-1
-1 points

Ngansu Kawruh Kalang

Oleh : M. Dwi Cahyono

A. Masyarakat Samin Masa Kolonial – Kini
1. Makna istilah “Samin” dan “Surosentiko”
1.1 Asal dan Makna Istilah “Samin””

Unsur sebutan “Samin” pada sebutan “warga, masyarakat, wong, ajaran, atau paseduluran Samin'” terkait dengan nama seseorang, yaitu Samin Surosentiko — ada pula yang membaca dengan “Surosentiko Samin”. Sejauh ini belum diperoleh klarifikasi akurat mengenai apa arti dan mengapa menggunakan sebutan “samin”. Dalam bahasa Jawa Baru maupun padabsa Indonesia terdapat kosa kata “samin”. Istilah ” samin” dalam bahasa Jawa Baru menunjuk kepada minyak kemak atau mentega, yang acap dipakai untuk mencampuri nasi (sok dianggo nyampuri sego) (Mangunsuwito, 2013: 181,426). Adapun dalanbahasa Iindonesia, kata “samin” menunjuk pada : minyak yang dibuat dari kemak kambing (unta). KBBI, 2002: 747,989).

Kata “samin (Arab : سمن, samn) adalah sebutan lain dari apa yang dalam bahasa Sanskrera dinamai “ghee (Hindi घी, Urdu گھی, Punjabi ਘੋ, Kashmirbiग्याव/گیاو), yaitu suntega dari bahan lemak hewani (sapi, kerbau, kambing, unta) yaang dimurnikan. Muasalnya darl India timyr laut, lantas menyebar ke Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika Utara dan Timur. Minyak samin dipakai sebagai minyak goreng dalam berbagai resep masakan. Selain itu di India ghee, yakni mentega tawar yang dimasak dalam panci digunakan untuk ritus prrsembahan dan perminyakan sebagai minuman para dewa. Bahkan, ada himne khusus untuk ghee.

Para penganut Hindu membakar ghee sewaktu ritual Aarti. Selain itu ghee digunakan untuk minyak lampu sebagai ungkapkan syukur yang disebut “diya” atau “deep” . Acapkali juga ghee dipakai dalam pesta perkawinan, pemakaman, dan untuk memandikan Murti. Ketika berdoa untuk Siwa dalam perayaan “Mahasiwaratri”. lima prrsembahan suci (pancamurti) yang terdiri atas ghee, gula, susu, madu, dan yogurt digunakan untuk memandikan Lingga. Begitu pentingnya ghee, sampai-sampai pada parwa Anusasana dalam wiracarita Mahabharatta dinyatakabln bahwa Bisma berkata “tidak ada pengorbanan yang dapat dilakukan tanpa bantuan yogurt dan ghee”. Oleh karena itulsh dalam upacara (yajna, homan), sejumlah besar ghee digunakan sebagai barang persembahan, karena dipercaya sebagai makanan para dewa.

Pada era Nusantara lama hingga kini, sebutan “ghee” tidak perlihatkan bukti sebagai parnah digunakan. Alih-alih, terdapat istilah “samin”” dalam bahasa Jawa Baru dan dalam bahasa Indonesia, yang merupakan istilah lain untuk “ghee”. Namun, kembali lagi pada arti istilah “samin”” dalam konteks “Wong Samin””, apakah benar bahwa di dalam kehidupan warga Samin terdapat tradisI penggunaan minyak samin”? Apabila tidak, maka perlu dicari akar istilahnya pada kata lainnya yang dekat dengan istilah ini, yakni kata “sami”. Dalam bahasa Jawa Kuna, dan Tengahan terdapat kata “sami”, dengan dua kemungkinan arti : (a) sama, dan (b) jenis pohon khas, dengan bunga-buganya berwarna mmerah (Prosopis spicigera atau kemungkinan Mimosa sima). Dalam arti terakhir, kata ” sami” disebut dalam kitab Wirataparwa (59), kakaein Abhimanyywiwaha (51.22), Dan Nitisastra (2.7) “lwir sekar ing sami murub abang tan ana wani nika”. Kata Sanskrera “samidha” atau dituliskan “samiddha”, yang menunjuk pada: kayu bakar, bahan bakar, dinyatakabln (Zortmulder, 1995: 1005). Jika beragam dari kata ini, apakah hal itu mengindikasikan lokasi dan pecaharian lama Wong Samin sebagai warga yang hingga di areal tepi hutan, dengan pencarian mencari tananan atau kayu hutan — sebagaimana lazim pada Wong Kalang?

1 2 Makna Istilah “Surosentiko”

Sebutan “Surosentiko” adalah kata gabung yang terdiri atas dua kata : (a) suro, dan (b) sentiko. Kata “suro” Serupa dengan “sora” pada bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, dalam arti : (a) keras (suara), atau (b) nama panah, atau kata “saura” yang dihubungkan dengan matahari atau sikap gagah berani (Zoetmuder, 1995:1116). Dalam arti terakhir, serupa arti dengan kata Jawa Kuna dan Tengahan, yaitu “sura”, yang antara lain berarti : gagah berani (Zoetmuder, 1995: 1153). Dalam sejarah Jawa masa Hindu-Buddha, terdapat sejumlah tokoh yang memakai unsur nama ” sora” atau “sura” seperti Lembu Sora, Suradipa, Surawisesa, dsb Demikian pula, dalam tradisI lisan di Pinorogo ada sejumlah jawara (warok) dengan unsur nama “suro” seperti Suromenggolo, Surogento Dan Surohandoko. Begitu pula dalam legenda- legenda lokal lain, unsur nama ini acap hadir, untuk menyebut tokoh yang gagah berani.

