Makalah Seminar Arsitektur
Univ. Katolik Darma Cendika

Oleh : M. Dwi Cahyono

Nini loro moto “tambane bubukan boto”
Bopo yoso wismo ginawe tatanan boto.

A. Bata dalam Sumberdata Tekstual Masa Hindu-Buddha

Untuk membuat ragam bangunan, beragam bahan yang ada di alam sekitar, atau bahkan sengaja didatangkan dari tempat yang jauh, dipergunakan sebagai bahan bangunan. Salah satu bahan itu adalah tanah liat campur yang dibakar menjadi apa yang dinamai “bata”. Kata “bata” dalam bahasa Indonesia menunjuk pada tanah liat yang diaduk sampai halus, kemudian dicetak, dikeringkan, lalu dibakar (dipakai untuk membuat dinding dsb.), batu bata (KBBI, 2002: 111). Pada mula digunakan, yang menurut para ahli sejak 7000 SM, adonan tanah liat dicampur air — seperti lumpur yang diaduk hingga kental, lalu dicetak dengan cetakan kayu dan dijemur hingga kering di bawah teriknya sinar matahari. Meski tak dibakar, namun bata tersebut telah cukup kuat untuk hasilkan bangunan besar dan permanen. Bangunan itu serasa sejuk di siang hari, sebaliknya hangat di malam hari, karena bata lambat dalam menyerap panas matahari di siang hari dan lambat melepaskan panas di malam hari. Suatu prinsip arsitektural bangsa Mesir Kuno dalam berancang bangun.

Bata yang dihasilkan dengan jalan membakar balok bata yang telah dikeringkan baru hadir pada 3500 SM. di India, Romawi dan di Cina. Dengan jalan membakar balok bata tercetsk di dalam tungku bertemperatur tinggi, maka diperoleh material bangunan yang lebih kuat serta mampu untuk membuat bangunan tinggi. Bata yang dibakar menampilkan warna kemerahan, sehingga ada sebutan “bata merah” — untuk bedakan dengan bata tanpa dibakar yang cuma dijemur du terik mentari. Pada daerah tropis, yang separo tahun mendapat guyuran hujan, bata bakar cocok dengan karakter iklimnya. Bilamana bata mulai dipergunakan di Nusantara? Bata yang dipakai di Nusantara adalah jenis bata bakar, yang baru hadir pada permulaan tarikh Masehi, lantaran persebaran dan pengaruh budaya India. Pada zaman Prasejarah, meski pada Masa Bercocok Tanam dan Masa Perundagian telah dikenal arteak terakota, namun tak dididapati bukti bahwa bata telah dipergunakan. Oleh karena itu, amat mungkin bata baru dipakai di Nusantars pasca Zaman Prasejarah, yaitu di permulaan tarikh Masehi, bersamaan wantu dengan terjadinya difusi budaya dari India ke Nusantara. Dengan perkataan lain, manusia Nusantara mengenal teknologi buat bata dan penanfaatannya berkat pengaruh budaya India, yang pada dl tempat asalnya telah dikenal sejak 3500 SM. ketika berkembang peradaban di Lembah Indus.

Selain disebut dengan kata “bata” saja, acap pula ditambah kata “batu” menjadi “batu bata” atau ditambah dengan kata “merah” menjadi “batu bata merah”. Sebutan “batu bata” dipergunakan untuk bedakan dengan batu sebagai material bangunan yang lebih awat digunakan. Selain itu memberi kita petunjuk bahwa meskipun dibuat dari tanah liat bakar (terakota), namun mempunyai kekuatan atau tingkat keawetan yang hampir setara dengan batu, sehingga dengan sejumlah alasan bata digunakan sebagai pengganti material yang berupa batu kali (andesit), batu kapur (lime stone), padas keras (curing), dsb. Tukang bangunan, yang padahal dominan menangani material bata juga mendapat sebutan “tukang batu”, bukan “tukang bata”.

