Hari Batik Nasional
Rabo, 2 Oktober 2019

Ken Dedes, yang diberhalakan sebagai Vidyadewi Prajnaparamita di Candi Putri, adalah sebuah “ikon historis” Malangraya. Sekaligus ikonnya “Malang Batik Heritage”. Andai arca itu hidup, terbayanglah betapa putri Pu Purwa yang hayu anulus tersebut tampil jelita, gandes kewes luwes, dengan kain panjang dan sampur hias batik tulis. Ken Dedes adalah seseorang perempuan, berbusana batik tulis elok pada zamannya.
Engkau lah “IBU BATIK Nusantara Lama”

Oleh : M. Dwi Cahyono

Dalam sejumlah “lomba busana batik” telah dianugreahkan predikat seperti “Ratu Batik, Putri Batik, Gadis Batik, Remaja Berbatik, dsb.”. Predikat ini disandangkan kepada pebatik (pengena busana batik) di masa sekarang. Apabia batik telah ada dan dikenakan jauh di masa lampau, semenjak Masa Hundu-Buddha, maka figur wanita mana yang layak memperoleh predikat demikian? Dalam kaitan itu, patut dipertimbangkan untuk menyematkan suatu predikat “Ibu Batik Nusantara Lama” kepada kanya hayu (perempuan cantik) Masa Singhasari, yakni Ken Dedes binti Pu Purwa. Apa dasar pertimbangan bagi penganugerahannya?

A Identifikasi Relasional antara Ken Dedes dan
Arca Prajnaparamita

Arca Mahawidyadewi (Dewi Ilmu Pengetahuan Tertinggi) berwujud Prajnaparanita, yang oleh banyak ahli diidentifikasi sebagai “de potrait beelden (arca potret)” Ken Dedes digambarkan dengan mengenakan kain panjang bawahan (ken) bermotif hias batik. Dengan adanya arca Aditara yang diketemukan di situs Candi Putri pada Desa Pagentan Kecamatan Singosari maupun arca-aca lain semasa — baik yang kini berada di Museum National Jakarta maupun museum-museum lain di Mancanegara — utamanya di Negeri Belanda, ada bukti tidak terbantahkan bahwa batik tulis telah hadir riil di Malangraya pada era Singhasari (abad XIII Masehi). Unsur sebutan “putri” pada sebutan “Candi Putri” Itu mengisyaratkan bahwa di suatu areal pada Gang Pondok Bungkuk — yang kini telah berdiri rumah tinggal warga, konon pernah terdapat suatu bangunan suci (baca “candi”) berlatar religis Mahayana Buddhisme, dengan arca dewi utama (istadewata) Prajnaparamita, hyang Widyadewi. Sayang penangan terhadap Candi Putri begitu terlambat, sehingga monumen historis terkait dengan pendharmman bagi Ken Dedes tersebut akhirnya raib abadi. Itulah, akibat “kurang open” terhadap aset kulturalnya.

Arca yang merupakan “masterpice” seni-arca (ikonografi) Mass Hindu-Buddha itu tak perlu diragukan sebagai arca dari era Singhasari lantaran pengaruh tulisan Earl Drake “Gayatri Rajapadni”, dengan alasan : (1) berasal dari Candi Putri di Desa Pagentan – Singosari, (2) bergaya seni Phalla, yang berpengaruh kuat di era Mataram dan Singosari, serta (c) berbahan batu kapur (lime stone) yang asal batuannya boleh jadi dari Malang selatan — terdapat arca Prajnaparamita yang serupa di halaman Candi Singosari, yang sayang seksli telah demikian aus. Arca Prajnaparamita yang pernah sangat lama melalang di Negeri Belanda dan sekarang menjadi benda koleksi penting pada Museum Nasional di Jakarta itu sangat mungkin adalah “arca prwujudan” putri Ken Dedes, yang konon ditempatkan di salah sebuah candi pada areal dalam (watek i jro) dari kadatwan (kompleks istana) Singhasari pada era raja Wisnuwardhana dan Kretanegara, yaitu di Candi Putri, sebagai pendharmman (tempat pemujaan) bagi arwah Ken Dedes sebagai “IBU Mula” dari raja-raja di kerajaan Singhasari dan Majapahit. Candi Putri bisa kiranya diibaratkan sebagai “pura kaibon” di Bali, yakni tempat untuk memuja arwah “ibu mula” dari suatu keluarga luas (extebded family), yaitu keluarga para raja di kerajaan Singhasari maupun Majapahit.

