1
1 share, 1 point

Keprihatinan “Karhutla”

Oleh : M. Dwi Canon

Jangan bermain api,
bakalan terbakar nanti.
Bong, obong, obong, obong, obong.
Kobong maning, kobong maning.

A Api, Berkah dan Bencans

Alam semesta (jagad, kosmos : makro maupun mikro) disusun oleh 5 (lima = panca) elemen besar/utama, yang karenanya disebut “Pancamahabhuta”, terdiri atas : (1) akasa (eter, rang angkasa), (2) bayu (udara(, (3) teja (api), (4) apah (air), dan (5) pratiwi (tanah). Salah satu elemen utama tersebut adalah api (istilah Jawa Kuna ” teja, api, geni, agni, dahana, beams”). Dengan demikian, maka kapanpun dan dimanapun api akan senantiasa ada di jagad raya. Api tidak dapat ditiadakan oleh manusia Yang memungkinkan adalah upaya untuk mengelola api, supaya api memberi kemanfaatan, dan sebaliknya bisa terhindarkan dari kerusakan, kehancuran, atau kebinasaan lantaran api.

Salah satu sifat dan dampak dari api adalah pralina. Secara harafiah, kata “pralina” berarti :larut, hilang, padam, habis, mati (Zoetmulder, 1995:842). Dalam arti ini, api memiliki daya untuk menghacurkan yang utuh, meniadakan yang ada, atau membinasakan yang hidup. Kekuatan api dapat menghancurkan, melebur, memusnahkan segala sesuatu. Apa saja bisa rusak, hancur, lumat, lenyap, ataupun binasa karena dilalap api. Namun sebaliknya, api juga dapat memberikan kefaedahan bagi makhluk hidup. Masaknya makanan, mendidihnya air, terang bagi gelap, terbentuknya perangkat dari logam pada pande, berkerjanya mesin, dan banyak lagi yang lainnya adalah ragam berkah dari api. Dengan kata lain, api di satu sisi memberikan berkah, namun pasa sisi lain bisa menumpahkan bencana bagi manusia. Api dengan demikian adalah “berkah dan bencana”.

Manusia di dalam kehidupannya mempersepsi, memaknai dan mendagunakan api. Terhadap kemungkinan bencana yang bisa ditimbulkan oleh api, manusia mensikapi dan memperlakui api dengan kehati-hatian, sebagaimana dalam dalam pepatah “jangan bermain api, terbakar nanti”. Suatu peringatan untuk tidak bermain-main dengan api, oleh karena ada resiko destruktif atas kekurang- seksamaan dalam penggunaan api. Sebaliknya, dengan mendayagunakan api secara bijaksana, niscaya tak sedikit manfaat yang dapat iperoleh dari api. Bagi manusia sebagai makluk budaya, api tak sekedar dipersepsi sebagai unsur fisis alamiah, namun difahami sebagai “daya (force)”, bahkan salah sebuah “supernatural forces (kekuatan alam yang luar bisa) ” yang dihadirkan ke dalam konsepsi religisnya. Api diperdewa sebagai “dewa api”, api diposisikan sebagai perantara manusia dengan dewata sebagai penghatar sesajian dan korban, ada api yang dikonsepsi sebagai “api suci (holly fire)”, ada juga puja-mantra khusus untuk api, dsb. Demikianlah, api merupakan suatu komponen dasar jagarraya yang penuh makna.

B. Kisah Kehancuran karena Api

Mitologi Kristiani maupun Islam, sebagaimana tertulis dalam Kitab Kejadian di Al Kitab Ibrani, Perjanjian Lama di Al Kitab Kristen dan kitab suci Al Quran, dikisahkan mengenai dilalapnya dua kota besar, yakni Sodhom dan Gamoro[h] (Amora), karena murka Allah atas dosa-dosa warganya dengan menurunkan hujan belerang dan api. Gambaran mengenai kota — tepatnya ibu kota kerajasn, yang terbakar juga terkisah dalam wiracarita Ramayana, yakni terbakarnya istana Alengka akibat sulutan api yang berasal dari ekor raja kera Hanuman. Dalam kisah yang pada pewayangan Jawa diberi judul “Anoman Obong” ini, dikisahkan bahwa setelah Hanuman berhasil ditangkap dengan mengunakan panah rantai yang dilepas oleh Indrajid (Megananda), yakni putra Prabu Dasamuka (Rahwana), lalu kera putih [H]anoman dihadapkan kepada raja Rahwana. [H]anoman mendapat hukuman mati dengan cara dibakar (diibong) Namun, berkah kesaktiannya berhasil melepaskan diri, lantas mengamuk. Ekornya yang terbakar dikibaskan ke segala arah, yang membuat keraton Alengka terbakar hebat. Banyak prajurit gugur. Setelah Alengka terbakar, [H]anoman pun melanjutkan perjalanan kembali untuk menghadap Rama di Pancawati.