Sebagai istilah, sebutan bata telah kedapatan di dalam bahasa Jawa Tengahan, yang menunjuk kepada : (1) batu bata, (2) tembok (Zoetmulder, 1995:114). Istilaihbini terdapat dalam kakawin Arjunawijaya (3.2), Nagarakretagama (8.1, 37.3), Kidung Harsyawijays (4.92, 6.32) dan Kidung Malat (5.32), dan Kidung Ranggalawe (4.2). Selain itu disebut dalam sumberdata prasasti, yaitu prasasti Prapancasara (Verso 6) dari era pemerintahan Tribhuwanatunggadewi dan Biluluk II (verso 1) bertarikh 1385 Masehi. Dalam Nagarakretagama (8.1) disebut perkataan “bata bang”, yang di dalam bahasa Indonesia diistilahi dengan “bata merah”. Kata jadian “pabata” dalamnprasasti Biluluk II dipakai dalam konteks perpajakan, yaitu pajak terhadap bangunan dari batu bata. Hal ini memberi kita petunjuk tentang pajak bangunan, yang secara khusus dipungut terhadap bangunan berbahan bata.

Dalam bahasa Jawa Baru, bangunan dari bata diistilahi dengan “gedong”. Istilah ini digunakan untuk membedakan bangunan dari bahan lain, seperti bangunan dari bambu, yang diistilahi dengan “omah gefeg, sentono bethek, omah papan, dsb.”. Dalam bahasa Indonesia, kata ” Gedong” juga menunjuk pada gedung (KBBI, 2002:342). Misalnya, di Kota Kediri terdapat dua situs yang dinamai “sentono gedong” dan “sentono bethek” Selain itu ada varian sebutan “jedong (dari kata “gedong”) Untuk menyebut bangunan candi dari batu kali dan bata, yaitu Candi Jedong, yang terletak di Desa Watanmas (lengkapnya ” Watanmas Jedong) di Kecqmatan Ngoro Kabupaten Mojokerto. Ada pula situs di Lumajang Selatan, yang dinamai dengan “Gedongputri”. Sebenarnya kata “gedong” telah didapati dalam bahasa Jawa Tengahan, yang juga menunjuk pada gedongan (Zoetmulder, 1995:284), seperti terdapat dalam kakawin Kunjarakarna (6.4), kudung Malat (2.160), kidung Wasengsari (6.6, 5.38). Orang yang tinggal pada rumah gedong dinamai “wong gedongan”, yang menunjuk pada orang berada. Kata jadian “gedongan” berarti : bangunan rumah tempat tinggal yang batus.

Selain disebut “bata”, ada sebutan lain, yaitu “banon”, yakni istilah krami dari bata di dalam bahasa Jawa Baru, yang menunjuk pada bahan bangunan yang dibuat dari tanah liat berbentuk persegi panjang dan dibakar sampai menjadi merah. Ada suatu candi di daerah Malang yang bernama “Candi Banon”, yaitu reruntuhan Candi Hindu sekte Siwa yang dibangun pada kurun abad ke-8 sampai ke-9 Masehi masa kerajaan Mataram. Sesuai dengan unsur sebutannya, yaitu “banon”, candi yang terletak pada jarak sekitar 500 meter barat laut Candi Pawon ini terbuat dari bata Suatu fenomena arsitektural yang jarang ditemui di wilayah Jawa Tengah.

B. Keberadaan Bata pada Arsitektur Masa Hindu-Buddha

Pemahaman awan mengenai ilamana kehadiran material bangunan dari bata ditempatkan lebih muda daripada material batu. Bangunan bata acap diidentifikasi sebagai berasal dari masa kerajaan Majahapahit (1293-1527/28 Masehi). Nampaknya, pendapat demikian berpangkal dari kategorisasi seni-bangun candi ke dalam dua langgam (gaya seni) yang dikemukakan oleh R Soekmono (1973), yaitu : (1) candi berlanggam Jawa Tengahan (VII-XI Masehi), (2) candi berlanggam Jawa Timuran (XIII-XVI Masehi. Langgam transisi ditempatkan antara abad XII – XIII Masehi. Pada kategorisasi ini, candi berlanggam seni Jawa Timuran dinyatakan sebagai berbahan bata. Anggapan demikian menjadi anggapan umum, bahkan dipandang sebagai kebenaran historis.