Terkait dengan unsur nama “suro” pada nama “Surosentiko” yang disebut singkat dengan “Mbah Suro”, yang patah dicernati adalah bahwa ayahnya juga memiliki unsur nama “suro”, yaitu Raden Surowijoyo, yang dijuluki “Samin Sepuh”. Adapun dalam kaitan dengan adanya unsur nama “suro” dalam kisah tradisi pada daerah Ponorogo, ternyata Surosentiko memlikii pertalian darah dengan Brotodiningrat (gelar “Pngeran Kusumaniayu) di Kabupaten Sumoroto (kini sebuah kecamatan di Ponorogo tahun 1802-1826.

Adapun unsur nama “sentiko” adalah sebutan Jawa Baru atas Istilah “santika” dalam bahasa Jawa Kuna Dan Jawa Tengahan dari Istilah serapan dalam bahasa Sanskrera, dalam arti : yang mendamaikan, berbubungan dengan ketenangan atau ketentraman,, upacara kedamaian untuk mencegah kehahatan, sarana untuk mencegah kehahatan (Zoetmulder, 1995: 1017). Kata jadian “kasantikan” Mengandung arti: ketentraman pikiran, pengendalian namun Arti-arti yang demikian sejalanmasa dengan ajaran Samin Suroantika, yang dinamai ajaran “Sedulur Sikep”.

2 Gerakan Masyarakat Samin

Wong Samin adalah suatu sebutan bagi para pengikut Surontiko (varian sebutanya adalah “
Surosentiko), yakni gerakan protes terhadap Pemerintah Kolonial Belanda pada awal abad XX Masehi, utamanya di kawasan Pegunungan Kapur (Kendeng) Tengah pada daerah Blora dan Bojonegoro. Ada yanng mengidentifikasi Wong Samin sebagai suatu suku (ethnic) di Jawa. Menurut hemat daya (penulis), sebutan etika baginys kurang tepat. Lebih tepat untuk disebut “sub-sub etika”, karena Wong Samin adalah etik Jawa dan merupakan bagian dari Wong Kalang — yang adalah salah sebuah sub-etnik dari etika Jawa. Selain itu, waktu kemunculan Wong Samin baru awal abad XX Masehi, dengan wilayah sebaran terbatas di kawasan Kendeng Tengah pada daerah Blora dan Bojonegoro.

Pergerakan yang dilakukan oleh Wong Samin acap disebut dengan “Saminisme”, yaitu protes pedesaan yang dipimpin seorang petani Jawa tepian hutan yang buta huruf bernama sebutan “Surontiko Samin” atau disebut demgan “Samin Surosentiko” (1859-1914)”. Menurut sumber sejarah lisan nama dirinya adalah Raden Kohar, yang dilahirkan di Desa Ploso Kedhiren daerah Randublatung pada tahun 1859, dan meninggal saat diasingkan ke PadangPadang pada tahun 1914. Apabila benar bahwa ia bergelar “raden”, berarti ia keturunan ningrat Jawa meskipun tinggal di pedesaan. Hal ini dipretkuat oleh gelar “raden” yang juga disandang ayahnya, yaitu Raden Surowijoyo yang dijuluki “Samin Sepuh”. Selain itu anggots keluarga besar (extended family)-nya tercatat sebagai tokoh pentingnya di masyarakat Jawa, seperti Kai Keti yang berkedudukan di Rajekwsi dalam wlilayah Bojonegoro dan Brotodiningrat (gelar “Pangeran Kusumaniayu) yang berkuasa di Kabupaten Sumoroto (kini suatu kecamatan di Ponorogo) pada tahun 1802-1826.

Kendati berlatar bangsawan, namun gerakan yang dipeloporinya lebih bersifat “kerakyatan (proletarianisme). Bahkan, hingga beberapa dasawarsa lamanya Wong Samin mengisolasi diri di wilayah Pegunungan Kapur (Kendeng) Tengah dari awal tahun 1900-an hingga tahun 1970-an. Saminisne adalah sebuah gerakan protes, yang menolak segala bentuk kekyasaan dari luar, tidak menyukai peratura kehutanan yang baru ditetapkan di kawasan hutan jati daerah Blora bagian selatan (Jawa Tengah bagian Utara). Surontiko memulai gerakannya di Klopoduwur daerah Blora. Pada tahun 1890 pergerakannya berkembang di dua desa hutan daerah Randublatung daerah Blora. Kemudian dengan cepat menyebar ke desa-desa lainnya, mulai dari pantai utara Jawa hingga seputar hutan di Pegunungan Kendeng Utara hingga Selatan, sekitar perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur menurut peta sekarang.

