacandrakalalancana”, sebagaimana dijumpt pada prasasti lain, misal prasasti Geneng I, yang ditulis atas perintah raja Bhameswara.

Beruntunglah baris awal pada sisi depan, yang di dalamnya memuat penanggalan bisa dibaca, sehingga bilamana prasasti ini berasal dapat diketahui, yaitu pada tahun.Saka 1041 (1119 Masehi) dan tahun Saka 1046 (1124 Masehi). Uniknya, terdapat dua angka tahun yang cuma terpaut 5 tahun, dan keduanya sejaman, Haiti masa pemerintahan raja Bhameswara (1117 – 1134 Masehi), raja Kadiri (Pangjalu) pendahulu dari raja Jayabhaya. Oleh karena prasasti ini berasal dari era penerintahan Bhameswara, maka dapat dipastikan bahwa lancana yang telah aus pada bagian atas sisi depan prasasti Tapan adalah “ardhacanrakapalalanca ns”.

Kendati sebagian besar teks prasasti Tapan tak terbaca lantaran tulisannya sangat aus akibat panas-hujan dan terbaru jelaga dari kemenyan atau dupa karena terlampau sering “dikutuki”, namun isi pokoknya dapat diprakirakan dengan membandingkannya terhadap prasasti-prasasti lain, khususnya prasasiti yang sejaaman dan sedaerah. Di wilayah Tulungagung terbilang banyak didapati prasasti yang berasal dari masa pemerintahan Kadiri, yang berisi tentang anugerah perdikan (sima, swatantra) kepada desa-desa tertentu. Sangat mungkin, prasasti Tapan juga membuat pokok isi yang sama. Bila benar demikian,berarti pada perempat pertama abad XII Masehi, pada era Bhameswara, desa (thani) Tapan telah menyandang status “sima”. Jika benar demikian, apa alasan atas dasar pertimbangan penetapan Desa Tapan sebagai ” simathami”? Pertanyaan ini tadak mudah untuk dijawab, karena sebagaian besar tulisannya telah amat aus, termasuk bagian “sambhanda” prasasti yang memuat alasan pentepan sima . Oleh karena itu, paparan berikut sebagai jawab atas pertanyaan diatas bersifat interpretatif dan hipotetitik.

Sangat mungkin, salah satu alasan penetapan Tapan sebagai “sima thani” Berkenaan dengan alasan religis, terkait dengan.adanya tempat dan aktifitas tapa yang ada di desa Tapan. Atas dasar adanya arca (ikonografis) di Situs Gilang, yang konon antara lain berupa arca iParwati (T 0,51 m) dan Durgamahisasuramardhini (T 0,57 m) (ROC, 1908:190-191), maka dapat diketahui bahwa tempat kegiatan keagamaan ini berlatar religi Hindu sekte Saiwa Konon dekat Punden Gilang terdapat beji (sumber air), yang adalah tempat untuk pengambilan air bersih bagi para pertapa. Boleh jadi, ad pertimbangan lain untuk tetapkan Tapan sebagai perdikan, yakni adanya tempat penyeberangan sungai (panambangan) pada sekitar kelokan Brantas. Perihal ini baru diatur pada masa yang lebih kemudian, yakni dalam prasasti Canggu (1353 Masehi), yang berisi penempatan. Puluhan desa di sepanjang DAS Brantas dan Bengawan Solo sebagai sima, termasuk juga kiranya Tapan, lantaran adanya panambangan di desanya.

Selain prasasti di Punden Mbah Sentono Gilang tersebut, terdapat sebuah prasasti lainnys yang muasalnya dari Tapan. Prasasti yang tak begitu panjang inisekarang menjadi benda koleksi Museum Nasional, Prasasti yang aksaranya diguriskan pada batu andesit berbangun empat persegi panjang ini menggunakan aksara khas, yaitu “huruf kuadrat”, yang merupakan aksaea khas di era Kadiri. Huruf demikian utamanya kedapatan di Jawa Timur dan.juga di Bali dari sekitar abad XII Masehi. Tarikh yang tertera di dalamnya adalah 1139 Masehi, yang sejalan dengan masa pemerintahan raja Jayabhaya (1135-1157 Masehi). Berarti satu generasi pemerintahan setelah dikeluarkannya prasasti Tapan yang insitu di Punden Mbah Sentono Gilang.