Padahal, bahan bata atau batu tidaklah terkait langsung dengan langgam seni ataupun lapis masa, melainkan lebih kepada (a) ketersediaan jenis material batu di lingkungan sekitar, dan (2) kesakralan dari bangunan bersangkutan. Idealnya, candi yang adalah bangunan sakral menggunakan material yang tahan usia, seperti batu. Namun, batu kali (andesit), batu kapur (lime stone), atau batu padas keras (bahasa Jawa “curing” ) tak senantiasa tersedia cukup di lingkungan sekitar. Pada kasus demikian, maka bata berukuran besar dan tebal, dengan kwalita pembakaran matang yang tahan usia, digunakan sebagai pengganti material batu. Oleh karena itu, candi-candi yang berada di sub-DAS Hulu dan Hilir atau jauh dari areal gunung berapi (vulcan) cenderung gunakan material bata, atau visa juga kayu keras untuk dinding dan atap candi. Kalaupun batu dipakai, namun hanya untuk bagian tertentu, seperti untuk media pahat bagi ragam hias candi, batu pengunci (key stone), arca dewata, dsb. Untuk kategori bangunan profan, digunakan bahan bata untuk komponen fondasi, gapura, pagar, dsb. Sedangkan bagian lain menggunakan bahan yang tidak tahan usua, seperti kayu, bambu, ilalang, dsb., sehingga kini tidak lagi tersisakan jejaknya.

Salah satu pembukti bahwa bata telah dipakai sebagai material bangunan yang berusia tua, yakni sekitar VI hingga X Masehi (Jadar, 2020: 102-122), atau relatif semasa dengan kerajaan Tarumanegara, adalah jejak arsitektur berlatar religi Mahayana Buddhis di Situs Batuhaya Kabupaten Kerawang. Paling tidak terdapat 20 reruntuhan bangunan bata, yang tersebar di areal persawahan seluas 5 KM persegi. Situs lain yang relatif sezaman, yang juga berbahan bata adalah kompleks percandian Hindu situs Cibuaya di Pedes – Krawang, yang berupa reruntuhan kaki candi, yang oleh warga setempat dinamai “Lemah Duwur”. Ada pula reruntuhan candi dari bata pada Kampung Sukamaju Desa Sukajaya di Kecamatan Pamarican Kabupaten Ciamis, yang dinamai “Candi Binangun”.

Reruntuhan candi tua yang juga terbuat dari bata, adalah yang dijumpai sutus Muara Hambi dan Muara Takus. Situs Muara Jambi adalah kompleks percandian berlatar agama Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara (3981 Ha), yang diprakirakan adalah tinggalan kerajaan Sriwijaya dab Malayu, dari abad VII -XII Masehi. Ada pun situs Muara Takus Situs Candi Muara Takus adalah kompleks percandisn Buddhis di Desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto pada Kabupaten Kapuas, yang dikelilingi oleh pagar tembok berukuran 74 x 74 m. Di dalamnya terdapat beberapa bangunan candi bata, yang disebut “Candi Sulung (Tua) , Candi Bungsu, Candi Mahligai Stupa, dan Candi Palangka.

Serupa dan relatif sezaman dengannya adalah situs candi Hindu berbahan bata dan batu pada Lembah Bujang, peninggalan dari kerajaan Kedah Lama. Bangunan utamanya adalah candi Bukit Batu Pahat. Sisa bangunan yang berhasil ditemukan tinggal tangga dan kaki candi serta sebagian tubuhnya Sebagian dinding dan atap candi telah musnah. Di bagian depan terdapat mandapa (pelataran candi), yang dilengkapi dengan umpak-umpak dari batu, sebagai tempat untuk mencanangkan tiang kayu di teras candi. Bagian lain konon berupa bangunan kayu yang telah lama lapuk dan musnah. Bangunan suci yang se era dengan kerahaan Sriwijaya ini berada di areal pelabuhan Kataha (Kadaram, yakni nama kuno untuk Kedah) Ada dua fase tinggalan arkeologis disini, yaitu (a) fase Buddha abad V-X Masehi, dan (2) fase Hindu pada X-XIV Masehi.

