Akar Tradisi Patah Hati

Oleh : M. Dewi Cahyono

1. Metafora “Patah Hati”

Salah satu organ tubuh yang sebutan darinya banyak dijadikan sebagai metafora adalah “hati (ati). Dalam bahasa Jawa Kuna maupun Jawa Tengan terdapat kata “hati” dan variannya “ati”. Kata ” ati” lah yang lebih cenderung digunakan dalam hahasa Jawa Baru, sedangkan bahasa Indonesia lebih memakai kata “hati”. Secara harafiah, kata ” hati” dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengan memiliki beberapa kemungkinan arti : (a) sebagai bagian dari tubuh, (b) sebagai pusat rasa, (c) menjadi cenderung, merasa seperti, ingin, hendak (Zortmulder, 1995:343). Istilah yang telah kedapatan dalam kakawin Ramayana (12.42) pada abad IX dan di banyak susastra lain yang lebih muda ini mempunyai sejumlah kata jadikan, antara lain : mahati atau mati, tan pahati atau tan pati (kehilangan hati atau semangat, menjadi bingung atau kacau pikiran, putus asa, sedih), angati, kati (menaruh perhatian kepada, mengingat), hinatyan, inaten, katen (memberikan perhatian khusus kepada, menghargai sesuatu dengan istimewa, menganggap unggul, memberlaku- kan lebih daripada yang lain), ati-ati (menaruh perhatian penuh), makati-ati (jadi kesayangan, menjadi anak mas), angati-ati, inati-ati atau ingati-ati, ngong ati-ati (menaruh prrhatian peanuh kepada, memperhatikan sekali, mengindahlan kepada, menanti-nati), aten-aten, hinati, dsb.

Dalam bahasa Indonesia, kata “hati” memiliki pula sejumlah arti : (a) organ tubuh berwarna kemerahan di bagian kanan atas rongga petition, gunanya untuk memgambil sari-sari kanan di dalam darah dan menghasilkan empedu, (b) dating dari hati sebagai bahan makan, terutama hati binatang sembelihan, (c) jatung, (d) su suatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat secara perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian atau perasaan, (e) apa yang terasa dalam batin, (f) sifat atau tabiat batin manusia, (g) bagian yang dalam sekali (KBBI, 2002:392- 393). Kata “hati” acap tidak hadir sendirian sebagai sebuah kata, namun dipadu dengan kata lain menjadi suatu kelompok kata untuk mengungkapkan sesuatu secara tak langsung. Makna yang terkandung bukan menggunakan kata dalam arti yang sesungguhnya, melainkan sebagai kiasan atau lukisan yang mendasarkan pada persamaan dan perbandingan. Dengan paduan kata itu maka kata “hati” hadir menjadi suatu metafora.

Ada, banyak kata-kata matafor yang memakai unsur kata “hati” dalam majas (gaya hahasa) Indonesia, seperti : kecil hati, hati kecil, hati nurani, hati sanubari, hati tawajuh (hati yang benar-benar terarah kepada Than), terbuka hati, tertutup hati, lurus hati, hati batu, hati berlian, hati berjantung, hati bimbang, hati binatang, hati busuk, hati emas, hati keras atau keras hati, hati mutu (putus asa, putus harapan), hati pilu, hati putin, rendah hati, tinggi hati, hati sali (berpendirian teguh), hati tangau (penakut), hati walang (khawarir), sehati. Selain metafora yang menggunakan unsur sebutan “hati”, istilah ini juga seeing hadir dalam peribahasa seperti : hati gatal mata digaruk (sangat ingin, tetapi tak kuasa sampaikan keinginan itu), jauh di mata dekat di hati, makan hati berulam jantung, tertambat hati terpaut sayang, dsb. Kata “hati” terbilang sering digunakan sebagai petistilahan dalam “kamus percintaan”. Hal demikian dapat difahami, mental bahawa “dunia cinta adalah dunia rasa” dan hati adalah sentra dari secara rasa.

Kata metafora di dalam khasanah percintaan yang memiliki unsur sebutan “hati” yang pada akhir-akhir ini viral adalah “patah hati”, suatu sebutan yang perustilahan arkhaisnya adalah ” tan pahati” atau “tan pati” . Kata metafora itu adalah kata gabung yang terdiri dakata “hati” dan “patah”. Kata “patah” bukan hanya terdapat dalam bahasa Indonesia, melainkan didapati pula dalam bahasa Jawa Luna dan Tengahan, namun dalam arti yang agak beda, yaitu : baris, major, carik, susunan (dalam baris/larik), jalur- jalur dalam pancuran hujan, dan tali rambut pengikat gelung (Zortmulder, 1995:791). Kata jadiannya antara lain adalah “patah-patah atau patah-patahan”, yang salah satu artinya adalah pola garis dari ombak atau gelombang, pasir lantai ataupun tepi sungai. Dalam arti ini, pola garis tersebut berrupa garis bersudut, serupa tangkai yang patah. Dalam bahasa Jawa Baru, sesuatu yang patah diistilahi dengan “ceklek, coklek, curlek, atau poklek”, sehingga metafora “patah hati” memiliki sebutan lokal “cuklek ati”. Terkadang, unuk menyangatkan, kata yang rangkai dengannya bisa saja tak sekedar kata “patah”, namun lebih dari itu adalah “remuk”, menjadi “remuk ati”, yakni gambaran mengenai perasaan yang hancur berkeping-keping.