C. Urgensi Tapan Masa Hindu-Bufdha

Adanya dua prasasti terpapar diatas kukuhkan bukti bahwa Tapan dipandang sebagai suatu desa yang penting oleh pemerintah kersjaan Kadiri. Terbukti, dalam dua era pemerintahan, yakni era raja Bhameswara dan kemudian era raja Jayabhaya, Tapan sempat tercatat dalam maklumat kerajaan Kadiri atau Panjalu yang berupa prasasti. Keberadaan prasasti- prasasti di daerah Tulungagung dari era Bhameswara dan Jayabhaya di Desa Tapan, prasasti era Sareeswara — dan bahkan prasasti ber-lancana garudamukha di Desa Pinggirsari, kronogram bertarikh Saka 1058 (1136 Maseh) dari era raja Jayabhaya pada suatu ambang pintu (doorpel) di Desa Pulotondo Kecamatan Ngunut, hingga adanya prasasti Jaring (1187 Masehi) di Desa Kembangarum Kecamatan Sutojayan wilayah Kabupaten Blitar seolah menegaskan bahwa Bangawan Brantas di masa kerajaan Kadiri dan bukan tidak mungkin sejak pemerintahan raja Airlangga (1019- 1049) di kerajaan Mataram telah menjadi jalur tansportasi air yang utama, sedari Sub-DAS Hilirnya pada Jalur Simpamg Selat Madura hingga di penghujung timur dari Sub-DAS Terngahnya di Blitar. Desa-desa yang berada di pinggiran aliran Bangawan Brantas, tepatnya di kelokan tajamnya, seperti Tapan, Punggirsari dan Pulotondo, dipadang sebgai tempat yang strategis untuk bermukim.

Tapan yang sisi timur dan utaranya berbatasan dengan aliran Brantas merupakan contoh yang representatif mengenai areal bermukim kuno di lembah Brantas. Pada abad XII Masehi Tapan bahkan telah menyandang ” status istimewa” sebagai “Desa Sima (Desa Perdikan)”, tepatnya di era pemerintahan Bhaneswara di kerajaan Kadiri. Ketika raja Jayabhaya beripaya untuk mempetkuat hegemoni kerajaannya atas jalur transportasi dan perniagasn di Brantas, Tapan, Pinggirsari, Pulotondo dan desa-desa lain yang berada tepat di kelokan tajamnya jadikan ujung tombaknya. Demikian pula, pada pemerintahan raja Hayam Wouruk, bisa Jadi Tapan termasuk dalam kelompok “naditirapradesa”, yakni desa- desa di pinggir aliran Bhangawan Solo maupun Brantas yang menurut prasasti Canggu (1353 Masehi) ditetapkan sebagai desa sima terkait dengan terdapatnya pansmbangan (tempat penyeberanfan sungai) di desanya

Cukup alasan untuk menyatakan bahwa Tapan merupakan “desa bersejarah”, suatu desa yang pernah menyandang status istimewa sebagai “desa perdikan”, serta memiliki geostrategis di jalur transportasi dan perniagasn utama pada DAS Brantas. Demikianlah kilas telaah yang bermuipaya untuk membedah “Kesejarahan Desa Tapa Masa Hindu-Buddha’. Tentu telisik sejarahnya jauh dari tuntas. Oleh karenanya, perlu dikuak hingga lntas masa dan lebih mendalam lagi. Semoga studi permulaan terhadapnya ini mampu members kefaedahan, baik terhadap warga Desa Tapan dan Pemkab Tulungagung maupun para pembaca budiman. Nuwun.

Tulungagung, 8 September 2019
Patembayan CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.