Pada mulanya ajaran Samin Surosentiko tidak dilarang oleh pemerintah Hindia-Belanda. Baru pada tahun 1907 pemerintah kolonial merasa khawarir bahwa tidak lama lagi bakal terjadi pemberontakan. Terlebih setelah pengikutnya kian meluas hingga di Blora, Pati, Bojonegoro, Rembang, dan Kudus. Terlebih ketika Samin Surontiko ditabiskan oleh para pengikutnya sebagai “Ratu Adil” — dengan gelar “Prabu Panembahan Suryangalam” pads tanggal 3 November 1907, maka pemerintah kolonial Hindia-Belanda menjadi was-was, sehingga Samin Surosentiko akhirnya ditangkap lantas dipenjara di Nusakambangan — sebelum pada akhirnya dibuang ke Sawahlunto bersama tujuh orang pengikutnya me jalani paksa di tambang batu bara. Ketika bekerja di areal tambang ini, Surontiko Samin pernah dijadikan pimpinan kelompok pekerja tambang di suatu lobang tambang. Pada tempat kerja paksanya ini pula pada tahun 1914 Surontiko Samin puput usia. Pendapat lain menyatakan bahwa tempat mangkatnya adalah di Palembang pada tahun 1914 (Ricklefs, 2005:350). Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa sebelum diasingkan ke Sawahlunto, Surontiko pernah diasingkan ke Nusakambangan, Digul, dan kemudian ke Padang.

Kendati Surontiko Samin mangkat pada tahun 1914, namun gerakan maupun spiritnya tetap hidup, bahkan hingga tahun 1970-an. Latar mengapa memiliki durasi yang amat panjang, karena gerakan Samin bukan sekedar gerakan politik. Lebih dari itu merupakan paham, ajaran, atau pandangan hidup. Gerakan yang terjadi tahun 1907 hingga kulminasinya pada tahun 1914 bukan sekedar protes sesaat, yang hanya tertuju kepada pemerintah Hindia- Belanda si- panjajah, melainkan lebih pada ketidakadilan. Pentabisannya sebagai “Ratu Adil” memberi petunjuk bahwa arah sasarnya adalah praktek ketidakadilan. Sabagai ajaran kesusilaan yang memuat nilai-nilai etik — yang terpenting dalam ajaran Sedulur Sikep’ adalah “etiket”, dapatlah difahami bila pandangan hidup Samin terbuka bagi kemungkinan mempunyai kelanggengan, sepanjang ajaran Samin masih dipandangan relefan dan fungsional dengan jiwa zaman di masa sekarang maupun mendatang.

B. Eko-Sosio-Kultura Kalang
1. Ekologi Permukiman Kalang

Wong Kalang adalah suatu sebutan terhadap orang-orang (wong) yang tinggal di areal tepian hutan, yang karenanya kata pencaharisnnys berkenaan dengan pemanfaatkan hasil hutan. Areal tinggalnya yang berada di tepian hutan pada legeng gunung (wana-giri) menjdikan permukimannys terpisah dengan pusat-pusat permukiman. Bahkan cenderung terisolasi oleh barier alam. Tinggalan arkeologis berbentuk peti kubur batu tradisI budaya megalitik zaman Prasejarah pada areal hutan jatil pada lereng atau punggug Pegunungan Kapur (Kendeng) Tengah sekitar perbatasan tiga daerah (Tuban, Bojonegoro, dan Blora) yang dinamai “Kubur Kalang” menjadi petunjuk akan keterpencilan areal tinggalnya.

Kata “kalang” berasal dari bahasa Jawa, yang artinya “batas”. Lingkup sosialnya seolah-olah “dibatasi (di-kalang-i)” oleh berier alamiah, yang berupa hutan dan bukit. Memang, sejsk mula mereka tinggal terisolasi di tepian areal hutan. Bukan lantaran masyarakat Kalang sengaja diasingkan dalam kehidupan masyarakat luas karena anggapan bahwa mereka adalah orang yang liar dan berbahaya. Desa-desa di tepian hutan, yang kini dinamai “Magersari, Pagersari, dsb.” mengingatkan kita kepada permukiman Wong Kalang di masa lampau. Wong Kalang adalah komunitas yang berada di garda depan gunung-hutan di Jawa. Istilah “kalang” pertama ditemukan dalam prasasti Kuburan Candi dari Desa Tegalsari Kawedanan Tegalharjo wilayah Kabupaten Magelang bertarikh Saka 753 (831 Masehi). Denfan demikian komunitas Wong Kalang paling tidak telah ada pada paro awal abad UX Masehi.

2. Kilas Sejarah Wong Kalang

Keberadaan Kubur Kalang menjadi pembukti bahwasanya perjalanan sejarah Wong Kalang terbilang demikian panjang,. Semenjak zaman Prasejarah, memasuki masa Hindu- Buddha, dan jejak tersisanya bahkan kedapatan hingga kini. Peti-peti kubur batu tersebut antara lain bisa dijumpai di Desa Kawengan Kecamatan Kadewan Kabupaten Bojonegoro. Jumlahnya lebih dari serious, yang tersebar paling tidak di sebilan area. Jarang antar peti kubur bervariasi, antara 150 m hingga 1 km. Rata-rata peti kubur berukuran 1 X 2 m, tapi ada juga berukuran 3 X 1,5 m, dengan kedapatan sekitar 70 cm. Pada lubang kubur ditenukan benar kubur (burial gift), yang antara lain berupa manik-manik, gelang tangan dan kaki berbahan peak, golok, dan gerakan halus Memiliki ragam bekal kubur itu, muasalnya masanya ada yang dari zaman Prasejarah dan ada pula yang dari masa Hindu- Buddha. Artinya, peti kubur batu Wong Kalang terus dipergunakan hingga memasuki pasca zaman Prasejarah. Disamping di Kabupaten Bojonegoro, kubur-kubur Kalang juga didapati di Kabupaten Tuban, seperti pada perbukitan Desa Dungur Kecamatan Senori, Desa Solo di Kecamatan Bangunan, Desa Nglateng di Kecamatan Kali rejoice, Desa Prambon di Kecamatan Palang.

