Tulisan ini monyoroti sisi lain dari momentum historis Indonesia, yaitu “Sumpah Pemuda’, yang setiap tanggal 28 Okotber diperingati sebagai ‘Hari Nasional’. Sisi lain yang sengaja disoroti adalah kata ‘sumpah’ pada sebutan ‘Sumpah Pemuda’. Mungkin tak banyak orang yang berminat untuk mempertanyakan dasar pertimbangan digunakannya kata ‘sumpah’ dalam sebutan itu. Bila penggunaannya didasari oleh suatu pertimbangan, tentulah ada makna yang terkandung didalamnya, sehingga kata ‘sumpah; dipilih dan dijadikan sebagai unsur kata bagi penyebutanya. Sorotan terjadapnya dilakukan dengan terlebih dahulu menelusuri akar tradisi sumpah dalam sosio-budaya Nusantara lintas masa. Selain itu dilakuan pembandingan (1) penggunaaan kata ‘sumpah’ dalam sumber data masa lalu – dalam hal ini adalah Masa Hindhu-Buddha, khsusnya Sumpah ‘Hamuktipalapa’ dari Masa Keemasan Majapahait – dan (2) pemakaian kata ‘soempah’ pada konteks ‘Soempah Pemoeda’ pada Masa Pergerakan Kemerdekaan Indonesia.

A. Akar Tradisi Persumpahan dalam Sejarah-Budaya Nusantara

Bagi masyarakat Jawa sumpah adalah suatu konsepsi yang telah memiliki akar sejarah-budaya panjang. Setidaknya, tradisi sumpah telah kedapatan semenjak masa Hndu-Buddha. Dalam sumber data epigrafi (prasasrti), khususnya pasasti-prasasti kategori panjang (long inscription) atau prasasti lengkap, terdapat bagian yang berkenaan dengan sumpah (sapatha), yang umumnya terdapat pada bagian akhir. Prasasti lengkap kedapatan semenjak era pemerintahan raja Balitung (abad IX Masehi) pada Kerajaan Mataram yang berpusat (kadatwan) di Jawa Tengah dan masa-masa sesudahnya. Secara harafiah, kata ‘sapatha’ berarti : kutuk, sumpah, janji (Zoetmulder, 1995:1032) — dalam Bahasa Jawa Baru dinamai ‘sepoto (sumpah-serapah)’. Adapun kata ‘sumpah’ merupakan sebuah kosa kata dalam Bahasa Indonesia, yang secara harafiah berarti : kata-kata yang buruk (makian, dsb.), kutuk, tuah. Kata ini acap dikombinasi dengan kata lain menjadi ‘sumpah-sapata’ atau ‘sumpah-serapah’ (KBBI, 2002:1103).

Kata-kata dalam sumpah tidak dipandang sebagai perkataan biasa, melainkan mengandung tuah, memiliki kekuatan yang bisa berdampak luar biasa. Dalam bahasa Jawa Kuna, kekuatan dari kutuk diistiahi dengan ‘sapawasa’. Gambaran mengenai kekuatan kutuk dikisahkan dalam cerita Minang ‘Malin Kundang si Anak Durhaka’. Sumpah serapah dari bundanya, lantaran ia tidak mengaku ibu padanya, menjadikan kapal beserta isinya, termasuk dirinya, berubah wujud menjadi batu karang. Kata dalam sumpah bagai ‘magi kata’, yang dapat menghantamkan daya besar terhadap siapapun yang disumpahinya. Oleh kerena itu tak boleh sembarangan orang bersumpah, meskipun terkadang seseorang ‘tergelicir bersumpah’ manakala sedang marah besar atau demi menyakinkan orang lain agar mempercayainya. Tidak jarang dalam bersumbah, Illahi-nya dibawa-bawa, misalnya penyataan ‘demi Tuhan saya …..……’. Dalam masyarakat Jawa, bahkan Nusantara, keberadaan sumpah di masa lamapu terdokumentasikan dalam berbagai sumber informasi, baik sumber data tekstual (prasasti, susastra) maupun oral (tradisi liasn) dari waktu ke waktu.