Peristiwa terbakar hingga hancur luluh ibukota kerajaan, tepatnya ibukota kerajaan (kadatwan) Mataram masa pemerintahan Dhammawamsa Tguh, diberitakan di dalam prasasti Pucangan (disebut juga “Prasasti Calcutta”) bertarikh 1041/1042 Masehi, yang memberitakan : Haji Wurawar maju menyerang dari Lowram (mijil sangke Lowram) terhadap kadatwan (ibu kota kerajaan) Mataram pada tahun 1017 Masehi. Serangan tiba-tiba itu bertepatan waktu dengan kawiwahan Airlangga dan saudara sepupumya (putri Dharmmawangsa Tguh). Bencana yang luluhlantakkan istana Mataram. Demikian hebat kehancuran yang diakibatkan, hingga dampak serangan itu dipadankan dengan “mahapralaya”, yakni kehancuean dunia pada zaman Kaliyuga

Prasasti Pucangan menggambarkan dampak serangan tersebut secara hiperbolik dengan “pulau Jawa tampak bagai lautan [api], banyak pembesar y meninggal, pertama-tama adalah Sri Maharaja (Dharmmawangsa Tguh), yang lalu dicandikan di dharmmawangsa parhyangan di Wwatan pada bulan Castro tahun 939 Saja (21 Market – 21 April 1017 Masehi). Serangan yang disertai pembumi- hangusan juga dilakukan oleh Airlangga terhadap musuh-masuhnya. Prasasti Pucangan beritakan serangan Airlangga terhadap Bhismaprabhawa dan Adhamapanuda. Istana nereka musnah tanpa tersisa sedikitpun pada tahun Saka 953 (2031 Masehi). Raja Airlangga yang unggul itu berulang kali membakar kota- kota kerajaan di bagian selatan, yang dipimpin oleh seorang perempuan yang kuat perkasa bagai raksasi tahun Saka 854 (1032 Masehi). Pada saat itulah nama raja [Airlangga] kian harum, lantaran menaklukkan dan membakar daerah Jawa bagian selatan, bagaikan seekor naga api dengan lidahnya mernjilat ke kiri ke kanan (Kern : VG. VII. 1917).

Demikianlah suatu gambaran peperangan pada masa Jawa Kuna, yang acap disertai dengan “pembumihangusan”. Itu sebabnya mengapa jejak istana Jawa Kuna, yang sebagai besar komponen bangunannya tak tahan api, kini tidak ada yang terwariskan dalam kondisi utuhan, karena telah dilalap api ketika terjadi serangan. Hal serupa menimpai kadatwan Majapahit di Wilwatikta sebagai akibat Perang Paregreg antara Kedaton Kulon dan Kedaton Wetan, yang keduanya hanya berseberangan jalan (1402 – 1406 Masehi) maupun musnahnya kadatwan Singhasari lantaran serangan Jayakatwang (1292 Masehi) yang boleh jadi juga disertai dengan pembumihangusan. Pustaka gancaran Pararaton memberitakan bahwa Kretanegara meninggal bersama dengan para Brahmana. Serupa itu diberitakan oleh prasasti Gajahmada dari Candi Singhasari (kini dkoleksi Museum National) bahwa dalam serangan itu turut pula meninggal para Brahmana Siwa dan Sogata. Sang Mahawreddhamantri pun turut terbunuh (Brandes, 1909:38). Informasii ini berserupa dengan serangan yang dilakukan Haji Wurawari terhadap raja Dharmmawangsa Tguh pada tahun 1017 yang menewaskan para pembesar kerajaan, bahkan istana Mataram di Wwatan terbakar api lantaran pembumihangusan.