Lantaran bermukim di tepian hutan nan mata pencahariannya mengisolasi hasil hutan, maka Wong Kalang acapkali dibilang sebagai “wong alasan”, bahkan dirumorkan negatif sebagai “memiliki ekor”. Selain berpencaharian berburu (hunting) dan meramu bahan makan di dalam hutan (food gathering), sesekali Wong Kalang menjadi blandong (penebang pohon hutan). Kebiasaannya dengan kayu hutan itulah yang membimbingnya untuk menguasai ketrampilan tennis dalam pertukangan kayu (undagi kayu). Bahkan, dalam perkembangannya ada warga Kalang yang handa dalam pembuatan seni- bangunan (arsiektur), mebeler dan ukir kayu, yang kepiawiannya dibutuhkan oleh pihak istana. Keberadaan Wong Kalang di Kitagede, yang disebut dengan ” Kalang Abang (Kalang Brit) menjadi petunjuk bahwa konon terdapat pekriya dan tukang kayu dari kalangan Wong Kalang yang ikut terlibat dalam pembangunan istana Kasultanan Mataram di Kotagede pada abad XVII Masehi.

Menurut mitos, orang Kalang adalah maestro pembuatan candi, yang secara fisik berbadan kuat dan tegap. Ada pendapat bahwa mereka
berasal dari Khmer atau Kamboja, padamana orang kuat di negeri itu diterjemahkan sebagai “manusia k’lang (មនុស្សខ្លាំង)”. Suatu pendapat spekulatif, yang hanya mendasarkan kepada keserupaan istilah pada daerah yang berjauhan (Jawa dan Khmer). Bila muasalnya dari daerah seberang, sebagai orang asing atau pendatabg, mereka tidak harus bermukim di tepian hutan, di lereng atau lembah gunung, melainkan justru pada pusat pemerintahan (kadatwan). Sebagai keturunan pemangku tradisI megalitik di areal Pegunungan Kendeng, dapat difahami apabila Wong Kalang adalah generasi penerus yang melanjutkan tinggal di daerah tepian hutan jati pada Pegunungan Kendeng Tengah. Dalam “Javaansch Nederhuitsch Woordenboek”, 1947:
206, dikemukaksn bahwa Kalang adalah nama sebuah etnis di Jawa yang dulu hidup di sekitar hutan. Mereka diduga memiliki asal keturunan hina, antara lain dianggap sebagai keturunan kera atau anjing. Secara fisiografis, menurut P. J. Veth (1947) orang Kalang memang memiliki fisik yang berbeda dengan penduduk setempat. Lebih mirip dengan etnik Negrito di Filipina, dental kulit legam dan rambut yang keriting. O Kalang dianggap sebagai orang pendatang dari Kedah. Suatu pendapat yang juga spekulatif.

3. Pelestari Hutan dan Pemuka Wilayah

Demi menjaga kelestarian hutan, ada diantara Wong Kalang yang didaulat oleh pemerintah kerajaan sebagai pengawas kehutanan (tuha alas). Demikian pula terkait dengan perburuan, terdapat pegawai kerajaan yang dinamai “tuha buru”. Hal ini memberi gambaran bahwa aspek kelestarian hutan dan seisinya telah mendapat perhatian dari pemerintah kerajaan. Hutan tak hamya dieksplorasi, namun perlu juga dijaga kelestariannya. Memang Wong Kalang di satu sisi adalah eksplorator hutan, namun pada sisi lain adalah konservator hutan pula. Baginya, hutan bukan sekedar ajang pencarian nafkah, melainkan bagian integral dari kehidupannya.

Wong Kalang merupakan sub-etnik Jawa, yang dicirikan oleh areal tinggal dan pencahariannya yang berkenaan dengan hutan. Oleh karena itu, selain di areal Pegunungan Kendeng (Srlatan, Tengah, Dan Utara), terdapat pulaorang-orangd Kalang yang berada di tepian areal hutan pada lereng dan lembah dari gunung-gunung lain di Jawa. Berarti, persebaran Wong Kalang begitu luas di Jawa, dan jumlahnya tentu cukup besar pada zamannya. Oleh karena merupakan suatu komuitas yang memiliki diri khas sendiri, maka terhadap meraka ditunjuk pimpinan kelompok orang-orang Kalang, yang diberi sebutan “Tuha Kalang”. Bahkan, terdapat diantara tuha Kalang
yang tampil sebagai penguasa daerah. Dalam kakawin Nagarakretagama (1365 Masehi) dan prasasti Mula-malurung (1255 Masehi) disebut adanya tempat penddhrmaan keluarga Hayam Wuruk di Kalangbrat (kini disebut “Kalangbret” di Kabupaten Tulungagung). Yang menarik, di Tulungagung terdapat cerita babad mengenai adanya penguasa lokal dengan jabatan adapati yang dinamai “Adipati Kalang” yang meninggal di Kalangbret. Sebutan “Kalangbret” memiliki keserupaan dengan “Kalangbrat” dalam kedus sumber data tekstual tersebut maupun sebutan “Kalang Abang (Kalang Brit)” di Kotagede.