Sumber data tekstual tertua mengenai tradisi sumpah di Nusantara terdapat pada sejumlah prasasti dari masa awal kerajaan Sriwijaya, yaitu: (a) Prasasti Telaga Batu dekat Palembqqg (tanpa angka tahun), (b) Prasasti Kota Kapur pada pulau Bangka bertarikh Saka 608 (28 April 686 Masehi), (c) Prasasti Karang Brahi di Jambi (tidak bertarikh), (d) Prasasti Palas Pasemah di Lampung Selatan (tanpa tarikh), (e) prasasti dari Desa Bungkuk di Lampung Tengah (tanpa tarikh), (f) prasasti Boom Baru di Palembang Timur (juga tak bertarikh). Prasasti-prasasti ini lazim disebut dengan ‘prasasti persumpahan’, lantaran pokok isinya mengenai sumpah-serapah (kutukan) terhadap mereka yang berbuat jahat, tidak tunduk dan tidak setia kepada raja. Mereka ini akan mendapat celaka. Menilik lokasi temuanya yang berada di luar kedatuan (wilayaj pusat pemerintahan, dalam Bahasa Jawa Kuna dinamai ‘kadatwan’), boleh jadi dengan kutuk-kutukan yang bersifat ‘mengancam’ tersebut diharapkan daerah-daerah yang baru saja ditaklukkan tidak melepaskan diri kekuasaan Sriwijaya. Menilik tarikh prasasti prasasti Kota Kapur, diperoleh gambaran bahwa setidak-tidaknya tradisi persumpahan telah ada di Nusantara pada akhir abad VII Masehi.

Perihal sumpah (sapatha) juga banyak didapati dalam bagian akhir pada prasasti-prasasti di Jawa sejak masa pemerintahan kerajaan Mataram hingga Majapahit. Kalimat sapatha berisi penyataan mengerikan yang ditujukan kepada mereka yang dengan sengaja merusak prasasti atau melanggar ketentuan hukum yang disebut dalam prasasti bersangkutan. Bila prasasti dilihat sebagai suratan atas ketentuan atau keputusan hukum (charter) dari raja atau pejabat tinggi kerajaan, maka sapatha dapat disejajarkan dengan apa yang dalam bahasa hukum disebut ‘sangsi hukum’, yang memuat konsekuaesi berat bagi pelanggar. Uniknya, sangsi-sangsi tersebut berupa dampak cekala akibat: (a) binatang buas, seperti diterkam harimau (mong) ketika berada dakam hutan, dimakan buaya (wuhaya) takkala di pinggir sungai, atau dipatuk ular berbisa; (b) disambar petir (glap), (c) disiksa dewata pelaksana siksa neraka (kingkarabala), dsb. Dengan kalimat yang sengaja dikesankan sebagai ‘mengerikan’ itu, diharapkan orang dalam lintas geerasi mematuhi ketentuan hukum yang menjadi isi dari prasasti dan menjaga keberadaan prasasti itu. Sebagaimana halnya dengan sangsi hukum, kalimat ancaman pada sapatha mustilah menyeramkan, memberatkan, atau menjerakan.

Selain prasasti, sumber data tekstual berbentuk susastra kuno juga banyak memberitakan mengenai persumpahan. Pustaka Pararaton menyebut kutukan Pu Purwa kepada warga Panawijen ‘semoga kering tempat pengambilan air (panganson)-nya’, lantaran mereka tidak memberikan pertolongan kepada anaknya, yaitu Ken Dedes, ketika akuwu Tunggul Ametung melarikan untuk dikawininya. Kutuk juga dilancarkan (anyapatani) terhadap Tunggul Ametung ‘semoga tewas ditikam’. Bagi pengutuk, kalimat kutuknya diawali dengan kata pengharapan ‘semoga’, agar kelak dapat menjadi kenyataan. Perihal sumpah dalam makna yang agak berbeda diperoleh informasinya pada Kakawin Nagarakretagama berkenaan dengan doktrin politik ‘Hamuktipalapa’ yang dideklarasikan oleh Gajahmada di hadapan khalayak. Sumpah dalam konteks ini lebih bermakna : janji atau tekat bulat Mahapatih untuk mengintergrasian Nusantara di bawah panji kemaharajaan Majapahit. Sumpah-janji itu disampaikan dihadapan ratu Tribhuwanatunggadewi, para pejabat tinggi dan punggawa kerajaan. Dalam Bahasa Jawa Kuna, sumpah yang dimyatakan di hadapam seseorang atau publik diistilahi dengan ‘pinasapataken’.