B..Predikat “Ibu Batik” Buat Ken Dedes

Berdasar realitas bahwa arca Pajnaparamita, yang nota bene adalah arca perwujudan Ken Dedes, mengenakan busana batik pada kain panjang bawahan, sampur maupun bhanda (sabuk)-nya, maka cukup alasan predikati Ken Dedes sebagai “IBU BATIK Nusantara Lama”. Pada era Singhasari (abad XIII Mesehi) busana bermotif hias batik tulis terbukti telah hadir riil dalam khasanah seni busana, utamanya pada kaum ningrat di lingkungan istans Singhasari. Predikat terhadap manusia yang telah tiada (meninggal) keluhatabnya “naif”. Namun itu penting artinya, sebab ada dampak spiritualitas di dalamnya, yaitu daya picu bagi aktiifasi kirita batik di masa kini. Bukankah “gelar pahlawan” pun juga dibetikan kepada para kusuma banana yang telah mangkat.

Data ikonograafi malahan menunjukkan bahwa pemberian motif hias yang terbilang kompleks dan artististik dengan teknik batik tulis (anulis) pada tekstil (wastra) mula pertama hadir pada Masa Singhasari, yang makin berkembang pada Masa Majapahit. Terbayang bahwa kala itu di lingkungan dalam keraton (watek i jro) telah terdapat sejumlah warga dalam (warga I jro)) keraton, yang piawi atau yang memiliki kenampuan dalam berkriya batik tulis. Mereka itu serupa dengan “abdi dalem batik”, yakni tukang ahli (undahagi), yang meski konon jumlah pekriya dan para pemakai batik tulis masih terbatas. Batik yang pada mulanya hanya sebatas busana elite di kalangan ningrat Jawa, lambat laun dikenakan pula oleh warga luar keraton, meskipun karaktetr khususi batik keraton tetap memiliki cutra istinewa di masyarakat.

C. Resentealisasikan Batik Malang

Demikianlah, Malangraya pada Masa Singhasari adalah “mula dan sekaligus sentra kriya batik tulis”, dengan Ken Dedes sebagai sang “Ibu Batik”- nya. Sayang posisi “sentra batik” dari Malang itu telah sangat lama “menguap” dan digantikan posisinya oleh daerah-daerah lain di Jawa. Kini tiba saatnya kesentraannya dikembalikan, dengan disertai upaya yang serius untuk secara bertahap dan berlenjutan melakukan (1) eksplorasi unsur ornamentik batik, (2) meningkatkan kapabilitas para pekriya batiknya dalan mendesain motif hias batik, mencanthing, mewarnai, merancang, memroduksi kain serta busana batik, hingga memasarkan produk kain dan busana batiik khas Malang, dan (3) mem-branding- nya agar lebih dikenal luas oleh warga daerah lain maupun warga negara manca. Salah satu produk khas tersebut adalah apa yang penulis istilahi “Batik Heritage Malang”, yang berbasiskan peninggalan peradaban masa lampau yang berlimpah ruah di Malang dari lintas masa. Unsur-unsur ragam hias pada tinggalan budaya di Malang begitu Kaya dan beragam, yang tak habis-habis meski terus minerus dieksplorasi untuk dijadikan nya sebagai unsur desain batik heritage.

Jika Malangrraya mampu mengembalikan dan terlebih menguatkan sentralitas perbatikannya seperti di zaman lampau itu, serta mengayakan maupun meng-unikum-kan karakter lokal batik heritage-nya, tentu “Ibu Batik” Ken Dedes bakal bergirang hati, karena, berarti upaya rintisannya dalam berolah batik tulis tidak sia-sia.Semoga para pekriya dan pemerintah setempat tergerak untuk melaksanakan, sehingga membuahkan kebuktian (papakabhuktihi). Nuwun.

Sangkaling, 3 September 2019
Griya Ajar CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.