Selain di Jawa dan Sumatea, jejak purbakala tua berbahan bata dijumpai pula di Muara Kaman, tepatnya di Tanjung Sarai pads sub-DAS Tengah Mahakam Kalimatan Timur. Kesejarah Muara Kaman terkait dengan kerajaan Kutal (abad IV Masehi) .Reruntuhan candi ini berbahan bata, namun tidak tersusun dari balok-balok bata, melainkan dibuat dari semacam “bata tinggal”. Bagian batur, kaki dan tangga candi dibentuk sebagai suatu keutuhan tanah liat dan kemudian dibakar. Sangat mungkin candi ini konon dilengkapi dengan perigi (sumuran) candi. Di dasar sumuran konon ditempatkan peripih, yang berisikan lembar emas tipis (swarnapatra), manik-manik, dsb. Ada kemungkinan tanpa disertai dinding keliling pads tubuh candi. Bangunan yang demikian didapati pula di Kalimantan Selatan, yaitu berupa reruntuhan candi yang dinamai dengan “Candi Agung”.Ads pendapat yang menempatkan Candi Agung di Kabupaten Amuntai sebagai candi Hindu, yang diprakirakan merupakan peninggalan Kerajaan Nagara Dipa, yang sezaman dengan Majapahit abad XIV Masehi.

Jejak bangunan candi berbahan bata didapatikan pula di sekitar candi Borobudur, yang berupa candi- candi bukur (candi kecil), dari sekitar abad VIII Masehi. Salah satu diantaranya adalah Candi Banon. Pada perkembangan berikutnya, ketika pusat kerajaan (kadatwan) Mataram direlokasi dari wilayah Jawa Tengah ke Jawa Timur pada awal abad X (menurut Prasasti Turyyan 929 Masehi) dan masa-masa sesudahnya hingga akhir Majapahit (152728 Masehi), bata sebagai material bangunan semakin banyak dipergunakan untuk membangun patirthan dan instalasi air, gapura dan pagar, rumah tinggal (termasuk rumah tinggal pada lingkungan Karsyan), dinding maupun jobong sumur, dsb. Pada periode awal ketika pusat kerajaan-kerajaan berada di Jawa Timur, yakni di era pemerintahan Pu Sindok (Sri Isana), terdapat beberapa bagunan sakral yang berbahan bata. Seperti Candi Lor di Nganjuk, Candi Sumber Nanas di Kabupaten Blitar, Candi Gunung Gangsir di Bangil dan Sumber Tetek (Patirthan Belahan) di lereng tenggara Gunung Penanggungan di Kabupaten Pasuruan. Dalam jumlah lebih banyak, bangunan sakral ataupun profan didapati pada masa Majapahit, meski bukan berarti bahwa kala itu semua bangunan berbahan bata.

Pada Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam di Nusantara, malahan material bata lebih dominan dipergunakan daripada material dari batu. Terlebih bangunan di Masa Kolonial hingga sekarang. Teknik reproduktif untuk buat bata, kemudahan pengerjaan bangunan yang berbahan bata dan keterbatasan untuk dapat memperoleh batu dalam jumlah yang banyak adalah pertimbangan bagi kecenderungan memanfaatan bata sebagai material bangunan. Bahkan, bata dijadikan sebagai indikator utama mengenau material dari jenis bangunan yang diistilahi dengan “gedong”. Misalnya, sebutan “Sentono Gedong” bagi situs Islam di Kota Kediri, untuk menbedakan dengan situs “Sentono Bethek”, sebutan “Candi Gedong Putri” di Lumajang Selatan, sebutan desa sekagus situs “Watanmas Jedong” di Ngoro – Kabupaten Mojokerto, dsb. Begitu pula tak sedikit desa ataupun dusun yang memiliki unsur toponimi “bata (boto) “, seperti “Sumber Boto, Kaliboto, Tegalboto, Batan (suatu desa di Boyolali), dsb.” menjadi suatu petunjuk tentang penggunaan bata di tempat itu pada masa lalu.