B. Makna ‘Sumpah’ dalam ‘Soempah Pemoeda’

Sumpah Pemda merupakan deklarasi politik oleh para penjuang muda (pemuda) yang mewakili oraganisasi-organisasi kepemudaan di dalam Konggres Pemuda II di Batavia (kini ‘Jakarta’) pada tanggal 28-28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda adalah ‘tonggak utama’ dalam sejarah Pergerakan Kemerdekaan Indonesia, yang membuahkan ikrar sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita akan adanya “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia, dan “bahasa Indonesia”. Keputusan penting itu diharapkan menjadi asas bagi setiap “perkumpulan kebangsaan Indonesia” dan agar “disiarkan dalam segala surat kabar serta dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan”. Sebutan “Soempah Pemoeda” sendiri tidak muncul dalam putusan kongres itu, melainkan baru diberikan setelahnya. Bunyi keputusan tersebut sebagai berikut. Pertama, “Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia’. Kedoea, ‘Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia’. Ketiga, ‘Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sejauh ini belum diperoleh kejelasan mengenai dasar pertimbangan pemakaian kata ‘soempah’ berkenaan dengan komitmen para pemuda yang berlainan latar kesukuan (ethnic), asal daerah maupun hahasa lokalnya untuk bersatu dalam ikatan kebangsaan, kewilayahan (baca ‘tanah air’), dan kebahasaan, yaitu ‘Indonesia’. Sangat boleh jadi, kata ‘soempah’ ini digunakan dalam arti : janji atau tekat, sebagaimana makna sumpah dari Gajahmada pada ‘Hamuktipalapa’, yaitu suatu konsepsi janji luhur atau tekat mulia untuk mencapai tricita tersebut.

Suatu sumpah tidak senantiasa terealisasi dengan serta merta. Kutuk bisa terwujud sejurus setelah diserapahkan. Namun, tak jarang buah kenyataan suatu sumpah-janji berjeda waktu panjang dari waktu pernyataan sumpah. Dalam ‘Hamuktipalapa’, sumpah Gajahmada untuk mengintegrasikan Nusantara dideklarasikan semasa pemerintahan Tribhuawanatunggadewi, dan baru menghasilkan buah pada pemerintahan raja penggantinya (putera mahkotanya, Hayam Wuruk). Sumpah dalam ‘Soempah Pemoeda’ — yang juga bervisikan ‘integrasi (kesatuan)’ — itupun baru berbuah 17 tahun kemudian (1928-1945). Untuk merealikasikan apa yang disumpahkan itu dibutuhkan usaha mati-matian (optimal) dengan penuh fitalitas, keulaten menghadapi halang rintang (kendala, tantangan), serta arah tujuan (fokus). Di dalam sumpah terkandung spirit (semangat) dan power (kekuatan atau daya), yang dapat dijadikan modal internal untuk merealisasikan apa yang disumpahkan, meski untuk itu dibutuhan kurun waktu yang tidak singkat.

Sumpah dalam konteks ‘Soempah Pemuda’ beda makna dengan sumpah (sapatha) yang termaktub dalam prasasti maupun yang diserapahkam oleh Pu Purwa, Yang pertama bermakna ‘janji (tekat)’, sedang yang kedua bermakna ‘sangsi’ atau ‘kutukan’. Kendatipun berbeda makna, namun dalam hal ‘adanya kekuatan luar biasa’ di dalamnya, sumpah-sumpah tersebut mempunyai hakekat yang sama, yaitu suatu fomula kata yang dinyatakan dengan maksud dan tujuan yang jelas (antara lain: kepatuhan, kesetian, pencapaian keinginan) serta mengandung spirit dan power yang menjadi daya dorong internal guna merealisasikan apa yang disumpahkannya. Dengan perkataan lain, sumpah tak seperti pepatah ‘pepesan kosong’, melainkan kekuatan yang utuh penuh untuk diejowantahkan dalam kehidupan. Soempah Pemoeda tidak ubahnya dengan doktrin politik “Cakrawalamandala Nusantara” pada Masa Akhir Singhasari dan “Hamuktipalapa’ pada Masa Keemasan Majapahit, yang berintikan ‘integrasi Nusantara/Indomesia’. Untuk merealisasikan, dipersyarakatkan adanya spirit, power dan arah perjuangan sebagaimana terkandung dalam makna kata ‘sumpah’.

Sumpah ‘Hamuktipalapa’ yang dideklarasikan oleh Gajahmada sangat boleh jadi menginspirasi pemuda-pemikir peserta konggres dengan meminjam istilah ‘soempah’ guna dilekatkan pada kata ‘pemoeda’ menjadi ‘Soempah Pemoeda’. Jika benar demikian, berarti perjuangan para muda itu memanfaatkan teladan sejarah itu dan menyertainya dengan kesadaran untuk tidak meninggalkan sejarah dari para penjuang terdahulu – termasuk perjuangan Gajahmada dengan sumpahnya yang melegenda. Terlebih lagi, inti penjuangannya pun sama, yakni ‘integrasi Nusantara’ dalam masa sebelumnya dan ‘integrasi Indonesia’ pada masa itu. Sejarah perjuangan masa Majapahit seakan kembali berulang pada pergerakan nasional guna mendapatkan kemerdekaan Republik Indomesia. Demikianlah, benang merah sejarah di negeri ini tergambar pada peristiwa-peritiwa monumental tersebut.