Menurut mitos, orang Kalang adalah maestro pembuatan candi, yang secara fisik berbadan kuat dan tegap. Ada pendapat bahwa mereka
berasal dari Khmer atau Kamboja, padamana orang kuat di negeri itu diterjemahkan sebagai “manusia k’lang (មនុស្សខ្លាំង)”. Suatu pendapat spekulatif, yang hanya mendasarkan kepada keserupaan istilah pada daerah yang berjauhan (Jawa dan Khmer). Bila muasalnya dari daerah seberang, sebagai orang asing atau pendatabg, mereka tidak harus bermukim di tepian hutan, di lereng atau lembah gunung, melainkan justru pada pusat pemerintahan (kadatwan). Sebagai keturunan pemangku tradisI megalitik di areal Pegunungan Kendeng, dapat difahami apabila Wong Kalang adalah generasi penerus yang melanjutkan tinggal di daerah tepian hutan jati pada Pegunungan Kendeng Tengah.

Dalam buku berjudul”Javaansch Nederhuitsch Woordenboek”, 1947: 206, dikemukakan bahwa Kalang merupakan nama sebuah etnis di Jawa yang dahulu hidup di sekitar hutan. Mereka diduga memiliki asal keturunan hina, antara lain dianggap sebagai keturunan kera atau anjing. Secara fisiografis, menurut P. J. Veth (1947) orang Kalang memang memiliki fisik yang berbeda dengan penduduk setempat. Lebih mirip dengan etnik Negrito di Filipina, dental kulit legam dan rambut yang keriting. Orang Kalang dianggap sebagai pendatang dari Kedah. Pendapat yang juga spekulatif dari daerah seberang, sebagai orang asing atau pendatabg, mereka tidak harus bermukim di tepian hutan, di lereng atau lembah gunung, melainkan justru pada pusat pemerintahan (kadatwan). Sebagai keturunan dari pemangku tradisI megalitik di areal Pegunungan Kendeng, dapat difahami apabila Wong Kalang adalah generasi penerus yang melanjutkan tinggal di daerah tepian hutan jati Pegunungan Kendeng Tengah.

4. Karakter dan Keberadaan Wong Kalang Kini

Karakter Wong Kalang adalah keras, agak liar, dan berbahaya, sehingga sering terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, sepert pembangkangan orang Kalang pada desa-desa sekitar hutan berupa pembalakan liar tahun 2004. Pada Sisi lain Wong Kalang dianggap sebagai memiliki kesaktian. Sebagai “penjaga hutan”, dengan kesaktiannya Wong Kalang menjaga hutan agar tidak kemasukan penyusup. Berkat daya saktinya pula, Wong Kalang dipekerjakan pada pembangunan candiAlasannya, orang Kalang dianggap sakti. Selain itu, dengan kesaktiannya mereka dipekerjakan dalam pembuatan candi.

Kini orang-orang Kalang sudah banyak berbaur dengan masyarakat lain, baik dalam pergaulan sosial maupun pernikahan. Relasi sosial antara Wong Kalang dengan warga masyarakat non- Kalang berjalan dengan baik. Saat ini Orang Kalang tersebar di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta seperti Cilacap, Adipala, Gombong, Ambal Petanahan, Kebumen, Bagelen, sampai wilayah Yogyakarta

C. Pandangan Hidup Wong Samin
1. Pandangan Hidup Wong Samin

Pandangan Hidup adalah suatu pndapat atau pertimbagan yanag dijadikan oleh seseorang atau sekelompok sebagai pegangan, pedoman, arahan, petunjuk dalam berkehidupan di dunia..
Pendapat atau pertimbangan itu merupakan dalah hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarahnya menurut waktu dan tempat padamana yang brrsangkutan hidup. Ada paling tidak tiga macam pandangan hidup, yaitu :(1) poandangan hidup yang berasal dari agama, yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya; (2) pandangan hidup yang berupa ideology, yaitu disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara ataupun faam (isme), (3) pandangan hidup berdasarkan renungan, yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.

Pandangan hidup Wong Samin adalah cara pandangan yang “principil”, artinya terdapat jesungguhan atau ada sikap tegas terhadap prinsip-prinsip hidup yang diajarkan Surontiko Samin. Hal itu tercermin dalam sebutan bagi ajarannya, yaitu “sikep’, yang memuat arti : sikap yang tegas terhadap prinsip hidup. Si kap yang merasa prinsipkan adalah baik dan jujur. Dengan sikap demikian, ditambah lagi dengan sikap rendah hati dan bersahaja, para Sedulur Sikep (Wong Samin) tampakuar sebagai orang yang lugu, cekak aos (peek kata dan dengan apa adanya.

Sesuai dengan arti harafiah kata “pandangan”, yaitu : (a) hasil perbuatan dalam memandang (memperhatikan, melihat, dsb ): (b) benda atau orang yang dipandang (disegani, dihormati, dan sebagainya): hanya dialah ~ orang di kampungku; (c ) pengetahuan: meluaskan ~ (c) pendapat (KBBI 2002). Kata gabung “pandang hidup” membuat arti : konsep yang dimiliki oleh seseorang atau golongan di masyarakat yang bermaksud menanggapi dan menerangkan segala masalah di dunia ini. Pandangan hidup juga berkenaan dengan “cara melihat”, yaitu cara siapa dalam memandang apa. Manusia sebagai makhluk sosial sekalugus makhluk ber budayanya memiliki cara untuk melihat (a) diri sendiri, (b) orang lain, (c) lingkungan sekitar, maupun terhadap (d) Illahinya. Oleh karena itu ada pandangan sosial, pandang ekoligis, serta pandangan religis. Pandangan yang demikian bersifat universal, tidak terkeciali pada Wong Samin.