Kisah tentangkebakaran hebat juga didapati dalam wiracarita Mahabharatta, yang dalam pewayangan Jawa dihadirkan dengan lakon ” Bale Sigala-gala”. Dikisahkan bahwa Kurawa selalu ingin hancurkan Pandawa dengan berbagai cara, termasuk cara curang. Untuk itu Kurawa mengundang Pandawa beserta Ibunya untuk melakukan perayaan atas kesuksesan Pandawa. Namun dibalik itu terselip jebakan, dimana makanan dan minuman yang disajikan sudah diracik khusus sehingga yang memakannya bakal tidak sadarkan diri secara perlahan. Setelah itu Kurawa merencanakan untuk membunuh dengan cara membakar alun-alun tempat perjamuan dilangsungkan, agar terkesan terjadi kecelakaan. Pandawa beserta Ibunya diskenario tewas di dalam kebakaran itu. Namun, berkat kewaspadaan Bhima yang mampu menahan dirinya untuk tidak tergoda oleh pesta pora yang menjebak itu, tetap mempunyai kesadaran untuk memperhatikan apa yang tengah terjadi. Demikian kebakaran terjadi, Bhima mengangkat tubuh dari saudara-saudaranya yang telah tidak sadarkan diri untuk diselamatkan dari kobaran api. Kisah ini menggambarkan betapa api dapat melumatkan apa saja. Suatu kejadian mengerikan, yang bisa terjadi kapan pun dan dimana pun, entah terjadi karena disengaja ataukah tidak.

Peristawa kebakaran juga dikisahkan dalam relief “Kresnayana”di tubuh Candi Jajaghu (Jago) dan pada teras II candi induk Penataran. Adegan pembuka ini mengkisahkan tentamg pembakaran Kalayawana oleh api amarah dari Rsi Mucukunda. Adegan ini berkenaan dengan pupuh lII Kakawin Kresnayana karya Pu Triguna dan kisah di dalam Bhagawatpurana maupun Mahabharatta mengenai peperangan Kresna melawan raja Yawana bernama Kalayawana (putra brahmana bernama Gangga) berwujud raksasa dengan tubuh hitam (kala = hitam). Kalayawana kerap menyerang Mathura, tempat kediaman Kresna. Untuk menghadapinya, Kresna menggunakan tipu musllihat. Caranya, Kresna memancing agar raksasa Kalayawana mengejarnya masuk ke dalam Goa di lereng Gunung Himawan, tempat dimana Mucukunda beristirahat. Berkat jasanya membantu Dewata, Mucukunda (putra Mandata dari Dinasti Surya) mendapat anugerah dari Dewa Indra berupa tidur lelap dalam jangka waktu sangat panjang. Barang siapa mengusiiknya, maka bakal terkena amarah, yakni terbakar oleh api dari matanya hingga hancur menjadi abu. Kalayawana mengejar Kresana ke dalam gua sembari bersuara keras sehingga membangunkan Mucukunda. Lantaran ruang gua gelap gulita, manakala menyandung jasat tertidur, disangkanya sebagai tubuh Kresna yang tengah bersembuyi. Maka ditendanglah tubuh itu. Padahal, tubuh tersebut adalah tubuh Rsi Mucukunda yang beristirah sambil tiduran. Sontak marahllah Rsi Mucukunda. Tepancar api dari matannya, dan hancurlah Kalayawana.

Pembaran dengan api yang tepancar dari mata itu mengingatkan kita kepada kisah di dalam Kakawin Smaradahans (Api Asmara) karya Pu Dharmaja, yang mengkisahkan tentang Dewa Kama dan Dewi Rati yang dibakar dengan api yang terpancarkan dari mata ketiga (trinetra) Dewa Siwa. Pancaran api dari mata ketiga Siwa itu menjadi petunjuk tentang kaitan Siwa dengan api, sehingga ada sebutan “Siwa-Agni”. Jasad Dewa Kama dan kemudian Dewi Rati lenyap dilalap api Siwa. Pada sisi lain, panah bunga yang dilepaskan Kama ke hati Siwa yang tengah gentur beryoga mamou membakar rasa cinta (asmara, kata Jawa Kuna dan Jawa Tengahan “smara”). Demikianlah, Kakawin Smaradahans memuat kisah kedewataan yang berhubungan dengan api (dahana).