C. Dekadensi Kekuatan Sumpah dari Asal Bersumpah

Sumpah adalah pernyataan yang ‘sungguh-sunguh’, bukan ‘asal-asalan’. Terdapat konsekuensi di balik sumpah, baik konsekuensi resiko petaka (sangsi) bagi yang disumpahi maupun konsekuaensi ketaatan untuk mematuhi isi sumpah atau keseriusan untuk mengupayakannya menjadi keyataan. Dalam sumpah yang sungguh-sungguh, ada kandungan sprit dan power, Namun tidak demikian pada ‘asal bersumpah’ dan ‘pura-pura bersumpah’, yang di dalam sumpahnya ‘hampa semangat, kosong kekuatan’. Dalam sumpah yang demikian kepatuhan terhadap apa yang disumpahkan tidak terwujud. Hal ini acap tergambar dalam persidangan pada Lembaga Peradilan. Kendati terdakwa telah disumpah sesuai agamanya, bahkan telah ditempatkan ayat suci di kepalanya serta mengucap kata ‘demi’ kepada Illahi-nya, namun tak jarang masih melakukan kebohongan guna penyelamatan diri. Hal serupa tidak sedikit terjadi pada pemelencengan dalam pelaknasanaan pesan pada Sumpah Jabatan. Hal inilah kiranya yang bisa dibilang sebagai ‘sumpah palsu’. Dalam sumpah-sumpah itu, terjadi ‘dekadensi atau degradasi (kemerosotan) kekuatan sumpah’.

Pada sisi lain, sumpah yang sesunggunya masih sering ditemui di dalam kehidupan sosial-budaya hingga kini. Patuh terhadap isi sumpah, takut terkena dampak buruk dari sumpah, bahkan upaya meyakinkan orang lain dengan sumpah kedapatan di penjuru wilayah Nusantara. Pembuktian akan kebenaran dengan menggunakan wahana persumpahan seperti ‘sumpah pocong, sumpah mati, sumpah sambar geledek, dsb’ atau penyataan ‘sumpah setia’ adalah contoh-contoh riil mengenai keyakinan sebagian warga masyarakat Indonesia kepada kekuatan sumpah. Terlepas dari percaya atau tidak terhadap kekuatan sumpah, yang terang sumpah adalah fenomena sosio-budaya yang nyata-nyata ada di Nusantara, bahkan akar tradisinya begitu panjang dalam sejarah-budayanya. Secara formal ataupun informal, sumpah hingga sekarang masih dimanfaatkan guna memecahkan persoalan, termasuk dalam persoalan hukum.

Untuk itulah, musti bersungguh-sungguh dalam bersumpah. Bersumpahlah apabila benar-benar perlu mengambil sumpah. Bukan sebaliknya, sedikit-sedikt bersumpah serapah, asal bersumpah, terlebih.lagi bersumpah palsu. Asal bersumpah dalam istilah gaul di Malangraya diistilahi dengan ‘sumprit’. Dalam masa pacaran, yang namanya ‘sumpah-janji’ seringkali diobral guna menyakin sang kekasih akan kesugguhan cintanya, yang padahal ‘sumpah-janjinya gombal belaka’, sehingga muncul sebutan ‘nggobal’. Oleh karenanya, percaya pada sumpah-janji boleh-boleh saja, namun curiga tetaplah perlu. Jangan menjadi korban perdayaan sumpah yang membius. Apalagi terhadap sumpah-janji para calon (kandidat) ketika Pilkada, Pileg, atau Pilkades sekalipun, yang sangat boleh jadi bayak ‘janji gobalnya’ daripada kenyataannya ketika sudah menjabat, lantaran terjangkiti penyakit ‘lupa janji’.

Demikianlah tulisan singkat dan bersahaja ini, yang menyoroti sisi lain ‘Soempah Pemoeda’, yaitu mengenai sumpah. Semoga membuahkan kefaedahan.
Nuwun.

Sengkaling, 28 Oktober 2017,
PATEMBAYAN CITRALEKHA


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.