1.1. Pandangan Sosial Samin

Wong Samin memiliki dalam tertent dalam memandang dirinya sendiri maupun dalam mendapat dirinya pada relasinya dengan orang lain. Sebagai manusia yang terlibat di dalam daya utama, Wong Samin mensifatkan dirinya sebagai orang yang semestunya memiliki rasa sabar (kesabaran); kejujuran; kerendahhatian, misalnya tidak sombong, tidak Iri, dengki dan
srei. Demikian pentingnya kejujuran, sehingga warga Samin tak terlibat dalam usaha dagang, karens dibdalam perdagangan terdapat unsur “ketidakjujuran”. Begitu pula tak diperbolehkan menerima sumbangan yang berbentuk uang.
Dalam berbiara seharusnya mampu menjaga mulut. Oleh karenanya bagi Wong Samin, yang terpenting di dalam kehidupan adalah tabiat hidup. Sebagai makhluk hidup, yaitu manusia yang hidup, musti dirinya memiliki kepahaman akan kehidupan. Menurut pandangan Wong Samun, hidup manusia sama dengan roh, yaitu hanya satu yang dibawa abadi selamanya. Roh orang yang meninggal tidak meninggal, namun seolah hanya menanggalkan pakaiannya.

Dalam memandang orang lain pada pergaulan sosial, Wong Samin memiliki prinsip untuk tak
menganggu orang lain, tidak suka mengambil milik orang lain, serta tidak saling bertengkar. Oleh karena itu hubungan ketetanggaan, baik sesama Samin maupun dengan masyarakat di luar Samin terjalin dengan baik. Persaudaraan (paseduluran) dijunjung tinggi, sebagaimana tergambar pada unsur sebutan ” sedulur” pada sebutan “Sedulur Sikep”. Dalam upaya untuk menjaga dan melestarikan jslin kekereabatan antara warga Samin, terdapat tradisi saling kunjung, utamanya pada saat satu keluarga mempunyai hajat, sekalipun tempat tinggalnya jauh. Selain tu, guna meningkatkan integritas ke-Saminan-nya, bagi warga Samin perkawinan sangatlsh penting. Perkawinan diposisikan sebagai wahana untuk meraih keluhuran budi, dan sseterusnya guna menciptakan “Atmaja Tama” (anak yang utama). Sebagai upaya untuk menjajaki kecocokan dalam jalan hubungan kerumahranggan, yang menarik ada suatu tradisi di kalangan Wing Samin dimana calon pasangan dimungkinkan untuk lakukan pekawinan terlebih dahulu guna menentukan apakah akan melanjutkan pilihannya untuk ke jenjang pernikahan atau tidak. Oleh karena itu, kelanggengan pernkahan adalah keutamaan, dengan menghindarkan terjadinya poligami.

Samin memiliki lima pokok ajaran, yaitu: (1) tidak bersekolah, (2) tak memakai peci, melainkan “iket”, yaitu kain yang diikatkan di kepala mirip orang Jawa zaman dulu, (3) tidak berpoligami, (4) tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana selutut, (5) tidak berdagang serta menolak kapitalisme.

1.2. Pandangan Ekologis Wong Samin

Sebagai para pemukim di tepian hutan dan ssekalugus petani-peladang, sikap hidup Wong Samin teerhadap lingkungan fisis-aliah sekitar sangat positif. Mereka memanfaatkan alam, misalnya dalam mengambil kayu kayu hutan, pinsipnya adalah “secukupnya saja”, sehingga tidak mengarah pada eksploitasi hutan. Hal ini sesuai dengan pikiran masyarakat Samin yang cukup sederhana, tidak berlebihan, dan apa adanya. Dalam menebang pohon hutan, pinsip “nunggak semi” adalah keutamaan. Oleh sebab itu merasa tidak memgambil pohon hingga dak empole (seakarnya), melainkan menyisakan bagian bawah pohon dengan pemitongan yang miring supaya mudah “nunggak semi (tumbuh tunas baru pada tunggak yang disisakan).

Baginya tanah ibarat “ibu sendiri (ibu periwi) ” yang memberinya penghidupan. Sebagai orang yang berpencarian agraris kategori pertanuan tradisional, maka tanah garapan diperlakukan sebaik-baiknya. Pengolahan lahan pertanian mendasarkan pada rotasi musim, yaitu musim penghujan dan kemarau. Terlebih di areal yang tak beririgasi, bercovok tananan dengan model “tadah hujan” adalah cara yang mau tidak mau. Dalam pemanfaatkan tananan yang disediakan oleh alam, masyarakat Samin amat menyadari bahwa isi dan kekayaan alam akan habis atau tidak tergantung pada pemakainya. Demikian telaah bijak Samin dalam mendayagunakan sumberdaya lingkungan, yang mengepankan prinsip kelestarian ekologis. Oleh karena itu, ketika pada akhir-akhir abad XIX dan awal XX marak terjadi eksploitasi hutan jati sebagai bahan bagi pembangunan arsitrktur perkotaan, Wong Samin tampil di depan untuk menentang. Pads sisi lain, mereka menentang penjarahan tanah leluhur yang semula areal perlawanan dan perlawanan untuk dijadikan areal tanam bagi pohon-pohon jati oleh Pemerintah Hindia- Belanda.