Selain dibakar oleh pihak lain, kenatian akibat terbakar api bisa juga disebakan oleh kemauan sendiri untuk mengakhiri hidupnya (bunuh diri) dengan membakar diri. Dalam sejumlah karya sastra Jawa Kuna dan Tengahan diberitakan tentang apa yang diistilahi dengan “[a]labuh geni” atau “malbeng (malebu ing) geni”. Palaku ritus ini adalah para wanita yang menyertai mati suaminya (serupa tradisi “sati” di India) dengan terjun ke dalam api unggun (pancaka). Gambaran demikian juga didapati dalam relief Ariddharma di tears I Candi Jago, yakni Dewi Satyawati yang terjun ke dalam api unggun, karena marah pada suaminya (Ariddharma, disebut juga dengan “Anglingdarmo”) yang tidak mau berterusterang terhadap istrinya Dalam Kskawin Ramayana pun Demi Sita juga dikisahkan sebagai terjun ke dalam api unggun demi menjalani “uji kesucian” setelah beberapa lama disekap di istana Alengka oleh Rahwana.

Tidak ada api yang lebih mengerikan selain api neraka. Perihal ini antara lain dijumpai ilustrasi visualnya dalam relief Mahakarnawibhangga di Candi Boribudur dan relief Kunjrakarna di teras I Candi Jago. Sebagai tempat penyiksaan bagi orang-orang yang berdosa, neraka dilengkapi dengan api, yang disebuti “api neraka”. Tempat merebus orang-orang yang berdosaberwujudrer kawah besar (jedi). Pada relief di Candi Jago, kawah itu bentuknya menyerupa bulan sabit (candra) yang ditempatkan di punggung sapi (goh), sehingga disebut dengan “Candragohmukha (di dalam pewayangan dinamai “Cabdrodimuko”). Para pendosa direbus di dalam kawah, yang dipanaskan dengan kayu bakar menyala-nyala. Api neraka juga terdapat di dasar jurang, yang antara seberang satu dengan seberang lainnya terbentang “wot ogal-agil (jembatan labil)” atau “titi gonggang (jembatan dengan alas pihak tak terisi benar), yaitu media seleksi untuk menuju ke nirwana. Para pendosa terperosok atau terlempar ke dalam api neraka di dasar jurang,.

C. Kebakaran Hutan, Dulu dan Kini
1. Ragam Sebutan dan Konteks Penyebutan Api

Kata ” api” dalam bahasa Undonesia kedapatan pula dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan dalam arti yang sama. Istilah ini tidak hanya dipakai untuk unsur fisis alamiah, namun juga pada konteks religi. Kata jadian “angapi, ingapi” berarti : mensucikan (dengan api) (Zoetmulder, 1995: 55). Dalam bahasa Jawa Baru ada istilah untuk api, yaitu “geni”. Istilah ini juga telah terdapat dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan, yaitu istilah yang lebih muda dari api. Apa yang besar, yakni api unggun, dalam konteks religi digunakan untuk pelaksanaan ” sati”, yaitu tradisi dimana wanita — utamanya istri, yang mentertai suami di dalam kematian (bela pati). Selain dengan cara menusukkan sengaja tajam ke dada pelakunya sati, bela pati dapat pula dilaksanajan dengan terjun ke dalam api unggun (pancaka). Tindakan altruistik itu karenanya di istilah dengan “labuh geni” atau “lebu geni” ataupun “malbeng geni (malebu ing geni) “.

Istilah lainnya adalah kata serapan dari bahasa Sanskreta, yaitu “dahana”, yang mempunyai beberapa arti : api, Agni, pembinssaan oleh api, pembakaran (Zoetmulder, 1995:187). Kata ini acap juga hadir sebagai kata gabung, seperti acala- dahana (parwatadahana, agniparwata, giridahana = gunung berupa), analadahana, kandhawadahana, madanadahana, smara- dahana (api asmara), sthandiladahana), serta trirajyadahana. Kata ” Dahana” juga sebutan lain untuk Brahma dan kerajaan Daha (Kadiri, Pangjalu = Dahanarajya). Salah satu kakawin yang ditulis oleh Pula Dharmaja pada masa Kadiri era pemerintahan Kameswara berjudul “Smaradahana”, yang berkusah tentang api cinta yang membakar rasa asmara Siwa dan api dari nata ketifa (trinetra) Dewa Siwa yang membakar diri Dewa Kama dan Dewi Ratri sebagai pandangan Dewa Asmara.