Sebagaimana halnya dengan kata ” hati”, Istilah “patah”, yang arti harafiahnya adalah (a) putus (mengenai barang yang keras arau kaku, yang biasanya tak sampai bercerai atau lepas sama sekali), (b) terhenti, tudak dapat berlanjut lagi (KBBI, 2002: 736), juga acapkaki dihadirkan sebagai metafora, seperti pada : patah arang, patah hati, patah kemudi, patah lesu (hilang pengharapan), patah lidah (tak dapat ucapkan kata-kata dengan baik) , patah mayang (rambut ikal mengombak), patah pucuk (tidak selesai), patah selera, patah semangat, patah siku, patah tulang, patah dsb. Sebagaimana pula dengan kata ” hati”, kata “patah” juga acapkali dihadirkan sebagai peri bahasa, seperti : patah tumbuh hilang berganti, patah lidah alamat kalah, patah keris alamat mati, dsb. Dengan demikian, muka kata “patah” dipadu dengan kata “hati” menjadi “patah hati”, seoah hal yang mudah dirangkai dan difahami , karena kedua kata itu telah terbiasa dimetaforakan.

B. Fenomena Psikologis “Patah Hati”

Patah hati adalah suatu metafora umum yang digunakan untuk menjelaskan sakit emosional atau penderitaan mendalam yang dirasakan oleh seseorang setelah kehilangan orang yang dicintai lantaran kematian, perceraian, putus hubungan, terpisah secara fisik, atau karens penolakan cinta. Yang hilang itu bisa anggota keluargam, atau dapat juga pasangan hidup. Sebenarnya, bukan hamya kehilangan orang yang dicintai atau teman dekat yang sebabkan orang patah hati, terkadang pula kehilangan hewan peliharaan bisa “mematahkan hati seseorang”. Dampak patah hati bisa mengenai sektor fisik, seperti rasa mual, pengencangan otot di dada, nafsu makan menghilang ataupun gangguan pencernaan, sehingga oramg makin kehilangan energi dan mempengaruhi seluruh tubuh. Patah hati dapat juga berdampak pada sektor psikis seseorang dalam bentuk trauma emosional, yang merupakan “sindrom patah hati”. Insiden traumatik bisa mendorong otak seseorang untuk menyalurkan zat-zat kimia ke jaringan jantung yang melemah (kardiomiopati takitsubo). Fenomena patah hati lebih banyak hadir sebaga fenomena rasa, yang tak mampu diungkapkan dalam bentuk kata-kata.

Kisah tentag patah hati senantiasa hadir pada setiap zaman. Oleh karena itu, boleh dibilang bahwa setiap masa punya kisah patah hatinya masing-masing. Dalam berbagai legenda dan cerita fiksi, tokoh utama meninggal setelah mengalami kehilangan yang luar biasa. Dalam dunia nyata pun orang bisa meninggal akibat patah hati. Sindrom patah hati bisa dipucu oleh tekanan emosional yang mendadak, sebagai akibat dari putus hubungan atau kematian dari orang yang dicintai. Patah hati dirasai sebagai “sakit”, sehingga ada sebutan “sakit hati (loro ari) “. Studi Ethan Kross, psikolog dari Unieritas Michigan, memperlihatkan bahwa patah hati terasa menyakitkan sebagaimana sakit fisik yang mendalam. Daerah otak yang cepat tanggap terhadap pengalaman menyakitkan teraktifkan manakala seseorang mengalami penolakan sosial atau kehilangan sosial pada umumnya. Penolakan membuat seseorang benar-benar merasa tersakiti dan terpukul hancur.

Sebagai suatu penyakit, tepatnya penyakit hati, trauma patah hati dapay senbuh, namun bisa juga berakhir tragis dengan kematian. Dalam banyak kisah, orang yang patah a aaaahati diceritakan sebagai nengalani kematian, malahan dengan mengorbankan diri lewat bunuh diri. Ada pula jalan yang lebih cerdas untuk nensiasati patah hati, sehingga faktor penyebabnya bisa teratasi tanpa harus dengan mengorbanan diri. Kadang pula patah hati mendorong seseorang mencari bantuan medis guna mengetahui perihal gejala fisiknya. Meski patah hati adalah penyakit psikologis, namun dampaknya tak senantiasakan sama berat nya untuk semua orang untuk kasus yang sama., tergantung “kekuatan hati penderita patah hati”. Adanya merasakanya sebagai remuk hati, ada yang merasakan sebagai telah tetrbuang, terabaikan, tercampakkan, dsb., namun bisa hadi ada pula yang merasakan sebagai bisa-biasa saja, terlenih apabila pengalaman patah hati telah menimpai dirinya berulang kali. Bahkan, kelak di kemudian hari, peristiwa patah hatinya di waktu lalu dirakasakan sebagai pengalaman yang mengesankan.

Pada berbagai cerita lama, baik yang tertuang dalam susastra tekstual ataupun oral, terlihat adanya penyikap, cara merasai serta respon tindakkan yang berlainan tehadap patah hati. Pada contoh-cintoh tepilih betijut mengenai ” kisah-bkasih arkahis patah hati” yang termuat dalam sejumlah susastra Jawa Kuna dan Jawa tengahan berikut, penulis bahkal hadirkan rona- rona patah hati di masa lampau, yang ternyata memperlihatkan adanya keraganan. Adanya fenomena patah hati di dalam susastra lama itu memberi petunjuk pada kita bahwa setiap masa mempuntai kusah-kadih patah hatinya masing-masing. Ada yang serupa pada lintas masa, mnamun bisa jadi berbeda satu masa dengan masa-masa lain. Namun yang terang bahwa patah hati telah berurat akar di dalam sejarahnya percintaan umat manusia.

C. Ragam Kisah Arkhais Patah Hati
(BERSAMBUNG)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.