C. Udagi Bata dan Tukang Batu sebagai Profesi Arsitektural

Hadirnya bangunan-bangunan berbahan bata tak bisa dilepaskan dari adanya perajin (undagi atau udahagi) bata sebagai penyedia material bangunan. Penbuatan material bata tak hanya dikerjakan oleh perajin profesional, namun ada kalanya dikerjakan secara amatiran oleh warga yang hendak membuat bangunan dari bahan bata. Sebagai profesi, perajin bata umumnya adalah warga pedesaan di areal pertanian, baik sebagai pekerjaan utama ataupun hanya sebagai kerja sambilan (samben)– diluar profesi utamanya sebagai petani. Sayang sekali, penulis belum berhasil mendapatkan istilah kuno yang konon digunakan buat menyebut perajin bata. Adapun posisinya dalam strata sosial menurut sistem kekastaan berada dalam Kasta Sudra. Bisa jadi, dengan analogi para penempa logan (pande), pencelup untuj mewarnai kain, perajin gerabah (bahasa Jawa Baru “Tukang Ngleler”), tukang nderes nira, dsb., yang dinilai sebagai sebagai pekerjaab yang kasar dan kotor, para perajin bata pun amat mungkin masuk ke dalam golongan “candala” atau “candalamleca”.

Areal yang berada di bantaran sungai, pesawahan atau perladangan, lerengan atau lembah perbukitan merupakan lokasi cocok untuk areal buat bata, utamanya yang memiliki kandungan tanah liat (lempung, aluvial). Tanah yang semula berbukit bisa menjadi rata, atau yang semula datar bisa berubah menjadi cekungan dalam dan lebar menganga lantaran aktifitas pembuatan bata. Pada area yang demikian terbuka kemungkinan tumbuh dan berkembang sentra-sentra perajin bata, yang jumlahnya bisa mencapai beberapa areal di suatu daerah. Sentra-sentra kerajinan bata cukup dikenal publik, sehingga memberkani kemudahan dalam pencarian bata bagi yang membutuhkan. Antara areal kerajinan bata dan pengguna bata bisa saja berjarak cukup jauh, sehingga dibutuhkan proses distribusi dengan mempergunakan angkutan darat ataupun air. Sebelum lazim dipakai alat transportasi berupa kendaraan bermotor, konon dimanfaatkan alat angkut darat yang berupa pedati. Istilah Jawa Kuna dan Jawa Tengahan terhadapnya adalah “padati” atau “gilingan”, yang kemudian dinamai “cikar” dalam bahasa Jawa Baru — baik jenis cikar “glodak” atau cikar “ban”. Bata dapat juga dihasilkan oleh perajin amatir. Baginya, menbuat bata cukup dilakukan di pekarangan belakang rumah tinggal atau di sebagian areal ladang miliknya. Tempat menyiapkan adonan bata, pencetakan bata (nyithak boto), temasuk juga instalasi bakar bata (bong boto) biasanya berada di areal yang sama.

Sentra kerajinan bata idealnya berlokasi relatif dekat dengan hutan, untuk memudahkan dalam mendapatkan kayu bakar. Selain itu, lokasinya di areal pertanian juga menguntungkan, karena sekam (kulit padi) bermanfaat bagi proses pembakaran bata. Tidak jarang ada bata yang memperlihatkan sekam di dalamnya, yang ikut tertempel pada pemujaan bata ketika proses pembakaran atau tercampur dengan adonan bahan pembuatan bata. Keberadaan sekam di dalam bata kuno membatu bagi idebtifikasikan usia relatif (relative dating) terhadap bangunan bersejarah, yakni dengan menggunskan teknik analisais polen. Bata yang dibakar memakai kayu keras menghasilkan kualitas bata bakar yang matang”, yang terbilang kuat menghadapi terusan zaman, atau dengan kata lain memiliki sifat “abadi dalam waktu”. Itulah kiranya yang menjadi pertimbangan untuk menjadikan bata berukuran besar dan tebal serta matang dalam pembakaran sebagai bahan untuk pembuatan bangunan sakral — yang idealnya memiliki sifat abadi.

