-2
-2 points

Oleh : Dwi Cahyono

Sengaja judul tulisan ini berupa kalimat tanya, yaitu “mengapa perut Rsi Agastya buncit? “. Demikianlah kisah mitologis kuno yang melatarinya. Sumonggo disimak tulisan berikut.

Walau semua orang punya perut, namun tidak senantiasa sama bentuknya. Ada orang yang berperut langsIng, namun tikak sedikit yang berperut “buncit”. Dalam istilah lokal Jawa, ada sebutan lain untuk perut yang demikian, seperti “weteng nimblung, weteng mbendang, weteng gendut, dsb. “. Karena banyak makan, weteng (perut) seseorang bisa menjadi buncit. Penyakit tertentu pun dapat menyebabkan orang berperut besar. Bahkan, konon ada anggapan mistis yang menjelaskan perut buncit bisa lantaran terkena “jemgges”, yang disebut dengan “kenek bendung segoro”.

Dalam bahasa Sanskerta, bentuk perut demikian diistilahi dengan “lambhodara”. Ada sebutan lain baginya, yaitu berperut “kumbha (jambangan) “, yakni perut membuncit seperti bentuk jambangan. Pada seni-arca dalam Pantheon Hinduisme,, ada dewata atau tokoh suci yang dipersonifikasikan dengan perut lambhodara. Misalnya Dewa Kuwera, Rsi Agastya, Narada, dsb. Demikian pula, dalam seni arca Mahayana Buddhisme, dewata Hayagriwa juga digambarkan berperut lambhodara. Lantaran perut dari Agastya buncit, seperti jambangan, maka Rsi utama — diantara tujuh resi utama pebhakta Siwa, yang diistilahi dengan “sapta rsi (tujuh rsi)”, yang menjadi murid-murid (siswa = siswa Dewa Siwa sebagai Mahaguru, maka mendapat sebutan “Rsi Kumbhayoni (yang berperut buncit, seperti hamvangan)”. Terkait biru, muncullah pertanyaan : “mengapa perut Agastya buncit?”.

Dalam mitologi dan sejarah siar Hindu, Agsastya diprediksi sebagai sang “culture hero (pahlawan budaya)”, yakni berkat biasanya dalam melakukan siar Hundu dari India Utara ke India Tengah hingga ke India Selatan. Oleh karena itu, Agastya acapkali dihubungkan dengan “arah selatan”. Lantaran itu pula, dalam candi Hindu sekte Saiwa, arca Agastya senantiasa ditempatkan di dalam bilik atau relung candi di sisi selatan. Nah, latar mengapa perut Agastya berbentuk lambhodara (kumbha, buncut), terkait dengan upayanya untuk mensiarkan Hindu ke arah selatan dari sub-continent Jambudwipa (India).

Geografi India memperlihatkan bahwa terhitung semenjak India Tengah hingga India Selatan ada sejumlah sungai yang mengalir melintang timur – barat. Dengan kondisi geografis demikian, maka perjalanan siar Rsi Agastya ke arah selatan India tersebut terhalang okeh aliran dari sejumlah sungai itu. Untuk memperlancar perjalanan siarnya itu, maka demikian terhalang oleh aliran sungai, lantas diminumlah habis air sungai-sungai itu, sehingga perutnya berubah menjadi buncit, seperti bentuk jambangan yang berisi air. Demikian suatu kisah mitologis mengenai latar atau musabab mengapa perut Agastya berbentuk buncit, seperti jambangan, sehingga Rsi yang dianggap sebagai “wakil Siwa di dunia” ini mendapat sebutan “Rsi Kumbhayoni”.

Demikianlah tulisan serba-serbi mengenai mitologi masa Hindu-Byddha, terkait dengan ciri fisiografis Agastya. Justru karena perutnya yang buncit itu, maka acara Rsi Agastya terbilang mudah dikenali, yakni dengan mencetmati laksana (ciri khusus)nya yang berupa perut lambhodara (bucit). Semogalah tulisan ringan ini bisa membuahkan kefaedahan dan memberi teladan bahwa siar agama adalah suatu kewajiban, yang pantang untuk menyerah kendati ada halangan Agastya memberi kita suatu contoh teladan bahwa kendati perjalanan siarnya ke arah selatan India tidak mudah, namun Sang Rsi tidak menyerah. Bahkan, barier alam yang menjadi halang rintang perjalannya, yakni sejumlah sungai, semuanya diminum habis airnya, hingga buncitlah perutnya Nuwun.

Catatan : contoh foto Arca Agastya yang semula
berada di sebelah timur pagirthan Watu gede.
Foto unggahan Riyan Dharma.

Sangkaling, 6 Agustus 2019
Griya Ajar CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.