Kata lain yang juga berarti api adalah ” Brahma” atau “brama (Jawa Baru “bromo”). Salah satu anak dari Gunung Tengger — selain Gunung Batok” — adalah Gunung Bromo. Mendapat sebutan “Bromo” karena gunung ini adalah gunung berapi (vulcan) aktif. Dalam prasasti Muncang (944 Masehi) diberitakan bahwa dewata yang dipuja di prasada kabhaktyan Sudayoga di Walandit adalah sang hyang Swayambhwa, dimana “Swayambhwa (lengkapnya “Swayambhwa”) adalah nama lain dari Dewa Brahma. Bangunan suci Walandit amat mungkin berlokasi di Dusun Blandit Desa Wonorejo Kecamatan Singosari Kabupaten Malang, yang liokasinya di sisi barat-daya Gunung Tengger, tak jauh dari ” Gunung suci” Bromo. Ritus pemujaan terhadap bhattara I Walandit tiadalain adalah pemujaan pada Sang Hyang Swayabhu[wa], yakni dewa yang menaungi Gunung Bromo, sebagai ikhtiar untuk meredan murka (ugra) dahanaparwata (vulcan) Bromo. Ritus ini dapat dibandingkan dengan pemujaan kepada Bhattara Palah yang disebut dalam prasasti Palah (1197 Masehi). Bhattara Palah adalah apa yang pada kakawin Nagarakretagama dinamai “Hyang Acalapati”, yang dipuja oleh Haha Wuruk di Candi Palah (Penataran), yakni Dewa Siwa sebagai penguasa api (Siwa-Agni), yang bersemayam di puncak Gunung Kampud (Kelud). Analog dengan ritus di Walandit untuk meredan murka Gunung berapi Bromo, ritus di Candi Palah ini samgat mungkin untuk redam murka Gunung Api Kelud.

Yang terbilang banyak digunakan adalah kata “agni”, yang menunjuk pada : api atu Dewa Api (Zoetmulder, 1995: 13). Istilah ini acap tampil sebagai kata gabung, baik dengan kata yang ditempatkan sebelum ya (misal “eka-agni, sara- agni, Siwa-agni, traya-agni, tri-agni) atau kata tertentu yang mengikutinya. Kata-kata gabung ini dapat memiliki arti profan, seperti agnibana (panah api), agnihara atau agni-ahara (hanya makan asap api — seperti pada pertunjukan kuda lumping), agnibhaya (bencana api), agni- parwata (gunung api), agnida (pemberi api, pembakar), agni Maya (terdiri dari api), agni- warna (dengan warna api). Ada pula sejumlah kata gabung, dimana agni dalam konteks ini mempunyai arti sakral atau terkait dengan aktifitas keagamaan, seperti agnibrata (cara Agni), agnidharana (pembuatan fikiran kepada Agni), agnihotra (pujian atau saja kepada Agni, terutama air sisi, minyak dan bubur asap), agni- banana (penglahiran api — bersinonim dengan agnihotra), Agni kata (menyatakan api korban dengan mentega cair), agnistoma (pujian Agni, seperti upacara atau korban yang berlarut- larut), dan agnitarpana (korban untuk Agni). Dalam pantheon Hindu, Dewa Agni adalah salah satu diantara dmelatan dewa penjaga penjuru matan angin (hastadikpalaka atau lokapala), yang menempati arah Tengahan (tejovatī).

Dengan adanya sejumlah sebutan untuk api itu, yang masing-masing memiliki arti dan konteks penyebutan yang bermacam-nacam, baik yang bermakna profan ataupun sakral, memberi kita petunjuk bahwa api diposisikan penting dalam kehidupan manusia. Istilah khusus berkenaan dengan bencana (bhaya = budaya) kebakaran adalah “agnibhaya”. Suatu kebakaran hebat yang menbawa ereka kerusakan, kehancuran, kemusnahan dan kematian adalah bencana atau kindisi yang berbahaya.. Wujud bencana lantaran terbakar api adalah kebakaran hutan dan lahan (disingkat “karhutla”).