Pembuatan bangunan berbahan bata (gedong) membutuhkan pekerja bangunan yang dinamai “tukang batu”. Meskipun menggunakan unsur sebutan “batu”, namun sesungguhnya dominan menggunakan matrial bata daripada batu. Hal itu boleh jadi karena dahulu tukang bangunan banyak menangani material bangunan yang berupa batu. Sebutan lain terhadapnya adalah “tukang noto boto”, mengingat terbentuknya bangunan adalah berkat dari penataan bata (manoto boto), jengkal demi jengkal. Keahlian ini tidak dimiliki oleh semua pekerja bangunan, karena disyarati oleh keahlian khusus, Dengan perkataan lain, tukang batu adalah “tukang ahli (expert), yang dalam istilah Jawa Kuna dan Jawa Tengahan disebut dengan “undagi” atau “undahagi”. Dalam kitab-kitab kuno yang berisi petunjuk pembuatan candi dan bangunan lain, sebutan untuk mereka adalah “samkirna”. Mereka bekerja dibawah pimpinan atau arahkan dari kepala tukang yang dinamai “wiswakarman”. Begitulah, tukang batu adalah profesi arsitektural, sebagai komponen. kreator bagi terbentuknya suatu bangunan.

D. Bata, Unsur Pembentuk Komponen Bangunan

Ada sebutan terkait dengan pekerjaan penangan bata, yaitu “noto boto (menata bata) “. Sebutan ini memberi kita petunjuk bahwa untuk menghasilkan bangunan berbahan bata, maka balok-balok bata musti “disusun (ditoto)” dengan teknik tertentu, sesuai dengan bentuk dan fungsi bangunan yang akan dihasilkan. Konsep “tata” adalah hal inti dalam arsitektur bata, agar bisa dihasilkan tatanan yang rapi, struktur yang kokoh, kenampakan yang artistik, dan bangunan yang fungsional. Kecerobohan dan kesalahan dalam penataan bata, terebih pada lapis awal, bakal bedampak buruk pada bangunan yang dihasilkannya. Sebutan “boto rubuh” yang terdapat dalam susastra lama memberi peringatan tentang adanya kemungkinan buruk yang musti dihindari dalam pengerjaan bangunan bata.

Paling tidak ada beberapa bentuk bolok-balok bata, yaitu (a) empat persegi panjang, (b) lengkung, (c) persegi delapan (heksagonal), ataupun (d) bentuk spesifik untuk komponen tertentu, seperti segi tiga (tumpal), ujung gelung, silang, dsb. Ada kegunaan khusus dari bentuk tertentu balok bata itu, seperti bata lengkung untuk pelapis lobang dan bibir sumur (jobong), bentuk kubah (anda) pada stupa, langit- yang langit lengkung, dsb. Balok bata heksaginal digunakan untuk lantai, khususnya pada rumah tinggal golingan berada, yakni semacam ancient paving yang menjadi petanda lapis social. Balok bata tumpal untuk antefix. Bata berujung gelung untuk ujung pipi tangga. Bentuk balok bata berkait dengan kegunaan (fungsi) maupun keletakannya dalam sistem arsitektur.

Penataan balok-balok bata untuk menghasilkan suatu bentuk bangunan membutuhkan :(a) posisi presisi antar permukaan balok bata, (b) kerekartan antar bolok bata, (c) kerapian dalam penyusunan balok-balok bata, dsb.. Untuk mendapatkan posisi presisi, dilakukan penggosokan secaa berulang- ulang antar permukaan balok bata yang disusun. Akibat penggosokan itu dihasilkan serbuk bata, yang dimanfaatkan untuk bahan perekat antar balok bata — dengan diguyuri cairan gamping atau semen, sehingga terdapat semacam spesi tipis yang tak tampak pandang. Kerekatan antar balok bata itu diperkuat dengan paritan pada permukaan bata. Kadang pula sisi luar tatanan bata diberi peluran tipis dari adonan serbuk bata dan cairan gamping/ semen — serupa itu untuk bangunan batu, yang berupa lepa tipis namun keras (disebut dengan “bajralepa”). Dengan cara demikian, maka sisi luar dari tatanan bata tersebut tampil rapi dan artistik. Adonan bubuk bata kadang pula dilapiskan cukup tebal ke permukaan lantai bata menjadi semacam pelur lantai.