Biasanya, pemukiman warga Samin berpola mengelompok dalam satu deretan rumah -rumah. Hal ini mempertimbangkan aspek- kemudahan untuk berkomunikasi satu sama lain. Rumah terbuat dari kayu, terutama kayu jati atau bambu. Jarang ditemui adanya rumah berdinding batu bata. Bahan lokal, yang telah trrsedia di lingkungan sekitar menjadi proritas dalam pemakainya bahan bangunan. Ukuran rumah tinggal relatif luas. Bentuk bangunan cenderung memilih bentul limasan, kampung, atau sda kalanya berbentuk joglo. Penataan ruang sangat sederhana dan terbilang masih tradisional, yang terdiri atas ruang tamu cukup luas, kamar tidur, dan dapur. Kamar mandi dan sumur terletak agak jauh dari rumah untuk, dan biasanya dipergunaka oleh beberapa keluarga sekalus.Kandang ternak, yang kinon utamanya ternak kerbau ditempatkan di luar, yakni di sisi samping rumah tinggal. Kandang kebo Wong Samin, yang terbuat dari balok-balok kayu hati besar dan tua pada tahun 1979 hingga 1980-an banyak diburu oleh pedagang antikan.

1 3. Pandangan Relugis Samin

Wong Samin berpandangan bahwa agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama. Oleh karena itu mereka tiidak pernah mengingkari atau membenci agama. Di kalangan warga Samin terdapat sejumlah upa cara ttedisional, antara lain nyadran (bersih desa), yang antara lain ditandai dengan menguras sumberdai air pada sebuah sumur tua yang banyak memberi manfaat pada masyarakat. Hal ini perlihatkan teladan mengenai pemelihaan kebersihan bagi sumber air bersih, sekalugys untuk perlancar kelyatnya air dari sumbernya akubat terbalut endapan lumpur. Selain itu terdapat tradisI “selamatan” yang berkait dengan daur hidup, seperti upacara kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Ritus ini dilakukan dengan konsisten, meski dengan bersahaja.

Kaum Samin menganut suatu keyakinan yang dinamai “Elmu Nabi Adam”. Walaupun nama “elmu”-nya memakai nama nabi dalam agama Islam, yaitu Adam, dan memakai istilah-istilah Arab, namun sesungguhnya sama sekali tak asa sangkut pautnya dengan ajaran Islam Tombaknya keyakinan Samin juga tak diilhami oleh Hindu-Buddha. Kepercayaan tersebut lebih merupakan suatu kumpulan doktrin etika dan agama yang menitikberatkan pada pentingnya kerja pertanian, kekuatan seksual, perlawanan pasif, dan keutamaan keluarga imti. Sementara menolak perekonomian uang, struktur-struktur desa yang bersifat non-Samin, maupun segala bentuk kekuasaan dari luar. Warga Samin juga menolak membayar pajak, melaksakan kerja paksa, atau memanfaatkan sekolah-sekolah pemerintah (Riicklefs, 2005: 349).

Masyarakat Samin saat ini
Perubahan zaman juga berpengaruh terhadap tradisi masyarakat Samin. saat ini sudah menggunakan traktor dan pupuk kimiawi dalam pertanian, serta menggunakan peralatan rumahtangga dari plastik, aluminium, dan lain-lain.

^ Benda, Harry (1969). “The Samin Movement”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde: 207–216, 218–240.
^ Korver, A. Pieter E. (1976). “The Samin Movement and Millenarism”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde: 249–266.
^ King, Victor T. (1973). “Some Observations on the Samin Movement of North-Central Java: Suggestions for the Theoretical Analysis of the Dynamics of Rural Unrest”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde: 457–481.
^ Rohmah, Ainur. “Saminism followers want exemption from ‘religion section’ on e-ID”. The Jakarta Post.
^ Van Der Kroef, Justus M. (1952). “The Messiah in Indonesia and Melanesia”. The Scientific Monthly. 75 (3): 161–165.
^ Shiraishi, Takashi (1990). “Dangir’s Testimony: Saminism Reconsidered”. Indonesia: 95–120.
^ Faizal, Elly Burhaini. “Practicing Benevolence, Samin Tribe Endures Scorn”. The Jakarta Post.
^ Sastroatmodjo, Suryanto (1952). Masjarakat Samin (Blora). Central Java, Indonesia: the Indonesian Information Ministry’s publication. hlm. 482.

Selama masa pembuangannya di Sawahlunto, ia pernah menjadi kepala tambang di salah satu lubang tambang batu bara.[2] Ajaran ini mulanya tak dilarang Pemerintah kolonial Namun ketika pengikutnya bertambah banyak dan Samin diangkat oleh pengikutnya sebagai Ratu Adil dengan gelar Prabu Panembahan Suryangalam pada tanggal 8 November 1907, maka pemerintah kolonial Belanda menjadi was-was sehingga Samin Surosentiko akhirnya ditangkap dan dipenjara di Nusakambangan sebelum akhirnya dibuang ke Sawahlunto bersama tujuh orang pengikutnya untuk menjadi pekerja paksa di tambang batu bara.