2. Kebakaran Hutan dalam Peristiwa Sejarah

Hutan terbakar bukan hamya jejadian di masa kini. Pada masa lampau pun, bencana dalam bentuk kebakaran hutan dan lahan (disingkat “karthutla”) telah pernah berlangsung. Prasasti Katinden I (1314 Saka = 24 Market atau 24 April 1392 Masehi) dan prasasti Ketindan Ii atau Prasasti Lumpang (1317 Saka = 17 Juli hingga 15 Agustys 1395 Masehi) memuat berta tentang kebakaran hutan, yang boleh jadi kebakaran tahunan di Gunung Arjuna akibat terbakarnya ilalang (halalang, bahasa Jawa Baru “langlang”). Kebakaran hutan demikian terjadi tanpa kesengajaan atau bukan karena ulah sengaja manusia untuk membakar hutan. Dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan ada istilah ” tune”, yang berarti : menuju, terbakar berkibar, membakar diri (Zoetmulder, 1995: 1295). Kebakaran itu bisa terjadi karena kayu yang terbakar, seperti pada perhatian “………. kayu geseng katunwan (Sumanasantaka 236.). Apa yang terbakar bisa juga gelagah, seperti pada perkatasn “tuwan-tunwan galagah ika judul/……..(Sutasoma 13.3). Menganut, ilalang dan gelagah adalah tananan rerumputan yang tentang mengalami kebakaran pada musim kemarau.

Pada masa lalu tidak semua kebakaran hutan terjadi lantaran sebab alamiah, namun bisa juga sengaja dibakar dalam mengawali masa tanam. Dalam model peladangan berpindah dan ekstensifikasi pertanian, teknik slash and burn (tebang bakar) acap dilakukan oleh para petani tradisional sejak Masa Becocok Tanam di Zaman Prasejarah. Hanya saja, hutan yang dibakar dalam luasan yang terbatas, tak sampai puluhan hingga ratusan hekrar. Selain itu pada umumnya petani di tepian hutan mempunyai teknik tradisional untuk mencegah meluasnya areal hutan terbakar. Meski telah menteadisi, namun mengingatkan akan resiko atas pembakaran yang tak terkendali, ada baiinya slah and burn ditinggalkan dan selanjutnya diganti dengan model lain yang tidak beresiko terjadinya kebakaran hebat di areal hutan.

Luas areal tebang-bakar yang dilakukan oleh para petani tepian hutan tidak seluas yang dirambah oleh pengusaha perkebunan, yang mencapai luas ratusan hingga ribuan kektar Apa yang dilakukan itu, yang berdampak langsung kepada kesehatan manusia adalah kejahatan publik, karena orang yang terpapar oleh kabut asapnya dapat mencapai jumlah yang amat banyak, tidak pedul melanda anak-anak, orang dewasa ataupun lansia. Hari demi hari dalam Karen waktu yang cukup lama warga menghirup asap akibat pembakaran hutan. Bahkan areal terbakar bisa merambah ke permukiman dan fadiltas vital.

3 Antisipasi dan Mutugasi Kebakaran Hutan

Pada satu sisi kebakaran yang menghancurkan dan melenyapkan bisa berlangsung demikian cepat, sedangkan pada sisi lain untuk menghasilkan suatu sosok yang terbakar itu butuhkan waktu berbulan- bulan bahkan bertahun-tahun. Pohon- pohon hutan yang dengan cepat lumat dilalap api tersebut butuh waktu belasan hingga puluhan tahun lsmanya bagi pertumbahan dan perkembangannya. Puluhan hingga ribuan pohon berusia panjang lenyap hanya dengan sesaat terbakar api. Padahal, hutan merupakan tempat tinggal atau habitat dari tumbuhan dan binatang (flora- fauna), sehingga rusak hingga lenyapnya ekosistem hutan adalah rusak dan lenyapnya ajang hidup flora-fauna setempat. Kebakaran dan pembakaran hutan memiliki dampak internal seperti dibicarakan dibatasi, namun dapat juga memiliki dampak eksternal Terlebih lagi bila kebakaran hutan itu berlangsung setiap tahun di tempat sama, dan ironisnya karena penyebab yang relatif sama, seperti pepatah “terperosok ke dalam lubang yang sama”. Berarti ada sikap dannyindakkan yang tidak bijak ekologis, tidak sigap bermitigasi terhadap kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