Uraian diatas memberi kita gambaran bahwa bata digunakan untuk membentuk komponen-komponen bangunan seperti komponen batur, kaki, tubuh, atap, kemuncak, tangga serta pipi tangganya, penampil, relung, dsb. Balok bata heksagonal digunakan untuk lantai — semacam apa yang kini disebut “paving”. Bata lengkung secura khusus dilpakai untuk dinding dan bibir sumur. Pada bagian tertentu, tatanan bata itu dimanfaatkan sebagai bidang pahat untuk relief cerita atau ornamenrasi (ragam hias) — tak sedikit pila bangunan berbahan bata yang ragam hiasnya dipahatkan pada batu andesit, sehingga terdapat material campuran di suatu bangunan. Demikianlah bata adalah unsur yang penting dalam membentuk komponen-komponen bangunan baik pada kategori bangunan profan ataupun bangunan sakral.

Demikian (a) pentingnya, lantaran (b) lebih fleksibel serta lebih (c) cepat dalam pengerjaan, dan karena (d)!mampu dihasilkan dalam jumlah banyak pada waktu relatif singkat dengan teknik reproduksi, maka bata digunakan dalan kurun waktu amat lama, yakni semenjak permulaan tarikh Masehi hingga sekarang Bahkan, tatkala balok-balok batu (andesit, kapur, padas, ataupun vulkanik) telah ditinggalan sebagai unsur pembentuk komponen- komponen bangunan, bata terus bertahan dan dijadikan sebagai penggantinya. Tak soal bila perkembangannya ukuran bata (pajang, lebar, dan tebal) dibuat menjadi lebih kecil dibangding bata terdahulu, sehingga kini bata menjadi lebih kecil ukurannya, sehingga mendapat sebutan “bata tahu”. Perkecilan ukuran bata dilatari oleh kesulitan dan kemahalan dalam mendapatkan bakar bakar yang berupa kayu keras. Sebagai ganti digunakanlah sekam dan sedikit kayu lunak, meski bahan bakar ini tidak memungkinkan untuk membakar bata berukuran besar dan tebal. Terlepas dari ukuran dan kurang matangnya pembakaran, namun yang terang hingga kini bata masih lazim digunakan sebagai material bangunan. Malahan muncul jenis bata berbahan lain dan dibuat dengan cara lain, seperti batako, bata ringan, batu kumbung (saren), dsb.

Terdapat suatu fenomena dalam bangunan candi, dimana bentuk awalnya dibuat dari material bata dalam bentuk bersahaja. Kemudian pada tahap renovasi, bangunan bata yang telah ada itu lantas “dibaluti” dengan balok-balok batu. Pada konstruksi demikian, material batu itu menjadi serupa “mantel (pelapis luar)” bagi bangunan bata yang lebih awal, sehingga muncul sebutan “mantel steen”. Acap pula terjadi bahwa bata yang tidak utuh ataupun rusak digunakan sebagai “material isian” di dalam kaki dan batur candi yang bersifat masif (pejal) — serupa batu padas dan batu kapur sebagai material isian. Bangunan bata itu baru berupa bangunan semi permanen, yang dibangun tidak lama setelah yang besangkutan mangkat dan dikrenasikan. Adapun bangunan berbahan batu yang dilapiskan padanya adalah bangunan permanen, yang dibuat jelang diadakan “upacara sradha”, yakni 12 tahun pasca kematiannya.

E. P e n u t u p

Paparan diatas memberikan gambaran bahwa bata sebagai material bangunan menyejarah di dalam sejarah arsitektur Nusantara. Bata adalah material pembentuk komponen bangunan yang melintas masa, sejak permulaan Masa Hindu- Buddha, lalu memasuki Masa Pertumbuhan dan Perkembangan Islam, Masa Kolonial, hingga Masa Kemerdekaan RI. Persebaran tradisi arsitejtur meliputi penjuru daerah di Indonesia, utamanya di Indonesia bagian Barat dan Tengah. Demikianlah, bata memiliki akar tradisi panjang dalam eko-sosio-kutura Nusantara. Noto Bobo kadyo manoto diri. Nuwun.

Sangkaling, 5 Oktober 2019
Griya Ajar CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.