Liputan6.com (2016-04-14). “Mitos Samin Surosentiko Tak Bisa Mati”. liputan6.com. Diakses tanggal 2019-08-03.
^ a b c Nasional; Polhukam; Olahraga; Bisnis, Ekonomi; Otomotif; Ragam; Pendidikan; Sosial; Pariwisata. “Samin Surosentiko, Simbol Perlawanan Buruh Paksa dari Sawahlunto”. Antara News Sumbar. Diakses tanggal 2019-08-03.

Samin Surosentika tak diketahui makamnya. Dalam sejarah lisan, ia meninggal di Sumatera Barat, setelah Belanda menangkap dan membuangnya ke Digul dan Padang Penelusuran Liputan6.com, jenazah Samin Surosentika dimakamkan di pekuburan orang rantau di Tanjung Putri, Sawahlunto, Sumatera Barat. Makamnya tanpa nama hanya angka -angka. butuh pembuktian ilmiah untu pastikan makam Samin Surosentika.Terlepas dari keberadaan makam Samin yang misterius, ternyata di sejumlah lokasi beredar mitos Samin tidak pernah mati. Itu pula sebabnya Belanda ke Digul dan Padang karena Samin tak bisa dibunuh di tanah Jawa.

Gunawan Budi Susanto, budayawan dan penulis asal Blora yang masa kecilnya dihabiskan bersama masyarakat Samin, menyebut bahwa mitos itu menandakan Samin akan tetap hidup.”Menggunakan logika saat ini, yang dimaksud Samin jelas bukan Samin sebagai sosok. Namun yang diajarkannyalah yang tak bisa dibunuh,” kata Kang Putu, panggilan akrab Gunawan Budi Susanto, kepada Liputan6.com, Kamis (14/4/2016).

Sejumlah orang menyebutkan hingga kini di Riau orang masih bisa melihat kemunculan wajah Samin di beberapa rumah makan Pad

Sejauh inimasyarakat masih menganggap Samin Surosentika adalah pelopor ajaran sesat. Meski demikian, makin banyak orang menyadari bahwa persepsibitu salah.
“Nama Samin Surosentiko memang tidak pernah ada di buku sejarah Indonesia. Kalaupun ada, orang yang pernah mendengar, mereka sudah tercuci otak. Coba tanyakan, rata-rata mereka akan menganggap bahwa wong Samin itu berarti orang gila,” kata Kang Putu. Dalam berbagai literatur yang ada, terminologi “wong Samin” sempat berkonotasi negatif. Yang mengembuskan tak lain adalah penjajah Belanda dan pemerintah Indonesia sendiri. Sebab, ajaran Samin Surosentiko selalu menentang segala jenis esewenang-wenangan.

Pada era Belanda, pengikut Samin alias wong Samin selalu menolak membayar pajak dan memberi upeti. Kesal dengan ulah ini, Belanda menyebarkan kabar bahwa pengikut Samin yang tersebar di Blora, Pati, Bojonegoro, Rembang, Kudus, adalah orang gila. Tujuannya agar rakyat lain tidak mengikuti ajaran mereka.

Apakah tuduhan itu berhenti saat Belanda meninggalkan Indonesia?Ternyata, hal itu ini terus berlanjut. Ketika kebun jati di sekitar Blora dan Pati berganti kepemilikan, yakni dari Belanda ke Perum Perhutani milik pemerintah, perusahaan itu berusaha mengekspansi lahan warga sekitar.Sikap pengikut Samin tetap sama. Mereka menolak tanah leluhur mereka dikuasai pemerintah. Lantas, kembali dihembuskan bahwa Samin adalah orang gila, pengikutnya orang tolol. Lama-kelamaan istilah “wong Samin” identik dengan orang gila dan tolol. “Dasar Samin kowe!” (dasar orang Samin!) adalah contoh makian yang dipakai untuk menghancurkan kredibilitas para pengikut Samin. Para Saminista ini akhirnya memilih istilah yang lebih bersahabat, yakni sedulur sikep atau wong sikep

Kang Putu bercerita ia pernah mencari tahu tentang sikap naif warga Samin. Salah satunya dalam persoalan membayar pajak. Menurut dia, 40 atau 30 tahun lampau, bisa jadi warga Samin masih menolak membayar pajak atau kerja bakti.Dengan kerendahan hati perangkat desa menggunakan “tembung sing pener” (istilah lyang tepat), mereka bisa mengambil hati warga Samin.

“Perangkat desa tak akan meminta mereka membayar pajak tanah. Perangkat akan ngomong ‘njaluk dhuwit kanggo mbangun desa’ (minta uang untuk membangun desa). Dengan kalimat itu warga Samin ikhlas memberikan uang senilai yang tertagih,” kata Kang Putu.Bahkan uang yang disetor sering melebihi tagihan. Saat ini mereka sangat proaktif. Kewajiban membayar pajak, misalnya, kerap kali mereka tunaikan bahkan ketika warga lain belum sempat memikirkan. Bahkan ketika surat tagihan PBB belum terbit.Mereka terlibat aktif dalam kerja bakti, gotong royong, sambatan, membangun apa saja, bagi kepentingan bersama. Mereka kini sudah lebur, membaur, dengan keseluruhan warga masyarakat.”Sulit membedakan mereka dari warga lain. Karena itulah tak tahu lagi berapa jiwa anak keturunan orang Samin yang tinggal di Klopoduwur,” kata Kang Putu.

Margomulyo, 11 September 2019
Patembayan CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.