Satu hingga dua bulan terakhir marak tersiar kabar mengenai dampak eksternal kebakaran hutan, utamanya di Sumatea dan Kalimantan. Malahan, dampak eksternal dari kabut asapnya meluas hingga ke negara jiran Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalam. Daerah-daerah lain di pulau Sumatea dan Kalimantan, yang hutannya tidak terbakar, tak pelak turut terpapar kabut asap, seperti pepatah Jawa “ora mangan nongkone, nanging melu keno pulute (tak turut menikmati buah nangkanya, tapi ikut terkena getahnya)”. Bahkan pada minggu-minggu terakhir dampak kabut asap mencapai tingkat akut. Celakanya, pergerakan asap memang “tak terbendungkan”, sehingga kabut-asap akibat kebakaran atau pembakaran hutan boleh jadi menjangkau areal yang amat luas, tergantung dari tingkat kepekatan asap dan arah anginnya Pembakaran hutan adalah “kejahatan kolektif”. Meskipun pelakunya hanya seorang, sekelompok orang, atau suatu lembaga usaha, namun dampak atau paparannya bisa saja menimpai publik, termasuk flora-fauna penghuni hutan yang habitatnya mengalami kerusakan dan bahkan kemusnahan itu. Untuk itulah diperlukan ikhtiar mitigatif untuk mecegah maupun mengatasi kebakaran hutan.dan lahan

Sebenarnya, kesigapan bermitigasi terhadap kemungkinan kebakaran hutan telah diberikan contoh teladannya oleh prasasti Ketindan I dan II, padamana pemerintah kerajaan era Majapahit menganugerahkan (waranugraha) status “perdikan (sima, swatantea)” kepada belasan desa (thani) di Gunung Lejar — membentang antara Lawang hingga Batu di Malangraya, sebagai ” reward (ganjaran)” atas kontribusi warga desa-desa tersebut dalam mensiagai serta mengatasi kebakaran hutan di lerang Gunung Ajuna lantaran ilalang (halalang) yang terbakar di musim kemarau. Warga dari desa-desa itu adalah orang-orang berada di garda depan, yang semestinya paling sigap terhadap bencana tahunan kebakaran hutan di sekitanya.

Model masa lampau yang diteladankan oleh isi prasasti Ketindan I dan II relevan kiranya untuk diterapkan di masa kini dan mendatang. Warga yang bermukim di tepian hutan pada satu pihak diembani tugas khusus menjaga hutan sekitar dari bencana kebakaran pada musim kemarau. Untuk itu, mereka perlu diberi pelatihan khusus dalam memadamkan kobaran api serta melengkapi modal ketrampilan traditional yang telah mereka punyai dalam hal memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, desa-desa tersebut musti pula dilengkapi dengan perangkat pemadam kebakaran hutan dan memperbayak sumber atau tandon air di desanya. Organisasi sosial lokal — semacam Tim penanggulangan “agnibhaya” diibentuk di tingkat desa ataupun dusun. Selain itu perlu ditetapkan Perdes (Peraturan Desa) untuk melindungi hutan dari pembakaran sengaja, baik oleh warga desa besangkutan ataupun pihak luar desa yang turut merambah areal hutan di sekitarnya. Pada sisi lain, pihak pemerintah memberikan “reward” tethadap desa atau warga desa yang berperan nyata pada penanggulangan kebakaran hutan.

Demikianlah tulisan ringkas tentang bencana kebakaran yang terjadi karena kealpaan dalam menangani api. Bencana yang disebakan oleh api dapat diisitilahi dengan “agnibhaya” atau “dahana bancana” , ang antara lain berupa kebakaran hutan dan lahan. Suatu bencana langganan pada musim kemarau di Indonesia. Kebakaran yang meludeskan hutan itu menyebakan tahun demi tahun areal hutan lestari di Indonesiai “menciut”. Kebakaran hutan yang terjadi karena faktor alamiah dan pembakaran hutan yang sengaja dilakukan oleh manusia serta pembalakkan hutan kian sempurnakan kerusakan ekologis di negeri yang konon “ijo royo-royo” Ini. Semoga ke depan negeri ini dapat segera keluar dari kungkungan bencana hutan terbakar. Nuwun.

Sangkaling, 16 September 2019
Griya Ajar CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.